SAINS DAN BEBERAPA KRITIK

Wacana

Gagasan-gagasan Ibn AI-Haitam, AI-Birūni, dan Ibn Sīna, serta para ilmuwan Muslim lain menjadi dasar ‘semangat ilmiah’ di Dunia Islam.

– Ziauddin Sardar–

 

Sebagus apa pun teori Anda dan sepintar apa pun Anda, jika ia tidak sesuai dengan eksperimen, pastilah teori itu salah.

– Richard Feynman –

PENDARATAN DI BULAN

Ketika pertama kali menerima email yang mengabarkan bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) tidak pernah benar-benar mendaratkan manusia di bulan, saya terhenyak dan tidak menyamakan email tersebut dengan sampah online lain yang biasa datang setiap hari. Saat itu tahun 2001, dan istilah spam belum sering terdengar dalam percakapan sehari-hari; kata itu juga belum menjadi gangguan berarti yang menyedot waktu dan pikiran. Internet juga belum menjadi penggerak arus dialektika wacana. (more…)

Continue Reading

KEMUNGKINAN YANG TIDAK MUNGKIN: SEBAB-SEBAB ‎ILAHI DI ALAM

Wacana: Philip Clayton

Tampaknya, ilmu-ilmu alam sama sekali tidak memberikan tempat bagi tindakan ilahi. Ilmu pengetahuan modern mengandaikan bahwa alam semesta adalah sebuah sistem fisik yang tertutup, interaksinya bersifat teratur dan tampak mengikuti suatu hukum tertentu, serta semua sejarah kausal bisa dirunut ke belakang. Diandaikan pula bahwa pada akhirnya, semua anomali akan mendapatkan penjelasan ilmiah. Namun, semua pernyataan tradisional tentang Tuhan yang bertindak di alam bertentangan dengan kondisi-kondisi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan itu mengandaikan bahwa alam semesta bersifat terbuka, bahwa tuhan bertindak dari waktu ke waktu sesuai dengan  tujuan-Nya, bahwa sumber dan penjelasan ultimat dari semua tindakan ini adalah kehendak illahi, dan bahwa tidak ada satu pun pemikiran makhluk fana yang bisa mamadai untuk menjelaskan kehendak Tuhan ini.

(more…)

Continue Reading

KEMELEKAN ILMIAH

Serial Pembelajaran Sains: WoIff-Michael Roth

Konsep kemelekan ilmiah (scientific literacy) memegang peranan utama dalam upaya pembaruan pendidikan sains. Umumnya, para pendidik setuju bahwa kemelekan ilmiah harus menjadi hasil utama pendidikan di sekolah. Namun, dengan sejarahnya yang hampir mencapai limapuluh tahun, istilah kemelekan ilmiah belum memperoleh definisi yang pasti atau sudah disepakati. Paul de Hart Hurd, salah seorang bapak pendiri disiplin ilmu pendidikan sains, menetapkan bahwa interpretasi yang valid terhadap kemelekan ilmiah harus konsisten dengan gambaran sains yang berlaku umum dan perubahan-perubahan revolusioner yang sedang berlangsung di masyarakat kita (Hurd, 1998). Bagi banyak pendidik sains, hal ini berarti adjektiva scientific-ilmiah merujuk kepada sains yang dikerjakan para ilmuwan. Sebenarnya tidak harus selalu demikian. Ada sejumlah pendidik yang mengusulkan agar sains sekolah (school science) dapat berorientasi sendiri kepada sains yang digunakan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di komunitas yang kita tinggali. Hal itu masuk akal bila kita ingat bahwa dalam sejarahnya, bentuk-bentuk aktivitas elite dan lanjutan-sains atau sains profesional selalu dimulai dari padanannya dalam kehidupan sehati-hari. (more…)

Continue Reading
Close Menu