ULAR

Serial Quran dan Sains

Ular cukup banyak disebut dalam Alquran. Kebanyakan ayat-ayat tersebut berkaitan dengan kisah mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Musa. Dalam dua ayat di bawah ini digambarkan apa yang terjadi saat pertemuan antara Nabi Musa dan Fir‘aun.

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ۝ حَقِيقٌ عَلَىٰ أَن لَّا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ قَدْ جِئْتُكُم بِبَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ۝ قَالَ إِن كُنتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ۝ فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ۝

Dan Musa berkata, “Wahai Fir‘aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Jika benar engkau membawa sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.” Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 104-107) (more…)

Continue Reading

MANUSIA DAN ASAL KEJADIAN

Serial Quran dan Sains

Penciptaan manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang jelas dan pasti. Ada tiga misi yang bersifat given yang diemban manusia, yaitu misi utama untuk beribadah (aż-Żāriyāt/51: 56), misi fungsional sebagai khalifah (al-Baqarah/2: 30), dan misi operasional untuk memakmurkan bumi (Hūd/11: 61). Allah subḥanahū wa ta‘ālā menyatakan akan menjadikan khalifah di muka bumi (al-Baqarah/2: 30). Secara harfiah, kata khalifah berarti wakil/pengganti, dengan demikian misi utama manusia di muka bumi ini adalah sebagai wakil Allah. Jika Allah adalah Sang Pencipta seluruh jagat raya ini maka manusia sebagai khaIifah-Nya berkewajiban untuk memakmurkan jagat raya itu, utamanya bumi dan seluruh isinya, serta menjaganya dari kerusakan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ۝

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Alquran, Surah ażŻāriyāt/51: 56) (more…)

Continue Reading

PERAN DAN MANFAAT AIR

Serial Quran dan Sains

Air telah menjadi zat yang amat penting dalam kehidupan makhluk hidup, bahkan untuk mekanisme kosmos secara keseluruhan. Tidak mengherankan jika di dalam Alquran ditemukan banyak sekali ayat yang berbicara tentang air, mulai dari keberadaannya sebagai tanda kebesaran Allah, mekanisme dan siklus air di bumi, manfaatnya bagi kehidupan makhluk, prasarana transportasi, instrumen untuk bersuci, hingga pencemaran yang mungkin terjadi akibat ulah manusia yang tak menghargai dan mensyukuri anugerah Allah. Di antara ayat-ayat yang berbicara tentang peran dan manfaat air dapat dibaca misalnya dalam Surah Qāf/50: 9-11.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ۝ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ۝ رِّزْقًا لِّلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ۝

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur) (Alquran, Surah Qāf/50: 9-11)  (more…)

Continue Reading

HUBUNGAN HEWAN DAN MANUSIA

Serial Quran dan Sains

Hubungan antara manusia dan hewan telah berjalan sangat lama. Demikian erat hubungan itu hingga terjadi pemujaan terhadap hewan dalam ritual keagamaan. Hal ini terjadi terutama pada masyarakat pramodern.

Pemujaan terhadap hewan oleh masyarakat maupun kepercayaan tertentu dimulai oleh beberapa kemungkinan. Penulis kuno, Diodorus, menjelaskan bahwa pemujaan terhadap hewan dimulai dari mitos dimana saat itu dewa-dewa sedang terancam oleh para raksasa. Untuk melindungi dirinya, para dewa lalu menyamar menjadi hewan. Masyarakat, secara alami, kemudian memuja hewan jelmaan para dewa itu. Pemujaan terus berlanjut meski para dewa sudah tidak lagi menyembunyikan diri dalam rupa hewan. Teori yang lebih modern mengatakan bahwa pemujaan hewan dimulai dari keingintahuan masyarakat secara alami terhadap perikehidupan hewan tertentu. Pengamatan yang mendalam dan intens menimbulkan kekaguman tersendiri terhadap hewan tertentu; kekaguman yang berlanjut pada pemujaan. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa pemujaan bermula dari pemilihan nama keluarga. Pengambilan nama keluarga dari hewan tertentu berubah menjadi kekaguman terhadap hewan tersebut, dan dari situlah muncul pemujaan. (more…)

Continue Reading
Close Menu