VISI ANTROPOKOSMIK DALAM PEMIKIRAN ISLAM

VISI ANTROPOKOSMIK DALAM PEMIKIRAN ISLAM

Wacana: William C. Chittick

Saya mengambil ungkapan “visi antropokosmik” dari Tu weiming Direktur Harvard Yenching Institute dan profesor Chinese History and Philosophy and Confucian Studies, di Harvard University. Profesor Tu telah mengunakan ungkapan ini selama bertahun-tahun untuk meringakas pandangan dunia Asia Timur dan untuk menekankan perbedaannya yang mencolok dengan pandangan dunia teosentrik dan antroposentrik Barat. Dengan mengatakan bahwa tradisi Cina secara umun dan konfusinisme secara khusus melihat sesuatu “secara antropokosmik”, dia maksudkan bahwa para pemikir dan orang bijak cina memahami manusia dan kosmos sebagai suatu keseluruhan tunggal yang organik.

Tujuan kehidupan manusia adalah menyesuaikan diri dengan langit dan bumi, dan kembali ke sumber trasenden manusia dan dunia. Sejauh peradaban cina tetap demikian, ia tidak pernah dapat mengembangkan “rasionalitas instrumen”, pandangan pencerahan Barat yang melihat alam sebagai keragaman objek, dan mengangap pengetahuan sebagai sarana untuk memanipulasi dan mengontrol objek. Dalam visi antroposkomik, alam sebagai objek tidak dapat dipisahkan dari manusia sebagai subjek. Tujuan pengetahuan bukanlah untuk memanipulasi alam, tetapi untuk memahami alam dan diri kita sehingga kita dapat hidup sesuai dengan keharmonisan kita sepenuhnya. Tujuannya, mengunakan ungkapan favorit Tu weiming, adalah “belajar bagaimana menjadi manusia”. Seperti tulisnya, “jalan itu tidak lain daripada aktualisasi sifat dasar manusia yang sebenarnya”.

Dengan sedikit revisi dalam peristilahan, gambaran Tu weiming tentang visi antropokosmik konfisius dengan mudah dapat digunakan untuk menggambarkan pandangan dunia yang serba meliputi dari peradaban Islam secara umum dan pemikiran Islam secara khusus. “pemikiran Islam’’, di sini tidak saya maksudkan sebagai pelbagai disiplin ilmiah yang berkembang di dunia Islam, tetapi mazhab-mazhab tertentu yang mempertanyakan dan menjawab masalah-masalah kemanusiaan terdalam tentang inti dan maknanya. Yaitu persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh para pemikir besar, filosof dan orang bijak dalam semua peradaban. Secara khusus, yang saya maksud adalah tradisi kebijaksanaan Islam. Saya memahami kata “ kebijaksanaan” dalam pengertiannya yang luas dari kata arab hikmah, yang meliputi baik filsafat Helenistik dan berbagai perspektif lain, terutama sufisme teoretis (yang sering disebut irfan atau “gnosis”). Seperti yang saya pahami, hikmah tidak meliputi fiqih dan kalam (teologi dogmatik), yang keduanya memfokuskan pada masalah-masalah yang lebih sempit.

Untuk tujuan bab ini, saya akan menfokuskan pada sisi tradisi hikmah yang lebih filosofis, yang mengabaikan dimensi sufi, yang telah saya berikan di tempat lain. Saya melakukan itu karena dua alasan. Pertama, dia antara semua pendekatan Islam terhadap pengetahuan, hanya disiplin ini yang telah melahirkan tokoh-tokoh yang dipandang oleh sejarawan barat dan kaum Muslim modern saat ini sebagai “saintis” sesuai dengan makna mutakhir kata tersebut. Dan kedua, hanya pendekatan ini yang membahas signifikansi mengada (being) dan menjadi (becoming), tanpa masyarakat iman terhadap dogma Islam, sehingga bahasanya dengan mudah dapat dipahami di luar konteks khas Islam.

Dalam terminologi teknis sains islam, tradisi hikmah biasanya disebut sebagai “intelektual” (aqli), bukan “ yang ditransmisikan” (naqli). pengetahuan yang ditransmisikan adalah semua pengetahuan yang telah diturunkan dari generasi terdahulu dan tidak dapat diraih melalui cara kerja akal sendiri. Contoh-contohnya yang khas adalah bahasa, wahyu ilahi, dan hukum. Pengetahuan “intelektual” adalah semua pengetahuan yang pada prinsipnya, dapat diperoleh oleh akal manusia tanpa bantuan dari generasi masa lalu atau wahyu ilahi. Contoh-contohnya yang mencolok adalah matematika dan astronomi. Namun, pengetahuan intelektual juga meliputi apa yang disebut “metafisika”, “kosmologi “ dan “psikologi”. Tiga bidang inilah yang dengan jelas diinformasikan oleh visi antroposkomik yang akan saya bicarakan. Namun, tentu saya akan berbicara dalam konteks yang umum: terdapat banyak variasi tentang tema-tema utamanya, bahkan dalam tradisi filosofis itu sendiri.

KEBENARAN UNIVERSAL DAN KEKAL

Dalam peradaban Barat, sudah lazim membuat perbedaan tajam antara akal dan wahyu, atau antara Athena dan Jerusalem, untuk memahami peran yang dimainkan oleh ilmu-ilmu “intelektual” dalam tradisi Islam, perlu dipahami bahwa perspektif Islam yang dominan melihat akal dan wahyu bersifat harmonis dan saling melengkapi, bukan antagonistik. Kandungan pesan Al-Quran mendorong pada suatu sudut pandang yang berlawanan dengan apa yang menjadi norma di Barat kristen. Tanpa memahami perbedaan sudut pandang, sulit menangkap peran yang telah dimainkan tradisi hikmah dalam Islam.

Jika agama kristen dipahami dalam kaitannya dengan dikotomi antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan yang ditransmisikan, apa yang segera mencolok adalah bahwa kebenaran-kebenaran utama diturunkan dari transmisi, bukan dari pemikiran. Gagasan yang menentukan pandangan dunia kristen jika generalisasi atas pelbagai tradisi yang  bearagam diterapkan adalah inkarnasi, suatu peristiwa historis yang telah terjadi berdasarkan pengetahuan yang ditransmisikan. Jelasnya, inkarnasi dipandang sebagai intervensi ilahi yang mengubah sejarah, bahkan juga dipahami terjadi berdasarkan aktualitas historis. Untuk mengetahui hal itu, orang membutuhkan  transmisi pengetahuan dalam sejarah. Sekali inkarnasi diakui, maka ada kemungkinan untuk melihat bagaimana ia digambarkan dalam keesaan Tuhan, melalui logos dan trinitas. Meskipun seluruh tradisi pemikiran yang berkembang dapat disebut “ platonisme kristen”, suatu tradisi yang diawali dengan gagasan dalam pikiran Tuhan, kandungan khas kristiani dari tradisi ini bergantung pada fakta historis inkarnasi.

Tradisi islam memiliki titik tolak yang sangat berbeda. Sering diasumsikan baik oleh Muslim maupun non-Muslim bahwa islam bermula dengan peristiwa historis Muhammad dan Al-Quran. Tentu ada benarnya dalam hal ini, tetapi tidak demikian Al-Quran mengemukakan gambarannya, juga bukan cara kaum Muslim yang lebih reflektif dalam memahami agama mereka. Sebaliknya, islam bermula dengan penciptaan dunia. Dalam pengertian Qurani yang sangat luas, kata Islam (“ketundukan, pengakuan, kepasrahan”)bearti kondisi universal dans selalu hadir dari makhluk di hadapan pencipta. Ini membantu menjelaskan mengapa dogma pertama dan fundamental agama tidak berkaitan dengan fakta historis Muhammad dan Al-Quran. “Islam” hanya bearti pengakuan akan kebenaran universal, suatu kebenaran yang mengekspresikan hakikat segala sesuatu sepanjang masa dan selamanya.

Kebenaran primer yang mendasari tradisi Islam inilah yang dinyatakan secara sangat jelas dalam kalimat pertama syahadat, penegasan iman yang menjadi dasar semua ajaran dan praktik Islam. Penegasan, la ilaha illallah “tidak ada tuhan kecuali Allah” ini dikenal dengan kalimat tauhid, “kata yang menyatakan keesaan”. Kalimat ini dipahami sebagai pernyataan akan situasi aktual segala sesuatu, karena segala sesuatu tunduk kepada keesaan Tuhan menurut fakta eksitensinya. Di antara semua makhluk, hanya manusia yang memiliki status wujud khas yang mampu menerima atau  menolak kebenaran ini. Menerimanya dengan bebas bearti menyatakan kalimat pertama Syahadat dan dengan demikian memberikan kesaksian akan realitas unik Tuhan. Al-Quran menisbatkan tauhid, pengakuan akan keesaan tuhan ini, berikut penerimaan bebad dari konsekuensinya kepada manusia yang benar-benar diberi petunjuk: yang pertama-tama adalah Adam. Yang termasuk di sini adalah semua nabi yang secara tradisional berjumlah 124. 000 dan orang-orang yang secara benar dan tulus mengikuti mereka.

Dalam perspektif Islam, tauhid berada di luar sejarah dan transmisi. Kebenaran universallah yang tidak bergantung pada wahyu. Begitu mendasarkannya pengakuan akan kebenaran ini bagi kondisi manusia sehingga dengan khas dikatakan sebagai sifat inheren fitrah Adam dan semua keturunanya. Ingat di sini bahwa dalam pandangan Islam, kejatuhan Adam dari taman surga tidak mengambarkan suatu kelemahan yang serius. Sebaliknya, kejatuhan itu merupakan suatu lompatan temporal, suatu tindakan kelalaian dan ketidaktaatan. Lompatan tersebut mempunyai akibat yang pasti, tetapi segera diampuni oleh Tuhan, dan Adam ditetapkan sebagai nabi pertama. Tuhan telah menciptakan Adam menurut citra-Nya sendiri, dan citra ini sama sekali tidak tercemar oleh kejatuhan itu, meskipun citra ini llahi ini benar-benar menjadi kabur pada banyak, kalau bukan sebagian besar, anak Adam.

Tentang tradisi historis Islam, yang bermula pada abad ke-7 bersamaan dengan diwahyukannya Al-Quran, penegasan iman tersebut baru mengakui arti penting tradisi ini hingga kalimat kedua syahadat, pernyataan “ Muhammad adalah utusan Tuhan. ” Tauhid mendahului Muhammad dan pesan yang diwahyukan kepadanya, karena tauhid tidak berkaitan dengan sejarah. Sebaliknya, ia berkaitan dengan sifat realitas dan subtansi kecerdasan manusia.

Dalam perspektif ini, tauhid menginformasikan semua pengetahuan yang benar sepanjang masa dan tempat. Setiap nabi dai 124. 000 orang ini membawa pesan yang didasarkan pada tauhid, dan masing-masing dari mereka mengajarkan secara eksplisit. Namun, mereka mengajarkannya bukan karena masyarakat tidak dapat mengetahuinya tanpa diberi tahu. Mereka mengajarkannya karena masyarakat tekah melupakannya dan perlu “ diingatkan”. Kata Arab yang digunakan di sini dzikir (bersama kata turunanya tadzkir, tadzkirah, dan dzikra), yang bearti salah satu konsep yang sangat penting dalam Al-Quran. Kata ini menginformasikan keagamaan Islam pada setiap tingkat keimanan dan praktik. Kata tesebut tidak hanya bearti “mengingatkan’, tetapi juga “mengingat”. Dalam pengertian mengingatkan, kata tersebut menunjukkan fungsi utama para nabi, dan dalam pengertian mengingat, ia bearti respons manusia yang semestinya terhadap peringatan kenabian. Keseluruhan proses “belajar menjadi manusia” bergantung pertama-tama pada peringatan akan tauhid, dan kedua pada sikap mengingat yang aktif dan bebas terhadap tauhid, pengakuan bahwa menegaskan keesaan Tuhan merupakan bawaan jiwa manusia.

Singkatnya, tauhid ajaran dasar Islam, berada di luar sejarah karena ia berada dalam sifat paling dasar manusia. Namun, dengan pengecualian yang sangat jarang, kesadaran akan tauhid bergantung pada peringatan oleh sesorang yang mengetahuinya. Sekali dipahami, ia diakui sebagai terbukti dengan sendirinya dan tanpa memiliki hubungan esensial apa pun dengan wahyu historis. Doktrin Islam yang mengakui Adam sebagai nabi pertama, menunjukkan ide dalam bentuk mitik bahwa menjadi manusia bearti hadir sepenuhnya dalam dirinya sendiri, sebagai konsekuensi langsung dari keterciptaannya di dalam citra Tuhan, sebagai pengakuan akan keesaan Tuhan.

Mengingat bahwa kesaksian Islam akan iman membedakan antara kebenaran universal yang ahistoris dan kebenaran pertikular yang secara historis terkondisikan, Islam secara implisit membedakan antara pengetahuan yang intelektual dan pengetahuan yang ditransmisikan. Kalimat pertama Syahadat menyatakan tauhid, pengetahuan sebagai kecenderungan asal manusia dan bebas dari partikularitas hsitoris. Kalimat kedua syahadat bearti fakta historis tertentu tentang datangnya Muhammad dan diwahyukannya Al-Quran. Pengetahuan kedua ini tidak dapat diraih tanpa pengetahuan hsitoris.

Meskipun pengetahuan intelektual secara implisit dibedakan dengan pengetahuan yang ditransmisikan dalam prinsip-prinsip utama agama dan secara eksplisit dibedakan oleh tradisi terkemudian, itu tidak bearti bahwa dua sumber pengetahuan tersebut dapat di pandang saling berdiri sendiri. Jelaslah bahwa semua pemahaman bergantung pada transmisi, setidak-tidaknya transmisi bahasa. Dan juga jelas-jelas bahwa transmisi semata-mata bukan jaminan tentang pemahaman. Hubungan antara dua modalitas pengetahuan mungkin dengan baik dapat dipahami sebagai saling melengkapi, kira-kira seperti yin-yang. Transmisi diperlukan untuk mengaktualisasikan pemahaman, dan pemahaman diperlukan untuk menangkap signifikansi transmisi secara utuh.

