SAMUDRA

SAMUDRA

Serial Quran dan Sains

Alquran berulang kali menyebutkan dan mengenalkan laut, samudra, pantai, muara, dan berbagai hal yang terkait dengan laut. Suatu hal menakjubkan bahwa Alquran berbicara banyak tentang laut padahal kitab suci ini diturunkan di wilayah padang pasir, bahkan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan adanya ayat yang diturunkan di tengah samudra. Walau demikian, Alquran begitu jelas menerangkan keterkaitan antara kehidupan manusia dengan eksistensi laut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya laut dalam kehidup manusia. Bukan sekadar menunjukkan kekuasaan Allah, namun laut memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia, mulai dari fungsi prasarana transportasi, penyediaan sumber protein, sumber energi, hingga aneka komoditas yang bisa diperoleh dari laut.

Dalam Alquran terdapat dua term yang dimaknai sebagai laut: al-yamm dan al-bar. Kata al-yamm terdapat pada tujuh tempat, masing-masing pada Surah al-A‘rāf/7: 136; Ṭāhā/20: 39, 78, dan 97; al-Qaṣaṣ/28: 7 dan 40; dan aż-Żāriyāt/51: 40. Pada Surah aż-Żāriyāt/51: 40 Allah berfirman,

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ۝

Maka Kami siksa dia beserta bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, dalam keadaan tercela (Alquran, Surah aż-Żāriyāt/51: 40).

Dalam pemakaiannya terdapat banyak pendapat tentang makna kata alyamm. Sebagian menyatakan kata ini sinonim dari al-bar (Iaut), sedangkan yang lain mengartikannya sebagai gelombang laut. la merupakan bentuk tunggal dan tidak pernah didualkan (muṡannā) maupun dijamakkan. Kata (yamimmim) berasal dari bahasa Suryani yang diarabkan untuk mengungkapkan wilayah air asin (Iaut) atau sungai yang sangat lebar (semacam muara). Dari ketujuh ayat Alquran yang berbicara tentang al-yamm semuanya berkaitan dengan kisah Musa dan Fir‘aun. Meskipun dalam Bahasa Indonesia kata ini diartikan sama dengan kata al-bar, yaitu laut, tampaknya al-yamm lebih tepat diartikan sebagai sungai yang sangat lebar yang hampir menyerupai laut. Hal ini didasarkan pada kisah ibu Musa yang menghanyutkan bayinya (Musa) sebagai upaya penyelamatan dari usaha pembunuhan oleh Fir‘aun sebagaimana tergambar dalam Surah AI-Qaṣaṣ/28:7 dan Ṭāhā/20: 38-39. Oleh karenanya, term al-yamm tidak menjadi pembahasan dalam tulisan ini meskipun sebagian ahli bahasa memaknainya sebagai laut luas dengan air asin yang ada di dalamnya.

Term al-bar dijumpai dalam 38 ayat. Sangat menarik bahwa kata ini ditampilkan dalam tiga bentuk: tunggal (mufrad), dual (muannā), dan jamak. Dalam bentuk muannā (al-barān, al-baraīn) kata ini misalnya disebut dalam Surah al-Furqān/25: 53, al-Kahf/18: 60, an-Naml/27: 61, ar-Raḥmān/55: 19, sementara dalam bentuk jamak (abḥur) dijumpai pada Surah Luqmān/31: 27. Kata al-bar umumnya diungkapkan untuk menunjukkan sejumlah besar kumpulan air asin atau sedikit tawar. Disebut demikian (kata dasar ba-ḥa-ra) karena luas dan dalamnya air yang terdapat di dalamnya dan kadang-kadang tingkat keasinannya menurun sehingga mendekati sifat tawar (al-‘azb) atau payau (Riwayat Ibnu Manẓūr: 4/41).

Perbincangan Alquran tentang al-bar seluas samudra itu sendiri, dalam artian tidak sekadar menyadarkan manusia tentang fungsi dan kegunaannya, tetapi sampai pada peIibatan perasaan yang dalam tentang kekuasaan Allah yang telah menciptakan semua itu. Manusia disadarkan bagaimana samudra luas terbentang, menyimpan aneka biota laut dengan volume air yang tak mungkin diketahui secara pasti dan ditundukkan (taskhīr) agar mudah dilayari untuk mengantar manusia dari satu tempat ke tempat lain. Fenomena samudra sering dijadikan Alquran untuk menyadarkan manusia akan keterbatasannya sebagai hamba dan karenanya ia mau mengagungkan Allah Sang Pencipta. Perumpamaan akan tak terbatasnya firman Allah digambarkan dengan melebur volume air samudra tujuh kali atau lebih untuk dijadikan tinta, dan dedaunan seluruhnya dijadikan kertas, yang semua itu tidak akan mampu menuliskan firman-Nya. Mari kita perhatikan firman Allah dalam Surah al-Kahf/18: 109 (Iihat juga Surah Luqmān/31: 27).

قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا۝

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Alquran, Surah al-Kahf/18: 109)

Lautan luas atau samudra yang menjadi bagian dari kehidupan kita di planet ini merupakan wilayah yang sangat luas, melebihi luas daratan yang ada. Air laut menutup lebih dari 70% permukaan bumi. Kedalaman rata-rata laut sekitar 3.800 m, jauh berbeda dari ketinggian rata-rata daratan yang hanya 840 m. Ruang kehidupan yang tersedia di lautan 300 kali lebih banyak dibandingkan dengan daratan dan udara (Hedgpeth, 2006: 3/131)

Selain sebagai salah satu alat bersuci, peran lautan begitu krusial bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Laut menjadi penyangga ekosistem, produsen rantai makanan bagi makhluk hidup, dan menjadi sumber penghasilan bagi aneka profesi.Sampai saat ini misteri kehidupan di bawah permukaan laut masih banyak yang belum tersingkap oleh pengetahuan dan nalar manusia. Wajar saja apabila Allah mengulang-ulang pertanyaan kepada manusia yang tidak menyukuri nikmat Allah Yang Mahakasih,

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ۝ مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ۝ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ۝  فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ۝ يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ۝ وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنشَآتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ۝

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 18-25)

Manusia sangat membutuhkan keberadaan samudra. Kekayaan yang terkandung di dalamnya merupakan kekayaan bersama yang dapat dieksplorasi dan dieksploitasi untuk kepentingan umat manusia dari generasi ke generasi, sehingga tidak dibenarkan untuk melakukan segala tindakan yang dapat merusak kelestariannya. Bencana besar akan datang manakala manusia tidak mampu melakukan harmonisasi dengan alam, termasuk dengan laut yang menyimpan berbagai keperluan dan mata rantai makanan bagi banyak makhluk. Keberadaannya menjadi salah satu jaminan kehidupan di bumi.

Laut dan samudra merupakan keajaiban dalam kehidupan makhluk di muka bumi ini. Airnya tidak pernah beristirahat sekejap pun, terus-menerus melakukan gerakan dalam bentuk gelombang di permukaan maupun di bawah permukaan. Kadangkala gelombang itu membentuk berbagai pola beraturan, tetapi pada saat yang berbeda gerak itu tampak sama sekali tidak teratur. Menarik bahwa partikel air tidak bergerak mengikuti gelombang, tetapi bergerak dalam lintasan berbentuk Iingkaran atau elips. Sementara di dasar laut partikel air bergerak maju dan mundur tiada henti (Munk, 2006).

Karena fungsi laut dan samudra yang begitu besar, manusia harus menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya sumber-sumber daya di dalamnya sehingga tercipta harmonisasi kehidupan manusia dengan alam Iingkungannya. Manusia boleh memanfaatkan apa yang ada di bumi sepanjang tidak merusak atau menghancurkan harmonisasi alam yang dihuni bersama makhluk-makhluk Allah yang lain, sehingga kelestariannya terjaga untuk seterusnya dimanfaatkan oleh generasi berikutnya. Kegagalan manusia dalam menjaga keseimbangan alam berpotensi mengakibatkan terjadinya kerusakan alam tersebut. Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 41).

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu