WAKTU SESAAT

WAKTU SESAAT

Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat. Mereka mengenal masa lalu, kini, dan masa depan. Pengenalan manusia tentang waktu berkaitan dengan pengalaman empiris dan lingkungan. Kesadaran kita tentang waktu berhubungan dengan bulan dan matahari, baik dari segi perjalanannya (malam saat terbenam dan siang saat terbitnya) maupun kenyataan bahwa sehari sama dengan sekali terbit sampai terbenamnya matahari, atau sejak tengah malam hingga tengah malam berikutnya. Perhitungan semacam ini telah menjadi kesepakatan bersama. Namun harus digarisbawahi bahwa walaupun hal itu diperkenalkan dan diakui oleh Al-Quran (seperti setahun sama dengan dua belas bulan pada surat At-Taubah ayat 36), Al-Quran juga memperkenalkan adanya relativitas waktu, baik yang berkaitan dengan dimensi ruang, keadaan, maupun pelaku. Waktu yang dialami manusia di dunia berbeda dengan waktu yang dialaminya kelak di hari kemudian. Ini disebabkan dimensi kehidupan akhirat berbeda dengan dimensi kehidupan duniawi.

Alquran menggunakan ungkapan-ungkapan waktu yang tak tertentu lamanya atau mengungkapkan saat yang tak ditentukan. Ada juga istilah-istilah khusus untuk waktu tertentu.

  1. Sā‘ah (saat/waktu)

Kata sā‘ah dalam Alquran disebutkan dalam beberapa tempat, yaitu: al-A‘rāf/7: 34, at-Taubah/9: 117, Yunūs/10: 45 dan 49, an-Naḥl/16: 61, Sabā’/34: 30, dan al-Aḥqāf/46: 35. Berikut contoh ayat yang memuat kata sā‘ah di dalamnya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ۝

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 34)

 

  1. Ḥīn (waktu/masa)

Kata ḥīn dalam Alquran tersebar di berbagai surah, yaitu: al-Baqarah/2: 36, al-Ma’idāh/5: 101, al-A‘rāf/7: 24, Yunūs/10: 98, Hūd/11: 5, Yusūf/12: 35; Ibrāhīm/14: 35, an-Naḥl/16: 6 dan 80, al-Anbiyā’/21: 39 dan 111, al-Mu’minūn/23:35 dan 54, al-Furqān/25: 42, asy-Syu‘arā’/26: 218, al-Qaṣaṣ/28: 15, ar-Rūm/30: 17, Yāsīn/36: 44, aṣ-Ṣāffāt/37: 148, 174, dan 178, Ṣād /38: 3 dan 88, az-Zumar/39: 42 dan 58, aż-Żāriyāt/51: 43, aṭ-Ṭūr/52: 48, dan al-lnsān/76: 1. Dalam bentuknya yang lain, Ḥīnaiżin (ketika itu), muncul dalam Surah al-Wāq’iah/56: 84. Berikut contoh ayat yang memuat kata hin.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ۝

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenimakmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 36)

وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ۝

Dan kamu ketika itu melihat (Alquran, Surah al-Wāq’iah/56: 84)

  1. Ajal

Kata ajal banyak disebut dalam Alquran, baik secara mandiri maupun dirangkai dengan kata lain. Kata ajal yang mandiri termuat dalam firman-Nya,

فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِن جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّي آتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ۝

Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan dia berangkat dengan keluarganya, dia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan.” (Alquran, Surah al-Qaṣaṣ/28: 29)

Kata ajal kerap disandingkan dengan kata lain: (1) musammā, terdapat dalam Surah al-Baqarah/2: 282, Hūd/11: 3, ar-Ra‘d/13: 2, Ibrāhīm/14: 10, al-Ḥajj/22: 5 dan 33, an-Naḥl/16: 61, al-‘Ankabūt/29: 53, ar-Rūm/30: 8, Luqmān/31: 29, Fāṭir/35: 13 dan 45, az-Zumar/39: 5 dan 42, asy-Syūrā/42: 14, al-Aḥqāf/46: 3, dan Nūḥ/71: 4. (2) Qarīb, terdapat dalam Surah an-Nisā’/4: 77, Ibrāhīm/14: 44, dan al-Munāfiqūn/63: 10. Contoh ayat yang terdapat kata ajal musammā di dalamnya adalah,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ۝

Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat). (Alquran, Surah Hūd/11: 3)

Contoh ayat yang terdapat kata ajal qarīb di dalamnya adalah,

وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ۝

Dan berikanlah peringatan (Muhammad) kepada manusia pada hari (ketika) azab datang kepada mereka, maka orangyangzalim berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasu/-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? (Alquran, Surah lbrāhīm/14: 44)

 

  1. Ummah ma‘dūdah

Kata Ummah madūdah terdapat dalam Surah Hūd/11: 8 dan Yusūf/12: 20. Allah berfirman,

وَلَئِنْ أَخَّرْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِلَىٰ أُمَّةٍ مَّعْدُودَةٍ لَّيَقُولُنَّ مَا يَحْبِسُهُ ۗ أَلَا يَوْمَ يَأْتِيهِمْ لَيْسَ مَصْرُوفًا عَنْهُمْ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ۝

Dan sungguh, jika Kami tangguhkan azab terhadap mereka sampai waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata, “Apakah yang menghalanginya?” Ketahuilah, ketika azab itu datang kepada mereka, tidaklah dapat dielakkan oleh mereka. Mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka memperolok-olokkannya. (Alquran, Surah Hūd/11: 8)

 

  1. AI-Waqtul-ma‘lum

Gabungan kata ini dalam Alquran terdapat dalam Surah al-Ḥijr/15: 38 dan Ṣād/38: 81. Allah berfirman,

إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ۝

Sampai hari yang telah ditentukan (kiamat). (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 38)

 

  1. Mau‘id

Kata mauid dalam Alquran terdapat dalam Surah al-Kahf/18: 48, 58, dan 59, serta Ṭāhā/20: 58 dan 59.

وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا لَّقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّن نَّجْعَلَ لَكُم مَّوْعِدًا۝

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali. Bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian.” (Alquran, Surah al-Kahf/18: 48)

 

  1. Qadar malūm

Gabungan kata ini dalam Alquran tercantum pada Surah al-Ḥijr/15: 21 dan al-Mursalāt/77: 22. Allah berfirman,

أَلَمْ نَخْلُقكُّم مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ۝فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ۝إِلَىٰ قَدَرٍ مَّعْلُومٍ۝

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (mani), kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang ditentukan. (Alquran, Surah al-Mursalāt/77: 20-22)

 

  1. AI-‘Aṣr

Kata al-‘Aṣr dalam Alquran hanya terdapat dalam Surah al-‘Aṣr/103:1.

وَالْعَصْرِ۝

Demi masa. (Alquran, Surah al-‘Aṣr /103:1)

 

  1. Li dulūqisy-syamsy ilā gasaqil-Iail (tergelincir matahari hingga gelap malam)

Penggalan kata yang merujuk pada makna waktu ini terdapat dalam Surah al-Isrā’/17: 78. Firman Allah:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا۝

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 78)

 

  1. Aḍ-Ḍuḥā (sepenggalahan naik atau pagi hari)

Kata ini dalam Alquran terdapat pada Surah al-A‘rāf/7: 98, Ṭāhā/20: 59, dan Aḍ-Ḍuḥā/93: 1. Allah berfirman,

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ۝

atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 98)

 

  1. Fajr, Idbārun-Nujūm, dan Saar (fajar/menjelang pagi)

Ketiga kata dan gabungan kata ini bermakna sama yaitu waktu fajar atau menjelang pagi. Kata fajr terdapat dalam Surah al-Baqarah/2: 187, al-Isrā’/17:78, an-Nūr/24:58, al-Fajr/89:1, dan al-Qadr/97:5. Gabungan kata idbārun-nujūm terdapat dalam Surah aṭ-Ṭūr/52: 49, dan kata saar terdapat dalam Surah al-Qamar/54: 34. Berikut ini contoh penggunaan ketiga kata dan gabungan kata ini dalam Alquran.

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ۝

Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (Alquran, Surah al-Qadr/97: 5)

وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ۝

Dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada Nya dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar). (Alquran, Surah aṭ-Ṭūr/52: 49)

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا إِلَّا آلَ لُوطٍ ۖ نَّجَّيْنَاهُم بِسَحَرٍ۝

Sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka badai yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Lut. Kami selamatkan mereka sebelum fajar menyingsing (Alquran, Surah al-Qamar/54: 34).

 

  1. AI-Ibkār atau Bukrah, al-Gadāh, dan Isyrāq (pagi)

Semua kata di atas sama-sama menunjukkan waktu ketika matahari baru terbit atau pagi hari. Kata ibkār atau bukrah berasal dari akar kata yang sama dan terdapat dalam Surah Āli ‘Imrān/3: 41, Maryam/19: 11 dan 62, al-Furqān/25: 5, al-Aḥzāb/33:42, Gāfir/40: 55, al-Fatḥ/48: 9, al-Qamar/54: 38, dan al-lnsān/76: 25. Sedangkan kata al-gadāh dalam berbagai bentuknya dalam Alquran dapat ditemukan dalam Surah Āli ‘Imrān/3: 121, al-An‘ām/6: 52, al-A‘rāf/7: 205, ar-Ra‘d/13: 15, al-Kahf/18: 28, an-Nūr/24: 36, Gāfir/40: 46, dan al-Qalam/68: 22 dan 25. Adapun kata isyrāq terdapat dalam Surah Ṣād/38: 18. Berikut ini beberapa contoh penggunaan kata-kata tersebut dalam Alquran.

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ۝

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (Alquran, Surah Gāfir/40: 55)

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ أَن سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا۝

Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka. Bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. (Alquran, Surah Maryam/19: 11)

وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ۝

Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim.( Alquran, Surah al-An‘ām/6: 52)

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ۝

Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi. (Alquran, Surah Ṣād/38: 18)

 

  1. ub (subuh atau pagi)

Kata ub dengan berbagai bentuknya seperti mubiun dan tubiun terdapat dalam berbagai tempat dalam Alquran, yaitu: Hūd/11: 81, al-Ḥijr/15: 66 dan 83, ar-Rūm/30: 17, aṣ-Ṣāffāt/37: 137, al-Qalam/68: 17 dan 21, al-Muddaṡṡir/74: 34, dan at-Takwīr/81: 18. Contoh penggunaan kata ub dalam Alquran bisa dilihat dalam ayat berikut.

قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن يَصِلُوا إِلَيْكَ ۖ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ ۖ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ ۚ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۚ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ۝

Mereka (para malaikat) berkata, “Wahai Lut! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah beserta keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleeh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (Alquran, Surah Hūd/11: 81)

 

  1. Asyiy/‘Asyiyyah/‘Isyā’ (petang)

Ketiga kata di atas banyak disebut dalam Alquran dan tersebar dalam beberapa tempat, yaitu Āli ‘Imrān/3: 41, al-An‘ām/6: 52, Yusūf/12: 16, an-Nūr/24: 58, al-Kahf/18: 28, Maryam/19: 11 dan 62, ar-Rūm/30: 18, Ṣād/38: 18 dan 31, Gāfir/40: 46 dan 55, dan an-Nāzi’āt/79: 46. Penggunaan kata asyiy dalam Alquran bisa dilihat dalam ayat berikut.

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ۝

Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!” (Alquran, Surah Gāfir/40: 46)

 

  1. Āṣāl (petang)

Kata āāl dalam Alquran muncul sebanyak tiga kali, yaitu dalam Surah al-A‘rāf/ 7: 205, ar-Ra‘d/13: 15, dan an-Nūr/24: 36. Dalam Surah al-A‘rāf Allah berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ۝

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. (Alquran, Surah AI-A’raf/7: 205).

 

  1. arafayin-Nahār (tepi siang)

Gabungan kata ini hanya sekali disebut dalam Alquran, yaitu dalam Surah Hūd/11: 114.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ۝

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (Alquran, Surah Hūd/11: 114)

 

  1. ahīrah/Tuhirūn (Zuhur)

Kata ahīrah dengan berbagai bentuknya yang bermakna waktu zuhur atau setelah tergelincirnya matahari ke ufuk barat hanya disebut dua kali dalam Alquran, yaitu dalam Surah an-Nūr/24: 58 dan ar-Rūm/30: 18. Dalam Surah ar-Rūm Allah berfirman,

وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ۝

Dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada malam hari dan pada waktu zuhur (tengah hari). (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 18)

Dari sudut pandang sains, waktu-waktu sesaat itu tidak selalu bisa dipahami secara fisik, seperti dimensi waktu yang biasa kita gunakan. Akan tetapi, sebagian lainnya dapat dipahami karena terkait dengan fenomena periodik yang bisa diukur dengan besaran fisis. Waktu sesaat biasanya terkait dengan fenomena tertentu sebagian bagian hari. Dari siklus siang dan malam, Alquran membagi lagi menjadi beberapa bagian. Waktu siang hari terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Fajr, yaitu saat munculnya cahaya yang membentang di langit. Jika cahaya tersebut akhirnya tenggelam lagi, maka dinamakan fajar każib atau fajar yang bohong-bohongan. Namun demikian, jika cahaya tersebut akhirnya merebak ke seantero kawasan, maka dinamakan fajar ṣādiq atau fajar yang benar. Di dalam Alquran, Allah bersumpah dengan waktu fajar. Maksudnya adalah bahwa manusia perlu memikirkan tentang terjadinya waktu fajar di alam semesta. Waktu fajar jelas muncul karena ada Zat yang menggerakkannya, yaitu Allah. Dengan demikian, manusia semestinya beriman dengan Zat tersebut dengan tujuan kedua adalah bahwa manusia perlu memikirkan manfaat dari adanya waktu fajar yaitu munculnya hari baru yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
  2. Isyrāq atau terbitnya matahari pada waktu pagi hari dari ufuk timur.
  3. Ḍuḥā, yaitu waktu Ḍuḥā dimulai dari terbitnya matahari sehingga matahari menyinari alam semesta. Kaum muslimin diimbau untuk melaksanakan salat sunah pada waktu ini. Karena salat ini dilakukan di waktu Ḍuḥā, maka salat ini dinamakan salat Ḍuḥā. Waktunya dimulai dari waktu isyrāq sampai sebelum matahari berada di atas ubun-ubun. Salat Ḍuḥā dilakukan dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa pada diri manusia ada 360 pergelangan. Semua pergelangan itu harus ada sedekahnya. Tapi semua itu bisa diganti dengan salat dua rakaat pada waktu Ḍuḥā.
  4. Dulūkusy-syams, yaitu waktu tergeIincirnya matahari ke ufuk barat. Pada saat inilah kaum muslim diperintahkan untuk melaksanakan salat Zuhur. Pelaksanaan salat Zuhur adalah merupakan pengakuan terhadap Zat yang telah menjadikan perubahan di alam semesta.
  5. Ḥīna tuhirūn (waktu zuhur) dikatakan demikian karena semua benda terlihat jelas dengan beradanya matahari di tengah-tengah langit.
  6. an-Nahār, yaitu waktu siang dimulai dari terbit sampai tenggelamnya matahari.
  7. Ar (waktu asar) adalah ketika bayang-bayang satu benda sudah melebihi tinggi benda tersebut. Pada saat adanya perubahan ini, kaum muslimin juga diperintahkan untuk melaksanakan salat Asar.

Waktu malam juga terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

  1. Waktu magrib, yaitu ketika matahari terbenam di ufuk barat, kemudian berakhir ketika mega merah terbenam. Pada saat inilah kaum muslim diperintah untuk melaksanakan salat Magrib sebagai tanda ketundukan kepada Zat yang melakukan perubahan di alam semesta ini.
  2. Isya, yaitu ketika mega merah tenggelam dan masuk ke kegelapan malam. Pada saat ini juga kaum muslimin diperintahkan untuk melaksanakan salat Isya. Waktu salat Isya memanjang sampai terbitnya fajar.
  3. Waktu untuk salat tahajud, yaitu salat setelah tidur di malam hari. Salat Tahajud adalah salat sunah, tetapi sangat dianjurkan untuk menambah kedekatan dengan Allah. Dalam Alquran disebutkan bahwa Nabi Muhammad diperintahkan untuk menggunakan 2/3 malam untuk salat, atau 1/2 malam, atau kurang dari itu. Waktu yang paling mengesankan untuk melaksanakan salat malam adalah sepertiga akhir setiap malam. Pada saat itulah Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka yang bangun untuk melaksanakan salat dan amalan ibadah lainnya.

Alquran memberi pedoman waktu dalam pembinaan spiritualitas manusia yang dibangun dengan cara melaksanakan ritual salat. Pedoman waktu tersebut mengacu pada fenomena langit yang berulang yang merupakan sebuah jarum jam alam. Rotasi dan revolusi bumi merupakan jarum jam yang tak berhenti, menjadi indikator waktu ibadah dan juga menjadi inspirasi untuk membangun sistem waktu bagi manusia. Allah berfirman,

لِّكُلِّ نَبَإٍ مُّسْتَقَرٌّ ۚ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ۝

Setiap berita (yang dibawa oleh rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. (Alquran, Surah al-An‘ām/6:67)

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا۝

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 103)

Jika kita Iihat dari uraian di atas tentang waktu masuknya salat lima waktu, maka kita temukan bahwa masuknya lima waktu untuk melaksanakan salat lima waktu adalah terkait dengan pergerakan matahari dari ufuk timur ke ufuk barat dan dari ufuk barat kembali ke ufuk timur. Waktu-waktu salat itu merupakan pesan yang terdapat dalam Alquran dalam rangka pembinaan spiritualitas manusia. Waktu-waktu salat itu sepanjang zaman hingga kiamat atau kehancuran dunia fana.

Ketentuan teknis waktu salat adalah sebagai berikut. Waktu salat Subuh dimulai dengan terbitnya fajar subuh di ufuk sebelah timur dan berakhir dengan terbitnya matahari. Sejak idbārun-nujūm atau menghilangnya atau meredupnya pemandangan ke arah bintang-bintang “terbenam” dalam terangnya cahaya fajar, benang hitam terlihat jelas akibat terbitnya cahaya fajar, sesuai dengan yang dimaksud dalam Surah aṭ-Ṭūr/52: 49· hingga ulū‘ asy-syams atau terbitnya matahari sesuai dengan yang dimaksud dalam Surah Qāf/50 ayat 39. Dalam ilmu falak, terbit fajar subuh itu didefinisikan bila posisi matahari berada pada jarak zenit 90° + 20° = 110° (ada yang menetapkan 108°, 109° dan bahkan 111°). Allah berfirman,

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ۝ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ۝

Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun dan pada sebagian malam bertasbihlah kepada-Nya dan (juga) pada waktu terbenamnya bintang-bintang (pada waktu fajar). (Alquran, Surah aṭ-Ṭūr/52: 48-49)

Waktu salat Zuhur bermula dari tergelincirnya matahari pada tengah hari (dulūk asy-syams) seperti yang dimaksud dalam Surah al-Isrā’/17: 78. ” Dalam ilmu falak, ini dikenal dengan matahari berkulminasi atas, yaitu ketika matahari mencapai kedudukan tertinggi dalam “peredaran” harian (meridian passage) atau matahari melintas meridian pengamat (beberapa menit setelah meridian passage). Allah berfirman,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا۝

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 78)

Waktu salat Asar dimulai dengan qablal-gurūb (sebelum matahari terbenam) seperti yang dimaksud dalam Surah Qāf/50: 39. Waktu asar dicapai bila panjang bayang-bayang sebuah tongkat lurus (berdiri tegak lurus) waktu Zuhur, bertambah panjang dengan satu kali panjang tongkat. Ada yang berpendapat bahwa panjang bayang-bayang bertambah dua kali panjang/tinggi tongkat.

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ۝

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. (Alquran, Surah Qāf/50: 39)

Waktu Magrib dimulai pada keadaan langit zulafam-minal-Iail (bagian permulaan malam) seperti. yang dimaksud dalam Surah Hūd/11: 114. Bila seluruh bundaran matahari terbenam di bawah ufuk. Dalam ilmu falak, jarak zenit matahari adalah 91° (dalam astronomi 90° 50′).

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ۝

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (Alquran, Surah Hūd/11: 114)

Waktu Isya ditandai dengan hilangnya cahaya syafak atau cahaya merah pada awan di bagian barat langit. Jarak zenit matahari ditetapkan 16°, 17°, dan 18°. Penetapan waktu salat juga berpengaruh pada penetapan waktu puasa (aum) Ramadan atau puasa (aum) sunah lainnya, dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu