TUMBUHAN CIPTAAN TUHAN

TUMBUHAN CIPTAAN TUHAN

 Serial Quran dan Sains

Dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan berbudaya manusia, peran tumbuhan dan hewan sangatlah dominan. Para orang tua dahulu sering kali menggunakan peribahasa dalam pola bertutur mereka sebagai suatu bentuk pengungkapan pendapat tanpa harus menimbulkan benturan sosial. Uniknya, gaya bertutur mereka ini melibatkan, di antaranya, alam tumbuhan dan hewan sebagai ilustrasi isi pesan. Gejala dan perilaku alam, khususnya tumbuhan dan hewan, menjadi guru yang baik bagi manusia yang mau hidup berdampingan dengan sesama makhluk ciptaan Allah itu. Demikian halnya dalam kehidupan beragama; hewan dan tumbuhan banyak digunakan sebagai ilustrasi dan simbol dalam penyampaian pesan-pesan Tuhan, baik dalam bentuk cerita, perumpamaan, hingga hal-hal yang mengarah kepada penjelasan mengenai ilmu pengetahuan.

Kedekatan manusia dengan alam sekeliling bagi kaum Aborigin di Australia adalah melalui terjadinya proses reinkarnasi. Kejadian ini bermula dari saat penciptaan, di mana hewan dan tumbuhan pada mulanya adalah manusia. Dalam agama Mesir Kuno, dewa-dewa atau tuhan-tuhan yang berupa hewan dan tumbuhan sangat dominan. Jauh sebelum agama ini memiliki tuhan berwujud manusia, tuhan berwujud tumbuhan dan hewan telah lebih dahulu berkembang. Bahkan hingga para tuhan itu berubah wujud menjadi manusia, mereka tetap saja memiliki tanda-tanda kehewanannya, seperti Amon yang masih merepresentasikan dirinya sebagai angsa atau belibis; Ra yang merepresentasikan belalang atau sapi jantan; Osiris sebagai sapi jantan atau belibis; Sebek sebagai buaya; Horus sebagai burung pemangsa; Hator sebagai sapi; dan Thoth,dewa kebijaksanaan, sebagai kera baboon; dan selanjutnya.

Agama Maya, demikian pula agama Aztek dan Inca di waktu yang lebih belakangan, banyak menggunakan tumbuhan dan hewan sebagai perumpamaan, simbol-simbol, maupun upacara ritual. Dewa utama dalam agama Maya adalah Dewa Jagung. Pemilihannya mungkin berkaitan dengan aktivitas pertanian yang telah maju. Mamalia, burung, dan serangga digunakan pula sebagai simbol-simbol keagamaan. Misalnya, burung hantu merupakan simbol pembawa berita dari “dunia di bawah” (underworld). Sejenis kera merepresentasikan peran penulis maupun pematung. Burung Quetzal yang berbulu warna-warni, yang menyatu dengan ular, juga dipuja. Ular adalah metafor untuk kelahiran kembali. Sedangkan untuk upacara keagamaan, ketiga agama di atas sering menggunakan produk alam sebagai sumber efek halusinasi, seperti tumbuhan (biji Ipomea violacea, kulit batang Lonchocarpus longistylus, atau daun tembakau liar Nicotina rustica), jamur Psilocype cubensis, kaktus Laphophora wiliamsii, atau katak besar Bufo marinus.

Dalam agama Buddha, simbolisme hewan dan penggambarannya sangat penting pada proses kehidupan berbudaya sehari-hari.

Dengan demikian simbol-simbol itu bukan dianggap artifisial, melainkan berkaitan langsung dengan aktivitas dan pengalaman mental seseorang. Beberapa hewan yang mempunyai arti penting dalam agama Buddha, Hindu, maupun agama lainnya adalah singa (yang dianggap mewakili Bodhisatva, putra Buddha, yakni seseorang yang sudah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi); gajah (yang merupakan simbol kekuatan dalam mengontrol diri; dipercaya bahwa dalam salah satu reinkarnasinya Buddha pernah menjadi gajah; dalam agama Hindu gajah adalah kendaraan Batara Indra); kuda (yang merupakan simbol energi dan usaha tak kenal lelah dalam mempelajari Dharma); dan burung merak (sebagai simbol Buddha yang bijak dan bebas dari pemikiran-pemikiran negatif seperti benci, dengki, dan sebagainya, dan mengubahnya menjadi pemikiran yang lebih memberikan pencerahan dan berwarna-warni; sedang dalam agama Hindu, pola pada bulu burung merak merepresentasikan mata, dan menjadi simbol bintang). Di Mesopotamia, gambar pohon yang diapit dua burung melambangkan dua pemikiran yang berbeda tetapi tetap dalam satu kesatuan; garuda menyimbolkan raja segala burung.

Dalam agama Hindu, garuda merupakan kendaraan Dewa Wisnu. Sedangkan dalam agama Buddha ia adalah kendaraan Amogasidhi, Buddha yang telah memperoleh kebijaksanaan.

Dalam ayat-ayat Alkitab, tumbuhan sering kali digunakan sebagai simbolisasi atas perilaku tertentu. Para nabi dalam Perjanjian Lama, atau Nabi Isa dalam Perjanjian Baru menggunakan pohon, anggur, buah, dan tanaman obat untuk merepresentasikan kebaikan, pengampunan, dan keagungan Tuhan. Yang demikian itu membuat para petani dan penggembala yang sehari-hari berkecimpung dengan tumbuhan yang disebutkan dalam ayat-ayat Alkitab sangat memahami pesan-pesan yang disampaikan begitu mereka membaca AIkitab.

Contohnya, tumbuhan berduri merupakan simbol dosa dan semua akibatnya (misal dalam kisah pengusiran Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian 3: 17-18). Para nabi menggunakan buah ara, zaitun, dan anggur untuk mengekspresikan kebaikan Tuhan; panen yang melimpah sebagai pertanda ganjaran atas perbuatan baik; tanah yang tandus sebagai simbol hukuman atas perbuatan dosa; panen yang berlimpah sebagai bukti kasih sayang Tuhan kepada manusia. Tiap jenis pohon juga dapat merepresentasikan sifat-sifat tertentu. Pohon aras, misalnya, melambangkan orang yang bangga akan kebaikan dirinya, dan pohon hisop menggambarkan orang yang rendah hati (Imamat 14: 2-4). Nabi Isa menggunakan bunga bakung dan rumput di ladang untuk mengilustrasikan keuntungan bagi mereka yang bekerja di Kerajaan Allah (Matius 6: 28,30).  Ia juga membandingkan Kerajaan Tuhan dengan biji sawi yang kecil, yang apabila tumbuh subur akan menjadi semak yang paling baik dibandingkan yang lain (Markus 4: 30-32), dan menggunakan anggur beserta cabangnya sebagai ilustrasi hubungan antara Tuhan dengan manusia.

Di samping itu, banyak tanaman, bahkan sampai rumput dan tumbuhan kecil lainnya, diuraikan cukup rinci, baik sebagai perumpamaan, simbol, maupun rincian dari pemanfaatannya. Misalnya, dalam Ulangan (8:7-8) dapat dilihat uraian yang cukup rinci mengenai Ianskap (gunung, lembah, mata air, sungai, dan danau) dan tumbuhan (gandum, jelai, anggur, ara, delima, zaitun), serta produk dari tanaman (madu) yang ada pada pada saat itu.

Jenis-jenis tumbuhan yang disebutkan dalam Alkitab umumnya tumbuh di Mesir atau Palestina, sedangkan yang berkaitan dengan bumbu-bumbu umumnya diimpor dari Jazirah Arab dan India melalui rute perdagangan saat itu. Sekitar 125 jenis tumbuhan yang berbeda disebutkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan ratusan lainnya dalam kitab-kitab Yahudi seperti Mishnah, Talmud, dan Midrashim. Dalam uraiannya, di samping sebagai simbol atau perumpamaan, banyak ayat menyebutkan manfaat tumbuh-tumbuhan itu dalam ranah pengobatan. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat penggunaan obat herbal di Mesir sudah dimulai pada 10.000 tahun SM. Ayat-ayat dalam Alkitab yang menceritakan pengobatan dan jenis obat yang digunakan cukup banyak ditemukan. Demikian pula dalam Perjanjian Baru, di mana kisah-kisah penyembuhan umumnya berkisar pada penyakit-penyakit alami (ada 35 ayat dalam Perjanjian Baru yang menyatakan Nabi Isa dapat menyembuhkan penyakit-penyakit seperti kebutaan, tuli, lumpuh, epilepsi, dan kerasukan setan).

Di dalam Alquran, kitab suci umat Islam, penyebutan tumbuhan dan hewan juga berulang. Penyebutan itu mengandung berbagai maksud, mulai dari perumpamaan, simbolisasi, kegunaannya sebagai obat dan makanan, hingga uraian atas suatu proses ilmu pengetahuan yang berlangsung. Hal yang disebut terakhir ini sangat jarang, bila tidak dapat dikatakan tidak ada sama sekali, dalam kitab suci agama Iain.

Tumbuhan sering kali disebut sebagai anugerah khusus bagi manusia. Bahkan Allah menggambarkan surga sebagai “tempat tinggal yang indah di tengah Kebun Kelanggengan” (terjemah bahasa Inggris atas Surah aṣ-Ṣaff/61: 12— “beautiful mansions in Garden of Eternity”). Sayangnya makna ini tidak tergambar dengan baik dalam terjemah berbahasa Indonesia, “dan tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn.”

Orang yang percaya kepada Tuhan dan mengucapkan perkataan-perkataan yang baik adalah manusia-manusia dambaan-Nya, yang diibaratkan oleh-Nya seperti pohon. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ۝ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ۝ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ۝

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan bagi kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (Alquran, Surah Ibrāhim/14: 24-26)

Pengibaratan di atas begitu sarat arti. Betapa tidak, seseorang akan merasakan nikmatnya keteduhan serta buah dan bunga dari sebuah pohon. Kesan yang pertama kali terlintas dalam benak seseorang saat memandang pohon rindang adalah ketenangan dan keteduhan. Kualitas macam inilah yang Allah harapkan ada dalam diri mereka yang beriman kepada-Nya. Seorang mukmin harus hidup dalam rangka memberi kedamaian dan manfaat bagi orang Iain di sekitarnya. Dalam sebuah hadis disebutkan,

Orang yang beriman itu layaknya tunas sebuah bibit tanaman; ia meliuk dengan lembut tatkala angin menerpa, dan ia kembali tegak tatkala angin berikutnya menerpa. Sedangkan orang munafik itu ibarat pohon padi; ia tetap tegak berdiri sampai ada angin kencang yang membuatnya rebah sama sekali. (Riwayat al-Bukhāri dari Ka‘b)

Begitulah gambaaran ideal orang-orang mukmin; mereka hidup di tengah masyarakat dengan segala kelembutannya, bukan dengan kesombongan dan kekakuannya. Mereka selalu mengedepankan harmoni, bukan benturan dan konfrontasi. Mereka selalu mengikuti prinsip persuasif dan menghindari kekerasan.

Lebih dari itu, sesungguhnya tumbuhan juga sering kali dihubungkan dengan air, misalnya pada saat permulaan evolusi bumi. Alquran menyatakan,

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا۝

Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. (an-Nāzi‘āt/79: 31)

Air dan tumbuhan memiliki hubungan yang sangat erat. Sampai saat ini tumbuhan sebagai makhluk hidup belum ditemukan di bagian lain dari alam semesta. Rangkaian kehidupan selanjutnya pun sangat bergantung pada kehadiran tumbuhan. Tanpanya makhluk hidup lain mustahil bisa eksis. Hal ini Allah uraikan secara singkat namun tegas dalam ayat-ayat di bawah ini.

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ۝ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا۝ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا۝ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا۝ وَعِنَبًا وَقَضْبًا۝ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا۝ وَحَدَائِقَ غُلْبًا۝ وَفَاكِهَةً وَأَبًّا۝ مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ۝

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 24-32)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa melalui tumbuhan, dan berikutnya daging dari hewan ternak, tubuh manusia menerima semua elemen yang diperlukannya untuk eksistensinya sebagai makhluk biologis. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan resistensi terhadap berbagai penyakit. Dalam ayat yang lain dijelaskan bahwa Allah menambahkan berbagai rasa pada jenis-jenis tumbuhan itu, sehingga tidak lagi menjadi makanan yang “sederhana”.

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ۝

Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (al-An‘ām/6: 141)

Dari berbagai sudut -Alquran memperlihatkan bahwa bertani merupakan cara manusia tetap eksis di dunia ini, baik dalam sisi spiritual maupun dalam sisi kemampuannya untuk mendapatkan makanan bagi kehidupannya. Begitupun Rasulullah menyatakan bahwa apabila seseorang menanam suatu tanaman, kemudian tanaman itu tumbuh baik dan berbuah, dan buah itu dimakan oleh orang lain maupun burung sekalipun, maka yang demikian itu dinilai sebagai sedekah bagi petani itu. Dalam hadis yang lain beliau menyatakan bahwa andaikata seseorang memiliki bibit tanaman, dan ia tahu kalau kiamat akan terjadi esok hari, maka ia tidak boleh menunda-nunda untuk menggali tanah dan menamam bibit itu.

Ini menandakan betapa Islam menaruh perhatian yang amat besar terhadap tumbuhan. Demikian pula terhadap hewan, khususnya ternak. Selain beberapa ayat yang  menunjukkan perikehidupan hewan tersebut dan kegunaannya sebagai makanan dan obat bagi manusia, banyak pula hadis yang menjelaskan etika dan hak yang harus ditunaikan kepada hewan ternak dan hewan peliharaan pada umumnya. Di antaranya hadis yang menyatakan bahwa Alah memberi pahala kepada seseorang yang memberi minum anjing yang kehausan; atau sebaliknya, menghukum orang yang membiarkan kucing peliharaannya mati terkunci di ruangan dalam keadaan lapar; atau larangan menjadikan hewan tunggangan sebagai mimbar untuk berpidato; larangan memukul muka hewan; larangan memotong organ tubuh hewan yang masih hidup; larangan melempari hewan yang terikat; dan masih banyak Iagi.

Dari uraian di atas tampak bahwa Islam memandang semua ciptaan, baik itu tumbuhan maupun hewan, melalui dua perspektif. Pertama, sebagai ciptaan yang mempunyai hak untuk hidup, dalam usaha mengagungkan Allah dan membuktikan kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. Kedua, sebagai faktor yang menunjang pemenuhan kebutuhan makhluk hidup lainnya, utamanya manusia, dalam rangka melaksanakan peran utamanya sebagai pemakmur dan penjaga kelestarian bumi.

Adalah benar bahwa bumi diciptakan Allah untuk semua makhluk yang hidup di atasnya,  dan Islam memberi hak tersendiri kepada masing-masing dari makhluk-makhluk itu. Allah ta‘ala berfirman,

وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ ۝

Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya) (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 10)

Islam membuat aturan yang komprehensif, aturan yang berujung pada upaya pencegahan terhadap segala kemungkinan timbulnya ketidakadilan yang dilakukan manusia terhadap makhluk lainnya. Bahkan, dalam keadaan perang sekalipun, seorang muslim tidak dibenarkan membunuh hewan-hewan yang hidup di wilayah lawan, demikian juga membakar dan memotong pohon tanpa sebab. Islam benar-benar memberi kasih dan perlindungan kepada siapa dan apa saja. Islam dengan demikian tidak tereduksi dalam ajaran-ajarannya yang berdimensi keimanan dan ketuhanan belaka, melainkan menjadi suatu petunjuk komplet mengenai cara hidup yang sempurna, yang bukan saja menjamin hak manusia, tetapi juga hak-hak tumbuhan dan hewan. Subḥānallāh.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu