WAKTU UNTUK SAAT DAN BILANGAN TAK TENTU

WAKTU UNTUK SAAT DAN BILANGAN TAK TENTU

Serial Quran dan Sains Banyak ayat Alquran mengungkapkan waktu dalam ungkapan yang tak terukur secara pasti menurut sains, tetapi bisa menggambarkan rentang waktu kejadian tertentu. Ungkapan waktu itu bukan hanya untuk dimensi waktu di dunia, tetapi juga di akhirat yang tidak bisa dibandingkan dengan waktu di dunia. Ungkapan waktu yang tak tentu itu menggunakan akar kata yaum (hari). Dalam pemahaman ini, yaum diungkapkan dalam pengertian umum yang bukan hari 24 jam. Yaum pun sering menggambarkan situasi tertentu atau dikaitkan dengan sesuatu. Dalam beberapa ayat, kata yaum mengungkapkan suatu hari tertentu yaitu hari akhir alam semesta. Hal yang menarik, Alquran menyebut ungkapan “enam hari” yang secara ilmiah bisa dikaitkan dengan kronologi penciptaan alam semesta. YAUM DALAM ISTILAH UMUM Kata yaum dalam beberapa ayat berikut mengandung makna dalam pengertian umum seperti pada Surah al-An‘ām/6: 128, al-Anbiyā’/21: 104, Sabā’/ 34: 42, al-Jāṡiyah/45: 28, al-Aḥqāf/46: 20, dan al-lnsān/76: 11. Berikut ini salah satu contoh pengungkapan kata yaum pada Surah al-An‘ām/6: 128.

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُم مِّنَ الْإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ۝

Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.” Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang.” Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-Iamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.” Sungguh, Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.  (Alquran, Surah al-An‘ām/6:128)

  YAUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN SITUASI Kata yaum dalam beberapa ayat berikut maknanya berhubungan dengan situasi. Beberapa di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah,

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ۝

Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 24)

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا۝

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. (Alquran, Surah al-Furqān/25: 27)

  Selain dua ayat di atas, terdapat beberapa ayat lain yang juga memiliki makna yang berhubungan dengan situasi, yaitu Surah al-Baqarah/2: 254; Ibrāhīm/14: 31 dan 48; an-Naḥl/16: 84, 89, dan 111; al-Isrā’/52 :17 dan 71; al-Kahf/18: 52; an-Nūr/24: 64; al-Furqān/25: ayat 17, 22, 25 dan 26; an-Naml/27: 83 dan 87; al-Qaṣaṣ/28: 62, 65, dan 74; al-Aḥzāb/33: 66; Sabā’/34: 30, 40, dan 42; Yāsīn/36: 54 dan 65; Gāfir/40: 17-18, 33; Fuṣṣilat/41: 19; ad-Dukhān/44: 10, 16 dan 41; al-Aḥqāf/46: 34 dan 35; Qāf/50: 20, 30,41,42, dan 44; aż-Żāriyāt/51: 13 dan 60; aṭ-Ṭūr/52: 9, 13, 45-46; al-Qamar/54: 6 dan 48; al-Ḥadīd/12 :57 13, dan 15; al-Mujādalah/58: 6 dan 18; at-Tagābun/64: 9; at-Taḥrīm/66: 8; al-Qalam/68: 42; al-Ma‘ārij/70: 8 dan 43; al-Muzzammil/73: 14 dan 17; al-lnsān/76: 7 dan 10; al-Mursalāt/77: 35; an-Nabā’/78: 18, 38 dan 40; an-Nāzi‘āt/79: 6 dan 35; ‘Abasa/80: 34; al-lnfiṭār/82: 19; al-Muṭaffifīn/83: 6 dan 34; serta al-Qāri‘ah/101: 4.   YAUM YANG DIKAITKAN DENGAN WAKTU Kata yaum dalam beberapa ayat berikut maknanya dikaitkan dengan sesuatu. Dua di antaranya adalah firman Allah,

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ ۖ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ۝

 Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat). Sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal atas apa yang telah kamu kerjakan.” (Alquran, Surah as-Sajdah/32: 14)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ۝

Pemilik hari pembalasan. (Alquran, Surah al-Fātiah/1: 4)

