SAINS DAN MENULIS

SAINS DAN MENULIS

Serial Pembelajaran Sains: Brian Hand

PENGANTAR

Menulis (writing) bukan wicara yang dituliskan, artinya, menulis adalah tindak yang lain dengan bicara. Fakta bahwa siswa akan diminta mengerjakan tugas menulis dalam setiap ruang kelas sains, menonjolkan arti dan makna menulis dalam belajar sains. Wujud tugas tersebut mungkin sederhana, seperti menyalin catatan dari papan tulis, atau lebih kompleks, seperti membuat catatan laboratorium atau menulis rangkuman babe Dengan penekanan sekarang pada kemelekan sains, banyak debat berlangsung seputar siswa butuh belajar berbahasa (menggunakan bahasa) ataukah berbahasa (menggunakan bahasa) untuk belajar. Kedua pandangan tersebut memberikan penekanan yang sama sekali berbeda terhadap kegiatan yang akan berlangsung di dalam kelas.

MENULIS SEBAGAI SALAH SATU ALAT BELAJAR

Banyak sudah tulisan tentang proses yang terjadi ketika kita menulis sepotong teks. Kini telah diakui bahwa menulis mencakup keterlibatan dengan dua basis pengetahuan: ruang pengetahuan isi (pengetahuan sains) dan ruang pengetahuan retorik. Ketika menulis sepotong teks (seperti yang saya coba kerjakan sekarang), hartl:s ada uraian tentang pengetahuan isi yang disyaratkan untuk subjek tersebut, dan pemahaman tentang batasan-batasan retorika (dalam arti bahwa tulisan saya sekarang berbentuk satu bab dengan batasan terutama pada gaya, jumlah teks, dan sidang pembaca). Melakukan kerja menulis tulisan yang mampu meningkatkan interaksi di antara kedua ruang itu sering disebut sebagai transformasi pengetahuan, sebab pengetahuan yang sedang dituliskan ituditranformasikan dari keadaan penyimpanannya, atau disebut sebagai penyusunan pengetahuan, sebab pengetahuan yang sedang dituliskan disusun kembali menjadi bentuk yang baru. Tulisan yang hanya membutuhkan pengeluaran ingatan disebut sebagai penceritaan pengetahuan Artinya, tulisan yang hanya membutuhkan pengingatan pengetahuan atau membuat tulisan sederhana menyalin catatan dari papan tulis.

Agar bermanfaat, menulis dalam pelajaran sainsharusdifokuskan kepada transformasi pengetahuan atau penyusunan pengetahuan. Siswa diminta menulis dengan cara yang dapat membangun pemahamannya akan sains-bukan untuk’menceritakan hal-hal yang sudah mereka ketahui.

 

BELAJAR CARA BERBAHASA

Dalam No Child Left Behind Act, penekanan sekarang banyak ditujukan untuk memastikan semua anak bisa membaca dan menulis. Semua anak diwajibkan “belajar menyusun teks, artinya, menyusun paragraf-paragraf, menulis kalimat lengkap, menggunakan huruf konsonan utuh dan huruf kapital, juga mampu menulis dengan menggunakan bermacam-macam tulisan, misalnya, surat dan laporan. Dalam hal sains, siswa diwajibkan mampu memahami cara menulis laporan laboratorium atau rangkuman bab. Artinya, siswa diwajibkan mengetahui apa itu judul, apa itu tujuan, prosedur, hasil, dan kesimpulan sehingga mampu menyelesaikan tugas menulis laporan laboratorium dengan baik. Argumennya ialah bahwa memahirkan siswa dalam menggunakan genre-genre sains akan menghasilkan pemahaman tentang konsep-konsep sains. Sayang, hingga kini penelitian masih belum memperoleh gambaran yang jelas mengenai manfaat-manfaat yang diasosiasikan dengan jenis argumen tersebut. Banyak orang yang mengajukan bentuk pembelajaran bahasa itu tidak memiliki latar belakang yang berdasarkan sains dan tidak memahami beberapa tuntutan khusus dari disiplin ilmu sains.

