TASAWUF: IBN ‘ARABI (1165-1240)

TASAWUF: IBN ‘ARABI (1165-1240)

Berabad-abad setelah zaman keemasan Islam (abad ke-10 hingga 12), minat mempelajari ilmu alam perlahan-lahan menurun. Kehidupan intelektual dan spiritual Islam berganti didominasi oleh doktrin-doktrin tasawuf Ibn ‘Arabī dan doktrin gnostik isyraqi (iluminasi) Suhrawardi (1155-1191).

Doktrin Sufi yang tergambar dalam prinsip utama “tidak ada realitas di luar Realitas Mutlak”, yang bermakna “tidak ada yang lain selain Allah” tidak pernah diucapkan secara eksplisit sebelum abad ke-12 dan ke-13 ketika Ibn ‘Arabī, Al-Qunāwī, Al-Jīlī, dan para guru lain dari mazhab tersebut merumuskannya

Ibn ‘Arabī– lahir di Andalusia dan wafat di Damaskus pada 1240 setelah melakukan perjalanan ke berbagai Dunia Islam- dapat dikatakan sebagai tokoh yang secara diametral bertentangan dengan tokoh peripatetik Muslim lain (semisal Ibn Rusyd). Doktrinnya berlandaskan prinsip bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman spiritual adalah bentuk pembelajaran tertinggi. Bahkan, menurutnya, hasil-hasil objektif yang hanya bisa diperoleh melalui penalaran bisa jadi merupakan sebuah ‘penghalang’ atau hijab (sebuah konsep yang menunjukkan kekayaan simbolisme dalam tasawuf) yang bisa membuat seseorang tidak melihat segala sesuatu dengan sebenarnya.

Prinsip utama doktrin Ibn ‘Arabī yang seharusnya perlu ditekankan namun tidak banyak dianut oleh kalangan Muslim adalah mengenai eksistensi (wujūd) yang merupakan suatu hal yang tunggal dan identik dengan Realitas (esensi atau māhiyah). Entitas yang diciptakan tidaklah eksis dalam dirinya sendiri, sebab ia memeroleh eksistensinya berkat hubungannya dengan Yang Ada. Ada atau tidak adanya suatu entitas tidaklah berbeda di dalam ‘pikiran’ Tuhan. Dengan kata lain, entitas hanyalah gambaran atau -menurut analogi terkenal yang sering digunakan dalam konteks ini- hanyalah pantulan dari cermin parsial (objek-objek virtual) dari sebuah eksistensi yang lebih mendasar.

Oleh karena itu, alam semesta kemudian digambarkan sebagai ‘teofani’ (tajalli) dengan asumsi bahwa Allah ‘melihat’ Diri-Nya dalam ciptaan-Nya. Jika keberadaan (Tuhan) benar-benar tidak dapat diakses oleh pemahaman manusia, maka hal yang sama juga harus berlaku pada 99 Sifat Allah (kemahatahuan, kemahakuasaan, dan lain-lain), karena nama-nama tersebut mencerminkan bagaimana Tuhan menggambarkan diri-Nya kepada-Nya sendiri. William Chittick menjelaskan hal ini sebagai berikut:

“Kosmos memanifestasikan Nama-nama lIahi dalam sebuah kode diferensial (tafsīl). Karena itulah, setiap Nama menampilkan sifat dan jejaknya masing-masing, baik yang disebut secara terpisah ataupun yang digabungkan dengan nama-nama lain yang ada dalam kombinasi Nama-nama lIahiah tersebut. Artinya. dalam totalitas spasial dan temporalnya, kosmos menampilkan panorama yang sangat luas terhadap kemungkinan-kemungkinan eksistensial”

Pengetahuan tentang Realitas (ilmu yang ‘sebenarnya’) kemudian meliputi pemahaman terhadap model-model pengungkapan diri (tajalli) Tuhan yang tak terbatas jumlahnya ini. Dalam risalah visionernya, Al-Futūhat Al-Makkiyah (“Penyingkapan Makkah”), Ibn ‘Arabī menjelaskan bahwa pengetahuan tentang kosmos hanya dapat dicapai dengan melakukan perjalanan mistis melalui kosmos itu sendiri.

Doktrin ini mempersoalkan wacana seputar creatio ex-nihilo dan menganggap bahwa konsep tersebut tidak menunjukkan keabadian alam semesta. Karena segala sesuatu tergantung pada kehendak Allah, maka bagaimana serta kapan sebuah entitas (atau bahkan seluruh kosmos) ada atau hilang juga akan tetap tidak diketahui. Siapa pun bisa melihat bagaimana peristiwa penciptaan dan evolusi kosmik berlangsung terus menerus, karena Allah tidak pernah mengungkapkan diri-Nya kepada Diri-Nya mengenai hal tersebut. Ketika sebuah entitas/keadaan tercipta, ia tidak lagi menjadi “keinginan” Ilahi dan akan seketika musnah; hanya ketika sebuah keadaan diinginkan, barulah ia muncul

Tinggalkan Balasan

Close Menu