SOAL KEPENDIDIKAN DAN KEMASYARAKATAN

SOAL KEPENDIDIKAN DAN KEMASYARAKATAN

Ada beberapa isu nonteknis penting yang juga harus dibahas jika kita ingin melihat sains dan Islam tumbuh dan berkembang pesat di masa mendatang. Isu-isu tersebut meliputi perlunya mengajarkan filsafat sains (melalui cara yang masuk akal dan mencerahkan), perlunya merevisi dan menyajikan sejarah sains dengan benar, termasuk sumbangsih Islam dan kelahiran sains modern, perlunya melakukan dialog serius dengan para teolog dan cendekiawan Muslim untuk meyakinkan bahwa sains dewasa ini memuat banyak penjelasan mengenai topik-topik yang sudah terlalu lama mereka monopoli, perlunya mendidik publik tentang isu-isu sains yang agak dekat dengan wilayah keagamaan, dan terakhir adalah perlunya melakukan kontak dengan para pemikir non-Muslim yang telah mengembangkan berbagai upaya ilmiah dalam bidang sains dan agama.

Saya akan ulas isu-isu tersebut sedikit demi sedikit. Pertama, filsafat dan sejarah sains. Sungguh disayangkan dan mengherankan karena dalam praktiknya, filsafat sains tidak diajarkan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Dunia Arab-Muslim, kecuali hanya di beberapa jurusan (misalnya, jurusan filsafat) yang memang tidak bisa tidak bersentuhan dengan topik ini. Meski demikian, fakta menunjukkan bahwa mahasiswa Arab-Muslim tetap saja tidak mengenal satu pun nama dan mazhab pemikiran. Inilah penjelasan dan jawaban mengapa sedikit sekali Muslim yang turut berkontribusi dalam debat-debat penting seputar filsafat sains (landasan metafisikanya, metodenya, dan sebagainya) yang bergelora di luar Dunia Muslim, atau sekurang-kurangnya di Dunia Arab sendiri: Nasr (di Amerika Serikat), Sardar (di Inggris), Golshani (di Iran), dan seterusnya.

Situasi ini sungguh serius karena saya rasa juga berhubungan dengan pemahamaan yang sangat bias mengenai hubungan antara sains dan agama secara umum, dan Islam secara khusus, di kalangan Muslim. Ini juga menjadi alasan dan jawaban mengapa ribuan ilmuwam Muslim, yang sebenarnya merupakan teknisi dan menguasai bidang spesifik tertentu, ternyata tidak berpengetahuan dan tidak memahaminya dalam pengertian yang lebih luas. Ini pula yang menjadi alasan mengapa mereka kerap mengadopsi pandangan-pandangan tradisional atau bahkan irasional terkait berbagai isu, mulai dari penyembuhan Qurani hingga i’jaz. Karena itu, tidaklah mengherankan jika dalam survei saya yang terbatas, saya menjumpai para profesor Muslim tidak kalah atau bahkan lebih ortodoks (menolak evolusi, misalnya) dibandingkan mahasiswa dan masyarakat umum. Saya pribadi meyakini betul bahwa obat mujarab bagi wabah yang melanda Dunia Arab-Muslim di ranah sains adalah pengajaran filsafat sains yang serius dan sungguh-sungguh.

Hal yang sama juga berlaku pada sejarah sains yang jarang sekali diajarkan (seringkali hanya terdapat dalam beberapa halaman pendahuluan buku pelajaran sains) di sekolah-sekolah dan universitas-universitas di wilayah tersebut. Saya ingin menceritakan sebuah anekdot untuk menjelaskan dampak dari situasi Ini.

Pada Desember 2006, saya mengikuti sebuah konferensi ilmiah yang secara serius mengupas topik-topik seputar hubungan Islam dan astronomi dengan berbagai pokok bahasan semisal penentuan awal bulan Islam, seperti Ramadan, yang harus diputuskan dengan terlihatnya rupa awal bulan sabit baru yang bentuknya tipis, pembuatan kalender Islam (menurut bulan-bulan Islam), penentuan waktu shalat khususnya di daerah lintang yang tinggi (yang juga menyulitkan dilakukannya perhitungan waktu shalat dengan akurat), tinjauan ilmiah atas sumbangsih Muslim bagi astronomi di lintasan sejarah, dan seterusnya.

Salah seorang narasumber dengan lantang mengatakan bahwa teori Copernicus (heliosentris) sebenarnya ditemukan oleh para astronom Muslim dan secara khusus menyebut Al-Bīrūnī dan Ibn As-Syāthir. Saat sesi tanya jawab, saya bertanya dan mengemukakan kekeliruan historis dari klaim-klaimnya tersebut dengan juga mengatakan bahwa ia melakukan kekeliruan karena menyamakan dalil heliosentris yang dikemukakan Copernicus -yang sudah pasti tidak diperoleh dari para astronom Muslim- dengan aspek-aspek teknis orbit geometris Copernicus (yang penuh kekeliruan) dan bisa jadi ia kutip dari penelitian Muslim yang sudah maju kala itu. Saya menegaskan fakta bahwa gagasan pertama teori tersebut benar-benar berasal dari Copernicus, sehingga saking besar, orisinal, dan benarnya, teori tersebut hingga saat ini tetap kita sebut Revolusi Copernicus (Copernican Revolution). Saya juga menegaskan fakta bahwa bagian kedua, yakni bagian yang mungkin diperoleh Copernicus dari Muslim, terbukti keliru sehingga Kepler mengabaikannya 60 tahun kemudian (400 tahun dari sekarang). Setelah itu, secara tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara seorang peserta, seorang profesor fisika, yang beranjak dari kursinya dan berteriak: “Copernicus mencuri teori Ibn As-Syāthir! Sudah ada penelitian yang membuktikannya”. Saya kemudian berdiri dan berkata: “Saya tantang Prof. X untuk menunjukkan bagian penting dalam ‘penelitian historis’ tersebut dan mengirimkannya ke alamat email kami semua”. Tentu saja, saya tidak menunggu email dari kedua profesor tersebut (narasumber dan pembelanya) karena saya tahu bahwa ‘penelitian historis’ yang dimaksud benar-benar tidak ada. Dari situ, saya justru meneliti topik tersebut -meski sekilas- dan dalam waktu seminggu, saya berhasil menyelesaikan sebuah artikel singkat yang menyangkal semua klaim di atas dan mengirimkannya kepada kedua profesor dan panitia konferensi.

Banyak juga penulis Muslim yang suka menyederhanakan persoalan historis dan ilmiah dengan cara-cara yang bisa mengarah kepada pemutarbalikan fakta dan kemudian menggiring kepada kesalahpahaman. Saya akan memberikan sebuah contoh yang gamblang dalam hal ini: Dalam buku terbarunya (2006) yang berisi 500 halaman dengan judul Elslam Fondateur de la Science (Islam, the Founder of Science), Nas E. Boutamia memberi judul bab ketujuh bukunya dengan “Era Plagiarisme dan Perampasan”. Dalam bab tersebut, ia meluangkan lebih dari 100 halaman untuk menampilkan tabel yang berisi daftar klaim-klaim plagiarisme terhadap karya-karya Muslim yang dilakukan oleh para pengarang dan saintis Renaisans. Menurutnya, Boutamia, Copernicus, dan Kepler dalam mahakaryanya telah menjiplak Al-Bīrūnī, Al-Farghānī, Az-Zarqālī, Al-Bitrūjī, dan Ibn Yūnus, sedangkan Tycho Brahe telah menjiplak Al-Buzjānī dan seterusnya.

Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Apakah karena hal demikian jarang terjadi sehingga kita tidak perlu memperhatikannya lagi?

Menurut pengalaman saya, akademisi Muslim kerap menampilkan metodologi yang keliru dan melakukan kesalahan yang sangat fatal dalam melihat sains dan sejarahnya. Kedua, dari kisah di atas saya ingin menyoroti satu persoalan serius yang sering kita jumpai sebagai Muslim ketika bergumul dengan sejarah kita sendiri, mulai dari sisi ilmiah hingga sisi teologis dan politisnya. Ketika membahas isu ini, para penulis -kecuali para pakar yang menguasai bidang ini (misalnya, E Jamil Ragep dan George Saliba)- kerap mengambil sikap yang ekstrem. Di satu sisi, mereka menjelaskan era klasik sebagai zaman keemasan yang luar biasa bagi penemuan-penemuan besar, inovasi-inovasi penting, dan eksplorasi-eksplorasi metodik. Namun, di sisi lain, mereka juga kadang menolak keseluruhan narasi kesejarahan yang dalam buku-buku menjadi sebuah mitos besar, dan narasi semacam itu sengaja dibentuk agar Muslim merasa senang dengan warisan mereka dan karenanya percaya bahwa budaya dan agama mereka benar-benar telah dan masih bisa melahirkan sebuah peradaban besar lengkap dengan sains dan teknologinya.

Apakah pemicu kecenderungan yang kuat ini? Saya pribadi meyakini bahwa sekalipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menggali dan menyajikan kekayaan karya ilmiah para cendekiawan Muslim era keemasan di depan publik (Muslim dan Barat), masih ada pengabaian yang serius terhadap apa saja yang benar-benar telah dicapai. Sebagian besar wacana tentang peradaban Islam masih mengambang di permukaan dan tidak diinformasikan dengan baik. Karena itulah, adanya kurikulum yang mengajarkan (keseluruhan) sejarah sains secara sungguh-sungguh dan teliti menjadi sebuah keniscayaan.

Isu penting selanjutnya adalah perlunya melibatkan dan mempertemukan para cendekiawan Islam dalam sebuah dialog serius demi meyakinkan mereka bahwa ilmuwan seperti mereka berpeluang memunculkan penjelasan tentang topik-topik yang terlanjur menjadi monopoli dan wacana para ulama selama beberapa lama. Sekalipun pengetahuan manusia sudah pasti tumbuh dan berkembang, agama, khususnya Islam, kerap kali dianggap sebagai prinsip-prinsip mutlak, tak bisa diubah, dan transenden yang disusun dalam bingkai rujukan yang kaku. Padahal, dewasa ini kita mengetahui bahwa agama -Islam tanpa terkecuali- tidak bisa menganut sikap yang kaku agar agama tidak bertabrakan dan kalah dari pengetahuan modern yang pada gilirannya akan menyebabkan prinsip-prinsip keagamaan tampak usang dan tidak menarik.

Segelintir pemikir Muslim baru-baru ini mengemukakan hal serupa. Professor Faheem Ashraf, misalnya, menulis demikian: “Semakin kayanya pengetahuan tentang alam semesta telah menambah pemahaman kita terhadap Alquran dan Hadis. Begitu pula sains, yang teori-teorinya bersifat sementara, telah menjadi syarat utama dalam memahami agama, sebab ia mampu menjelaskan sejumlah hal, seperti keberadaan dunia lain, status luluhnya langit dan bumi, dan seterusnya, yang tidak bisa dijelaskan para ahli tafsir lama kita. Karena itulah, sains bukan hanya merupakan syarat untuk memeroleh kesenangan materi, melainkan juga untuk memahami agama. Sains telah memberi kita bahasa semesta yang bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari agama-agama dan budaya-budaya lain”.

Dalam lingkup Islam yang lebih khusus, Ziauddin bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan meyakini bahwa Islam tidak hanya wajib memperkaya diri dengan sains, tetapi juga harus mereformasi diri sesuai dengan dinamika sains modern yang telah muncul di masyarakat dan lintasan sejarah. Sardar mengutip the Arab Human Development Report yang dikeluarkan oleh the United Nations Development Program pada 2003 yang menganjurkan digalakkannya kembali ijtihād (tradisi keagamaan lama berupa pengerahan intelektual dan penelitian keagamaan yang inovatif dalam Islam yang sebagian besar dianggap sudah ditutup dan tidak lagi dilaksanakan) dan ‘perlindungan hak untuk berbeda’. Sardar mengingatkan bahwa ijtihād merupakan daya pendorong semangat ilmiah yang bisa memajukan peradaban Islam. Ia kemudian menyimpulkan: ‘Ada anggapan umum bahwa sains sendiri bisa memainkan peran penting dalam membuka kembali pintu ijtihād. Karena itulah, kebangkitan sains dalam masyarakat Muslim dan reformasi Islam bisa berjalan bergandengan. Pikiran serupa didengungkan oleh salah satu komisi yang terkemuka dalam OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang membidangi kerja sama sains dan teknologi. Komisi ini beralasan bahwa penambahan dana penelitian dan tingginya insentif untuk karya orisinal tidak hanya akan memperbaiki kehidupan masyarakat Muslim, tetapi juga akan berimbas pada semakin berkembangnya pemikiran Islam.”

Rekomendasi terakhir yang ingin saya sampaikan adalah perlunya peningkatan kerja sama dengan para pemikir Barat yang telah mengembangkan banyak upaya dalam berbagai isu seputar sains modern dan perkembangannya, implikasi filosofis dan teologisnya, serta respons pemikiran keagamaan (terutama Kristen) dalam ranah ini. Banyak nama yang melintas di pikiran saya untuk persoalan ini, di antaranya adalah Denis Alexander (Inggris), Philip Clayton (Amerika Serikat), Jean Staune (Prancis), dan Keith Ward (Inggris), untuk menyebut beberapa nama saja. Clayton, misalnya, pernah mengusulkan diselenggarakannya sebuah program internasional yang ia sebut “Science and the Spiritual Quest in the Abrahamic Tradition”, sebagai kelanjutan dari program multitradisi yang telah sukses digelar bertajuk “Science and the Spiritual Quest” antara 1995 dan 2003. Sementara itu Staune, melalui the Universite Interdisciplinaire de Paris yang ketika itu menjabat sebagai sekretaris, menjalankan proyek internasional tentang sains dan agama dalam Islam di bawah pimpinan Bruno Abdulhaq Guiderdoni. Ada juga James F. Moore, seorang teolog, yang menyerukan diselenggarakannya sebuah dialog antaragama seputar isu-isu sains dan agama. Secara khusus, ia melihat argumen rancangan sebagai isu penting bersama yang kembali mengemuka belakangan ini. Ia juga menyerukan dilaksanakannya kerja sama dalam isu-isu praktis (gaya hidup, praksis, dampak sosial, dan sebagainya). Terakhir namun tak kalah penting, John Templeton Foundation telah mendanai sejumlah program untuk membantu kaum intelektual Muslim mengembangkan keahlian dan pengetahuan dalam bidang Islam dan sains.

Kerangka internasional dan komunitas ilmiah sudah ada dan siap berinteraksi dengan kita. Pilihan berada di tangan para pemikir Muslim: apakah mereka mau bekerja sama dan mengambil manfaat demi masa depan cerah intelektual masyarakat kita atau tidak.

Leave a Reply

Close Menu