  Selain dua contoh ayat di atas, terdapat ayat-ayat lain yang juga memiliki makna yaum yang dikaitkan dengan sesuatu, yaitu: Āli ‘Imrān/3: 9 dan 25; al-An‘ām/6: 16; al-A‘rāf/7: 59; at-Taubah/9: 77; Yunūs/10: 15; Hūd/11: 3, 26, 84, dan 103; Ibrāhīm/14: 41, 42, dan 43; al-Ḥijr/15: 36 dan 38; al-Kahf/18: 47; Maryam/19: 15, 33, 38, 39, dan 85; al-Anbiyā’/21: 103; Ṭāhā/108 :20; al-Ḥajj/22: 55-56; al-Mu’minūn’/23: 100; al-Furqān/25: 26; asy-Syu‘arā’/26: 82, 87 dan 88; ar-Rūm/30: 12, 14, 43, 55, dan 56; as-Sajdah/32: 29; al-Aḥzāb/33: 44; aṣ-Ṣāffāt/26: 20, 21, 37, dan 144; Ṣād/38: 16, 26, 78, dan 81; aZ-Zumar/39: 71; Gāfir/40: 51,46,32,27,16,15, dan 52; asy-Syūrā/42: 7 dan 47; az-Zukhruf/43: 65, 67, dan 83; ad-Dukhān/44: 40; Qāf/50: 34; al-Jāṡiyah/45: 27; al-Qamar/54: 8; al-Wāq’iah/56: 50 dan 56; al-Ma‘ārij/70: 44; Nūh/42 :11; al-Muddaṡṡir/74: 9; al-lnsān/76: 17; an-Nabā’/78: 39; al-Burūj/85: 2; dan aṭ-Ṭāriq/86: 9.   YAUM SEBAGAI HARI KHUSUS AKHIR ALAM DUNIA Terdapat beberapa kata yaum dalam Alquran yang memiliki makna sebagai hari khusus akhir alam dunia. Kata yaum disini disandingkan dengan kata qiyāmah/Ākhir sehingga berarti hari Kiamat atau hari Akhir. Adapun contoh beberapa ayat-ayat tersebut adalah:

ثُمَّ أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ۝

Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu) dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 85)

 وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ۝

 Dan kepada penduduk Madyan (Kami telah mengutus) saudara mereka Syuaib, dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di bumi berbuat kerusakan.” (Alquran, Surah al-’Ankabūt/29: 36)

  Beberapa ayat lain yang memiliki makna serupa adalah Surah al-Baqarah/2:126; Āli ‘Imrān/3: 77; an-Nisā’/4:59; al-Ma’idāh/5: 36 dan 64; at-Taubah/9: 29; al-Isrā’/17: 97; al-Aḥzāb/33: 21; az-Zumar/39: 15; al-Jāṡiyah/45: 26; dan al-Mumtaḥanah/60: 6.   YAUM SEBAGAI UNGKAPAN RENTANG WAKTU RELATIF Selain ayat-ayat Alquran pada sebagiannya memuat bilangan jumlah tahun, bulan, dan hari, juga mengandung perbandingan antara sebuah nama waktu dengan yang lainnya. Beberapa ayat Alquran yang berisikan hal-hal tersebut, di antaranya adalah firman-firman Allah,

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ۝

 Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun. (Alquran, Surah al-Ma‘ārij/70: 4)

 يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ۝

 Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (Alquran, Surah as-Sajdah/32: 5)

 وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ۝

 Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.( Alquran, Surah Sabā’/34: 12)

 وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ۝

 Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 47)

  YAUM SEBAGAI UNGKAPAN MASA KRONOLOGIS

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ۝

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (Alquran, Surah ; al-A‘rāf/7: 54)

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَادًا ۚ ذَٰلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ۝ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِّلسَّائِلِينَ۝ ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ۝ فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ۝

Katakanlah, “Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan seluruh alam.”Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan makanan (bagi penghuni)nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya.Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.”Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (Alquran, Surah Fuṣṣilat/ 41: 9-12)

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ۚ بَنَاهَا۝ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا۝ وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا۝ وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا۝ أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا۝ وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا۝

Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). Dan setelah itu bumi Dia hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya . Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (Alquran, Surah an-Nāzi‘āt/79: 27-32)

  Ungkapan “yaum” dalam pemahaman relatif mengingatkan kita pada teori relativitas yang menyatakan ukuran waktu relatif terkait dengan kerangka acuannya. Secara lebih umum, teori relativitas telah menyatukan ruang dan waktu dalam dunia empat dimensi, dunia ruangwaktu (ditulis bersambung sebagai satu kata), untuk merepresentasikan alam semesta secara keseluruhan, dan secara matematis dirumuskan kuadrat selang ruang waktu = kuadrat selang waktu-kuadrat jarak ruang. Tanda minus berbeda dengan anggapan awam untuk ruang dan waktu (menggunakan “dan”, ruang dan waktu sebagai hal yang terpisah) yang terbiasa dengan rumus phytagoras: kuadrat jarak = kuadrat selang sumbu x + kuadrat selang sumbu y. Dalam dunia ruang-waktu, jarak bintang ke mata kita adalah “nol”. Hal ini dikarenakan, misalnya, jarak bintang (jarak ruang) 4 tahun cahaya. Cahaya bintang tersebut mencapai mata kita dalam waktu 4 tahun juga (selang waktu). Jadi, selang/jarak ruang waktu bintang tersebut adalah 0. Dalam kehidupan dunia fana ini, waktu dipahami sebagai sebuah dimensi. Manusia menjalani hidup didunia yang fana dalam dimensi ruang dan dimensi waktu, ruang terdiri dari tiga dimensi dan waktu terdiri dari satu dimensi. Jadi, sosok manusia hidup dalam alam 4 dimensi. Pemahaman ruang-waktu dalam fisika jauh lebih kompleks, pemahaman ruang-waktu yang absolut merupakan bagian kehidupan keseharian seperti yang digambarkan oleh hukum Newton. Secara praktis, dimensi ruang untuk mendiskripsikan posisi koordinat sebuah titik atau sebuah benda relatif terhadap sebuah acuan, bila benda tersebut bergerak atau berpindah tempat maka perlu dimensi waktu. Misalnya pada jam 07:00 kita berada di Bandung dan jam 10:00 berada di Jakarta, gambaran tersebut untuk memahami dua keadaan kita, yaitu pada jam 07:00 dan jam 10:00, sedang dalam perjalanan yang ditempuh Bandung-Jakarta ada jutaan peristiwa. Keadaan tersebut untuk menggambarkan keadaan dalam 4 dimensi, benda yang diam pun sebenarnya hidup dalam 4 dimensi. Episode demi episode alam semesta menjalani potret-potret perubahan keadaan yang tak terhingga jumlahnya. Unit atau satuan koordinat dalam dimensi ruang dipergunakan unit jarak atau unit panjang, misalnya meter, kilometer(= seribu meter), milimeter (= seperseribu meter), nanometer (= sepersemiliar meter), Fermimeter (satu per sepuluh pangkat 13 meter) dan sebagainya. Sedang untuk mengetahui selang waktu dua peristiwa dipergunakan unit atau satuan waktu, jam (=3600 detik), menit (=60 detik), detik, milidetik (= seperseribu detik), mikrodetik (= sepersatu juta detik), nanodetik (sepersatu miliar detik), dan sebagainya. Ada proses-proses fisika, proses proses kimia, fenomena kosmos, fenomena astronomi dan astrofisika di alam semesta ada yang berlangsung dalam selang waktu yang sangat singkat satu detik, seperseribu detik (milidetik), sepersatu juta detik (mikro detik), sepersatu miliar detik (nano detik) hingga sehari, sepekan, sebulan, setahun dan bahkan berpuluh, beratus, berjuta dan bermiliar tahun. Peristiwa gerakan lapisan angkasa Bumi, turbulensi udara yang menyebabkan bintang berkelip dan citra bintang berubah posisi pada bidang fokus teleskop. Peristiwa tersebut berlangsung seperseratus detik hingga seperseribu detik. Peristiwa transisi elektron pada saat menyerap energi foton, dari tingkat energi rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi, kemudian elektron kembali lagi ke tingkat orbit stabil, tingkat energi yang lebih rendah dan lebih stabil, memakan waktu sepersatu miliar detik. Evolusi bintang, proses kelahiran hingga kematian bintang memerlukan waktu berjuta hingga bermiliar tahun. Fenomena yang sangat singkat maupun yang sangat panjang luput dari pengamatan keseharian manusia, keberadaan proses-proses itu akan diungkap melalui eksperimen dan pemikiran oleh para ilmuwan yang menekuni makna waktu dalam kehidupan di alam semesta ini. Kehidupan alam semesta dalam ruang 4 dimensi itu terdapat materi dan energi, struktur ruangwaktu disekitar medan gravitasi yang kuat akan mengalami deformasi, fenomena lensa gravitasi oleh adanya gugus galaksi yang bermassa besar, adanya citra galaksi dari galaksi terletak jauh di belakang gugus galaksi yang terbentuk di sekitar gugus galaksi menunjukkan adanya pembelokan cahaya oleh medan gravitasi. Konsep Lensa Gravitasi, struktur ruang-waktu yang dideformasi oleh medan gravitasi yang sangat kuat oleh Gugus Galaksi akan membentuk citra artifisial galaksi/quasar yang berada lebih jauh dari Gugus Galaksi tersebut. Gugus Galaksi yang bermassa sangat besar berfungsi seperti sifat lensa “optik” memfokuskan cahaya yang datang ke permukaan lensa. Citra galaksi yang jauh akan terbentuk di sekeliling gugus galaksi. Kelakuan cahaya di struktur ruang waktu biasa, foton cahaya bergerak lurus, tidak sama dengan struktur ruang waktu di sekitar medan gravitasi yang amat kuat. Gerak foton cahaya tidak lurus, melainkan mengikuti kontur struktur ruang waktu yang ada. Pengukuran waktu umumnya dengan jam mekanik (bandul atau pegas) atau jam listrik, dengan interval waktu tak bisa diubah urutannya, kemarin atau yang lalu, sekarang dan yang akan datang (dulu, kini dan esok). Dalam tata kerja kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan sistem waktu Matahari, yang menjadi ukuran satu hari, putaran jarum jam pada sebuah jam dinding diatur menurut ritme peredaran harian matahari rata-rata, sebuah konsep matahari fiktif yang totalitas kelakuannya sama dengan matahari sebenarnya. Paduan rotasi planet Bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari melahirkan ritme jam Matahari. Ritme jam Matahari itu yang menjadi tata kerja kehidupan manusia modern, termasuk juga tata waktu berzikir manusia. Manusia mencoba menggali informasi dalam peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam skala waktu yang lebih kecil, ketika manusia memotret langit dalam waktu 5 menit, maka hasil potret langit merupakan kumpulan informasi dalam selang waktu 5 menit terhimpun menjadi satu kesatuan. Bagaimana bila dipotret selama 1 menit, 1 detik, sepersatu juta detik, sepersatu miliar detik, akan ada peristiwa dan informasi apa? Peristiwa-peristiwa dan proses-proses di alam semesta sejak lahir secara kontinu terus berlangsung hingga kiamat. Manusia mengenal sistem pencatat waktu dalam skala panjang yang dinamakan sistem kalender. Selain itu juga skala waktu geologis, skala perubahan-perubahan dalam waktu jutaan tahun, sebelum kelahiran manusia maupun sesudahnya. Melalui sistem penjejak waktu tersebut manusia dapat mempelajari sejarah, perubahan-perubahan dalam skala waktu yang panjang maupun dalam skala waktu yang relatif lebih singkat. Kata yaum yang mengindikasikan kronologi masa penciptaan alam semesta menarik untuk kita bandingkan dengan hasil penelitian terbaru dalam astronomi dan kosmologi. Menurut Alquran, alam (Iangit dan bumi) diciptakan Allah dalam enam masa (Fuṣṣilat/41: 9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk Dukhān (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (hari, ayyām) tidak dirinci di dalam Alquran. Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, berdasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Alquran (Fuṣṣilat/41: 9-12 dan an-Nāzi’āt/79: 27-32), dapat ditafsirkan bahwa enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian. Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (al-Anbiyā’/ 21: 30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 10-20 miliar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Alquran disebut bahwa Allah berkuasa meluaskan langit (aż-Żāriyāt/51: 47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi. Masa kedua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Alquran disebut penyempurnaan langit. Dukhān (debu-debu dan gas antarbintang, Fuṣṣilat/41: 11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Bila bintang mati dengan ledakan supernova unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Alquran penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut. Inilah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Alquran, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin tinggi menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai “Dia telah meninggikan bangunannya lalu m.enyempurnakannya” (an-Nāzi‘āt/ 79: 28). Masa ketiga dan keempat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,5 miliar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Protobumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Surah an-Nāzi‘āt/79: 29, “Dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu, materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri,sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam. Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi Iistrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 miliar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Dalam Surah al-Anbiyā’/21: 30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air. Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 miliar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut. Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada dua masa terakhir itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya sebagaimana disebutkan dalam Surah Fuṣṣilat/41:10,

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِّلسَّائِلِينَ۝

Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuninya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya. (Alquran, Surah Fuṣṣilat/41: 10)

  Dalam Surah an-Nāzi‘āt/79: 31-33, hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan. Allah berfirman,

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا۝ وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا۝ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ۝

Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. (Alquran, Surah an-Nāzi‘āt/79: 31-33)

  Bagaimana akhir alam semesta? Kosmologi (cabang ilmu yang mempelajari struktur dan evolusi alam semesta) masih menyatakan sebagai pertanyaan yang terbuka, belum ada jawabnya, mungkin terus berkembang atau mungkin pula kembali mengerut. Namun, Alquran mengisyaratkan adanya pengerutan alam semesta, seperti terungkap pada Surah al-Anbiyā’/21: 104·

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ۝

 (lngatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-Iembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh, Kami akan melaksanakannya. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 104)

  Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

This Post Has One Comment

  1. Enlightening!

Tinggalkan Balasan

Close Menu