TUMBUHAN PENGHASIL ENERGI

TUMBUHAN PENGHASIL ENERGI

Serial Quran dan Sains

PROSES FOTOSINTESIS

Tidak dipertanyakan lagi betapa tumbuhan mempunyai peran amat krusial dalam proses yang mengantarkan bumi siap dihuni. Tumbuhan diketahui berperan besar dalam membersihkan udara, membuat suhu udara relatif konstan, serta menyeimbangkan proporsi gas di atmosfer. Oksigen yang diisap saat proses pernapasan manusia dan hewan diproduksi oleh tumbuhan. Begitupun, bagian penting dari bahan makanan dan kandungan nutrisi yang diperlukan sebagai asupan bagi dua makhuk hidup ini pun dihasilkan oleh tumbuhan.

Klorofil

Berbeda dari sel pada manusia dan binatang, sel pada tumbuhan dapat memanfaatkan secara langsung energi yang datang dari sinar matahari. Sel tumbuhan dapat merubah energi itu menjadi energi kimia. Selanjutnya, energi kimia ini disimpan dalam bentuk nutrien, suatu bentuk yang sangat khusus. Proses demikian ini dinamakan fotosintesis (photosynthesis). Proses ini dilakukan oleh kloroplas (chloroplast) dan tilakoid (thylakoids) yang terdapat di dalam kloroplas, organisme yang memberi warna hijau pada daun. Di dalam kloroplas inilah terdapat klorofil (chlorophyl). Organisme yang hanya dapat dilihat bentuk utuhnya melalui mikroskop ini adalah satu-satunya “pabrik hijau” di bumi yang dapat merubah dan menyimpan energi matahari (dalam bentuk bahan organik. Diperkirakan, setiap tahun proses ini menghasilkan paling tidak 200 miliar ton bahan organik yang sangat vital bagi keberlangsungan kehidupan.

Alquran menyebut “pabrik hijau” atau kloroplas itu dengan nama al-Khair, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi green substance. Di dalam kloroplas ini tumbuhan memanfaatkan energi matahari untuk mengubah bahan asupan menjadi energi kimia, yang pada akhirnya menghasikan bermacam bagian lainnya dari tumbuhan itu. Keterangan rinci akan hal ini dapat kita temukan dalam ayat berikut.

وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ۝

Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 99)

 

Informasi yang didapatkan dari terjemah berbahasa Indonesia di atas bisa dikatakan sangat terbatas. Hal itu karena informasi dalam terjemahan tersebut mentok pada informasi bahwa “tanaman yang menghijau” menghasilkan banyak produk; dan tidak lebih. Berbeda dengan itu, terjemahan berbahasa Inggris memberi informasi yang lebih spesifik dan mengarah ke kloroplas. Mari cermati terjemahan berikut.

It is He who sends down water (rain) from the sky. With it We produce vegetation of all kinds from which (water or plants) We produce green substance (Khadir), out of which We produce grain in clusters. And out of date palms, from their spathes come forth clusters of dates hanging low and near, and (We produce) gardens of grapes, olives and pomegranates, each similar (in leaves or shape), yet different (in fruit and taste). Look at (and think over) their fruits when they begin to bear fruit, and (look at) the ripeness thereof. Behold! In these things there are Signs for people who believe. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 99)

Dengan menyebut “green substance” yang dikaitkan dengan produksi tumbuhan, maka akan lebih mudah untuk mengaitkannya dengan “pabrik hijau” yang menghasilkan biji-bijian, buah, dan berbagai bagian dari tumbuhan. Diksi dalam Alquran ini tampaknya kurang dapat dipahami dengan baik sampai para ahli pada 1600an berhasil menggali lebih dalam tentang kloroplas.

proses fotosintesis

Alquran Membincang “Substansi Hijau”

Surah Al-An‘ām‎/6: 99 di atas dapat saja Allah firmankan tanpa harus menyebut “substansi hijau” di dalamnya. Dan andai itu benar terjadi maka tidak akan ada seorang pun yang akan melayangkan protes. Tetapi nyatanya Allah tidak melakukan hal itu, dan kata “substansi hijau” tetap termuat dalam firmannya tersebut. Sudah barang tentu Allah yang menaruh kata itu dalam firman-Nya tahu betul peran penting dari substansinya. Dan benar saja, ilmu pengetahuan modern akhirnya mengungkap bahwa substansi inilah “pabrik” yang memproduksi biji, buah,  dan organ-organ dari semua jenis tumbuhan di bumi.

Terkait kloroplas, adalah sangat menggugah bahwa Alquran membuka pintu kebenaran dan mengarahkan manusia ke jalan ilmu pengetahuan dalam rangka membuka rahasia alam, dengan penggalan ayat berikut.

انظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ۝

Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 99)

 

Penggalan ini memberikan penekanan khusus terhadap saat ketika pembentukan buah (dengan daun yang berwarna hijau) dimulai, dalam kaitannya dengan kematangan buah (ketika tidak ada lagi buah baru terbentuk karena sebagian daunnya mulai berwarna kuning dan sel-sel di dalamnya mati). llustrasi ini tampak jelas pada tanaman padi-padian.

Lalu, adakah yang memberitahu Nabi Muḥammad‎ tentang fakta-fakta ini? Mungkinkah beliau tahu dengan sendirinya dimasa hidupnya, yang kala itu masyarakatnya bahkan belum mengenal budaya baca-tulis yang sangat kompleks seperti sekarang ini, dan ilmu pengetahuan serta peralatan ilmiah pun tidak tersedia bahkan dalam tingkatannya yang paling sederhana sekalipun? Bila tidak ada yang memberitahu, bagaimana hal itu menjadi mungkin, sedangkan kenyataan memperlihatkan bahwa untuk mengungkapkan hal yang demikian ini diperlukan pusat-pusat penelitian ilmu pengetahuan dan laboratorium lengkap dengan para peneliti ahli dan peralatan canggih di bidang fisiologi tumbuhan? Jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah bahwa hal ini membuktikan terbukanya rahasia salah satu proses kunci di bidang ilmu tumbuhan di dalam Alquran datang dari Allah sendiri yang berfirman,

لَّٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنزَلَهُ بِعِلْمِهِ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا ۝

Tetapi Allah menjadi saksi atas (Alquran) yang diturunkan-Nya kepadamu (Muḥammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menyaksikan. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 166)

 

Proses Fotosintesis

Pascapenelitian yang sangat lama, para ahli fisiologi tumbuhan mulai dapat memahami proses fotosintesis. Ahli kimia dan fisiologi dari Swiss, Nicholas Theodore de Saussure (1804) menyatakan bahwa ada dua macam cara pertukaran gas pada tumbuhan. Cara pertama terjadi pada siang hari, dan lainnya pada malam hari. “Pabrik hijau” mengisap CO2 dan melepaskan O2 pada siang hari, dan pada malam hari ia melakukan kebalikan dari proses itu. Dari sini temuan-temuan lainnya membuka cakrawala ilmu pengetahuan tentang pentingnya peran tumbuhan. Baru pada 1942 proses fotosintesis dinyatakan secara gamblang oleh AD Meyer. la menyatakan bahwa sumber energi utama yang digunakan tumbuhan adalah sinar matahari, yang diserap oleh tumbuhan dan diubahnya menjadi energi kimia melalui proses fotosinteis. Bagian yang bertanggung jawab atas proses ini, yaitu kloroplas si pembawa pigmen, ditemukan pada 1961 oleh AD Glass.

Tumbuhan memulai proses fotosintesis dengan menggunakan komponen dan organ kloroplas. Proses ini berujung dengan diproduksinya karbohidrat yang akan masuk dan terlibat dalam proses biologis kompleks yang akan memproduksi material dasar bagi terbentuknya dinding sel, asam amino, protein, lemak, hormon, pigmen, dan selanjutnya. Unsur-unsur ini adalah bagian esensial dari terbentuknya bagian-bagian tumbuhan yang digunakan sebagai makanan dan pakan bagi manusia dan binatang.

Fotosintesis adalah proses dua tingkat. Proses pertama bergantung pada hadirnya cahaya (Reaksi Cahaya), yang memerlukan hadirnya energi cahaya langsung untuk membentuk molekul-molekul pembawa energi yang akan digunakan pada proses fotosintesis kedua. Tidak seperti proses pertama, proses kedua bebas dari cahaya (Reaksi Gelap), dan terjadi pada saat produk dari Reaksi Cahaya digunakan untuk membentuk ikatan kovalen C-C dari karbohidrat. Reaksi Gelap dapat terjadi saat suasana gelap. Temuan akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa enzim utama yang bekerja di sini dirangsang oleh kehadiran cahaya. Dengan demikian, penamaan Reaksi Gelap menjadi tidak terlalu tepat. Reaksi Cahaya terjadi pada bagian grana dari kloroplas, sedangkan Reaksi Gelap terjadi pada bagian stroma.

Dalam tiga abad, sejak tahun 1600—an sampai dengan abad 20, para peneliti berhasil menguraikan dan menjelaskan bahwa kloroplas adalah subjek yang bertanggung jawab atas proses penyerapan energi cahaya matahari dan konversinya menjadi energi kimia untuk kemudian menghasilkan bermacam buah-buahan. Proses yang menghasilkan biji-bijian, buah, dan bagian dari tumbuhan terjadi secara terselubung dan tersimpan sangat dalam pada organ thylakoid dalam kloroplas yang tidak dapat dilihat mata telanjang. Proses ini baru dapat diungkap para ahli botani setelah melakukan penelitian intensif dan tak kenal lelah selama beberapa abad. Setelah metode penelitian tersedia, barulah para ahli mengumumkan adanya substansi hijau dalam daun yang mampu memproduksi karbohidrat yang mengandung bahan dasar untuk memproduksi semua bentuk buah-buahan, pohon, dan tetumbuhan lainnya.

Produk yang dihasilkan tanaman ini tersedia melalui proses kimia yang sangat rumit. Beribu pigmen yang dinamakan klorofil, yang ditemukan di dalam kloroplas, bereaksi sangat cepat apabila terkena sinar matahari. Kecepatan reaksinya terhadap sinar matahari mendekati satu milisekon alias seperseribu detik. Kecepatan yang begitu dahsyat ini membuat banyak mekanisme dalam proses fotosintesis masih belum sepenuhnya dapat diamati para peneliti. Pada saat melakukan proses fotosintesis, tumbuhan mengambil gas karbondioksida dari udara. Karbondioksida adalah sejenis gas beracun dan tidak dapat dikonsumsi manusia. Proses fotosintesis kemudian menghasikan gas lain yang menjadi produk utamanya, yaitu oksigen. Sekitar 30% dari oksigen di udara dihasilkan oleh tumbuhan darat. Sedangkan sisanya dihasilkan oleh tumbuhan dan alga bersel satu di lautan.

Gambaran persamaan kimia dari proses ini dapat dilihat pada formula berikut.

 

6H2O + 6CO2   —  FOTOSINTESIS ⇒  C6H12O6+6O2

 

Artinya, dengan proses fotosintesis 6 molekul air ditambah 6 molekul karbondioksida diubah menjadi 1 molekul gula dan 6 molekul oksigen.

Klorofil merupakan zat hijau daun yang bertanggung jawab menangani proses fotosintesis, yang dikenal juga dengan nama asimilasi karbon. Klorofil berperan menangkap cahaya matahari, mengubahnya menjadi energi yang mengkatalisasi reaksi antara karbondioksida dengan air menjadi molekul glukosa. Glukosa (suatu jenis monosakarida) merupakan unit terkecil dari karbohidrat, dalam perkembangan selanjutnya berubah menjadi sukrosa (suatu jenis disakarida) yang akhirnya dapat disimpan dalam bentuk polisakarida, seperti amilosa. Struktur polisakarida bertumpuk-tumpuk, terdiri atas banyak monosakarida. Bukan tidak mungkin inilah yang hendak Allah jelaskan melalui Surah al-An‘ām‎/6: 99 di atas, “It is He who sends down water (rain) from the sky. With it We produce vegetation of all kinds from which (water or plants) We produce green substance (Khadir), out of which We produce grain in clusters.”

Jadi, dalam tingkat molekuler, ayat di atas tampaknya dapat ditafsirkan sebagai isyarat tentang adanya proses fotosintesis, di mana peran zat hijau daun atau klorofil sangat menentukan pembentukan glukosa maupun polisakarida, yang merupakan gabungan dari tumpukan monosakarida. Proses fotosintesis dapat pula dipahami dari ayat berikut.

وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ ۝ وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ ۝

Demi malam apabila telah larut, dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing. (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 17-18)

Pada ayat di atas kata berbahasa Arab iżā tanaffas dikaitkan dengan waktu subuh, yakni saat fajar menyingsing. Kata ini dalam terjemah berbahasa Inggris diartikan dengan when it breathes in, ketika mengambil napas. Ini adalah bentuk metafora atas proses dalam tumbuhan yang disamakan dengan kondisi ketika seseorang bernapas atau mengisap oksigen dalam-dalam.

Kedua terjemahan tersebut adalah sama-sama tepat, tentunya kalau disesuaikan dengan konteks masing-masing. Dalam kaitan produksi oksigen oleh tumbuhan maka terjemahan dalam Bahasa Inggris lebih tepat. Itu karena terjemah ini tampak memberi penekanan bahwa saat subuh, saat matahari mulai menyingsing, adalah saat produksi oksigen dimulai, dan bahwa level produksi oksigen pada saat itu mencapai  tingkat yang paling tinggi. Hal yang disebut terakhir ini dikonfirmasi oleh temuan ilmu pengetahuan modern. Fenomena ini dianggap sangat penting sehingga Allah menggunakannya sebagai perantara sumpah (muqsam bih). Hal itu bisa dijelaskan secara ilmiah karena dalam penelitian, produktivitas fotosintesis dihitung dengan jumlah gas oksigen yang dihasilkannya.

Penelitian membuktikan bahwa tingkat kerja paling produktif terjadi pada pagi hari, saat sinar matahari berada pada tingkat paling terkonsentrasi. Saat subuh, daun mulai “berkeringat,” dan kondisi sebaliknya terjadi pada sore hari. Kemudian pada malam hari tumbuhan akan beristirahat penuh.

Sekali lagi, fotosintesis adalah proses yang sangat kompleks. Sampai saat ini belum seluruh proses ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Kendatipun, hasil proses ini sangatlah jelas. Salah satunya adalah oksigen dan bahan makanan untuk manusia dan binatang. Fotosintesis adalah suatu sistem yang melibatkan formula kimia yang sangat rumit, dalam jumlah dan ukuran berat yang sangat kecil, dan dalam satuan perimbangan dalam presisi yang sangat tinggi. Bertriliun “pabrik hijau” ini berada di sekitar kita. Pabrik ini bekerja dan memasok semua keperluan hidup makhluk lainnya secara kontinu dan tanpa kenal lelah selama jutaan tahun.

Merubah energi sinar matahari menjadi energi listrik atau kimia adalah suatu temuan tingkat tinggi yang baru dapat dilakukan manusia belakangan ini. Dan untuk melakukannya diperlukan seperangkat alat berteknologi tinggi. Akan tetapi, satu sel tumbuhan yang tidak dapat dilihat mata telanjang telah melakukannya sejak jutaan tahun lalu. Sistem yang sempurna ini diciptakan untuk dapat diamati manusia. Sistem kerja yang sangat kompleks ini tentu saja diciptakan dengan sama sekali sekadar kebetulan. Gambaran sel itu seperti pabrik berperalatan canggih dalam bentuknya yang sangat mini, dalam bentuk sel yang sangat kecil dan terletak pada daun. Yang demikian ini sudah seharusnya menjadi perhatian kita.

Mengenai proses fotosintesis yang memproduk oksigen, ada satu ayat yang cenderung menghubungkan keduanya, yakni firman Allah,

أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ ۝ أَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِئُونَ ۝

Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)? Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan? (Alquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 71-72)

Ayat di atas dapat saja memecah perhatian pembacanya ke dalam dua topik sekaligus, yaitu fenomena api dalam kaitannya dengan kayu, dan pertanyaan siapa pencipta kayu yang menyebabkan adanya api. Namun sebelum membahas hal ini, perlu dipertanyakan juga apakah kayu yang dimaksud dalam terjemahan di atas adalah kayu dalam bentuk jadi (seperti halnya kayu bakar) ataukah lebih mengarah ke pohon yang menghasilkannya. Hal ini menjadi penting dijawab ketika kita membandingkan terjemah di  atas dengan terjemah berbahasa Inggris atas ayat yang sama: “See ye the fire which ye kindle? Is it ye who grow its tree or do We grow it.”

Terjemah ini memakai kata tree, pohon. Apa hubungan antara pohon dengan api? Mengapa tidak digunakan saja kata kayu, yang itu lebih mudah ditemukan hubungannya dengan api? Bagi masyarakat yang hidup di abad ke-7 M, penggunaan kata kayu tentu lebih mudah dipahami karena mereka biasa menggunakan kayu kering sebagai kayu bakar. Tapi, dengan memakai kata pohon, Allah seolah memaksa para ilmuwan untuk berpikir dan lebih memperhatikan  fenomena alam, menggali lebih dalam bukti-bukti eksistensi Allah melalui temuan-temuan ilmiah mereka.

Ada dua poin sekaligus yang hendak Alquran sampaikan melalui ayat ini. Pertama, ayat ini mengemukakan kebenaran dari ilmu pengetahuan yang akhirnya dibuktikan beratus tahun kemudian. Kedua, memastikan bahwa mereka yang membaca Alquran di abad ke-7 M tidak merasa bingung dalam memahami artinya. Dengan pengetahuan saat itu manusia diajak berpikir hanya mengenai api dari pohon yang menghasilkan kayu bakar. Sedangkan manusia di abad 21 M diajak berpikir secara ilmiah, kemudian menginterpretasikan api itu sebagai oksigen. Dengan demikian, Alquran telah mampu memenuhi rasa haus manusia akan pengetahuan, baik dari perspektif pengetahuan manusia yang hidup di abad ke-7, abad ke-21, dan sudah pasti abad-abad selanjutnya.

llmu pengetahuan modern memahami kata syajarah pada ayat di atas bukan sebagai pohon atau kayu, melainkan oksigen yang dilepaskan saat terjadinya proses fotosintesis. Proses fotosintesis dapat terlihat jelas pada tumbuhan tingkat tinggi dan alga. Beberapa jenis cyanobacteria yang hidup di lautan juga bertanggung jawab atas terjadinya fotosintesis di lautan. Semua tumbuhan hijau di atas bumi memiliki klorofil yang mengandung kloroplas di dalamnya. Klorofil menyerap sinar matahari dan mengkombinasikannya dengan karbondioksida dan air, dan menghasilkan karbohidrat atau glukosa dan oksigen.

Karbohidrat atau glukosa yang dihasilkan daun melalui proses ini digunakan oleh tumbuhan untuk membentuk tepung, lemak, dan protein. Produk kedua dari proses fotosintesis ini adalah oksigen. Seluruh oksigen yang ada di bumi, yang digunakan dalam proses pernapasan dan pembakaran, hadir dari proses fotosintesis ini. Demikian dinyatakan oleh ilmu pengetahuan. Pernyataan tersebut adalah benar adanya, sebagaimana firman Allah yang berarti, “yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” (Alquran, Surah Yāsīn/36: 80), yang dalam terjemahan berbahasa Inggris berbunyi, “God is One Who produces for you fire out of the green tree, when behold! You kindle therewith”. Demikianlah yang Alquran kemukakan 14 abad lalu; disampaikan oleh seorang nabi yang ummi dan hidup di gurun bersama masyarakat yang mayoritas juga buta huruf, ketika ilmu pengetahuan dan peralatannya masih dalam tarafnya yang sangat primitif, bila tidak bisa dikatakan belum berkembang sama sekali.

 

BAHAN BAKAR FOSIL

Bahan bakar fosil dibentuk oleh pembusukan atau dekomposisi secara anaerobik (tanpa bantuan oksigen) dari sumber daya alam (sisa tumbuhan dan binatang, termasuk zooplankton dan fitoplankton yang mengendap dalam jumlah besar di dasar laut) pada jutaan tahun yang lalu. Skala waktunya kadangkala melebihi 650 juta tahun. Dalam jangka waktu geologi yang lama ini material organik akan bercampur dengan lumpur, dan tertimbun di bawah lapisan sedimen yang sangat tebai dan berat. Tekanan dan suhu yang tinggi mengubah bahan organik tersebut secara kimiawi menjadi cairan (minyak), bahan keras (batu bara), dan gas. Bahan bakar yang dihasilkannya terutama mengandung bahan karbon dan hidrokarbon yang tinggi.

Konsumsi bahan bakar fosil pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 86,4% dari total konsumsi bahan bakar secara umum. Jumlah itu terdiri dari minyak bumi (36%), batubara (27,4%), dan gas bumi (23%). Sisanya yang 13,6% disumbangkan oleh bahan bakar nonfosil, seperti listrik tenaga air, nuklir, geotermal, tenaga matahari, gelombang, angin, kayu, dan lainnya. Pada umumnya, peningkatan keperluan energi dari tahun ke tahun naik sebesar 2,3%.

Bahan bakar fosil adalah sumber daya tak terbarukan karena pembentukannya memerlukan jutaan tahun. Masa pembentukannya yang sedemikian lama itu tidak seimbang dengan pengambilannya yang sangat cepat, sehingga ia dimasukkan ke dalam kategori sumber daya tak terbarukan. Karenanya, kini dunia mulai memikirkan sumber daya terbarukan untuk pasokan energi.

Uraian di atas jelas menunjukkan bahwa bahan bakar utama yang digunakan manusia dewasa ini berasal dari fosil, tepatnya dari sisa-sisa material organik binatang, tumbuhan, dan plankton yang mati jutaan tahun lalu. Sayangnya, kata fosil seringkali disalahartikan. Yang benar, fosil adalah cetakan batu dari bagian keras organisme. Fosil daun, umpamanya, adalah cetakan daun pada batuan, yang daunnya sendiri sudah membusuk dan tidak tersisa.

Dalam Alquran, pembicaraan yang sedikit menyinggung perihal fosil dapat ditemukan pada Surah al-Isrā’/17: 49-51, yang membahas tema besar Hari Kebangkitan.

وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا ۝ قُلْ كُونُوا حِجَارَةً أَوْ حَدِيدًا ۝ أَوْ خَلْقًا مِّمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَن يُعِيدُنَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَن يَكُونَ قَرِيبًا ۝

Dan mereka berkata, “Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah (Muḥammad), “Jadilah kamu batu atau besi, atau menjadi makhluk yang besar (yang tidak mungkin hidup kembali) menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya, “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pertama kali”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata, “Kapan (Kiamat) itu (akan terjadi)?” Katakanlah, “Barang kali waktunya sudah dekat,” (Alquran, Surah al-Isrā’/17/49-51)

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa manusia akan dibangkitkan pada Hari Kebangkitan, meski tubuhnya telah hancur dan tercerai-berai. Allah juga menegaskan bahwa meski tubuh manusia sudah berubah menjadi fosil (batu) atau besi sekalipun, Dia tetap berkuasa untuk membangkitkan mereka. Hal ini tampak jelas pada terjemahan ayat tersebut dalam Bahasa Inggris sebagai berikut.

And they say, “What! when we shall have become bones and broken particles, shall we be really raised up again as a new creation?” Say, “Be ye stones or iron, or created matter of any kind which appears hardest in your minds, even then shall you be raised up. ” Then will they ask, “Who shall restore us to life?” Say, “He Who created you the first time. ” Still they will shake their heads at thee and say, “When will it be?” Say, “May be, it is nigh,” (Terjemah Sher Ali)

Lalu, mengapa yang disebut dalam ayat di atas adalah batu dan besi, bukannya yang Iain? Mari kita perhatikan penjelasan berikut.

Batu

Kita bisa mengenal perikehidupan pada masa purbakala melalui fosil. Sekali lagi, fosil adalah cetakan batu dari bagian keras suatu makhluk. Dengan demikian, bahan organik yang dicetaknya sendiri sudah hilang membusuk, menyisakan material batu. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kehidupan purba yang dapat berubah menjadi fosil. Untuk berubah menjadi fosil suatu bahan organik memerlukan kondisi yang sangat tepat. Terlebih, hanya bagian keras dari bahan organik itu yang berpotensi berubah menjadi batu, seperti gigi, kuku, cangkang, dan tulang. Bagian organik yang lunak, seperti daging atau kulit, pada umumnya hancur, kecuali pada kondisi yang teramat khusus.

Kesalahan penggunaan kata fosil seringkali ditemui. Misalnya, banyak orang menyebut fosil tulang dinosaurus sebagai tulang dinosaurus, tanpa menyebut kata fosil di depannya. Sebutan ini tidak bisa dibenarkan karena pada dasarnya tidak ada bahan organik, termasuk tulang, yang tidak berubah setelah terkubur ratusan ribu tahun. Yang tertinggal kemudian hanyalah cetakan batunya.

 

Besi

Penyebutan besi pada ayat di atas juga bukannya tanpa alasan. Berdasarkan ilmu mekanika kuantum, semua organisme, termasuk manusia, akan berubah menjadi besi. Hal ini disebabkan semua unsur akan berubah dan menjadi satu bentuk yang memiliki energi yang paling rendah. Dengan kata Iain, semua unsur itu akan mencari dan menjadi elemen yang paling stabil, dan besi adalah elemen paling stabil yang di bumi. Bahkan, secara teoretis, semua unsur (bintang, planet, pohon, manusia, dan lainnya), dengan berjalannya waktu akan berubah menjadi besi. Semuanya berubah menjadi besi murni, suatu elemen yang memiliki inti paling stabil. Bahkan muncul dugaan yang menyatakan bahwa pada masa yang lebih kemudian, yang tersisa hanyalah “serpihan-serpihan besi yang melayang tanpa tujuan, beberapa bagian photons, dan black holes.”

Lazim diketahui bahwa minyak bumi terbentuk dari sisa tumbuhan, binatang, dan plankton. Setelah bangkai, sisa tumbuhan, dan plankton membusuk dan tersimpan selama jutaan tahun di bawah timbunan tanah dan batuan, maka yang tersisa adalah minyak bumi dan gas. Terjadinya gerakan-gerakan pada kerak bumi memungkinkan batuan yang mengandung minyak tertimbun pada kedalaman ratusan ribu meter di bawah permukaan. Minyak yang terbentuk kadang masuk ke rekahan kerak bumi dan naik ke atas permukaan. Sesampai di permukaan, minyak akan menguap sebagai gas dan menyisakan batuan batu bara muda di dalam tanah.

Banyak yang meyakini bahwa Alquran yang turun 14 abad lalu telah berbicara tentang pembentukan minyak bumi, yakni dalam Surah al-A’lā/87 : 1-5. Allah berfirman,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ۝ الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ ۝ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ ۝ وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ۝  فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ ۝

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, Yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya). Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan Yang menumbuhkan rerumputan, lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering kehitam-hitaman. (Alquran, Surah al-Alā/87: 1-5)

Dari tiga ayat terakhir di atas, ada dua elemen yang teridentifikasi menyatakan dengan jelas urutan pembentukan minyak bumi. Pertama, sangat mungkin kata al-marā yang berarti padang rumput, menunjuk pada bahan organik pembentuk minyak bumi. Kedua, kata aḥwā yang biasa digunakan untuk menunjukkan warna hitam, hitam kehijauan, atau warna jelaga, bisa jadi menggambarkan bagaimana bahan organik yang menumpuk di dalam tanah yang berasal dari tanaman akan membusuk dan perlahan berubah warna menjadi kehitaman.

 

Dikutip dari: Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu