PERJUMPAAN SAINS DENGAN YURISPRUDENSI: ‎PELBAGAI PANDANGAN TENTANG TUBUH DALAM ETIKA ‎ISLAM MODERN

Wacana: Ebrahim Moosa

Dalam masa klasik dan post-klasik, disiplin yuris-prudensi Islam relatif selaras dengan diskursus ilmiah zamanya. Dalam pertimbangan hukum mereka, para ahli hukum (fuqaha) yang tidak menentang “sains yang asing” (‘ilm al-awail) menunjukkan dengan cukup fasih bahwa mereka tidak asing dengan disiplin-disiplin ilmiah masa itu, seperti astronomi, anatomi, alkimia, fisika, matematika, dan geometri. Para praktisi, yaitu ahli-ahli tentang yurisprudensi (ushul al-fiqh), dan ahli tentang hukum positif (fiqh), menerima pandangan yang diterima di bidang sains sebagai sebuah realitas dan mereka jarang melihat adanya ketidakcocokan antara kedua hal itu. Jika terjadi ketegangan, hal ini biasanya dipecahkan dengan cara yang kreatif dan bersahabat.

Sebagai contoh, sebagian besar ahli hukum di masa klasik berpegang teguh pada pendirian bahwa dalam menentukan kalender kamariah (lunar calendar), upaya melihat bulan sabit dengan mata telanjang lebih disukai agar sesuai dengan laporan yang diberikan nabi. (more…)

Continue Reading
Close Menu