PENGETAHUAN YANG DITRANSMISIKAN DAN PENGETAHUAN INTELEKTUAL

Di antara semua mazhab pemikiran Islam, para filosof adalah yang paling saksama dalam membedakan antara pengetahuan yang ditransmisikan dan pengetahuan intelektual. Mereka sendiri pada dasarnya tidak tertarik pada pengetahuan yang ditransmisikan. Dibandingkan sengan kalam dan fiqih, atau dengan pendekatan intelektual lain terhadap pengetahuan Islam , yakni sufisme teoretis, para filosof memberikan perhatian yang relatif kecil terhadap Al-Quran, hadis, dan ilmu-ilmu keagamaan. Ini tidak bearti bahwa sebagian besar dari mereka tidak menguasai ilmu-ilmu ini, atau bahwa sebagian mereka tidak menulis tafsir Al-Quran dan buku-buku fiqih. Terlepas dari pernyataan para sejarahwan, mereka tidak memusuhi pengetahuan yang ditransmisikan. Sebaliknya, mereka memfokuskan perhatian utamanya pada bidang lain. Mereka ingin mengembangkan visi intelektual mereka sendiri dan mereka melihat hal itu sebagai tugas melaksanakan semua implikasi tauhid pertama-tama dalam praktik. Jika mereka harus memahami makna utuh pengetahuan yang ditransmisikan, mereka perlu menyelidiki hakikat realitas Tertinggi, struktur kosmos, dan realitas jiwa manusia. Itulah tiga bidang metafisika, kosmologi, dan psikologi yang disebutkan sebelumnya. Namun, dalam pencarian akan pemahaman, tauhid selalu menjadi aksioma yang mendasar. Para filosof menerima begitu saja bahwa setiap orang yang berpikiran sehat akan melihat keesaan Tuhan sebagai kebenaran yang terbukti dengan sendirinya. Meskipun demikian, mereka memberikan sejumlah bukti untuk membantu akal manusia dalam mengingat apa yang ada secara tersembunyi di dalam dirinya.

Maksud utama saya disini adalah bahwa “para intelektual” Muslim pengertian khusus istilah intelektual yang saya pahami selalu melihat diri mereka menyelidiki sesuatu dalam konteks pernyataan yang sangat fundamental dari tradisi Islam, yaitu keesaan Tuhan, realitas, tertinggi yang mengatur segala sesuatu. Mereka tidak pernah melihat upaya mereka berlawanan dengan maksud dan tujuan tradisi keagamaan. Mereka menerima bahwa para nabi dapat mengingatkan manusia akan tauhid dan mengajarkan keapada mereka bagaimana menjadi manusia. Namun, mereka juga percaya bahwa penyeru memiliki jalan untuk dikuti, dan mereka tertarik pada penelitian intelektual yang memiliki jalan yang lain, karena bakat dan kecerdasan khsusus mereka.

Sejalan dengan semua cabang tradisi hikmah, para penuntut penegtahuan intelektual mencoba belajar bagaimana menjadi manusia dalam pengertian manusia seutuhnya. Fokus utama mereka selalu adalah tranformasi jiwa, seperti dikemukakan Tu weiming tentang visi antropokosmik konfosius. “ tindakan transformatif dapat dibangun berdasarkan visi transenden bahwa secara ontologis kita jauh lebih baik dan karenanya lebih mulia ketimbang kita secara aktual”. Inilah visi “humanistik”, dan humanisme diangkat jauh melampaui dunia, karena “ukuran manusia’ bukanlah manusia atau bahkan pemahaman rasional, tetapi sumber transenden segala sesuatu. Seperti dikemukakan Tu:

Karena nilai manusia tidak antroposentrik, penegasan bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu tidaklah cukup humanistik. Untuk mengekspresikan sepenuhnya kemanusian kita. Kita harus terlibat aktif dalam dialog dengan langit karena manusia, sebagai mana diberikan oleh langit, merealisasikan sifatnya bukan dengan memisahkan diri dari sumbernya, tetapi dengan kembali kepadanya. Kemanusiaan, demikian dipahami, adalah kepemilikan publik kosmos, bukan kepemilikan pribadi dunia antropologis, dan menjadi karakteristik yang banyak menetukan wujud kita sebagai manifestasi langit yang sadar. Jika kita gagal hidup sesuai dengan kemanusiaan kita. Secara kosmologi kita gagal dalam misi kita sebagai mitra pencipta (co-creator) Langit dan Bumi dan secara moral dalam tugas kita sebagai sesama partisipan dalam transformasi kosmik yang besar.

RASIONALITAS INSTRUMENTAL VERSUS KECENDERUNGAN DOGMATIK

Jika kita mengakui bahwa pengetahuan “intelektual” Islam menjauhkan diri dari pengetahuan yang ditransmisikan, kita dapat memulai memahami mengapa upaya ilmiah medern tidak pernah muncul dalam Islam. Sains memperoleh kekuasaannya dari penolakan terhadap setiap jenis teleologi, pemisahan yang tegas antara subjek dan objek, penolakan untuk mengakui bahwa kesadaran lebih nyata dari pada fakta material, perhatian eksklusif pada wilayah indra, dan mengabaikan realitas tertinggi dan transenden. Rasionalitas instrumental pengetahuan ilmiah dapat muncul di Barat hanya setelah bayi dilemparkan bersama air mandinya. Setelah menolak air mandi teologi atau setidak-tidaknya relevansi dogma teologis bagi penyelidikan ilmiah para filosof dan saintis Barat juga menolak kebenaran tauhid, landasan dan akr akal manusia. Sekali tauhid menjadi huruf mati, masing-masing bidang pengetahuan dapat dipandang berdiri sendiri dari yang lainnya.

Tentu, rasionalitas instrumental tidak muncul secara tiba-tiba di Barat. Sejarah yang panjang dan kompleks secara gradual telah melahirkan sebuah pemisahan yang lebih tegas antara bidang akal dan bidang wahyu. Banyak saintis dan filosof tetap menjadi orang-orang kristen yang taat, tetapi hal ini tidak mengalangi mereka untuk menganggap di bidang rasional bebad dari kecenderungan wahyu. Tepatnya, karena kecenderungan ini yang ditimpahkan pada kaitan dogmatik dan historis pengetahuan yang ditransmisikan sehingga pemisahan antara akal dan wahyu dapat terjadi. Sebaliknya, tradisi intelektual Islam selalu berakar pada visi tentang tauhid, bukan pada dogma teologis yang dikondisikan secar historis. Apa pun yang dipesoalkan oleh para pemikir Muslim tentang sifat hsitoris bahasa Arab, peristiwa yang mengitari kedatangan Muhammad transmisi wahyu Al-Quran, dan penafsiran wahyu oleh para teolog dan kaum dogmatik, perdebatan ini tidak meragukan pandangan fundamental tentang tauhid yang bagi mereka sudah sangat gamblang.

Jadi, kesimpulan pertama saya adalah berikut ini: Banyak sejarahwan telah menegaskan bahwa pengetahuan Islam Abad pertengahan merosot ketika para saintis Muslim lalai untuk membangun berdasarkan temuan awal mereka. Akan tetapi, yang demikian itu bearti membaca sejarah Islam dalam kaitannya dengan ideologi kemajuan (ideologi of Progress), yang pada gilirannya berakar pada saintisme kontemporer yang saya maksud adalah kepercayaan bahwa sains memiliki tingkat kesahihan yang sama dengan kebenaran yang diwahyukan. Saintisme telah memberikan arti penting mutlak kepada teori ilmiah, dan merelatifkan semua pendekatan lain terhadap pengetahuan, meskipun saintisme mengangap pendekatan lain itu tetap sah.

Lebih jauh, para sejarahwan yang berbicara secara garis besar tentang kemerosotan “sains” Islam mengabaikan dua konteks historis. Yang pertama adalah konteks islami, dalam arti: aksioma tauhid merembesi semua upaya intelektual. Tauhid menyatakan kesaling terkaitan segala sesuatu, karena ia menegaskan bahwa segala sesuatu kembali keprinsip pertama, segala sesuatu secara terus menerus di topang dan dipelihara oleh prinsip pertama, dan segala sesuatu kembali ke prinsip pertama. Mengingat bahwa para intelektual Muslim melihat segala sesuatu bermula, berkembang, dan berakhir dalam batas sumber yang esa, mereka memilah-milah bidang-bidang realitas sebagai hal-hal yang semata-mata tentatif. Mereka tidak dapat memisahkan pengetahuan tentang kosmos dari pengetahuan tentang Tuhan, atau dari pengetahuan tentang jiwa manusia. Msutahil bagi mereka membayangkan dunia dan diri terpisah satu sama lain dari prinsip yang esa. Sebaliknya, semakin dalam mereka meneliti alam semesta, semakin jelas mereka melihatnya memanifestasikan prinsip-prinsip tauhid dan hakikat diri manusia. Mereka menyepakati Tu weiming, yang menulis “Melihat alam sebagai subjek eksternal diluar sana bearti menciptakan rintangan artifisial yang menghalangi visi kita yang sebenarnya dan mengurangi kemampuan kita untuk mengalami alam dari dalam”.

Konteks, kedua yang diabaikan orang ketika mereka mengklaim bahwa tradisi intelektual Muslim merosot adalah konteks kristen. Peradaban kristen, qua peradaban kristen, memang sebenarnya merosot, karena ia mengalami ganguan pandangan dunia sintetik dan kemunduran platonisme kristen. Kita dengan mudah dapat mengatakan bahwa kemundurannya jauh lebih serius ketimbang peradaban Islam. Sebagian sebab kemundurannya dan munculnya kembali pandangan dunia sekuler dan ilmiah adalah bahwa sifat kecenderungan keagamaan dasar yang dutransmisikan kristen tidak mampu bertahan dari pertanyaan kritis oleh para pemikir nondomatik. Dalam kasus islam, para intelektual Muslim tidak bergantung pada wahyu dan transmisi untuk memahami tahuid, sehingga perselisihan teologis dan ketidakpastian historis tidak dapat dipandang telah mengeser visi dasar akan realitas.

Untuk mencegah kesalahpahaman, mungkin saya perlu tegaskan di sini bahwa saya memang ingin menunjukkan bahwa para filosof Muslim tidak menolak Muhammad sebagai nabi mereka dan Al-Quran sebagai buku petunjuk mereka. Singkatnya, mereka tidak melihat alasan untuk mempertanyakan basi dogmatis pengetahuan yang ditransmisikan, karena mereka memandang ajaran keagamaan berguna bagi setiap orang, dan tentu juga bagi orang awam. Namun, hikmah pengetahuan intelektual sejati sesuai dengan wataknya, memang dikhususkan bagi orang-orang yang berkualifikasi, yang sedikit dan jarang. Pandangan “tidak demokratis” dan “elitis” ini bersumber pada fakta bahwa ideologi politik tidak mewarnai pandangan mereka tentang realitas sosial. Mereka memandang manusia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana mereka kehendaki.

VERIFIKASI ILMIAH VERSUS VERIFIKASI TEOLOGIS

Untuk menunjukkan beberapa implikasi visi antropokosmik, saya perlu memperluas perbedaan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan yang ditransmisikan. Para ulama, yang saya maksud adalah para ahli dalam pengetahuan yang ditransmisikan, mengklaim kwenangan atas pengetahuan mereka yang menjunjung tinggi kesahihan transmisi dan kebenaran mereka yang memberi pengetahuan. Yakni Tuhan, Muhammad, dan para pendahulu yang saleh. Mereka meminta semua Muslim agar menerima pengetahuan ini sebagaimana yang diterimanya. Tugas mendasar kaum mukmi adalah taklid, yaitu “meniru”, atau tunduk kepada kewenangan pengetahuan yang ditransmisikan. Sebaliknya, sejumlah kecil orang memiliki kecerdasan yang tepat untuk memasuki tradisi intelektual. Pencarian akan pengetahuan ditentukan tidak dalam kaitannya dengan taklid atau “peniruan”, tetapi dalam kaitannya dengan tahqiq, “verifikasi” dan “realisasi”.

Penting di sini untuk tidak mencampuradukkan tahqiq dengan ijtihad. Kedua kata ini digunakan sebagai lawan taklid. Namun, tahqiq berkaitan dengan pengetahuan intelektual, dan ia bearti menemukan kebenaran dan realitas segala sesuatu oleh diri sendiri dan di dalam diri sendiri. Ijtihad digunakan dalam kaitannya dengan pengetahuan yang ditransmisikan, terutama fiqih atau yurisprudensi. Ijtihad bearti menggapai penguasaan atas syariah sehingga seseorang tidak perlu mengikuti pendapat (taklid) para puqaha terdahulu. Selama berabad-abad, banyak ahli hukum memandang “pintu ijtihad” telah tertutup. Akan tetapi, “pintu tahqiq” tidak pernah dapat ditutup, karena ia merupakan mandat bagi semua Muslim untuk memahami tuhan dan rukun iman lainnya bagi diri mereka. “iman kepada tuhan” yang diperoleh melalui peniruan bukanlah iman sama sekali.

Kunci penting untuk memahami sudut pandang yang berbeda dari sains modern dan tradisi intelektual Islam yang terletak pada dua konsep ini tahqiq dan taklid. Jika kita tidak memahami bahwa pengetahuan yang diraih melalui tahqiq tidak sama dengan pengetahuan yang diterima melalui taklid, kita tidak akan mampu memahami apa yang coba dilakukan oleh para intelektual Muslim dan apa yang coba dilakukan oleh para saintis dan sarjana modern. Lalu kita akan memfalsifikasi pandangan para filosof Muslim dengan menjadikan mereka sebagai pelopor sains modern, seakan-akan mereka mencoba mengungkapkan apa yang ingin coba diungkapoleh para saintis modern, dan seolah-olah mereka menerima temuan para pendahulu mereka berdasarkan taklid, sebagai mana dilakukan para saintis modern.

Mengingat bahwa saintisme kepercayaan terhadap pengetahuan ilmiah empiris sebagai satu-satunya pengetahuan yang dapat dipercaya merasuki budaya modern. , sulit bagi orang-orang modern untuk mengingat bahwa seluruh perangkat ilmiah didasarkan pengetahuan yang transmisikan. Terlepas dari semua pembicaraan tentang “verifikasi empiris” temuan-temuan ilmiah, tahqiq ini berdasarkan pada asumsi tentang hakikat realitas yang tidak dapat diverifikasi melalui metode empiris. Bahkan jika kita menerima untuk sementara proposisi ilmiah bahwa pengetahuan ilmiah itu benar-benar “objektif”, sebenarnya hal itu hanya dapat diverifikasi oleh segelintir spesialis, karena umat manusia lainnya tidak memiliki pendidikan yang disyaratkan untuk itu. Singkatnya, setiap orang harus menerima verifikasi empiris berdasarkan iman (taklid).

Sangat sedikit verifikasi yang dapat dipenuhi oleh setiap individu saintis mengikuti metode ilmiah, yang bearti didasarkan pada rasionalitas instrumental. Eksperimen-eksperimen menunjukkan bahwa, berdasarkan syarat dan tujaun tertentu, y akan mengikuti x. Tidak ada masalah mengenai kebenaran tertinggi tentang sesuatu karena caranya tidak memungkinkan, dan tidak ada saintis, qua saintis, dapat mengklaim bahwa cara tersebut benar. Jika dia benar-benar mengklaim bahwa cara tersebut benar, dia melakukan hal itu sebagai seorang yang percaya kepada saintisme atau sebagai filosof, bukan sebagai saintis. Pengikut saintisme, bukan sains, akan menyatakan, misalnya, bahwa tidak ada hal-hal semisal “jiwa” atau “realitas mutlak”. Baik sains maupun saintisme tidak akan bermimpi untuk mengakui hal-hal yang dipandang sebagai fakta sederhana bagi tradisi hikmah dalam semua peradaban pramodern; kemungkinan manusia untuk melampaui waktu, ruang, sejarah, kefisikan, konsepsi, malaikat, dan bahkan dewa-dewa (tentu bukan ‘tuhan dalam arti yang sebenarnya).

Kembali kemasalah tahqiq atau verifikasi/realisasi, kita harus ingat bahwa ungkapan bahasa Arab tersebut berasal dari kata haqq. Haqq merupakan kata benda verbal (masdhar) sekaligus kata sifat (isim shifat) yang bearti benar, kebenaran, benar-benar; dan dengan urutan yang sama, bearti yang sebenarnya, yang benar, yang tepat, yang benar-benar, dan yang persis. Kata tersebut memainkan peran penting dalam Al-Quran dan semua cabang pengetahuan Islam. Makna pertamanya menurut Al-Quran adalah sebagai nama Tuhan. Tuhan sebagai haqq adalah kebenaran, ketepatan, realitas, kemestian, dan kepastian.

Tahqiq merupakan bentuk verbal transitif dan insentif yang berasal dari haqq. Ia bearti menegaskan kebenaran, yang benar, yang sebenarnya, yang semestinya. Penegasan bearti mengetahui sesuatu dengan pasti. Satu-satunya tempat kepastian itu ditemukan adalah didalam diri manusia, bukan diluar dirinya. Tahqiq bearti memahami dan mengaktualisasikan kebenaran, realitas, dan ketepatan dalam diri manusia, “merealisasikan” dan menjadikannya aktual bagi dan di dalam diri seserorang.

Jika diterapkan pada Tuhan, itu bearti Tuhan adalah mutlak benar, nyata, dan tepat. Akan tetapi, kata tersebut juga diterapkan kepada selain Tuhan. Penerapan kepada makhluk ini mengakui bahwa segala sesuatu alam semesta memiliki kebenaran, ketepatan, kenyataan, dan kesesuaian. Jika tuhan haqq dalam pengertian relatif. Tugas Tahqiq bearti membangun berdasarkan pengetahuan haqq yang mutlak, yang diawali dengan aksioma tauhid, dan menangkap sifat pasti dari haqq yang relatif, yang berakaitan dengan segala sesuatu, atau setidak-tidaknya sesuatu yang memiliki kontak dengannya, baik spriritual, intelektual, psikologis, fisik, atau sosial.

Rumusan tauhid dapat membantu kita memahami tujuan tahqiq. Jika benar “Tidak ada tuahan selain Allah”, ini bearti “Tidak ada haqq kecuali haqq yang mutlak”. Satu-satunya haqq yang sebenarnya dan nyata adalah Tuhan itu sendiri. Haqq ini transenden, tak terhingga dan kekal. Di hadapannya tidak ada haqq yang lain. Pada saat yang sama, segala sesuatu adalah makhluk Tuhan, dan mereka memperoleh apa yang dimilikinya dari Tuhan. Tuhan menciptakan mereka dengan kebijaksanaan dan tujuan, dan masing-masing memiliki peran untuk dimainkan dalam alam semesta. Tidak ada sesuatu pun yang secara inheren bathil lawan dari haqq, yaitu salah, sia-sia, tidak sebenarnya, tidak tepat. Watak haqq dari segala sesuatu ditentukan oleh kebijaksanaan tuhan dalam penciptaan. Berkaitan dengan haqq individual inilah Nabi memerintahkan manusia “agar memberikan haqq kepada pemiliknya” (ita kull dzi haqq haqqahu). “memberikan kepada segala sesuatu haqq-Nya” sering dipahami sebagai definisi singkat tahqiq.

Memberikan segala sesuatu haqq nya jelas lebih dari sekadar aktivitas kognitif. Kita tidak dapat memberikan kepada sesuatu haqq-nya semata-mata dengan mengetahui, kebenaran dan realitasnya. Lebih dari mengetahui, tahqiq menuntut tindakan. Ia bukan sekadar memverifikasi kebenaran dan realitas sesuatu: ia juga bertindak terhadap sesuatu dengan cara yang tepat dan benar. Tradisi intelektual selalu mempertimbangkan moralitas dan etika sebagai bagian intergral dari pencarian akan kebijaksanaan, dan banyak tokohnya telah melakukan upaya sadar untuk menyintesiskan ajaran etika Yunani dan ajaran-ajaran moral dan praktis Al-Quran.

Jadi, tugas pencari kebijaksanaan adalah memverifikasi dan merealisasikan sesuatu. Ini tidak dapat dilakukan dengan mengutip pendapat Aristoteles atau Plato atau malah dengan mengutip kata-kata Al-Quran dan Muhammad. Kita memverifikasi dan merealisasikan sesuatu dengan mengetahuinya sebagaimana adanya dan dengan bertindak tepat. Lebih dari lainnya, pencarian intelektual merupakan jalan disiplin diri yang ketat. Tujuannya adalah mencapai pengetahuan sejati tentang diri dan aktifitas yang tepat berdasarkan pengetahuan ini. Tidak ada yang dapat meringkas semangat pencarian sabik pepatah yang dinisbartkan keapada Nabi “ Orang- yang mengetahui dirinya, mengetahui Tuhannya. ” Para sejarahwan memandang pernyataan inis sebagai pepatah Socrates versi Islam, “kenalilah dirimu. ’tentu, fakta bahwa versi pepatah ini mengaitkan pengetahuan tentang diri dengan pengetahuan tentang Tuhan menjadi petunjuk arti penting yang selalu diberikan kepada tauhid.

Jelaslah bagi kita bahwa seseorang tidak dapat mengetahui dirinya dan tuhannya dengan mengingat-ingat pendapat Ibn Sina. Tentu, kita dapat menjadikan para nabi dan filosof besar sebagai pembimbing di jalan menuju pengetahuan diri, tetapi kita tidak dapat mengklaim mengetahui apa yang telah mereka ketahui jika kita tidak mengungkanya untuk diri kita dan didalam diri kita. Pencarian kebijaksanaan merupakan sesuatu aktivitas personal yang intens, sesuatu disiplin spritual yang menuntut latihan bagi akal dan pengasahan jiwa seseorang. Memverifikasi dan merealisasikan sesuatu bearti menggapai visi autentik tentang realitas, persepsi yang benar terhadap dunia, pemahaman yang benar tentang diri, pengetahuan yang benar mengenai prinsip pertama. Pada saat yang sama, verifikasi dan realisasi berarti bertindak sesuai dengan pengetahuan yang benar. Ia menuntut visi etis dan aktivitas yang saleh.

JIWA, KOSMOS, TUHAN

Untuk menangkap tujuan tahqiq ada gunanya jika kita mereflikan tentang bagaimana para filosof memahami kata aql, kata benda yang memberikan kepada kita bentuk sifatnya aqli, yang saya terjemahkan dengan “intelektual”. Aql bearti akal, kecerdasan, jiwa, nous. Untuk memahami maksud kata tersebut, kita perlu meninjau beberapa ajaran dasar tradisi intelektual. Ajaran-ajaran ini memberi isyarat tentang pengetahuan yang ingin diverifikasi dan direalisasikan oleh para intelektual Muslim. Ajaran tersebut tidak boleh dipandang sebagai dogma, karena tak seorang pun dapat merealisasikan sesuatu dengan menghafal katekismus. Kita harus menemukannya bagi diri kita sendiri.

Subtansi yang mendasari manusia disebut nafs, sebuah kata yang berfungsi sebagai kata ganti refleksi yang paling penting dalam bahasa Arab. Nafs biasanya diterjemahkan dengan “nafsu”  dan “jiwa”. Dalam pengertian filosofisnya, kata ini bearti sesuatu yang tak terlihat yang kehadirannya dalam kosmos memunculkan kehidupan, dan karenanya dapat dinisbatkan kepada setiap sesuatu yang hidup.

Memverifikasi hakikat jiwa merupakan salah satu aktivitas  mendasar intelektual Muslim. Cara standar untuk melakukan hal itu adalah memulai dengan menyelidiki penampakan jiwa dalam alam nyata. Alam nyata merupakan percampuran dari penampakan jasmaniah, namun secara instingif kita membedakan antara benda-benda dalam kaitannya dengan modalitas penampakan tersebut. Kita mengetahui perbedaan antara benda hidup dan mati dengan jelas malalui penampakannya. “jiwa “ merupakan  nama generik bagi kekuatan gaib yang menampakkan diri ketika kita mengenali kehidupan dan kesadaran. Lebih jauh, ketika kita mengenali jiwa dalam benda lain, secara simultan kita mengenalinya dalam diri kita. Melihat penampakan jiwa di luar dunia bearti mengalami kehadiran jiwa di dalam dunia. Kehidupan dan kesadaran merupakan sifat-sifat yang kita temukan dalam diri kita pada saat melihatnya pada yang lain.

Ada tingkatan-tingkatan jiwa, yang bearti bahwa kekuatan gaib ini lebih intens dan berpengaruh dalam suatu makhluk ketimbang salam sesuatu yang lain. Klasifikasi makhluk menjadi benda mati, tumbuhan, hewan, manusia, dan malaikat merupakan salah satu cara untuk mengakui adanya tingkatan jiwa yang berbeda-beda. Jiwa yang paling intens dan , pada saat yang sama, paling kompleks dan berlapis-lapis ditemukan dalam manusia. Secara lahiriah, ini muncul dalam keragaman aktivitasnya yang tak terbatas, yang dengan jelas terkait dengan perbedaan besar dalam kecerdasan dan kemampuan. Karena daya jiwanya yang beragam dan komprehensif ini, manusia dapat menangkap dan meniru semua aktivitas yang muncul di dunia melalui modalitas jiwa yang lain.

Dalam membahas jiwa manusia, teks-teks sering mengelaborasi hubungan erat antara jiwa dan kosmos. Begitu miripnya jiwa dan dunia sehingga keduanya bahkan dapat dipandang sebagai gambar dan cermin. Karena keduanya salin memantulkan gambar, mereka sering disebut “mikrokosmos” dan “makrokosmos”.

Hubungan antara mikrokosmos dam makrokosmos dipahami sebagai sesuatu yang menyerupai hubugan subjek-objek. Jiwa manusia adalah subjek sadar yang dapat menjadikan seluruh alam semesta sebagai obejeknya. Begitu eratnya kaitan jiwa dan alam semesta sehingga mengunakan ungkapan Tu weiming, hubungan keduanya dengan tepat dapat disebut “organismik”. Jiwa manusia dan dunia dapat dipandang sebagai satu organisme yang memiliki dua wajah. Kosekuensinya, tidak ada mikrokosmos tanpa makrokosmos, dan tidak ada makrokosmos tanpa mikrokosmos. Peran kosmik manusia yang sangat vital selalu ditegaskan. Diakui bahwa makrokosmos muncul dalam alam nyata sebelum manusia, tetapi juga dipahami bahwa makrokosmos ada agar manusia muncul dan kemudian belajar sebagaimana menjadi manusia. Tanpa manusia (atau, kita dapat menduga, makhluk serupa,) tidak ada alasan bagi alam semesta untuk mengada. Teologi selalui diakui.

Dalam bahasa yang lebih religius, ini berarti bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan tujuan khusus memahkotai prestasinya dengan manusia, satu-satunya makhluk yang diciptakan menurut citra-nya dan mampu berperan sebagai khalifa-Nya. Hanya manusia yang dapat mencintai Tuhan, karena cinta sejati menuntut cinta terhadap yang dapat dicintai baginya saja. Jika kita mencintai tuhan dengan tujuan agar memperoleh hadiah atau keuntungan, sebenarnya kita tidak mecintai Tuhan, tetapi mencintai hadiah atau keuntungan. Tidak ad yang dapat mencintai tuhan demi tuan semata-mata dan tanpa motif tersembunyi kecuali makhluk yang diciptakan menutur citra-Nya. Tuhan menciptakan manusia begitu tepat sehingga mereka dapat memverifikasi dan merealisasikan citra ketuhanannya dan mencintai penciptanya, yang dengan begitu dapat berpartipasi dalam rahmat-Nya yang tak terhingga dan tiada akhir.

Dalam tradisi intelektual, tujuan tertinggi mengkaji makrokosmos adalah memahami daya dan kemampuan mikrokosmos. Dengan mamahami objek, kita secara simultan dapat memahami kemampuan dan potensi subjek. Kita tidak dapat mengkaji alam dunia tanpa memahami diri kita sendiri, dan kita tidak dapat memahami diri kita sendiri tanpa memahami kebijaksanaaan yang inheren dalam alam dunia.

Realitas sosial sering dikaji untuk tujuan yang sama sebagai sarana untuk memahami jiwa manusia. Bukan tidak biasa bagi para filosof Muslim untuk memberikan deskripsi tentang masyarakat ideal. Akan tetapi, mereka tidak tertarik pada mimpi utopis yang begitu sering menyibukkan para teoretisi politik modern. Sebaliknya, mereka ingin memahami dan mendeskripsikan pebagai potensi jiwa manusia yang tampak nyata melalui aktivitas sosial dan politik. Mereka tidak ingin menetapkan program, tetapi sebaliknya ingin mengilustrasikan para filosof yang bercita-cita bahwa setiap sifat dan kekuatan jiwa, setiap akhlak yang baik dan buruk, dapat dipahami dalam keragaman jenis manusia. Ketika para pencari kebijaksanaan memahami diri mereka sebagai mikrokosmos masyarakat, mereka dapat berupaya mengetahui dan merealisasikan kekuasaan jiwa yang sebenarnya, raja filosof yang sesunguhnya, yaitu intelek yang tugasnya adalah mengatur jiwa dan badan dengan penuh kebijaksanaan dan cinta.

Jika para filosof menganalisa jiwa tumbuhan, hewan, manusia dan bahkan malaikat, dan jika mereka mendeskripsikan semua kemungkinan manusia untuk menjadi (becoming) dalam konteks etika dan sosial, tujuan mereka adalah mengintergrasikan segala sesuatu dalam alam semesta ke dalam visi tauhid besar yang hierarkis. Tampak jelas bagi mereka bahwa intelek yang ada pada kita cahaya jiwa yang cerdas dan intelejibiel merupakan dimensi yang paling komprehensif dari subtansi manusia. Intelek sejalah yang dapat melihat, memahami. Memverifikasi, dan merealisasikan haqq. Intelek saja yang memberi kehidupan, kesadaran, dan pemahaman bukan hanya kepada jiwa kita, tetapi juga kepada semua tingkatan jiwa. Hanya intelek yang mampu menangkap dan merealisasikan tujuan dan kehidupan manusia dan semua kehidupan.

MENGEMBALIKAN INTELEK KEPADA TUHAN

Jadi, apakah intelek yang menjadi sumber dan tujuan pengetahuan intelektual ini? Mendefinisikannya adalah mustahil, karena intelek itu sendiri adalah pemahaman dasar yang memungkinkan untuk melakukan pendefinisikan. Ia tidak dapat dibatasi oleh sinarnya sendiri. Namun, kita dapat mendeskripsikannya dalam konteks perannya dalam asal-usul alam semesta yang melaluinya segala sesuatu diciptakan. Kita juga dapat menggambarkannya dalam kaitannya dengan kembalinya manusia menuju Tuhan, yang hanya dapat dialami sepenuhnya oleh intelek yang telah teraktualisasikan, yaitu citra yang sadar diri akan Tuhan. Saya akan membahas asal muasal kosmos terlebih dahulu.

Tradisi hikmah secara khusus membahas lahirnya kosmos yang diawali dengan penciptaan oleh Tuhan atau emanasi makhluk pertama, yang diberi sejumlah nama dalam teks-teks, seperti akal, ruh, kata, pena, dan cahaya. Sesuatu muncul dari satu prinsip dalam urutan intelijibel yang pasti dan sesuai dengan hierarki yang tetap dan diketahui (yakni, diketahui oleh Tuhan dan intelek, tetapi tidak harus oleh kita). Jelaslah bagi para pemikir Muslim bahwa Tuhan yang Esa mencipta dengan cerdas, dan bahwa manifestasikan pertama realitas-Nya, wujud yang mungkin (kontigen) yang terdekat dengan kesatuan-Nya, tahap aktualitas penciptaan yang terdekat dengan kesederhanaan-Nya yang tertinggi dan mutlak, adalah kecerdasan dan kesadaran murni. Dalam kesadaran ini tergambar alam semesta dan jiwa manusia.

Kecerdasan yang hidup ini merupakan instrumen yang dengannya tuhan merencanakan, menata, mengatur dan menetapkan seluruh makhluk, dan ia berada pada akar setiap subjek dan objek. Realitas tunggal inilah yang menjadi prinsip alam semesta dan jiwa manusia yang sadar. Di antara semua makhluk, hanya manusia yang dapat memanifestasikan cahayanya secara utuh dan murni, cahaya yang dalam bahasa Al-Quran disebut “ruh yang ditiupkan kepada Adam oleh Tuhan”. “kejatuhan “ Adam tidak lain daripada redupnya cahaya ini.

Jika kita melihat intelek dari sudut pandang kembalinya manusia kepada tuhan, kita melihat bahwa tujuan eksistensi manusia adalah mengingat Tuhan dan mengingatkan citra ilahi kita dengan membangkitkan intelek didalamnya. Tugas para pencari kebijaksanaan adalah menemukan kembali dalam dirinya kesadaran yang bersinar yang memenuhi alam semesta. Penemuan ini merupakan hasil dan terpenuhinya kemungkinan manusiawi. Meskipun intelek secara bawaan telah ada dalam setiap jiwa, manusia atau lainnya, hanya pada manusia ia menjadi benih yang dapat bertunas dan kemudian tertanam, tumbuh, menguat, dan teraktualisasikan sepenuhnya.

Jiwa manusia adalah subjek yang mengetahui dan sadar yang memiliki kemampuan untuk menjadikan seluruh alam semesta dan segala yang ada didalamnya sebagai objeknya. Nemun, ia biasanya buta terhadap potensinya sendiri, dan membuat warna jika tidak sepenuhnya manusiawi. Jiwa perlu belajar bagaimana menjadi manusia, dan menjadi manusia tidaklah mudah. Sebagian besar dari kita harus diingatkan oleh para nabi tetang apa makna menjadi manusia, dan bahkan “para intelektual” yang bersinar, dengan segala bakatnya, menempuh jalan terjal dan mendaki di hadapannya jika mereka ingin menggapai tujuan.

Tradisi intelektual berpendapat bahwa sala satu jalan terbaik untuk memulai belajar menjadi manusia adalah membedakan sifat-sifat jiwa manusia dari sifat-sifat jiwa lainnya. Di sini kembali pada pembahasan tentang jiwa tumbuhan dan hewan, yang mengambarkan potensi pembatas eksistensi yang berjiwa. Semua perintah moral untuk mengatasi insting muncul dari pemahaman bahwa hewa tidak dapat memanifestasikan potensi intelektual dan ontologisnya secara utuh. Ini tidak mencemarkan sifat-sifat hewani, karena sifat-sifat tersebut juga memainkan peran penting dalam jiwa manusia. Masalahnya ini agaknya menjadi salah satu prioritas. Manusia perlu menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Mereka harus menyusun dunia dan tujuan-tujuannya sendiri dengan cara yang cerdas, dan ini bearti bahwa mereka harus memahami segala sesuatu dalam kaitannya dengan kebenaran-kebenaran yang mengatur kosmos, dan semua itu berawal dari tauhid.

Jadi, jiwa adalah kutub subjektif dari realitas yang tampak, dan padanannya adalah alam semesta, kutub yang objektif. Jiwa dalam tingkat manusiawinya memiliki kemampuan unik untuk mengetahui segala sesuatu. Namun, jiwa hanyalah potensi untuk mengetahui segala sesuatu. Ia bukan aktualitas mengetahui. Aktualitas adalah sifat intelek. Setiap tindakan mengetahui mengaktualisasikan potensi jiwa untuk mengetahui da  mendekatkan ke cahaya akal dan intelijibel sebagai intinya. Akan tetapi, apa persisnya batas potensi jiwa? Apa yang dapat diketahuinya? Apa yang harus ia upayakan untuk mengetahui? Tradisi intelektual menjawab bahwa tidak ada batas bagi potensi jiwa karena tidak ada sesuatu yang ada yang tidak dapat diketahui oleh jiwa. Tujuan belajar adalah mengetahui segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui. Namun, sesuatu yang dapat diketahui perlu diprioritaskan. Jika kita mencari pemahaman dengan cara dan urutan yang tidak benar, tujuan tersebut tetap tidak akan dapat dicapai selamanya.

Selama jiwa tetap sibuk mencari hikmah dan belum menaktualisasikan potensinya secara utuh, ia tetap jiwa yaitu, diri yang sadar dengan potensi dapat memperoleh kesadaran yang lebih besar. Hanya ketika ia mencapai aktualitas semua pengetahuan dalam pusat wujudnya, ia dapat disebut “intelek” dalam pengertian yang semestinya. Pada titik ini, ia kemudian mengetahui dirinya sebagaimana yang dimaksud. Ia mengungkap hakikatnya yang sejati, dan ia mengembalikan kedudukannya yang semestinya dalam hierarki kosmik. Para filosof sering menyebut jiwa manusia “akal pontesial” (aql bi al-quwwah) atau “intelek material” (aql hayulani), yang bearti bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu. Sekali jiwa naik melalui tahap-tahap pengaktualisasikan kesadarannya sendiri dan mencapai kesempurnaan bawaannya, ia disebut “akal aktual” (aql bi al-fil).

Sering kali, para filosof menyebut aktualisasi akal ini dengan istilah Al-Quran “keselamatan” (najah) atau “kebahagian” (sa’adah). Mereka mungkin sependapat dengan Tu weiming, yang menulis, “keselamatan bearti realisasi secara utuh realitas antropokosmik yang inheren dalam watak manusia”. Bagi mereka, realitas antropokosmik ini adalah intelek yang melahirkan makrokosmos dan mikrokosmos, dan itu bersifat bawaan bagi sifat manusia, sifat yang diciptakan menurut citra Tuhan, dan indentik dengan cahaya akal dan intelijibel-Nya.

PENCARIAN AKAN KEMAHAPENGETAHUAN

Jika para filosof Muslim terlihat pencarian akan kebijaksanaan sebagai pencarian akan pengetahuan tetang segala sesuatu, dapatkah kita menyimpulkan bahwa mereka hanya mengikuti Aritoteles, yang banyak mengatakannya dari awal karyany Metaphysics? Saya kira tidak. Mereka akan mengatakan bahwa mereka mencoba hidup sesuai dengan potensi manusia. Aristoteles juga memahami realitas potensi manusia, dan karena itulah mereka menghormati dan memangilnya “Guru pertama” (al-mu allim al-awwal). Mereka akan mengingatkan kita bahwa Al-Quran membahas potensi manusia secara agak eksplisit. Al-Quran memberi tahu kita bahwa Tuhan telah mengajarkan kepada Adam semua nama (QS Al-Baqarah [2]: 31), bukan hanya sebagian. Mereka mungkin juga menunjukkan bahwa pencarian akan kemahapengetahuan ini secara implisit, jika bukan secara eksplisit, diakui bukan hanya oleh semua tradisi kebijaksanaan, tetapi juga oleh seluruh upaya sains modern. Akan tetapi, daari perspektif mereka, kemahapengetahuan hanya dapat ditemukan dalam mahamengetahui, dan satu-satunya makhluk yang mahamengetahui dalam pengertian yang sebenarnya adalah akal yang sepenuhya aktual, sinar cahaya Tuhan itu sendiri. Kemahapengetahuan, dengan kata lain, tidak dapat ditemukan dalam kumpulan data, kumpulan fakta, dan jaringan teori. Ia bukanlah realitas “objektif”, tetapi pengalaman “subjektif” meskipun tidak ada perbedaan yang dapat ditarik antara subjek dan objek ketika sesorang telah mengaktualitasikan wujudnya sebagai maha mengetahui.

Tidak ada yang membedakan pencarian intelektual islam dengan tujuan ilmiah modern yang lebih  nyata ketimbang penafsiran yang berbeda tentang pencarian akan kemahapengetahuan. Baik para intelektual Muslim dan saintis modern berupaya mengetahui segala sesuatu, tetapi intelektual Muslim melakukan hal itu dengan melihat akar, prinsip, dan noumena, dan dengan melakukan sintesis tentang semua pengetahuan dan penyatuan subjek yang mengetahui dengan objeknya. Sebaliknya, para saintis modern melihat cabang-cabang, aplikasi-aplikasi dan fenomena, dan berupaya menganalisis objek dan data yang berlipat ganda.

Intelektual tradisional melakukan pencarian akan kemahapengetahuan sebagai individu. Dia mengetahui bahwa inilah tugas yang hanya dapat dilakukan dari dalam, dan bahwa hal itu hanya dapat dilaksanakan dengan meraih keutuhan kemanusiaan, dengan segala sesuatu yang diutuhnya secara etis dan moral. Saintis modern melakukan pencarian akan fakta dan informasi sebagai upaya kolektif, yang mengetahui bahwa dia adalah satu pengerak yang tidak signifikan dalam objek yang sangat kompleks. Saintis modern melihat kemahapengetahuan sebagai sesuatu yang hanya dapat dicapai oleh upaya sakral dan sains, karena sains saja yang memiliki metodologi yang benar-benar istimewa dan instrumen lengkap yang brilian. Seorang saintis jarang mencurahkan pemikiran pada kemungkinan bahwa semua pengetahuan memberikan tuntunan etis terhadap orang yang mengetahui. Jika pun pada kepedulian etis, hal itu dilakukan bukan sebagai sanitis, tetapi sebagian ahli etika atau filosof , atau penganut agama. Tidak ada ruang bagi etika dalam sains.

Para pencari tradisional kebijakan bertujuan mengaktualisasikan sluruh potensi kecerdasan untuk memahami segala sesuatu yang signifikan bagi tujuan manusia, dan tujuan-tujuan itu didefinisikan dalam kaitannya dengan metafisika, kosmologi, psikologi, dan etika yang menjadikan Realitas Tertinggi sebagai ukuran kemanusiaan. Para pencari fakta modern bertujuan untuk mengakumulasikan informasi dan menemukan teori-teori yang lebih kompleks untuk mencapai yang mereka sebut “kemajuan”. Dengan kata lain, mereka ingin mencapai transformasi manusia berdasarkan psoeduo-kemtlakan ilmiah, jika bukan ideologi politik.

Pencarian akan hikmah bersifat kuanlitatif, karena ia bertujuan mengaktualisasikan semua sifat yang ada sepenuhnya menurut citra Tuhan dan disebut dengan nama-nama Tuhan. Pencarian ilmiah akan pengetahuan dan kecakapan teoretis bersifat kuantitatif, karena ia bertujuan memahami dan mengontrol keragaman benda yang terus berkembang.

Semakin dalam intelektual tradisional mencari kemahapengetahuan, semakin dalam dia menemukan kesatuan jiwanya dan keterkaitan organismik dengan dunia. Semakin dalam saintis moder mencari data, semakin tengelam dia ke dalam keragaman dan inkonherensi, meskipun muncul klaim bahwa teori-teori sains yang lengkap suatu saat akan menjelaskan segala sesuatu.

Pencarian tradisional akan hikmah mendorong pada integrasi, sintesis, dan visi antropokosmik global. Pencarian modern akan informasi dan kontrol mendorong pada pengumpulan fakta yang bertambah dan perkembangan bidang pengetahuan yang semakin spesialis dan sempit. Hasil akhir dari pencarian modern adalah partikularisasi, divisi, partisi, pemisahan, inkoherensi, saling ketidakterikatan, dan kekacauan. Tek seorang pun mengetahui kebenaran pernyataan ini lebih baik ketimbang para profesor universitas, yang sering kali begitu sangat spesialis sehingga mereka tidak dapat menjelaskan riset mereka kepad koleganya sendiri di jurusannya apalagi kepada kolega di jurusan lain.

KESIMPULAN

Bagi tradisi intelektual islam, kajian terhadap alam semesta merupakan upaya holistik bercabang dua. Dalam satu hal, tujuannya adalah mengambarkan dan mendiskripsikan alam penampakan. Dalam hal ini, tujuannya adalah menangkap realitas terdalam dari penampakan dan subjek yang mengetahui penampakan tersebut. Guru-guru agung disiplin inis selalu melihat bahwa mustahil memahami objek eksternal tanpa memahami subjek yang memahami. Ini berarti bahw metafisika, kosmologi, dan psikologi merupakan bagian-bagian intergral dari pencarian intelektual. Tujuannya adalah meluhat penampakan duniawi, prinsip-prinsip inteljibel, dan diri yang cerdas dalam satu visi yang intergral dan simultan. Diapahami bahwa kecerdasan tidak hanya kecerdasan yang dapat menangkap dan memahami hakikat sesuatu, tetapi juga kecerdasan yang melahirkan sesuatu itu. Segala sesuatu yang dapat diketahui telah ada secara tersembunyi dalam kecerdasan, karena segala sesuatu muncul dari kecerdasan dalam proses asal muasal kosmos.

Visi antropokosmik memungkinkan tidak adanya dikotomi antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui. Struktur dan tujuan upaya intelektual menghindarkan lepasnya pandangan tentang ikatan ontologis yang mengikat keduanya. Melakukan pemisahan itu berarti melupakan tauhid dan jatuh ke dalam kekacauan keragaman dan egosentrisme. Kebodohan akan realitas subjek yang mengetahui mendorong kepada pengunaan pengetahuan sebagai sarana mencapai tujuan-tujuan khayalan, dan kebodohan akan realitas yang diketahui mengubah dunia menjadi benda dan objek yang dapat dimaniputasi untuk tujuan-tujuan yang tercerabut dari visi tentang sifat manusia yang sebenarnya.

Potensi pemahaman manusia menetukan potensi manusia untuk menjadi. Mengetahui berarti menjadi. Mengabaikan realitas, baik objek maupun subjek, berarti jatuh ke dalam kebodohan, kesalahan, dan khayalan. Alam semesta yang termiskinkan dan diratakan adalah gembaran cermin jiwa yang termiskinkan dan diratakan. Kematian Tuhan tidak lain hanyalah kematian intelek manusia. Bencana ekologis adalah konsekuensi tak terelakan dari kekacauan psikis dan spritual. Alam dan diri bukanlah dua realitas yang terpisah, tetapi dua sisi dari mata uang yang sama, mata uang yang dicetak menurut citra Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Close Menu