RELASI MANUSIA DAN JAGAT RAYA

RELASI MANUSIA DAN JAGAT RAYA

Kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, diakui atau tidak, terbatas hanya pada bagian kecil saja. Sebagian besar Iainnya berada di luar kemampuannya sendiri dan harus ia peroleh dari orang Iain. Itulah mengapa manusia perlu saling mengenal dan bekerjasama, seperti digarisbawahi oleh ayat di atas. Perkenalan satu sama Iain diperlukan untuk dapat saling menarik pelajaran dan pengalaman, dan yang paling penting, untuk saling melengkapi.

Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini didukung oleh ayat berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۝

Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Alquran, Surah al-Hujurāt/49: 13)

Demikian pula relasi antara manusia dan alam yang ia tempati. Makin manusia mengenalnya, maka semakin banyak pula rahasia-rahasia alam yang terungkap. Pada gilirannya, temuan ini akan turut mempunyai andil dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Manusia yang tidak merasakan keperluan akan hal ini termasuk dalam golongan yang tidak terpuji di mata Allah.

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ۝ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ۝

Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. (Alquran, Surah al-‘Alaq/96: 6-7)

Salah satu dampak ketidakbutuhan itu adalah keengganan menjalin hubungan dengan pihak lain, keengganan untuk saling mengenal, yang pada akhirnya menimbulkan bencana dan kerusakan di bumi. Harmonitas relasi antara manusia dan ciptaan lain yang ada di bumi dijelaskan dalam beberapa ayat Alquran, di antaranya firman Allah:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ۝

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 38)

Ciptaan Tuhan adalah teman dalam kehidupan manusia. Mereka mempunyai hak untuk berada pada posisinya sendiri dan mempunyai kehormatan mereka sendiri. Kebanyakan di antaranya memang tercipta untuk kepentingan kehidupan manusia. Mustahil manusia dapat hidup tanpa kehadiran mereka ini. Betapa tidak, tumbuhan adalah pemasok tunggal oksigen di bumi, oksigen yang sangat dibutuhkan manusia untuk bernafas. Tapi, tengoklah apa yang telah manusia perbuat terhadap hutan. Pengamatan terkini menunjukkan betapa hutan Indonesia menurun drastis dari tahun ke tahun.

Patut disadari bahwa Islam menganjurkan manusia untuk membatasi pemanfaatan sumber daya alam. Dengan pemanfaatan yang arif, manusia akan terhindar dari kesewenangan dan eksploitasi terhadap sumber daya alam.

Beberapa unsur ekosistem yang perlu mendapat perhatian serius adalah air, tumbuhan, tanah, hewan, dan udara.

Air

Air adalah rahasia kehidupan. Karenanya, Islam melarang keras penggunaan air tanpa tujuan yang jelas. Salah satu ayat, walaupun tidak secara tegas, menyiratkan bagaimana seharusnya manusia memperlakukan air, karena air bukanlah produksi.

Penghematan air untuk memenuhi kebutuhan konsumsi manusia, hewan, dan tumbuhan adalah suatu bentuk pemujaan kepada Tuhan. Islam melarang seseorang membuang hajat di air yang menggenang karena akan membuatnya tak lagi layak komsumsi. Dari sini, tampak jelas bagaimana Islam melarang manusia mengotori sungai dan lautan dengan sampah dan limbah, suatu kebiasaan buruk yang berujung pada perusakan kehidupan laut dan darat.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ۝ أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ۝ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ۝

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukahKami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (Alquran, Surah al-Waqi’ah/56: 68-70)

 

Tumbuhan

Rasulullah bersabda bahwa setiap muslim yang menanam tanaman, lalu ia memetiknya sendiri, atau bahkan dipetik secara tidak sah oleh orang Iain, dikonsumsi oleh hewan atau burung, maka ia tetap akan memperoleh pahala dari Tuhan atas prakarsanya itu. Dalam hadis Iain disebutkan, orang yang menanam sebatang pohon yang kemudian dipakai sebagai tempat berteduh oleh orang Iain, akan memperoleh pahala. Begitu tinggi Tuhan memposisikan tumbuhan. Karenanya, adalah wajar jika orang yang menebang pohon tanpa alasan yang dibenarkan, dianggap sebagai pembalak kayu dari hutan Tuhan, perusak keindahan dan keserasian

أَفَرَأَيْتُم مَّا تَحْرُثُونَ۝ أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ۝ لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ۝ إِنَّا لَمُغْرَمُونَ۝ بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ۝

Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak  mendapat hasil apa pun.” (Alquran, Surah al-Waqi’ah/56: 63-67)

 

Bumi

Bumi ibarat ibu bagi manusia. Di atasnya manusia hidup, dan dari hasil bumi pula manusia memperoleh makanan. Karena itu, bumi jelas mempunyai hak atas manusia,  di antaranya hak untuk dibiarkan lestari dengan rimbun pepohonan di atasnya. Rasulullah bahkan menyatakan bahwa setiap orang yang menghijaukan lahan terlantar diberikan hak kepemilikan atas lahan itu. Lebih dari itu, ia juga akan mendapat pahala bila memanfaatkan dan mengonsumsi hasil kerjanya itu.

 

Hewan

Islam melarang umatnya memburu hewan secara semena-mena dan melebihi kebutuhan. Manusia ditugaskan oleh Islam untuk memperlakukan hewan dengan adil. Islam mengecam keras membunuh hewan demi kesenangan belaka. Islam melarang umatnya, dalam kondisi apa pun, untuk menyia-nyiakan daging hewan dan sayuran.

Rasulullah bersabda, bila seseorang menyayangi hewan maka Tuhan akan menyayanginya. Begitulah tuntunan Islam dalam memperlakukan hewan; amat            detail.    Bahkan,  seseorang memerlukan daging untuk dikonsumsi, Rasulullah menghimbaunya untuk menajamkan pisau potong, menyembelih dengan cepat, dan tidak menyembelih di depan hewan Iain.

 

Udara

Udara adalah milik Tuhan. Bila Tuhan menyedot habis udara itu beberapa menit saja maka manusia akan kesulitan bernafas akibat kekurangan oksigen. Udara juga  diperlukan setiap orang untuk berkomunikasi, karena udara adalah penghantar bunyi yang paling baik. Dengan mengotori udara, itu artinya membahayakan hidup orang banyak dan ciptaan Tuhan Iainnya.

 

Leave a Reply

Close Menu