TIGA PANDANGAN TENTANG SAINS DI DUNIA ISLAM

TIGA PANDANGAN TENTANG SAINS DI DUNIA ISLAM

Pandangan serupa, dengan beberapa variasi penting, dapat ditemukan dalam karya-karya Ziauddin Sardar dan sejumlah sarjana yang terkait erat dengan kelompok yang dikenal dengan “ijmali”, meskipun kelompok ijmali tidak mau disebut sebagai “sekadar Kuhnian”, kita dengan muda melihat subteks wacana mereka yang didasarkan pad Kuhn, Feyerabend, dan lainnya dalam kritiknya terhadap sains Barat modern. Deifinisi Sardar tentang sains banyak memiliki semangat definisi isntrumentalis dan atirealis Kuhn tentang sains. Bagi Sardar, sains adalah “alat pemecah masalah yang mendasar dari setiap peradaban. Tanpanya, suatu peradaban tidak dapat mempertahankan struktur politik dan sosialnya atau memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan budayanya”.  Sudut pandang sosiokultural ijmali ini tentu menunjukkan komponen penting aktivitas ilmiah, yaitu latar belakang sosial tempat sains ditanamkan dan berkembang. Namun, dicatat bahwa mengaitkan sains kealaman, tau setiap aktivitas ilmiah dalam masalah tersebut, dengan manfaat sosial pasti memiliki konsekuensi serius sejauh keabsahan filosofis sains diperhatikan. Sebagaimana kita lihat dalam kasus Van Frassen dan Kuhn, definisi instrumentalis tentang sains mengandung kecenderungan kuat terhadap antirealisme, suatu pendangan yang keselarasannya dengan konsep sains Islam juga harus diperhitungkan.

Namun, ada paradoks lain yang terkandung di sini. Kritik yang paling umum terhadap sains modern dengan cara menunjukkan sains sebagai upaya historis dan terkondisikan secara kultural tetapi mengajukan klaim terhadap universalitas dan objektivitas. Filsafat paradigma Kuhn, yang telah menjadi kata-kata yang paling berdengung di Dunia Islam, pembelaan terhadap masyarakat melawan sains Feyerabend, dan instrumentalisme ilmiah Van Fraassen semuanya banyak digunakan untuk menunjukkan  historitas dan relativitas sains modern. Karena setiap aktivitas ilmiah dan secara luas, manusia tertanam dalam latar historis dan kultural, kita tidak dapat lagi membicarakan sains secara terpisah dari kondisi sosiohistorisnya. Ini menunjukkan bahwa tidak  ada penejelasan sains, baik Barat atau Islam, ynag mungkin dilakukan tanpa sejarah, dan lebih penting lagi tanpa sosiologi sains, yang tugasnya adalah mendekonstruksi formasi historis dan genealogi sains. Lebih jauh, pendekatan ini telah diterapkan pada humaniora tanpa mempertimbangkan sepenuhnya implikasi tujuan yang dimaksudkannya, yaitu sains dan metodologi Islam.

Pada titik ini, filsafat sains menjadi identik dengan sosiologi sains dan setiap seruan terhadap validitas dan objektivitas universal bagi sains kelaman harus ditolak berdasarkan historisitas, ideologi, bias kulturalnya, dan lain sebagainya. Meskipun istilah-istilah ini digunakan sebagai istilah-istilah yang sangat terkenal oleh para penulis dan pemikir Muslim tentang sains modern, istilah-istilah tersebut jarang muncul sebagai pembelaan terhadap sains Islam, yang dimaksudkan sebagai alternatif bagi konsepsi Barat tentang sains. Jika sains adalah ciri-budaya yang tidak memiliki hak untuk diterapkan secara universal, sebagaimana ditunjukkan oleh para pendukung pandangan ini, maka yang demikia itu benar bagi semua aktivitas ilmiah, baik yang berlangsung di Samarkand abad ke-11 maupun Swedia abad ke-20. Inilah yang dengan jelas dikemukkan dan dimaksudkan oelh para penulis penting filsafat sains. Jika sains sekuler modern dibangun secara kultural dan historis, maka sains Islam sebagaimana dipahami oleh kelompok sarjana ini harus menjelaskan bagaimana dan mengapa sains Islam dapat diberi klaim validitas dan penerapan universal. Tentu mengurangi konsistensi logis jika kita katakan bahwa bahasa paradigma Kuhn merupakan alat yang tepat untuk menjelaskan sejarah sains Barat, tetapi bukan sains Islam.

Apa yang saya sebut pandangan epistemik tentang sains, yang telah memperoleh bentuk kecenderungan yang sangat umum dan tidak terbatas pada satu mazhab pemikiran saja, tentu telah mebangkitkan kesadaran Dunia Islam akan kemungkinan memiliki suatu kajian ilmiah tentang alam yang didasarkan pada etos Islam. Namun, dengan mudah kita dapat melihat kontradisi dalam sudut pandang ini, terutama karena sangat mudah diserang oleh epistemologi hingga pada titik menghilangkan ontologi dan metafisika, memiliki konsekuensi besar bagi setiap gagasan tentang sains, dan karena alasan inilah kita tidak melihat suatu kajian yang serius tentang filsafat, metafisika, atau kosmologi di kalangan pengikut pandangan ini. Lebih jauh, ada suatu penolakan yang di sengaja terhadap disiplin ini terlepas dari fakta bahwa filsafat dan metafisika Islam tradisional telah berperan sebagai jembatan antara pengetahuan ilmiah dan keyakinan kegamaan. Bagaimanapun, tetap harus dilihat apakah para pendukung pandangan epistemik tentang sains ini mampu mengatasi kesalahan subjektif filsafat modern atau tidak, yakni membangun sebuah epistemologi tanpa mengartikulasikan suatu metafisika dan ontologi yang benar.

YANG SAKRAL DAN YANG SEKULER: METAFISIKA SAINS

Pandangan penting terakhir tentang sains yang disini hanya dapat kita berikan suatu ringkasan tentangnya, berbeda dengan dua pandangan lainnya dalam penekanannya pada metafisika dan kritik filosofis terhadap sains modern. Diwakili terutama, anataralain, oleh para pemikir semisal Rene Guenon, sayyed Hossein Nasr, Naquib Al-Attas, Osman Bakar, Mehdi Golshani, dan Alparslan Acikgenc, pandangan metafisis tentangs sains mengangap setiap aktivitas ilmiah harus bergerak dalam kerangka metafisika yang prinsip-prinsipnya berasal dari ajaran wahyu ilahi yang tek berubah. Berlawanan dengan filsafat dan sosiologi sains, metafisika sains memperlengkap sains dengan suatu konsep sakral tentang alam dan kosmologi yang berperan didalamnya. Pada titik ini, pandangan sakral tentang alam yang diajarkan oleh agama-agama dan tradisi kuno mempunyai arti sangat penting dalam pembentukan dan cara kerja sains kealaman dan semua sains tradisional. Terlepas dari latar belakang historis dan geografis tempat sains ditanamkan, sains harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang memungkinkan sains tersebut melahirkan disiplin dan teknik ilmiah yang sangat maju seraya mempertahankan kesakralan alam dan kosmos. Sains alam tradisional, tegas Nasr  dan lainnya, tidak hanya mengambil etika kerja dan metodologi, tetapi juga raison d’erte metafisis dan ontologis dari prinsip-prinsip wahyu ilahi, karena sains tersebut berakar pada konsepsi tentang pengetahuan yang mengangap pengetahuan tentang dunia oleh manusia dan pengetahuan sakral yang ditunjukkan oleh Tuhan dpandang sebagai satu kesatuan. Akibatnya, krisis epistemologi sains alam dan humaniora yang coba kita atasi dewasa ini tidak akan timbul dari saintis tradisional yang tidak harus mengorbankan keyakinan keagamaannya untuk melaksanakan eksperimen ilmiahnya, dan sebaliknya.

Leave a Reply

Close Menu