TANDA-TANDA DATANGNYA KIAMAT

TANDA-TANDA DATANGNYA KIAMAT

Serial Quran dan Sains

Allah sengaja merahasiakan terjadinya hari kiamat. Hanya Dialah yang tahu. Itu dilakukan agar manusia senantiasa waspada terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi, seperti kematian. Kematian sendiri adalah sebuah kiamat kecil. Manusia tidak akan bisa kembali ke dunia begitu ajal tiba. Bila ajal yang telah di tentukan tiba, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menahan kematian, begitu juga dengan kiamat. Dengan dirahasiakannya ajal dan hari kiamat, diharapkan manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Jika hari kematian bisa diketahui maka tidak dikenali lagi siapa yang betul-betul mengabdi dan yang tidak, sebab begitu waktu kematian mendekat, seseorang mendadak akan tekun beribadah kepada-Nya. Allah berfirman,

قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ۝

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orangorang yang beriman (AIquran, Surah al‘Arāf/7: 188)

Kiamat adalah rahasia Allah Yang Mahakuasa, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Alquran dan sunah pun hanya menginformasikan tanda-tandanya. Tanda-tanda itu terbagi menjadi dua: (1) tanda-tanda kecil dan (2) tanda-tanda besar. Tanda-tanda yang besar sudah menunjukkan proses terjadinya kiamat dan itu akan dibahas pada bab berikutnya.

 

Tanda-tanda Kecil

Tanda-tanda kecl tentang semakin dekatnya hari kiamat banyak disebutkan dalam banyak hadis sahih. Bahkan para pengumpul hadis menulis bab khusus mengenai kejadian-kejadian sebelum datangnya hari kiamat dalam bab al-Fitan atau kejadian besar yang menguji keimanan seseorang. Banyak ulama yang telah menulis tentang hal ini. Berikut ini disajikan rangkuman dari apa yang telah ditulis oleh para ulama tersebut. Tanda-tanda kiamat kecil antara lain adalah:

Pertama, terbelahnya bulan. Peristiwa terbelahnya bulan sudah terjadi pada saat Nabi Muhammad masih berada di Mekah. Kejadian ini merupakan jawaban atas tuntutan kaum musyrikin kepada Nabi untuk menunjukkan tanda-tanda kenabiannya. Dalam hadis dijelaskan,

Bulan pernah terbelah menjadi dua bagian pada masa Nabi hingga orang-orang sama melihatnya. Lalu Nabi berkata: Saksikanlah! (Riwayat Amad dari Ibn Mas‘ūd)

Kedua, munculnya api dari Madinah yang cahayanya bisa terlihat dari kota Busra di Syam (Suriah). Dalam sebuah riwayat di jelaskan,

Hari kiamat tidak akan tiba sampai ada pi yang keluar dari tanah Hijaz sehingga leher unta yang di Busra bisa terlihat. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Tentang hadis ini, Imam Nawawi menjelaskan bahwa api yang dimaksud telah muncul pada tahun 654 H. Ibnu Kaṡīr mengutip Abū Syāmah mengatakan, “Api tersebut muncul begitu besar dari sebelah timur Madinah. Api tersebut terus membara selama satu bulan. Dengan api tersebut seorang pengendara unta bisa terus berjalan pada malam hari dari Madinah hingga desa Tayma’ yang jaraknya sekitar 420 mil sebelah utara Madinah. Api tersebut menyembur dari suatu lembah yang panjangnya sekitar 4 farsakh dan lebar 4 mil. Satu meleleh bagaikan timah dan akhirnya menjadi seperti batubara. (dikutip dari Asyrāṭus-Sā‘ah, menukil dari Ibnu Kaṡīr dari an-Nihāyah)

Ketiga, munculnya banyak Dajal yang mengaku nabi, baik pada saat Rasul masih hidup maupun setelah wafat. Dalam satu hadis,

Hari kiamat tidak akan tiba sampai muncul banyak dajal sang pembohong, (jumlahnya) sekitar 30 orang dan semuanya mengaku sebagai utusan Allah (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Dalam sejarah tercatat beberapa nama orang yang mengaku dirinya sebagai nabi sebagai berikut.

  1. Musailamah al-Każżāb, hidup pada masa Nabi. la masuk Islam tahun 9 H, tapi kemudian murtad. la dan bala tentaranya sekitar 40 ribu orang bisa ditaklukkan oleh Abū B
  2. AI-Aswad al-‘Ansi, berasal dari Yaman. la hidup pada masa Nabi. Masuk Islam tapi kemudian murtad. la mempimpin gerakan melawan kaum muslimin, tapi akhirnya mati terbunuh.
  3. Sājah binti al-Ḥāriṡ at-Taglībiyyah, seorang wanita penganut Nasrani. la pernah menjadi istri Musailamah al-Każżā Setelah Musailamah kalah, dia akhirnya masuk Islam dan kembali ke kampungnya di Taglib.
  4. Tulaiḥah binti Khuwailid al-Asadi, pernah masuk Islam pada tahun 9 H, bersama kabilah Bani Asad. la kemudian murtad dan mengaku nabi. Pada masa Abū Bakar ia dikalahkan oleh Khālid bin Walīd dan masuk Islam kembali.
  5. Mukhtār bin Abī ‘Ubaid aṡ-Ṡaqafi, seorang Syi’ah. la hidup pada masa tabi‘ la mengaku mendapat wahyu. Saat perang melawan Muṣ‘ab bin Zubair, ia mati terbunuh.
  6. Ḥāriṣ bin Sa‘īd al-Każżāb, hidup pada masa Abdul Malik bin Marwā la mengaku menjadi nabi dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

 

Masih banyak nabi-nabi palsu lainnya yang pernah muncul dalam sejarah Islam. Di Indonesia, hal ini juga terjadi. Krisis akidah pada masyarakat menjadikan mereka mudah tertipu dan tergiur mengikuti ajakan nabi-nabi palsu. Dari semua itu, yang paling berpengaruh dan mencekam adalah dajal yang akan muncul pada akhir zaman. Kemunculannya membawa misi memengaruhi banyak orang dan menggoda mereka untuk berpaling dari jalan Allah.

Keempat, banyaknya budak perempuan yang melahirkan tuannya dan banyaknya bangunan yang tinggi. Tanda ini telah dijelaskan sendiri oleh Nabi ketika ditanya tentang tanda tanda kiamat. Nabi bersabda,

Ada budak perempuan melahirkan tuannya dan engkau akan melihat banyak orang yang tadinya tidak memakai sandal, tidak memakai baju, penggembala kambing, berlomba meninggikan bangunan. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Umar bin al-Khaṭṭāb)

Ungkapan “budak perempuan melahirkan tuannya” bisa diartikan secara hakiki, yaitu ketika banyak budak yang digauli pemiliknya, lalu melahirkan anak lelaki. Karena nasab anak lelaki mengikuti ayahnya maka jadilah dia tuan bagi ibunya sendiri yang masih berstatus budak. Ungkapan ini juga bisa dimaknai secara metaforis, bukan hakiki, yaitu banyak orang yang mendurhakai ibu sendiri dan memperlakukannya seperti budaknya sendiri. Secara garis besar, hadis ini menggambarkan banyaknya hal-hal kontradiktif karena rusaknya akhlak di akhir zaman.

Adapun ungkapan banyaknya gedung yang tinggi telah tampak nyata dewasa ini. Banyak orang yang tadinya miskin dari kampung -pemaknaan atas kalimat “tidak memakai sandal dan baju dan bekerja menggembalakan kambing”- akhirnya mempunyai kekayaan yang melimpah.

Kelima, banyaknya kebodohan dan hilangnya ilmu (agama). Fenomena ini dijelaskan dalam hadis berikut.

Sesunnguhnya sebelum hari kiamat datang, ada hari-hari di mana kebodohan akan marak, ilmu akan menghilang, dan pembunuhan merajalela. (Riwayat al-Bukhāri  dari Abū Mūsā dan ‘Abdullāh bin Mas‘ud)

Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah menghilangnya ilmu, banyaknya kebodohan, maraknya minuman keras, dan banyaknya perzinaan. (Riwayat al-Bukhāri  dari Anas)

Waktu akan berdekatan, pengamalan ilmu sedikit, kekikiran merebak, fitnah merajalela, dan pembunuhan (al-haraj) makin marak. Para sahabat bertanya, “Apakah al-Haraj itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” (Riwayat al-Bukhāri  dari Abū Hurairah)

Dari tiga hadis di atas, ada beberapa hal yang perlu diberi penjelasan. Pertama, menghilangnya ilmu dan maraknya kebodohan. Yang dimaksud ilmu tentu bukanlah ilmu umum. Itu karena saat ini orang yang ahli dalam bidang teknologi dan lainnya semakin banyak. Jika begitu maka yang dimaksud pastilah ilmu agama. Untuk itu para ulama mengartikan menghilangnya ilmu dengan berkurangnya pengamalan ajaran agama. Ada juga yang mengartikan banyaknya ulama yang wafat, sementara generasi berikutnya tidak bisa mencapai taraf keilmuan generasi sebelumnya. Akibatnya, terjadilah kebodohan di mana-mana. Pada akhirnya masyarakat menanyakan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama kepada orang yang bukan ahlinya. Dari sinilah timbul kekacauan dalam berfatwa yang bermuara pada kesesatan dan penyesatan. Dalam sebuah hadis dijelaskan,

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari hamba-hambanya, tapi dengan mewafatakan para ulama. Akhirnya, ketika tidak ada lagi seorang alim, masyarakat mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika ditanya, mereka akan menjawab tanpa didasari ilmu dan jadilah mereka sesat dan menyesatkan. (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari Abdullāh bin Amr)

 

Kedua, banyaknya kematian atau pembunuhan. Ini bisa dirasakan pada masa setelah Nabi meninggal, terjadi peperangan di antara kaum muslim sendiri. Dewasa ini, peperangan antara satu bangsa dengan lainnya pun makin marak. Nyawa manusia pada akhir zaman seakan tidak lagi bermakna, begitu murah.

Ketiga, luasnya peredaran minuman keras dan perzinaan. Ini terbukti dengan merebaknya minuman keras dan narkoba yang bahkan menjadi persoalan besar masyarakat dunia, begitu juga dengan merebaknya perzinaan. Banyak media yang menyuguhkan foto-foto porno. Persoalan ini tidak lagi dipandang sebagai perbuatan dosa besar, tapi sudah menjadi kebiasaan di mana-mana.

Keempat, banyaknya fitnah. Fitnah di sini bermakna gesekan besar dalam kehidupan seseorang sehingga agama seringkali dilepaskan begitu saja tanpa beban. Dalam hadis dijelaskan,

Bergegaslah berbuat baik karena akan terjadi banyak fitnah seperti potongan malam yang gelap. Ada seorang yang paginya masih mukmin, sorenya telah menjadi kafir, atau sorenya masih mukmin, dan paginya sudah menjadi kafir. la menjual agamanya untuk mendapat kekayaan duniawi. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

 

Tanda Fisik Kiamat Bumi

Sudah menjadi hukum alam bahwa segala peristiwa pasti diawali dengan munculnya tanda-tanda atau isyarat-isyarat yang mendahuluinya. Sebelum gunung berapi meletus misalnya, di sekitar kawasan tersebut biasanya terjadi lebih dulu hal-hal yang merupakan isyaratnya. Tanda-tanda itu seperti udara semakin panas, dedaunan mengering, hewan-hewan turun gunung, munculnya semburan asap dari kawah, dan sebagainya. Ketika fenomena ini muncul banyak orang memahami bahwa gunung akan meletus. Dengan adanya tanda-tanda tersebut, masyarakat di sekitarnya dapat bersiap-siap lebih dini untuk mengungsi sebelum letusan gunung terjadi.

Tanda-tanda akan terjadinya sesuatu juga kerap dialami orang per orang. Ketika terjadi kecelakaan yang berakibat kematian seseorang, seringkali keluarganya ditanya tentang isyarat yang mungkin dirasakan sebelum musibah terjadi. Demikian pula saat menerima anugerah yang di luar dugaan, biasanya akan ditanya tentang pengalaman sebelum mendapat kebahagiaan itu. Sederhananya, pertanyaan itu sering dikemas sebagai, “mimpi apa semalam?”, “isyarat apa yang diterima sebelum ini?”, atau yang sejenisnya. Ada yang bisa menjawab.

Bila peristiwa sehari-hari saja diawali pertanda khusus, kiamat yang merupakan peristiwa besar juga demikian. Kejadian penting ini tidak mungkin tanpa didahului tanda-tanda khusus. Kiamat identik dengan kehancuran alam semesta. Kiamat ditandai terjadinya kerusakan-kerusakan pada ciptaan Allah yang vital, seperti: pertama, kerusakan bumi yang meliputi darat dan laut, kedua, kerusakan langit yang meliputi benda-benda langit dan keadaan angkasa (udara) yang makin memburuk hingga terjadi pemanasan global dan perubahan iklim, ketiga, perubahan sistem sosial yang juga dinilai sebagai bagian dari isyarat menjelang terjadinya kiamat.

 

  • Kerusakan di Darat dan Laut

Sampai saat ini pengetahuan manusia tentang alam semesta masih belum sempurna. Apa yang sudah diketahui masih belum mencakup seluruh hal yang ada di jagat raya. Di antara yang paling dipahami dari semua yang telah dimengerti adalah yang ada di bumi. Bumi adalah kawasan tempat manusia tinggal sehingga pantas jika ia menjadi Iingkungan yang paling dikenal.

Berbicara mengenai tanda flsik kiamat di bumi, bahasan tentang kerusakan di darat dan laut adalah topik yang tidak bisa dilewatkan. Secara kasat mata dapat dirasakan betapa bumi semakin rusak. Hutan makin gundul dan mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang. Lingkungan perkotaan makin tidak nyaman, udara makin kotor dan panas, sampah bertebaran, serta sungai menyempit, kotor, dan dangkal sehingga banjir selalu menjadi mimpi buruk pada musim penghujan. Anomali iklim ekstrem yang menyebabkan kekeringan panjang, curah hujan besar, serta bencana lainnya kini makin sering terjadi. Bumi kita makin rusak. Telah terjadi perubahan yang bersifat lokal, regional, dan global.

Bahkan, beberapa hasil penelitian lembaga riset menunjukkan fakta adanya perubahan yang berpotensi mengancam kehidupan manusia saat ini dan di masa mendatang. Tentang kerusakan di bumi dan laut, Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 41)

 

AI-Fasād adalah keluarnya sesuatu dari keseimbangan, baik sedikit atau banyak, dan juga dimaknai rusak. Term ini dengan semua kata jadiannya disebutkan dalam Alquran sebanyak 50 kali. Kata ini digunakan untuk menunjuk arti yang beragam, yaitu perilaku menyimpang dan tidak bermanfaat (aI-Baqarah/2: 11), ketidakteraturan/ berantakan (aI-Anbiyā’/21: 22), perilaku merusak (an-Naml/27: 34), penelantaran/ketidakpedulian (aI-Baqarah/2: 220), dan kerusakan Iingkungan (Ar-Rūm/30: 41). Pada hakikatnya semua itu merujuk kepada makna penyimpangan dari keseimbangan yang seharusnya. Antonim al- fasād adalah aaIāḥ, yang bermanfaat, yang berguna.

Ulama kontemporer memahami makna al- fasād pada ayat di atas sebagai terjadinya kerusakan Iingkungan di darat dan laut. Indikasinya, temperatur bumi naik (global warming), musim kemarau semakin panjang, air laut tercemar sampah dan unsur kimia berbahaya, ekosistem tidak seimbang, polusi udara semakin parah, dan lain sebagainya. Akibatnya, flora daratan hancur, banjir, tanah longsor, keseimbangan hidup hilang karena semakin habisnya fauna, biota laut rusak, hingga hewan laut pun punah.

Alquran menegaskan bahwa kerusakan ini muncul akibat ulah manusia. Bumi sebagai amanah tidak dikelola dengan baik sesuai aturan yang digariskan. Alam bukannya makin sedap dipandang, nyaman ditempati dan dihuni, alam malah menjadi rusak hingga bencana dan musibah terus mengancam.

Kerusakan alam terjadi akibat eksploitasi yang berlebihan, tanpa dibarengi upaya pelestarian. Hutan ditebang untuk beragam keperluan, tapi upaya reboisasi tidak dilakukan. Hutan menjadi gundul, tanahnya tidak lagi dapat menyimpan air hujan karena akar-akarnya hilang. Akibatnya, banjir kerap datang, tanah longsor mengancam, dan sumber air semakin mengering.

Hutan gundul juga mengakibatkan berkurangnya ketersediaan oksigen. Di sisi yang lain, zat karbon (CO2) terus meningkat karena tidak terserap. Global warming tak terhindarkan, suhu bumi terus naik, baik secara global maupun gradual. Es-es di kutub mencair sehingga permukaan air laut naik. Pulau-pulau terancam tenggelam dan iklim juga berubah drastis. Semuanya jelas akan membawa dampak negatif bagi penghuni alam.

Semua kerusakan ini mestinya akan dirasakan manusia sendiri. Namun Allah Maha Pengasih dan Penyayang sehingga bencana yang menimpa hanya sebagian saja. Tidak semua akibat kerusakan alam itu menimpa manusia. Sebagian ekses negatif itu telah dinetralisisasi oleh alam sehingga tidak menimpa manusia. Allah telah menyiapkan sistem alamiah yang memulihkan kerusakan alam. Tanpa ini seluruh Iingkungan akan rusak total. Manusia tidak akan dapat lagi memanfaatkan alam dan itu mengancam kehancuran manusia dan makhluk lainnya. Allah bemrman,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا۝

Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (Alquran, Surah Faṭīr/35: 45)

 

Ayat ini mengisyaratkan bahwa hanya sebagian dari akibat kerusakan saja yang menimpa manusia. Dengan itu Allah ingin agar manusia menyadari kesalahannya. Mereka diharapkan sadar bahwa apa yang mereka lakukan malah menghancurkan alam semesta, suatu kesadaran yang diharapkan akan mendorong mereka kembali pada tugas semula, menjaga kelestarian alam dan menghindari kerusakannya.

Perusakan alam itu sendiri ada yang dilakukan dengan sengaja dan ada pula yang tidak. Yang disengaja terbagi dua: yang dipicu oleh keinginan untuk merusak dan yang tidak. Termasuk kelompok pertama adalah pembalakan pepohonan di kebunmilikorangyangtidakdisukai. Perbuatan ini sengaja dilakukan karena faktor ketidaksenangan terhadap pemiliknya, atau hal lain yang melatarbelakanginya. Saat itu yang ada hanya emosi untuk merugikan pihak yang dibenei. Peristiwa semacam ini sudah barang tentu dapat menimbulkan kerusakan Iingkungan.

Termasuk kelompok kedua adalah kerusakan akibat penggalian bahan tambang demi mendapat manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Sayangnya, itu sering tidak dibarengi upaya memperbaiki Iingkungan yang telah digali. Pohon ditebang, hutan digunduli, tanah digali, kemudian hamparan tanah yang penuh lubang itu ditinggal pergi begitu saja. Tidak ada upaya rehabilitasi hingga tanpa disadari kerusakan Iingkungan sekitar pun terjadi.

Sebagaimana yang sengaja, perusakan yang tidak disengaja pun dapat menyebabkan ekses negatif yang tidak kecil. Kebutuhan akan tempat tinggal yang semakin masif misalnya, telah menyebabkan perubahan fungsi lahan. Kawasan yang dulunya menjadi daerah resapan air atau sawah, berubah menjadi perumahan. Bertambahnya permukiman menjadikan lahan terbuka berkurang, kawasan pertanian menyempit, dan resapan air semakin jarang ditemukan. Akibatnya, keseimbangan kawasan berubah dan tatanan Iingkungan menjadi tidak seperti semula lagi. Perubahan ini pun mewariskan disharmoni alam kehidupan manusia di daratan.

Hal yang sama juga bisa terjadi di lautan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah, baik di sungai atau tempat lain, merusak ekosistem laut. Terumbu karang rusak karena laut terpolusi dan tercemar. Hewan-hewan laut semakin sulit hidup karena sebagian sumber makanannya (terumbu karang) tidak lagi memadai. Biota laut tidak dapat tumbuh secara wajar karena Iingkungannya rusak. Ironisnya, itu karena ulah manusia yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kelestarian Iingkungan.

Seperti halnya daratan, laut juga berperan penting bagi manusia. Laut menyimpan sumber makanan yang dapat dikonsumsi. Bila laut rusak, hewan atau tumbuhan yang hidup di dalamnya pun akan mati. Jika ini terjadi, manusia sendiri yang akan kesulitan dalam memenuhi keperluannya. Laut juga dibutuhkan sebagai wahana bagi alat transportasi. Segala macam keperluan manusia dapat diangkut bila lautnya baik, tidak dangkal. Bila laut rusak, pelayaran akan terganggu. Keadaan ini pasti berdampak negatif bagi manusia sendiri karena transportasi laut dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Allah berfirman,

هَٰذَا هُدًى ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَهُمْ عَذَابٌ مِّن رِّجْزٍ أَلِيمٌ۝

Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. (Alquran, Surah aI-Jāiyah /45: 11)

 

Jelas bahwa laut diciptakan untuk keperluan manusia. Di antaranya menjadi sumber rezeki yang dapat digali. Laut juga bermanfaat untuk pelayaran kapal antarpulau. Selain sebagai prasarana transportasi, kapal juga dapat mengangkut barang yang bermanfaat bagi manusia. Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 164)

 

Laut merupakan wahana berlayar kapal, salah satu moda transportasi manusia. Selain untuk bepergian, kapal bermanfaat untuk membawa barang-barang yang diperlukan. Ini dimungkinkan jika laut dalam keadaan baik, tidak rusak. Jika laut dangkal dan tercemar maka dapat dipastikan pemanfaatan laut tidak akan maksimal. Karenanya, laut tidak boleh dieksploitasi berlebihan. la harus dijaga hingga tetap lestari.

Alam raya memang diciptakan untuk manusia. Karenanya, manusia juga yang ditugasi memelihara, merawat, serta memakmurkan bumi dan isinya. Untuk tugas ini, Allah menetapkan manusia sebagai wakil-Nya (khalīfatullāh) di bumi. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 30)

 

Manusia adalah khalifah Allah di bumi. Manusia ditugasi untuk mengelola bumi hingga selalu nyaman ditempati. Secara khusus manusia ditugasi untuk merawat bumi dan semua isinya, bukan untuk merusaknya. Allah berfirman,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ۝

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (Alquran, Surah aIQaa/28: 77)

 

Manusia dianjurkan menyiapkan bekal hidup akhirat dan menikmati anugerah kehidupan dunia dengan cara yang baik. Manusia dilarang membuat kerusakan, karena itu akan mengakibatkan kehancuran bumi. Allah sangat tidak menyukai orang yang membuat kerusakan. Allah berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ۝

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. (Alquran, Surah aI-A‘rāf/7: 56)

 

Allah melarang manusia membuat kerusakan di bumi, terlebih setelah dilakukan perbaikan. Apa yang telah diperbaiki mesti dirawat dengan baik. Mempertegas larangan ini Allah menyatakan bahwa siapa saja yang selalu melakukan kebaikan, ia dekat dengan rahmat-Nya. Allah berfirman,

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ۝

Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar. (Alquran, Surah aI-Mā’idah/5: 33)

 

Alquran mengancam para pembuat kerusakan di bumi. Hukumannya sama dengan balasan bagi orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa merusak bumi adalah sebuah dosa besar karena hukumannya disetarakan dengan pelanggaran terberat dalam Islam. Pilihan hukum dunianya adalah dibunuh (disalib), dipotong tangan dan kaki secara bersilang (bila tangan kanan yang dipotong, maka kaki kiri yang diamputasi), atau diasingkan dan dikucilkan dari masyarakat. Sedang di akhirat kelak ia mendapat azab sangat pedih. Dari sini tampak betapa Islam tidak memberi toleransi terhadap tindakan merusak bumi ini.

Demikian uraian sekilas tentang fenomena kerusakan di bumi, di darat maupun laut, sebuah kerusakan yang sebagian besar diakibatkan oleh perbuatan manusia. Karena ketamakan dan egoismenya, manusia lalai untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya. Pada akhirnya kerusakan itu kian meluas. Jika terus dibiarkan, hal ini bisa berakibat kehancuran bumi, yang menjadi pertanda kiamat segera terjadi.

 

  • Kerusakan di Udara

Langit adalah salah satu makhluk Allah yang diciptakan bagi keperluan manusia. Langit mencakup semua benda yang terdapat di atas permukaan bumi. Matahari, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet yang terserak di angkasa luas termasuk di dalamnya. Demikian juga atmosfer dan lapisannya, udara yang mengisi seluruh ruang, awan yang mengandung air maupun tidak, dan ekosistem angkasa, semua termasuk bagian langit. Jadi, semua yang ada di angkasa, baik berupa benda padat, cair, maupun gas, adalah bagian dari langit.

Polusi Udara dari Limbah Pabrik

Dalam keadaan normal,langit yang bersih dari polusi atau kerusakan dapat memberi manfaat maksimal bagi manusia dan makhluk lainnya. Manusia dapat menghirup udara bersih yang menyehatkan. Alat transportasi udara seperti pesawat, dapat terbang membelah udara dengan nyaman, tanpa khawatir gangguan alam. Perubahan cuaca dapat diprediksi dan tidak sampai membuat manusia gelisah dengan perubahannya yang tidak terduga. Berbeda dari itu, kerusakan langit sudah barang tentu akan menimbulkan dampak negatif yang sangat besar bagi manusia dan makhluk lainnya.

Kerusakan langit disebabkan kontaminasi yang merubah ekosistemnya. Kontaminasi terjadi misalnya akibat polusi udara yang timbul dari pembakaran hutan/lahan, penggunaan bahan bakar minyak yang berlebihan, serta pemakaian pendingin udara atau freon yang tidak terkendali. Dari sini tampak bahwa kerusakan di langit juga disebabkan perbuatan manusia. Allah berfirman,

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ۝

Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu. (AIquran, Surah al-Mu’minūn/23: 71)

 

Langit dan bumi akan rusak bila yang dijadikan pedoman adalah hawa nafsu. Nafsu tidak mengenal kata henti dalam berburu kepuasan, keinginan, dan kerakusan. Berapa pun yang berhasil diraih, itu tidak akan menjadikan manusia berhenti dari keinginan lain yang lebih dari sebelumnya. Nafsu yang tidak terkendali mengakibatkan kerusakan di langit dan bumi, bahkan mempengaruhi pula punahnya semua yang ada pada keduanya. Karena itu, Islam mengajarkan sifat qanāah, puas dengan rezeki yang telah dianugerahkan Allah.

Kerusakan di langit bermula dari ulah manusia di bumi. Seperti diketahui, bumi dilingkupi oleh atmosfer yang melindungi penduduknya dari paparan sinar matahari secara langsung yang mengandung sinar ultraviolet, yang dapat merusak lingkungan. Pembakaran hutan secara besar-bersaran menyebabkan hilangnya unsur pembersihan udara. Proses fotosintesis yang menyerap gas karbondioksida dan menghasilkan gas oksigen terganggu. Kuantitas dan kualitas oksigen pun berkurang hingga akhirnya mengganggu kehidupan makhluk hidup. Mereka sulit bernafas dan disaat yang sama cuaca menjadi semakin panas hingga menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan.

Penurunan kualitas udara juga terjadi karena polusi akibat penggunaan bahan bakar fosil berlebih, baik untuk kendaraan maupun pabrik. Benar bahwa proses ini menjadi bagian dari dinamika kehidupan, bahkan menunjuk pada kemajuan yang berhasil dicapai manusia. Namun tanpa pengendalian, proses ini tentunya akan berdampak negatif, terutama tampak jelas dari menurunnya kualitas udara dan lingkungan.

Kerusakan-kerusakan di langit juga bisa berdampak negatif lebih luas. Penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas bumi) untuk industri, transportasi, dan rumah tangga terus meningkatkan kadar karbondioksida di udara. Bumi pun menjadi semakin panas karena panas yang dilepaskan bumi tertahan oleh karbondioksida dan uap air di lapisan bawah atmosfer sehingga tidak dapat dilepaskan ke angkasa luas. Kondisi ini dinamakan efek rumah kaca. Layaknya kita di rumah kaca, panas matahari menembus atmosfer, tetapi tidak bisa dikeluarkan dari sana. Akibat langsung dari kondisi ini adalah terjadinya pemanasan bumi secara global (global warming).

 Global warming belakangan menjadi isu yang ramai dibahas di berbagai forum tingkat dunia. Dunia makin menghangat karena efek rumah kaca. Efek ini timbul akibat terperangkapnya panas yang tidak dapat dilepaskan ke luar angkasa. Nama ini merupakan gambaran dari proses terjadinya, seperti yang terjadi pada rumah kaca pelindung tanaman (bunga-bungaan atau sayur-sayuran) di daerah pegunungan atau di negara bermusim dingin agar tetap hangat. Cahaya matahari masuk menembus kaca hingga menghangatkan tanah dan udara di dalamnya, tetapi panasnya tidak bisa keluar karena terperangkap oleh kaca. Makin lama suhu di dalam rumah kaca itu akan makin panas.

Venus mengalami efek seperti ini yang sangat ekstrem. Bumi juga mulai merasakannya. Bukan kaca yang menyebabkan panas di Venus atau bumi itu terperangkap, tetapi awan, uap air, dan gas-gas penyerap panas yang disebut “gas rumah kaca” (GRK). Termasuk jenis GRK adalah CO2 (karbondioksida), CH4 (metan), CFC (klorofluorkarbon), dan NOx (nitrogen oksida).

Letak Venus lebih dekat ke matahari daripada bumi. Jaraknya ke matahari sekitar 105 juta kilometer, sedangkan jarak bumi dari matahari sekitar 150 juta kilometer. Karena itu, Venus lebih panas daripada bumi. Tetapi yang menjadikan Venus sangat panas bukan semata jarak yang lebih dekat ke matahari. Terbukti Venus lebih panas (460°C) dari pada planet terdekat dari matahari, Merkurius (430°C).

Ada proses efek rumah kaca yang sangat hebat di Venus hingga menyebabkan planet ini terus memanas. Hasil pengamatan pesawat antariksa yang dikirim meneliti Venus, Venera dan Pioneer, menunjukkan bahwa atmosfer Venus hampir seluruhnya terdiri dari CO2 (96,5%). Bandingkan dengan CO2 di atmosfer bumi yang hanya sekitar 0,05%. Awan tebal yang selalu menyelimuti Venus berada pada ketinggian 30-60 km dan terdiri dari awan asam sulfat (H2SO4 , sejenis dengan air keras pada aki). Kandungan CO2 yang sangat tinggi menyebabkan efek rumah kaca yang hebat. Cahaya matahari yang menerobos sela-sela awan tebal kemudian memanaskan permukaan Venus. Panas yang dipantulkan lagi tidak bisa keluar ke angkasa, tetapi diserap oleh CO2 yang menyebabkan suhu di Venus semakin panas.

Dari berbagai penelitian, disimpulkan bahwa Venus pada awal-nya mungkin memiliki air seperti bumi. Efek rumah kaca menyebabkan suhu atmosfer Venus semakin panas. Akibatnya, uap air makin banyak di udara. Tambahan uap air menyebabkan penyerapan panas lebih banyak lagi sehingga suhu atmosfernya pun semakin panas. Karena pemanasan yang makin hebat, batuan kapur (CaCO3) pun mengalami perubahan menjadi CaO dan melepaskan CO2. Semakin banyak CO2 dan uap air di udara, pemanasan oleh efek rumah kaca semakin hebat. Pemanasan hebat Ini menyebabkan terus bertambahnya uap air dan CO2. Terjadilah pemacuan efek rumah kaca (runaway greenhouse effect) yang terus mempercepat proses pemanasan.

Uap air juga bereaksi dengan gas SO2 yang mungkin dilepaskan oleh gunung berapi di Venus. Akibatnya terjadilah awan asam sulfat. Sementara itu, uap air (H2O) dengan pengaruh sinar ultraviolet matahari akan pecah menjadi atom hidrogen (H) dan oksigen (O). Atom hidrogen akan lepas ke luar angkasa, kecuali yang bermassa besar yang disebut Deutorium. Di saat yang sama, oksigen bereaksi dengan batuan di permukaan Venus. Karena uap air tidak berproses lagi menjadi awan dan hujan, air di Venus makin hilang.

Penduduk bumi perlu belajar dari apa yang menimpa Venus. Bumi juga menerima panas dari matahari, meski hanya sekitar 45 persennya saja yang sampai ke permukaan Bumi. Sebanyak 40% dipantulkan lagi ke angkasa luar oleh awan dan debu-debu di atmosfer atas, terutama debu-debu dari letusan gunung berapi. 15% lainnya diserap oleh atmosfer. Sinar ultraviolet diserap oleh lapisan ozon. Sinar infra merah terutama diserap oleh uap air dan CO2. Bumi yang terpanasi kemudian akan memancarkan lagi panas (dalam bentuk sinar infra merah) ke atas. Panas itu sebagian diserap uap air, gas-gas GRK (terutama CO2), dan awan. Sebagian sisanya dilepaskan ke luar angkasa. Awan yang menghangat kemudian akan memancarkan lagi panasnya ke bawah. Inilah proses efek rumah kaca yang membuat atmosfer bumi pada malam hari terasa masih cukup hangat. Tanpa efek rumah kaca, panas matahari tidak tersimpan sehingga bisa mengakibatkan perbedaan suhu yang sangat drastis antara siang dan malam.

Permasalahannya adalah bila efek rumah kaca terus mengalami peningkatan. Bila panas yang diserap uap air dan GRK meningkat, suhu atmosfer akan meningkat. Ini akan mengakibatkan melelehnya gunung es di kutub yang akan menaikkan ketinggian permukaan air laut. Kalau itu terjadi maka akan banyak pulau dan daerah pantai yang tenggelam.

Dampak ikutan lain dari mencairnya es di kutub adalah rusaknya keseimbangan suhu bumi. Seperti diketahui, es-es di kutub dan tempat-tempat lain merupakan pendingin alamiah yang berfungsi untuk menyeimbangkan panas bumi. Bila es itu mencair dan makin berkurang, dapat dipastikan unsur pendingin alam juga akan berkurang. Keadaan demikian akan semakin menambah meningkatnya suhu jagat raya.

Gunung Es di kutub mencair karena bumi semakin panas

Peningkatan suhu global pada abad 21 diperkirakan akan meningkatkan level pemukaan air laut sekitar 6 cm per dekade. Kenaikan ini terutama diakibatkan oleh mengembangnya air laut dan mencairnya lapisan es di kutub. Menjelang tahun 2030 tinggi air laut rata-rata dunia diperkirakan meningkat sekitar 20 cm dibandingkan saat ini. Di beberapa wilayah naiknya level air laut bisa jadi lebih dari angka itu atau kurang. Hal ini cukup mengkhawatirkan. Dalam jangka panjang, beberapa pulau akan hilang dan laut menggenangi daerah pinggiran pantai.

Peningkatan efek rumah kaca juga bisa mengubah iklim seeara global. Bukan hanya suhu atmosfer yang meningkat, pola curah hujan pun akan berubah. Global warming telah menyebabkan munculnya cuaca ekstrem. Pergantian musim tidak berlangsung seperti seharusnya, padahal pergantian yang teratur menjadi isyarat bagi manusia dan makhluk lain dalam melakukan aktivitasnya. Segala macam kegiatan dapat direncanakan sesuai dengan musim yang berjalan. Para petani misalnya, dapat mengatur kapan waktu tanam dari komoditas yang menjadi andalannya berdasarkan musim yang sedang berjalan.

Global warming merubah cuaca menjadi tidak seperti biasanya, pergantian musim tidak terjadi seperti seharusnya. Para petani tidak lagi dapat melakukan kegiatannya dengan baik. Ketika mereka mulai menanam padi dengan perkiraan hujan akan segera turun, ternyata yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Akibatnya benih yang mulai tumbuh menjadi mati karena kekurangan air. Kondisi ini sudah tentu menyebabkan kerugian besar bagi para petani.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan suhu di permukaan bumi selama ribuan tahun sangat dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan metan dalam kurun waktu itu. Sementara itu penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan 15% CO2 selama seabad terakhir telah meningkatkan suhu rata-rata atmosfer di permukaan bumi sekitar 0,25-0,50°C.

Perkembangan industri dan pemakaian kendaraan bermotor memacu peningkatan jumlah CO2 di atmosfer. Penelitian di Mauna Loa, Hawaii, dalam waktu lebih dari 30 tahun menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 terus meningkat dengan laju 0,4% per tahun. Jika kondisi ini terus berlangsung, pada awal abad 21 konsentrasi CO2 di atmosfer akan menjadi dua kali Iipat dari konsentrasinya sebelum zaman industri.

Dari berbagai skenario perubahan iklim yang mungkin terjadi akibat pelepasan GRK oleh aktivitas manusia, disimpulkan bahwa suhu global pada abad mendatang akan naik 0,1-0,3 derajat per dekade. Suhu di negara-negara industri di Eropa dan Amerika Utara mungkin akan meningkat lebih tinggi daripada rata-rata. Sebaliknya, curah hujan menurun hingga tanah relatif lebih kering.

Yang lebih dikhawatirkan lagi adalah terjadinya pemacuan efek rumah kaca di bumi. Kenaikan suhu atmosfer bukan hanya menaikkan ketinggian air laut, tetapi juga menyebabkan makin cepatnya penguapan dan kekeringan. Uap air di atmosfer merupakan penyerap panas yang baik seperti GRK lainnya. Bila itu ditambah dengan pelepasan CO2 yang tak terkendali dari kendaraan bermotor, industri, dan kebakaran hutan, efek rumah kaca akan dipacu makin cepat. Akibatnya, suhu akan makin cepat meningkat. Belajar pada Venus, saudara kembar bumi, pemacuan efek rumah kaca berdampak sangat hebat. Dengan pemacuan efek rumah kaca, bukan tidak mungkin bumi kita bisa menjadi seperti Venus.

Selain efek rumah kaca, kenyamanan hidup di biosfer bumi juga terancam oleh fenomena lubang ozon. Lubang ozon biasanya berkaitan dengan menipisnya lapisan ozon di daerah kutub yang berfungsi melindungi makhluk hidup dari sengatan sinar kosmik dan ultraviolet, sinar maut dari matahari. Jika penipisan tidak bisa dikendalikan, dikhawatirkan lubang ozon ini akan terus meluas. Akibatnya, penyakit kanker kulit dan katarak akan meningkat. Terjadi juga penurunan imunitas manusia.

Kerusakan ozon salah satunya terjadi karena adanya atom chlorine CI yang sebagian berasal dari CFC (chlorofluorocarbon) yang secara aktif merusak ozon. Atom ini bereaksi menjadi CIO dan O2 , ClO bisa menjadi CI dan O2 , CI bereaksi lagi dengan O3 dan seterusnya. Akibat aktivitas peternakan, produksi methane dari biomassa ini akan terjadi pembentukan ozon pada lapisan atmosfer bawah. Ozon pada lapisan bawah ini justru bisa mengganggu kesehatan manusia.

Sejurus dengan itu, pemanasan global sering disebut-sebut sebagai biang keladi meningkatnya bencana. Hal ini ada benarnya, meski faktor lokal pun harus diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi yang keliru. Akibat generalisasi keliru, seolah-olah faktor penyebab utama bencana adalah pemanasan global, padahal penyebab utamanya ada di sekitar kita sendiri. Untuk itu, rumusan strategi penanggulangan bencananya pun harus berangkat dari penyebab utama.

Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2) dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari data, bukan dari fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di media masa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit, tetapi konsisten.

Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah komposisi atmosfer maupun tata guna lahan. Perubahan iklim kadang dibedakan dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia (antropogenik), sedangkan variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.

Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan pada pengujung milenium ketiga 2090-2099 bumi akan semakin panas. Dampaknya, ada wilayah yang makin tinggi curah hujannya (antara lain Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang makin rendah curah hujannya (antara lain Indonesia bagian selatan). Data rata-rata suhu Indonesia 1970-2004 menunjukkan kenaikan 0,2°-1° yang berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat bahwa perubahan suhu tersebut hanyalah rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3° dalam periode yang sama.

Perubahan lokal berdampak jangka pendek dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanannya berkurang. Banjir dan tanah longsor makin sering terjadi karena menurunnya daya dukung Iingkungan. Pembangunan telah merubah tata guna lahan yang juga merubah kesetimbangan alam. Meningkatnya jumlah penduduk turut juga memperburuk kondisi Iingkungan sehingga tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekalipun dan akhirnya berdampak banjir dan tanah longsor.

Fenomena seperti yang diuraikan tersebut merupakan dampak negatif dari global warming yang terjadi sebagai akibat ulah manusia. Karena keadaan yang tidak semestinya ini, keteraturan alam menjadi tidak berfungsi. Keharmonisan suasana langit dan bumi menjadi terganggu. Demikian juga dengan fungsi benda langit, semuanya menjadi berantakan dan tidak teratur lagi.

Inilah kerusakan yang terjadi di langit, baik yang berkaitan dengan benda-benda angkasa maupun keadaan di sekitar Iingkupnya. Satu hal yang jelas, sebagai akibat dari hilangnya keteraturan langit adalah munculnya kerusakan pada unsur alam tersebut. Bila hal seperti ini terjadi secara terus menerus tanpa ada upaya untuk menanggulanginya, niscaya kerusakan langit dan semua yang ada di sekitarnya tinggal menunggu waktu. Selanjutnya, kerusakan yang merupakan sebagian dari tanda-tanda kiamat akan menyebabkan kehancuran total dari alam semesta. Inilah kiamat yang ditakutkan kedatangannya.

 

  • Perubahan Sistem Sosial

Tanda-tanda yang mengawali terjadinya kiamat tidak saja bersifat alamiah, tetapi ada juga yang tampak secara sosial di kalangan masyarakat manusia. Bila tanda-tanda alam semesta berupa fenomena kerusakan bumi dan langit yang bersifat sosial berbentuk peristiwa yang muncul di tengah masyarakat. Terkait ini, Sayyid Sābiq mengutarakan bahwa tanda-tanda datangnya kiamat terbagi dua, yaitu tanda-tanda yang kecil (al-‘alāmah augrā) dan tanda-tanda yang besar (al-‘alāmah alkubrā).

 Di antara tanda-tanda yang kecil (al-‘alāmah augrā) adalah diutusnya Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir. Beliau mendapat amanat meluruskan akidah manusia yang menyimpang untuk kembali ke ajaran tauhid. Risalah beliau berlaku untuk semua umat sampai akhir zaman. Dengan demikian, setelah beliau tidak ada rasul lagi. Kenabian berakhir dengan wafatnya beliau. Sesudahnya, yang akan tiba adalah hari akhir. Rasulullah berpesan,

Aku diutus (oleh Allah) dan jaraknya dengan kiamat itu bagai dua jari ini. (Beliau bersabda demikian sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya). (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari Anas)

 

Pesan ini menjelaskan bahwa kurun waktu antara beliau dengan tibanya hari akhir itu sedemikian dekat. Beliau adalah nabi terakhir. Karenanya, antara dua peristiwa ini tidak ada lagi kejadian yang dianggap penting dalam kehidupan manusia. Jarak antara keduanya sudah dekat, sedekat jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Namun demikian, tidak dijelaskan secara pasti kapan kiamat tiba dan selang berapa lama setelah kenabiannya. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang kapan kiamat akan terjadi. Beliau menjawab,

“Orang yang ditanya (tentang waktu terjadinya kiamat) tidak lebih tahu daripada penanya.” Jibril berkata, “(Kalau begitu), beritahulah aku tentang tanda-tandanya!” Beliau menjawab, “Ketika budak wanita melahirkan tuannya dan bila kau lihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin, dan menggembala kambing, bermegah-megahan dalam urusan tempat tinggal.” (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari ‘Umar)

 

Tentang tanda-tanda yang besar (al-‘alāmah alkubrā) akan datangnya kiamat, Alquran menjelaskan,

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِّنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ۝

Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (Alquran, Surah an-NamI/27: 82)

 

Kelak ketika saat kehancuran alam tiba, Allah akan mengeluarkan makhluk (binatang melata) dari dalam bumi. Kepada manusia makhluk ini menegaskan ketidakpercayaan sebagian manusia kepada ayat-ayat Allah. Makhluk ini mencerca dan memberi peringatan keras kepada orang-orang di sekitarnya. Bisa jadi ini dianggap tidak logis, tetapi tentu bukan mustahil terjadi. Allah Mahakuasa untuk memberi kemampuan berbicara kepada binatang sehingga dapat dipahami manusia. Di dalam Alquran dikisahkan bagaimana burung Hudhud dapat berkomunikasi dengan Nabi Sulaiman.

Hal yang mesti diperhatikan adalah kenyataan bahwa informasi yang terkandung dalam ayat di atas termasuk berita gaib yang mesti diyakini tanpa harus dicari-cari rincian detailnya. Sehubungan dengan fakta ini, dalam buku Alquran dan Tafsirnya terbitan Kementerian Agama disebutkan bahwa keluarnya binatang menjelang datangnya kiamat merupakan masalah gaib. Bagaimana bentuk, keadaan, dan sifat binatang tersebut tidak dijelaskan sama sekali. Karena itu, masalah ini tidak perlu dicari-cari keterangannya agar persoalan tersebut tidak mengakibatkan penyimpangan akidah. Menjadikan apa saja dapat berbicara jelas bukanlah hal yang mustahil bagi Allah. Dalam Alquran dijelaskan,

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ۝

Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” (Kulit) mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Alquran, Surah Fuṣṣilat/41:21)

 

Ketika hari perhitungan, kulit manusia akan berbicara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja yang telah dilakukan pemiliknya selama di dunia. Ketika kulit itu menjawab, sang pemiliknya bertanya, “Mengapa kamu bersaksi terhadap kami?” Kulit menjawab, “Allah menjadikan kami dapat berbicara, dan Dia juga mampu membuat apa saja berbicara.”

Informasi tentang keluarnya makhluk dari perut bumi menjelang kiamat juga disebutkan dalam hadis. Rasulullah bersabda,

Tanda-tanda akan (datangnya kiamat) yang pertama kali terjadi adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang melata kepada manusia pada pagi hari. Bila salah satu dari dua peristiwa ini terjadi, maka yang berikutnya akan segera menyusul sesudahnya. (Riwayat Muslim dari Abdullāh bin Amr)

 

Sebagian tanda akan terjadinya kiamat adalah terbitnya matahari dari barat dan munculnya hewan melata dari dalam tanah. Secara nalar, terbitnya matahari dari barat adalah hal yang mustahil. Namun, ketika keadaan alam semesta mengalami goncangan dahsyat yang menyebabkan planet-planet, termasuk bumi, bertebaran dan bergerak liar karena rotasi masing-masing sudah tidak lagi teratur maka kemungkinan muncul atau terbitnya matahari dari barat bukan sesuatu yang mustahil. Demikian pula halnya dengan binatang yang keluar dari bumi. Dalam kaitan ini tidak disebutkan seberapa besar hewan tersebut dan bagaimana keadaan lubangnya. Semua itu merupakan berita gaib yang tidak ada penjelasannya secara rinci, tetapi harus diimani.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu