SAINS DAN DOA

SAINS DAN DOA

Salah satu bidang persinggungan lain antara sains dan agama yang cakupannya cukup luas namun sejauh ini belum saya bahas -karena sama sekali bukan keahlian saya- adalah pengobatan, utamanya keyakinan lama bahwa doa memiliki peran dan pengaruh positif bagi kesehatan seseorang. Akan tetapi, tentu saja, keyakinan yang demikian masih perlu diuraikan lebih lanjut, baik secara konseptual maupun eksperimental. Sejatinya, sudah ada beberapa kajian di Barat mengenai permasalahan ini, tetapi hasilnya masih ambigu. Saya pribadi masih belum menjumpai kajian serupa di kalangan Muslim. Karena itulah, saya mendorong para ilmuwan dan mahasiswa untuk menyelami bidang ini dan menghasilkan karya-karya Islam terkait dengan topik tersebut.

Dalam edisi khusus tentang mukjizat, majalah rasional Science et Vie mengakui peran “meditasi, doa, yoga, hipnotis, dan dukungan kelompok bagi daya ketahanan pasien dalam jangka waktu yang lama”. Sayangnya, bukti yang menguatkan klaim umum ini masih campur aduk, apalagi karena baru-baru ini sebuah kajian yang terbilang paling luas justru menemukan tidak adanya pengaruh dari doa.

Herbert Benson adalah seorang dokter yang telah mengkaji topik ini dengan cukup serius dan hati-hati. Ia mengungkapkan minatnya terhadap kekuatan doa dalam sebuah esai tahun 1997, kemudian menyalurkannya dalam bentuk penelitian. Mula-mula, ia melakukan berbagai observasi terhadap efek plasebo yang ia istilahkan ulang dengan ‘kesehatan yang diingat’ dan pengaruh relaksasi. Dari pengamatannya terhadap efek plasebo, ia menyimpulkan bahwa dengan memiliki kemampuan berpikir yang luar biasa dalam memicu pelepasan zat-zat kimiawi obat, beberapa penyakit bisa disembuhkan. Ia juga menekankan bahwa relaksasi memiliki “dampak pencegah dan penyembuh dalam jangka panjang”, khususnya “bagi orang yang melakukannya secara teratur”. Benson juga mengungkapkan keistimewaan efektivitas teknik penyembuhan terhadap hipertensi, nyeri kronik, insomnia, infertilitas, sindrom pra-haid, sakit kepala, aritmia jantung, dan lain sebagainya. Kemudian, ia memaparkan beragam kegiatan relaksasi yang biasa dilakukan pasien dan menyimpulkan: “Tiba-tiba saja, aku sampai pada kesimpulan yang mengejutkan: Kekuatan itu adalah doa!” Benson kemudian menceritakan eksperimen kecil (terbatas)nya kepada para pasien yang, dalam 80 persen kasus, “memilih berdoa untuk mencapai ketenangan respons relaksasi”. Lebih lanjut ia mengcmukakan bahwa “25 persen mereka yang memperoleh respons relaksasi mengalami peningkatan kehidupan spiritual, baik disengaja ataupun tidak dan lebih sedikit mengalami gejala sakit fisik dibandingkan mereka yang tidak menjalani kehidupan spiritual.”

Benson kemudian meneliti topik tersebut dan menemukan bahwa dari 1.066 artikel jurnal kedokteran, hanya 12 (1,1 persen) yang membahas faktor-faktor keagamaan. Ia juga menemukan berbagai afirmasi bagi observasinya sendiri, semisal sebuah kajian yang pada 1995 membuktikan bahwa “orang yang berusia di atas 55 tahun dan pernah menjalani bedah jantung terbuka memiliki peluang tiga kali lebih besar untuk bertahan hidup karena-menurut pengakuan mereka sendiri -telah bisa mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dari keyakinan agama”. Tinjauan literatur secara umum menunjukkan bahwa sejatinya, “iman kepada Tuhan berhasil menurunkan angka kematian dan meningkatkan kesehatan.”

Atas observasi dan kesimpulan awal ini, Herbert Benson memenangi dana bantuan yang sangat besar ($2,4 miliar) dari John Templeton Foundation atas studinya tentang efek-efek doa terhadap penyakit, Kajiannya memang bukanlah yang pertama, sebab sudah ada beberapa kajian serupa yang pernah muncul. Akan tetapi, kajian-kajian tersebut dianggap cacat sehingga masih diharapkan adanya kajian yang baru, luas, dan teliti untuk membeberkan hasil dan kesimpulan yang terpercaya tentang persoalan ini. Dalam penelitiannya, total 1.802 pasien yang telah menjalani bedah lintas koroner di enam rumah sakit dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok pertama didoakan dan diberitahu bahwa mereka didoakan, kelompok kedua didoakan tapi tidak diberitahu (bahwa ia didoakan), dan kelompok ketiga tidak didoakan sama sekali. Doa-doa dibacakan para anggota tiga jamaah dengan menyebutkan nama-nama pertama pasien yang diberikan Gereja. Selain itu, anggota jamaah juga diminta melafalkan doa sesukanya namun diwajibkan mencantumkan kalimat “mudah-mudahan operasi pembedahannya cepat, segera pulih dan sehat, serta tak memiliki komplikasi apa pun”, Hasilnya sungguh di luar dugaan: mereka yang didoakan dan diberitahu bahwa didoakan ternyata mengalami tingkat komplikasi yang lebih tinggi seperti denyut jantung yang tak normal, barangkali akibat rasa cemas yang mengiringi harapan yang meninggi. Namun, dari sini perlu diingat bahwa peningkatan komplikasi hanyalah 8 persen (dari 51 hingga 59 persen). Benson dan timnya buru-buru menegaskan bahwa hasil ini tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan akhir. Bahkan, banyak yang mengungkapkan rasa herannya mengapa doa ternyata tidak mampu mengatasi rasa cemas dan komplikasi fisiologis. Banyak juga yang berpandangan bahwa eksperimen tersebut disusun dan dilakukan dengan cara yang penuh cacat sehingga berpeluang menghasilkan banyak sekali kesimpulan tak menentu: Masihkah doa diperhitungkan Tuhan bila diucapkan orang asing yang tidak mengenal dan tak punya hubungan dengan si pasien? Apakah pengabulan Tuhan terhadap doa selalu bergantung pada permohonan khusus (seperti kalimat khusus di atas) ataukah memang sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri untuk si pasien? Apakah tidak dikabulkannya doa “mudah-mudahan operasi bedahnya cepat, segera pulih dan sehat, serta tanpa komplikasi apa pun” merupakan bukti atau isyarat bahwa doa tersebut tidak diperhitungkan? Apakah ada jeda waktu tertentu antara respons Tuhan dan keyakinan seseorang bahwa doanya tak terkabul?

Terlepas dari kuatnya keraguan dan penolakan terhadapnya, eksperimen ini tidak bisa dipandang sebagai kesimpulan akhir, dan saya pun berharap para dokter, psikolog, ahli statistik, dan ulama dari kalangan Muslim bisa mendalami bidang ini dan melakukan eksperimen sistematisnya sendiri. Akan tetapi, saya tidak bisa menekankan bahwa penelitian semacam ini harus dilakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi agar tidak menambah kebingungan dan keyakinan yang membabi-buta.

Leave a Reply

Close Menu