SIDR

SIDR

Pohon sidr atau sidrah disebutkan dua kali dalam Alquran. Pohon ini diasosiasikan dengan dua kelompok jenis tumbuhan, yaitu: (1) pohon Cedar dalam Bahasa Inggris, yang berasal dari marga Cedrus; dan (2) pohon Lote atau Hackbarry, yang berasal dari marga Celtis. Bidara adalah kata yang biasa dipakai untuk menerjemahkan sidr dalam Bahasa Indonesia. Dalam ayat Alquran, pohon ini digambarkan tumbuh di dua tempat: dunia dan surga. Dalam Surah Saba’ ‎ berikut ini sidr digambarkan sebagai pohon di bumi. Sedang pada surah lainnya (al-Wāqi‘ah/56: 27-33) digambarkan sebagai pohon di surga.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ۝ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ۝

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Al dan sedikit pohon Sidr. (Alquran, Surah Saba’ /34: 1516)

 

Ayat di atas menceritakan Kaum Saba’ ‎, satu dari empat peradaban besar yang pernah hidup di Selatan Jazirah Arab, yang perilakunya tidak disukai Allah. Kaum ini diperkirakan hidup sekitar 1.000-750 SM dan musnah sekitar tahun 550 M pascaserangkaian serangan dari Bangsa Persia dan Arab selama dua abad. Kaum Saba’ ‎ mulai mencatat kegiatan pemerintahannya sekitar 600 SM. Inilah mengapa catatan tentang kaum ini sebelum tahun tersebut tidak dapat ditemukan.

Kekuatan militer Saba’ ‎ adalah yang terbesar di kawasan tersebut, yang memungkinkannya untuk mengekspansi wilayah sekitarnya. Sebuah ungkapan dari seorang komandan militer Saba’ ‎ yang tercatat dalam Alquran menunjukkan kepercayaan diri sangat besar yang dimiliki tentara Saba’ ‎. Komandan itu berkata kepada sang Ratu, Ma’rib, ibukota Saba’ ‎, adalah kota yang sangat makmur karena letak geografisnya yang sangat strategis. Kota ini terletak di dekat Sungai Adhanah. Titik pertemuan sungai ini dengan Jabal Balaq merupakan tempat yang cocok untuk dijadikan bendungan. Memanfaatkan kondisi alam yang demikian kaum Saba’ ‎ membangun bendungan yang di kemudian hari menjadi cikal bakal lompatan peradaban mereka, dan dengan itu sistem pengairan mereka pun dimulai. Penulis Yunani, Pliny, yang telah mengunjungi daerah ini pun memujinya.

Ketinggian bendungan Ma’rib mencapai 16 meter, dengan lebar 60 meter dan panjang 620 meter. Berdasarkan perhitungan, total wilayah yang dapat di airi bendungan ini mencapai 9.600 hektar. Bendungan direnovasi besar-besaran selama abad 5 dan 6 M. Namun perbaikan ini nyatanya tidak mampu mencegah keruntuhannya pada 542 M. Jebolnya bendungan ini mengakibatkan “banjir bandang Arim” yang mengakibatkan kerusakan hebat, seperti dikisahkan dalam Alquran. Pada ayat yang disebutkan pertama, banjir besar Arim dikaitkan dengan runtuhnya bendungan di Ma’rib. Hanya ada tiga jenis pohon yang dapat bertahan dari banjir itu, yaitu sidr, aṡl (Tamarix), dan Khamṭ atau siwāk (Salvatora persica).

Kota Ma’rib yang dahulu dihuni Kaum Saba’ ‎ kini tinggal reruntuhan di wilayah terpencil. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini merupakan peringatan bagi mereka yang mengulang kesalahan seperti yang dilakukan kaum Saba’‎. Kaum Saba’ ‎ bukanlah satu-satunya kaum yang dihancurkan dengan banjir. Surah al-Kahf/18: 32-44 mencatat kisah dua orang pemilik kebun. Satu di antaranya memiliki kebun yang mengesankan dan produktif seperti apa yang dimiliki kaum Saba’‎. Namun ia berpaling dan kufur kepada Allah; ia berpikir bahwa anugerah yang ia miliki adalah miliknya pribadi dan hasil dari usahanya sendiri, tanpa ada sangkut pautnya dengan Allah.

Pohon sidr dalam kisah kaum Saba’ ‎ bisa dikaitkan dengan kelompok jenis pohon Celtis yang tumbuh di gurun pasir. Jenis pohon Celtis mencapai 70 macam, dan tersebar luas di semua benua. Celtis mampu tumbuh di kawasan panas gurun pasir hingga di pegunungan di kawasan empat musim. Umumnya pohon Celtis berukuran sedang, antara 10-25 meter. Jenis-jenis tertentu dari pohon ini berdaptasi sempurna dengan kawasan kering, dan beberapa lainnya sangat cantik bila dijadikan tanaman hias di taman.

Dalam kaitannya dengan surga, pohon sidr digambarkan sebagai pohon yang sangat besar; akarnya berada di langit ke-6, sedangkan cabang-cabangnya di langit ke-7. Sebagian ulama menempatkan pohon sidr sebagai pohon yang berada di luar pengetahuan manusia; yang memisahkan dunia ini dari dunia lain. Mungkin, masyarakat menggambarkan hal yang demikian ini dengan pohon Cedrus libani.

Pohon sidr dari Libanon ini dalam bahasa Arab terkenal dengan sebutan Arz el-Rab atau Syajaratullāh. Pohon indah dan sangat mengesankan yang tumbuh di Jazirah Arab ini mungkin saja menjadi salah satu kandidat pohon besar terindah dalam kerajaan tumbuhan. Tinggi pohon ini mencapai 150 kaki, dengan diameter banir akar mencapai 8 kaki. Daun Cedrus libani berwarna hijau gelap dan tumbuh pada ranting dan cabang yang menyebar. Percabangan yang bertingkat dan daunnya yang berundak membuat pohon ini terkesan anggun dan berwibawa. Malah, jika dilihat dari jauh, bentuk pohon ini tampak mirip dengan piramida.

Kayu Cedrus libani berkualitas baik; berkilat, ringan, tahan lama, dan berbau harum. Dalam beberapa pustaka kuno disebutkan bahwa kuil Sulaiman dibangun dengan memanfaatkan kayu ini. Demikian juga banyak kuil-kuil praKristen. Pada masa Fir‘aun terjadi penebangan pohon ini secara besarbesaran di hutan Libanon untuk membangun istana dan kuil yang dapat bertahan sampai ratusan tahun. Sejak itulah jenis pohon ini menjadi langka. Dalam salah satu hadis riwayat Abū Dāwūd disebutkan,

 

Barang siapa menebang sebatang pohon sidr maka niscaya Allah akan menjerembapkan kepalanya ke dalam neraka. (Riwayat Abū Dāwūd  dari ‘Abdullāh bin ubsyi)

 

Sabda Rasulullah yang bernada ancaman ini bisa jadi dilatar belakangi kebiasaan penduduk Mekah yang mengekploitasi kayu sidr untuk dijadikan daun pintu. Dalam keterangan yang lain disebutkan bahwa ancaman dalam hadis di atas ditujukan kepada siapa saja yang menebang pohon sidr yang biasa dijadikan tempat berteduh, tanpa alasan yang jelas. Apa pun, sabda ini jelas-jelas mencerminkan betapa Islam sangat peduli terhadap kelestarian tumbuhan, dan di sisi lain membantu pelestarian hutan dan pohon sidr.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Sidr al-Muntahā berbentuk pohon besar dengan ranting, cabang, dan daun yang membuat bentukan telinga gajah, serta buah yang berbentuk mirip guci air dari Hajr. Pada ayat-ayat berikut Sidratul Muntahā digambarkan berada di tempat tertinggi, di atas langit ke-7, yang dikunjungi Nabi Muḥammad‎ ketika mikraj.

وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ۝ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ۝ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ۝ فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ۝ مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ۝ أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ۝ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ۝ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ۝ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ۝ إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ۝ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ۝

Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat (pada Muḥammad), lalu bertambah dekat, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (Iagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muḥammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? Dan sungguh, dia (Muḥammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntahā , di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muḥammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muḥammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. (Alquran, Surah an-Najm/53: 718)

 

Sementara itu ayat-ayat di bawah ini berbicara mengenai bidara yang tak berduri.

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ۝فِي سِدْرٍ مَّخْضُودٍ۝ وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ۝ وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ۝ وَمَاءٍ مَّسْكُوبٍ۝ وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ۝ لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ۝

Dan golongan kanan, siapakah golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terusmenerus, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya. (Alquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 2733)

 

Tidak diragukan Iagi bahwa ayat-ayat ini berbicara mengenai surga. Pohon bidara yang dibicarakan dalam ayat ini tampaknya mengacu pada pohon anggun Cedrus Libani, bukan Celtis Ehrenbergiana yang berukuran kecil dan hidup di gurun pasir.

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu