SOLUSI SEMESTA JAMAK (MULTIVERSE)

SOLUSI SEMESTA JAMAK (MULTIVERSE)

Lazim diketahui bahwa banyak ilmuwan dan filsuf mengecam prinsip antropik -terutama versi kuatnya- karena dianggap sebagai upaya menghadirkan kembali Sang Perancang. Kelompok penentang ini berkeyakinan bahwa sains mestinya telah benar-benar bersih dari pemikiran teleologis semacam itu. Bagi mereka, diberikannya posisi istimewa kepada manusia di alam semesta adalah langkah bias dan menyimpang dari sains. Pada intinya, mereka melihat bahwa manusia tidak boleh menjadi tokoh utama evolusi, dan alam semesta kita boleh jadi bukanlah satu-satunya yang ada “di sana”. Sebagai gantinya, para penganut filsafat materialistis (atau naturalistis) muncul dengan gagasan alam semesta jamak (multiverse): pastilah ada miliaran alam semesta di luar sana, yang satu sama lain dipisahkan oleh ruang-ruang hampa sehingga mereka tidak bisa saling mendeteksi dan berinteraksi. Semua alam semesta tersebut memiliki parameter dan hukum fisika yang berbeda-beda, dan hanya alam semesta kitalah yang bagus. Demikianlah bunyi argumen alam semesta jamak, sehingga tidak heran jika kita berada di sebuah alam semesta yang ramah dan memungkinkan terjadinya kehidupan: satu di antara sekian banyak “undian” harus merupakan pemenang- tidak ada yang istimewa soal ini.

Gagasan alam semesta jamak ini sebenarnya juga bukan hal baru; hanya saja, ia baru beroleh dukungan ilmiah belakangan ini. Harus ditekankan di sini bahwa pembelaan para ilmuwan yang kini merupakan kelompok mayoritas masyarakat -atas hipotesis ini cenderung didasarkan pada keberatan filosofis terhadap prinsip antropik dan prinsip-prinsip kosmologis yang mendasarinya. George Ellis, ahli kosmologi kenamaan asal Afrika Selatan, mengutarakan gagasannya dengan sederhana: “Menurutku, keyakinan pada alam-semesta jamak adalah lebih soal keimanan seperti halnya keyakinan keagamaan lainnya.”

Prinsip-prinsip kosmologi yang menopang alam-semesta jamak (berurutan dari yang paling penting hingga yang paling tidak penting) sebagai berikut: (a) Teori ‘inflasi berkelanjutan’ yang memprediksi tersusunnya ‘gelembung-gelembung alam semesta’ (bubble universes) yang secara kausal terpisah satu sama lain dan karenanya secara fisik berdiri sendiri-sendiri; dan (b) kemungkinan lahirnya ‘bayi alam semesta’ (baby universe) setiap kali lubang hitam menghasilkan singularitas yang ukurannya sebesar lubang dalam bentang ruang-waktu dan mengakibatkan terciptanya ‘lubang cacing’ (wormhole, sejenis terowongan ruang-waktu) yang bersambung ke alam semesta lain. Dengan salah satu mekanisme dari keduanya (gelembung alam semesta dan bayi alam semesta), saat ini seharusnya sudah ada miliaran alam semesta dengan berbagai parameter dan hukum fisika yang berbeda satu sama lain. Dengan parameter dan hukum fisika yang berbeda, berbagai alam semesta tersebut akan steril dan tak berkehidupan, bahkan juga bisa tak mengandung apa-apa kecuali hanya satu atau dua saja, sehingga alam semesta kita inilah yang menjadi pemenang undiannya. Bila ada miliaran alam semesta di luar sana, pastilah ada satu yang menakjubkan.

Akan tetapi, ada berapa banyak alam semesta menurut perkiraan para pendukung alam-semesta jamak? Inilah bagian dari krisis yang tengah dihadapi fisika dewasa ini (salah satu contohnya telah kita singgung dalam pembahasan mengenai prediksi energi gelap/dark energy yang ternyata 10.120 kali lebih besar dibandingkan hasil temuan observasi). Bahkan, model terkini yang dikenal dengan versi ‘lanskap’ dari teori string memprediksi 10s solusi (alam semesta) yang masing-masing mewakili sebuah alam semesta yang masuk akal beserta dengan berbagai parameter fisiknya masing-masing. Lalu kira-kira, seberapa jauh jarak satu alam semesta dengan alam semesta yang lain dalam sebuah skema alam semesta jamak raksasa seperti itu? Max Tegmark memperkirakan jaraknya dari 10 hingga 1029 meter. Sebagai perbandingan, bagian terjauh yang masih bisa teramati pada alam semesta kita jaraknya adalah (hanya) 1026 meter. Jadi, supaya dapat menjelaskan sebuah alam semesta (yang menakjubkan), kita mempostulatkan keberadaan 10s alam semesta (yang tak kasat mata)

Tegmark juga menegaskan bahwa semua alam-alam semesta lain yang secara logis mungkin tercipta memang benar-benar ada -sebuah prinsip metafisika lainnya. Akan tetapi, dalil ini tidaklah memadai dari sisi filosofis. Lee Smolin bahkan menganggap penalaran Tegmark tersebut sudah menyerah dari awal karena tidak mau mencari penjelasan yang memuaskan. Menurutnya, andaikata pendekatan yang demikian dipakai dalam biologi, mekanisme seleksi alam tidak akan pernah ditemukan.

Simolin tergolong ilmuwan yang menyukai seleksi alam. Dalam bukunya The Life of the Cosmos, ia mengulas kecenderungan khusus alam semesta kita terhadap kehidupan dari perspektif gabungan proses “seleksi alam dan mutasi” yang juga dipakai dalam evolusi Darwin untuk menjelaskan kemunculan spesies-spesies yang baru dan lebih kompleks. Dalam hipotesis (spekulatif) yang ia kemukakan, lubang-Iubang hitam menghasilkan bayi alam semesta melalui sebuah proses mutasi yang sedikit mengubah susunan parameter fisika alam semesta dan juga melalui proses seleksi yang mendukung terciptanya lubang hitam dalam jumlah yang lebih banyak. Semakin banyaknya lubang hitam akan menghasilkan lebih banyak bintang sehingga unsur-unsur kimiawi (C, N, O, Fe dan sebagainya) yang bisa menopang kehidupan juga akan lebih banyak. Dengan demikian, dalam skenarionya, alam semesta kita tercipta dari sebuah lubang hitam di alam semesta yang muncul lebih dahulu dan kurang kondusif bagi kehidupan, dan begitulah seterusnya dalam rentetan panjang alam semesta yang kemudian semakin membaik. Tentu saja, proses atau prinsip yang demikian tidak dijumpai buktinya di alam semesta.

Menariknya, gagasan terpenting yang melawan keseluruhan alam-semesta jamak ini pertama kali diungkapkan oleh Paul Davies dalam artikel pendeknya di New York Times yang sama sekali tidak berpijak pada fisika atau kosmologi. (Davies kemudian menyuarakan kembali gagasannya dalam bukunya yang terbaru, meskipun menurut saya dan banyak orang lain, gagasan tersebut tidak menekankan sesuatu yang seharusnya ia lakukan.). Pertama, Davies mengemukakan keberatan yang sama atas hipotesis alam-semesta jamak yang disuarakan Ellis (‘hanya sebagai hipotesis yang bersifat ad hoc‘), kemudian meneruskan penjelasannya. Ia lalu menentang lenyapnya realitas kita dan keyakinan pada keberadaan kita sendiri dalam skema alam semesta jamak semacam itu. Bagaimana bisa? Bila kita memiliki miliaran alam semesta semacam ini, pastilah salah satu di antara alam semesta tersebut telah memiliki peradaban yang sudah sampai pada tingkat kemajuan ilmiah dan teknis tertentu atau menciptakan (secara maya atau nyata, melalui lubang-lubang hitam) alam-alam semesta lain yang para penghuninya berpandangan dan bersikap persis seperti layaknya penghuni yang sebenarnya. (Inilah sebenarnya gagasan inti dari film The Matrix). Sementara itu, Filsuf Oxford, Nick Bostrom, yang sangat ahli dalam topik ini dengan sederhana mengungkapkan, “Sangat besar kemungkinan Anda bisa hidup dalam [suatu] simulasi komputer dalam alam yang sebenarnya”. Sejatinya, dalam alam-alam ciptaan itu, makhluk mana pun bisa membuat permainan simulasi mereka sendiri dan menciptakan alam semesta lain yang terkesan sama nyatanya seperti alam semesta yang didiami oleh orang tua atau nenek moyangnya. Begitulah seterusnya, hingga muncul banyak sub-alam dalam satu mata rantai yang absurd dan semuanya bersifat nyata/maya sama seperti yang lain. Dengan demikian, bisa jadi kita adalah hasil simulasi atau ciptaan alam yang demikian, sedangkan dewa-dewa (para pencipta) merupakan makhluk dari tuhan-tuhan yang lain. Davies lebih lanjut menegaskan bahwa alam-alam semesta palsu seperti itu jauh lebih murah dibandingkan alam-alam yang nyata, karena pengolahan informasi membutuhkan sumber daya yang jauh lebih sedikit dibandingkan yang dibutuhkan dalam penggabungan berbagai materi fisika dan membuatnya berfungsi. Selain itu, pengalaman palsu juga bisa diciptakan dalam suatu seting lokal terbatas (atau farade) tanpa kebutuhan akan suatu alam semesta yang utuh dan matang.

Ironisnya, hipotesis alam-semesta jamak tidak hanya membangkitkan kembali gagasan tentang seorang pencipta, tetapi juga menciptakan sekumpulan tuhan. Parahnya lagi, hipotesis ini membuat kita kehilangan bentuk Realitas. Ia juga merupakan sebuah krisis multieksistensial terbesar dalam tatanan kosmologi kita dewasa ini.

Perlu saya tekankan di sini bahwa ada banyak penentang gagasan alam-semesta jamak, dan sebagian di antaranya malah sangat membenci gagasan ini. Ada juga yang menganggapnya sama sekali tidak ilmiah karena ketiadaan bukti pendukung dan terlebih lagi karena gagasan ini mustahil bisa dibuktikan. Sebagian yang lain menyoal kekeliruan penalaran ketika menggunakan teori kemungkinan (probability theory). Namun, menariknya, sejumlah kritikus menyerang gagasan alam-semesta jamak karena gagasan ini dianggap enggan menemukan sebuah penjelasan akhir yang unik dan elegan, serta tak perlu mendalilkan adanya 105.000 alam semesta hanya untuk menguraikan penalaan-halus alam semesta. Sementara itu, sebagian kritikus lain menyebut gagasan ini sebagai tameng materialistis yang sia-sia, yang dibuat hanya untuk terhindar dari keharusan berhadapan dengan bukti luar biasa yang tampaknya menunjuk kepada -jika bukan sosok sang Perencana- posisi istimewa dari kehidupan, kesadaran, dan mungkin kemanusiaan. Sebagaimana yang ditanyakan Davies dalam buku terbarunya, “Mungkinkah ini hanya kebetulan belaka? Mungkinkah keterikatan Realitas terdalam dengan sebuah fenomena alam luar biasa bernama “akal manusia” itu hanyalah keganjilan dalam sebuah alam semesta yang absurd dan tiada artinya? Atau adakah sebuah bagian alur lain yang lebih dalam?”

Demikianlah perdebatan yang terjadi di kalangan ilmuwan, filsuf, dan teolog melalui diskusi-diskusi menarik, artikel-artikel ilmiah, buku-buku semi-filsafat, dan argumen-argumen teologis yang bermunculan hampir setiap bulan terkait prinsip antropik

Leave a Reply

Close Menu