TUMBUHAN DALAM BAHASAN ALQURAN

TUMBUHAN DALAM BAHASAN ALQURAN

Serial Quran dan Sains

Alquran memandang tumbuhan sebagai ciptaan yang bernilai tinggi. Tumbuhan dan bagiannya banyak disebutkan di dalamnya, baik dalam gambaran fisiknya maupun sebagai tamsil -perumpamaan. Tamsil mempunyai tujuan yang amat penting seperti disebutkan dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ۝

Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Alquran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (Alquran, Surah az-Zumar/39: 27)

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ ۝

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Alquran, Surah al-‘Ankabūt/29: 43)

Selain jumlahnya yang begitu banyak, tamsil juga memakai subjek yang beragam: hewan, tumbuhan, fenomena alam, dan sebagainya.  Uraian dalam pembahasan ini akan memberikan gambaran tentang beberapa perumpamaan yang menjadikan tumbuhan maupun bagian-bagiannya sebagai subjek tamsil.

Selain itu, seperti dikemukakan sebelumnya, Alquran juga sering menyebut tumbuhan secara fisik—bukan sebagai tamsil. Banyak ayat yang menyebutkan secara jelas manfaat tumbuhan sebagai sumber makanan bagi manusia dan makhluk lain. Salah satunya adalah ayat berikut.

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ۝

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 141)

Selain berfungsi sebagai makanan, tumbuhan juga menghasilkan produk sampingan—madu—yang Alquran sebut mempunyai fungsi sebagai penawar penyakit. Allah berfirman,

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ۝

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Alquran, Surah an-Nal/16: 69)

Demikianlah, Allah memberi manusia berkah yang sangat besar melalui kehadiran tumbuhan. Mereka tercipta untuk manusia, baik sebagai sumber makanan maupun sebagai bahan obat.

 

TUMBUHAN SEBAGAI TAMSIL

Orang yang beriman kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang baik oleh Alquran diumpamakan seperti pohon.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ۝ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ۝ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ۝

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat, Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (Alquran, Surah lbrāhīm/14: 24-26)

Perumpamaan ini sangat tepat. Seperti diketahui, manusia mendapat banyak manfaat dari tumbuhan, dari keteduhan hingga ketersediaan buah dan bunga. Hijaunya pepohonan membangkitkan rasa nyaman di hati manusia. Semua kualitas ini seharusnya ada pada diri mereka yang beriman kepada Allah. Mereka harus berinteraksi dengan masyarakat dalam harmoni dan dalam rangka memberi manfaat, rasa aman, dan kesejukan kepada yang lain.

Terkait hal itu, dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa orang yang beriman seperti tumbuhan yang gemulai. Apabila diterpa embusan angin maka ia tidak kaku, melainkan bergoyang sesuai arah angin itu. Begitu angin berhenti, tumbuhan itu pun kembali tegak seperti semula. Demikian pula orang yang beriman. Dalam bergaul, mereka tidak kaku dan tidak pula arogan. Mereka bersikap toleran kepada orang lain, tidak memancing benturan dan konfrontasi, dan selalu mengikuti prinsip persuasif serta antikekerasan.

Dalam hadis yang lain Rasulullah mengibaratkan orang yang beriman seperti kurma. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini ibarat seorang muslim. Sebutkanlah pohon apakah itu?” Lalu para sahabat menerka pohon itu adalah sejenis pohon yang hidup di lembah-lembah. Abdullah (bin Umar) berkata, “Lalu terbesit dalam pikiranku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengatakannya. Lalu mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami pohon apa itu?’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah pohon kurma.”‘ (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Ibnu ‘Umar)

Hadis yang berbeda namun memiliki kemiripan redaksi dan subjek dapat pula ditemukan. Misalnya hadis yang menjelaskan bahwa pohon kurma memiliki berkah dan manfaat dalam setiap bagiannya, demikian juga seorang mukmin.

Ketika kami (para sahabat) duduk-duduk bersama Rasulullah, datanglah seseorang sembari membawa satu jantung kurma. Rasulullah pun berkata, “Sesungguhnya ada satu pohon yang berkahnya ibarat berkah seorang muslim.” Aku pun menerka bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Sebetulnya aku ingin mengatakan, ”ltu adalah pohon kurma, wahai Rasulullah.” Namun ketika melihat ke sekeliling, aku mendapati diriku sebagai orang terakhir dari sepuluh orang dan aku adalah yang paling muda di antara mereka, sehingga aku pun diam saja. Lalu Rasulullah berkata, “Itu adalah pohon kurma. ” (Riwayat al-Bukhāri dari ibnu ‘Umar)

Pohon kurma tidak dapat tumbuh di sembarang tanah. Demikian juga iman; ia hanya akan tumbuh dan mengakar di hati orang yang Allah karuniai hidayah dan kelapangan dada dalam menerimanya. Pantaslah bila Rasulullah bersabda,

Hidayah dan ilmu yang dipikulkan Allah kepadaku bagaikan air hujan yang deras yang mengguyur tanah. Di antara tanah-tanah, ada tanah yang subur; ia menyerap air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang banyak. Ada pula di antaranya yang gersang; ia menampung air, dan dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia, sehingga mereka bisa minum, memberi minum ternak mereka, dan bercocok tanam. Air hujan ini juga mengguyur sejenis tanah lain, yaitu padas yang tidak mampu menampung air dan tidak pula menumbuhkan rerumputan. Demikianlah permisalan orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah, dapat mengambil manfaat dari apa yang Allah pikulkan kepadaku (hidayah dan ilmu), sehingga ia menjadi alim dan mampu mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Demikian pula permisalan orang yang tidak menggubris dan enggan menerima petunjuk Allah yang aku bawa. (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari Abu Musā al-Asy‘ari)

Pohon kurma yang tidak pernah gugur daunnya diumpamakan seorang mukmin. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar disebutkan,

Kami sedang bersama Rasulullah pada satu hari, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya permisalan seorang mukmin bagaikan pohon yang tidak gugur daunnya satu helai pun. Tahukah kalian pohon apa itu?” Mereka (para sahabat) berkata, “Tidak.” Lalu beliau menjawab, “Itu adalah pohon kurma. Pohon kurma tidak gugur daunnya, dan seorang mukmin tidak gugur doanya.” (Riwayat Ibnu ajar dalam Fatul-Bārī, dari jalan al-Ḥāri bin Abī Usāmah dari Ibnu ‘Umar)

Karenanya, adalah benar jika doa seorang mukmin tidak akan ditolak oleh Allah. Itu merupakan hal yang Allah janjikan melalui firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ۝

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Alquran, Surah al-Mu’min/40: 60)

Hanya saja doa akan dikabulkan jika memenuhi syarat dan tidak ada penghalang. Syarat-syarat itu di antaranya kehadiran hati, tekad yang bulat, dan pengharapan yang penuh akan terkabulnya doa tersebut.

Diketahui bahwa pohon kurma memiliki perbedaan antara satu varian dengan varian lainnya. Fenomena variasi di antara jenis tumbuhan ini termaktub dalam firman Allah,

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ۝

Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 4)

Demikian halnya kondisi riil yang dapat dilihat pada kaum mukmin. Meski sama-sama beriman namun masing-masing individu memiliki level keimanan yang variatif. Mengenai hal ini Allah berfirman,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ۝

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (Alquran, Surah Fāṭir/35: 32)

Pohon kurma termasuk salah satu pohon yang paling kuat menghadapi terpaan badai. Kekuatan pohon ini merupakan perlambang kesabaran seorang mukmin dalam menghadapi cobaan dan tantangan. Seorang mukmin dituntut untuk  bersabar dalam menghadapi bala, malapetaka, dan musibah. Dalam diri seorang mukmin harus terkumpul tiga macam kesabaran: kesabaran dalam menaati perintah Allah, kesabaran dalam menjauhi maksiat, dan kesabaran menghadapi musibah. Mengenai hal ini Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ۝

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ”lnnā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 155-157)

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝

Katakanlah (Muḥammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (Alquran, Surah az-Zumar/39: 10)

Lebih dari itu, beberapa ulama menyamakan pohon kurma dan seorang mukmin dalam hal penyebab hidupnya. Pohon kurma hidup karena memperoleh siraman air, dan seorang mukmin tidak dapat hidup istikamah tanpa siraman hidayah yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah. Pentingnya peranan wahyu bagi seorang mukmin disebutkan dalam firman Allah,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ۝

 Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muammad) roh (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Alquran) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Alquran itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus. (Alquran, Surah asy-Syūrā/42: 52)

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda,

Permisalan seorang mukmin bagaikan pohon kurma. Apa saja yang engkau ambil darinya niscaya itu bermanfaat bagimu. (Riwayat aṭ-Ṭabrāni dari ibnu ‘Umar)

Benar saja bahwa seluruh bagian pohon kurma memiliki manfaat, tidak terkecuali durinya. Begitulah seharusnya keadaan seorang mukmin di tengah masyarakat. la harus selalu memberi manfaat kepada masyarakat dalam pergaulannya, berakhlak mulia, memiliki tata krama dan budi pekerti yang luhur, serta tidak menimbulkan kekisruhan dan gangguan terhadap mereka. Di satu sisi ia bersikap lemah lembut, namun di sisi yang lain ia punya ketegasan dalam menegakkan kebenaran, seperti duri pohon kurma yang kuat menangkal gangguan yang datang. Ketegasan sekaligus kelembutan hati seorang mukmin ini Allah umpamakan sebuah tanaman, sebagaimana firman-Nya,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ۝

Muḥammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar. (Alquran, Surah al-Fat/48: 29)

Dalam ayat yang lain dijelaskan bahwa seorang mukmin yang bermanfaat bagi orang lain dengan kesediaannya membantu sesama dimisalkan sebutir benih yang menumbuhkan bulir-bulir dan biji-biji yang berlipat ganda.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ۝

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 261)

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa antara orang mukmin dan pohon kurma memiliki banyak kemiripan. Kokohnya pohon kurma ibarat iman yang mengakar di dalam hati seorang mukmin. Begitu pun, kualitas buah kurma yang makin baik sejalan bertambahnya umur pohon ibarat seorang mukmin yang makin tua makin bertambah pula kebaikan dan amal salihnya. Dalam sebuah hadis disebutkan,

