TIGA PANDANGAN TENTANG SAINS DI DUNIA ISLAM

TIGA PANDANGAN TENTANG SAINS DI DUNIA ISLAM

Sikap ini dapat dilihat dengan baik sekali di kalangan pelopor modernisme Islam, terutama dikalangan mereka yang menyebut masalah sains sebagai persoalan yang paling urgen bagi Dunia Islam. Jamal Al-Din afghani dalam serangannyayang terkenal terhadap “kaum materialis”, yaitu Haqiqat-i mazhab-i naichiri wa bayan-i hal-i nachiriyan, yanag diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh muhammad ‘Abduh dengan Al-Radd ‘ala Al-Dahriyin, terlibat aktif dalam sebuah perdebatan yang mengklaim menyelamatkan sains dari kaum positivis, dengan dukungan baik dari sejarah sains Islam maupun modern. Dia mengemukakan hal-hal berikut ini dalam respons terkenalnya terhadap Renan:

Jika memang benar bahwa agama kaum Muslim merupakan suatu rintangan bagi kemajuan sains, dapatkah kita menyetujui bahwa tantangan ini suatu saat akan sirna? Bagaimana agama kaum Muslim berbeda dengan agama-agama lain dalam hal ini? Semua agama tidak toleran, masing-masing menurut caranya sendiri. Agama Kristen, termasuk masyarakat yang mengikuti inspirasi dan ajarannya dan terbentuk menurut citranya, telah muncul sejak periode pertama yang baru saja saya singgung; sejak umat Kristen bebas dan merdeka (dari agama), ia tampak maju dengan cepat pada jalur kemajuan dan sains, sementara masyarakat Muslim belum membebaskan diri dari pengawasan agama. Namun, menyadari bahwa agama Kristen mendahului agama kaum Muslim selama berabad-abad, tidak dapatkah saya terus berharap bahwa umat Muhammad suatu hari akan berhasil dalam meretas ikatanya dan bergerak secara pasti di jalan peradaban mengikuti cara masyarakat Barat? Tidak, saya tidak dapat menerima bahwa harapan ini ditolak oleh Islam.

Suara Afghani, yang dilanjutkan oleh tokoh-tokoh semisal Muhammad ‘Abduh, Sayyid Ahmad Khan, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal, Mehmet Akif Ersoy, Namik Kemal, Said Nursi, dan Farid Wajdi, merupakan simbol sentimen saat itu: sains modern tidak lain hanyalah sains Islam yang dikirim kembali ke Dunia Islam melalui pelabuhan Renainsans dan pencerahan. Dengan kata lain, sains bukanlah suatu upaya budaya tertentu, dan karenanya bukan hak khusus peradaban tertentu. Afghani mengemukakannya sebagai berikut:

Hal yang paling aneh adalah bahwa ulama kita belakangan ini telah membagi sains menjadi dua. Pertama yang mereka sebut sains Muslim, dan kedua sains Eropa. Karena itu, mereka melarang orang mengajarkan sebagian cabang sains yang sebetulnya berguna. Mereka tidak memahami bahwa sains merupakan sesuatu yang mulia yang tidak memiliki kaitan dengan bangsa mana pun, dan tidak dibedakan oleh sesuatu apa pun kecuali sains itu sendiri. Sebaliknya, segala sesuatu yang diketahui oleh sains, dan setiap bangsa yang terkemuka, dikenal melalui sains. Manusia harus menyesuaikan dengan sains, bukan sains menyesuaikan diri dengan manusia….

Bapak dan induk sains adalah bukti, dan bukti bukanlah Aristoteles atau Galileo. Kebenaran itu ada dimana pun bukti dapat ditemukan, dan mereka yang menolak sains dan pengetahuan dengan keyakinan bahwa mereka melindungi agama Islam, sesunguhnya adalah musuh agama. Agama Islam adalah agama yang sangat dekat dengan sains dan pengetahuan, dan tidak ada pertentangan antara sains dan pengetahuandan dasar keimanan Islam.

Bagi generasi pemikir Muslim ini, sains Barat dengan jelas dan tegas dapat dibedakan dengan nilai-nilai Barat, yang asumsi dasarnya adalah bahwa pandangan dunia sekuler Barat modern tidak memiliki serangan terhadap strukur dan cara kerja sains alam. Karena itu, tugas mereka bukanlah menggali fondasi sains modern, melainkan mendatangkannya tanpa komponen etika yang berasal dari budaya Barat, yang asing bagi etos Islam. Contoh terbaik dari sikap ini ditunjukkan oleh Mehmet Akif Ersoy. intelektual terkemuka kerajaan Utsmani dan penyair lagu-lagu nasional Turki. Akif, yang hidup pada masa ketika kerajaan Utsmani dan wilayah-wilayah Dunia Islam terpecah belah dan diserang dengan ganas oleh kekuatan Eropa, membuat suatu pembedaan yang tegas antara sains Barat dan gaya hidup Eropa, dengan menyerukan pengadopsian penuh sains Barat, meskipun menolak sama sekali gaya dan adat istiadat peradaban Eropa.

Gagasan meletakan sains modern dalam kerangka etika Islam merupak suatu sikap yang masih dapat kita lihat dewasa ini. Sebagian besar praktisi sains Dunia Islam yakni para insinyur, dokter, ahli kimia, dan fisikawan percaya terhadap netralitas inheren sains kealaman; karenanya, masalah justifikasi, dominasi, kontrol, dan lain sebagainya tidak muncul bagi mereka. Karena sains merupakan suatu upaya yang bebas nilai, perbedaan antara pelbagai tradisi ilmiah, jika hal itu dibolehkan, sepenuhnya timbul pada tingkat justifikasi, bukan pada tingkat eksperimen dan cara kerja. Jadi, ketika seorang saintis, baik dia Muslim, Hindu, atau orang tak beriman, mengamati komponen kimiawi mineral, dia melihat sesuatu yang sama, bekerja pada perangkat elemen yang sama, menurut perangkat kondisi yang sama, dan mungkin pada kesimpulan yang sama atau sepadan. Aplikasi praktis temuan-temuan ini pada berbagai bidang dan teknologilah yang membuat perbedaan, jika ada, antara ptolemeus, Ibn Al-Haitsam, dan Francis Bacon.

Tidaklah sulit melihat perumpamaan obor sains yang inheren dalam pandangan ini. Sebagai sikap yang palin lazim terhadap sejarah sains baik di Dunia Islam dan Barat, pandangan ini melihat sejarah sains berkembang mengikuti jalur linier penemuan dan kemajuan heuristik. Obor sains yang ditransmisikan dari satu bangsa kelainnya, dari satu periode sejarah ke lainnya, melambangkan kemajuan konstan riset ilmiah, yang menyisihkan fakta-fakta lain seperti keyakinan keagamaan, asumsi filosofis dan/atau infrastruktur sosial bagi seperangkat kondisi persiapan yang diperlukan bagi kemajuan sains. Dengan demikian, satu-satunya perbedaan antara sains Dunia Islam abad ke-13 dan sains Eropa abad ke-19 beralih menjadi kuantitatif, yakni dalam kaitannya dengan akumulasi dan spesifikasi lebih lanjut pengetahuan ilmiah tentang alam fisik. Demikian pula, revolusi ilmiah abad ke-17 dan 18 adalah revolusi bukan dalam pandangan manusia modern tentang alam dan makna penyelidikan ilmiah, melainkan dalam perangkat dan rumusan metodologis sains alam. Demikian mayoritas intelektual abad ke-19 menafsirkan sejarah sains dan munculnya sains alam modern, dan pandangan tersebut tetap diajarkan dewasa ini di sekolah-sekolah di Dunia Islam.

Leave a Reply

Close Menu