PENCAPAIAN BELAJAR SAINS DEMI MERANGKUL SEMUA KOMUNITAS

Serial Pembelajaran Sains: Sharon Nichols dan Ruby Simon

 

Tulisan ini mempelajari isu-isu seputar pihak-pihak yang mungkin tertinggal ketika negara-negara bersiap melaksanakan ujian sains sesuai dengan kebijakan No Child Left Behind. Ujian yang telah distandardisasikan mungkin akan mendorong guru-guru sekolah dasar untuk lebih mengutamakan pengajaran sains di dalam kurikulum, data yang dihasilkan dari nilai-nilai ujian mungkin akan membuahkan wawasan-wawasan yang dapat dijadikan pedoman untuk mengambil keputusan di masa datang guna perbaikan pengajaran sains di dalam kelas dan secara sistematis di seluruh tingkat kelas. Meskipun demikian, nilai ujian hanya bersifat gejala (symptomatic), sebab nilai ujian bukan penyebab masalah pencapaian siswa secara perorangan. Teori-teori pendidikan kontemporer melukiskan gambaran yang lebih kompleks tentang upaya mencapai prestasi akademis ketika belajar (learning) dipahami sebagai sebuah aktivitas sosiokultural, bukan hanya transmisi pengetahuan. Sebuah pandangan sosiokultural terhadap belajar sains mengharuskan para guru melihat situasi-situasi kontekstual yang menantang pengajaran dan belajar sains di dalam dan di luar kelas. (more…)

Continue Reading

MENGKAJI ISU RAS, KEKUASAAN, DAN KEPEDULIAN DALAM KONTEKS SAINS RURAL BERLAJU BELAJAR RENDAH

Pembelajaran Sains: Randg K. Yerrick

Antwann adalah nama seorang pemuda kulit hitam dengan berat badan berlebih. Setiap hari dia duduk di belakang kelas milik seorang kulit putih berusia separuh baya. Antwann meminimumkan konflik dengan para guru dengan merasa puas apa adanya dan tidak melibatkan diri. Antwann tidak pernah meminta apa pun dari saya, kecuali sesekali minta izin untuk pergi ke kamar mandi. Saya pernah meminta siswa memikirkan sebuah pertanyaan yang tujuan sebenarnya hanya untuk membujuk siswa agar berpikir, “Menurut kalian, dari mana datangnya awan?” (more…)

Continue Reading

RAS, PERSAMAAN, DAN PENGAJARAN SAINS

Pembelajaran Sains: Garrett Albert Duncan

Dari kelahirannya di dunia Barat sebagai sebuah sistem inquiry yang berdisiplin dan formal, sains telah aktif berpartisipasi dalam membangun kelompok-kelompok orang yang berbeda-beda. Contoh, Carolus Linnaeus (1707-1778) mengatalogkan masyarakat Eropa dan Afrika dalam Systema Naturae (1770) yang penting itu sebagai berikut:

Eropa. Berkulit putih, optimistis dan ceria, kekar. Rambut Iebat, lurus. Mata biru. Lemah lembut, tanggap, memiliki daya cipta. Berbusana jubah resmi tertutup. Diatur oleh adat-istiadat.

Afrika. Berkulit hitam, kurang menunjukkan emosi, santai. Rambut hitam, keriting. Kulit selembut sutra. Hidung, pesek. Bibir, tebal. Dada wanita sedang. Payudara kaya produksi susu. Licik, pemalas, ceroboh. Gemar melumuri diri sendiri dengan lemak. Cenderung dipengaruhi suasana hati. (Cetak miring sesuai aslinya. ) (more…)

Continue Reading

MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI PEKERJAAN RUMAH

Pembelajaran Sains: Jennifer Beers

Bagi banyak guru, kegagalan siswa menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan rumah merupakan masalah umum yang dapat menimbulkan hambatan dalam belajar dan mencapai prestasi. Salah satu solusi untuk masalah itu ialah dengan tidak memberikan tugas pekerjaan rumah setiap hari, atau dalam keadaan yang paling ekstrem, menghapuskan sepenuhnya jenis tugas itu. Akan tetapi, dalam keadaan pendidikan sekolah kita sekarang yang berkonsekuensi tinggi, kurikulum ditentukan oleh standar, dan akuntabilitas guru, saya tidak yakin ada pendidik yang mau mengabaikan bahwa pekerjaan rumah, bila dibingkai dalam konteks yang tepat, dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. Pekerjaan rumah sangat berguna untuk melatih keterampilan dan konsep yang dibutuhkan untuk menguasai muatan pelajaran. Selain itu, dalam sains, pekerjaan rumah juga dapat menjadi cara menautkan konsep dan gagasan abstrak yang dipelajari di kelas dengan kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas siswa. (more…)

Continue Reading
Close Menu