SAINS DAN SENI

SAINS DAN SENI

Margery D. Osborne dan David J. Brady:

Sebagai orang yang mengajar orang lain (anak-anak, mahasiswa, dan guru) tentang sains, kami bekerja sangat keras untuk mengkomunikasikan pengalaman inti tertentu -yang memungkinkan penemuan dan pemahaman di bidang sains. Kami memikirkan tentang bagaimana hendak menyampaikan ini kepada orang lain, bagaimana membantu siswa kami mengalaminya sendiri, dan pada akhimya tentang apa yang benar-benar mereka libatkan dan mengerti. Yang kami maksud adalah pelibatan proses kreatif yang mendasari pembentukan fakta, teori, dan prosedur yang kita semua bayangkan ketika kata sains diucapkan kepada kita. Untuk melakukan ini, kami menengarai bahwa perbandingan di antara disiplin, metodologi, dan budaya seni dan sains akan sangat membantu. Victor F. Weisskopf (1979), seorang profesor fisika di MIT dan mantan presiden American Academy of Arts and Sciences, menyebut bahwa sains dan seni “saling melengkapi” (Niels Bohr, fisikawan atom, dalam Weisskopf 1979: 474). Ia melihat keduanya sebagai jalan yang berbeda dari kreativitas manusia, dengan masing-masing mewakili aspek yang berbeda dari realitas dan masing-masing menambahkan pemahaman kita tentang fenomena alam. Keduanya memberi kita wawasan yang lebih mendalam ke dalam lingkungan kita dan menyediakan makna untuk pengalaman umat manusia.

Kami berpendapat bahwa hubungan antara seni dan sains dapat digunakan sebagai pemicu bagi siswa untuk membandingkan dan memikirkan keduanya dengan menggunakan keduanya untuk mengeksplorasi objek yang sama dan  bertanya apa yang bisa mereka jumpai atau lihat pada sesuatu dengan menggunakan sains atau seni. Pensejajaran menjadi titik awal menuju refleksi tentang sejumlah pertanyaan pokok, (dan sulit) seperti “Apa itu seni?” dan “Apa itu sains?” Dan, pada tingkat yang lebih dasar lagi, ia menyulut perbincangan tentang hakikat mengamati: apa yang bisa dilihat (dan tidak bisa dilihat) melalui seni ketimbang sains, dan sebaliknya? Apa yang bisa dilihat melalui penggunaan media yang berbeda, dan bagaimana ini berkaitan dengan apa yang ingin kita lihat pada awalnya (Osborne dan Brady, 2000)? Baik seni maupun sains melibatkan pengamatan seksama; keduanya bergantung kepada pilihan dalam menentukan prosedur dan media (sejauh mana hal ini disadari dan sejauh mana ini tidak disadari adalah soal lain); keduanya bergantung kepada wawasan dan inspirasi namun juga kerja keras; keduanya membutuhkan ketekunan dan kegigihan di samping disiplin-diri; dan keduanya merupakan upaya kreatif.

Untuk melakukan ini, kami telah mengembangkan sebuah kurikulum di mana kami mengajarkan sains dan pedagogi sains dengan cara-cara yang tidak lazim bersama anak-anak dan para guru pengabdian dan tetap. Kami sengaja mengaburkan batas antara sains dan seni -menggarap sains melalui seni dan seni melalui sains. Dalam proses ini, kami melangsungkan percakapan berkesinambungan tentang integrasi seni kedalam pengajaran subjek (Eisner 1998). Kami merasa bahwa pada tingkat dasar, baik sains dan seni adalah tentang “melihat”, melihat hal-hal baru dan melihat dengan cara-cara baru. Persinggungan ini adalah titik awal pengajaran kami, dan dalam menggabungkan keduanya ke dalam pengajaran, kami menciptakan sebuah ruang di mana kami menggunakan kombinasi keduanya untuk menciptakan sebuah ruang yang potensial bagi kritik kreatif. Kami melakukan ini karena dua alasan: untuk mendorong siswa berpikir keras tentang kegiatan yang mereka tekuni dalam dan untuk memperkaya kemampuan mereka dalam sebuah proses yang sama-sama lazim pada kedua disiplin, kemampuan untuk melihat. Ketika dipandang sebagai sebuah eksplorasi kegiatan melihat dan pengembangan kemampuan untuk melihat, sains dan seni menjadi alat yang bertumpu pada dan memperkaya satu sama lain.

Dalam tulisan ini kami menceritakan sebagian dari ruang yang telah kami ciptakan di mana siswa sains dapat menjelajahi makna proses melihat dalam konteks pengembangan pemahaman yang kaya akan sifat sains melalui penekunan seni dan sains secara bersamaan. Sementara kami mengamati murid-murid kami melakukan aktifitas ini, kami sampai pada kesadaran bahwa ada sebuah tatanan “cara melihat” di dalam sains, yang masing-masing cara itu memungkinkan penemuan kualitas yang berbeda-beda pada suatu objek. Hal ini pada gilirannya mendorong kami untuk merefleksikan kembali sifat proses dan tujuan kami dalam menekuninya. Secara khusus, kami menceritakan bagaimana kami mempertautkan sains dengan seni visual di dalam kelas kami untuk memampukan kegiatan melihat. Di sini kami menyajikan upaya kami untuk menyusun semacam “taksonomi” cara melihat. Ini adalah sebagai berikut:

  • Memandang secara cermat/menemukan sifat sesuatu (melalui pengamatan dan perbandingan seksama)
  • Mengeksplorasi proses melihat
  • Memanipulasi gambar dan menemukan sesuatu
  • Bereksperimen dengan melihat/melihat memicu “memikirkan”

Ada peralihan di dalam taksonomi ini antara berfokus pada konten (isi) gambar -melihat konten-dan menjadi sadar dan bersikap analitis tentang proses melihat itu sendiri, dan kemudian menjadi tertarik, sekali lagi, oleh objek yang dilihat.

MEMANDANG SECARA CERMAT/MENEMUKAN SIFATSESUATU

Dalam contoh pertama kami, anak-anak kelas-satu mengeksplorasi tanaman dengan mengamati mereka dan juga dengan menanamnya dari biji dan umbi. Dalam pengajaran ini, kami memfasilitasi pengamatan seksama dan perbandingan tanaman dan penumbuhan biji-bijian melalui kegiatan menggambar observasional. Anak-anak diminta untuk membuat gambar perbandingan antara jenis tanaman yang dipilih karena aspek-aspek perbedaannya. Mereka juga diminta untuk membuat kumpulan gambar dari waktu ke waktu untuk menelusuri perubahan benih yang tengah mengalami perkecambahan dan pertumbuhan.

Di sini, observasi, deskripsi dan penjelasan ilmiah saling terpaut di dalam pemikiran siswa. Kami terpesona, di sepanjang tahun-tahun ketika kami mengajarkan sains, oleh kesulitan yang telah kami alami dalam mengajarkan siswa untuk melihat secara analitis. Sebagian besar pengajaran sains yang sudah kami lakukan mencakup penciptaan pengalaman yang bisa dialami siswa di mana mereka melihat sesuatu, hal-hal baru dan hal-hal yang telah mereka lihat berkali-kali sebelumnya, dan melihatnya dengan cara-cara baru. Anak-anak ini bergulat dengan proses ini. Mereka mendapati bahwa mereka bisa mengidentifikasi sebuah tanaman sebagai tanaman tersebut karena mereka sudah pernah melihatnya berkali-kali dalam pengertian holistik. Menguraikan segenap keutuhan ini menjadi sejumlah pecahan (fragmen) yang bisa dicermati sebagai komponen tersendiri dan sebagai bagian yang menjadi tumpuan dari keseluruhan memerlukan setidaknya kesadaran implisit individu akan proses mental dan sensual berupa identifikasi dan penamaan. Pada tingkat inilah pembuatan gambar menjadi amat penting.

MENGEKSPLORASI PROSES MELIHAT/PROSES BUKAN ISI

Dalam contoh ini, anak-anak kelas-satu dan dua menganalisis representasi fotografis dari benda, berusaha menemukan pola dan desain di dalam foto. Proses ini memungkinkan mereka untuk secara selektif melihat kualitas tertentu objek sembari mengaburkan yang lainnya. Anak-anak memeriksa foto-foto, menjelaskan pala dan menemukan bagaimana pola ini ketika telah ditengarai akan sekaligus mengaktifkan dan mengaburkan kegiatan melihat. Secara khusus, kami memeriksa koleksi slide jarak-dekat daun-daun, bunga, dan batu bata, benda-benda dengan pola berulang. Anak-anak menjelaskan pola, dan mereka mulai berbicara tentang bagaimana mereka bisa menggunakan pola tersebut untuk memprediksi bagaimana penampakan benda-benda yang tidak tercakup di dalam gambar. Mereka juga mulai menggunakan hubungan matematis untuk menggambarkan gerak maju pola. Sebagai contoh, Suni: “Batu-bata . . . yang satu itu memiliki empat lubang dan yang satu lagi memiliki tiga lubang dan yang lainnya memiliki dua lubang, empat dikurangi satu sama dengan tiga, dikurangi satu sama dengan dua, sepertinya yang berikutnya adalah satu atau empat dan polanya akan berulang lagi.” Mereka memperluas pengamatan mereka tentang pola sampai pada pembicaran tentang bagaimana pola-pola itu mungkin menyiratkan sebuah fungsi penjelas. Terakhir, kami menggunakan pola untuk membuat perbandingan, memeriksa koleksi dedaunan kering -mapel, pohon tulip, sweet gum, poplar, cut-leaf birch -yang mirip dan juga berbeda (Bateson, 1979).

Anak-anak melihat pola sebagai reduksi, penyederhanaan gambar. Juga ada pola dalam konten -jari-jari dan posisinya menggambarkan sebuah pola, misalnya. Menirukan bentuk jari dan bentuk anggrek dan batu di lingkaran (semua hal yang diperhatikan anak) juga adalah unsur-unsur pola. Melihat ini dan mengkomunikasikannya menjadi sebuah proses reduktif. Mereka memerlukan upaya mendefinisikan dan mengkategorikan apa yang terlihat. Meskipun begitu, tujuan percakapan ini adalah untuk memikirkan arti kata polo, dan karena itu saya mendorong anak-anak untuk berspekulasi mengenai hal ini. Saya ingin agar mereka memikirkan sifat pola-pola yang baru saja mereka gambarkan.

Anak-anak mulai membahas lebih banyak pola yang bisa mereka lihat pada hal-hal lain di sekitar ruangan, dan akhimya mereka mulai memperdebatkan kualitas pola (bahwa pola tersebut berulang, memlliki keteraturan dan periodisitas) dan kemudian mulai mendiskusikan apakah pola merupakan desain.

Thomas:Ini adalah desain di dalam gambar, memang itu tidak ada begitu saja pada mereka, ada yang merancang itu, mereka hanya tidak bisa mengatakannya, terang . . . gelap, mereka jelas membentuk gambar, mereka jelas mendesain gambarnya, untuk membuatnya, mereka jelas membentuk pola.
Guru:Jadi desain adalah sesuatu yang dibuat oleh pihak lain?
Emily:Mereka harus memutuskan apa yang akan dilakukan untuk membuat ini dan bagaimana mereka akan membuat ini, apa yang akan mereka lakukan.

Deskripsi anak-anak tentang pola diperoleh dari reduksi, penyederhanaan dari sesuatu yang terlihat, dan mereka mulai mengenali peran mereka sendiri dalam hal ini. Dalam memikirkan sains dan tentang melakukan penelitian ilmiah, kita menyadari betapa pentingnya “melihat” pola. Pola pada dasarnya adalah konstruksi yang timbul dari deskripsi. Mereka ditandai dengan variabel, konstanta, dan operasi. Mereka membentuk koneksi dan memungkinkan kita untuk melihat kesamaan, menggambarkan hubungan, menciptakan keteraturan. Mereka dibentuk: diciptakan, dikenakan dan direkayasa oleh orang-orang melalui pandangan selektif. Melihat pola merupakan penyederhanaan; ia menggandakan realitas menjadi yang teratur dan yang tidak teratur.

MEMANIPULASI GAMBAR DAN MENEMUKAN SESUATU

Contoh ketiga berkenaan dengan mahasiswa di kelas sarjana yang kami ajar di mana fokusnya adalah pada perbandingan seni dan sains. Percakapan yang diuraikan di sini adalah mengenai proyek pokok pengajaran, di mana mahasiswa akan diminta untuk mengembangkan selama periode lima belas minggu sebuah portofolio di sebuah media seni tertentu yang baru bagi mereka tetapi yang selama ini “selalu ingin mereka pelajari”. Tujuan proyek ini adalah untuk merenungkan proses pembelajaran “keterampilan” atau sains di balik media artistik dan bagaimana sains ini, yang terkandung di dalam seni, memungkinkan ekspresi-diri dan kegiatan berkesenian. Kelas juga mengunjungi sejumlah laboratorium ilmiah dalam studi paralel seni yang terkandung pada pekerjaan para ilmuwan. Deskripsi tentang segi-segi kelas bisa ditemukan dalam Osborne dan Brady (2001).

Lora, seorang mahasiswa di kelas, menyajikan fotonya kepada kelompok. Ia sudah menyampaikan kuliah pendek tentang cara menggunakan kamera, mengacu kepada salah satu bacaan kami dari buku Ansel Adams The Camera (1980). Kemudian ia beralih ke pembicaraan tentang teknik kamar gelap. Ia berbicara tentang sulitnya mendapatkan foto seekor bebek di air. Keburaman bebek yang tersinari dari belakang dan kontras dengan air yang memantul dan tembus pandang menciptakan pola gelap terang yang akan membingungkan seorang calon pemangsa. Mereka juga akan membingungkan seorang calon fotografer: bagaimana kita akan mengatur paparan kecerahan air dan gambar diam dari rincian si bebek? Sebagian dari ini bisa ditangani di kamar gelap dengan secara selektif mengembangkan bagian tertentu paparan melebihi bagian yang lain. Namun hal ini akan mengurangi dampak perulangan pola terang dan gelap -kebingungan itu diandaikan ada, dan meningkatnya kemampuan penonton untuk “melihat” informasi di dalam foto benar-benar menyebabkan cerita gambar tersebut -sebuah cerita yang terkandung dalam kebingungan -menjadi hilang.

Dalam memikirkan teknologi di balik fotografi, teknologi ini bisa dimanipulasi untuk meningkatkan segi tertentu atas yang lainnya. Penggunaan secara sadar teknologi ini memungkinkan fotografer untuk menceritakan sebuah kisah -representasi dari apa yang mereka lihat adalah sebuah kisah -yang lebih berkaitan dengan penonton ketimbang obyek yang dicitrakan. Cerita seperti itu terbabar ke penonton melalui pertanyaan: penonton mengajukan pertanyaan sementara ia memandangi foto, dan jawabannya muncul dan penonton bukannya foto yang mengatakannya. Merenungi bentuk bebek dan riak-riak air memperkaya pemahaman kita tentang rupabentuk bebek.

MELIHAT MEMICU “MEMIKIRKAN”

Contoh terakhir menggambarkan bagaimana alat visualisasi bisa mengaktifkan perspektif yang berbeda tentang sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan: melalui manipulasi alat, dan gambar, perspektif baru pun terjadi. Tindakan memanipulasi gambar (dengan memanipulasi alat) menjarakkan kita dari objek yang tengah digambarkan dan membangun perspektif yang memungkinkan cara melihat ini.

Kegiatan yang sering kami lakukan, di dalam kelas kami bersama guru dan juga bersama anak-anak ketika kami keluar ke masyarakat, adalah membiarkan mereka bermain dengan kamera video digital miniature. Semua orang, tua dan muda, melakukan dua hal dengan kamera dalam beberapa menit dari belajar bagaimana memfokuskan dan menggesemya. Mereka membidikkannya ke mulut mereka, dan kemudian ke telinga mereka, dan mereka menghadapkannya ke dirinya sendiri untuk merekam gambarnya sendiri dl monitor. Apa yang mereka lihat ketika mereka melakukan hal-hal ini, dan mengapa ltu menjadi aktivitas yang sedemikian universal? Melihat ke dalam mulut dan telinga mereka, kami hanya bisa membayangkan bahwa mereka tertarik untuk melihat bagian dari diri mereka yang bisa dilihat oleh orang lain tetapi tidak pemah bisa mereka lihat sendiri, memperoleh kembali sesuatu yang merupakan kepunyaan mereka tetapi yang selama ini menjadi rahasia karena mereka tidak bisa melihatnya. Mustahil untuk menyangkal bahwa kita memiliki sesuatu dalam budaya kita dengan “melihatnya”. Kegiatan semacam itu mengingatkan kita pada hari-hari awal gelombang kedua pergerakan kaum perempuan, ketika pemunculan kesadaran melibatkan eksplorasi tubuh kita sendiri dengan cara-cara yang sebelumnya hanya dibiarkan untuk dilakukan oleh orang lain. Dalam kasus ini, melihat berarti mengetahui.

Hal kedua yang dilakukan oleh orang yang memegang kamera video kecil ini adalah memegang kamera video ke gambarnya sendiri, menghasilkan pola misterius gambar-gambar kamera yang berspiral semakin mengecil sampai ke titik tengah tertentu yang tidak bisa ditangkap oleh mata (atau monitor). Orang-orang meneliti titik tengah ini, tanpa berkedip, mencari semacam rahasia misterius. Jadi apa yang sedang dicari oleh orang-orang ketika mereka melakukan ini? Kami membayangkan bahwa mereka seperti tengah mencari sebuah hakikat, sesuatu di dalam kamera yang tidak teraih oleh logika. Tiba-tiba mereka “memikirkan” kameranya bagaikan tengah melihat melalui semacam pintu menuju sesuatu yang tidak mereka pahami sama sekali. Kami kembali ke dua pertanyaan awal kami “apa itu seni?” dan “apa Itu sains?” dan mengemukakan sebuah dikotomi: seni didasarkan atas pemahaman individu tetapi mengarah kepada kebenaran universal. Sains didasarkan atas kebenaran universal tetapi mengarah kepada pemahaman individu. Di dalam semua kegiatan yang telah kami uraikan, seni dan sains terkait satu sama lain, saling memampukan dalam upaya baik itu menjalankan maupun menghasilkan pemahaman. ltu jelas, tapi pertanyaan yang tetap tidak terbahas adalah apa yang mendefinisikan sesuatu sebagai “seni” dan bukan “sains”. Pada dasarnya apa itu sains atau seni? Pembedaan kami bahwa seni mengarah kepada kebenaran universal sementara sains dimulai dari sana tampak kabur ketika yang diperiksa adalah proses bukannya produk.

Penyataan sederhana, seperti “Sains adalah realitas objektif, sedangkan Seni adalah realitas subjektif”, menyiratkan pengamat yang berdiri di luar sebuah kegiatan dan menyampaikan penghakiman bukannya mengalaminya atau memaknainya. ltu menjadikan penyebutan sains atau seni bergantung kepada objektivitas dan komodifikasi (Berger 1972). Pernyataan semacam itu tidak hanya mengilaskan bahwa kegiatan manusia menciptakan realitas melainkan juga bahwa kenyataan dengan cara tertentu berdiri terpisah-pisah, sebagai kebenaran obyektif yang menjadi tempat berlabuhnya pengalaman. Di dalam kelas kami, kami menggunakan seni (gambar) -melakukan seni, memandang/mengkritisi seni -sebagai wahana untuk melihat hal-hal baru, memperbesar kemungkinan kreatif daripada melakukan sains dasar, dan memikirkan kembali hakikat melakukan sains bagi para siswa kami. Kami menggunakan pembuatan seni mengikuti topik ilmiah untuk memperlebar pengamatan terhadap semua ranah -konten, proses, dan subjek- dan untuk memungkinkan percakapan tentang hakikat dari “melihat”: apa yang “dilihat” oleh sains? Apa yang “dilihat” oleh seni?

Tinggalkan Balasan

Close Menu