Walaupun argumen yang mendukung pentingnya memahirkan siswa mahir dalam berbahasa bisa diterima, hingga kini penelitian belum bisa memastikan hasil-hasil belajar terkait pendekatan yang berhubungan dengan memahami konsep-konsep sains itu. Artinya, bukti yang ada masih terbatas untuk mendukung argumen bahwa kemahiran otomatis dalam menggunakan strategi-strategi menulis sains akan bermanfaat bagi pertumbuhan konseptual siswa.

 

MENGGUNAKAN BAHASA UNTUK BELAJAR

Fokus berbahasa untuk belajar ialah bahwa pembelajar harus ditempatkan pada situasi-situasi yang harus menggunakan bahasa sebagai salah satu alat untuk membangun pemahaman alih-alih hanya menjadi mahir secara otomatis dalam berbahasa. Orientasinya ialah transformasi pengetahuan, bukan penceritaan pengetahuan. Karena harus berbahasa sebagai alat belajar, siswa pun harus mahir berbahasa secara otomatis. Karena itu, penekanannya terletak pada baik basis pengetahuan sains maupun basis pengetahuan retorika. Dengan mengharuskan siswa menulis dengan menggunakan bermacam macam jenis tulisan, untuk sidang pembaca yang berbeda-beda dan tujuan berbeda-beda, siswa harus terlibat pengetahuan muatan sains dalam aneka situasi sehingga semakin memahami topik. lenis tulisan yang digunakan siswa mengharuskannya menerjemahkan pemahamannya melintas sejumlah konteks, yang akan meningkatkan pengetahuannya.

 

PENERJEMAHAN LINTAS KONTEKS

Tulisan yang dikerjakan, siswa di ruang, kelas biasanya hanya untuk guru saja, artinya, gurulah yang memberi nilai untuk semua tugas yang diserahkan. Semua siswa yang sudah kami wawancara dalam beberapa bidang studi berbeda berkata bahwa saat membuat tulisan untuk diserahkan kepada guru, mereka akan menggunakan “kata-kata hebat” yang seringnya tidak benar, benar mereka pahami atau mengharapkan guru akan mengisi bagian-bagian yang kosong karena “guru sudah tahu apa yang saya mau”. , Artinya, siswa hampir tidak pernah beranjak dari terminologi atau definisi-definisi yang diberikan guru karena mereka percaya, memang itulah yang diinginkan oleh guru (dan pada dasarnya orang terpaksa setuju dengan jenis penalaran tersebut). Siswa jarang sekali berada pada posisi yang mengharuskan mereka menerjemahkan bahasa sains di ruang kelas menjadi bahasa sehari-hari untuk orang lain.

Kita harus ingat, ketika duduk di dalam kelas, siswa berusaha memahami bahasa sains yang sedang digunakan, dan satu-satunya kerangka acuan yang mereka miliki adalah bahasa mereka sendiri. Jadi, penting bagi kita untuk mendorong siswa agar menyatukan bahasa mereka sehari-hari dengan bahasa sains. Dengan meminta siswa menulis untuk sidang pembaca yang berbeda-beda, kita bisa mulai mendorong mereka untuk bergeser di antara bahasa sains (seperti yang didiskusikan didalam kelas) dan bahasa yang digunakan untuk pembaca. Contoh, bila kita minta siswa-siswa Kelas VIII menulis untuk siswa-siswa Kelas VII yang menjelaskan apa yang sudah mereka pelajari tentang mesin-mesin sederhana, maka sudah pasti siswa-siswa Kelas VIII tersebut harus menggunakan bahasa yang dapat dimengerti adik-adik kelas mereka. Yang penting, kata-kata seperti gaya, kerja, energi, dan seterusnya, harus dijelaskan dengan cara yang dapat dimengerti anak-anak yang lebih muda.

Dengan mewajibkan tugas seperti itu, siswa diwajibkan menerjemahkan bahasa beberapa kali. Pertama, siswa harus menerjemahkan bahasa sains ke dalam bahasa yang mereka sendiri dapat memahaminya; kedua, mereka harus menerjemahkan pemahaman tersebut ke dalam bahasa yang bisa dimengerti adik-adik kelas; dan ketiga, mereka harus menerjemahkan kembali ke dalam bahasa sains ketika menjalankan aktivitas kelas, termasuk ujian. Hingga kini penelitian tentang penggunaan strategi-strategi tersebut di dalam pelajaran sains menunjukkan hasil-hasil yang sangat menggembirakan dalam hal perbaikan kinerja siswa. ,

BERANEKARAGAM JENIS TULISAN

Untuk mempromosikan, konsep penerjemahan lintas-konteks, jenis-jenis tulisan yang biasa dikerjakan di dalam kelas sains harus dibuat beraneka ragam. Biasanya, siswa disibukkan dengan membuat catatan, laporan laboratorium, merangkum bab, menjawab pertanyaan-pertanyaan dari akhir bab, dan kadang-kadang proyek poster atau cerita kreatif. Meskipun demikian, sebagaimana saya katakan tadi, jenis-jenis tulisan itu semua dinilai oleh guru dan cenderung hanya berhubungan dengan siswa yang memusatkan perhatian untuk menyenangkan guru dengan menggunakan kata-kata yang tepat. Tampaknya, bermacam-macam jenis tulisan yang telah kami gunakan dalam penelitian dapat membantu siswa untuk lebih memahami sains.

Kami pemah meminta siswa menulis surat bagi siswa-siswa yang lebih muda, artikel surat kabar bagi khalayak umum, brosur untuk teman sebaya, presentasi PowerPoint untuk teman sebaya, dan eksplanasi buku teks untuk siswa-siswa yang lebih muda. Masing-masing jenis tulisan itu ditujukan bagi khalayak yang berbeda dengan khalayak yang biasa menjadi sasaran tulisan siswa. Yang penting, semua sidang pembaca diikutkan dalam menilai tulisantulisan itu. Artinya, ketika menggunakan jenis tulisan yang beraneka ragam, kami selalu meminta sidang pembaca sasaran untuk memberikan masukan tentang bisa tidaknya mereka menangkap konsep-konsep sains yang dijelaskan dalam tulisan serta baik atau tidaknya penulisan tulisan tersebut. Hal itu sangat penting bagi keberhasilan penggunaan menulis sebagai salah satu alat belajar.

UNSUR-UNSUR DALAM TUGAS MENULIS

Vaughan Prain dan Brian Hand (1996) menerbitkan makalah yang menjelaskan berbagai argumen tentang penggunaan menulis untuk belajar juga menjelaskan sebuah model yang menerangkan dengan terperinci unsur-unsur dalam tugas menulis. Mereka menunjukkan bahwa ada lima unsur utama dalam tugas menulis: topik, jenis, tujuan, sidang pembaca, dan metode pembuatan teks.

 

Topik

Saat menulis, jelas ada keharusan untuk menulis tentang suatu topik. Mengingat penekanan pada standar-standar sains dan fokus kepada “gagasan-gagasan besar” di suatu bidang, konsep topik merujuk kepada menguraikan konsep-konsep kunci, menautkan tema-tema di dalam suatu topik, dan menulis tentang pengetahuan faktual atau penerapan konsep-konsep. Siswa harus mampu menulis tentang hubungan di antara konsep-konsep kunci topik dengan satu sama. lainsebagai cara menyusun sehuah kerangka pikir konseptual yang kaya. Unsur topik yang sangat menentukan ialah ketika menulis tentang suatu topik sains, sesungguhnya siswa sedang menulis tentang pengetahuan muatan sains dan bukan sedang memproduksi fiksi ilmiah.

 

Jenis

Beraneka ragam jenis tulisan yang telah dibahas diatas berhubungandengan mewajibkan siswa untuk menulis produk seperti instruksi, surat, peta konsep, katalog jalan-jalan, dan diagram. Siswa didorong agar menulis dengan cara yang berbeda dari bentuk penulisan sains biasa. Komponen utama dalam unsur jenis ialah siswa. Harus memastikan bahwa, mereka benar-benar mengerti batasanfkriteria retorik yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat-syarat suatu jenis tulisan (misalnya, surat bukan katalog jalan-jalan).

 

Tujuan

Menulis dapat memenuhi fungsi yang berbeda-beda tergantung pada tugas menulis itu berlangsung pada awal, selama, atau sesudah suatu pelajaran berlangsung. Tugas menulis yang diberikan di awal pelajaran dapat memenuhi tujuan mengulas, mengkaji, atau merancang sebuah rencana. Tugas menulis yang diberikan selama pelajaran berlangsung dapat memenuhi tujuan menjelaskan, mempertimbangkan, atau menginterpretasi; sedangkan tugas menulis yang diberikan setelah topik pelajaran. selesai dapat memenuhi tujuan membuktikan, merevisi, atau menguji pengetahuan yang terbangun selama pelajaran berlangsung.

 

Sidang pembaca

Siswa dapat diminta menulis untuk kisaran sidang pembaca yang Iuas, meliputi teman sebaya, konsumen, adik-adik kelas, orang tua, dan pengunjung. Ciri utama unsur sidang pembaca ialah harus dilibatkan dalam proses menulis. Sidang pembaca bukan sidang pembaca pura-pura, artinya, guru tidak boleh menentukan suatu tugas menulis untuk sidang pembaca lain lalu , temyata dialah yang menjadi satu-satunya arbitrator yang menilai tulisan. Alasannya, siswa tentu mengerti, gurulah yang akan menjadi sidang pembaca sehingga guru harus dilibatkan dalam penerjemahan bahasa, sama dengan jika siswa menulis kepada sidang pembaca yang dimaksudkan.

A�

Metode pembuatan teks

Siswa dapat diminta menulis teks secara perorangan, tetapi siswa juga bisa diminta bekerja berpasang-pasangan atau berkelompok. Mengingat penekanan sekarang tertuju kepada teknologi, siswa diminta untuk tidak hanya menulis dengan menggunakan pena biasa dan kertas, tetapi juga menggunanakan komputer sebagai salah satu metode pembuatan teks.

 

MELAKSANAKAN STRATEGI STRATEGI MENULiS UNTUK BELAJAR

Mendorong siswa agar memperoleh manfaat maksimal dari penggunaan strategi-strategi “menulis untuk belajar” tidak sesederhana meminta atau mewajibkan mereka menyelesaikan suatu tugas menulis. Ada banyak strategi mengajar yang harus disiapkan. Studi-studi mutakhir telah menunjukkan, ada sejumlah ciri penting yang harus digunakan, atau ditonjolkan oleh guru untuk memastikan siswa memperoleh manfaat maksimal dari penyelesaian tugas tersebut. Banyak aktivitas “pramenulis” yang harus diselesaikan. Menulis berhubungan dengan menjelaskan makna, seorang penulis terus-menerus berusaha menciptakan makna dari teks yang sedang disusunnya. Ada sejumlah peluang di dalam kelas yang harus diadakan bagi siswa untuk membantu perundingan tersebut. Siswa perlu dilibatkan dalam perundingan di dalam lingkungan seluruh kelas, kelompok kecil, dan perorangan. Jika sebuah tugas menulis diberikan, siswa harus membicarakan tuntutan-tuntutan retorik dan subjek yang diasosiasikan dengan tugas itu dalam kelompok-kelompok kecil, memperoleh kesempatan untuk menyajikan dan, mempertahankan gagasan mereka di hadapan seluruh kelas, lalu diwajibkan menyelesaikan tugas menulis tersebut secara perorangan. Kesempatan seperti itu memungkinkan tiap-tiap penulis berdiskusi, berdebat, dan mempertahankan gagasannya secara lisan sebagai salah satu cara merundingkan tugas itu sebelum harus mengerjakannya.

Siswa perlu memiliki pemahaman tentang tuntutan-tuntutan retorik tugas menulis. Dalam kelas sains, kita cenderung berpendapat siswa-siswa kita pasti mengerti apa itu surat, apa itu brosur, dan sebagainya. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti siswa sudah memahami tuntutan-tuntutan retorik yang harus dipenuhi; contoh, dalam menulis sepucuk surat, ada keharusan membuat paragraf pengantar, beberapa paragraf yang membahas subjek surat, dan sebuah paragraf penutup. Yang penting, siswa perlu memahami bahwa tiap-tiap paragraf yang menguraikan subjek harus berhubungan dengan satu aspek khusus alih-alih mencakup seluruh ragam isu yang tidak berhubungan. Tidak semua guru sains merasa nyaman dengan bidang pengajaran itu (seperti sering terdengar komentar berikut ini, “saya guru sains, bukan guru bahasa”) maka, sekaranglah peluang untuk mengajak guru bahasa membantu siswa memahami tuntutan-tuntutan itu.

Selain tuntutan-tuntutan retorik menyangkut struktur jenis tulisan yang akan digunakan, juga ada tuntutan-tuntutan retorik yang berhubungan dengan tujuan tulisan yang harus dijelaskan. Contoh, jika tujuan tulisan ialah untuk mempertahankan sebuah pandangan, maka siswa perlu memahami struktur argumen. Argumen bukan rangkuman, maka siswa harus memahami bahwa ada tuntutan-tuntutan retorik yang jelas untuk tiap-tiap tujuan. Eksplanasi, argumen, rangkuman, dan sebagainya itu sangat berbeda, dengan unsur retorik berbeda yang harus ditangani di dalam teks yang akan dibuat oleh siswa.

Hal yang sangat penting untuk memaksimalkan manfaat penggunaan strategi menulis untuk belajar ialah fokus kepada gagasan-gagasan konseptual yang membingkai suatu topik pelajaran. Strategi menulis untuk belajar berfokus kepada membantu penyusunan konsep. Artinya, transformasi pengetahuan alih-alih penceritaan pengetahuan. Jadi, guru harus menyesuaikan pengajarannya dengan syarat-syarat Standar Sains Nasional (National Science Standards) atau standar negara bagian yang relevan. Standar tersebut mensyaratkan fokus kepada gagasan-gagasan besar topik, yaitu guru harus memfokuskan perencanaan kepada gagasan-gagasan besar pada topik pelajarannya. Biasanya, yang dipedulikan guru sains hanyalah memastikan siswa tahu semua fakta yang berhubungan dengan sebuah topik, lalu mengharapkan siswa membangun pemahaman konseptual tentang topik itu-seakan-akan hal itu bisa disulap! Oleh karena itu, guru harus membingkai ulang topik yang diajarkan dengan berpusat kepada gagasan-gagasan besar suatu topik, lalu mengikutsertakan siswa dalam diskusi/menjelaskan konsep-konsep yang membingkai topik pelajaran itu dengan menerapkan strategi menulis untuk belajar.

Ketika membingkai strategi menulis untuk belajar, guru harus menentukan sidang pembaca dan memastikan sidang pembaca itu nyata, artinya, jika sidang pembacanya siswa-siswa yang berumur lebih muda, maka sidang pembaca itu harus dikoordinasikan lebih dahulu. Unsur yang penting dalam proses itu ialah membingkai matriks penilaian atau tata tertib bagi siswa-siswa penulis dan siswa pembaca. Tugas menulis mengharuskan siswa menangani baik konsep sains maupun unsur retorik sehingga harus ada matriks penilaian untuk mempertimbangkan hal-hal tersebut. Contoh, kriteria tersebut bisa mencakup hal-hal berikut ini: apakah gagasan-gagasan besar sudah dijelaskan dengan gamblang, apakah gagasan-gagasan besar itu saling berhubungan, apakah tulisan mengalir lancar, dan adakah kriteria tertentu yang bisa digunakan? Siswa yang berperan sebagai penulis harus sudah mengerti, pembaca akan mengirimkan nilai kembali kepada mereka. Matriks penilaian harus diberikan kepada siswa penulis di awal tugas menulis untuk membantu mereka memahami tuntutan-tuntutan tugas tersebut.

Guru harus memutuskan cara teks akan dibuat. Mengingat pengutamaan penggunaan komputer di lingkungan sekolah, guru perlu memutuskan hal-hal yang bisa dimasukkan ke teks. Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab-bab lain, diagram dan grafik hanya dua bentuk penggambaran berbeda yang bisa diselipkan ke dalam teks. Yang penting, diskusi bersama siswa harus mencakup cara memastikan penyelipan grafik diagram tersebut akan melengkapi dan mendukung teks. Hal itu merupakan salah satu komponen yang kritis dalam hal pembangunan pengetahuan konseptual sebab kemampuan untuk menggambarkan pengetahuan melintas banyak bentuk menunjukkan pemahaman yang kaya akan gagasan-gagasan besar tentang topik pelajaran yang diajarkan.

 

CONTOH

Ketika sampai pada akhir sebuah bab tentang ekologi, guru kelas X bisa memutuskan menugaskan siswa menulis untuk sidang pembaca yang berbeda-beda tentang hal-hal yang sudah dipelajari. Untuk itu, guru harus memastikan gagasan-gagasan utama yang membingkai topik pelajaran tersebut akan menjadi pokok utama tulisan. Maka, berikut ini langkah-Iangkah yang harus dilakukan:

  • Menentukan gagasan-gagasan besarnya dalam hal ini, gagasan bahwa semua ekosistem adalah sistem yang seimbang.
  • Memilih satu sidang pembaca-teman sebaya, orang tua, atau sidang pernbaca yang lebih muda-dalam hal ini, sidang pembacanya adalah siswa Kelas VIII sehingga harus ada kerja sama dengan guru Kelas VIII yang akan mengizinkan siswa-siswanya membaca artefak yang dihasilkan.
  • Memilih jenis tulisan yang akan dikerjakan siswa-guru memutuskan bahwa siswa harus menulis sebuah eksplanasi buku teks dan menyusun eksplanasi tentang hal-hal yang harus ada pada sebuah eksplanasi buku teks.
  • Memilih metode pembuatan teks-dalam hal ini, guru berencana menyuruh siswa mengerjakan perencanaan mereka dalam kelompok-kelompok kecil tetapi rnewajibkan masing-masing siswa menyelesaikan tulisannya sendiri.
  • Untuk membantu proses evaluasi, guru menyiapkan matriks penilaian yang meliputi baik muatan sains maupun unsur-unsur retorik. Meskipun contoh di atas hanya bertindak sebagai contoh tunggal, kisaran kemungkinannya tidak terbatas dan hanya akan dibatasi oleh seberapa jauh kita sebagai guru ingin mendorong siswa-siswa kita.

 

RANGKUMAN

Pelaksanaan strategi menulis untuk belajar di dalam kelas sains sangat penting untuk membangun pemahaman konseptual mengenai topik-topik sains. Menulis bukan menyalin catatan daripapan tulis atau menceritakan pengetahuan belaka. Tuntutan-tuntutan kognitif dari melaksanakan strategi-strategi transformasi pengetahuan jauh lebih besar dan menghasilkan pemahaman yang lebih baik oleh siswa. Jadi, siswa perlu menulis dengan menggunakan jenis-jenis tulisan yang berbeda-beda, untuk tujuan berbeda-beda, dan kepada sidang pembaca yang berbeda-beda. Agar dapat memperoleh manfaat dari penggunaan strategi menulis untuk belajar, pandangan guru akan manfaat menulis dan strategi-strategi pedagogisnya harus berubah.

Leave a Reply

Close Menu