Seorang badui bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?” Beliau menjawab, “(Manusia yang paling baik adalah) orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (Riwayat at-Tirmiżi dari ‘Abdullāh bin Bisr)

Lebih dari itu, kebermanfaatan seluruh bagian pohon kurma ibarat seorang mukmin yang selalu saja bermanfaat dan tidak pernah menyakiti orang lain; itulah orang mukmin yang terbaik. Dalam hadis disebutkan

Suatu hari Rasulullah berdiri di tengah-tengah para sahabatnya yang sedang duduk-duduk. Kemudian beliau bertanya, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik dan yang terjelek dari kalian?” Para sahabat terdiam sama sekali, sampai-sampai beliau mengulanginya tiga kali. Lalu seorang lelaki menyahut, “Ya, Wahai Rasulullah; beritahulah kami tentang orang yang terbaik dan yang terjelek dari kami!” Rasulullah menjawab, “Orang terbaik dari kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya, dan orang lain merasa aman dari keburukannya. Sedangkan orang terjelek adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya, dan orang lain merasa tidak aman dari keburukannya.” (Riwayat at-Tirmiżi dan Amad dari Abū Hurairah)

 

PEMANFAATAN TUMBUHAN OLEH MANUSIA

manfaat tumbuhan

Alquran menegaskan bahwa tumbuhan adalah anugerah khusus yang Allah berikan kepada manusia. Surga yang berupa taman, menurut Alquran, adalah dunia dalam kualitas terbaiknya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut.

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ ۝

Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tetapi barang siapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 12)

Berulang kali Alquran menyebut peran tumbuhan sebagai makanan dan obat bagi manusia. Dalam penciptaan bumi pun Allah menegaskan proses penciptaan tumbuhan terjadi pascapenciptaan bumi dan munculnya air dari dalam bumi.

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا ۝ أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا ۝

Dan setelah itu bumi Dia hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (Alquran, Surah an-Nāzi‘āt/79: 30-31)

Tumbuhan dan air dibahas secara bersama karena satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Tumbuhan hanya ditemukan di bumi yang mempunyai cadangan air, dan tumbuhan itulah yang menjadi materi dasar bagi terjadinya kehidupan di bumi. Perhatikan ayat-ayat berikut.

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ ۝ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ۝ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا ۝ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا ۝ وَعِنَبًا وَقَضْبًا ۝ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا ۝ وَحَدَائِقَ غُلْبًا ۝ وَفَاكِهَةً وَأَبًّا ۝ مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ ۝

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Kamilah yang telahmencurahkan air melimpah (darı’ langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewanhewan ternakmu. (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 24-32)

Ayat-ayat ini memberitahukan bahwa Allah menciptakan tumbuhan sebagai sumber makanan bagi manusia dan hewan. Melalui tumbuhan tubuh manusia dan hewan mendapat semua elemen yang diperlukan bagi eksistensi biologisnya. Selanjutnya, Allah menciptakan beragam rasa pada hasil tumbuhan yang dimakan itu. Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ۝

 Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 141)

Ayat ini berbicara tentang sayuran dan buah segar beserta rasanya, dalam konteks zakat pertanian dan ketidaksukaan Allah terhadap apa saja yang sifatnya berlebihan. Manusia diberitahu bahwa semua itu Allah ciptakan sebagai makanan bagi manusia. Allah menginginkan agar manusia memperoleh semua itu dengan bercocok tanam. Setelah memanen hasilnya mereka didorong untuk memberi sebagiannya kepada orang lain dalam bentuk zakat, dan berterima kasih kepada Allah atas berkah yang diberikan oleh-Nya.

Menurut Alquran, dari berbagai aspeknya bercocok tanam dan bertani adalah alasan mengapa manusia bereksistensi di muka bumi. Proses inilah yang menyediakan makanan bagi manusia, baik secara fisik maupun spiritual. Betapa tidak, Nabi Muḥammad‎ menegaskan bahwa ketika seseorang menanam pohon yang kemudian berbuah, dan buah itu dimakan oleh orang lain atau bahkan oleh binatang, maka itu semua akan diperhitungkan sebagai sedekah baginya.

Dalam topik yang serupa, Nabi Muḥammad‎ mengatakan bahwa bila seseorang memegang sebatang bibit pohon, sedangkan ia tahu kiamat akan terjadi esok hari, maka ia dianjurkan segera menggali tanah dan menanam bibit itu di sana. Tradisi yang ditanamkan Nabi memperlihatkan betapa tumbuhan memiliki peran penting dalam Islam. Ini mengajarkan kepada manusia bahwa tugas mereka terbatas pada persoalan menanam pohon saja, dan apa yang terjadi sesudahnya -gempa bumi, kebakaran hutan, atau bahkan kiamat- adalah murni urusan Allah. Dengan demikian, semangat yang Islam tanamkan salah satunya adalah menghijaukan bumi.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

 

Leave a Reply

Close Menu