WAKTU DALAM BILANGAN HARI

WAKTU DALAM BILANGAN HARI

Serial Quran dan Sains

Dimensi waktu, sedemikian vitalnya ia dalam kehidupan manusia. Tak satu makhluk pun di alam semesta ini yang mampu terlepas dari dimensi ini. Bahkan dalam Islam tentang waktu pun menduduki peran yang teramat sangat penting. Begitu banyak ibadah dan aplikasi dalam Islam yang dikaitkan dengan waktu, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya. Tak terbayangkan apabila ummat Islam tak memiliki kepahaman tentang waktu, tentu segala kaidah ibadah yang dilaksanakan menjadi tak menentu arahnya, hampa akan kualitas dan tentunya tak mampu memberikan dampak yang positif bagi pelakunya.

  1. Waktu Harian

Allah berfirman,

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ۝

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat. Dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (Alquran, Surah al-An‘ām 6/: 96)

Sejak dahulu, malam dan siang merupakan ukuran waktu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan yang mendasar dari malam dan siang tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari pun ukuran itu masih digunakan. Kita kenal sebutan “sehari”, “semalam”, atau “sehari semalam”, dan sebagainya.

Matahari pun dijadikan sebagai alat mengukur waktu. Satu hari adalah waktu dari matahari terbit sampai matahari terbit berikutnya. Kemudian ditentukan bahwa satu hari adalah 24 jam. Satu jam sama dengan 60 menit. Sedangkan satu menit adalah 60 detik. Pada kenyataannya, jangka waktu sejak matahari terbit sampai terbit berikutnya tidak selalu tepat 24 jam. Kadang-kadang lebih dari 24 jam, kadang-kadang kurang dari 24 jam. Tetapi, bila diambil rata-ratanya dalam satu tahun akan didapatkan angka 24 jam.

Kini penentuan waktu tidak perlu lagi melihat posisi matahari, melainkan cukup dengan melihat arloji. Bahkan dengan pengetahuan yang makin maju, saat-saat matahari terbit dan terbenam sudah bisa dihitung dengan komputer. Hari pun dihitung berdasarkan waktu pada jam.  Fenomena waktu harian banyak diungkap dalam Alquran dengan berbagai istilah. Berikut ungkapan-ungkapan di dalam Alquran  yang menyatakan malam, siang, atau bagian dari itu.

 

  • Al-Lail

Dalam Alquran, Allah mengungkapkan waktu malam dengan al-Iail. Kata ini banyak sekali kita dapatkan dalam kitab tersebut dan tersebar di banyak surah dan ayat, yaitu: Surah al-Baqarah/2: 52, 164, 187, 274; Āli ‘Imrān/3: 27, 133, 190; al-An‘ām/6: 13, 60, 76, 96; al-A‘rāf/7: 142; Yunūs/10: 6, 24, 67; Hūd/11: 81, 114; ar-Ra‘d/13: 3, 10; Ibrāhīm/14: 33; al-Ḥijr/15: 65; an-Naḥl/16: 12; al-Isrā’/17: 1, 12, 78, 79; Tāhā/20: 130; al-Anbiyā’/21: 20, 33, 42; al-Ḥajj/22: 61; al-Mu’minūn/23: 80; an-Nūr/24: 44; al-Furqān/25: 47, 62; an-Naml/27: 86; al-Qaṣaṣ/28: 71, 72, 73; ar-Rūm/30: 23; Luqmān/31: 29; Sabā’/34: 33; Fāṭir/35: 13; Yāsīn/36: 37, 40, 138; az-Zumar/39: 5, 9; Gāfir/40: 61; Fuṣṣilat/41: 37, 38; ad-Dukhān/44: 3, 23; al-Jāṡiyah/45: 5; Qāf/50: 40; aż-Żāriyāt/51:17; aṭ-Ṭūr/52:49; al-Ḥadīd/57: 6; Nūḥ/71: 5; al-Muzzammil/73: 2, 6, 20; al-Muddaṡṡir/74: 33; al-lnsān/76: 26; an-Nabā’/78: 10; at-Takwīr/81: 17; al-lnsyiqāq/84: 17; al-Fajr/89: 4; asy-Syams/91: 4; al-Lail/92: aḍ-Ḍuḥā /93: 2; dan al-Qadr/97: 1, 2, 3. Salah satu contoh pengungkapan kata al-Iail dalam Alquran dapat dilihat dalam ayat berikut.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ۝

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3:190)

 

  • AI-Asḥār (akhir malam/di waktu sahur)

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ۝

(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 17)

 

  • Bayāt (malam hari)

Di samping al-Iail, Allah juga menggunakan istilah bayāt untuk menunjukkan waktu malam hari. Ini terdapat dalam Surah al-A‘rāf/7: 4 dan 97, serta Yunūs/ 10: 50. Allah berfirman,

وَكَم مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُونَ۝

Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan. Siksaan Kami datang (menimpa penduduk)nya pada malam hari, atau pada saat mereka beristirahat pada siang hari. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 4)

 

  • An-Nahār

Sebagaimana al-Iail, kata an-nahār juga banyak disebut di dalam Alquran yang tersebar dalam banyak surah dan ayat. Perinciannya sebagai berikut: Surah al-Baqarah/2: 164 dan 274; Āli ‘Imrān/3: 27,72, dan 190; al-An‘ām/6: 13 dan 60; Yunūs/10: 6, 24, 45, 50, dan 67; Hūd/11: 114, ar-Ra‘d/13: 3 dan 10; Ibrāhīm/14: 33; an-Naḥl/16: 12; al-Isrā’/17: 12; Tāhā/20: 130; al-Anbiyā’/21: 20, 33, 42; al-Ḥajj/22: 61; al-Mu’minūn’/23: 80; an-Nūr/24: 44; al-Furqān/25: 47, 62; an-Naml/27: 86; al-Qaṣaṣ/28: 72 dan 73; ar-Rūm/30: 23; Luqmān/31: 29; Sabā’/34: 33; Fāṭir/3S: 13; Yāsīn/36: 37 dan 40; az-Zumar/39: 5; Gāfir/40: 61; Fuṣṣilat/41: 37 dan 38; al-Jāṡiyah/45: 5; al-Ḥadīd/57: 6; Nūḥ/71: 5; al-Muzzammil/73: 7 dan 20; an-Nabā’/78: 11; asy-Syams/91: 3; dan al-Lail/92: 2. Salah satu contoh pengungkapan kata an-nahār dalam Alquran terdapat dalam ayat berikut.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ۝

Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (Alquran, Surah Yunūs/10: 67)

 

  1. Hubungan Malam dan Siang Hari dengan Allah

Allah menjadikan malam dan siang sebagai bukti kebesaran-Nya. Pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Makhluk hidup di muka bumi ini amat sangat membutuhkan pergantian siang dan malam. Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ۝

Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (Alquran, Surah Yunūs/10: 67)

Allah menciptakan malam dan siang agar terciptanya keseimbangan hidup makhluk-makhluk-Nya. Siang hari Allah jadikan sebagai sarana beraktivitas, sementara malam hari Allah jadikan sebagai sarana untuk beristirahat.Tubuh tidak akan bisa melakukan aktivitas terus menerus tiada henti. Allah berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُم بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ۝

Katakanlah (Muhammad), “Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar?” (Alquran, Surah al-Qaṣaṣ/28: 71)

Siang dan malam datang silih berganti. Secara sederhana, orang beranggapan bahwa malam dan siang terjadi disebabkan matahari. Siang terjadi karena matahari menerangi bumi dan malam terjadi karena cahaya matahari telah menghilang. Namun apa sebabnya matahari terbit dan terbenam?

Dulu sebagian orang berpendapat bahwa terjadinya siang dan malam merupakan akibat matahari yang berputar mengelilingi bumi. Ternyata itu anggapan yang salah. Matahari tidak mengitari bumi, tetapi bumi lah yang mengitari matahari. Hal ini diketahui berdasarkan pengamatan yang dilakukan di antariksa bahwa bumi senantiasa berputar. Bagian bumi yang menghadap matahari menjadi terang, sehingga terjadilah siang. Bagian yang membelakangi matahari menjadi gelap, sehingga terjadilah malam.

Akibat rotasi bumi itu,matahari dan semua benda langit terlihat terbit dan terbenam. Bulan dan bintang tampak terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat. Sebenarnya kedudukan benda-benda langit itu tidak berubah, tetapi rotasi bumi mengesankan adanya perpindahan posisi dari benda-benda langit tersebut.

Konsep satu hari dalam astronomi terkait dengan fenomena rotasi planet bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari. Kedudukan sumbu rotasi bumi yang miring sekitar 23,5 derajat terhadap sumbu bidang orbit bumi mengelilingi matahari dan orbit bumi berbentuk elips dapat menimbulkan masalah bila dipergunakan sebagai acuan. Detak jarum jam tidak bisa bergerak teratur merefleksikan kedudukan matahari yang sebenarnya. Kondisi ini melahirkan konsep matahari rata-rata, yaitu matahari fiktif ideal yang secara keseluruhan menggambarkan kondisi matahari. Periode orbit bumi mengelilingi matahari sebenarnya sama dengan periode orbit bumi mengelilingi matahari rata-rata. Matahari rata-rata adalah matahari ideal yang selalu berada di ekuator langit dan bumi mengorbit dalam bentuk lingkaran sempurna. Matahari rata-rata ini dipergunakan sebagai acuan sistem jam matahari. Selain konsep hari matahari, manusia dapat mengembangkan konsep hari lainnya, misalnya ada konsep hari bintang atau hari bulan dan sebagainya. Satu hari umumnya berasosiasi dengan acuan matahari atau dinamakan hari matahari atau “hari”.

Untuk keperluan praktis bagi manusia, transit matahari rata-rata melewati meridian pengamat, sehingga dapat dijadikan acuan untuk pengukuran selang waktu satu hari. Satu hari matahari rata-rata adalah selang waktu berulangnya dua kali transit matahari rata-rata secara berurutan pada meridian pengamat yang sama. Didefenisikan 1 hari matahari rata-rata = 24 jam waktu (matahari). Waktu matahari rata-rata atau waktu matahari ini yang dipergunakan manusia di seluruh dunia sebagai penera waktu pada jam tangan, jam dinding, dan jam digital. Satu jam matahari rata-rata sama di semua tempat, baik di Amerika, Indonesia, Arab Saudi, Rusia, Jepang, atau Eropa. Satu hari matahari rata-rata merupakan hasil perpaduan antara rotasi (putaran bola bumi terhadap poros atau sumbu rotasi bumi) dan revolusi bumi (gerak bumi mengorbit matahari). Rotasi bumi memerlukan waktu 23 jam 56 menit.

Akibat revolusi bumi, ada tambahan 4 menit agar pengamat di bumi melihat matahari (rata-rata) pada posisi yang sama. Jadilah satu hari matahari rata-rata atau satu hari sama dengan 24 jam. Allah berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُم بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ۝

Katakanlah (Muhammad), “Bagaimana pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Apakah kamu tidak mendengar?” (Alquran, Surah al-Qaṣaṣ/28: 71)

Siang dan malam identik dengan matahari. Begitu pula penentuan waktu salat yang menggunakan aktivitas matahari, menunjukkan bahwa ‘hari’ dalam kehidupan makhluk amat identik dengan aktivitas matahari. Namun demikian, fenomena terbit terbenam matahari menjadi tidak regular di dekat ekuator. Bahkan pada kondisi ekstrem, terdapat hari tanpa matahari. Hal ini menjadi bahan pertanyaan tentang waktu salat penduduk setempat yang melewati hari tanpa matahari.

Unit waktu yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari merupakan jam matahari. Secara umum jam matahari di masing-masing negara berkaitan dengan bujur geografis, walaupun sebagian tidak menggunakan kaidah yang semestinya.

Tiap tempat di permukaan bumi mempunyai posisi yang dinamakan dengan posisi Iintang dan bujur geografis. Koordinat geografis suatu tempat di permukaan bumi itu dinyatakan dalam satuan sudut (derajat, menit busur, dan detik busur) dan dilambangkan dengan ɸg untuk Iintang geografis, dan λg untuk bujur geografis. Titik kutub utara dan titik kutub selatan planet bumi mempunyai posisi Iintang geografis ɸg-ku = +90° dan ɸg-ks = -90°. Ekuator atau khatulistiwa mempunyai harga ɸg-eq =0°. Sedang bujur geografis ditetapkan dengan mengacu pada meridian nol, meridian yang disepakati membagi bola bumi menjadi bujur barat dan bujur timur (arah rotasi bumi bila dilihat dari kutub utara, berlawanan dengan arah putaran jarum jam). Sekarang telah disepakati meridian nol adalah meridian yang melewati zenit kota Greenwich di Inggris. Sebagian umat Islam menggagas sistem waktu Mekah Mean Time (MMT) dengan Mekah sebagai meridian nol. Gagasan tersebut perlu kajian yang mendalam baik tentang konsep dan kepraktisannya.

Secara ilmiah, ada dua hal yang menjadi dasar penentuan waktu standar (zone time). Pertama, acuan bujur nol atau meridian nol. Kedua, penggunaan sistem pergantian hari yang diterima hampir menyeluruh pada dua sampai empat dekade pertama abad kedua puluh.

Bujur geografis ini berkaitan dengan sistem wilayah waktu. Misalnya, wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB) menggunakan bujur geografis λg = 105° BT atau 7 jam bujur timur, WIB =UT + 7 jam, wilayah Waktu Indonesia Tengah (WITA) menggunakan bujur geografis λg = 120 ° BT atau λg = 8 jam bujur timur, WITA = UT + 8 jam, dan wilayah Waktu Indonesia Timur (WIT) menggunakan bujur geografis λg = 135 ° BT atau λg = 9 jam bujur timur, WIT = UT + 9 jam. Posisi bujur geografis Kakbah λg-K = 39° 50′ bujur timur dan lintang utara +21° 25′, Waktu Mekah = UT + 3 jam.

Proses penyatuan penetapan bujur nol atau meridian standar hampir berlangsung satu abad. Sejak zaman Laplace (1800), John Herschel (1828) disusul kemudian dengan pertemuan International Geographical Congress I (1871) di Antwerpen dan International Geographical Congress II (1875) di Roma. Setelah itu, pertemuan The International Meridian Conference yang berlangsung di The Diplomatic Hall of the State Department di Washington pada 1 Oktober 1884 berhasil mengeluarkan resolusi penggunaan meridian Greenwich sebagai meridian nol, menggantikan keragaman penggunaan meridian acuan dan dualisme penggunaan meridian acuan untuk peta laut dan peta darat.

Keragaman meridian acuan untuk menentukan jam bagi keperluan sehari-hari dirasakan kurang praktis. Manusia bisa kebingungan dalam bertransaksi atau membuat perjanjian satu dengan lainnya. Setelah melalui perjalanan waktu yang panjang (Iebih setengah abad dari resolusi penetapan meridian nol, sebagai contoh awal penggunaan Greenwich sebagai meridian nol misalnya di Perancis pada tahun 1911, di Rusia pada tahun 1924, di Belanda pada tahun 1940. Kini disepakati penggunaan garis bujur yang melewati kota Greenwich merupakan garis bujur nol. Planet bumi dibagi menjadi 24 waktu standart, 12 waktu standar bujur timur dan 12 waktu standar bujur barat. Penetapan wilayah dalam sebuah waktu standar secara teoritis menggunakan bujur standar (bujur geografis yang habis dibagi 15° dengan acuan bujur tempat meridian nol, Greenwich). Namun dalam hal praktis, batas bujur tempat keberlakuan waktu standar itu tidak merupakan sebuah garis bujur, tapi lebih bersifat batas kekuasaan wilayah, bentuknya bisa zig-zag bukan garis lurus. Selain itu, tiap negara dapat memilih waktu standar yang dipergunakan dengan berbagai pertimbangan (ekonomi, politik, kepraktisan dsb). Pemilihan bujur geografis acuan zona waktu berimplikasi pada pergantian hari, lebih cepat atau lebih lambat dari acuan bujur geografis yang ideal.

Secara teoritis, pergantian hari di suatu tempat terjadi pada saat matahari rata-rata berkulminasi bawah (terhadap meridian acuan waktu standar) atau jam 00:00 tengah malam waktu setempat. Sekitar tahun 1925, kebanyakan almanak nautika mempergunakan pergantian hari mulai tengah malam. Kini sistem itu dianut oleh semua negara, bertautan erat dengan sistem pergantian hari dalam sistem Kalender Masehi (merupakan sistem kalender matahari).

Dalam dunia astronomi dikenal ada jam matahari dan jam bintang atau jam sideris. Jam bintang berjalan sekitar 3 menit 56 detik lebih cepat dari jam matahari. Jam bintang lebih bermanfaat untuk mengetahui benda langit atau bintang yang berada di atas meridian pengamat. Manusia lebih akrab menggunakan jam matahari untuk keperluan hidup sehari-hari. Berbagai fenomena yang diakibatkan rotasi dan revolusi bumi mengelilingi matahari dapat diamati manusia. Misalnya, fenomena terbit dan terbenam matahari, fenomena terbit dan terbenam bintang, fenomena kulminasi atas dan kulminasi bawah matahari, fenomena kulminasi atas dan kulminasi bawah bintang dsb. Dengan memahami fenomena alam tersebut dan sistem waktu matahari maka isyarat waktu yang berkaitan dengan fenomena alam dalam Alquran dapat diterjemahkan atau dibaca dalam jam matahari. Seperti halnya jadwal waktu salat tinggal melihat jam matahari di tangan atau jam dinding atau media lainnya.

Fenomena siang-malam atau keberadaan matahari di atas horizon (terutama bagi yang berada di ekuator Bumi) merupakan suatu pilihan yang alamiah untuk digunakan sebagai satuan waktu satu hari, jam biologis manusia kebiasaan bekerja siang hari dan istirahat malam hari. Misalnya jam kerja petani/peternak dalam memberi makan ternak atau memerah susu pada pagi hari atau sore hari dsb, jadwal transportasi, jadwal program radio dan TV, jadwal pertunjukan, tanggal jatuh tempo dalam perbankan, juga mesin-mesin otomatis yang beroperasi dengan basis waktu matahari rata-rata (seperti ATM =Auto Teller Machine = Anjungan Tunai Mandiri) dan begitu pula sistem komunikasi (misalnya untuk pengiriman sinyal informasi).

Sejak tahun 1928, IAU (International Astronomical Union) atau Perhimpunan Astronomi Dunia, merekomendasikan penggunaan nama UT (Universal Time) walaupun istilah GMT (Greenwich Mean Time) dipergunakan untuk publikasi navigasi, jadwal kereta api, kapal udara dan komunikasi internasional. Sejak tahun 1972, GMT atau UT juga dikenal dengan UTC (Universal Coordinated Time) atau GMT yang dikalibrasi terhadap jam atom. Sinyal UTC yang disiarkan lewat udara misalnya BBC (The British Broadcasting Corporation) mengadakan perubahan panjang sekon dalam distribusi waktu (dulunya suara tit, tit dst hingga tit keenam dengan selang waktu yang sama, sekarang dalam tit keenam lebih panjang). Menurut The Bureau International des Measures at Sevres di Paris (yang sejak 1 Januari 1988 mengambil alih peran BHI, Bureau International de L’Heure (didirikan pada 1912), sebuah organisasi yang menghubungkan waktu-waktu di seluruh dunia dan pernah berperan dalam pengembangan jam atom tahun 1972), mengontrol 134 jam atom di 20 negara siaran sinyal radio UTC itu berselisih dalam selang waktu 1 detik dengan GMT yang sebenarnya. Satu detik dalam sistem TAl (Temps Atomique International) atau International Atomic Time didefenisikan sebagai 9192631770 periode pancaran radiasi yang diakibatkan transisi dua tingkatan energi hyperfine atom Cesium 133 pada tingkat dasar. TAl diperkenalkan sejak tahun 1972, walaupun sebenarnya sistem tersebut sudah ada sejak tahun 1955. Sebelumnya satu detik didefinisikan sebagai 1/86400 hari matahari rata-rata. Pada tahun 1972 selisih waktu antara TAl dan UTC, TAl – UTC = 10 detik dan tahun 1996 menjadi 26 detik. Selisih waktu ini akibat ketidakseragaman rotasi Bumi.

Untuk keperluan praktis sehari-hari, kita menggunakan sistem waktu matahari. Jam tangan dan jam dinding merupakan sebuah sistem waktu matahari rata-rata. Bagi mereka yang hidup di dekat ekuator bumi, sistem jam matahari rata-rata hampir menggambarkan kedudukan matahari yang sebenarnya. Matahari terbit sekitar jam 6:00 waktu Indonesia Barat dan terbenam di sekitar jam 18:00 bagi yang berada di kawasan Indonesia Barat. Matahari terbit sekitar jam 6:00 waktu Indonesia Tengah dan terbenam di sekitar jam 18:00. Matahari terbit sekitar jam 6:00 waktu Indonesia Timur dan terbenam di sekitar jam 18:00 bagi yang berada di kawasan Indonesia Timur. Pola waktu yang ada dalam sebuah Iingkungan amat berpengaruh terhadap pola hidup penduduk yang tinggal di Iingkungan tersebut.

Matahari rata-rata dan matahari benar merupakan objek yang berbeda. Matahari rata-rata merupakan sebuah konsep, bukan matahari sebenarnya. Matahari rata-rata merupakan matahari ideal yang mempunyai gerak harian di langit dengan karakteristik rata-rata sama dengan karakteristik matahari sebenarnya. Karena orientasi sumbu bumi 23,5 derajat terhadap kutub ekliptika, dan bumi beredar mengelilingi matahari dengan orbit berbentuk elips, maka periode matahari yang mencapai meridian pengamat tidak selalu sama 24 jam, bisa lebih dan bisa kurang. Akibatnya begitu kompleks, terutama bagi yang tinggal di belahan bumi utara maupun selatan. Mereka akan menyaksikan fenomena matahari di atas horizon yang lebih pendek atau lebih panjang dibanding dengan saat matahari di bawah horizon. Bahkan di kawasan kutub utara dan kutub selatan bumi, matahari bisa tampak sepanjang hari dan bisa tak tampak sepanjang hari.

Namun ritme kehidupan harian manusia tidak bisa terlepas dari fenomena siang-malam yang digubah oleh matahari. Terutama bagi masyarakat petani, nelayan, dan pedagang sayur-mayur. Umumnya malam digunakan untuk beristirahat dan siang untuk bekerja. Begitu pula ritme zikir umat Islam mempunyai ritme dengan posisi matahari, waktu salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh mempunyai basis jarak zenit matahari atau waktu matahari sebenarnya sebagai acuan.

Matahari rata-rata beredar dengan siklus tetap, yaitu 24 jam, matahari rata-rata berada pada meridian 105° bujur timur pada setiap jam 12 WIB dan berada di atas antemeridian, lokasi dengan posisi bujur (105°+ 180°) atau 75° bujur barat. Lokasi tersebut masuk dalam kawasan benua Amerika (40° sampai 120° Bujur Barat) atau negeri-negeri Amerika Latin, Amerika Serikat, dan Kanada. Oleh karena itu, beda waktu dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari mencapai 12 jam, saat sebagian besar manusia Indonesia tidur lelap tengah malam, manusia di benua Amerika berada pada puncak aktivitas tengah siang. Biasanya manusia memerlukan waktu penyesuaian jam biologis dari satu tempat ke tempat yang berbeda dengan tempat asalnya, biasanya manusia mengalami jetlack, belum terbiasa dengan pola kehidupan di tempat barunya. Begitu pula bila jamaah haji atau umrah asal Indonesia yang sedang berhaji atau berumrah di Mekah (39° 50′ Bujur Timur) mengalami masa penyesuaian pola hidup, beda waktu 4 jam lebih lambat dengan waktu Indonesia Barat, membuat kebiasaan tidur manusia Indonesia lebih larut (jam 24 WIB sama dengan jam 20 waktu Arab Saudi), dan sebaliknya kebiasaan bangun pagi menjadi lebih awal (jam 04 pagi WIB sama dengan jam 24 waktu Arab Saudi). Begitu pula dengan manusia Indonesia yang berada di wilayah waktu Indonesia Timur dan waktu Indonesia Tengah akan mengalami hal yang sama dengan kadar yang berbeda. Pengetahuan semacam ini diperlukan bila kita akan menghadiri pertemuan ilmiah, konferensi atau pertemuan bisnis di manca negara, mental kita perlu segera beradaptasi dengan perbedaan waktu dengan tempat asal kita. Sebaliknya, bila kita sebagai penyelenggara pertemuan perlu mempertimbangkan kondisi peserta. Pengalaman ekstrem lainnya pada musim dingin sebagian pelajar di negeri Belanda berangkat sebelum matahari terbit, masih gelap dan pulang juga dalam keadaan gelap, karena mengalami fenomena malam-panjang, matahari baru terbit sekitar jam 08 pagi dan terbenam sekitar jam 16 waktu setempat. Mereka menggunakan sistem penggeseran waktu kerja. Pada musim dingin pekerja diminta datang satu jam lebih awal agar lebih efisien dalam penggunakan bahan bakar, mayoritas pergi ke kantor yang hangat menjadi manusia produktif.

Salah satu bentuk sistem penanggalan yang sederhana adalah Julian Date atau Julian Day disingkat JD. Kalender JD hanya terdiri dari jumlah hari matahari rata-rata, tidak ada selang waktu satu pekan, satu bulan, satu tahun atau satu millenia dsb. Sistem kalender ini dimulai dari 1 Januari 4713 SM.

  • Nama kalender hampir sama: Kalender Julian dan Julian Date atau Julian Day; konsep berbeda. [konsep penetapan awal dan struktur kalender]
  • JD [urutan hari matahari rata-rata sejak 1,5 Januari -4712 (tengah siang hari 1 Januari 4713 SM), acuan meridian Greenwich atau jam UT]
  • Kalender Julian [kalender Matahari yang diperkenalkan oleh Julius Caesar, raja Romawi, tahun -45 dan bentuk akhir barudiperoleh pada tahun 8 M] cikal bakal kalender Gregorian [Paus Gregorius XIII]

Sistem Kalender ini menghitung jumlah hari matahari rata-rata sejak tahun -4712 (atau 4713 SM) melalui meridian Greenwich dan unit hari dimulai pada tengah hari jam12 UT, jadi JD = 0.0, bersesuaian dengan 1 Januari 4713 SM jam 12 UT.

Sebelum tahun 1925, pergantian hari berlangsung pada siang hari pada waktu matahari rata-rata berkulminasi atas atau melewati meridian Greenwich (nama sebuah kota di Inggris). Sejak tahun 1925 dilakukan redefenisi pergantian hari. Pergantian hari ditetapkan berlangsung pada malam hari pada waktu matahari rata-rata berkulminasi bawah, melewati antemeridian Greenwich (nama sebuah kota di Inggris). Sejak itu GMT (Greenwhich Mean Time) dinamakan sebagai UT (Universal Time). 31 Desember1924 jam 12 GMT = 1 Januari 1925 jam o UT; 17 Januari 1947 jam 21:05 EST ( = GMT – 5 jam) = JD 2432203.587. Sekitar tahun 1925 kebanyakan almanak nautika mempergunakan pergantian hari mulai tengah malam. Kini sistem itu dianut oleh semua negara, bertautan erat dengan sistem pergantian hari dalam sistem Kalender Masehi Gregorian.

Selain waktu matahari, manusia juga merasakan waktu harian berdasarkan siklus biologi, yang dikenal sebagai “jam biologi”. Orang pertama yang memerikan keberadaan suatu ‘jam biologi’ adalah Androsthenes, seorang sekretaris Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great). Sebagai sekretaris, Androsthenes bertugas mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam perjalanan bersama Iskandar Zulkarnain dan hal yang penting dalam pengamatannya. Salah satu pengamatannya adalah peristiwa bahwa daun pohon tertentu terbuka pada siang hari dan menutup pada malam hari. Hal itu bagian dari siklus biologi yang dijumpai pada semua makhluk hidup. Penelitian kemudian membuktikan bahwa makhluk hidup mengikuti siklus biologi tertentu.

IImu yang mempelajari siklus biologi disebut kronobiologi yang berasal dari bahasa Yunani chronos yang artinya waktu dan biologi. Siklus biologi yang dikenal ada tiga jenis:

  1. Siklus ultradian, yaitu siklus yang lebih pendek dari satu hari. Siklus ultradian dapat beberapa detik seperti pulsa neuron (saraf) atau detik (denyut jantung) atau siklus tidur (siklus tidur REM-tidur dalam) yang berlangsung 90 menit.
  2. Siklus sirkadian (circadian) dari bahasa Latin circa yang berarti kira-kira dan diem atau dies yang berarti hari. Siklus sirkadian panjangnya kira-kira satu hari atau 24 jam. Sebelum ada Iistrik yang mampu memberi cahaya sepanjang malam, manusia menggunakan lampu minyak dan lilin yang kurang nyaman untuk bekerja. Setelah digunakannya Iistrik sebagai sumber cahaya yang dapat dipakai sepanjang hari gaya hidup manusia berubah. Dalam kehidupan modern, siklus siang dan malam hampir hilang. Banyak toko yang bukan selama 24 jam dan para pekerja juga bekerja secara bergiliran selama 24 jam. Pada pertengahan abad ke-19, manusia dewasa tidur rata-rata 9-10 jam sehari, sekarang hanya 7 jam sehari. Hal itu mungkin merupakan salah satu sebab gangguan kesehatan manusia modern.

Orang yang sudah lanjut usia seringkali sulit tidur atau sering bangun. Hal itu dapat disebabkan karena jam biologi mereka agak kacau. Ada pula orang yang mengantuk terus. Hal itu mungkin karena kurang mendapat rangsangan cahaya akibat jarang keluar rumah sehingga kadar melatonin dalam darahnya tetap tinggi. Orang seperti itu perlu lebih sering ke luar rumah untuk mendapat paparan cahaya lebih banyak.

Tanaman juga mempunyai siklus sirkadian. Daun tanaman mimosa menutup di saat petang dan membuka kembali di pagi hari. Kita juga sering melihat tanaman yang tumbuh ke arah sinar matahari. Panjangnya hari bagi tanaman yang hidup di daerah dengan empat musim dapat merupakan isyarat untuk berbunga (musim semi) atau melepaskan daunnya (musim rontok). Manusia bisa membuat tanaman tumbuh sepanjang tahun dengan rumah kaca yang suhu dan lama cahayanya dikendalikan.

  1. Siklus infradian, yaitu siklus yang panjangnya lebih dari satu hari. Siklus infradian seringkali dikaitkan dengan siklus bulan, seperti siklus haid perempuan yang dalam bahasa Indonesia juga disebut datang bulan. Sebenarnya kebetulan saja siklus haid perempuan 28 hari. Pada mamalia lain, siklus itu dapat lebih atau kurang dari 28 hari.

Pada manusia juga ada siklus yang berlangsung 5-9 hari. Pekan yang terdiri atas tujuh hari bukan hanya suatu warisan budaya Yahudi, tetapi mungkin ada dasar biologi juga, karena sistem imun tubuh manusia mempunyai siklus mingguan. Siklus bulan jelas mempengaruhi kehidupan di bumi, terutama bagi makhluk yang hidup di laut. Siklus bulan mempengaruhi pasang-surut dan hal itu mungkin yang mempengaruhi kehidupan biota laut. Siklus bulan juga mempengaruhi kehidupan hewan yang hidup di malam hari. Ada hewan yang hanya berkeliaran jika keadaan gelap. Hal itu dilakukan untuk melindungi diri dari pemangsa.

Metabolisme merupakan suatu mekanisme yang kompleks. Perhitungan hanya jumlah kalori yang kita makan dan jumlah kalori yang kita gunakan, tidak dapat dipakai untuk menghitung jumlah bobot yang akan berkurang atau bertambah. Waktu makan turut menentukan jumlah kalori yang digunakan dan yang disimpan dalam bentuk pertambahan bobot badan. Pada suatu percobaan, sekelompok orang diberikan 2000 kalori. Selama sepekan, setengah dari kelompok tersebut mendapat jumlah kalori tersebut waktu sarapan pagi dan setengah yang lain waktu makan malam. Pada pekan kedua waktu pemberian makan dibalik. Ternyata sewaktu mereka makan 2000 kalori di pagi hari, mereka rata-rata kehilangan 0.5 kg dan jika mereka makan di malam hari, mereka rata-rata bertambah 0.5 kg. Hal itu disebabkan karena pada siang hari diperlukan lebih banyak karbohidrat yang diubah menjadi energi, dan pada malam hari diperlukan lebih banyak protein untuk proses perbaikan dan pertumbuhan. Kadar harmon dalam darah mencerminkan perbedaan itu juga. Kadar kortisol dan norepinefrin, horman-harmon yang diperlukan untuk pengaturan energi, mencapai puncaknya di pagi hari, sedangkan serotonin di sore hari. Horman pertumbuhan hanya diproduksi malam hari. Peristiwa alam atau lingkungan yang memberi isyarat untuk mengatur waktu biologi dikenal dengan nama Zeitgeber, dan Zeitgeber yang paling penting adalah cahaya. Ada pula Zeitgeber berupa aktivitas.

Dari penelitian pada lalat buah drosophila dan pada manusia, telah ditemukan bahwa waktu biologi ditentukan oleh gen yang disebut period pada drosophila dan clock pada manusia. Waktu biologi penting untuk kesehatan manusia, karena waktu biologi mempengaruhi kesehatan. Cara kerja waktu biologi mulai terungkap, tetapi tapak jalan biokimianya masih belum jelas.

Pusat yang mengatur waktu biologi pada manusia berada di bagian otak yang disebut nucleus suprakhiasma (SCN) yang terletak dekat sekali dengan saraf penglihatan (nervus optikus) sehingga dengan cepat dapat memperoleh informasi tentang keadaan di luar. Pada bayi, bagian otak ini belum berkembang dengan baik, sehingga bayi kurang mempunyai kesadaran akan terang dan gelap.

Musim dan siklus gelap-terang juga mempengaruhi waktu biologi. Dalam keadaan gelap, kelenjar pineal di otak akan mulai memproduksi melatonin, suatu hormon yang membuat orang mengantuk. Jika mulai terang, maka produksi melatonin akan berhenti dan rasa kantuk hilang. Selain menyebabkan rasa kantuk, melatonin juga mempengaruhi SCN dan sekresi hormon oleh hipofisis yang berakibat metabolisme secara umum termasuk metabolisme organ seks menurun. Wanita Eskimo (Inuit) mengalami penurunan hormon seks sehingga siklus haidnya berhenti. Hal itu menyebabkan beberapa orang mencoba penggunaan melatonin sebagai alat kontrasepsi, tetapi dosis yang berlebihan dapat menyebabkan rasa kantuk yang hebat. Pada orang tua kadar melatonin menurun sehingga waktu tidur pada orang tua kadarnya tidak selama pada orang muda.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Close Menu