UJIAN SAINS BERKONSEKUENSI PENTING

UJIAN SAINS BERKONSEKUENSI PENTING

Serial Pembelajaran Sains: William J. Boone dan Lisa A Donnelly

Sebuah ujian sains tengah diselenggarakan bagi siswa-siswa sekolah dasar di suatu negara bagian. Persiapannya sering makan waktu berminggu-minggu. Guru membawakan makanan dan minuman agar semua siswa sudah kenyang sebelum ujian dimulai. Begitu hasil ujian dibagikan, para kepala sekolah segera memeriksa bagaimana prestasi sekolah mereka. Siswa-siswa yang diajar guru manakah yang memperoleh nilai tinggi? Kelas manakah yang tidak berhasil mencapai nilai tinggi? Apakah prestasi sekolah sudah membaik bila dibandingkan dengan hasil ujian yang lalu? Banyak orang memeriksa hasil ujian yang dipublikasikan di surat kabar-surat kabar setempat. Orang-orang yang berniat menjual rumah melihat dahulu hasil ujian sekolah-sekolah yang ada di lingkungan dekat rumah mereka. Para orang tua memeriksa grafik dan angka yang merangkum hasil ujian sekolah anak mereka. Peristiwa-peristiwa di atas terjadi setiap tahun saat penyelenggaraan ujian sains berkonsekuensi tinggi (high-stakes science testing) dan publikasi hasilnya. Akan tetapi, bagaimana sebaiknya kita memahami ujian-ujian tersebut? Kami menawarkan sebuah pengantar tentang ujian sains dengan konsekuensi tinggi, yaitu dengan mengupas beberapa hal mengenai ujian tersebut. Kami berikan tinjauan tentang isu ujian sains berkonsekuensi tinggi yang mudah dipahami sehingga dapat menjadi pedoman bagi Anda, apa pun minat dan kebutuhan Anda. Masa yang pendek untuk ujian khusus dan inisiatif mungkin berubah seiring berlalunya setiap tahun, tetapi topik ujian sains berkonsekuensi tinggi pasti masih menjadi topik yang relevan untuk beberapa tahun ke depan. Dengan berubahnya ekonomi dunia, mungkin sekali ujian sains berkonsekuensi tinggi akan terus ada, sebab pekerjaan di bidang teknologi dan sains selalu didambakan dan para pengambil kebijakan berupaya mengoptimalkan pembelajaran sains bagi siswa.

APA ITU UJIAN BERKONSEKUENSI TINGGI? MENGAPA UJIAN ITU PENTING?

Ujian-ujian berkonsekuensi tinggi adalah ujian yang digunakan untuk menentukan keputusan dan penilaian kritis menyangkut individu dan kelompok Individu. Bermacam-macam keputusan berkonsekuensi tinggi dibuat berdasarkan ujian-ujian tersebut. Sekolah dan guru dapat menggunakan informasi ujian sains berkonsekuensi tinggi secara terpisah, sebagian untuk menentukan tempat siswa dalam daftar penghargaan, pendidikan khusus, atau pelajaran sains perbaikan. Nilai sains yang diperoleh siswa dalam ujian digunakan untuk menetukan penerimaan siswa baru, kenaikan tingkat, atau syarat kelulusan siswa. Ujian sains berkonsekuensi tinggi juga dapat digunakan sekolah untuk menentukan keefektifan guru sains dan program sains. Penerimaan guru baru dan mempertahankan seorang guru serta pengembangan profesi sering tergantung pada nilai ujian siswa. Selain itu, secara pribadi guru-guru sendiri mungkin memanfaatkan informasi ujian tersebut untuk merevisi dan menyesuaikan pengajaran sains bagi siswa. Keluarga menggunakan nilai ujian siswa sebagai pedoman untuk merencanakan sekolah musim panas dan kegiatan-kegiatan pengayaan. Pada tingkat negara bagian, nilai ujian sains siswa dapat berdampak pada akreditasi, peringkat, dan pendanaan sekolah. Pada tingkat nasional, ujian berkonsekuensi tinggi digunakan untuk membandingkan prestasi tiap-tiap negara bagian dan menilai upaya-upaya pembaruan sistemis. Besarnya pendanaan federal untuk sekolah distrik mungkin sangat berpengaruhi oleh nilai sains berkonsekuensi tinggi. Apa pun bentuknya, ujian berkonsekuensi tinggi selalu berdampak kepada kehidupan seseorang atau sesuatu.

 

FORMAT UJIAN

Tidak ada ujian sains berkonsekuensi tinggi yang identik dengan ujian berkonsekuensi tinggi lainnya. Bentuknya mungkin berupa ujian pilihan ganda model lama yang mengharuskan siswa mengisi bulatan hitam untuk jawaban-jawaban yang tepat pada lembar jawaban. Banyak ujian sains berkonsekuensi tinggi juga menggunakan soal dan pertanyaan-pertanyaan esai yang mengharuskan siswa menguraikan jawaban secara tertulis. Beberapa ujian berkonsekuensi tinggi seperti Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) memasukkan komponen praktik. Dalam praktik itu siswa berupaya menyelesaikan soal dengan menggunakan perlengkapan sains sederhana seperti gelas beaker, timbangan, atau timer. Dalam kasus-kasus demikian, siswa menyelesaikan satu lembar jawaban dan/atau diamati oleh “hakim-hakim” terlatih yang mengevaluasinya.

Lingkungan tempat siswa mengerjakan ujian berkonsekuensi tinggi berbeda-beda, misalnya, sebuah pusat ujian terkomputerisasi. Ujian bisa mencakup gambar-gambar digital bermutu tinggi yang disajikan pada layar komputer. Pada contoh lain, ujian berkonsekuensi tinggi diselesaikan pada sebuah lingkungan gaya lama tempat para siswa disajikan buklet kertas ujian, lembar jawaban komputer (bubble sheet), dan batas waktu. Kadang-kadang, siswa mengerjakan ujian di sekolahnya sendiri bersama teman-teman setingkat. Kadang-kadang, siswa harus pergi ke pusat ujian yang jauh. Lingkungan tempat berlangsungnya ujian berkonsekuensi tinggi memang berbeda-beda dan sangat beragam. Meskipun demikian, penting untuk ditegaskan bahwa semua pusat ujian dan semua ruang kelas di sekolah tidak sama. Mungkin sering terlihat semua siswa “menjalani” ujian berkonsekuensi tinggi di satu lingkungan yang mirip, padahal, faktor seperti suara-suara di dalam ruangan, penerangan, dan suhu, boleh jadi sangat berbeda dari satu lokasi ujian dengan lokasi ujian lainnya. Semua ruang kelas untuk ujian tidak pernah sama.

 

KEUNTUNGAN, KERUGIAN, DAN ASUMSI DARI DAN TENTANG UJIAN SAINS BERKONSEKUENSI TINGGI

Walaupun ujian sains berkonsekuensi tinggi digunakan untuk menentukan keputusan-keputusan penting, tinjauan lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan data tersebut seringkali belum ada. Akibatnya, kesimpulan-kesimpulan umum yang dibuat tidak mencerminkan realitas data. Contoh, ujian-ujian National Assessment of Educational Progress (NAEP), yang sebagian digunakan untuk membuat pembandingan di seluruh negara bagian. Jenis ujian berkonsekuensi tinggi itu sering digunakan untuk menentukan klasifikasi sebuah sekolah (misalnya, gagal mencapai potensi yang diharapkan, atau memenuhi standar minimal negara bagian). Mengingat ujian jenis itu tidak membawa konsekuensi bagi siswa secara pribadi, dalam beberapa kejadian, siswa bisa secara acak melingkari jawaban, menghabiskan sedikit waktu untuk soai-soal ujian, atau tidur sepanjang ujian berlangsung. Informasi yang dikumpulkan dari ujian-ujian berkonsekuensi tinggi itu mungkin tidak benar-benar mencerminkan pencapaian sains siswa yang sebenarnya. Ujian sains berkonsekuensi tinggi juga mengasumsikan pesertanya sudah bisa membaca dan telah mengambil pelajaran-pelajaran matematika yang relevan. Karena prestasi pada dua bidang studi tersebut sangat besar dampaknya terhadap keseluruhan nilai ujian sains, pelajaran matematika dan tingkat kemampuan membaca siswa juga harus diperhitungkan. Sesekali tekanan-tekanan akuntabilitas menggoda guru dan siswa untuk berbuat curang dalam ujian, dengan Iebih dahulu memperoleh salinan soal ujian atau tidak menaati batas waktu dan prosedur pengerjaan ujian yang benar. Para pihak yang merancang dan menyelenggarakan ujian telah bersungguh-sungguh berusaha memastikan bahwa data yang terkumpul adalah valid, tetapi tidak serta-merta dapat diasumsikan nilai-nilai distrik yang tersaji rapi pada tabel-tabel berisi banyak informasi teknis niscaya memang bermutu tinggi.

Perkembangan dan perubahan ujian-ujian berkonsekuensi tinggi tampaknya berjalan seiring-sejalan dengan pergantian pemerintahan. Mungkin yang dimaksud dengan “apa” akan berubah setiap tahunnya. Dalam beberapa hal, perkembangan dan perubahan itu baik, sebab kelemahan pada suatu ujian dapat ditangani, tetapi, seringkali perubahan-perubahan pada format dan penggunaan ujian berkonsekuensi tinggi bisa berarti kontraproduktif. Cobalah ingat sebentar tujuan dan realitas ujian sertifikasi guru sains yang berkonsekuensi tinggi itu. Ujian-ujian seperti itu diusulkan untuk memastikan guru-guru sains yang bekerja pada sekolah-sekolah distrik memang “sangat bermutu”. Kini para pengambil kebijakan dan lainnya beralasan hal itu harus dilakukan demi menjamin para siswa mampu bersaing di tingkat global, tetapi, seringkali guru sains (guru fisika, misalnya) amat sangat kurang sehingga sekolah-sekolah distrik tergesa-gesa mencari siapa saja yang mungkin sanggup mengajarkan mata pelajaran itu (entah orang-orang itu lulus ujian sertifikasi atau tidak). Dalam beberapa kasus, ujian-ujian sertifikasi bagi guru sains tidak berhasil mencapai tujuannya (menjamin keberadaan guru-guru muatan sains yang sangat bermutu) dan menyebabkan konsekuensi ujian itu tidak terlalu tinggi lagi. Berita yang tersebar di kalangan guru ialah bahwa kebutuhan akan guru untuk mata pelajaran tertentu sedemikain besarnya sehingga celah kelemahan akan selalu ada. Perubahan-perubahan pada format suatu ujian sains berkonsekuensi tinggi bisa sangat berdampak terhadap apa yang terjadi di dalam ruang kelas sepanjang tahun. Contoh, ujian sains berkonsekuensi tinggi mungkin mengharuskan “sekelompok siswa” mendemonstrasikan keterampilan di bidang sains dan menyelesaikan masalah bersama-sama. Salah satu tujuan struktur ujian sains berkonsekuensi tinggi seperti itu ialah mendorong para guru melaksanakan jenis kegiatan kelompok di laboratorium yang mungkin akan diujikan dalam ujian seperti itu. Kami yakin, tujuan itu baik, sebab realitas kerja laboratorium ialah realitas di dunia nyata, para pekerja memang bekerja secara berkelompok dalam tim. Ujian sains yang distrukturkan demikian itu mungkin saja, namun apa yang akan terjadi bila pada akhirnya ujian sains itu diubah sehingga hasilnya berupa nilai-nilai siswa individual, bukan lagi “kerja kelompok”? Wajarlah guru-guru mempertanyakan perubahan seperti itu pada format ujian. Mereka pasti bertanya-tanya, “secepat apa ujian akan berubah lagi? Sebesar apa upaya yang harus saya keluarkan untuk mempersiapkan siswa-siswa saya menghadapi ujian ‘lama’ dan format ‘lama’?” Ujian-ujian sains berkonsekuensi tinggi bisa memengaruhi bahan yang akan diajarkan di dalam kelas, tetapi jika sebuah ujian diubah dari tahun ke tahun (atau bahkan dibatalkan sebagai akibat isu-isu anggaran), mungkin pengaruhnya terhadap pengajaran sains yang berlangsung di dalam kelas tidak banyak. Dalam beberapa situasi, perubahan-perubahan pada suatu ujian dapat mengurangi banyaknya sains yang diajarkan.

Siswa, guru, dan sekolah sangat terdampak oleh keputusan-keputusan yang dibuat para pengambil kebijakan dengan menggunakan ujian berkonsekuensi tinggi. Para siswa tentu melasakan tekanan yang terkait dengan beberapa ujian sains berkonsekuensi tinggi, termasuk ujian penentu kelulusan, ujian penempatan, dan ujian masuk perguruan tinggi. Siswa-siswa yang mengalami kesulitan dengan format ujian berstandardisasi mungkin menjadi kurang termotivasi karena merasa, dan mengira, akan gagal. Bila merasa tidak mungkin bisa lulus ujian kelulusan, siswa-siswa seperti itu mungkin akan keluar dari sekolah. Mungkin juga siswa hanya akan belajar bahan yang diujikan saja. Mengingat banyak ujian berkonsekuensi tinggi mengutamakan pemahaman sains tingkat rendah, pemahaman siswa-siswa tersebut akan muatan sains mungkin tidak akan lebih tinggi dari itu.

Guru-guru sains juga sangat terdampak oleh ujian berkonsekuensi tinggi. Mereka melaporkan mengubah praktik mengajar mereka demi agar bisa lebih baik dalam menyiapkan siswa menghadapi ujian. Guru-guru itu mungkin akan menyediakan bahan-bahan persiapan ujian, mempraktikkan keterampilan mengerjakan ujian, menekankan topik-topik yang diketahui ada dalam ujian, dan mengabaikan topik-topik yang tidak diujikan. Cara guru dalam mengajar mungkin iuga akan melanggar filsafat mengajarnya sendiri karena meniadikan pemahaman sains tingkat rendah sebagai sasaran bagi siswa mereka (Lomax et. al., 1995). Sama halnya bagi siswa, ujian berkonsekuensi tinggi bisa jadi sangat menekan bagi guru. Masing-masing sekolah harus bereaksi terhadap hasil ujian sains berkonsekuensi tinggi. Kursus-kursus perbaikan sering ditawarkan bagi siswa-siswa yang tidak lulus ujian, dan kursus-kursus tersebut membutuhkan sumberdaya keuangan dan personel. Pengembangan profesi di seluruh sekolah juga harus dipusatkan kepada bidang-bidang perbaikan untuk menghadapi ujian-ujian berkonsekuensi tinggi itu.

Salah satu kekhawatiran menyangkut ujian sains berkonsekuensi tinggi ialah ketidakadilannya melintas kelompok-kelompok siswa yang berbeda. Lain anggota kelompok etnik, sangat lain pula pendekatan yang diajarkan terhadap ujian (Boone, 1998). Selain itu, kadang-kadang ujian berkonsekuensi tinggi belum cukup dimodifikasi untuk para pembelajar yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (English as Second Language, ESL) atau untuk siswa-siswa berkebutuhan khusus. Jumlah dan jenis sumberdaya yang dapat digunakan di sekolah urban, suburban, dan sekolah rural untuk persiapan ujian dan perbaikan ujian juga mungkin berbeda-beda. Selain itu, sumberdaya yang dimiliki sekolah dan orang tua untuk persiapan ujian juga berbeda-beda sesuai dengan status ekonomi. ]elas, persamaan adalah isu penting bagi ujian sains berkonsekuensi tinggi.

 

NO CHILD LEFT BEHIND (NCLB): PELAKSANAAN UJIAN BERKONSEKUENSI TINGGI

Contoh yang tepat tentang dampak luas ujian sains berkonsekuensi tinggi adalah Undang-Undang No Child Left Behind Act (NCLB). NCLB adalah pembaruan Elementary and Secondary Education Act tahun 1965 yang diberlakukan pada 2001. NCLB menetapkan kerangka kerja bagi kurikulum dan akuntabilitas sekolah untuk semua bidang pelajaran. NCLB mengakui pentingnya pendidikan sains bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah. NCLB mewajibkan ujian sains dilakukan menjelang tahun ajaran 2007-2008 untuk tiga kelompok umur: kelas 3-5, kelas 6-8, dan kelas 10-12 (U.S. Department of Education, 2004). Hasil ujian akan digunakan untuk menentukan berhasil tidaknya sekolah dalam mencapai “progress tahunan yang memadai” sesuai dengan NCLB. Jadi, perbedaan progress tahunan yang memadai akan mempengaruhi pendanaan, manajemen sekolah, bahkan penutupan sekolah. Ujian sains berkonsekuensi tinggi tersebut harus seiring sejalan dengan standar sains negara bagian. Sebagai akibat NCLB, banyak negara bagian mulai memodifikasi standard sainsnya dan menerapkan sistem ujian yang sama sekali baru. Banyak negara bagian hanya menguji siswa yang duduk di kelas-kelas yang sudah dipilih, biasanya hanya dalam mata pelajaran matematika dan pencapaian verbal. Sementara negara-negara bagian mempersiapkan ujian sains negara bagian putaran pertama, guru-guru mencari buku-buku teks yang sesuai dengan standar di negara bagian mereka (agar sesuai pula dengan ujiannya). Selain itu, banyak sekolah yang mengharuskan para guru membuat dokumentasi tentang cara mereka menangani standar negara bagian dalam kurikulum sains mereka yang beragam. Jadi, guru-guru wajib mendokumentasikan bagaimana mereka mempersiapkan siswa-siswa untuk menghadapi ujian sains berkonsekuensi tinggi, berdasarkan standar negara bagian.

Mengingat pentingnya peranan ujian sains berkonsekuensi tinggi yang diwajibkan NCLB atas negara-negara bagian, pengembangan ujian-ujian tersebut harus dipertimbangkan. Tampaknya, setidaknya di Amerika Serikat, kebanyakan ujian-ujian sains berkonsekuensi tinggi dikembangkan oleh sebuah perusahaan ujian besar seperti CTB/McGraw-Hill, ujian yang dikembangkan oleh satu negara bagian khusus, atau satu negara bagian yang mengontrak sebuah perusahaan ujian untuk (bersama-sama) mengembangkan sebuah ujian yang dinilai oieh perusahaan ujian tersebut. Namun, karena ada banyak ujian yang berbeda-beda di seluruh negara bagian (sebab standar negara bagian berbeda-beda, dan data dikumpulkan pada tingkat kelas yang beibeda-beda pula), hasii ujian berkonsekuensi tinggi seringkali sulit diperbandingkan dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya. Untuk memahami isu itu, ingatlah betapa sulit atau mustahilnya membandingkan hasil-hasil ujian musim gugur untuk kelas tiga di satu negara bagian dengan hasil-hasil ujian musim semi untuk kelas empat di negara bagian lain. Ujian kelas tiga itu diselenggarakan pada musim gugur untuk murid-murid kelas tiga dan penyelenggaraannya butuh waktu dua jam; secara keseluruhan, ada delapan puluh soal pilihan ganda yang harus diselesaikan oleh siswa. Ujian kelas empat yang diselenggarakan pada musim semi terdiri dari lima puluh soal pilihan ganda dan dua soal esai, dan disediakan waktu 1,5 jam bagi siswa untuk mengerjakan ujian tersebut. Dalam kedua ujian itu tidak ada soal yang sama. Ujian-ujian yang berlangsung di seluruh negara bagian memungkinkan semua distrik dan sekolah di dalam suatu negara bagian diperbandingkan sampai taraf tertentu. Karena kerangka kerja standar negara bagian dan ujian berkonsekuensi tinggi yang menyertainya berbeda-beda, pembandingan dari satu negara bagian ke negara bagian yang lainnya tidak selalu mudah dilakukan dengan cara yang tepat.

Walaupun ujian berkonsekuensi tinggi yang disyaratkan NCLB menggunakan dokumen pembaruan, tujuan ujian berkonsekuensi tinggi tidak selalu sama dengan tujuan pembaruan pendidikan sains. Terputusnya hubungan itu disebabkan oleh lingkup standar sains negara bagian yang terbatas dan jenis-jenis ujian yang digunakan. Pertama, standar sains negara bagian biasanya hanya menjelaskan muatan sains yang harus diketahui siswa. Banyak tujuan dokumen pembaruan pendidikan sains mutakhir lainnya seperti National Science Education Standards (National Research Council, 1996) tidak diujikan (contoh, tuntutan agar siswa melakukan inquiry serta mengintegrasikan matematika dan teknologi ke dalam sains). Alasan kedua terputusnya hubungan di antara tujuan ujian sains berkonsekuensi tinggi dan tujuan pembaruan pendidikan sains ialah jenis-jenis ujian yang digunakan. Seringkali ujian berkonsekuensi tinggi hanya mencakup soal-soal tingkat rendah (ingatan tentang fakta) yang tidak benar-benar mencapai pemahaman yang mendalam akan bahan sains. Mengapa ujian berkonsekuensi tinggi, setidaknya di Amerika Serikat, seringkali hanya mengutamakan kompetensi sains di tingkat rendah? Sebagian isunya bersifat pragmatis: para pejabat negara bagian ingin bisa berkata bahwa siswa mereka yang sanggup lulus ujian tersebut mencapai persentase tinggi. Pengembangan, penyelenggaraan, dan pemberian nilai untuk ujian yang mengujikan pengertian sains tingkat rendah juga lebih mudah (dan lebih murah). Soal-soal ujian yang bisa dengan sangat baik mengevaluasi kecerdasan berpikir seorang siswa mungkin membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan biaya, sebab pertanyaan-pertanyaan ujian seperti itu mungkin membutuhkan perlengkapan khusus dan butuh waktu lama untuk penilaiannya.

 

SELANJUTNYA, APA?

Ada beberapa manfaat yang dapat diberikan ujian sains berkonsekuensi tinggi. Pertama, pengutamaan ujian berkonsekuensi tinggi membantu memastikan pengajaran sains akan mendapatkan perhatian dan sumberdaya di dalam kelas. Contoh, guru sekolah dasar, yang mungkin enggan bicara tentang pengajaran sains, akan mendapat dorongan kuat dari kepala sekolah untuk memperbaiki pengajaran sainsnya. Akuntabilitas juga bisa mendorong guru-guru sains sekolah menengah, yang masih merasa sangsi, agar mau mengajarkan topik-topik yang kontroversial seperti evolusi. Pengutamaan ujian sains berkonsekuensi tinggi juga akan memusatkan perhatian kepada standar-standar itu sendiri. Negara bagian mengevaluasi kembali dan merevisi standar masing-masing agar lebih pasti dan lebih ramah pengguna. Ujian berkonsekuensi tinggi sendiri merupakan alat atraktif untuk mendukung akuntabilitas, sebab kadang-kadang ujian itu relatif tidak membutuhkan banyak biaya, penilaiannya mudah dilakukan, dan memungkinkan standardisasi dilakukan melintas lokasi. Selain itu, hasil-hasil ujian berkonsekuensi tinggi dapat menonjolkan tren gender, etnisitas, atau pembelajar-bahasa yang ada di dalam kelas sains. Terakhir, informasi yang diperoieh dari ujian sains berkonsekuensi tinggi dapat digunakan untuk mengarahkan keputusan-keputusan yang menyangkut siswa, guru, sekolah, dan sistem sekolah.

Ujian sains berkonsekuensi tinggi juga ada kerugiannya. Pengeluaran biaya dan staf selama pelaksanaan ujian, persiapan menjelang ujian, dan perbaikan niiai (remediation), semua itu cukup berat membebani anggaran departemen pendidikan, korporasi sekolah, dan sekolah yang besarnya terbatas. Selain itu, meningkatnya perhatian kepada beberapa bagian kurikulum sains berarti berkurangnya perhatian kepada topik sains lainnya atau malah pengabaian sama sekali. Jika ujian berkonsekuensi tinggi hanya berfokus kepada keterampilan-keterampilan tingkat rendah, yang akan dirugikan ialah kemampuan siswa untuk melakukan inquiry sains dan berpikir kritis. Kelemahan lainnya pada ujian sains berkonsekuensi tinggi ialah kemungkinan bahwa keputusan-keputusan yang sangat penting akan diambil berdasarkan hasil-hasil pada satu ujian saja. Selain itu, pengutamaan nilai-nilai ujian dapat melemahkan profesionalisme guru dan para penyelenggara sekolah. Terakhir, ada kemungkinan ujian berkonsekuensi tinggi berlangsung tidak adil melintas keiompok-kelompok demografis yang berbeda-beda.

Ujian-ujian sains berkonsekuensi tinggi mungkin terlihat sebagai ujian yang berdiri sendiri, tetapi di lingkungan sekolah, ujian sains berkonsekuensi tinggi harus diperhitungkan bersama banyak isu lainnya. Kami sudah mengajukan usul tentang beragam hal, cara, dan tempat. Salah satu isu kontekstual khusus berhubungan dengan apa yang diujikan ujian berkonsekuensi tinggi lainnya dan kapan ujian tersebut diselenggarakan. Contoh, suatu negara bagian mungkin mewajibkan penyelenggaraan ujian matematika, ilmu membaca/bahasa, dan sains di kelas 3 dan 6. Dalam hal itu, guru dan penyelenggara sekolah akan menentukan prioritas, pelajaran-pelajaran mana yang akan diutamakan di dalam kelas. Para penulis bab ini telah melakukan banyak percakapan secara terbuka dengan para guru dan penyelenggara sekolah yang mengungkapkan bahwa, seandainya ujian membaca, matematika, dan sains diselenggarakan pada tingkat kelas yang sama, persiapan ujian membaca dan ujian matematika akan lebih diutamakan daripada persiapan ujian sains. Kami berpendapat, setidaknya, ada ujian berkonsekuensi tinggi di tingkat sekolah dasar itu lebih baik daripada tidak ada ujian sains sama sekali. Bila ujian sains berkonsekuensi tinggi di tingkat sekolah dasar dianggap tidak menyeramkan, mungkin ujian seperti itu dapat meningkatkan rendahnya perhatian yang diberikan kebanyakan guru sekolah dasar kepada sains. Selama bertahun-tahun, ujian sains berkonsekuensi tinggi hadir dalam bentuk yang beragam. Dengan bertambahnya penilaian berbasis standar yang terjadi di tingkat negara bagian, ujian sains berkonsekuensi tinggi menjadi semakin penting. Ujian seperti itu mungkin sekali akan berpengaruh terhadap kurikulum sains yang diajarkan di dalam kelas dan bentuk pengajaran sains yang terjadi. Terutama yang sangat penting ialah tinjauan yang cermat terhadap data ujian berkonsekuensi tinggi. Banyak isu yang dapat memengaruhi pencapaian nilai siswa dalam suatu ujian dan bagaimana penggunaan hasil ujian tersebut.

Leave a Reply

Close Menu