WORKSHOP PENGEMBANGAN MODUL SAINS UNTUK SISWA ‎TINGKAT SMP

WORKSHOP PENGEMBANGAN MODUL SAINS UNTUK SISWA ‎TINGKAT SMP

Latar Belakang

Pendapat umum selama ini, apalagi di dunia Barat, agama dan sains tidak akan pernah akur. Agama adalah doktrin yang harus selalu diterima oleh umatnya tanpa keraguan,  pertanyaan, maupun kritikan dan harus selalu dipatuhi, sementara di pihak lain, sains adalah bidang yang selalu mempertanyakan, penuh keraguan sehingga perlu pembuktian, serta selalu menjadi obyek kritikan, adalah wajar jika kemudian pendapat sebagian besar orang bahwa agama dan sains adalah dua hal yang selalu bertolak belakang. Namun tidak selalu demikian dalam dunia Islam. Bahkan beberapa ayat dalam Alquran dan hadist yang mengindikasikan adanya kandungan sains. Banyak ayat yang sudah menerangkan tentang suatu fenomena alam, misalnya daging babi yang diharamkan, yang alasannya baru bisa dibuktikan oleh sains beberapa abad sesudahnya. Kenyataan bahwa ayat di dalam Alquran ataupun hadist telah berbicara mengenai hal ini jauh sebelum sains mampu membuktikan membuat kami ingin melihat hubungan antara agama Islam dengan sains. Kemudian program penelitian bertajuk “Strengthening Science Education in Indonesian Religious School” ini diinisiasi.

Program penelitian ini akan dilakukan selama tiga tahun, dari awal 2017 sampai akhir 2019. Enam institusi sekolah berbasis agama Islam setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di setiap wilayah penelitian dilibatkan selama proses tiga tahun ini. Lokasi penelitian yang dipilih ada tiga, yaitu Yogyakarta, Malang dan Lamongan. Jika satu wilayah ada enam sekolah maka secara keseluruhan, penelitian ini melibatkan 18 institusi sekolah setingkat SMP yang terdiri dari MTs, baik negeri maupun swasta dan SMP di bawah payung Muhammadiyah maupun Nahdatul Ulama.

Dalam program penelitian bertajuk “Strengthening Science Education in Indonesian Religious School” ini, salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pemberian perlakuan khusus pada kelompok sasaran, dalam hal ini adalah siswa-siswi SMP/MTs. Perlakuan khusus ini adalah pemberian materi dan metode belajar yang berbeda daripada apa yang sudah ada sebelumnya. Pemberian materi tetap dilakukan oleh guru sekolah yang mengampu mata pelajaran sains di tiap-tiap sekolah sasaran. Yang menjadi kebutuhan utama di sini adalah sebuah panduan khusus bagi para guru sains untuk mengajarkan mata pelajaran sains yang berkorelasi dengan ajaran Islam.

Workshop

Selama program penelitian ini berlangsung di tahun pertama, 2017, para peneliti, terutama peneliti utama telah menggagas pembentukan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari guru-guru sains dari beberapa sekolah setingkat SMP di Yogyakarta untuk menyusun sebuah modul pembelajaran sains yang berkorelasi dengan ajaran Islam. Tidak semua guru berasal dari sekolah target penelitian. Ada beberapa orang guru sains didatangkan dari luar target sekolah. Hal ini dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa target penelitian ini hanya sekolah-sekolah setaraf SMP yang berbasiskan agama Islam, sementara untuk menyusun modul sains, kita masih membutuhkan banyak masukan dari guru-guru sains yang mengajar di SMP-SMP terbaik di Yogyakarta.

Beberapa bulan sebelum akhir tahun 2017, para guru bersama dengan peneliti utama program ini, Dr. Askuri, merancang sebuah modul pembelajaran sains yang akan diberikan kepada siswa-siswi di sekolah sasaran selama satu semester (Juli – Desember 2018). Setelah beberapa kali pertemuan, masing-masing guru yang terlibat dalam penyusunan modul ini mendapatkan bagian mengerjakan beberapa tema sesuai dengan keahlian masing-masing. Sampai pada awal bulan April 2018, semua tema sudah terkumpul semua. Ada sebanyak 34 tema pembelajaran. Meskipun begitu, masih ada perbaikan di sini dan di sana.

Pada tanggal 7 April 2018, lima orang guru sains pilihan berkumpul di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Mereka adalah Ibu Fritriati Asri Hastuti dan Pak Syamsu Priyono dari SMP Muhammadiyah 3 (sekolah sasaran), Ibu Rufaida Haryati dari SMP N 7 Yogyakarta, Pak Arif Al-Fatah dari Mualmin, serta Pak Arief Ichwantoro dari SMP N 1 Yogyakarta. Semua guru sains ini mendengarkan presentasi peneliti utama program ini, yaitu Dr. Askuri, mengenai tema-tema yang akan diajarkan kepada para siswa.

Dalam kesempatan kali ini, Dr. Askuri memperagakan pengajaran satu tema, yaitu hukum Archimedes.

Dari workshop ini diharapkan para guru dapat mempraktekkan isi modul sesuai dengan yang dirancang oleh tim penyusun modul ini.

Ketepatan dan keseragaman dipandang sangat penting agar dapat mengukur perubahan atau perbedaan yang ada atas subyek yang diteliti dengan kelompok pengontrol adalah kelas-kelas yang tidak mendapatkan perlakuan yang sama alias masih menggunakan modul dan metode pembelajaran baku.

Workshop ini dilanjutkan dengan diskusi setelah percobaan selesai dan para guru yang berperan sebagai murid SMP mempresentasikan laporan yang mereka dapat dari pengamatan selama melakukan percobaan. Beberapa masukan dilontarkan oleh para guru mengenai potensi tantangan dan kekuatan dari metode serta bahan ajar yang akan disampaikan kepada siswa-siswi seusia anak SMP kelas 1. Kegiatan ini diakhiri dengan rencana micro teaching yang akan dilaksanakan minggu berikutnya, tanggal 14 April 2018 di tempat yang sama, SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. (Any Marsiyanti)

Tinggalkan Balasan

Close Menu