METAFISIKA DAN MATEMATIKA DALAM BUDAYA ISLAM ‎KLASIK: IBN SINA DAN PARA PENERUSNYA

Wacana: Roshdi Rashed

Selama tujuh abad, riset matematis yang maju telah dilakukan di pusat-pusat urban Islam. Kita boleh saja meragukan apakah filosof menemukan tema-tema bagi perenungan dalam karyanya dan apakah mereka mencari model-model matematika guna mengelanorasi sistemnya, atau sebaliknya, apakah mereka bersandar pada apa yang disebut para sejarawan sebagai filsafah, yakni doktrin wujud dan jiwa yang tak acuh terhadap cabang lain pengetahuan, dan bebas dari setiap batasan kecuali agama (singkatnya, warisan dari zaman kuno dengan nama Islam). Pertanyaan semacam itu mungkin menarik baik bagi sejarahwan filsafat maupun sejarahwan sains. Bagaimana kita dapat membayangkan bahwa, ditengah kemajuan disiplin dan matematis yang tak ada preseden sebelumnya aljabar, geometri aljabar, analisis Diophatean, teori pararel, dan metode proyeksi para filosof tetap tidak acuh? Lebih sulit lagi untuk diyakini bahwa mereka gagal bereaksi ketika, di hadapan mata mereka sendiri, masalah-masalah epistemologi merek baru diangkat oleh matheis baru. Di antara semua ini adalah masalah penerapan matematika: tidak pernah sebelumnya disiplin matematika diterapkan satu sama lain; tidak pernah ada kebutuhan yang dipersepsi untuk menerapkan matematika pada fisika, karena nilai demonstratif fisika; terakhir, tidak pernah terjadi pada siapa pun untuk menemukan disiplin yang mampu mengungkapkan hasilnya melalui geimetri posisional dan geometri metrik; dengan kata lain, topologi avant la lettre.

(more…)

Continue Reading
Close Menu