WAKTU DALAM BILANGAN BULAN

WAKTU DALAM BILANGAN BULAN

Serial Quran dan Sains

Waktu pada setiap bulan tidak terlepas dari keberadaan dan keterlihatan bulan. Fenomena ini tentu saja sangat berkait dengan matahari yang menjadi sumber cahaya bagi bulan. Alquran menjelaskan waktu bulanan dengan ungkapan asy-syahr. Allah berfirman,

الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ۝

Bulan haram dengan bulan haram, dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku (hukum) qisas. Oleh sebab itu, barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 194)

Ungkapan serupa disebutkan pula dalam Surah al-Baqarah/2: 185 dan 217; al-Ma’idāh/5: 2 dan 97; Sabā’/34: 12. Adapun tentang jumlah bulan, Allah berfirman dalam Alquran,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ۝

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orangyang takwa. (Alquran, Surah at-Taubah/9: 36)

Ayat di atas menjelaskan bahwa jumlah bulan dalam satu tahun adalah 12 bulan. Satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis. Satu hari dihitung dengan dimulainya terbitnya matahari dari ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.

Bulan-bulan hijriah terdiri dari 12 bulan. Awal bulan qamari dimulai dari munculnya bulan sabit dan diakhiri dengan tenggelamnya bulan sabit. Orang Arab pada masa Jahiliah telah memberikan nama pada setiap bulan disesuaikan dengan peristiwa yang terjadi di bulan tersebut . Nama-nama bulan tersebut adalah:

  1. Muarram (Muharam) atau bulan Asyura. Dinamakan demikian karena bulan ini dimuliakan atau diharamkan. Mereka mengharamkan mengobarkan peperangan pada bulan ini.
  2. afar (Safar) atau kosong karena orang Arab pergi untuk melakukan peperangan sehingga negeri mereka kosong. Ini juga bisa berarti mereka menjadikan musuh-musuh mereka meninggalkan barang miIiknya sehingga tangan mereka menjadi kosong dari harta benda. Nama bulan ini juga bisa terambil dari nama daerah tempat peperangan yang bernama ṣ
  3. Rabiūl-Awwal (Rabiulawal) bermakna musim semi pertama, masa di mana rumput mulai tumbuh.
  4. Rabiūl-Ākhir (Rabiulakhir) bermakna musim semi kedua.
  5. Jumādil-Ūlā (Jumadilawal), di masa lalu bulan ini dinamakan Jumādā Khamsah. Dinamakan demikian karena masa di mana pada saat pemberian nama ini negeri mereka berada pada musim dingin sehingga air menjadi beku.
  6. Jumādil-Ākhirah (Jumadilakhir), musim dingin kedua. Di masa lalu orang Arab Jahiliah menamakannya dengan Jumādā Sittah.
  7. Rajab (Rajab) berarti mengagungkan dan memuliakan. Mereka sangat menghormati bulan ini sehingga mereka mengharamkan perang pada bulan ini. Rajab juga bisa berarti berhenti dari peperangan.
  8. Sya’bān (Syakban), dari segi bahasa adalah berpencar. Mereka berpencar untuk mengadakan peperangan setelah pada bulan Rajab mereka berhenti berperang. Bisa juga karena mereka berpencar untuk mencari air.
  9. Ramaḍān (Ramadan), dahulu namanya Natiq. Kemudian pada saat penamaan, bulan ini jatuh pada musim panas. Kata ar-ramḍā’ adalah pasir yang panas karena sengatan matahari.
  10. Syawwāl (Syawal), artinya terangkat karena pada masa ini unta betina mengangkat ekornya agar bisa dihubungi oleh pejantan. Bisa juga karena derajat panas matahari makin meningkat, atau juga berarti susu hasil perahan menjadi kering.
  11. Żul-Qadah (Zulkaidah), kata qaada berarti duduk. Disebut demikian karena orang Arab duduk-duduk tidak mau berperang. Mereka mengagungkan bulan ini.
  12. Żul-ijjah (Zulhijah), dinamakan demikian karena pada bulan ini dilaksanakan ibadah haji. Orang Arab jahiliah melakukan haji dengan cara mereka sendiri.

Dari 12 bulan yang disebutkan, ada empat bulan yang dinamakan bulan-bulan haram, yaitu: Żul-Qadah, Żul-ijjah, Muarram, dan Rajab. Tiga bulan pertama beriringan sementara satu bulan terpisah. Allah menjadikan tiga bulan pertama menjadi bulan-bulan haram dengan tujuan mengamankan pelaksanaan ibadah haji, sehingga jika ada orang berada pada negeri jauh dari Mekah, mereka bisa memulai perjalanan pada bulan Żul-Qa‘dah tanpa ada gangguan di perjalanan. Jika mereka kembali lagi ke negeri mereka, mereka bisa kembali dengan selamat karena bulan haram akan berakhir pada akhir bulan Muharram atau lebih dari satu bulan setengah setelah pelaksanaan ibadah haji. Adapun bulan Rajab diberlakukan sebagai bulan haram karena setelah orang Arab banyak melakukan peperangan, banyak di antara mereka yang ingin melakukan umrah pada bulan ini, maka mereka bisa melakukannya dengan aman. Peribadatan dalam Islam sangat terkait dengan bulan. Islam menggunakan perhitungan hijriah dalam setiap peribadatannya. Di antaranya adalah:

  1. Puasa, kewajiban puasa bagi umat Islam hanya ada pada bulan Ramadan selama sebulan (29 hari atau 30 hari) dimulai pada awal Ramadan sampai awal bulan Syawal.
    Hilal, penanda awal bulan dalam kalender Islam
  2. Haji, diwajibkan pada bulan-bulan haji, dimulai bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah.
  3. Zakat, kewajiban zakat harta benda terkait dengan satu tahun masa kepemilikan terhadap harta tersebut. Kecuali zakat pertanian, yang terkait dengan masa panen. Masa satu tahun dihitung dengan penanggalan hijriah.
  4. Pelaksanaan puasa sunah terkait dengan bulan qamari seperti:
  • Puasa Syawal dilaksanakan pada bulan Syawal selama 6 hari.
  • Puasa tanggal10 Muharram.
  • Puasa hari Arafah, yaitu pada tanggal 9 Zulhijah pada setiap tahun.
  • Puasa pada bulan purnama yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 pada setiap bulan.
  • Puasa pada 9 hari pertama bulan Zulhijah

Persoalan lainnya yang berkaitan dengan aturan kekeluargaan pun menggunakan perhitungan hijriah. Di antaranya:

  • Idah perempuan yang ditinggal mati suami selama 4 bulan qamari dan ditambah 10 hari. (Iihat Surah al-Baqarah/2: 234).
  • Istri yang disumpah dengan ila’ (suami bersumpah untuk tidak mencampuri istrinya) maka batasannya adalah 4 bulan. (Iihat al-Baqarah/2: 226).
  • Suami yang menzihar istrinya (mengharamkan istrinya sebagaimana mengharamkan ibunya). Kafaratnya adalah berpuasa selama 2 bulan berturut turut sebelum bercampur dengan istrinya.
  • Kafarat seorang yang membunuh orang lain tanpa sengaja adalah berpuasa selama 2 bulan qamari.
  • Seorang yang mencampuri istrinya di siang hari bulan Ramadan, kafaratnya adalah berpuasa 2 bulan dengan hitungan bulan qamari.

Pada dasarnya bulan, satelit alam planet bumi, tidak memiliki cahaya sendiri, tetapi cahayanya bersumber dari matahari. Bagian bulan yang terkena cahaya dan menghadap ke arah bumi, akan tampak terang pada waktu malam. Sementara bagian bulan yang gelap tidak terlihat dari bumi. Karena bulan bergerak mengelilingi bumi, dari hari ke hari tempatnya berpindah-pindah. Inilah yang menyebabkan perubahan bentu-bentuk bulan, mulai dari bentuk sabit, setengah lingkaran, bulat sempurna, setengah lingkaran lagi, dan kembali ke bentuk sabit.

Bagi umat Islam di dekat kawasan ekuator akan menyaksikan siklus fasa bulan tersebut. Pada tanggal muda (tanggal 2, 3, atau 4) bulan Hijriah, bulan akan mudah tampak oleh mata telanjang sebagai bulan sabit tipis di arah langit barat pada sore hari setelah matahari terbenam. Arah lengkungan sabitnya mengarah ke barat sesuai dengan arah matahari. Pada hari berikutnya bulan sabit tampak lebih tebal sehingga beberapa hari berikutnya bulan tampak setengah lingkaran. Pada waktu magrib, bulan setengah lingkaran itu sudah terlihat di atas kepala dan akan terbenam sekitar tengah malam.

Bulan purnama terbit pada saat magrib di langit timur dan akan terbenam pagi hari. Pada saat bulan purnama inilah cahaya bulan begitu terang. Pada hari-hari berikutnya bulan tidak bulat sempurna lagi. Sepekan kemudian, bulan akan terlihat seperti setengah lingkaran dan tampak di langit pada pagi hari (di Indonesia dinamakan juga “bulan kesiangan”) ketika matahari terbit di arah timur langit, tetapi bentuknya berbeda dari bentuk setengah Iingkaran yang pertama. Pada pekan pertama, lengkungannya mengarah ke barat,tetapi pada pekan ketiga lengkungannya mengarah ke timur. Sementara pada pekan yang keempat bulan terlihat seperti sabit pada dini hari di langit timur. Lengkungan sabitnya mengarah ke arah matahari terbit di timur.

Satu bulan adalah jangka waktu sejak penampakan bulan purnama sampai bulan purnama berikutnya atau lebih tepatnya sejak pemunculan bulan sabit sampai bulan sabit berikutnya. Bulan sabit yang pertama kali terlihat disebut juga bulan baru atau bulan tanggal 1 (satu). Ini merupakan cara penentuan kalender berdasarkan bulan atau qamariyah. Bulan setengah Iingkaran menunjukkan malam itu malam ke tujuh. Bulan purnama disebut juga bulan tanggal 14, karena terjadi pada hari ke-14 sejak pemunculan bulat sabit pertama. Akhirnya bulan akan kembali menjadi bulat sabit lagi di akhir bulan.

Waktu satu bulan itu tepatnya 29,53 hari. Karena itu, jangka waktu antara bulan baru sampai bulan baru berikutnya kadang-kadang 29 hari atau 30 hari, biasanya berganti-ganti. Dalam kalender Qamariah (seperti Ramadan), jumlah hari 29 atau 30 hari ini tetap berlaku. Tidak mungkin lebih dari 30 hari atau kurang dari 29 hari.

Dalam kalender Masehi (Januari sampai Desember), jumlah hari itu kadang-kadang 28, 29, 30, atau 31 hari. Ini disebabkan karena penentuan bulannya tidak mengikuti peredaran bulan. Kalender Masehi hanya menghitung jumlah hari dalam satu tahun, kemudian membaginya menjadi 12 bulan. Karena itu, agar jumlah hari dalam satu tahun 365 hari atau 366 hari, jumlah hari dalam tiap bulannya cukup diatur saja bergantian 30 hari atau 31 hari. Berbeda dengan bulan Februari, jika satu tahun 366 hari (disebut tahun kabisat) jumlah hari Februari 29 hari Tetapi kalau satu tahun 365 hari disebut tahun basitah, tahun pendek) bulan Februari hanya mempunyai 28 hari.

Fungsi penanggalan atau kalender adalah sebagai penjejak waktu dalam jangka yang panjang. Sistem penanggalan ibarat sebuah mistar atau penggaris untuk mengukur panjang sebuah benda. Padanan sebuah mistar adalah sebuah jam atau stop watch dengan jarum jam yang bergerak secara teratur menggantikan rotasi bumi dan revolusi bumi, bedanya sebuah jam dengan sebuah mistar adalah bila mistar disimpan bertahun-tahun dalam sebuah lemari masih bisa dijadikan alat ukur panjang, sedang sebuah jam bisa mati dan rusak. Jadi alat ukur waktu harus terus “hidup”, fenomena rotasi bumi dan revolusi bumi ibarat sebuah jam alam yang tak pernah mati sehingga merupakan alat ukur yang baik. Pada dasarnya, kalender mengacu pada periode berulangnya fenomena rotasi bumi sebagai unit harian, fenomena fasa bulan sebagai unit satu bulanan, atau fenomena revolusi bumi mengelilingi matahari sebagai unit satu tahunan. Selang waktu setahun, 10 tahun, seabad, satu millennia, dan yang lebih panjang lagi dapat dicatat dalam kalender. Usia kalender bisa lebih tua dari usia hidup manusia, bahkan usia sebuah negara. Namun sistem kalender memerlukan manusia untuk terus memeliharanya.

Fase Bulan

Periode sinodis bulan dipergunakan sebagai acuan dalam kalender Bulan, maupun kalender Luni-Solar. Bila diasumsikan bahwa orbit bumi mengelilingi matahari berbentuk lingkaran dengan periode sideris Bumi, PsidBumi = Psid = 365,2564 hari dan orbit bulan mengelilingi bumi berbentuk lingkaran dengan periode sideris bulan, PsidBulan = Psidα = 27,321660879 hari dan periode Sinodis Bulan, PsinBulan = Psinα = 29,53058912 hari.

Karena sebulan sinodis rata-rata 29,530589 hari, maka setahun terdiri dari 12 bulan sinodis atau sekitar 354,36 hari. Sedangkan setahun tropis (periode matahari dari titik Aries kembali ke arah titik Aries lagi) adalah 365,2421897 hari, maka setahun kalender Bulan (qamari) sekitar 11 hari dibanding dengan kalender Matahari. Misalkan, 1 Syawal 1434 jatuh pada 8 Agustus 2013, maka bisa perkiraan 1 Syawal tahun berikutnya 1435 akan jatuh sekitar 28 Juli 2014. Dalam 3 tahun awal bulan kalender Bulan akan jatuh 33 hari (sekitar 1 bulan) lebih cepat dibanding dengan setahun surya. Jadi, setelah Idul Fitri 1434 jatuh pada awal Agustus, maka tiga tahun kemudian pada 1437 Idul Fitri akan jatuh pada awal Juli.

Hubungan antara siklus kalender Matahari dan kalender Bulan dapat didekati dengan siklus 19 tahun atau siklus 235 lunasi bulan atau disebut dengan siklus Meton. Siklus Meton memberi tahu bahwa fasa bulan yang sama akan jatuh pada tanggal yang hampir sama atau sama dalam kalender Masehi/Syamsiah setelah 235 lunasi atau kira-kira 19 tahun (Syamsiah). Siklus ini ditemukan oleh astronom Athenian bernama Meton (sekitar akhir abad 5 SM). Dengan mengetahui siklus ini, dapat diketahui cara menentukan bulan sisipan yang presisi dipergunakan siklus Meton (the 19-year cycle or Metonic Cycle). Dalam 19 tahun terdapat 12 tahun dengan 12 bulan purnama/bulan mati dan 7 tahun dengan 13 purnama/bulan mati. Melalui bahasa lain dalam 19 tahun tropis, 12 tahun di antaranya setiap tahun terdapat 12 lunasi dan 7 tahun sisanya setiap tahun terdapat 13 lunasi. Jumlah hari rata-rata dalam 235 lunasi adalah (235 x siklus sinodis bulan = 235 x 29,530589 hari) = 6939,688415 hari. Sedangkan 19 tahun tropis adalah (19 x satu tahun tropis rata-rata = 19 x 365,242199 hari) = 6939,601781 hari. Selisih 235 lunasi terhadap 19 tahun tropis adalah (235 lunasi-19 tahun) = 0,08 hari. Bila terjadi 4 kali siklus Meton, berarti jumlah hari dalam 4 siklus Meton adalah 4 x 235 lunasi = 940 lunasi, atau 940 x 29,530589 hari = 27.758,75366 hari. Siklus Metonik juga berlaku untuk fasa bulan lainnya, jumlah Bulan Purnama (BP) tiap tahun terdiri dari 12 atau 13 Bulan Purnama, dalam 19 tahun terdapat 7 tahun dengan 13 Bulan Purnama dan 12 tahun dengan 12 Bulan Purnama. Jadi, dalam 19 tahun terdapat 235 Bulan Purnama (BP).

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Close Menu