MEMAHAMI KEAGENAN DALAM PENDIDIKAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Angela Calabrese Barton dan Purvi Vora

PENGANTAR: KISAH KOBE

Tujuh tahun lampau, saya mulai mengenal Kobe, laki-laki 16 tahun, warga Amerika keturunan Afrika, melalui sebuah program usai sekolah tempat anak-anak muda belajar sains dengan mengubah sebuah kota yang ditinggalkan orang menjadi taman urban.

Kobe sudah lama hidup di penampungan tunawisma bersama ibu dan adik-adik kandungnya di New York City. Kisah Kobe menarik karena tergantung pada aspek mana yang Anda telaah dari kehidupan Kobe, Anda akan melihat orang yang berbeda. Jika Anda lihat Kobe dari bahasa standar sekolah, Anda akan melihat seorang pemuda yang gagal dalam sains (dan pelajaran-pelajaran lain), lebih berminat kepada olahraga dan geng daripada urusan akademis) dan pada akhirnya putus sekolah. Meski mengungkapkan hasrat yang sungguh-sungguh akan suatu hari kelak menjadi “kaya” dan berhasil masuk NBA atau NFL, Kobe tidak bisa berpartisipasi dalam tim olahraga sekolah karena nilai-nilainya yang rendah. Jika Anda lihat Kobe dari kacamata saat kami mengenalnya, Anda akan bertemu anak muda yang tengah berjuang membantu keluarganya untuk bertahan hidup, bersikap kritis terhadap upaya-upaya luar untuk “membantu” komunitasnya dengan cara-cara yang tidak memperhatikan realitas komunitasnya, dan ikut serta dalam sains yang mau menghargai identitas dan konteksnya. Selama ibunya tidak ada, Kobe menjadi pengasuh utama adik-adiknya. Tanggung jawab itulah yang membuatnya kerap mangkir dari sekolah. Kobe menjunjung tinggi afiliasi dengan gengnya karena geng itu menawarkan dukungan finansial dan kebersamaan, dua hal yang tidak diperolehnya di sekolah. (more…)

Continue Reading
Close Menu