SEWA-MENYEWA TANAH

SEWA-MENYEWA TANAH

Menyewakan lahan diperbolehkan oleh ajaran Islam, dan untuk itu Islam memperkenalkan konsep Ijarah. Ijarah mendatangkan manfaat bagi dua pihak sekaligus: pemilik dan penyewa, dan tidak merugikan salah satu dari keduanya. Di antara dalil yang membolehkan penyewaan tanah adalah:

Kami adalah kaum Ansar yang mempunyai lahan perkebunan paling banyak (luas). Dahulu kami biasa menyewakan tanah (dengan syarat bagi kami bagian ini dan bagi mereka (penyewal bagian itu). Terkadang tanah ini menghasilkan (panen), sedangkan tanah itu tidak. Akhirnya kami dilarang (oleh Rasulullah) untuk melakukan praktik seperti itu, namun kami tidak dilarang untuk menyewakan kebun dengan imbalan perak. (Riwayat al-Bukhāri dari Rāfi‘ bin Khadīj)

Aku bertanya kepada Rāfi‘ bin Khadīj soal penyewaan tanah dengan (imbalan) emas dan perak, kemudian ia menjawab, “Hal itu sah-sah saja. Sesungguhnya orang-orang pada zaman Nabi pada mulanya biasa menyewakan tanah dengan (imbalan) apa yang tumbuh di saluran air dan parit, maupun tanaman-tanaman  tertentu. Kemudian terkadang tanaman yang ini rusak (gagal panen) dan yang itu selamat; terkadang juga tanaman yang ini selamat dan yang itu rusak. Pada waktu itu masyarakat tidak mempunyai sistem sewa kecuali yang seperti ini. Karena itu Rasullah melarangnya (karena berpotensi merugikan salah satu pihak). Adapun jika imbalan sewa itu berupa hal yang spesifik dan terjamin maka persewaan yang seperti itu tidak menjadi soal. (Riwayat Abu Dāwūd dan an-Nasā’i dari analah bin Qais al-Anṣāri)

Hadis pertama memberi penjelasan dan rincian tentang penyewaan tanah yang sah, sedangkan yang kedua tentang penyewaan tanah yang tidak diperbolehkan.

Keluarga Rāfi‘ bin Khadīj adalah tuan tanah yang mempunyai ladang dan kebun paling luas di Medinah. Mereka menyewakan tanahnya dengan akad ala jahiliyah yang lebih sering merugikan penyewa ketimbang menguntungkannya. Sebelum kedatangan Islam tuan tanah biasa menyewakan ladangnya kepada penggarap dengan meminta imbalan berupa seluruh hasil panen dari bagian ladang yang dinilai produktif, misalnya yang subur dan dekat dengan saluran air. Dan sebagai imbalan kepada penyewa, tuan tanah tersebut berjanji untuk memberinya hasil panen dari bagian ladang yang dianggapnya tidak produktif, misalnya yang jauh dari saluran air.

Sudah pasti akad macam ini merugikan penyewa. Di satu sisi, sulit untuk mengharapkan imbalan yang akan diterimanya itu seimbang dengan kerja kerasnya, karena akad ini jelas tidak berpihak kepadanya. Di sisi yang Iain, akad ini menyisakan ketidakjelasan di mana pihak penyewa bisa jadi tidak akan menerima imbalan apa-apa akibat bagian yang dijanjikannya gagal panen. Begitu mengetahui praktik ijarah ternyata seperti ini, Rasulullah kemudian melarang keras akad yang demikian. Islam, seperti diajarkan Rasulullah, menjunjung tinggi aspek kejelasan dan menolak segala bentuk penipuan dalam tiap akad, suatu hal yang berlawanan dengan apa yang ada dalam akad ijarah ala jahiliyah ini. Rasulullah menegaskan bahwa imbalan penyewa harus diketahui dengan jelas, sedangkan kerugian yang didapat harus ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

Ada beberapa hal yang dapat disarikan dari kedua hadis di atas, yakni:

  • Penyewaan lahan untuk pertanian hukumnya sah; dan ini telah menjadi konsensus para ulama;
  • Imbalan yang diterima penyewa harus jelas dan diketahui bersama;
  • Imbalan yang diterima penyewa dapat berupa emas, perak, atau yang Iainnya. Imbalan berupa bagian dari hasil panen lahan tersebut juga diperbolehkan;
  • Dilarang memasukkan syarat-syarat ke dalam akad ijarah yang itu hanya akan menguntungkan pihak pemilik lahan. Dengan syarat-syarat tersebut, akad tentu saja mengandung unsur penipuan, ketidakjelasan, dan kezaliman kepada penyewa, sedangkan Islam menekankan kepada umatnya untuk membangun akad atas dasar kejelasan, keadilan, dan mutualisme.

 

Selain emas, perak, dan hasil panen, upah yang diterima penyewa ataupun yang diberikannya kepada tuan tanah dapat juga berupa uang. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

 

Pamanku bercerita kepadaku bahwa pada mulanya orang-orang pada zaman Rasulullah biasa menyewakan tanah dengan (imbalan berupa) apa yang tumbuh dari saluran-saluran air atau (hasil panen dari) jenis tumbuhan tertentu yang dikecualikan oleh pemilik tanah. Kemudian Nabi melarang praktik itu. Aku (analah bin Qais, perawi hadis ini) bertanya kepada Rāfi‘, “Bagaimana hukumnya menyewakan tanah dengan (imbalan berupa) dinar dan dirham?” la menjawab, “Menyewakan tanah dengan (imbalan berupa) dinar dan dirham tidaklah mengapa.” (Riwayat Aḥmad dan an-Nasā’i dari Rāfi‘ bin Khadīj)

 

Anjuran Menyisihkan Benih dan Bahan Makanan

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ۝

Dia (Yūsuf) berkata, ”Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. (Alquran, Surah Yūsuf/12: 47)

Ayat ini dengan jelas menganjurkan manusia pada umumnya, dan petani pada khususnya, untuk menyisihkan benih agar dapat ditanam pada musim berikutnya. Ayat ini juga yang mengajari manusia agar menyimpan bahan makanan sebagai persediaan pada musim paceklik.

Dikutip Dari Tafsir ‘Ilmi

 

Leave a Reply

Close Menu