TINDAKAN ILAHI

TINDAKAN ILAHI

Dua isu, yakni mukjizat dan doa bagi kesembuhan pasien, sama-sama memiliki kaitan langsung dengan tindakan Ilahi yang juga merupakan topik penting. Bahkan, ini bisa menjadi wilayah terpenting untuk dibidik para teolog dan pakar sains agama: Bagaimana Tuhan bertindak di dunia -baik dalam situasi yang luar biasa (ganjil) maupun dalam situasi sehari-hari seperti sakit yang diderita makhluk? Pertanyaan pertama yang harus dikemukakan adalah: Apakah Tuhan bertindak di dunia, ataukah Dia membiarkan segala sesuatu berjalan secara alamiah? (Sejatinya, hanya penganut deisme yang berkeyakinan bahwa Tuhan memang menciptakan dunia, tetapi setelah itu Dia hanya mengamati saja. Sementara itu, penganut teisme meyakini bahwa Tuhan benar-benar bertindak di dunia.) Bila Tuhan memang benar-benar bertindak, apakah Dia melakukannya itu hanya melalui proses-proses alamiah biasa, ataukah setidak-tidaknya sesekali, melalui intervensi langsung yang melampaui proses-proses alamiah?

Dalam survei yang saya lakukan di universitas tempat saya mengajar, saya mengajukan pertanyaan berikut kepada para mahasiswa dan profesor: ‘”Jika Anda benar-benar beriman kepada Tuhan, manakah yang Anda pilih di antara pernyataan di bawah?” Pilihan dan hasilnya sebagai berikut:

  • Tuhan bertindak langsung dalam kehidupan kita, termasuk dalam fenomena dan bencana alam: 77 persen.
  • Tuhan bertindak di dunia, tetapi hanya menurut hukum alam: 15 persen.
  • Tuhan memang ada, tapi Ia tidak bertindak di dunia; Ia membiarkan segala hal berjalan sendiri (menurut hukum alam): 8 persen.

Jawaban dari kalangan mahasiswa dan profesor memperlihatkan statistik yang hampir sama. Saya juga harus sampaikan di sini bahwa 26 persen profesor non-Muslim memilih “Aku tidak percaya akan adanya Tuhan”, sementara hanya 2 persen saja profesor dan mahasiswa Muslim yang memilih jawaban tersebut. Dengan demikian, sudah jelas bahwa karena keyakinan pada Tuhan diterima secara luas di kalangan Muslim, pilihan yang terkait dengan (inter)aksi dengan dunia semakin mengerucut kepada pertanyaan: ”Apakah Tuhan bertindak langsung ataukah bertindak (hanya) melalui proses-proses alamiah?”

Isu tersebut begitu menarik perhatian banyak pemikir baru-baru ini. Tulisan terkini terkait topik ini adalah karya Keith Ward, seorang teolog di Oxford, berjudul Divine Action: Examining God’s Role in An Open and Emergent Universe, yang terbit pada 2007. Dua tahun sebelumnya, John Polkinghorne, seorang teolog-fisikawan, menerbitkan Science and Providence: God’s Interaction with the World. Banyak sekali artikel ilmiah tentang topik tersebut yang juga ditulis belakangan ini. Beberapa di antaranya yang paling baru adalah: “Divine Action: Expected and Unexpected” karya R. J. Berry; “The Action of God in the World: Asynthesis of Process Thought in Science and Theology‘ karya Ross L. Stein; “Divine Action in the World” karya Alvin Plantinga; “Divine Action and Modern Science“karya Edward L. Schoen; “Divine Action and Modern Science“karya Michael Epperson; “Divine Action and Modern Science“karya Larry Chapp, dan banyak lainnya.

Para teolog dan cendekiawan bidang sains dan agama telah mengusulkan banyak sekali cara untuk memahami (jika tidak menjelaskan) tindakan Tuhan di dunia. Banyak di antara mereka, semisal Polkinghore, Russel, dan Gregersen, yang terang-terangan memusatkan perhatian pada proses-proses fisik: Mekanika Kuantum, chaos, dan dua efek sekaligus. Sementara itu, sebagian lain, semisal Donald MacKay, menolak kerangka mekanik dan menyuarakan suatu bentuk ‘artistik’ dari pengaruh Ilahi. Beberapa tokoh lain, utamanya yang menganut ‘teologi proses’, semisal Arthur Peacocke, menawarkan semacam konsep arus informasi menyeluruh yang ‘menjadi perantara’ Tuhan untuk bertindak di alam semesta dengan trickle-down effect (efek tetesan ke bawah) yang kemudian memunculkan hasil-hasil di beberapa titik tertentu. Kita akan membahasnya secara singkat di bawah ini.

Sejak dahulu, para pengamat mengatakan bahwa keserbamungkinan yang melekat dalam Mekanika Kuantum bisa menjadi pintu keluar-masuk bagi tindakan Tuhan di dunia, sebab siapa pun cenderung akan berpikiran bahwa Tuhan (yang Mahatahu dan Mahakuasa) bisa menetapkan hasil ‘proses keruntuhan fungsi gelombang’ terhadap satu dari sekian banyak pilihan yang dimungkinkan dalam fisika. (Namun, perlu diingat bahwa Peacocke tidak menerima kemahatahuan dan kemahakuasaan yang mutlak seperti itu. Ia lebih mengatakan “kemahatahuan Tuhan yang terbatas oleh diri-Nya sendiri”dan “kemahakuasaan yang juga terbatas oleh diri-Nya sendiri”.Ia juga mengatakan: “Tuhan telah menciptakan dunia dengan cara yang Dia sendiri tidak ketahui secara pasti, hanya berupa dugaan dan kemungkinan saja”,Dari situlah banyak yang mempertanyakan perbedaan antara ‘Tuhan’ dan fisikawan andal. Jika Tuhan bisa menentukan hasil dari setiap proses mekanika kuantum yang menurut kita selalu serba mungkin (menurut Teori Kuantum standar), Dia pun dapat ‘menyetir’ peristiwa-peristiwa dalam cara yang tampak jelas pada kita. Akan tetapi, tindakan atau intervensi Tuhan yang tak kasat mata ini tidak serta merta menjadi sumber kekacauan seperti ucapan kaum non-teis (bahwa segala sesuatu yang tak bisa dibuktikan haruslah ditolak, setidaknya berdasarkan prinsip pisau cukur Occam). Namun, ada sebuah persoalan terkait dengan usulan ini: Indeterminisme Mekanika Kuantum hanya ada pada tingkat mikroskopik. Karena wujud dan peristiwa makroskopik merupakan superposisi dari miliaran objek kuantum mikroskopik, perlu ada suatu dalil tindakan Ilahi pada masing-masing dua objek tersebut sehingga muncul tindakan yang bisa diamati secara kasat mata atau bisa disimpulkan bahwa superposisinya akan mematikan efek kecil mikroskopik, seperti yang sudah lazirn diketahui bahwa gangguan mekanika kuantum dihilangkan oleh superposisi.

Usulan kedua yang lebih berrnanfaat mengenai tindakan fisik Ilahi adalah proses nonlinear yang mendorong ke arah chaos: efek-efek kecil dalam berbagai kondisi awal sebuah sistem, entah mikroskopik ataupun makroskopik, bisa melahirkan hasil-hasil yang luar biasa besar. Lagi-lagi, karena intervensi dan perubahan kecil yang mustahil bisa dilihat, Tuhan bisa menggunakan pendekatan yang hakikatnya tidak indeterministik dalam segala tindakan-Nya. Proses ini bisa begitu cocok dan sempurna menjelaskan terbelahnya Laut Merah oleh “angin timur yang kuat” (kalimat Al-Kitab) sekalipun juga bisa menjadi landasan sempurna bagi keyakinan terhadap intervensi Tuhan dalam bencana alam yang oleh banyak orang awam dipahami sebagai bentuk hukuman Tuhan; pandangan yang dibenci oleh kalangan yang lebih liberal dan humanis.

Terakhir, ada yang mengusulkan penggabungan dua efek tersebut sehingga proyeksi ilahiah mengenai fungsi gelombang kuantum terhadap sebuah hasil tertentu di level mikroskopik dengan sebuah amplifikasi nonlinear (bentuk chaos) bisa mengubah efek yang sebelumnya makroskopik menjadi kasat mata.

Peacocke menolak semua pendekatan ini dan menyebutnya “Tuhan pengisi celah yang tidak tertutupi (God of the uncloseable gaps)”. Menurutnya, tindakan ini jelas-jelas tidak bisa diterima karena mengisyaratkan bahwa “tanpa intervensi semacam itu, semua proses tersebut tidak mampu memengaruhi maksud kreatif Tuhan dan akan terus berjalan dalam cara awal yang telah Tuhan ciptakan dan topang keberadaannya.”

Untuk menanggapi Peacock, saya menggunakan sebuah analogi kesukaan saya, yaitu seorang pemrogram komputer yang merancang perangkat lunak, katakanlah sebuah perrnainan (game). Perangkat lunak berupa permainan ini bisa bekerja secara menyeluruh melalui nilai-nilai pengaturan awal yang menentukan beragam perkembangan, tetapi juga memudahkan para pemain untuk masuk ke dalam nilai-nilai yang berbeda di titik-titik tertentu atau menggunakan kartu joker tertentu sesuai dengan kebutuhan dan keinginan si pemain. Kartu semacam itu bisa diberikan sejak awal kepada pemain (sehingga ia ‘lahir’ dengan kemampuan itu) atau dimenangkan di tengah-tengah permainan (melalui ‘perbuatan baik’). Sekarang, di dunia/permainan kita, seseorang harus menambahkan satu unsur aktif (Tuhan) sebagai pengganti kode perangkat lunak otomatis yang akan memutuskan apakah permintaan (misalnya, doa) akan dikabulkan, atau apakah permainan akan terus berlanjut secara alamiah. Keseluruhan permainan tersebut, berikut hukum-hukum pengaturan awal (preset laws), kondisi dan batasan awal (beberapa doa sudah pasti ditolak), dan juga bagian-bagian (inter)aktif itu, harus dilihat secara bersama-sama. Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara hukum-hukum yang terus beroperasi dan intervensi yang terjadi sebagai bagian dari permainan.

Terakhir, MacKay (yang diikuti Berry) mengusulkan sebuah analogi ganda untuk memaparkan pandangannya tentang tindakan Ilahi: pertama-tama, seseorang harus mengingat sifat komplementer partikel-gelombang pada objek-objek kuantum dan menerapkannya pada subjek-subjek mikroskopik (tak kasat mata), dan kedua, ia harus membayangkan suatu pengaruh yang lebih sugestif dan artistik yang bisa diberikan Tuhan kepada berbagai subjek bila Ia menghendakinya. Dalam dalil ini, manusia secara khusus (juga makhluk dan objek lainnya) dianggap memiliki dua cara interaksi yang sifatnya saling melengkapi: interaksi fisik dan interaksi nonmaterial yang sama-sama disokong oleh Tuhan, Zat yang dalam istilah MacKay disebut sebagai Seniman Kosmis (Cosmic Artist), bukan Mekanik Kosmis (Cosmic Mechanic).

Di kalangan Muslim sendiri juga sudah ada beberapa usulan -tapi jumlahnya sangat sedikit sekali, itu pun jika ada mengenai penjelasan tindakan Tuhan di dunia. (Isu ini sangat sensitif dan bisa membuat pembahasnya dicap sesat bila terlalu jauh menyimpang dari ortodoksi.)

Sebuah artikel yang baru-baru ini mengupas topik tersebut, sekalipun bukan dari sudut pandang modern atau kontemporer, adalah ”Avencenna’s Position Concerning the Basis of the Divine Creative Action” karya Rahim Acar. Dalam artikel tersebut, penulisnya membahas pandangan-pandangan Ibn Sīna dan berkesimpulan bahwa filsuf dan polimat Muslim hebat abad ke-11 tersebut menganggap tindakan kreatif Tuhan mirip dengan benda-benda alamiah. Menurut prinsipnya, alam semesta bersifat niscaya sehingga menyimpulkan bahwa penciptaan (awal dan selanjutnya) lebih alamiah dibandingkan tindakan evolusi.

Artikel serupa, sekalipun dengan lingkup yang lebih luas, adalah “Divine Action between Necessity and Choice“karya Abdelhakim Al-Khalifi. Bahasan dalam artikel ini bisa dibilang sama seperti dalam artikel Acar, tetapi investigasi di dalamnya diperluas mulai dari para filsuf klasik (Al-Farābī dan Ibn Sīna) hingga mazhab kalam yang penting (Mu’tazilah dan Asy’ariyyah). Secara khusus, penulisnya mempertentangkan pandangan Asy’ariyyah (ortodoks) bahwa tindakan Tuhan sepenuhnya bebas dan tak bisa dibatasi, dengan pandangan Mu’tazilah (teologi rasional) bahwa tindakan penciptaan Tuhan memang bersifat bebas (kebalikan pandangan Ibn Sīna), tetapi Tuhan telah membatasi diri dengan prinsip-prinsip kebajikan dan pahala/hukuman bagi yang patuh/ingkar terhadap arahan Ilahi yang diperintahkan.

Saya akan menyebutkan dan mengomentari dua artikel terbaru tulisan para intelektual Muslim (dari kelompok Paris yang telah disinggung di atas) yang mengeksplorasi ‘resonansi’ Islam dengan Mekanika Kuantum: ”A Reflection on Quantum Mechanics: An Islamic Perspective” karya Abdelhaq M. Hamza dan “Les voies d’acces ala Realitedans Ie soufisme’ (“Channels of Access to Reality in Sufism”) karya Eric Younes Geoffroy.

Hamza adalah seorang fisikawan. Dalam esainya, ia mula-mula menyajikan sebuah tinjauan umum mengenai fisika modern, termasuk fondasi serta keberhasilan dan kegagalannya. Ia melakukan ini dengan maksud “menunjukkan bahwa sains modern, dengan teori Kuantum sebagai tulang punggungnya, bisa mengarahkan pada sains yang lebih tinggi, yaitu ‘sains tauhid’. Ia kemudian mengupas Mekanika Kuantum dengan agak ringkas, tetapi cukup memadai dalam rangka menegaskan bahwa impian Einstein akan sebuah teori yang deterministik masih belum terjawab, karena ‘paradoks’ persamaan Schrodinger yang deterministik dan hasil pengukuran yang indeterministik hanya bisa dipecahkan oleh sebuah teori masa depan. Hamza kemudian menegaskan bahwa “Islam menganut sudut pandang Kepastian (yaqīn) dan Determinisme (taḥqīq). Islam, menurutnya, juga tidak pernah menyerahkan segala sesuatu kepada kemungkinan (probabilitas). Keseluruhan penciptaan bergantung pada Kun Fayakun (Alquran, Surah Al-Baqarah/2:117)”. Lebih lanjut, ia menambahkan: “Berbeda dari Fisika yang mempertahankan peralihan dari determinisme ke indeterminisme, Metafisika selalu bersifat deterministik. Ia selalu berhasil di mana dan kapan saja fisika gagal. Ketentuan Ilahi yang menopang determinisme metafisika mutlak menggantikan indeterminisme serba-mungkin dalam fisika modern”. Saya rasa fisika dan metafisika tidak bisa dibandingkan begitu, dan saya pribadi tidak pernah memimpikan determinisme semacam itu.

Pandangan Hamza bisa dikontraskan dengan pandangan Polkinghorne. Fisikawan dan pendeta Anglikan tersebut menegaskan indeterminisme sebagai sebuah realitas dan keniscayaan ontologis yang berada di atas sandaran teologis. Indeterminismenya ini tidak hanya berada di alam kuantum saja, tetapi juga di ‘segala level’, termasuk di batas-batas proses nonlinear yang mensyaratkan kondisi-kondisi awal. Polkinghorne menyatakan adanya “sebuah dunia ontologis yang terbuka di segala level” dan sangat bergantung pada tindakan Tuhan. Pandangan berani ini memeroleh dukungan dari Niels H. Gregersen dan Robert J. Russel. Russel bahkan menulis: ‘Aku bertaruh dengan John dan Niels: indeterminisme itu ada di semua level di dunia.”

Geoffroy adalah seorang pakar tasawuf. Dalam esainya, ia mencoba menemukan kesejajaran antara konsep Realitas dalam Mekanika Kuantum dan dalam Tasawuf. Ia terkesan dengan penafsiran Realitas Terselubung (Veiled Reality) Mekanika Kuantum ala Bernard d’Espagnat yang mengemukakan (dengan begitu meyakinkan) bahwa ada satu level Realitas khusus dalam level kuantum. Level tersebut tidak bisa diukur, tetapi cukup membatu partikel-partikel gelombang untuk tetap terhubung, seperti yang tampak dalam eksperimen-eksprimen korelasi oleh Alain Aspect dan Nicholas Gisin serta para rekan sejawatnya, yaitu korelas-korelasi yang didengungkan oleh Einstein, Podolsky, dan Rosen sebagai sebuah paradoks yang akan menjungkirbalikkan teori Mekanika Kuantum (meskipun tidak terbukti). Perhatian utama saya mengenai pembacaan Geoffroy atas ‘kesejajaran’ antara dua pandangan tersebut (Mekanika Kuantum dan Tasawuf), yang pertama dan terutama, adalah pada “level Realitas yang lebih dalam”, yang menjadi dalil bagi fisikawan kuantum dalam menjelaskan semua hubungan yang sama sekali tidak bisa diakses, sementara para Sufi menegaskan dan menempatkan keseluruhan doktrinnya pada kemungkinan persesuaian dengan Realitas (penekanan pada sifat ilahiyahnya) yang mencakup segala hal, sehingga pandangan ini hakikatnya berbeda dari pandangan d’Espagnat.

Leave a Reply

Close Menu