TEORI EVOLUSI (ORTODOKS) DARWIN

TEORI EVOLUSI (ORTODOKS) DARWIN

  • Sebenarnya tidak sepenuhnya tepat apabila Darwinisme, seleksi alam, dan “makhluk paling adaptif yang bertahan” (survival of the fittest) dianggap sebagai kaidah evolusi. Akan tetapi, identifikasi yang demikian bisa menjelaskan betapa pentingnya semua istilah tersebut yang akan saya paparkan dalam bagian Ini.

Prinsip pertama yang ingin saya kemukakan adalah perbedaan antara evolusi -yaitu, fakta alam yang teramati dengan jelas- dan teori (atau teori-teori) yang bisa disusun untuk menjelaskan evolusi tersebut. Teori Darwin -dengan seleksi alam sebagai bagian pokoknya- adalah teori yang umum dipakai dan diterima oleh para ahli biologi, meskipun ia bukanlah teori pertama dan juga tidak selalu diterima dewasa ini. Alasan umumnya adalah karena banyaknya gagasan baru -meski sejauh ini masih tetap terpinggirkan- bermunculan selama satu atau dua dekade terakhir yang menawarkan revisi terhadap teori tersebut; barangkali melalui cara-cara ‘yang lebih mengarah kepada gagasan teistik. Bahasan mengenai hal inl akan saya kemukakan di bagian selanjutnya dan di bagian kesimpulan.

Sekarang, sebelum saya mengetengahkan teori evolusi ortodoks Darwin, lebih baik kita mengenal dulu pencetusnya, Charles Darwin (1809-1882) yang, karena teori ini, ditahbiskan sebagai salah satu saintis terpenting sepanjang masa. Ia juga menjadi sosok paling kontroversial dalam sejarah manusia dipuja pahlawan oleh banyak orang, tetapi juga dinistakan oleh banyak orang karena dianggap iblis perusak iman kepada Tuhan dan ide penciptaan. Istrinya sendiri bahkan meyakini bahwa ia ditakdirkan masuk neraka. Akan tetapi, di saat kematiannya, Gereja Anglican menghormatinya dengan menguburkan jasadnya di kompleks pemakaman Westminster Abbey.

Ada banyak fakta menarik seputar Darwin, yang kebanyakan masih misterius, bahkan bisa menggemparkan apabila diketahui publik. Fakta pertama, Darwin muda ingin menjadi seorang pendeta. Belum jelas benar, apakah ia benar-benar ingin menjadi seorang pendeta atau ia hanya menganggapnya sebagai pilihan logis dan bergengsi ketika peluang-peluang lain tampak tertutup baginya. Namun, ada beberapa kisah tentang dirinya yang mengesankan ia sebagai sosok yang sangat beriman, setidaktidaknya pada awal kehidupannya. Pertama adalah fakta bahwa ketika mahasiswa, ia telah membaca buku terkenal Paley tentang argumen rancangan, Natural Theology, dan terkagum-kagum dengan buku itu. Kisah lainnya adalah ketika dalam perjalanan bersejarah di kapal Beagle, ia mengubah pandangan-pandangan ilmiah dan teologisnya. Rekan-rekan sekapalnya selalu mengolok-olok kebiasaannya yang suka membaca Al-Kitab yang ditafsirkannya secara harfiah.

Fakta penting lain seputar Darwin adalah kerisauannya tentang kejahatan yang terjadi di dunia, yang menggoyahkan imannya kepada Tuhan, bahkan mengubahnya dari seorang pemeluk iman menjadi seorang agnostik yang peragu. Ia tidak pernah bisa memahami makna kemahakuasaan Tuhan yang disebutkan dalam Al-Kitab ketika ia melihat kerusakan alam dan keburukan merajalela di sepanjang sejarah manusia. Kegelisahannya berakhir sciring dengan meninggalnya putri kecilnya yang berusia 10 tahun, Annie. Ia begitu mencintai putrinya karena wajahnya mirip dengan adik kandungnya orang yang menggantikan peran ibunya sewaktu ia masih kanak-kanak dan merawat dirinya dan ayahnya selama bertahun-tahun. Cerita ini harus selalu diingat dalam pembahasan mengenai pandangan keagamaan Darwin hingga akhir hayatnya. Singkat cerita, ia menolak tegas pemberlakuan argumen rancangan Paley pada binatang, organisme, dan organ, sebab ia memegang teguh teorinya sendiri yang dianggapnya bisa menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Menurutnya, peran Perancang hanya berlaku paling banter-pada hukum-hukum umum dan ciri-ciri khas alam. Akan tetapi, ia hanya bisa menerima pandangan deistik tentang Tuhan, Zat yang menciptakan dunia dari permulaan namun belakangan membiarkan alam berjalan sendiri. Alasannya sederhana, yakni karena ia tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan (yang aktif) ketika ada begitu banyak kerusakan dan kejahatan di dunia.

Marilah kita kembali ke belakang sebentar dan menilik kembali konstruksi teori evolusinya. Gagasan bahwa organisme selalu berubah sepanjang waktu sudah lama dikenal dan dalam banyak hal diterima di kalangan berbagai budaya (Barat dan Timur) selama berabad-abad. Di Barat, misalnya, kakek Darwin, Erasmus Darwin, mengemukakan bahwa spesies-spesies berasal dari nenek moyang yang sama, meskipun ia tidak memiliki penjelasan maupun bukti atas pendapatnya tersebut. Adapun naturalis Prancis, Jean Baptise Lamarck (1744-1829) mengembangkan teorinya sendiri yang cukup populer, setidak-tidaknya hingga ide Darwinisme diterima sepenuhnya. Teori Lamarck adalah ‘pewarisan sifat-sifat bawaan’ yang menyatakan bahwa sifat-sifat fisik yang diperoleh seseorang dalam hidupnya akan diwariskan kepada anak-anaknya. Sebagai contoh, jika Anda memiliki pekerjaan yang mengandalkan fisik, otot-otot Anda akan bertambah kuat dan anak-anak Anda akan mewarisi ciri-ciri ini; artinya, mereka akan terlahir dengan otot-otot yang juga kuat. (Biologi modern, dalam paradigma terkininya, menolak mentah-mentah pandangan ini.)

Pada Desember 1831, Darwin, saat itu berusia 22 tahun, menjadi seorang naturalis muda yang ikut berlayar di kapal Beagle dalam sebuah ekspedisi untuk menjelajahi pantai Amerika Selatan selama dua tahun, tetapi ternyata malah mengelilingi dunia hingga lima tahun. Pengalaman ini membuat Darwin bisa melakukan penemuan-penemuannya yang sungguh revolusioner. Kepulauan Galapagos menjadi terkenal sejak persinggahan Darwin di situ dan observasi-observasinya terhadap variasi sejumlah spesies binatang dari satu pulau ke pulau lain. Darwin selalu bertanya pada dirinya sendiri: Jika memang Tuhan telah menciptakan setiap spesies secara langsung dan sendiri-sendiri, mengapa Dia begitu mengistimewakan kepulauan yang tak berpenghuni ini dan menaruh spesies-spesies yang serupa tapi tak sama itu di sana? Darwin akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa semua variasi tersebut adalah hasil evolusi berangsur-angsur yang terjadi dari waktu ke waktu, dan semua spesies yang serupa tapi tak sama itu pastilah berasal dan berevolusi dari nenek moyang yang sama. Dengan mengeneralisasi gagasan ini pada spesies-spesies yang cukup mirip tapi tak sama -misalnya kuda, keledai, dan zebra- ia berkesimpulan bahwa semua binatang pastilah merupakan pencabangan dari asal-usul yang sama.

Tetap saja, Darwin masih harus menjelaskan apa yang membuat binatang tertentu menyimpang dari garis keturunan leluhurnya, atau apa yang menyebabkan binatang-bintang itu berbeda hingga terdapat spesies-spesies yang berbeda pula.

Pada 1838, ia mendapatkan inspirasi ketika membaca buku Robert Malthus, Essay on the Principle of Population, yang diterbitkan pertama kali pada 1798. Dalam bukunya ini, Malthus memaparkan bahwa karena populasi meningkat seperti deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, dan seterusnya), sedangkan produksi pangan meningkat seperti deret hitung (2, 4, 6, 8, 10, dan seterusnya) akan terjadi kompetisi yang ketat antara berbagai populasi (manusia dan binatang) dalam memperebutkan makanan. Sejak saat itulah Darwin sadar bahwa alam hanya akan berpihak pada sejumlah spesies tertentu, dan mereka ini, dengan cara tertentu (karena sifat-sifatnya yang khas) pastilah memiliki kemampuan yang lebih baik untuk bertahan hidup -dan mewariskan sifat-sifat tersebut pada keturunannya. Dengan demikian, gagasan seleksi alam dan “makhluk paling adapatif yang bisa bertahan” (istilah yang sebenarnya dimunculkan belakangan oleh Thomas Huxley, bukannya Darwin) dengan cepat berkembang. Darwin sendiri, dan banyak saintis sesudahnya, menyebut gagasan ini sebagai landasan teori evolusinya yang baru. Masih ada pertanyaan lain yang harus dijawab, yaitu bagaimana cara spesies-spesies membelah dan melahirkan bentuk-bentuk baru yang sebagian kemudian diseleksi-entah bagaimana membelah lagi, dan mungkin diseleksi lagi, dan begitu seterusnya. Proses pembelahan ini akan dijelaskan belakangan tentang gen dan mutasi yang akan menjawab misteri tersebut.

Meskipun teori tentang seleksi alam ditemukan pada 1838, Darwin baru menulis gagasannya tersebut pada 1842. Ia menyebarluaskan teorinya di kalangan orang-orang terdekatnya dan menunda mengumumkannya kepada khalayak sampai ia memutuskan apa yang akan dilakukannya dengan teori besar itu. Barulah pada 1858, ketika ia menerima esai dari seorang naturalis muda asing bernama Alfred Russel Wallace yang mengemukakan sebuah hipotesis baru soal evolusi, Darwin sadar bahwa rekan mudanya tersebut memiliki gagasan yang sama persis dengannya. Maka, Darwin merasa harus segera mengumumkan kepada dunia bahwa dialah orang yang pertama kali menemukan teori itu. Tidak lama setelah itu, dua saintis tersebut diundang untuk mempresentasikan gagasan-gagasannya di hadapan Linnean Society. Darwin akhirnya menulis On the Origin of Species yang ia terbitkan setahun kemudian.

Teori evolusi Darwin kerap dilukiskan sebagai ‘penurunan dengan perubahan’ dan biasanya disajikan di atas tiga pilar utama: (1) replikasi; (2) variasi; dan (3) seleksi. Berikut uraian singkat terhadap masing-masing:

  1. Replikasi (replication) mengacu pada proses reproduksi yang memungkinkan organisme menggandakan diri dan melahirkan keturunan.
  2. Variasi (variation) mengisyaratkan bahwa kadang kala, keturunan hampir tidak berbeda dari orangtuanya. Seperti yang telah saya singgung, biologi modern, yang menggabungkan Darwinisme dengan teori genetika pada 1930-an (sebuah penggabungan yang dikenal dengan ‘sintesis agung’ atau Neo-Darwinisme) menganggap mutasi pada gen sebagai sumber variasi semacam itu.
  3. Seleksi (selection) merupakan mekanisme sentral dalam seleksi alam; dengan mekanisme ini, binatang atau tumbuhan yang memiliki sifat-sifat tertentu yang cocok dengan lingkungan tertentu lebih bisa bertahan hidup dibandingkan yang tidak memilikinya.

Meskipun beberapa penulis (misalnya, Fransisco Ayala) bersikukuh (begitu juga Darwin) bahwa seleksi alam merupakan inti teorinya, saya pribadi (yang bukan seorang ahli biologi, harus saya tegaskan di sini) melihat mutasi sebagai bagian yang lebih penting. Sebelum saya menjelaskan alasannya, saya ingin mengatakan bahwa bagi Darwin, seleksi alam merupakan temuannya yang terbesar sewaktu ia belum mengetahui bagaimana ciri-ciri khas yang baru terbentuk dan dialihrupakan. Gen dan mutasi belum bisa bisa diungkap selama beberapa dekade. Andaikata ia masih hidup dan mengetahui sintesis sempurna itu, saya rasa Darwin mungkin akan menganggap variasi sebagai pilar terpenting dalam teorinya. Saya akan menjelaskan bagian ini secara ringkas.

Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada materi genetika (urutan DNA) dari sebuah organisme tertentu. Sekalipun ada mekanisme koreksi kesalahan yang melekat pada semua sel, kesalahan (pembentukan) seperti itu benar-benar terjadi. Bila dilukiskan, ini mirip dengan satu huruf (atau beberapa huruf) yang berubah dalam beberapa buku tentang ciri-ciri khas organisme yang diwakili DNA. Mutasi adalah hasil “salah salin” yang terjadi selama proses pembelahan sel, akibat paparan radiasi atau mutagen kimiawi; mutasi juga kadang diakibatkan oleh virus. (Saya membubuhkan tanda kutip pada kata “salah salin” agar perubahan bisa ditafsirkan secara lebih positif; bahkan bisa dianggap sebagai intervensi ilahi yang mendorong ke arah evolusi dan kemajuan.

Mutasi-baru bisa memunculkan potensi efek evolusi jika terjadi dalam sel-sel reproduksi (seksual), karena hanya di saat itulah modifikasi semacam itu bisa diteruskan dan mungkin menimbulkan perubahan pada sebuah organisme. Perubahan selalu bermula pada suatu individu, lalu menyebar melalui penggandaan dalam sel-sel reproduksi, dan bila lingkungannya cocok, perubahan bisa menjadi ciri yang paling banyak atau dominan pada spesies tersebut. Bila perubahannya cukup signifikan, atau bila mendatangkan perubahan lebih lanjut, spesies bisa mengalami perubahan bentuk.

Banyak ahli biologi yang menunjukkan sifat acak mutasi, dan hal ini akan berdampak penting seperti yang akan saya bahas nanti. Sekalipun sangat jarang, observasi dan perekaman mutasi di laboratorium terhadap beragam bentuk organisme sudah pernah dilakukan -dari bakteri hingga sel manusia. Sebagai hasilnya, ahli genetika medis telah berhasil mengkatalogkan ribuan mutasi.

Pada manusia, tingkat mutasi (acak) diketahui sekitar 1 per 1 juta sel kelamin. Frekuensi tersebut (yang pada spesies lain bisa jauh lebih tinggi lagi) terlalu lamban untuk bisa diamati dengan mata telanjang (khususnya pada binatang). Akan tetapi, frekuensi itu cukup tinggi untuk bisa memengaruhi bakteri dalam waktu yang amat singkat atau memengaruhi spesies dalam waktu yang sangat lama.

Penting ditekankan di sini bahwa mutasi dan seleksi alam bekerja bergandengan. Pertama, bila mutasi tidak terseleksi (karena sangat tidak cocok dengan lingkungan), ia akan segera dilupakan dan tidak akan memberi efek yang lama. Kedua, lingkungan sendiri bisa mendorong terjadinya mutasi melalui kejadian-kejadian tertentu (radiasi, bencana, perubahan iklim, dan sebagainya). Ketiga, dan mungkin yang terpenting, mutasi dalam skala besar sangatlah sedikit; malah, perubahan besar yang tiba-tiba pada sebuah organisme biasanya berakhir pada kematian yang tepat. Inilah alasan mengapa proses evolusi berlangsung sangat lambat dan berangsur-angsur serta melalui penyesuaian-penyesuaian kecil, bukan perubahan besar. Dengan demikian, spesies dengan ciri-ciri khas yang tak dikenal sebelumnya tidak mungkin akan muncul secara tiba-tiba.

Leave a Reply

Close Menu