WAKTU DALAM BILANGAN TAHUN

WAKTU DALAM BILANGAN TAHUN

Sehari, sepekan, sebulan dan setahun merupakan unit waktu dalam sistem kalender yang dipergunakan untuk keperluan hidup sehari-hari yang secara umum mengacu pada siklus fenomena langit, rotasi planet Bumi, periode sinodis bulan dan revolusi bumi mengelilingi matahari, siklus tropis matahari dengan mengacu titik Aries. Alquran mengisyaratkan “waktu” di alam dunia berawal dan berakhir, berbeda dengan “waktu” di akhirat atau waktu yang dijalani oleh makhluk yang gaib. Seperti dijelaskan dalam Surah al-Ḥajj/22: 47 dan Surah Fāṭir/35: 5 yang mengungkapkan “seribu tahun di Bumi” sebanding dengan “sehari di sisi Allah”.

Ayat-ayat Alquran mengungkap kan bilangan tahunan dalam makna perumpamaan waktu yang relatif panjang dalam ukuran manusia. Namun ada juga ayat-ayat yang secara eksak menyebut bilangan tahun dalam makna matematis yang akurat, seperti pada Surah al-Ḥajj/22:47, as-Sajdah/32: 5 dan Yunūs/10: 5. Berikut contoh pada Surah Yunūs/10: 5.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ۝

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Alquran, Surah Yunūs/10: 5)

Pada Surah al-Ma‘ārij/70: 4, terdapat ungkapan lainnya yaitu sehari kadarnya lima puluh ribu tahun, sebanding dengan waktu sehari malaikat malaikat naik menghadap Allah.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ۝           

Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.(Alquran, Surah al-Ma‘ārij/70: 4)

 

Pada Surah Sabā’/34: 12 dijelaskan lama perjalanan Nabi Sulaiman dengan angin adalah setengah hari yang sama dengan sebulan. “Perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula).”

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ۝

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Alquran, Surah Sabā’/34: 12)

 

Pada Surah al-‘Ankabūt/29: 14 dijelaskan usia Nabi Nuh, “ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun”. Lalu, Surah Yunūs/10: 5 dan al-Isrā’/17: 12 memberikan gambaran bahwa fenomena langit yang berlangsung berulang dalam jangka yang panjang berfungsi sebagai sebuah “jam alam” merupakan tanda tanda yang dapat dipergunakan untuk mengenali ukuran-ukuran waktu.

Di antara ukuran waktu dalam bentuk tahun yang disebut dalam Alquran, terdapat pada Surah Yusūf/ 12: 42 dan 49, al-Kahf/18: 11 dan 60, dan Ṭāhā/20: 40. Ukuran waktu pada ayat-ayat ini menggunakan redaksi “beberapa tahun”, “tahun” dan “bertahun-tahun”. Pada Surah Yusūf/12: 47 dan 48 disebutkan “tujuh tahun”, dan dalam al-Kahf/18: 25 disebutkan “tiga ratus tahun” dan “sembilan tahun”.

 

Bilangan Jumlah Tahun

Sejumlah ayat dalam Alquran menyebut bilangan tertentu tentang jumlah tahun, beberapa di antaranya adalah Surah al-Baqarah/2: 96 dan 233, al-Ma’idāh/5: 26, Yusūf/12: 47-48, al-Kahf/ 18: 25, al-‘Ankabūt/29: 14. Berikut contoh pada Surah al-Baqarah/2: 96.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ۝

Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia), bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 96)

 

Fenomena tahun juga banyak diungkap dalam Alquran dengan berbagai ungkapan. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

 

  • Ām dan as-Sinīn/Sanah

Kata Ām dapat kita jumpai dalam Alquran pada Surah at-Taubah/9: 126, Yusūf/12: 49, dan al-Baqarah/2: 259. Dalam Surah at-Taubah/9: 126 Allah berfirman,

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ۝

Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, namun mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?( Alquran, Surah at-Taubah/9: 126)

 

Adapun kata sinīn/sanah dapat dijumpai pada Surah Yunūs/10: 5, al-Isrā’/17: 12, al-Ḥajj/22: 47, al-Baqarah/2: 96, al-Ma’idāh/5: 26, al-‘Ankabūt/29: 14, as-Sajdah/32: 5, al-Aḥqāf/46: 15, dan al-Ma‘ārij/70: 4. Dalam Surah Yunūs/10:5 dan al-Ḥajj/22: 47 Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ۝

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Alquran, Surah Yunūs/10: 5)

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ۝

Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidakakan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 47)

 

Beberapa tahun adalah ungkapan waktu yang digunakan Allah untuk menjelaskan lamanya Dia menutup telinga para Aṣḥābul Kahfi pada Surah al-Kahf/18: 11. Pada Surah al-Kahf/18: 25 terdapat ungkapan kuantitatif lama para Aṣḥābul Kahfi menetap dalam gua yakni selama 309 tahun. Lamanya waktu Musa berjalan mencari Khidir pada Surah al-Kahf/18 ayat 60 adalah bertahun-tahun. Ungkapan waktu lainnya, disebutkan dalam Surah Tāhā/20: 40. Ayat ini menjelaskan lama waktu Musa tinggal bersama penduduk Madyan yakni beberapa tahun.

Waktu yang diungkapkan dalam redaksi tahun dan bulan dalam Alquran mengacu pada sistem kalender Qamariah, sebulan kalender Qamariah rata-rata adalah 29,53058912 hari (dalam praktiknya terdiri dari 29 atau 30 hari), sehingga dalam setahun kalender Qamariah rata-rata 12 x 29,53058912 hari = 354,3670694 hari (dalam praktiknya terdiri dari 354 atau 355 hari), sedang unit waktu tahun dan bulan untuk masyarakat internasional mengacu pada sistem kalender Syamsiah.

Sebenarnya berapa lama Aṣḥābul Kahfi tinggal di gua? Allah menjelaskan bahwa sebenarnya mereka tinggal digua selama 300 tahun dan bertambah 9 tahun. Apa maksudnya? Ternyata, angka itu bisa dipahami sebagai 300 tahun menurut kalender Syamsiah (kalender matahari) atau 309 tahun bila menghitung dengan kalender Qamariyah (kalender bulan). Satu tahun kalender Syamsiah berarti jangka waktu bumi mengelilingi matahari, yaitu 365,24 hari. Berarti selama 300 tahun syamsiah itu lamanya 300 x 365,24 hari = 109.572 hari.

Satu tahun qamariyah berarti 12 bulan. Sedangkan satu bulan adalah jangka waktu sejak purnama sampai purnama berikutnya, yaitu 29,53 hari. Jadi satu tahun qamariyah =12 x 29,53 hari = 354,56 hari. Dengan demikian, lama mereka tinggal di gua =109.572 hari =109.572/354,56 tahun = 309 tahun qamariyah.

Pemahaman manusia terhadap pola perubahan posisi matahari yang menyorot kawasan kutub utara dan kutub selatan bumi secara bergantian dan berulang berkaitan dengan siklus musim, di antaranya dikenal 4 musim; musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin di belahan langit utara maupun selatan. Di kawasan ekuator, siklus musim kering dan musim penghujan mempunyai pola tahunan, satu tahun adalah jangka waktu antara musim hujan sampai musim hujan atau musim panas ke musim panas berikutnya. Karena musim ditentukan oleh peredaran bumi mengelilingi matahari, maka lebih tepat kalau disebutkan bahwa satu tahun adalah jangka waktu tempuh bumi mengelilingi matahari satu putaran. Menurut perhitungan astronomi (ilmu bintang), bumi mengelilingi matahari dalam waktu 365,2422 hari, kira-kira 12 bulan. Pada zaman dahulu orang menentukan jumlah hari satu tahun adalah 365 hari.

Cikal bakal sistem kalender Masehi yang dipergunakan sekarang adalah kalender Romawi. Semula Julius Caesar mengusulkan bulan Maret merupakan bulan awal kalender Matahari, tetapi para senator mengusulkan agar mempertahankan tradisi yang telah ada, yaitu bulan Januari sebagai awal bulan kalendar Matahari. Julius Caesar mereformasi jumlah hari dalam tiap bulan dari Luni-solar menjadi kalender Matahari. Pada masa-masa sebelum Julius Caesar (46 SM), sistem penanggalan Romawi menggunakan sistem Luni-solar, jumlah hari setahun 355, 377, 355, dan 378 hari. Pada zaman kekuasaan Julius Caesar (63 SM), sistem Luni-solar mengalami perubahan dengan penambahan bulan sisipan untuk mengembalikan Maret ke equinox hingga akhirnya mendapat bentuk kalender Matahari pada tahun 45 SM.

Sebulan sama dengan 31 hari dan 29 hari, kecuali Februari 28 hari atau 23 hari + bulan sisipan 27 atau 28 hari. Jadi 1 tahun rata-rata = (355+377+355+378)/4 =366,25 hari satu hari lebih cepat dari tahun tropis.

Ketidakmampuan dan kesalahan-kesalahan dalam penetapan tahun kabisat oleh para pendeta pada kalender menyebabkan Julius Caesar (JC) memutuskan untuk menggunakan kalender Matahari pada tahun 45 SM. Struktur kalender tersebut menjadi semakin kokoh pada abad 8 M.

Struktur kalender Masehi sebelum 4 M tidak diketahui dengan pasti, karena pada masa Augustus Caesar, ia menangguhkan penggunaan tahun kabisat hingga tahun 4 M. Kelahiran Nabi Isa juga diketahui antara 8 SM (Sebelum Masehi) hingga 4 SM bukan pada tahun 1 Masehi. Namun, tahun masehi tetap berjalan walaupun tidak sempurna dan mengalami masa-masa gelap dalam sejarah pembentukannya.

Sejak tahun 45 SM, Julius Caesar menetapkan satu tahun adalah 365,25 hari. Kelebihan 0.25 hari itu dibulatkan setiap empat tahun menjadi tambahan satu hari pada bulan Februari menjadi 29 hari. Ini yang disebut tahun Kabisat (tahun panjang). Tahun kabisat ini ditentukan terjadi bila angka tahunnya habis dibagi 4, misalnya 1980. Cara ini disebut dengan cara Julius.

Karena ketidaktepatan panjang hari dalam satu tahun kalendar itu dengan yang setahun peredaran matahari, mengakibatkan musim makin lama makin bergeser. Sebenarnya perbedaannya sangat kecil hanya 365,2500 – 365,2422 = 0,0078 hari. Tetapi dalam jangka ratusan tahun perubahan musim itu makin terasa, terutama di Eropa yang mengenal empat musim (musim bunga/musim semi, musim panas, musim daun berguguran/musim gugur, dan musim dingin). Fenomena matahari di titik ekuinok, terbaginya siang dan malam sama panjang selalu berlangsung pada saat matahari berada di titik Aries, peristiwa itu berlangsung sekitar tanggal 21 Maret. Musim bunga yang biasanya mulai 25 Maret setelah ratusan tahun berubah menjadi tanggal 21 Maret. Hal ini diketahui pada tahun 325 M.

Kesalahan perhitungan tahun yang diketahui tahun 325 M itu dibiarkan saja. Hanya disepakati bahwa musim bunga ditetapkan tanggal 21 Maret. Akibatnya, pada tahun 1582, musim bunga makin bergeser lebih jauh lagi menjadi tanggal 11 Maret. Kali ini dilakukan perbaikan yang dikenal sebagai perbaikan Gregorius. Perbaikan itu bertujuan mengembalikan musim bunga ke tanggal 21 Maret. Hal ini dilakukan dengan membuat lompatan dari tanggal 4 Oktober 1582 (Kamis) menjadi tanggal 15 Oktober (Jumat) keesokan harinya, jadi tanggal 5-14 Oktober 1582 tidak ada. Urutan hari tetap tak berubah dari Kamis ke Jumat, hanya urutan tanggal mengalami perubahan. Reformasi itu mengembalikan kedudukan Matahari ke arah titik Aries atau vernal equinox pada tanggal 21 Maret dan memperbaiki ketelitian dari kedudukan Matahari mencapai titik Aries lebih cepat 78 hari per 10.000 tahun menjadi lebih cepat 3 hari per 10.000 tahun.

Perbaikan Gregorius itu menetapkan bahwa jumlah hari rata-rata dalam satu tahun 365,2425 hari yang sebelumnya jumlah tersebut adalah 365,25 hari. Caranya, Gregorius membuat aturan tambahan menghilangkan tahun kabisat setiap empat abad (400 tahun). Jadi, aturan baru itu menetapkan bahwa tahun kabisat bila angka tahunnya habis dibagi empat, kecuali kalau angka tahun itu kelipatan 100 harus habis dibagi 400. Misalnya, tahun 1700, 1800, dan 1900 walaupun habis dibagi 4, bukan tahun kabisat karena tidak habis dibagi 400. Tahun 2000 adalah tahun kabisat.

Pemahaman manusia yang masih belum sempurna tentang presesi sumbu bumi, sehingga pergeseran kecil posisi titik Aries tidak teramati dengan baik. Paus Gregorius XIII mereformasi kalender matahari yang digagas oleh Julius Caesar (45 SM) sehingga jumlah hari pada bulan Oktober1582 H dihapus 10 hari.

Sistem penanggalan Masehi bukan merupakan sistem penanggalan yang mendiskripsikan periode tropis Matahari, tapi dibuat mendekati atau diperbaiki menjadi lebih presisi dengan cara mengatur penetapan tahun kabisat dan tahun basit. Sebelum 15 Oktober 1582, aturan penetapan tahun kabisat berdasarkan sistem Julian, yaitu setiap tahun yang habis dibagi 4 (empat) adalah tahun kabisat. Jadi rata-rata setahun kalender Julian adalah {[(3 x 365) + 1 x 366] / 4} = 365,25 hari. Setelah 15 Oktober 1582, dipergunakan aturan bahwa tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4, kecuali untuk tahun yang habis dibagi 100 tapi tidak habis dibagi 400 ditetapkan sebagai tahun Basit. Jadi dalam 400 tahun, jumlah tahun kabisat berkurang 3, semula pada aturan sistem tahun Julian (sebelum tahun 1582) jumlah tahun kabisat (400/4)=100 dan setelah 1582 tahun kabisat menjadi berkurang 3, K= INT (400/400) = 1 (baca: misalnya dalam kurun waktu 400 tahun K atau tahun kabisat yang habis dibagi 400 sama dengan bilangan integer/ bilangan bulat hasil pembagian (400 /400) = 1), Bo = INT (400/100) = 4 (baca: misalnya dalam kurun waktu 400 tahun, Bo tahun kabisat yang habis dibagi 100 sama dengan bilangan integer/bilangan bulat hasil pembagian (400/100) = 4), B = Bo – K = 4 – 1 = 3, jadi jumlah kabisat dalam 400 tahun adalah (400/4) = 100 – 3 = 97. Contoh lain: Dalam periode awal tahun 1600 hingga akhir tahun 2300 terdapat berapa tahun kabisat yang habis dibagi 100? Awal 1600 hingga awal 2300, Bo= 7 ditambah satu, yaitu tahun 2300, jadi Bo = INT (800/100) = 8; tahun kabisat K= INT (700/400) + 1 = 1 dan karena tahun 1600 adalah kabisat maka jumlah tahun kabisat bertambah 1, jadi ada 6 tahun basit B = 8 – 2 = 6 dalam kurun waktu awal tahun 1600 hingga akhir tahun 2300.

Untuk sistem Julian (kalender yang dikembangkan oleh Julius Caesar, 46 SM) satu tahun rata-rata diperoleh dengan cara merata-ratakan jumlah hari dalam 4 tahun, yaitu terdiri dari 3 tahun basit dan 1 tahun kabisat. Secara matematika bisa ditulis sebagai berikut: [(3 x 365) + (1 x 366)] /4 hari = 365,25 hari. Satu tahun rata-rata tersebut 0,0078 hari lebih cepat atau 78 hari lebih cepat dalam 10.000 tahun dibanding dengan satu tahun tropis rata-rata 365,2422 hari (matahari rata-rata). Satu tahun rata-rata dalam kalendar Gregorian diperoleh dengan cara merata-ratakan jumlah hari dalam 400 tahun. Setelah ada koreksi dalam kalender Gregorian, setahun rata-rata menjadi [(100 – 3) x 366 + (300 + 3) x 365] hari / 400 = 365,2425 hari. Rata-rata ini 3/10.000 hari lebih cepat dari setahun tropis rata-rata atau 3 hari dalam 10.000 tahun.

Reformasi kalender surya diakibatkan oleh pengetahuan presesi sumbu bumi yang belum berkembang,sehingga pengamatan dalam waktu yang pendek tidak bisa mendeteksi lama satu tahun tropis yang sebenarnya. Setahun rata-rata kedudukan titik Aries bergeser sebesar 50,2 detik busur ke arah Barat. Sebagai akibatnya, periode satu tahun tropis lebih pendek dari satu tahun sideris. Kedudukan titik Aries dalam jangka panjang juga berubah di arah rasi-rasi bintang di ekliptika.

Pada masa transisi ada 10 hari yang dihapuskan yaitu tanggal 4 Oktober 1582 dan keesokannya menjadi 15 Oktober 1582, tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 dihapus, sedang harinya tidak diubah. Di beberapa negara, pergantian dari Julian ke Gregorian tidak serentak dilakukan sehingga penghapusan hari bisa berubah, bila dilakukan pada beberapa abad sesudah reformasi Gregorian.

Walaupun kalender masehi telah dipergunakan secara luas di seluruh dunia, tetapi tidak bisa mematikan kalender-kalender lain yang ada karena salah satu fungsinya adalah sebagai penanda jadwal ritual, jadwal ibadah atau astrologi yang melekat pada sistem kalender.

Secara umum manusia merespons kehadiran bulan dan matahari serta fenomena alam yang dibangkitkan untuk keperluan penanggalan atau kalender yang diperlukan untuk berbagai jadwal kegiatan sehari-hari dan kegiatan ritual.

Revolusi Bumi, peredaran bumi mengelilingi matahari

Bagi umat Islam khususnya, peredaran bulan dan matahari berfungsi untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu, yang bisa digunakan untuk menentukan waktu-waktu melaksanakan ibadah tertentu. Diantara ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan perhitungan waktu ini adalah Surah Yunūs/10: 5, at-Taubah/9: 36, dan al-Isrā’/ 17: 12 . Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ۝

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Alquran, Surah Yunūs/10: 5)

 

Firman Allah dalam Surah al-Baqarah/2: 189 mempertegas penggunaan kalender bulan bagi umat Islam. “Bulan sabit itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji”. Kalendar Islam atau kalendar Hijriah mempunyai sejarah yang jelas, pengamatan hilal dicontohkan pada zaman Nabi dan regulasinya ditetapkan di zaman kekhalifahan ‘Umar bin al-Khaṭṭāb (637 M).

Abad berikutnya merupakan penyempurnaan sistem kalender tersebut, melalui sains dan teknologi. Kalender hijriah mengacu pada berulangnya fenomena visibilitas hilal, bagian fasa bulan. Siklus sinodik bulan terpendek adalah 29,2679 hari dan siklus terpanjang adalah 29,8376 hari, sedangkan siklus sinodik bulan rata-rata yang diadopsi adalah 29,530589 hari. Hari dan tanggal awal tahun Hijriah ditetapkan pada zaman khalifah ‘Umar bin al-Khaṭṭāb (637 M) setelah 17 tahun kaum Muslimin hijrah bersama Rasullulah ke Madinah. Awal penanggalan Islam bertepatan dengan 16 Juli 622 M. Kondisi fasa bulan pada tahun 622 M, ijtimak penentu awal Muharram 1 Hijriah berlangsung pada jam 08:26 waktu Mekah dan pada saat itu juga berlangsung gerhana matahari sebagian. Contoh jadwal fasa bulan tahun 622 M (tanggal, bulan, dan jam dalam UT, P = gerhana matahari sebagian, t=gerhana bulan total) untuk ijtimak atau konjungsi, Kuartir Awal (bulan separuh pada sore hari dekat meridian), Bulan Purnama dan Kuartir Akhir (bulan separuh pada pagi hari dekat meridian). Allah berfirman pada Surah at-Taubah/9: 36;

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ۝

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. (Alquran, Surah at-Taubah/9: 36)

 

Kalender hisab Urfi menggunakan aturan baku sehingga dapat dipergunakan sebagai pendekatan kalender hisab hakiki yang menghitung langsung posisi bulan dan matahari di suatu lokasi untuk menetapkan awal bulan Islam dengan menggunakan kriteria tertentu. Di Indonesia dipergunakan Taqwīm Standard untuk acuan kalender Hisab Hakiki, sedangkan untuk penetapan awal Ramadan, awal Syawal dan awal Zulhijjah ditetapkan dalam sidang lsbat. Jumlah hari dalam satu tahun Hijriah 354 hari atau 355 hari. Allah berfirman dalam Surah al-Isrā’/17: 12,

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا۝

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 12)

 

Ayat di atas memberi arah bahwa pergantian hari pada kalender hijriah terjadi pada waktu Magrib. Berbeda dengan kalender masehi, pergantian hari berlangsung pada tengah malam, jam 00:00.

Nama hari seperti Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu merupakan nama-nama hari yang berasal dari Arab. Berbeda dengan nama-nama hari Sunday (sun), Monday (moon), Tuesday (Mars), Wednesday (Merkurius), Thursday (Jupiter), Friday (Venus) dan Saturday (Saturnus) berasal dari nama-nama planet yang tua. Planet sebagai pengembara langit (belum diketahui menginduk Matahari) dan dianggap sebagai dewa. Matahari dan bulan masih dikelompokkan sebagai planet, 5 planet terang yang dapat di Iihat dengan mata telanjang Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus juga dinamakan planet klasik.

Keberadaan malam dan siang memudahkan manusia dapat mengetahui bilangan atau jumlah hari dalam setahun. Pada tahun kabisat terdiri dari 355 hari dan bulan Zulhijjah terdiri dari 30 hari. Dalam 30 tahun, terdapat 11 tahun Kabisat dan 19 tahun Basit. Bila H adalah tahun Hijriah maka tahun Hijriah Kabisat ditentukan sebagai berikut: S = Frac (H 130) * 30, bila S = 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26 dan 29 maka H adalah tahun Kabisat. Siklus tujuh hari (Ahad = hari ke 1, Senin = hari ke 2, Selasa = hari ke 3, Rabu = hari ke 4, Kamis hari ke 5, Jumat = hari ke 6 dan Sabtu=hari ke 7).

Penentuan hari-hari besar agama dalam Islam mengikuti kalender hijriah atau kalender qamariah. Seperti tahun baru hijriah tanggal 1 Muharam, maulid nabi Muhammad (12 Rabiul awal) dan lain-lain. Begitu dalam agama-agama lain. Penentuan hari Raya Nyepi, hari Raya Waisak, Wafat Isa al Masih, Kenaikan Isa al Masih, hari Raya Imlek, juga memanfaatkan siklus peredaran bulan mengelilingi bumi, periode sinodis bulan dan siklus peredaran bumi mengelilingi matahari, periode tahun tropis dengan aturan yang berbeda satu terhadap lainnya.

Dalam kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan), satu tahun tetap 12 bulan. Karena rata-rata bulan qamariyah itu 29,53 hari, maka satu tahun hanya 354,36 hari. Ini berarti lebih pendek 11 hari daripada tahun syamsiah. Itulah sebabnya awal puasa Ramadan dan hari raya selalu bergeser sekitar 11 hari lebih awal. Misalnya, Idul Fitri tahun 1433 H jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012 maka tahun 1434 H akan bergeser sekitar 11 hari lebih awal menjadi sekitar tanggal 8 Agustus 2013. Dengan cara ini kita bisa memperkirakan hari raya tahun mendatang dengan mengurangkan sekitar 11 hari.

Siklus tahunan ini mengingatkan manusia agar tidak hanya berpikir rencana dan evaluasi capaian kerja selama setahun, atau melupakan rutinitas dengan luapan kegembiraan tanpa batas, tetapi perlu juga direnungkan tentang ajal yang makin mendekat dan apa yang telah dipersiapkan sebagai amal saleh di dunia fana ini.

Manusia dalam perjalanan hidupnya terus meniti ruang dan waktu. Manusia senantiasa perlu berzikir dan mendekat pada Allah, Penguasa lam semesta, mengingat batas waktu kehidupan dunia fana makin mendekat dan perjalanan yang lebih panjang akan dijalani lagi dengan bekal yang cukup agar perjalanan tetap nyaman. Pergantian hari dan pergantian tahun hakikatnya sama dengan introspeksi atas capaian harian atau bulanan atau tahunan yang telah berlalu dan menerawang harapan atas capaian yang lebih baik untuk hari esok atau bulan depan atau tahun depan. Manusia perlu menerawang akan persiapan akhirat karena ajal yang makin mendekat entah esok, lusa, pekan depan, bulan depan, tahun depan dan seterusnya.

Hamparan ruang dan waktu merentang dari lahirnya alam semesta sekitar 10-15 miliar tahun silam hingga kehancurannya kelak, bermiliar atau bertriliun tahun tidak pernah diketahui dengan pasti oleh manusia. Walaupun metodologi sains telah mengantar progres pemahaman manusia tentang struktur dan evolusi alam semesta, tetapi metodologi sains dibatasi oleh data-data yang tersedia, data-data alam semesta yang mungkin dan bisa terdeteksi oleh bantuan penguasaan teknologi manusia.

Manusia tak sanggup membayangkan kepastian mekanisme detik-detik kelahiran dan detik-detik kematian alam semesta. Alam semesta berawal melalui big bang dan kelak akan berakhir, apakah melalui big crunch atau peluruhan atau yang lainnya? Bertriliun proses dan episode berlangsung dari awal kelahirannya hingga kini dan kehancurannya kelak, sebagai akhir dunia materi. Usaha intelektualitas manusia tak berhenti untuk memahami struktur dan evolusi alam semesta. Usaha itu perlu dihargai dalam perspektif ungkapan syukur manusia yang diberi karunia dan kesempatan untuk eksplorasi pengetahuan alam semesta dan kehadirannya di alam semesta. Sebagai makhluk cerdas, yang menyakini adanya Tuhan, ungkapan syukur ditujukan kepada Allah sebagai Pencipta, Penguasa, dan Pemelihara alam semesta.

Kehadiran kehidupan manusia sebagai makhluk cerdas hanya merupakan sebuah episode dalam pagelaran ruang dan waktu alam semesta. Jagat raya yang amat luas menenggelamkan bintang, galaksi, maupun gugusan galaksi menjadi pemandangan sebuah titik dan planet-planet ibarat debu dalam sebuah padang pasir. Di sebuah planet Bumi yang dilahirkan dalam jagat raya yang sangat luas ini dan rentang waktu sempit beberapa puluh ribu tahun dalam pagelaran waktu yang amat panjang. Matahari dan planet pengiringnya dilahirkan dalam beberapa miliar tahun, planet Bumi dengan biosfernya terbentuk, manusia meniti kehidupan fana berpuluh tahun atau mungkin seratus tahun dan kemudian menuju akhirat, jasadnya dilahirkan dan dikuburkan di planet Bumi.

Pergantian tahun dalam perspektif astronomi merupakan sistem penjejak waktu berjangka panjang. Sistem penjejak waktu yang tidak sebatas sehari atau dua hari, ada yang menggunakan kalender Matahari, atau kalendar Masehi. Selain kalender Matahari, terdapat kalendar Bulan maupun kalendar Luni-solar. Sebagai makhluk cerdas Bumi manusia perlu mempunyai kesadaran tentang keberadaan dimensi ruang dan waktu. Titian dimensi waktu kehidupan terus berjalan ke depan, menatap hari esok meninggalkan hari kemarin, hari esok pun terus dilalui menjadi kemarin, esok pun berganti dengan esok yang baru. Fenomena berulang dibangkitkan oleh rotasi bumi pada porosnya dan revolusi bumi mengelilingi Matahari. Bulan mengelilingi bumi memberi inspirasi bagaimana menata kehidupan dalam perjalanan hidup manusia dan pagelaran alam semesta.

Peristiwa-peristiwa besar sejarah para nabi, berbagai proses geologi di planet Bumi dan alam semesta, telah merentang tidak hanya puluhan atau ratusan tahun, tetapi beribu atau berjuta tahun bahkan mencapai bermiliar tahun. Berbagai teknik ilmiah digunakan dalam mengungkap sejarah panjang umat manusia dan sejarah Bumi dan alam semesta.

Waktu peluruhan unsur radioaktif Uranium U238 menjadi Pb206 adalah 4,51 miliar tahun, unsur radioaktif Uranium U235 menjadi Pb207 adalah 713 juta tahun dan menjadi alat untuk menera usia batuan, maupun bangunan artefak. Usia karang Bumi yang paling tua ditemukan di barat daya Greenland berusia paling tidak 3,76 miliar tahun. Karang yang terbentuk 2,6 miliar tahun silam mengandung microfossil berukuran 20 mikron. Usia Meteorit yang mencapai 4,6 miliar tahun dipercayai sebagai usia tata surya. Eogeological Basement berusia 3,76 miliar tahun, struktur Archaean (proto kehidupan) berusia 2,6 miliar tahun, Proterozoic awal berusia 2,02,6 miliar tahun, Proterozoic pertengahan berusia 1,0-2,0 miliar tahun, Proterozoic akhir berusia 0,6-1,0 miliar tahun. Phanerozoic batuan fosil di zaman Cambrian, Paleozoic Cambrian 600 juta tahun-Paleozoic Permian 260 juta tahun, Mesozoic Triassic 220 juta tahun-Mesozoic Cretaceous 134 juta tahun, Kainozoic Paleocene 70 juta tahun, Kainozoic Quarternary Pleitocene 1 juta tahun silam, hingga sekarang.

Umur bumi diduga berdasarkan umur-umur batuan, jadi pada dasarnya umur bumi ditetapkan menurut umur batuan yang tertua. Ketika material penyusun bumi masih dalam bentuk magma dan gas, pembentukan bumi belum dimulai dan dianggap masih berada pada periode astronomis. Proses geologi dimulai ketika magma di permukaan bumi mulai membeku. Selanjutnya, sejarah bumi disusun berdasarkan peristiwa-peristiwa masa lalu yang jejaknya terekam dan dapat ditafsirkan dalam batuan. Metode penentuan urutan waktu kejadian-kejadian tersebut berkembang dari waktu ke waktu. Metode tertua adalah stratigrafi yang digunakan untuk menentukan waktu atau umur relatif batuan. Metode Biostratigrafi berkembang kemudian dan pada akhirnya berkembang metode Pentarikhan Radiometrik untuk menduga umur absolut batuan serta peristiwa geologis yang terekam di dalamnya.

Objek geologi adalah lapisan-lapisan batuan yang berurutan dan saling menumpuk antara satu dengan lainnya. Batuan yang paling umum dijumpai dalam bentuk ini adalah batuan sedimen dan batuan ekstrusiv gunung api (lava, abu vulkanik, dan lelehan batuan yang menembus ke permukaan bumi). Lapisan batuan dikenai sebagai strata dan studi tentang urutan pelapisan dikenal dengan stratigrafi. Landasan stratigrafi adalah sekumpulan prinsip sederhana berdasarkan geometri serta hasil pengamatan empiris tentang cara batuan tersebut mengendap oleh gaya gravitasi. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

  1. Prinsip superposisi: batuan yang muda terletak di atas batuan yang lebih tua.
  2. Prinsip horizontal asal: lapisan-lapisan batuan diendapkan pada asalnya secara horizontal.
  3. Prinsip penyebaran lateral asal: satuan batuan menerus secara lateral kecuali ada stuktur yang menghalangi atau merubahnya.
  4. Prinsip hubungan perpotongan: sruktur yang memotong lebih muda daripada yang memotong.
  5. Prinsip inklusi (inclussion): struktur yang terkandung di dalam lebih muda daripada pengandungnya.
  6. Prinsip uniformitarianism: proses yang terjadi di waktu lampau dibatasi oleh hukum yang sama dengan yang terjadi saat ini.

 

Penggunaan prinsip-prinsip ini telah memungkinkan untuk membangun suatu penafsiran tentang urutan peristiwa geologi di bumi, bahkan di planet lain. Kasus yang paling sederhana bagi ahli geologi adalah mendapati lapisan batuan vulkanik atau sedimen seperti urutan “kue lapis” yang teratur hampir horizontal di mana prinsip superposisi dapat langsung diterapkan. Di daerah rangkaian pegunungan, seringkali sesar, lipatan dan struktur yang sulit telah merubah dan memotong stratigrafi aslinya. Pada situasi kompleks seperti ini, penerapan prinsip hubungan perpotongan yang benar akan dapat mengurai ketidakteraturan sekuen sehingga stratigrafi setempat dapat tersusun, bahkan ketika susunan strata batuan telah terbalik atau terputar karena proses pelipatan yang intensif.

Pada situasi geologi, bagaimanapun prinsip-prinsip dasar ini dapat digunakan untuk menghasilkan rekonstruksi sejarah urutan peristiwa-peristiwa baik pengendapan maupun erosi, deformasi dan lainnya untuk geologi setempat. Rekonstruksi ini akan terus diuji dan diperbaiki sepanjang informasi baru dari lapangan terus terkumpul. Informasi baru biasa diperoleh dari hasil metode-metode lainnya seperti biostratigrafi dan tarikh radiometri yang dilakukan secara independen, seperti yang akan diuraikan berikut. Sejarah yang terbangun dengan metode stratigrafi akan menghasilkan skala waktu relatif yang menyatakan bahwa peristiwa A terjadi lebih dahulu dari peristiwa B yang disusul oleh peristiwa C tanpa melihat panjangnya jangka waktu antara peristiwa peristiwa tersebut. Kadang-kadang, studi hanya menyangkut stratigrafi satu peristiwa (event stratigrafi), istilah yang dipakai tanpa melihat jenis peristiwa yang terjadi (biologi, sedimentologi, lingkungan, kegunungapian, magnetisme, diagenesis, tektonik, dsb.)

Teknik sederhana ini telah umum digunakan sejak awal abad 17. Pada awal abad 18, para ahli geologi telah mengetahui banyak kesamaan pada sekuen-sekuen yang direkonstruksi secara terpisah dan independen di seluruh dunia. Awalnya (1759), skala waktu relatif yang didasarkan atas observasi di atas telah membagi (subdivisi) stratigrafi (dan sejarah) bumi menjadi “primer”, “sekunder”, “tersier”, dan akhirnya (1854) “kuarter”, semata-mata berdasarkan jenis batuan di Eropa.

Pada abad 18 dan awal abad 19, para ahli geologi mendapati bahwa penyebaran fosil dalam sejarah bumi tidak acak. Fosil terdapat pada urutan yang konsisten baik pada skala regional maupun global. Lebih jauh lagi, fosil makhluk hidup lebih spesifik dan lebih bervariasi daripada batuan sehingga berpotensi untuk memberikan subdivisi stratigrafi yang lebih terinci. Dengan menggunakan pengamatan empiris (Smith, 1815), subdivisi stratigrafi yang rinci di Inggris Selatan telah tersusun. Sementara itu ahli-ahli geologi lainnya di seluruh Eropa dan bahkan dunia, telah dapat membandingkan secara langsung suksesi fosil yang sama di daerah yang berbeda.

Sebagai contoh, di mana pun di muka bumi, trilobit pada stratigrafi dijumpai lebih bawah daripada reptil marin. Dinosaurus dijumpai setelah keterdapatan pertama tumbuhan darat, serangga dan amfibi. Tumbuhan berspora seperti paku-pakuan selalu dijumpai sebelum keberadaan tumbuhan berbunga. Konsistensi suksesi fosil melahirkan prinsip suksesi flora dan fauna (principles of floral and faunal succeession). Studi suksesi fosil dan penggunaannya untuk pentarikhan relatif diberi istilah biostratigrafi. Setiap potongan masa di dalam stratigrafi dicirikan oleh kesamaan ragam jenis (assemblage) fosil makhluk hidup, awalnya diistilahkan sebagai zona biostratigrafi. Zona-zona ini dapat terlacak pada wilayah yang luas, kadang-kadang secara global. Sekumpulan zona digunakan untuk menetapkan interval yang lebih panjang, dikenal dengan tahapan (stage) dan kemudian periode geologi. Pada akhir 1830-an, sebagian besar periode geologi yang digunakan saat ini telah ditetapkan berdasarkan kandungan fosil dan posisi relatif yang teramati dalam stratigrafi: Cambrium (pada tahun 1835), Ordovician (1879), Silur (1835), Devon (1839), Karbon (1822), Perm (1641), Trias (1834), Jura (1829), Kapur (1823), Tersier (1759), dan Pleistosen (1839).

Sekitar tahun 1830-an, suksesi fosil dipelajari dengan lebih intensif sehingga sejarah bumi bisa dimengerti dengan baik tanpa menghiraukan perdebatan tentang nama yang digunakan dan dimana persisnya batas-batas pembagian diletakkan. Semua ahli paleontologi mendapati kecenderungan yang meyakinkan dalam perubahan morfologi sepanjang waktu suksesi fosil-fosil hewan dan tumbuhan. Observasi ini membawa kepada minat untuk menerangkan suksesi fosil makhluk hidup melalui berbagai mekanisme. Salah satu yang paling dikenal adalah teori evolusi Darwin oleh seleksi alam. Perlu dicatat bahwa suksesi fosil makhluk hidup disusun secara terpisah jauh sebelum teori Darwin diluncurkan. Suksesi fosil ditentukan oleh keteraturan stratigrafi berdasarkan geometri batuan, bukan oleh teori evolusi.

Umur absolut pada sekuen stratigrafi baru dapat ditentukan setelah berkembangnya teknik Pentarikhan Radiometri (radiometric dating) atau Pentarikhan Radioaktif (radioactive dating). Setelah radioaktivitas ditemukan (Becquerel, 1896), fenomena ini digunakan untuk menentukan umur batuan yang mengandung unsur-unsur radio aktif terbuka, didemosntrasikan pertama kali oler Rutherford (1906) yang mengukur kandungan Uranium dan Helium.

Pentarikhan Radiometri didasarkan pada mekanisme peluruhan radioaktif (radioactive decay), dengan membandingkan jumlah isotop unsur radioaktif asal (alami) dengan produk peluruhannya (decay product) menggunakan tingkat peluruhan (decay rate) unsur tersebut yang harus terlebih dahulu diketahui.

Batuan tersusun dari berbagai kristal, setiap kristal umumnya tersusun dari berbagai unsur kimia, seperti misalnya silika, besi, magnesium, dsb.Kebanyakan unsur di alam bersifat stabil dan tidak mengalami perubahan. Tetapi unsur-unsur radioaktif tidak benar-benar stabil, mereka berubah dari unsur asalnya (parent element) menjadi unsur lain/unsur produk (daughter elements) melalui proses yang disebut peluruhan radioaktif. Waktu yang diperlukan untuk perubahan ini akan bertambah seiring dengan pengurangan unsur asalnya, atau seiring dengan pertambahan unsur produk. Proses peluruhan unsur asal bisa menghasilkan unsur yang sama, tetapi dengan berat atom yang berbeda (isotop) karena perubahan jumlah proton, atau bisa pula menghasilkan unsur baru. Dalam pentarikhan radiometri dikenal istilah paruh waktu, yaitu jangka waktu yang diperlukan sejumlah unsur asal untuk meluruh sampai jumlah yang tersisa mencapai setengah dari jumlah asalnya. Misalnya apabila kita mulai dengan unsur asal sebanyak 1 mg, maka paruh waktu adalah waktuyang diperlukan peluruhan sampai unsur asal tinggal 0.5 mg, sedangkan setelah dua paruh waktu, unsur asal yang tersisa adalah 0.25 mg.

Dengan mengetahui paruh waktu suatu unsur radioaktif, umur material akan bisa dihitung apabila kita mengetahui pula jumlah awal unsur asal dan jumlah produknya saat ini. Kecuali untuk pentarikhan dengan karbon14 (C14), jumlah awal unsur asal dan produk peluruhan umumnya tidak diketahui sehingga harus ditetapkan kemudian. Pentarikhan radio aktif mudah dimengerti secara teoretis. Pada hampir semua metode (kecuali isochron). Penetapan waktu berpegang pada asumsi-asumsi berikut.

  1. Kondisi awal diketahui.
  2. Perbandingan awal antara produk peluruhan dan unsurasal diketahui (masalah tarikh nol/awal).
  3. Rasio awal antara unsur asal dan produk konstan.
  4. Tidak ada kehilangan akibat pencucian (bleaching) ataupun penambahan unsur asal maupun produk peluruhan.

 

Semua asumsi valid untuk waktu sampai miliaran tahun. Tetapi analisis akan sulit apabila jumlah isotop yang akan dianalisis terlalu sedikit. Tidak semua jenis unsur/sistem isotop yang biasa dipakai untuk pentarikhan radio metrik karena tidak punya sifat yang dapat mengadopsi semua asumsi-asumsi di atas sehingga untuk sebagian lainnya diperlukan pendekatan.

Bila pemanasan tinggi dilakukan terhadap material radioaktif yang secara selektif melepaskan unsur produk, maka unsur produk apa pun yang telah terkumpul akan menghilang, membawa kembali “jam isotopik” ke titik nol. Tingginya suhu yang menyebabkan terjadinya peristiwa ini dinamakan suhu penutup (closure/blocking temperature), nilainya spesifik untuk setiap sistem isotop. Suhu ini ditetapkan dengan percobaan di laboratorium dengan menggunakan oven bersuhu sangat tinggi. Struktur kristal mulai terbentuk dan diffusi isotop terhenti pada lelehan batuan yang mendingin ketika mencapai suhu tertentu (closure/blocking temperature). Pada suhu di bawah itu, mineral berada pada sistem isotop tertutup. Lelehan batuan beku atau malihan yang membeku perlahan-Iahan tidak mengalami peluruhan radioaktif yang dapat diukur sebelum mendingin sampai suhu penutup. Umur yang dapat diukur oleh pentarikhan radiometrik adalah semenjak waktu pendinginan mencapai waktu penutup. Oleh karenanya, pentarikhan mineral-mineral atau sistem isotop yang memiliki suhu penutup berbeda pada suatu batuan akan memungkinkan pelacakan sejarah pemanasan (pelelehan dan pembekuan) batuan tersebut atau proses malihan (metamorphisme).

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu