ULAR

ULAR

Serial Quran dan Sains

Ular cukup banyak disebut dalam Alquran. Kebanyakan ayat-ayat tersebut berkaitan dengan kisah mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Musa. Dalam dua ayat di bawah ini digambarkan apa yang terjadi saat pertemuan antara Nabi Musa dan Fir‘aun.

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ۝ حَقِيقٌ عَلَىٰ أَن لَّا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ قَدْ جِئْتُكُم بِبَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ۝ قَالَ إِن كُنتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ۝ فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ۝

Dan Musa berkata, “Wahai Fir‘aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Jika benar engkau membawa sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.” Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 104-107)

قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ۝ قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَٰهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ۝ قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِينٍ۝ قَالَ فَأْتِ بِهِ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ۝ فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ۝

Dia (Musa) berkata, “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.” Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan   engkau ke dalam penjara.” Dia (Musa) berkata, “Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (bukti) yang nyata?” Dia (Fir‘aun) berkata, “Tunjukkan sesuatu (bukti yang nyata) itu, jika engkau termasuk orang yang benar!” Maka dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya (Alquran, Surah asy-Syu‘arā’/26: 28-32)

Sebelum pertemuan kedua insan ini berlangsung sebagaimana digambarkan pada dua ayat di atas, terjadi dialog antara Musa dan Allah. Dalam dialog tersebut tampak betapa Musa masih memperlihatkan sisi kemanusiaannya. Ia masih meragukan kemampuannya sendiri dalam menghadapi keingkaran Fir‘aun. Karena itu Allah membesarkan hati Musa dan meyakinkannya dengan janji memberinya mukjizat yang membuktikan kebenaran yang dibawanya.

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ۝ فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَن لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَىٰ۝ وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ۝ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ۝ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ۝ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ۝

Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat  itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa.” “Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? ” Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Dia (Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (Alquran, Surah Tāhā/20: 15-20)

اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ ۖ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ۝

Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, dia akan keluar putih (bercahaya) tanpa cacat, dan dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu apabila ketakutan. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan engkau pertunjukkan) kepada Fir‘aun dan para pembesarnya. Sungguh, mereka adalah orang-orang fasik.” (Alquran, Surah al-Qaṣaṣ/28: 32)

فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ۝

Maka dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya (Alquran, Surah asy-Syu‘arā’/26: 32)

Ular disebut dengan redaksi tsu‘bān, ḥayyān, dan jān. Dalam cerita Nabi Musa dikisahkan bahwa tongkat yang ia lemparkan berubah menjadi seekor ular yang merayap (ḥayyatun tas‘ā) (Tāhā/20: 20). Di tempat lain disebutkan tongkat itu bergerak   gerak laksana seekor ular yang gesit (ka‘annahā jān) (al-Qaṣaṣ/28: 31). Disebutkan pula bahwa tongkat itu berubah menjadi ular yang sebenarnya (ṡu‘bānun mubīn) (al-A‘rāf/7: 107, asy-Syu‘arā’/26: 32). Perbedaan ungkapan itu bisa dipahami dengan menjadikan beberapa peristiwa itu sebagai sebuah proses. Artinya, pada awalnya tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, kemudian berubah menjadi seekor ular kecil yang gesit, dan akhirnya menjadi ular besar yang sebenarnya. Ada pula yang menafsirkan bahwa tongkat Nabi Musa telah berubah menjadi seekor ular yang lincah dan gesit seperti ular kecil, namun sangat menakutkan seperti ular besar. Sebagian mufasir yang lain mengatakan bahwa perbedaan ungkapan itu disebabkan perbedaan tempat terjadinya mukjizat- mukjizat terjadi berkali-kali di tempat yang berbeda. Menurut yang terakhir ini perubahan bentuk tongkat menjadi ular jantan yang besar terjadi di hadapan Fir‘aun, sedangkan perubahannya menjadi ular kecil terjadi pada malam ketika Nabi Musa diseru Allah untuk pertama kalinya. Ada juga yang memahaminya sebagai berikut: ṡu‘bānberarti ular yang panjang dan lincah, ḥayyah berarti tumpukan badan ular yang menyatu dan menakutkan, sedang jān berarti ular yang  sangat menakutkan. Perbedaan penampakan ular itu dengan demikian disesuaikan dengan tempat, sasaran, dan tujuan penampakannya. Banyak riwayat yang menjelaskan bentuk ular tersebut, demikian juga cahaya yang bersinar dari tangan beliau, tetapi riwayat-riwayat tersebut tidak dapat diyakini kesahihannya. Yang dapat kita pastikan adalah bahwa keduanya adalah peristiwa luar biasa yang nampak dengan jelas pada diri dan tongkat Musa, yang itu menjadi bukti kebenaran klaimnya sebagai utusan Allah.

Perbedaan penyebutan bentuk ular dalam kisah Nabi Musa merupakan salah satu bukti kehebatan Alquran dalam memilih kata-kata yang harmonis sesuai situasi dan konteks kisah secara keseluruhan. Kalau tongkat itu hanya berubah menjadi seekor ular yang merayap, mengapa Musa melihat ular itu bergerak gesit dan seberapa besar ular itu hingga membuat Fir‘aun begitu takut ketika Musa melemparkan tongkatnya, masih perlu jawaban.

Pertemuan Musa dan Fir‘aun merupakan kisah yang sering diulang dalam Alquran, bahkan bisa dikatakan kisah ini adalah peristiwa yang paling banyak diulang dari sekian banyak pengulangan kisah-kisah dalam Alquran. Pemunculan mukjizat ular   ini dapat dipahami sebagai upaya Alquran untuk menunjukan arti penting pertemuan Musa dan Fir‘aun; bahwa pada setiap zaman akan ada perseteruan antara yang hak dan batil, yang berkesudahan dengan kemenangan yang hak dan berasal dari Allah.

Dalam Surah Tāhā/20: 66 dan asy-Syu‘arā’/26: 44, ular-ular yang dilemparkan oleh penyihir-penyihir Fir‘aun diungkapkan dengan lafal ibāl. ibāl (plural) dalam dua ayat ini oleh para mufasir ditafsirkan sebagai tali, yakni tali yang terlihat oleh mata manusia. Tali-tali tersebut dengan pengaruh sihir mereka tampak seperti ular-ular yang bergerak dan menjalar untuk menakuti Nabi Musa. Akhirnya, berkat mukjizat yang diberikan Allah, Nabi Musa melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular besar yang memakan “ular-ular” para penyihir Fir‘aun. Ini membuktikan betapa sihir tidak akan dapat mengalahkan mukjizat Allah (asy-Syu‘arā’/26: 69).

Kembali ke Surah al-Qaṣaṣ/28: 30-35. Pada rangkaian ayat-ayat tersebut tampak betapa Nabi Musa agak takut dan ragu untuk bernegosiasi dengan Fir‘aun dan para pejabatnya. Sementara ulama mengatakan bahwa Musa bukannya ragu untuk menjalankan misi tersebut. la sangat yakin akan perintah dan janji Allah, hanya saja ia   belum sepenuhnya mendalami apa yang Allah bebankan kepadanya. Lebih-Iebih, Musa sedang mempunyai masalah yang belum terselesaikan dengan Fir‘aun saat itu. Musa dikejar-kejar tentara Fir‘aun karena salah seorang anak buahnya mati di tangan Musa. Belum lagi masalah itu selesai, Allah justru memintanya menemui Fir‘aun dan mengingatkannya akan eksistensi Allah. Karena pertimbangan itu ia menyatakan keberatannya dari sudut manusiawinya, suatu hal yang kemudian dijawab oleh Allah dengan mengijinkan Harun, saudara Musa, untuk ikut dengannya dalam misi ini.

Para mufasir menyatakan bahwa ular masuk dalam kelompok hewan yang boleh dibunuh meski sedang dalam kondisi berihram haji atau umrah. Ular tidak masuk dalam golongan hewan yang Allah haramkan membunuhnya kepada orang yang sedang berihram dalam ayat berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُم مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu  sedang ihram (haji atau umrah). Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah, atau kafarat (membayar tebusan dengan) memberi makan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Dan Allah Mahaperkasa, memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 95)  

Yang dimaksud dengan binatang buruan dalam ayat ini adalah binatang yang diperbolehkan untuk dimakan. Dengan demikian, gagak, elang, kalajengking, tikus, anjing buas, dan ular tidak termasuk di dalamnya. Mereka juga memperkuat pendapat ini dengan hadis berikut.

Ada lima hewan (bertabiat) buruk yang boleh dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram. Mereka itu adalah ular, burung gagak berbulu campuran antara hitam dan putih, tikus, anjing ganas, dan kalajengking (Riwayat Muslim dari Ā’isyah)  

Ular banyak disebut juga dalam banyak hadis, baik sebagai hewan nyata maupun sebagai tamsil. Ular  disebut dalam hadis yang mengisahkan peristiwa ketika para sahabat sedang mendengarkan Surah al-Mursalāt diucapkan oleh Rasulullah.

Ketika kami sedang bersama Rasulullah di dalam sebuah gua, turunlah kepada beliau Surah al-Mursalāt. Kami pun mendengarnya langsung dari mulut beliau yang masih basah mengucapkannya. Tiba-tiba seekor ular keluar (dari liangnya). Rasulullah berkata, “Ayo, bunuhlah ular itu!” Kami bergegas mengejarnya, namun hewan itu sudah terlanjur kabur. Rasulullah pun bersabda, “Ia telah diselamatkan dari gangguan kalian, seperti halnya kalian telah diselamatkan dari gangguannya.” (Riwayat al-Bukhāri dari Ibnu Mas‘ūd) 

Riwayat ini dapat saja diartikan bahwa Nabi mengingatkan bahwa di dalam hati manusia masih banyak niat jahat. Nabi juga melarang membunuh ular yang hidup di dalam rumah melalui sabdanya,

Diriwayatkan dari Abus-Sa’ib, mantan budak Hisyām bin Zuhrah, bahwa suatu hari ia bertandang ke kediaman Abū Sa’id al-Khudri. Ia berkata, “Di rumahitu ku dapati Abū Sa’id sedang salat. Karena itu aku duduk menunggunya menyelesaikan salat. Tiba-tiba aku mendengar sebuah gerakan dari arah kayu penyangga atap di dalam rumah tersebut. aku menoleh, dan kulihat seekor ular di sana. Aku pun bergegas mendekatinya dengan maksud membunuhnya. Abū Sa’id (yang masih salat ketika itu) memberi isyarat kepadaku agar aku duduk, membiarkan begitu saja ular tersebut. akupun duduk. Usai salat, ia menunjuk ke  arah sebuah rumah di tengah perkampungan., sambil berkata, “Tidakkah kau lihat rumah di sana itu?” “Ya, aku lihat” jawabku. Ia melanjutkan perkataannya. “Dulu di rumah itu tinggall seorang pemuda yang baru saja melangsungkan pernikahannya. Ketika itu kami (termasuk pemuda itu) sedang pergi bersama Rasulullah sebagai tentara pada perang Khandaq. Pada suatu siang yag terik, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang menemui istrinya. Beliau pun mengizinkannya pulang. “Bawalah senjatamu! Aku khawatir Bani Quraizah akan membunuhmu” pesan Rasulullah. Pulanglah pemuda itu. Tak berapa jauh dari rumahnya, ia mendapati istrinya sedang berdiri di antara dua pintu (pintu rumahnya dan pintu tetangganya). Melihat kejadian tersebut, marahlah Ia. Ia hampir saja melemparkan tombaknya ke arah istrinya karena terbakar cemburu. Sebelum semuanya benar-benar terjadi, istrinya berteriak, “Jangan kau lempar tombakmu. Masuklah lebih dulu ke rumah, maka engkau akan tahu apa yang memaksaku keluar rumah!” Ia lalu masuk rumah dan ia melihat seekor ular melingkarkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan cepat ia menusuk tubuh ular itu dengan tombaknya hingga tembus. Ia pun menenteng ular itu keluar rumah, ketika ular itu tiba-tiba meronta (dan menggigit sang pemuda). Tidak di ketahui apakah ular atau pemuda itu yang tewas. Lalu kami menghadap Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi. “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali” minta kami. Beliau menjawab, “Sungguh, di Medinah ini ada sekelompok jin yang sudah masuk Islam. Jika kalian melihat salah satu dari mereka (dalam wujud ular) maka usirlah ia secara halus selama tiga hari. Bila setelah tiga hari ia tetap saja enggan meninggalkan rumah, bunuhlah ia karena hewan yang demikian itu adalah setan!” (Riwayat Muslim)

Melalui hadis berikut Nabi menganjurkan para sahabatnya untuk hanya membunuh ular yang berekor buntung dengan dua lajur putih memanjang di punggungnya.

Aku mendengar bahwa Rasulullah melarang kami membunuh ular yang ada di dalam rumah, kecuali ular yang berekor pendek (atau yang putus ekornya) dan mempunyai du garis lurus berwarna putih di punggungnya. Ular yang seperti itu mampu membutakan mata manusia dan membunuh janin di dalam kandungan ibu hamil. (Riwayat Muslim dan Amad dari Abū Lubābah al-Anṣāri)

Ular juga digambarkan sebagai makhluk yang akan muncul pada Hari Kebangkitan. Mereka yang lalai dalam berzakat akan diikuti terus dan dipatuk oleh ular belang dengan dua taring yang mengerikan.

Barang siapa diberi Allah harta, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka harta itu akan diubah wujudnya oleh Allah menjadi ular belang yang memiliki dua taring. Ular itu akan mematuknya dan menggigitnya erat dengan dua sisi mulutnya, sambil berkata, “Aku adalah hartamu. Aku adalah simpananmu.” Lalu ular itu pun membaca ayat, “Janganlah sekali-kali orang yang kikir… hingga akhir ayat.” (Riwayat al-Bukhāri dari Abū Hurairah) 

 

Hubungan Ular dan Manusia

Dalam kitab suci beberapa agama, ular dianggap sebagai musuh atau setidaknya ancaman bagi manusia. Hal yang sama dapat pula kita pahami dari beberapa hadis di atas. Dalam kisah Mahabharata, Krishna kecil sebagai jelmaan Dewa Wishnu mengalahkan ular berkepala lima yang jahat. Sebaliknya, di beberapa belahan dunia ular dipuja dan ditinggikan, bahkan hingga saat ini. Dalam mitologi Hindu di India ular memperoleh kedudukan tinggi, hingga tidak ada yang berani membunuh ular kobra secara sengaja. Beberapa sekte Hindu bahkan mereka memuja dan “mengkreasikan” dewa ular. Sekte Manasa di India, misalnya, mempunyai Dewi Ular bernama Manasa. Sampai saat ini kita masih mudah menjumpai para wanita di India menuangkan susu di lubang ular, suatu hal yang sebenarnya tidak disukai ular itu sendiri.

Ular juga dipuja di sebagian wilayah Afrika, seperti Dahomey, Madagaskar dan sekitarnya. Pemujaan ini muncul setelah terjadi persentuhan budaya dengan para pemuja ular dari luar kawasan ini. Beda Dahomey beda pula Mesir Kuno. Di sini hubungan antara manusia dan ular telah berjalan sangat lama. Beberapa dewa ular “dikreasi”, seperti Apophis dan Set. Mahkota Fir‘aun juga selalu dihiasi patung ular kobra. Bangsa Sumeria pun demikian; mereka memiliki dewa ular bernama Ningizzida.

Suku-suku asli di Benua Amerika mempunyai hubungan erat dengan ular. Hal ini terutama tampak pada kebudayaan Aztec dan budaya di kawasan budaya Meso-America. Hal yang sama terjadi pada masyarakat Eropa Kuno, terutama Yunani dan   Romawi. Dalam mitologi Yunani, ular diasosiasikan dengan makhluk antagonis yang berbahaya dan mematikan, namun tidak dihubungkan dengan setan. Dalam budaya Cina, ular adalah salah satu dari 12 hewan suci yang menjadi nama shio dan dimasukkan dalam kalender Cina. Ular juga kita jumpai dalam lambang kedokteran, yang mewakili makna farmasi dan obat secara umum. Tampaknya hal ini terpangaruh oleh budaya masyarakat Yunani Kuno yang menganggap ular sebagai sang penyembuh.

Ular sebagai tanda kekuasaan Tuhan muncul sebagai mukjizat saat Nabi Musa berhadapan dengan Fir‘aun (al-A‘rāf/ 7: 107; Tāhā/20: 20; asy-Syu‘arā’/26: 32; al-Qaṣaṣ/28: 32). Ular yang ditinggikan Nabi Musa di padang gurun dipadankan dengan Yesus yang harus ditinggikan manusia agar memperoleh hidup yang kekal (Injil Yohanes 3: 14). Di sisi yang lain, ular juga dikaitkan dengan perbuatan jahat, sebagaimana terjadi di Taman Eden saat mulai membujuk Hawa (Kejadian 3: 1). Ular juga muncul sebagai ular tua, naga, sekaligus setan dan iblis yang ditangkap oleh malaikat dalam Wahyu 20: 2.

Ketidaksukaan manusia kepada ular hanyalah berdasarkan anggapan-anggapan yang sebenarnya kurang beralasan. Ini terjadi karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai sifat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan ular. Kasus kematian akibat gigitan ular sebenarnya sangat sedikit bila dibandingkan kasus kematian akibat penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan nyamuk, atau bahkan kematian karena kecelakaan di jalan raya.

Ular sejak lama telah dimanfaatkan manusia. Pada masa yang lebih terkini, bisa ular banyak dimanfaatkan sebagai serum, sedangkan empedu, darah, dan daging beberapa jenis ular, seperti kobra (Naja spp.) sudah sejak lama dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit oleh masyarakat di Asia Timur, terutama Cina. Di beberapa bagian dunia, terutama India, banyak ditemukan pertunjukan tarian ular dengan menggunakan ular King Cobra (Ophiophagus hannah) yang sangat berbisa. Dalam pertunjukan ini, ular King Cobra yang ditaruh di dalam sebuah wadah seolah menari mengikuti irama alat musik serupa suling. Ular sebetulnya tidak memiliki organ luar telinga, walaupun secara terbatas memilki organ telinga di bagian dalam. Dengan demikian, reaksinya terhadap suara suling lebih disebabkan gerakan fisik suling daripada suara yang dihasilkan oleh suling itu sendiri.

Kulit-kulit beberapa jenis ular, seperti ular sanca (Phyton reticulatus),   ular anaconda (Eunectes murnus) dan jenis ular lain yang berukuran cukup besar digunakan sebagai bahan tas, sepatu, dan aksesori lainnya. Citra yang kurang baik terhadap ular akibat dari dongeng, mitos, dan semacamnya, ditambah dengan rusaknya habitat ular dan nilai ekonominya yang cukup tinggi, menyebabkan penurunan drastis populasi ular di alam. Ular sebagai musuh biologis beberapa hama pertanian, seperti tikus, saat ini sudah jauh berkurang, atau bahkan sudah tidak ada lagi di banyak tempat. Di   beberapa tempat, sudah mulai ada usaha untuk melakukan reintroduksi beberapa ular sawah. Masyarakat petani di beberapa desa di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, sudah mulai melakukan hal tersebut dan melarang perburuan ular di desa mereka.

 

Perikehidupan Ular

Titinoboa cerrejonensis, fosil ular purba terbesar di dunia

Ular adalah kelompok hewan reptilia bertubuh bulat memanjang, tidak berkaki, dan semua jenisnya hidup sebagai pemangsa. Di dalam kelompok kadal, yang merupakan kerabat dekat ular, terdapat juga jenis-jenis kadal tak berkaki yang mirip ular. Perbedaan kadal tak berkaki dengan ular adalah tidak adanya kelopak mata dan daun telinga pada ular. Panjang tubuh ular bervariasi, dari yang hanya sepanjang 10 cm (thread snake, Leptotyphlops humilis) hingga yang lebih dari 5 meter, seperti anakonda (Eunectes murinus) yang tercatat 7,5 meter, atau ular sanca (Phyton reticulata) yang tercatat dalam rekor mencapai panjang 9 meter. Fosil ular purba Titinoboa cerrejonensis bahkan diketahui memiliki panjang tubuh mencapai 15 meter.

Kelompok ular berevolusi dari kelompok kadal yang hidup di bawah tanah atau perairan pada masa Cretaceous (150 juta tahun lalu). Penyebaran ular sampai dengan apa  yang dikenal saat ini dimulai pada masa Paleocene (sekitar 66-56 juta tahun lalu). Dari penelitian diketahui bahwa kelompok ular kobra adalah yang paling sukses dalam persebarannya. Hal ini terutama disebabkan suksesnya persebaran kelompok tikus yang menjadi mangsa utama ular kobra di berbagai tipe habitat.

Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Di daratan, kita dapat menjumpai ular hampir di semua tipe habitat, kecuali kawasan berhawa dingin (Selandia Baru, ujung utara Eropa dan Amerika) atau di gunung-gunung tinggi. Seperti hewan berdarah dingin lainnya, ular makin jarang ditemui di daerah yang berhawa dingin. Ular dapat ditemui hidup melata di tanah atau di atas pohon sepanjang hidupnya. Beberapa di antaranya dapat hidup di tanah dan sesekali memanjat pohon, atau hidup sepenuhnya atau sebagian waktunya di perairan (laut, rawa, sungai, atau danau).

Ular bergerak dengan beberapa cara, tergantung pada lingkungannya. Gerakan yang paling umum adalah berkelok-kelok dengan mengarah ke depan. Gerakan ini dilakukan ular, baik saat di air maupun di daratan. Saat bergerak di daratan, gerakan mendorong ular terbantu oleh bermacam objek menonjol yang dilaluinya, seperti batu, ranting, tanah tak rata, dan lainnya. Uniknya, setiap titik pada tubuh ular selalu melewati tempat yang dilewati oleh titik sebelumnya. Dengan demikian, ular dengan mudah dapat melewati daerah tumbuhan yang padat dan lebat sekalipun. Beda di daratan, beda pula saat di air. Ketika berenang di air, gerakan arus air yang disebabkan gerakan ular turut membantu ular bergerak maju.

Bergerak meliuk dan mengarah menyamping dilakukan oleh jenis-jenis ular yang hidup di kawasan yang tidak memiliki objek untuk “berpegang”, seperti kawasan berlumpur atau gurun pasir. Sebagai hewan berdarah dingin, seringkali ular ditemukan berjemur di pagi hari untuk menghangatkan tubuhnya sebelum melakukan aktivitas hariannya. Kebiasaan ini juga sangat membantu dalam proses pencernaan.

Kemampuan mata ular bervariasi. Beberapa jenis ular, seperti ular pohon,  dapat mengikuti gerakan mangsanya dengan presisi. Beberapa lainnya memiliki pandangan yang sangat lemah, misalnya ular yang hidup di lubang. Tidak seperti penglihatannya, daya pencium ular, yang menggunakan lidahnya, umumnya cukup baik. Bagian tubuh yang bersentuhan dengan objek atau tanah umumnya sensitif terhadap getaran. Ular dapat menciri getaran yang disebabkan gerakan makhluk di sekitarnya dengan sangat tepat. Beberapa jenis ular memiliki reseptor gelombang infra merah yang sensitif. Kemampuan ini dimiliki ular berkat adanya organ yang terletak di antara mata dan lubang hidung. Mereka  dapat “melihat” radiasi panas dari tubuh mangsanya.

Ular juga memiliki kemampuan untuk berganti kulit. Fungsi pergantian kulit antara lain: (1) mengganti kulit tua yang sudah aus; (2) membantu membuang parasit (kutu dan caplak) yang menempel di kulit; dan (3) memungkinkan ular untuk tumbuh lebih besar. Fungsi yang terakhir ini belum final dan masih diperdebatkan para ahli. Pergantian kulit pada ular muda mencapai tiga sampai empat kali dalam satu tahun. Pada ular dewasa, pergantian kulit hanya terjadi satu atau dua kali dalam setahun.  

Semua ular adalah pemangsa. Ular memakan binatang-binatang berukuran kecil, termasuk kadal, ular lain, mamalia kecil, burung, telur burung, ikan, keong, serangga, bahkan telur ikan. Karena bentuk giginya tidak memungkinkan ular merobek dan memotong mangsanya, maka mangsa ditelan utuh. Itulah mengapa ular selalu menyesuaikan ukuran mangsanya dengan ukuran tubuhnya. Anak ular sanca, misalnya, mula-mula memangsa belalang, kemudian kadal, hingga kijang atau babi hutan saat sudah dewasa. Pada bagian tengkoraknya, ular memiliki banyak keping-keping tulang yang saling bersambung. Sambungan-sambungan inilah yang membuat ular memiliki fleksibilitas dalam membuka rahang bawahnya. Dengan kemampuan seperti itu ular dapat menelan mangsa yang berukuran jauh lebih besar daripada kepalanya. Ular menelan mangsanya bulat-bulat, tanpa dikunyah. Gigi ular tidak berfungsi untuk mengunyah, melainkan sekadar untuk memegang mangsanya agar tidak terlepas. Umumnya ular menelan mangsanya dari bagian kepala lebih dahulu. Komposisi dan formasi gigi ular juga tidak seragam, tergantung pada keperluan dan jenis mangsanya. Ular pemakan keong, misalnya, punya lebih banyak gigi di sisi kiri rahangnya. Hal ini disesuaikan dengan Iingkaran kerang yang seringkali searah jarum jam. Setelah makan, ular akan “beristirahat” dan menunggu proses pencernaan makanannya berlangsung. Karena ular termasuk binatang berdarah dingin (ectothermic), maka suhu di sekelilingnya sangat berpengaruh terhadap proses pencernaan. Ular memerlukan suhu sekitar 30°C untuk dapat mencerna makanannya dengan baik. Suhu permukaan tubuhnya dapat naik sekitar 1°C pada saat proses pencernaan berjalan. Itulah sebabnya ular seringkali memuntahkan mangsanya apabila merasa terancam. Sebagian ular membunuh mangsanya dengan cara melilit, misalnya ular sanca kembang (Phyton reticulatus). Sebagian lainnya menggunakan bisa, seperti ular King Cobra (Ophiophagus hannah), ular weling/krait (Bungarus candidus), atau ular cabai (Maticora intestinalis).

Kebanyakan ular memiliki bisa yang lebih sering digunakannya untuk melumpuhkan atau membunuh mangsa daripada untuk mempertahankan diri. Bisa adalah modifikasi dari air ludah. Pada beberapa jenis, bisa disalurkan melalui taring yang berlubang. Bisa ular, sebagaimana air ludah, juga membantu ular mencerna makanannya. Ular-ular kanibal yang memangsa ular lain, misalnya King Cobra, memiliki pertahanan terhadap racun karena memiliki anti racun. Bisa ular adalah campuran yang kompleks dari berbagai protein yang diproduksi oleh kelenjar yang terletak di bagian belakang kepalanya. Bisa ular dapat dibagi dalam campuran neurotoxin (racun yang menyerang sistem syaraf), hemotoxin (racun yang menyerang sistem peredaran darah), cytotoxin, bungarotoxin, dan masih banyak lagi, yang pada dasarnya mempengaruhi fungsi dan sistem tubuh dengan berbagai cara.

Dalam proses perkembangbiakannya, semua ular menganut pembuahan di dalam (internal fertilization), meskipun cara reproduksinya bervariasi. Ular berkembang biak dengan bertelur. Jumlah telur ular berkisar dari hanya beberapa butir saja sampai dengan ratusan butir. Ular bertelur di lubang tanah, lubang kayu lapuk, atau di bawah timbunan serasah. Umumnya ular meninggalkan telurnya begitu saja dan menyerahkan nasibnya kepada alam, namun ada beberapa jenis, seperti kelompok ular sanca, yang mengerami telur dengan lilitan tubuhnya hingga menetas. Ular sanca betina tidak akan meninggalkan telurnya, kecuali apabila ia perlu minum atau berjemur. Ular King Cobra dikenal sebagai satu dari sedikit jenis ular yang membuat sarang dan tinggal di dekatnya untuk menjaganya. Beberapa jenis ular menyimpan telur di dalam tubuhnya dan “melahirkan” anak-anaknya (ovovivipar). Baru-baru ini para peneliti menemukan bahwa beberapa jenis ular, seperti ular Boa Constrictor dan Anakonda Hijau (Eunectes murinus) betul-betul melahirkan anaknya (vivipar). Keduanya memberi makan anak-anaknya dengan plasenta dan makanan yang tersedia dalam telurnya.

Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau juga dikenal sebagai ular kawat (Rhampotyphlops braminus), sejauh ini hanya ditemukan betinanya saja. Ular yang mirip cacing kecil ini diduga mampu bertelur dan berbiak dengan pembuahan sendiri, tanpa kehadiran ular jantan (parthenogenesis).

Uraian di atas semestinya mampu memotivasi manusia untuk merubah persepsinya tentang ular. Kehadiran ular di dunia ini termasuk dalam rencana Allah yang rumit dan saling terkait satu dengan lainnya. Manusia dapat saja menyukai atau membenci ular, namun apa pun pilihannya, manusia sudah seharusnya menghargai keberadaan ular. Berbeda dengan anjing dan kucing, misalnya, ular tidak menginginkan adanya ikatan dengan manusia. Ular memilih untuk tidak mengabdi kepada manusia. Ular hanya ingin dibiarkan begitu saja dan diperbolehkan melakukan apa yang diperlukannya dalam usahanya mengabdi kepada Allah Yang Mahakuasa.

Henry Beston, seorang naturalis, memberikan sebuah nasihat bijak yang selaras dengan salah satu ayat di dalam Alquran. la berkata, “Hewan janganlah diukur dengan ukuran manusia. Mereka bukan saudara kita, bukan pula bawahan kita. Mereka adalah bangsa tersendiri, yang terperangkap dalam kebersamaan dengan kita dalam jaringan kehidupan dan waktu. Mereka adalah teman sependeritaan manusia di dunia yang gemerlapan dan rapuh ini.” Pesan yang hampir sama dapat kita jumpai dalam Alquran yang turun belasan abad yang lalu. Dalam Surah al-An‘ām/ 6: 38 Allah berfirman,

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ۝

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 38) 

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu