WAKTU DALAM KISAH DALAM ALQURAN

WAKTU DALAM KISAH DALAM ALQURAN

Serial Quran dan Sains

Kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad dan Waktu

Kisah Isra Mikraj merupakan kisah yang sangat inspiratif sepanjang masa, sejak zaman Rasulullah hingga saat ini. Selain inspiratif, kisah ini merupakan “tantangan” bagi para ahli tafsir maupun ilmuwan dalam usaha untuk mengerti dan menyingkapi fakta-fakta di balik fenomena Isra dan Mikraj. Peristiwa besar ini terekam di dalam Kitab Suci Alquran, yaitu pada Surah al-Isrā’/17: 1 (Peristiwa Isra) dan Surah an-Najm/53: 13-18 (peristiwa Mikraj) dan Hadis.

Kapan Peristiwa Isra dan Mikraj Terjadi?

Banyak pendapat mengenai kapan berlangsungnya peristiwa Isra Mikraj Rasulullah. Namun para ulama maupun ahli sejarah semuanya sepakat bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Di Indonesia dan beberapa negara muslim lainnya, peristiwa Isra Mikraj selalu diperingati pada malam tanggal 27 Rajab (bulan ke-7), karena berpegang kepada pendapat al-‘Allāmah al-Manṣūrfūri yang menyatakan bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi pada malam tanggal 27 Rajab tahun ke-10 Kenabian Muhammad. Namun demikian, pendapat tentang tanggal ini dibantah oleh Syaikh Ṣafiyyurraḥmān al-Mubārakfūri (al-Mubārakfūri, 1998), dengan alasan Khadījah wafat pada bulan Ramadan (bulan ke-9) tahun ke-10 Kenabian, padahal ketika peristiwa Isra Mikraj terjadi, Khadījah sudah wafat. Jadi, tidaklah mungkin Isra Mikraj terjadi pada bulan Rajab. AI-Mubārakfūri  (1998) memberikan tiga kemungkinan untuk tarikh Isra Mikraj, yaitu: (1) Pada bulan Ramadan tahun ke-12 Kenabian, 16 bulan sebelum Hijrah; (2) Pada bulan Muharam tahun ke-13 Kenabian, 14 bulan sebelum Hijrah; atau (3) Pada bulan Rabiul awal tahun ke-13 Kenabian, 12 bulan sebelum Hijrah. Menurut al- Mubārakfūri, karena Surah al-Isrā’ turun pada waktu akhir sekali sebelum Hijrah, kemungkinan ke-3 adalah yang paling mendekati.

Beberapa ulama juga berbeda pendapat tentang urutan peristiwa Isra Mikraj, yaitu apakah peristiwa Isra terjadi lebih dahulu, baru diikuti dengan peristiwa Mikraj pada saat yang berurutan sebagaimana lazimnya kita kenal, ataukah peristiwa Mikraj terjadi lebih dahulu baru 6 atau 7 tahun kemudian diikuti dengan peristiwa Isra. Ulama yang mengikuti pendapat terakhir ini beralasan bahwa Surah an-Najm/53: 8-18 yang memberitakan tentang peristiwa Mikraj diturunkan setelah peristiwa hijrah ke Abysinia, yaitu pada tahun ke-5 kenabian. Dengan demikian menurut pendapat ini, peristiwa Mikraj telah terjadi sebelum turunnya ayat 8-18 Surah an-Najm/53 itu, sedang peristiwa Isra tercatat terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 Kenabian Rasulullah (Ahmad, 1981).

Berbeda dari pendapat ini, menurut mayoritas ulama dan ahli sejarah, seperti al-Mubārakfūri (1998), dan sejarawan mualaf Martin Lings (1986) peristiwa Isra dan Mikraj terjadi secara berurutan. Dalam bukunya Muhammad, His Life Based on The Earliest Sources, Lings (1986) menyatakan, “To those in the Mosque he (Muhammad) spoke only of his journey to Jerusalem, but when he was alone with Abu Bakar and others of his Companions, he told them of his ascent through the seven Heavens…” (Kepada mereka yang berada di Masjidilharam, Muhammad hanya menceritakan perjalanannya ke Baitul Maqdis. Namun ketika dia sendirian bersama Abu Bakar dan para sahabat lainnya, dia menceritakan Mikrajnya melalui tujuh langit).

Apa pun pendapat para ahli sejarah tentang kapan Isra-Mikraj terjadi dan bagaimana urutan peristiwanya, semua ahli sepakat bahwa peristiwa Isra Mikraj telah terjadi pada diri Rasulullah, sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

 

Peristiwa Isra dan Mikraj dalam Alquran dan Hadis

Kisah Isra direkam dalam Surah al-Isrā’/17: 1, Allah berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ۝

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Alquran, Surah alIsrā’/17:1)

 

Sedangkan kisah Mikraj direkam dalam Surah an-Najm/53: 13-18, sebagai berikut.

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ۝ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ۝ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ۝ إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ۝ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ۝ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ۝

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratilmuntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggaI, (Muhammad melihat Jibril) ketika ke Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. (Alquran, Surah an-Najm/53: 13-18)

 

Riwayat Isra dan Mikraj terekam dalam banyak hadis Rasulullah, seperti dalam Ṣaḥiḥ al-Bukhāri maupun Muslim. Informasi dalam ayat-ayat Alquran dan hadis tersebut saling melengkapi satu sama lain yang dapat diringkas sebagai berikut

  1. Setelah selesai salat malam, Nabi Muhammad yang sedang berada di Masjidilharam, Mekah mengalami “pembedahan” dari atas dada sampai bawah perut oleh Malaikat Jibril. Hati Nabi dicuci dengan air zam-zam dan diisi dengan hikmah dan iman.
  2. Kemudian Nabi “diperjalankan pada malam hari” dari Masjidilharam di Mekah ke Masjidilaqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem), dengan menggunakan Buraq, serta dikawal oleh Malaikat Jibril. Nabi melihat beberapa “penampakan-spiritual” selama Isra.
  3. Sesampai di Masjidil Aqsa, Buraq ditambatkan,dan Nabi Muhammad kemudian melakukan salat sunah dua rakaat di Masjidil Aqsa. Menurut beberapa riwayat, dalam salat itu Nabi Muhammad menjadi imam dari semua Nabi/Rasul sebelumnya yang hadir semua di Baitulmaqdis.
  4. Seusai salat, Rasulullah ditawari dua macam minuman oleh Jibril, yaitu susu atau arak. Rasulullah memilih susu. Terdapat riwayat lain, dimana Rasulullah ditawari tiga macam minuman, yaitu: susu, arak, dan air, tetapi Rasulullah memilih susu.
  5. Dengan dikawal Jibril, Rasulullah diMikrajkan menuju Sidratul-muntaha, melewati tujuh langit.
  6. Dari langit 1 sampai dengan langit 7, berturut-turut Rasulullah bertemu dengan (1) Nabi Adam; (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya; (3) Nabi Yusūf; (4) Nabi Idris; (5) Nabi Harun; (6) Nabi Musa; dan (7) Nabi Ibrāhīm.
  7. Di Sidratul-muntaha, Nabi Muhammad mendapatkan “sambutan” dari Allah, berupa anugerah keselamatan, rahmat, serta keberkahan dari Sang Khaliq. Rasulullah kemudian mendapatkan perintah dari Allah untuk menjalankan salat wajib 5 kali sehari semalam bagi umat Islam. Setelah sebelumnya kewajiban salat sehari semalam diperintahkan 50 kali. Namun kemudian mendapatkan keringanan dari Allah menjadi 5 kali wajib salat sehari-semalam.
  8. Rasulullah kembali ke Mekah lewat Baitulmaqdis, dan sampai Mekah sebelum salat Subuh.
  9. Perjalanan Isra dan Mikraj serta kembalinya ke Mekah ditempuh dalam waktu kurang dari semalam

 

Dome of Rock: Batu karang suci tempat Nabi Muhammad SAW memulai Mikhraj

Telaah IImiah terhadap Peristiwa Isra dan Mikraj

Peristiwa Isra dan Mikraj yang dialami oleh Rasulullah merupakan peristiwa yang sangat fenomenal, baik bagi Rasulullah sendiri maupun untuk umat Islam secara keseluruhan. Selama lebih kurang 1400 tahun, peristiwa Isra Mikraj selalu diperingati dan dikaji oleh umat Islam serta para ulama terkemuka. Ada tiga pertanyaan dari sudut pandang Ilmu Pengetahuan, yaitu:

 

Tentang Jarak dan Waktu Tempuh dalam Isra dan Mikraj

Peristiwa Isra Mikraj banyak sekali mengundang pertanyaan, baik dari kalangan mufasir, ilmuwan maupun dari kalangan awam, baik dari kalangan Islam maupun dari kalangan non-Islam. Betapa tidak, peristiwa ini melibatkan perjalanan yang dialami Rasulullah dalam waktu yang sangat singkat sekali, sekitar separo malam dengan menempuh jarak yang sangat jauh, yaitu dari Mekah sampai ke Baitulmaqdis (Yerusalem) yang berjarak sekitar 1.224,45 km. Kemudian Rasulullah naik Mikraj menuju Sidratul-muntaha dengan melewati tujuh langit. Setelah itu Rasulullah turun kembali dari Sidratul-muntaha ke Baitulmaqdis, kemudian terus ke Mekah. Berarti Rasulullah menempuh jarak dua kali Mekah-Baitulmaqdis, yaitu 2.448,90 km – 2.450 km, ditambah jarak yang ditempuh pulang-balik dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha melewati tujuh Langit. Di manakah batas langit? Alam raya tidak ada batasnya, begitulah pemahaman sains saat ini. Jadi, kita tidak bisa memperkirakan jarak tempuhnya.

 

Tentang Ketahanan Tubuh Rasul dalam Kecepatan Cahaya dan Wahana-kendaraan Buraq

Rasulullah bersama Jibril menggunakan wahana-kendaraan binatang Buraq ketika peristiwa Isra itu. Buraq dalam Bahasa Arab berarti kilat, yaitu substansi cahaya. Agus Mustafa (2005) menjelaskan bahwa kata buraq berasal dari kata barqun yang berarti kilat. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan, apabila Buraq melangkahkan kakinya, tampak sejauh mata memandang. Bukankah sifat ini seperti cahaya LASER? Pertanyaan lainnya adalah jika Buraq merupakan jenis binatang yang mempunyai substansi cahaya, dengan demikian ia mempunyai kemampuan untuk bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya, yaitu: 300.000 km/detik maka apakah Rasulullah tahan dengan kecepatan seperti itu? Jika Rasulullah dan Jibril menaiki Buraq layaknya menunggang kuda, apakah Rasulullah tahan menghadapi kecepatan itu?

 

Bagian dalam Dome of Rock

Tentang Pengertian langit dalam Peristiwa isra-Mikraj

Apakah pengertian ‘Iangit’ dalam peristiwa Isra Mikraj itu? Apakah mungkin, Rasulullah bertemu dengan para Nabi sebelum beliau yang sudah lebih dulu wafat, dan apakah masih di langit yang termasuk langit fisik duniawi ini? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dikaji lebih dalam.

 

Pendapat Mufasirin dan IImuwan Awal Abad Ke-20 M

Akhir abad ke-19 dan awal abad ke 20, merupakan awal dari dibangunnya fondasi Paradigma Quantum dalam Ilmu Fisika oleh para ilmuwan dunia, seperti Max Karl Ernst Ludwig Planck (fisikawan Jerman penemu paket energi atau kuanta, pemenang nobel Fisika tahun 1918 yang hidup dalam periode tahun 1858-1947), Werner Karl Heisenberg (fisikawan Jerman penemu prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam skala kuantum, pemenang nobel Fisika tahun 1932 hidup dalam rentang waktu 1901-1976, Erwin Schrodinger (fisikawan Austria persamaan gelombang untuk mendeskripsikan elektron, peraih nobel Perdamaian dan Fisika tahun 1933 hidup dalam rentang waktu 1887-1961), Niels Hendrik David Bohr (1885-1962), Max Born (1882-1970), Paul Adrien Maurice Dirac (1902-), Albert Einstein (fisikawan Amerika kelahiran Jerman, pemenang hadiah nobel fisika pada tahun 1921 merevolusi pemahaman materi, ekivalensi materi dan energi, ruang dan waktu, fenomena fotolistrik dsb., hidup dalam periode tahun 1879 1955), dll. Awal abad ke-20, ditandai pula dengan temuan Guglielmo Marconi, seorang Pemenang Nobel1909 di bidang Fisika (bersama Karl Ferdinand Braun (1850-1918), tentang sistem telegrafi nirkabel, yang kemudian dikenal sebagai gelombang radio. Sejak saat itulah temuan-temuan baru di bidang sains, cepat atau lambat, mempengaruhi para mufasirin dalam melakukan tafsirannya terhadap ayat-ayat quraniyah, utamanya yang berkenaan dengan fenomena alam (ayat al-kaun) atau hal-hal yang dinilai mempunyai kandungan saintifik, termasuk peristiwa Isra Mikrajini.

Para mufasir maupun sejarawan Islam yang hidup di awal abad ke-20 dan berada di negara-negara dengan pengaruh sains yang kuat, seperti India dan Mesir, yang waktu itu masih menjadi bagian dari kolonial Inggris, sangat dipengaruhi oleh perkembangan sains di Dunia Barat. Pendapat-pendapat mereka, utamanya tentang apakah Rasulullah dalam Peristiwa Isra Mikraj itu hanya dengan rohnya saja atau dengan tubuhnya sekaligus,dapat kita Iihat sebagai berikut.

Abdullah Yusūf Ali (1983), seorang ulama besar Pakistan (waktu itu masih bagian dari India), yang aktif berdakwah pada tahun 1930-an, mengungkapkan pendapatnya tentang Peristiwa Isra Mikraj dalam tafsirnya, The Holy Qur’an, Text, Translation and Commentary (Edisi Itahun 1935), sebagai berikut. “… Even on the supposition of the miraculous bodily Journey, it is conceded that the body was almost transformed into a spiritual fineness.“(Bahkan jika dianggap secara mukjizat, peristiwa itu berlangsung dengan tubuh (Rasulullah). Maka, tubuh itu dipahamkan telah mengalami transformasi menjadi materi-spiritual yang halus). Masa ketika Abdullah Yusūf Ali menulis tafsirnya yang monumental itu adalah pada tahun-tahun 1930-an, yaitu ketika temuan-temuan terkait gelombang elektromagnetik, gelombang radio, serta kecepatan cahaya sedang diteliti dan dikembangkan. Tampak Abdullah Yusūf Ali sangat berhati-hati, tetapi cukup jenius dalam menafsirkan peristiwa Isra Mikraj.

Berikutnya ada Dr. Muhammad Husain Haikal (1972). la adalah seorang lawyer kelahiran Mesir yang mengenyam pendidikan di Perancis dan berkali-kali menjadi diplomat dan menteri. Haikal adalah penulis buku sejarah Nabi Muhammad yang sangat monumental, berjudul ayātu Muammad, yang edisi pertamanya terbit pada 1935. Sama dengan Abdullah Yusūf Ali, Haikal menulis bukunya itu ketika para fisikawan di negara-negara Barat berhasil menyingkap tentang gelombang elektromagnetik, yaitu pada dekade 1920-1930-an. Temuan Marconi dan para fisikawan lainnya berpengaruh pada Haikal, ketika mengulas tentang peristiwa Isra-Mikraj.Pendapatnya tentang Peristiwa Isra Mikraj, seperti tertulis dalam ayātu Muammad, adalah sebagai berikut:

“IImu Pengetahuan pada masa kita sekarang ini mengakui Isra dengan roh dan mengakui pula Mikraj dengan roh. Apabila tenaga-tenaga yang bersih itu bertemu maka sinar yang benar pun akan memancar. Dalam bentuk tertentu sama pula halnya dengan tenaga-tenaga alam ini, yang telah membukakan jalan kepada Marconi, ketika dia menemukan suatu arus listrik tertentu (gelombang radio, red) dari kapalnya yang sedang berlabuh di Venezia. Dengan suatu kekuatan gelombang ether arus-listrik itu, telah dapat menerangi kota Sidney di Australia. IImu Pengetahuan zaman kita sekarang ini membenarkan pula teori telepati, serta pengetahuan lain yang bersangkutan dengan itu. Demikian juga transmisi suara di atas gelombang ether dengan radio, telefotografi, transmisi faksimili, dan teleprinter lainnya, suatu hal yang tadinya masih dianggap suatu pekerjaan yang khayal belaka. Tenaga-tenaga yang masih tersimpan di alam semesta ini, setiap hari masih selalu memperlihatkan yang baru kepada alam kita.”

Jelas sekali bahwa pengaruh sains pada masanya telah membawa Haikal pada kesimpulan bahwa Isra Mikraj terjadi hanya pada roh Rasulullah saja.

 

Pendapat IImuwan Abad 20: Era Abad Angkasa Luar

Penemuan bahan bakar roket dan komputer pada abad 20 memungkinkan manusia menjelajah ke ruang angkasa. Abad 20 dikenal juga sebagai Abad Angkasa Luar (Space Age). Pada abad itu perlombaan ke angkasa luar, utamanya untuk mendaratkan manusia di Bulan, terjadi antara AS dengan Uni Soviet (sekarang Rusia). Walaupun Uni Soviet merupakan negara pertama yang berhasil meluncurkan satelit ke luar angkasa (yaitu Sputnik I, pada 1958), serta meluncurkan kosmonot pertamanya (Yuri Gagarin, pada tahun 1961), tetapi akhirnya Amerika-Iah yang berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan (Niels Amstrong, pada tahun 1969). Pada abad ke-20 itulah, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Sekali lagi temuan-temuan di bidang sains dan teknologi mempunyai pengaruh yang sangat kuat pada para iImuwan Muslim dalam menafsirkan ayat-ayat Quraniyah, utamanya yang berhubungan dengan fenomena-fenomena alam, tak terkecuali Peristiwa Isra Mikraj. Beberapa IImuwan itu, di antaranya dipaparkan di bawah ini.

Prof. Dr. Achmad Baiquni (1994, 1996), seorang guru besar fisika yang fokus pada High Energy Particle Physics, pada FMIPA-Universitas Gadjah Mada (UGM). Achmad Baiquni menulis dua buku, yaitu Al-Qu’ran, IImu Pengetahuan dan Teknologi (1994), dan Al-Qur’an dan iImu Pengetahuan Kealaman (1996). Pandangannya tentang Peristiwa Isra Mikraj tertulis dalam bukunya (1994) sebagai berikut.

“Karena dalam peristiwa Isra dan Mikraj Rasulullah melihat hal-hal yang tidak dapat terjadi di alam kita ini, maka kita dapat mengatakan bahwa perjalanan itu berlangsung di alam lain. Kita tidak dapat mengasosiasikan langit-Iangit yang dikunjunginya malam itu dengan planet-planet tetangga kita di dalam tata surya. Usaha semacam itu, yang dilakukan beberapa orang di lingkungan umat Islam, sebenarnya merupakan tindakan yang dapat menodai kesucian Isra dan Mikraj. Sebagai muslim, kita meyakini adanya alam-alam lain, yaitu alam gaib, yang tidak berhubungan dengan kita, sehingga tidak dapat kita teliti hukum-hukum pengaturannya.”

 

Pandangan Achmad Baiquni ini mulai menyinggung tentang “alam lain,” mungkin yang beliau maksud adalah dimensi lain, di mana peristiwa Isra Mikraj berlangsung. Meski demikian, tampaknya beliau cenderung berpendapat Isra Mikraj dilakukan Rasulullah dengan rohnya saja, yaitu setelah beliau membaca buku Life after Life oleh Dr. Moody, yang telah mewawancarai 100 orang yang pernah dinyatakan mati klinis, kemudian hidup lagi. Buku itu menjelaskan bahwa roh orang yang mati, bisa melihat dan mendengar suara orang hidup disekitarnya. Menurut Baiquni, alasan orang yang mengatakan bahwa Isra Mikraj Nabi haruslah dengan raga/tubuhnya, karena di raga itu ada alat untuk melihat (mata) dan mendengar (kuping), sehingga tanpa raga, roh tidak mungkin dapat mendengar dan melihat. Namun berbasiskan buku Life ater Life dari Dr. Moody itu, Baiquni yakin bahwa roh dapat mendengardan melihat, walaupun tidak ada mata atau kuping. Lebih lanjut Achmad Baiquni (1996) menjelaskan, “Jika suatu kejadian menggunakan sunatullah di alam kita yang belum terungkap, atau di alam lain yang gaib yang sama sekali, tidak kita ketahui, maka mukjizat itu tidak dapat kita ketahui secara rasional. Kita beriman saja!”

Pandangan berikutnya diungkapkan oleh Prof Dr. Ahmad Syalabi (1973), seorang ilmuwan dan ahli sejarah Islam dari Mesir. Aktivitas intelektual beliau berlangsung pada masa puncak era perlombaan ke luar angkasa antara AS dan Uni Soviet. Dalam bukunya, Sejarah dan Kebudayaan Islam, yang terbit pertama kali tahun 1959, beliau memberi komentar tentang Peristiwa Isra-Mikraj sebagai berikut.

“Sebenarnya mempercayai kebenaran peristiwa Isra-Mikraj, agak sukar oleh generasi-generasi yang lampau, tetapi tidaklah sukar bagi generasi-generasi kita sekarang, apalagi sesudah mempersaksikan satelit bumi (Sputnik I) buatan Rusia mengelilingi bumi dalam kecepatan yang menakjubkan itu.”

 

Jelas sekali beberapa ilmuwan abad 20 dapat memahami perjalanan yang cepat dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa. Namun demikian, mereka masih menyangsikan ketahanan tubuh nabi bila perjalanan itu dilakukan “secepat kilat” dengan Buraq. Begitu pula para IImuwan juga masih mempertanyakan apa yang dimaksud dengan “Iangit” dalam peristiwa Mikraj. Baiquni berpendapat bahwa “Iangit” yang dimaksud dalam peristiwa Isra Mikraj itu adalah “alam lain”, di luar alam fisik kita ini.

 

Pendapat IImuwan Akhir Abad 20 dan Awal Abad 21

Pada awal abad 21 ilmu pengetahuan telah mencapai perkembangan yang begitu menakjubkan. Bidang ilmu fisika nuklir yang menyangkut high energy particle physics, quantum physics, maupun astrophysics telah berkembang sedemikian rupa. Para iImuwan Indonesia juga banyak yang sudah menguasai ilmu-ilmu fisika mutakhir tersebut. Diantara mereka, adalah pakar muslim yang peduli terhadap ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang fenomena alam. Mereka juga peduli terhadap kisah Isra Mikraj yang penuh tantangan ilmiah itu. Berikut adalah rangkuman pendapat beberapa pakar Muslim yang ahli dalam Fisika Quantum, Astrofisika maupun Nuclear Engineering, terkait dengan peristiwa Isra Mikraj.

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (Pakar Astrofisika) dalam beberapa tulisannya tentang Isra Mikraj pada dekade 1990-an (Iihat Tafsir Iimi: Penciptaan Jagat Raya dalam perspektif Alquran dan Sains, 2010), menyatakan bahwa perjalanan Isra-Mikraj Rasulullah lebih tepat dimaknai sebagai perjalanan antardimensi karena dalam perjalanan ini ada fenomena fisik, yang dikenal sebagai dimensi ruang-waktu, dan fenomena nonfisik di luar dimensi ruang-waktu yang kita kenaI. Manusia di dunia ini hidup di dimensi ruang-waktu (terdiri dari empat dimensi: garis, bidang, ruang, dan waktu), karena kita mengukur berdasarkan ukuran ruang (seperti besar, kecil,jauh, dekat) dan waktu (seperti masa lalu, sekarang, masa depan, lama, sebentar). Perjalanan Rasulullah adalah perjalanan antardimensi, yaitu antar dimensi ruang-waktu, dari dimensi ruang-waktu yang satu ke dimensi ruang-waktu yang lain. Untuk memahami perjalanan antar waktu, Djamaluddin (opcit, Tafsir Iimi: Penciptaan Jagat Raya dalam perspektif Alquran dan Sains, 2010) mengibaratkan dengan suatu alam dua dimensi berbentuk “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut.

Makhluk seperti semut (semut dua dimensi) itu untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke yang lainnya harus menempuh jarak tertentu yang cukup jauh. Manusia yang hidup di ruang tiga dimensi dengan mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung yang lainnya. Jadi kita mengajak semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga, sehingga jarak ujung “U” yang satu ke yang lainnya menjadi lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antar dimensi, dan demikian pula lah Rasulullah diperjalankan oleh Allah dari dimensi ruangwaktu menuju ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi.

Ir. Agus Mustofa (Pakar Nuclear Engineering) dalam bukunya, Terpesona di Ṣidratul-Muntaha (2004, Cetakan I), menjelaskan bahwa Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi perjalanan Rasulullah mengarungi semesta, melanglang “ruang” dan “waktu”, karena Jibril adalah makhluk yang berbadan cahaya. Begitupun kendaraan yang dipakai: Buraq, ia adalah binatang yang berbadan cahaya. Mereka bertiga melesat dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 km/detik. Lebih lanjut Mustofa (2005) menjelaskan bahwa kecepatan setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan saja yang bisa memiliki keeepatan sedemikian tinggi itu. Yang bisa melakukan keeepatan itu cuma foton saja, yaitu quanta atau partikel sub-atom penyusun cahaya. Malaikat Jibril dan Buraq merupakan makhluk cahaya, yang badannya tersusun dari foton-foton; jadi tidak masalah mengalami keeepatan cahaya. Namun bagaimana dengan Rasulullah? Efek yang akan diterima oleh tubuh manusia apabila dikenakan keeepatan cahaya, maka badan manusia akan tercerai berai menjadi partikel-partikel subatom, sebelum kecepatan cahaya itu dicapai (Mustofa, 2005). Mengapa demikian? Karena susunan tubuh manusia terdiri dari jaringan-jaringan tubuh, yang tersusun dari sel-sel. Sel-sel tersusun dari makromolekul, dan makromolekul tersusun dari molekul molekul yang lebih kecil . Molekul molekul kecil ini tersusun oleh atom-atom, dan yang terakhir ini tersusun oleh partikel-partikel sub-atomik. Partikel-partikel sub-atom, atom, molekul, makromolekul, sel-sel dan jaringan bisa tersusun dan menyatu karena adanya binding energy (energi ikat). Ketika tubuh/raga dipercepat dengan kecepatan sangat tinggi, maka akan muncul gaya yang berlawanan dengan energi ikat tersebut. Semakin tinggi kecepatan yang diberikan, maka semakin besar energi yang melawan binding energy tersebut, dan suatu ketika apabila kecepatan dinaikkan terus menerus, maka tubuh manusia itu akan buyar menjadi partikel-partikel kecil (Mustofa, 2005).

Dr. Agus Purwanto (Pakar Fisika Quantum) dalam bukunya, Ayat-Ayat Semesta; Sisi-sisi Alquran yang Terlupakan (2008), juga menjelaskan hal yang sama. Dalam Teori Relativitas Khusus Einstein disebutkan hanya materi yang tidak bermassa saja yang bisa bergerak dengan laju cahaya. Materi tersebut adalah foton atau cahaya yang tidak lain adalah gelombang elektromagetik. Oleh karena itu, jika peristiwa Isra Mikraj dikaji berbasiskan dengan Teori Relativitas Khusus, maka akan mendorong pada kesimpulan bahwa dalam peristiwa itu, hanya roh dari Rasulullah yang ikut dalam peristiwa Isra Mikraj (Purwanto: 2008). Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa andai Nabi Muhammad benar-bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya,maka tubuh beliau akan “meledak” sesuai dengan hasil perhitungan Teori Relativitas Khusus.

Untuk menjawab masalah ketahanan tubuh dalam keeepatan cahaya, ini, Mustofa (2005) memberikan “Skenario Rekonstruksi” dengan menggunakan Teori Annihilasi. Teori ini dikenal dalam Fisika Inti/Quantum, yaitu apabila suatu materi bertumbukan dengan antimateri akan terjadi fenomena annihilasi (saling menghilangkan), dan timbul dua berkas sinar gamma. Sebaliknya, jika sinar dilewatkan medan inti atom, sinar tersebut lenyap, dan berubah kembali menjadi pasangan materi dan anti materi.

Mustofa kemudian menjelaskan proses perjalanan Rasulullah dari Masjidilharam ke Masjidilaqqsa dengan Teori Annihilasi ini. Agar Rasulullah dapat mengikuti kecepatan Jibril dan Buraq, maka badan wadah/tubuh materi Rasulullah diubah menjadi badan cahaya. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangkan kualitas badan Nabi dengan Jibril dan Buraq menjadi kawan seperjalanan beliau. Dalam peristiwa Isra Mikraj, sebelum Nabi mengalami perjalanan malam, Beliau mengalami pembedahan oleh Malaikat Jibril (lihat hadis riwayat al-Bukhāri  dan Muslim), dan menyucikan qalbu-nya dengan air zamzam. Pada saat inilah seluruh tubuh materi Rasulullah dimanipulasi oleh Jibril, yaitu diannihilasi menjadi badan cahaya. Dengan cara seperti ini, yaitu badan Rasulullah berubah menjadi substansi cahaya, maka kecepatan yang bagaimanapun dihadapi Rasulullah tidak menjadi masalah.Setelah Rasulullah berubah tubuhnya menjadi substansi cahaya, maka ketiganya: Rasulullah, Jibril dan Buraq siap untuk berangkat, serta segera melesat dengan kecepatan sangat tinggi, yaitu kecepatan cahaya sekitar 300.000 Km/detik. Jadi jarak antara Mekah dengan Palestina yang sekitar 1200 Km itu akan dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 0.005 detik. Dalam Fisika Quantum dikenal suatu teori bahwa apabila seseorang melakukan perjalanan dengan kecepatan melebihi atau menyamai kecepatan cahaya, maka secara teoritis dia akan masuk ke dalam dimensi-dimensi ruang-waktu yang lain. Mengapa demikan? Karena dengan kecepatan superluminal (melebihi cahaya) itu, batasan dimensi ruang-waktu terlampaui, atau dengan kata lain dimensi ruang waktu saling melipat (space time folding) (Davis, 1985), sehingga dia akan melihat dimensi-dimensi waktu lampau bahkan mungkin waktu yang akan datang (Davis, 1985, Iihat juga Jenie, 1988). Itulah mengapa Rasulullah dapat melihat ‘penampakan-penampakan’ ketika perjalanan Isra yang menyamai kecepatan cahaya itu. Namun demikian Rasulullah melakukannyadengan kesadaran penuh. Adanya relatifitas waktu antara”dunia manusia” dengan “dunia malaikat”, menyebabkan Rasulullah merasakan sepenuhnya perjalanan itu.. Beliau bisa melihat dengan gamblang penampakan-penampakan pada waktu Isra, serta mendiskusikannya dengan Jibril. Beliau juga mampu untuk mengingat dan menceritakannya kembali (Mustafa, 200S).

 

Raja/Nabi Sulaiman dan Waktu

  • Kekuasaan Raja/Nabi Sulaiman

Sulaiman putra Daud adalah seorang rasul sekaligus raja agung dari Kerajaan Israil Raja yang didirikan oleh ayahnya, raja sekaligus nabi/rasul Daud. Sulaiman diperkirakan lahir pada 989 SM (Sebelum Masehi), dan wafat pada 931 SM. Beliau diangkat sebagai rasul sekitar 970 SM (al-Maghluts, 2008).

Allah mengajari Nabi Sulaiman bahasa burung, juga menjadikannya mampu menaklukkan angin, setan, dan jin untuk melayaninya. Allah memberinya pula kemampuan untuk menurunkan hujan. Allah berfirman dalam Surah Ṣād/38:35 sebagai berikut.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ۝

Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Alquran, Surah Ṣād/38: 35)

 

Kerajaan Sulaiman sangat besar serta indah bangunan-bangunannya. Tentaranya terdiri dari manusia,jin, dan burung. Tiga ayat di bawah ini menggambarkan kebesaran Raja Sulaiman dan kerajaannya atas izin Allah.

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ۝

Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. (Alquran, Surah an-Naml/27: 17)

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ۝

Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (kedalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu. Dan Kami yang memelihara mereka itu. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 82)

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ۝

Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (Alquran, Surah Sabā’/34: 13)

 

  • Raja/Nabi Sulaiman: Mengelola Angin untuk Menyingkat Waktu Perjalanan

Ketiga ayat di bawah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah dalam menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman,agar beliau mampu mengelola dan menggunakannyauntukmempercepat waktu perjalanannya.

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ۝

Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (Alquran, Surah al Anbiyā’/21: 81)

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ۝

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (Alquran, Surah Ṣād/38: 36)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ۝

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Alquran, Surah Sabā’/34: 12)

 

Ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa dengan izin Allah, Sulaiman mampu menundukkan angin untuk keperluan atau tujuan tertentu. Kata “tundukkan” pada ayat diatas mempunyai pengertian bahwa Allah telah mengijinkan Sulaiman untuk dapat mengelola sifat angin untuk keperluan tertentu, yaitu dari jenis angin yang bertiup kencang (tidak jinak) menjadi angin yang bertiup (secara jinak) yang bertiup mengikuti yang perintah Sulaiman. Angin menjadi media transportasi bagi Nabi Sulaiman dalam berpergian dari Yerusalem di Palestina ke negeri-negeri lain di wilayah kekuasaannya, seperti ke Negeri Sabā’ di Yaman atau yang ke daerah lainnya.

 

  • Pemindahan Singgasana Ratu Balqis dari Negeri Sabā’ (Yaman) ke Yerusalem (Palestina) dalam waktu Sekedipan Mata
Haikal Sulaiman

Peristiwa pemindahan singgasana Ratu Balqis dari tempat asalnya, yaitu Ibukota Kerajaan Sabā’ (Yaman) sampai ke Yerusalem tertulis pada Surah an-Naml/27: 38-40. Ketika itu Nabi Sulaiman bertanya kepada para pembesar kerajaannya, siapa di antara mereka yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu cepat, sebelum kedatangan rombongan Ratu itu ke Yerusalem. Ada dua pembesar yang menyanggupinya: satu dari kalangan jin, bernama Ifrit, dan yang lainnya dari kalangan “mereka yang mempunyai ilmu tentang Kitab”.

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ۝ قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ۝ قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ۝

Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” ‘Ifrit dalam golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (Alquran, Surah an-Naḥl/27: 38-40)

 

Pada ayat 39 di atas, Ifrit termasuk golongan atau bahkan pembesar dari golongan jin. Dia sanggup membawa tahta atau singgasana Ratu Balqis, dari negeri Sabā’ (Yaman) sampai Yerusalem dalam waktu yang ia sebut “sebelum kamu (Sulaiman) berdiri dari tempat dudukmu”. Rentang duduk seorang raja pada singgasananya, utamanya dalam menerima para pembesarnya adalah mulai pagi sampai pertengahan hari, yaitu tergelincirnya matahari (al-Hanafi, 2005). Jadi dapat diperkirakan sekitar pukul 09.00-12.30, atau sekitar 3,5 jam. Jadi ‘Ifrit mampu membawa singgasana dalam waktu kurang dari 3,5 jam, katakanlah maksimum 3 jam. Waktu 3 jam ini adalah dua kali jarak, yaitu dari Yerusalem ke Sabā’ (Yaman) dan dari Sabā’ (Yaman) ke Yerusalem. Dengan demikian, jarak yang Ifrit tempuh dari Sabā’ (Yaman) ke Yerusalem hanya 1,5 jam. Jarak tempuh dengan jalan darat dengan kendaraan unta antara Yaman-Palestina sekitar 2 bulan atau 1-440 jam. Jadi, waktu yang dibutuhkan Ifrit untuk membawa singgasana 960 kali lebih cepat dibanding kendaraan unta waktu itu. Hal ini cukup masuk akal mengingat Ifrit termasuk golongan jin, yang penciptaannya dilakukan dengan bahan dasar api atau cahaya.

Kecepatan Ifrit ini tentunya sangat mengagumkan, tetapi ternyata ia masih kalah cepat dibandingkan orang yang memiliki pengetahuan tentang al-kitab, seperti dijelaskan pada ayat 40 diatas. “Dia” yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, sanggup membawa singgasana Ratu Balqis dari tempatnya di negeri Sabā’ sampai Yerusalem, hanya dalam waktu yang ia sebut “sebelum matamu berkedip”. Kedipan mata mempunyai kecepatan 300-400 milidetik (wiki.answer.com). Satu milidetik sama dengan 10-3 detik, atau 1 milidetik akan sama dengan sekitar 0.3X10-6 jam. Ambil satu kedipan mata butuh waktu 400 milidetik, maka waktu itu ekivalen dengan 120X10-6 jam atau 0,00012 jam. Waktu ini adalah waktu pulang balik Sabā’-Yerusalem. Dengan kata lain waktu yang ditempuh untuk Sabā’-Yerusalem adalah 0.00006 jam. Kecepatan ini berarti 24.000.000 kali lebih cepat dibanding kendaraan unta waktu itu atau 250.000 kali lebih cepat dibandingkan Ifrit.

Siapakah “dia yang menguasai al Kitab” itu? Apakah dari golongan manusia atau jin? Mengutip beberapa sumber, AI-Hanafi (2005) menyatakan bahwa “dia” itu kemungkinan adalah Jibril, atau Abul ‘Abbas Khidhir, atau Ashif bin Barkhaya, seseorang yang menjaga asma Allah. Sedang dalam The Holy Quran, Text, Translation, and Commentary, oleh A. Yusūf Ali (1983), ayat 40 awal tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris “Said the one who had knowledge of The Book,…” Dengan kata “the one”, A. Yusūf Ali tampaknya menafsirkan “dia” itu dari golongan jin yang memahami secara mendalam al-Kitab. Pada masa Sulaiman, yang dikenal dengan al-Kitab kemungkinan besar adalah Taurat dan Zabur. Nampaknya bahwa “dia” itu adalah juga dari golongan jin lebih masuk akal. Dengan kemampuannya memahami Kitab Suci, maka Allah akan membantu kecepatannya dalam memenuhi permintaan Sulaiman, sehingga ia hanya sekejap atau 0.00012 jam dapat mendatangkan singgasana ke hadapan Raja Sulaiman.

Kisah tentang Raja Sulaiman dengan Ratu Balqis ini dijelaskan secara panjang lebar dalam Alquran. Kisah ini dimulai dari adanya informasi dari burung Hud-Hud tentang keberadaan satu negeri yang dipimpin oleh seorang ratu, di mana rakyatnya belum menyembah Allah. Ratu dan rakyatnya akhirnya menerima seruan Nabi Sulaiman untuk memeluk agama tauhid setelah mereka melihat kekuasaan Allah yang dianugerahkan kepada Nabi Sulaiman (Surah an-Naml/27: 20-44).

 

The Empire of David and Solomon

Nabi Hezqiyal dan “Waktu”

  • Siapa Nama Orang yang Melewati Kota yang Hancur itu?

Kisah perjalanan orang yang melewati daerah yang sudah hancur, yang kemudian dihidupkan kembali oleh Allah disebutkan dalam Surah AI-Baqarah/2: 259. Allah berfirman,

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ ۖ وَانظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata,”Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (disini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (disini) sehari atau setengah hari.”Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi Iihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 259)

 

Dari ayat di atas jelas bahwa Alquran tidak menyebut secara eksplisit nama “orang” yang melewati kota yang hancur tersebut. Mayoritas mufasir berpendapat bahwa orang tersebut adalah seorang nabi atau rasul karena ia berbicara dengan Allah, sebagaimana terbaca pada ayat 259 di atas. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menetapkan siapa orang yang melewati suatu negeri itu. Menurut riwayat Ibnu Jarīr dan Ibnu Abī Ḥātim dari Ibnu ‘Abbās, al-Ḥasan, Qatādah, dan al-Suddiy, orang tersebut adalah Uzair bin Syarkhiya (Ezra, atau Ezer dalam Bahasa Ibrani). Pendapat ini yang popular menurut pakar tafsir Ibnu Kaṡīr. Abdullah Yusūf Ali (1983) dalam tafsirnya mengutip juga beberapa pendapat bahwa nama Nabi tersebut adalah Nabi Hezqiyal (Yehezkiel dalam bahasa Ibrani), atau Nabi Nehemiah atau Nabi Uzair, semuanya dari kalangan Bani Israil. Menurut Wahab bin Munabbih, orang itu adalah Nabi Armia bin Halqiya (Yeremia dalam Bahasa Ibrani), salah seorang Nabi Bani Israil. Sementara menurut Ibnu Iḥāq, Armia adalah nama lain dari Nabi Khidir. Riwayat lain dari Ibnu Abī Ḥātim menyebutkan bahwa orang yang dihidupkan kembali setelah wafat selama 100 tahun adalah Hezqiyal bin Bura/Buzi (Tafsīr Ibnu Kaīr: 1/687).

Pakar tafsir asal Tunisia, Ibnu ‘Asyūr, memilih pendapat yang mengatakan orang itu adalah Hezqiyal bin Buziy, salah seorang Nabi Bani Israil yang hidup sezaman dengan Nabi Armia dan Nabi Danial. la adalah satu di antara sekian banyak orang yang ditawan oleh Bukhtanashshar. (Nebukadnezar) ke Babilonia pada awal abad keenam sebelum Masehi. Pada masa itu, Bukhtanashshar berkeinginan menghabisi orang-orang Yahudi dan mengumpulkan puing-puing kuil (haikal/ temple) Sulaiman untuk dibawa ke Babilonia, Hezqiyal, mengumpulkan kitab-kitab yang berisikan syariat Musa, tabut perjanjian dan tongkat Musa, dan melemparkannya ke sebuah sumur di Yerusalem karena khawatir nanti akan dibakar oleh Bukhtanashshar. la lakukan itu setelah memberi kode yang hanya diketahui oleh nabi-nabi yang hidup sezaman dengannya atau para keturunan mereka. Ketika diasingkan ke Babilonia, ia menulis buku yang berisi peristiwa-peristiwa yang dipandangnya sebagai wahyu yang menunjukkan penderitaan orang-orang Yahudi dan keselamatan yang diharapkan. Peristiwa-peristiwa itu diterimanya melalui mimpi. Tulisannya yang terakhir diketahui pada tahun ke-25 setelah penawanan orang-orang Yahudi. Setelah itu tidak diketahui lagi berita tentang Hezqiyal. Diduga ia mati atau dibunuh. Di antara tulisannya berbunyi,

Aku telah dikeluarkan oleh roh Tuhan dan ditempatkan di tengah sebuah tempat yang penuh dengan tulang belulang. Aku diminta menguasai tempat itu. Seketika tempat itu kering. Tuhan berkata, apakah tulang belulang ini akan hidup? Aku berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui itu”. Tuhan berkata kepadaku, “Beritahukanlah kepada tulang-tulang ini dan katakan kepadanya, wahai tulang-tulang kering, dengarkanlah kalimat Tuhan. Tuhan berkata, Inilah aku sedang memasukkan kepada kalian roh, meletakkan otot di dalamnya, dan melapisimu dengan daging dan kulit”. Lalu aku memberitahukan hal itu sesuai perintah-Nya, lalu tulang-tulang itu saling mendekat satu sama lainnya, dan aku lihat daging dan otot dibalut oleh kulit dari atasnya, dan roh masuk kepada mereka, lalu hidup dan berdiri di atas kaki sebagai tentara yang sangat besar.

 

Karena mimpi seorang nabi adalah wahyu dan benar adanya, maka ketika Allah membangun kembali kota Yerusalem pada masa Nabi Uzair, sekitar tahun 450 SM, yaitu hampir 100 tahun setelah penghancuran Yerusalem oleh Bukhtanashshar, Dia (Allah) menghidupkan kembali Nabi Hezqiyal untuk memperlihatkan bukti kebenaran akan kenabiannya. Allah memperlihatkan kepadanya bagaimana tulang-tulang itu dihidupkan kembali, dan juga memperlihatkan tanda kekuasaan-Nya pada makanan, minuman, dan keledainya. Ada kemiripan alur informasi yang terdapat dalam tulisan Hezqiyal dengan firman Allah pada ayat ini (Ibnu ‘Asyūr: 3/35-36).

Ayat ke-259 Surah al-Baqarah ini memang tidak menjelaskan siapa orang yang melewati negeri itu, sebagaimana juga tidak menjelaskan nama negeri yang dilewatinya itu karena Alquran ketika menjelaskan tentang peristiwa atau kisah, umumnya tidak menjelaskan siapa pelakunya, kapan dan di mana peristiwa itu terjadi, sebab yang dipentingkan adalah pelajaran yang harus diambil dari peristiwa itu. Namun satu hal yang pasti, semua yang diceritakan dalam Alquran adalah fakta yang benar-benar terjadi, bahkan belakangan terbukti secara ilmiah, bukan sekadar fiksi atau khayalan.

  • Telaah Iimiah

Pada ayat 259 Surah al-Baqarah di atas, nampak kegalauan Nabi Hezqiyal ketika melihat kota yang hancur berantakan, temboknya telah roboh menutupi atapnya. Diperkirakan kota yang hancur itu adalah Yerusalem, ibukota kerajaan Yudea setelah terjadinya penyerangan oleh Raja Kaldan (Khaldea)-Babilonia, Bukhtanashshar (al-Maghluts, 2002) (dalam Iiteratur Barat raja tersebut adalah Nabuchadnezzar) pada tahun 587 SM (Carter, 1985) atau 586 SM (Amstrong, 1997), yang menghancurleburkan Yerusalem beserta Haikal Sulaiman. Kegalauan Hezqiyal terungkap dalam kata-katanya, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?”. Seketika Nabi Hezqiyal mengalami tiga kejadian penting, yaitu:

  1. Beliau diwafatkan selama 100 tahun, kemudian dibangkitkan/dihidupkan lagi.
  2. Setelah bangkit/hidup, diperlihatkan bahwa “makanan dan minuman” yang ia bawa sebagai bekal, belum berubah sama-sekali, masih seperti sedia kala, yaitu masih seperti 100 tahun yang lalu.
  3. Diperlihatkan kepada beliau bagaimana Allah membangkitkan kembali keledai yang sudah menjadi tulang-belulang, kembali hidup.

 

Ketika Nabi Hezqiyal dihidupkan kembali, Allah bertanya kepadanya, “Berapa lama kamu tinggal di sini?” dan Nabi Hezqiyal menjawab, “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Jawaban Nabi Hezqiyal cukup manusiawi karena ketika mati selama 100 tahun, fungsi memori otak tidak bekerja sehingga ingatannya ketika hidup kembali masih menggunakan memori 100 tahun yang lalu. Allah lalu menjelaskan bahwa Hezqiyal telah dimatikan 100 tahun lamanya.

Kemudian beliau disuruh melihat bekal makanan dan minumannya, ternyata bekal itu masih tetap utuh seperti sedia kala, seperti 100 tahun yang lalu dan tidak berubah. Subḥānallah! Mengapa bisa demikian? Dalam Fisika, Hukum Thermodinamika ke II menyatakan bahwa benda atau materi akan mengalami peluruhan sesuai dengan perjalanan waktu. Artinya, materi atau benda akan mengalami proses penuaan atau aus, seiring dengan perjalanan waktu. Mengapa makanan dan minuman yang dibawa Nabi Hezqiyal bisa keluar dari Hukum Thermodinamika ke-II? Kita akan bertanya, bagaimana cara penyimpanan minuman dan makanan sebagai bekal untuk perjalanan Nabi Hezqiyal? Jika minuman disimpan dalam botol yang tertutup sangat rapat, kiranya memang akan tahan dalam jangka waktu 100 tahun, asal tidak diganggu oleh binatang atau makhluk lainnya. Sedangkan tentang makanan, pertanyaannya adalah, makanan jenis apa yang dibawa? Biasanya jenis buah buahan atau gandum-ganduman. Menurut Qatadah (al-Hanafi, 2005), makanan dalam ayat di atas adalah buah Tin yang hijau. Sedang menurut at-Tabariy, makanan itu berupa anggur hitam. Anggur hitam, yang berasal dari kultivar anggur ungu (Vitis vinivera) telah lama digunakan oleh bangsa Mesir Kuno untuk makanan mentah sebagai buah meja atau sebagai minuman beralkohol. Sedangkan buah Tin atau Ara berasal dari pohon Tin, yang nama ilmiahnya adalah Ficus carica (lihat Tafsir IImi: Tumbuhan, Dalam Perspektif Alquran  dan Sains,2011). Marga Ficus ini beratus jenis, diperkirakan ada 750 jenis. Banyak dari jenis-jenis ini yang dapat hidup lama, sampai mencapai 200 tahun. Dengan demikian apakah buahnya juga tahan dalam jangka waktu 200 tahun. Wallāhua’lam biṣ-ṣawāb.

Atau apakah makanan tersebut diberi pengawet? Tentang “teknik pengawetan” masyarakat di wilayah Timur Tengah telah berkembang dengan prestasi kemajuan yang menakjubkan. Bahkan teknik pengawetan manusia di Mesir, telah dilakukan ribuan tahun sebelum tarikh Hezqiyal ini. Teknologi pengawetan jenazah oleh orang-orang Mesir Kuno, bahkan tahan sampai ribuan tahun. Dengan demikian, awetnya bekal makanan dan minuman yang dibawa Nabi Hezqiyal selama 100 tahun, kemungkinan karena Beliau menggunakan teknologi penyimpanan dan pengawetan terhadap bekal makanan dan minumannya itu. Atau mungkin karena kehendak Allah. Kemudian Nabi Hezqiyal, diperlihatkan oleh Allah bagaimana menghidupkan kembali keledai yang telah menjadi tulang-belulang. Ayat 259 memberikan gambaran kejadian ini,”…dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Hal yang menarik disini adalah bahwa pada Nabi Hezqiyal diperlihatkan bagaimana tulang-tulang tersusun kembali kemudian dibalut dengan daging, sampai terjadi keledai hidup seperti sediakala. Untuk memberikan interpretasi tentang bagian ayat ini, marilah kita mencermati beberapa Hadis Rasulullah yang menyinggung tetang adanya substansi pada tubuh manusia yang disebut ‘ajb aż-żanab (diterjemahkan sebagai tulang ekor), yang darinya semua makhluk manusia akan dibangkitkan kembali. Penjelasan ini kiranya bisa membantu interpretasi bangkitnya kembali keledai Nabi Hezqiyal, mengingat keledai adalah jenis makhluk mamalia seperti manusia.

 

  • Ajb aż-Żanab dalam Hadis Rasulullah

Ada beberapa Hadis Nabi yang tampaknya mengisyaratkan juga tentang adanya “substansi” di dalam tulang, yang dari substansi itu semua makhluk akan dibangkitkan kembali. Hadis Rasulullah menjelaskan tentang adanya (substansi) yang disebut ‘ajb aż-żanab (tulang ekor), yang dari situlah seluruh tubuh manusia dibentuk/disusun ketika pembentukan janin, yang kemudian tumbuh menjadi manusia. Ketika manusia mati dan telah menyatu dengan tanah‘ajb aż-żanab ini masih tetap utuh dan dari ‘ajb aż-żanab inilah akan disusun tulang-belulang, dihidupkan kembali dan dibangkitkan pada hari Kiamat. Hadis-hadis tersebut antara lain:

Rasulullah bersabda, “Antara dua tiupan ada empat puluh.” Sahabat bertanya, “Empat puluh harikah? Rasulullah menjawab, “Aku enggan menentukannya.” Dia bertanya lagi, “Empat puluh bulankah?” Rasulullah menjawab, “Aku enggan menentukannya.” Sahabat tersebut terus bertanya, “Empat puluh tahunkah?” Rasulullah pun menjawab, “Aku enggan menentukannya,” (yaitu enggan menentukan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun). Rasulullah lalu bersabda, “Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, maka mereka hidup seperti kecambah/kacang-kacangan. Semua yang ada pada manusia akan hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor (‘ajb aż-żanab). Dari situ manusia akan disusun pada hari kiamat.” (Riwayat al-Bukhāri  dari Abū  Hurairah)

 

Setiap anak Adam akan (hancur) dimakan tanah, kecuali ‘ajb aż-żanab (tulang ekor). Dari itu ia diciptakan dan dari itu pula ia disusun/dibentuk (ulang/kembali). (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

Dengan redaksi yang sedikit berbeda dalam Sāḥi Muslim disebutkan,

Sesungguhnya pada manusia terdapat sebuah tulang yang tidak akan dimakan tanah selamanya, dari situ manusia terbentuk pada hari kiamat. Mereka (para sahabat) bertanya, “Tulang apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “tulang ekor.” (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

 

Hadis-hadis yang serupa dengan riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dapat ditemukan dalam kitab Sunan Abū Dawūd no. 4743; al-Muwaṭṭa karya Imam Mālik (1/238); as-Sunan al-Kubrā karya an-Nasā’i; Sunan Ibni Mājah; Musnad Imam Amad; dan Sāḥiḥ Ibni ibbān (5/55).

 

  • ‘Ajb aż-Żanab dan Primitive Streak

‘Ajb aż-żanab merupakan substansi yang dari situlah embrio/janin tumbuh menjadi manusia dan dari ‘ajb aż-żanab itu manusia akan dibangkitkan kembali karena ia tidak akan hancur ketika jasad/mayat sudah hancur bersama tanah (lihat hadis sebelumnya).

Dalam dunia kedokteran dikenal adanya lapisan primitif (Iapisan sangat awal) ketika embrio mulai tumbuh menjadi manusia. Lapisan tipis ini disebut sebagai primitive-streak. Ibnu Abdil Bariy el ‘Afifiy (2011) menjelaskan bahwa pada saat sperma membuahi ovum (sel telur), maka pembentukan janin dimulai. Ketika ovum telah terbuahi (zigot), ia terbelah menjadi dua sel dan terus berkembang biak sehingga terbentuklah embryonic disk (Iempengan embrio) yang memiliki dua lapisan. Pertama, External Epiblast yang terdiri dari cytotrophoblasts, berfungsi menyuplai makanan embrio pada dinding uterus dan menyalurkan nutrisi dari darah dan cairan kelenjar pada dinding uterus. Sedangkan lapisan kedua, Internal Hypoblast yang telah ada sejak pembentukan janin pertama kalinya. Pada hari ke-15, lapisan sederhana muncul pada bagian belakang embrio, dengan bagian belakang yang disebut primitive node (gumpalan sederhana), yang merupakan bagian dari primitive streak (Iapisan tipis awal). Primitive streak merupakan suatu struktur yang terbentuk pada tingkat awal perkembangan embrionik mamalia (termasuk manusia), reptilia dan unggas.

Dari primitive streak inilah beberapa unsur dan jaringan, seperti ectoderm, mesoderm, dan endoderm terbentuk. Ectoderm membentuk kulit dan sistem saraf pusat, mesoderm membentuk otot halus sistem digestive (pencernaan), otot skeletal (kerangka), sistem sirkulasi, jantung, tulang pada bagian kelamin, dan sistem urine (selain kandung kemih), jaringan subcutaneous, sistem Iimpa, Iimpa dan kulit luar, sedangkan endoderm membentuk lapisan pada sistem digestive, sistem pernafasan, organ-organ yang berhubungan dengan sistem digestive (seperti hati dan pankreas), kandung kemih, kelenjar thyroid (gondok), dan saluran pendengaran.

Dari primitive streak yang ada pada embrio, berkembang menjadi sel-sel/ jaringan makhluk dewasa, antara lain perkembangan neural plate (Iempeng syaraf) yang kemudian menjadi neural fold (lipatan syaraf), dan juga jaringan-jaringan yang lain berasal darinya. Bagaimana nasib primitive streak setelah selesai membentuk sel-sel/jaringan dewasa? Moore and Azzindani (1983) menjelaskan bahwa primitive streak secara cepat akan berkurang ukuran relatifnya atau bertambah kecil serta menjadi struktur yang tidak penting lagi fungsinya di dalam embrio. Primitive streak inilah yang kemungkinan besar akan menjadi bagian paling ujung dari tulang ekor. Pertanyaannya adalah apakah primitive streak ini yang disebut ‘ajb aż-żanab?

Beberapa eksperimen telah dilakukan terhadap bagian paling ujung dari tulang ekor, yaitu terhadap ketahanannya. Ternyata tulang itu sangat tahan, bahkan juga terhadap api. Pada bulan Ramadan 1423 H, Dr. Othman al-Djilani dan Syaikh Abdul Majid telah melakukan penelitian mengenai ketahanan tulang belakang ini. Mereka berdua memanggang tulang ekor dengan suhu tinggi selama sepuluh menit. Tulang pun berubah menjadi hitam pekat. Kemudian, keduanya membawa tulang itu ke al-Olaki Laboratory, Sana’a, Yaman, untuk dianalisis. Setelah diteliti oleh Dr. al-Olaki, profesor bidang histologi dan pathologi di Sana’a University, ditemukan bahwa sel-sel pada jaringan tulang ekor tidak terpengaruh. Bahkan sel-sel itu dapat bertahan walau dilakukan pembakaran lebih lama.

Lebih dari itu, dan ini yang terpenting, primitive streak atau yang kemudian diperkirakan menjadi bagian paling ujung dari tulang ekor, berisi sel-sel yang bersifat pleuripotent (Mooere & Azzindani, 1983), yaitu sel-sel yang mampu berkembang menjadi jaringan-jaringan dewasa. Sel-sel seperti inilah yang dikenal sebagai Sel Punca atau Stem Cells.

 

  • Sel Punca (Stem Cells)
Stem Cell

Peristiwa dibangkitkannya kembali keledai Nabi Hezqiyal mungkin dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan modern. Dalam dunia ilmu pengetahuan kedokteran maupun biologi dikenal suatu jenis sel yang disebut dengan Stem Cells atau Sel Punca. Dari Sel Punca inilah semua jaringan tubuh manusia dibuat dan berasal. Sel Punca (Stem Cells) merupakan sel yang belum memiliki bentuk (belum terdiferensiasi) dan belum mempunyai fungsi spesifik layaknya sel lainnya pada organ tubuh (Halim et aI., 2010). Berbeda dengan sel-sel lainnya yang terdapat dalam tubuh, yang telah mengalami diferensiasi, misal sel otot jantung (kardiomiosit), sel neuron (saraf), dan sel pankreas, mereka semuanya telah memiliki bentuk dan fungsi yang spesifik. Sel Punca terjadi beberapa saat setelah terjadinya konsepsi antara sel telur (ibu) dengan sperma (ayah). Ia merupakan sel yang sangat awal terbentuk, belum terdiferensiasi, dan merupakan induk dari semua sel-sel fungsional lainnya. Sel Punca yang terjadi beberapa saat setelah konsepsi dikenal sebagai embryonic stem cells (ESC), atau Sel Punca Embryonik. Dari ESC inilah kemudian berkembang (terdiferensiasi) menjadi sel-sel otot jantung, sel-sel saraf, sel-sel pembentuk darah, dan sebagainya. Jadi, asal-muasal sel-sel fungsional atau jaringan atau organ adalah Sel Punca Embryonik (atau Embryonic Stem Cells, ESC). Namun pada orang dewasa, ada pula Sel Punca yang disebut sebagai Adult Stem Cells (ASC) dan ASC ini tersimpan di jaringan-jaringan tubuh tertentu, termasuk datam sumsum-tulang (Halim et aI., 2010). Salah satu fungsi ASC adalah mengganti sel sel tertentu yang rusak. Terapi Sel punca (Stem Cells Therapy), biasanya dilakukan dengan mengambil ESC dari tali pusat bayi atau ASC dari sumsum tulang manusia dewasa. ASC ini lalu dikultur untuk dikembangkan apakah sebagai sel-set otot jantung atau sel-sel pankreas, tergantung keperluannya. Jadi diketahui bahwa dalam sumsum tulang maupun pada jaringan-jaringan organ tersimpan ASC.

Kembali kepada kisah Nabi Hezqiyal pada ayat 259 tersebut di atas, pada tulang belulang keledai maupun sisa-sisa jaringan yang ikut bersamanya, tentu ada terkandung Adult Stem Cells (ASC) sekecil apa pun jumlahnya. Dengan kuasa Allah, gen/DNA yang ada dalam ASC tersebut dapat dihidupkan (di-on-kan) kembali atau direprogram menjadi ESC, sehingga DNA mampu menyandi (coding) kembali proses-proses metabolisme, yang akhirnya mengarah ke pembentukkan jaringan-otot jantung, saraf, dan darah serta daging sehingga akhirnya dengan kuasa Allah hiduplah kembali keledai itu. Proses inilah yang nampaknya diperlihatkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Nabi Hezqiyal, sehingga ia yakin akan kebenaran dan kuasa Allah dalam membangkitkan sesuatu yang telah hancur. Beliau kemudian bersabda: “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Apakah ASC yang tersimpan dalam sumsum tulang ekor paling ujung ini (yang kemungkinan berasal dari primitive streak) sama dengan ‘ajb aż-żanab?

 

Aṣḥābul-Kahfi (Pemuda dalam Gua) dan Waktu

  • Kisah Aṣḥābul-Kahfi (Pemuda Gua) dalam Alquran

Kisah Aṣḥābul-Kahfi atau Pemuda Gua tertulis dalam Alquran, Surah al-Kahf/18: 9-26. Sebab turunnya Surah al-Kahf ini adalah pertanyaan yang diajukan Kaum Quraisy Mekah setelah mendapatkan masukan dari Kaum Yahudi Madinah. Pertanyaan tersebut meliputi tiga hal, yaitu: (1) Siapakah Aṣḥābul-Kahfi  atau Pemuda Gua itu?, (2) Siapakah Zulqarnain?, dan (3) Apakah hakikat roh? (al-Khalidiy, 2000). Melalui wahyu Allah, Rasulullah menjawab semua pertanyaan di atas.

 

Gua Ashabul Kahfi
  • Aṣḥābul-Kahfi Ditidurkan selama 309 Tahun

Aṣḥābul-Kahfi atau Pemuda Gua adalah pemegang teguh ajaran tauhid dan beriman hanya kepada Allah sebagai Yang pantas untuk disembah serta mengagungkan Allah sebagai Penguasa langit dan bumi. Berbeda dengan masyarakat di mana mereka itu hidup yang menganut paham politheisme (musyrik), maka para Pemuda Gua itu adalah penganut tauhid  (al-Kahf/18: 14-16). Akibat keimanan yang berbeda dengan masyarakatnya inilah, maka keselamatan jiwanya terancam. Oleh karena itu, Allah memerintahkan mereka itu untuk berlindung dengan cara memasuki gua yang ditunjukkan oleh Allah (al-Kahf/18: 16)

Jika dicermati bagaimana Allah menidurkan mereka, maka dapatlah dilihat beberapa hal yang menarik, yaitu:

  1. Mereka, Aṣḥābul-Kahfi ,ditutup teIinganya (lihat ayat 11).
  2. Mereka ditempatkan dalam gua yang luas, di mana sinar matahari tidak masuk ke gua itu. Matahari terbit di sebelah kanan gua dan terbenam di sebelah kirinya (Iihat ayat 17).
  3. Tubuh Aṣḥābul-Kahfi dibolak-balikkan oleh Allah ke kanan dan ke kiri (lihat ayat 18).

 

Marilah kita cermati satu per satu dari ketiga hal menarik di atas.

  1. Allah menutup telinga Aṣḥābul-Kahfi (ayat 11). Dengan tindakan ini, para pemuda gua itu tidak mendengar kebisingan luar yang bisa membangunkannya dari tidur. Dengan kata lain penutupan telinga, yaitu “memutus” pendengaran keluar sehingga keadaan hening. Hal ini akan dapat memperpanjang waktu lelap tidurnya.
  2. Kuping dikenal mempunyai empat titik akupunktur yang bertanggung jawab untuk menekan nafsu makan (Lee,2012). Oleh karena itu, kalimat “Allah menutup telinga” juga berarti Allah menekan empat titik akupunktur pada telinga Aṣḥābul-Kahfi sehingga nafsu makan mereka sangat berkurang.

 

Tidak ada sinar matahari masuk gua. Sebab matahari terbit dari sisi kanan gua dan terbenam di sisi kiri (Ayat 17). Jadi sepanjang hari, keadaan gua yang luas itu selalu dalam keadaan redup atau gelap. Suhu dalam gua tersebut tentu dingin/sejuk. Keadaan gelap/redup atau tidak adanya cahaya masuk dengan suhu yang dingin/sejuk akan mampu untuk memperpanjang waktu tidur. Sebagai ilustrasi, kalau kita naik pesawat dari Mekah menuju Jakarta pada waktu malam, maka belum sampai 6 jam kita telah berjumpa dengan siang karena pesawat menuju arah terbit matahari. Agar kita tetap dapat tidur sampai 6 jam, awak pesawat memerintahkan untuk menutup jendela sehingga sinar matahari tidak masuk. Dengan demikian, para penumpang dapat tidur hingga 6 jam seolah masih malam.

Tubuh Aṣḥābul-Kahfi  dibolak-balikkan oleh Allah, ke kanan dan ke kiri (ayat 18). Dengan cara demikian proses aliran darah Pemuda Gua itu tetap terjaga. Dengan ruang gua yang luas, mereka tidak saling berdesakan satu sama lain, yang memungkinkan mereka bisa bangun. Ruang yang luas juga memungkinkan mereka bisa bolak-baIik dengan leluasa sehingga peredaran darah mereka terjaga dan proses metabolisme tubuh tetap berjalan sehingga mereka tetap bisa survive dalam jangka lama.

Dengan demikian, fenomena di atas: keheningan/kesenyapan, keredupan/kegelapan, suhu sejuk/dingin, berkurangnya atau tidak adanya nafsu makan, dan tubuh yangselalu bergerak dalam tempat yang luas, yang dialami oleh mereka yang sedang dalam kondisi tidur akan memungkinkannya untuk memperpanjang waktu tidur dan badannya survive. Dengan kehendak Allah subḥānahū wa ta’ālā mereka bisa tidur selama jangka waktu 300 tahun jika dihitung dengan Kalender Matahari, atau 309 tahun (ayat 25) jika dihitung dengan Kalender Bulan (AI-Khalidy, 2000).

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu