RAS, PERSAMAAN, DAN PENGAJARAN SAINS

RAS, PERSAMAAN, DAN PENGAJARAN SAINS

Pembelajaran Sains: Garrett Albert Duncan

Dari kelahirannya di dunia Barat sebagai sebuah sistem inquiry yang berdisiplin dan formal, sains telah aktif berpartisipasi dalam membangun kelompok-kelompok orang yang berbeda-beda. Contoh, Carolus Linnaeus (1707-1778) mengatalogkan masyarakat Eropa dan Afrika dalam Systema Naturae (1770) yang penting itu sebagai berikut:

Eropa. Berkulit putih, optimistis dan ceria, kekar. Rambut Iebat, lurus. Mata biru. Lemah lembut, tanggap, memiliki daya cipta. Berbusana jubah resmi tertutup. Diatur oleh adat-istiadat.

Afrika. Berkulit hitam, kurang menunjukkan emosi, santai. Rambut hitam, keriting. Kulit selembut sutra. Hidung, pesek. Bibir, tebal. Dada wanita sedang. Payudara kaya produksi susu. Licik, pemalas, ceroboh. Gemar melumuri diri sendiri dengan lemak. Cenderung dipengaruhi suasana hati. (Cetak miring sesuai aslinya. )

Dalam On the Natural Varieties of Mankind (1775), J. F. Blumenbach (1752-1840), salah seorang murid Linnaeus, kemudian membagi umat manusia menjadi kategori warna kulit yang terlampau-umum-untuk-dikenali. Kategori warna kulit itu dinamakan “ras”. Kelak sepanjang abad ke-19 para ilmuwan mereifikasi konsep tersebut sehingga gagasan ras mendapatkan kontrol penjelasan di luar kesan pemeringkatan yang tampak nyata pada pendekatan Linnaeus klasifikasi. Contoh, sains tetap mendukung sistem supremasi global kulit putih, salah satu produk hierarki ras yang dahulu tampak nyata melalui ekspansi kolonial Eropa di seluruh penjuru Asia, Afrika, dan Amerika Tengah, Selatan, dan Utara juga melalui berbagai struktur dominansi kulit putih di AS sendiri (misalnya, perbudakan, Manifesto Takdir, dan segregasi).

 

RAS DAN SAINS DI AMERIKA ABAD KESEMBILAN BELAS, DAN ABAD KEDUA PULUH

Ironisnya, selama periode-periode di Amerika Serikat ketika hal yang kini dianggap penelitian rasis tengah dilakukan oleh sebagian sarjana terpandang dari masa itu, kulit hitamlah yang memberikan sumbangan-sumbangan dasar bagi aneka ilmu yang kerap kali baru lahir. Contoh, meskipun “rasisme ilmiah” baru pada tahap perkembangan, Benjamin Banneker (1731-1806), “Astronom Berkulit Cokelat”, sudah secara teratur menerbitkan almanak. Terbitan tahunan itu sendiri dari tabel-tabel informasi yang meramalkan peristiwa-peristiwa meteorologis dan laris terjual dari 1792 sampai 1797 di Pennsyivania dan virgina. Tahun 1867 Edward Alexander Bouche (1852-1918) menjadi penerima gelar doktor pertama berkulit hitam. PhD fisika dari Yale, dan anggota kulit hitam pertama Phi Beta Kappa. Kemudian, selama periode ketika “rasisme ilmiah” masih dianggap sah di akademi dan dihormati pada masyarakat yang lebih luas, W. E. B. Du Bois (1868-1963) menjadi salah seorang pendiri sosiologi. Sarah Breedlove McWilliams Walker alias Madame C. J. Walker (1867-1919) menemukan pengobatan medis untuk menyembuhkan penyakit kulit kepala dan sedang berupaya menjadi seorang wirausahawati yang inovatif dan makmur; dan Ernest Everett Just (1883-1941) memberikan sumbangan-sumbangan paling dasar di bidang fisiologi perkembangan.

Kontradiksi-kontradiksi yang terlihat di masyarakat menyangkal adanya perbedaan moral dan intelektual bawaan di antara ras, namun hukum dan adat lah -dikeraskan melalui supremasi kulit putih dan ditopang oleh sains- yang sangat membatasi akses budaya-budaya AS yang dibedakan menurut ras selama abad ke-19 akhir dan awal abad ke-20 terhadap pendidikan. Kelompok-kelompok tersebut menghadapi penghalang terbesarnya dalam mengejar pendidikan di bidang biologi, matematika, serta ilmu-ilmu fisika, ilmu bumi, dan ilmu planet, terutama pada tingkat-tingkat paling maju. Contoh, di antara 1876 clan 1943, 119 gelar doktor diberikan kepada warga Amerika keturunan Afrika (African American) pada bidang-bidang yang disebutkan tadi. Sementara itu, dalam periode yang sama, lebih dari 3.000 gelar doktor diberikan kepada warga Amerika keturunan Afrika di bidang pendidikan dan psikologi (Jay, 1977). Dalam seperempat abad berikutnya, gelar doktor yang dianugerahkan dalam ilmu biologi dan ilmu fisika kepada warga Amerika keturunan Afrika meningkat hampir empat kali lipat. Meskipun demikian, relatif dengan populasi umum mereka di masyarakat, jumlah itu masih terlalu rendah bagi orang Amerika-keturunan Afrika pada permulaan gerakan hak-hak sipil (civil rights movement) di pertengahan tahun 1950-an dan awaI 1960-an; kondisi seperti itu juga berlaku untuk budaya AS lainnya yang dibedakan menurut ras.

 

RAS, SAINS, DAN HAK-HAK SIPIL

Gerakan hak-hak sipil yang hidup kembali karena kebutuhan aksi yang mendesak di dalam negeri dan dunia internasional pada pertengahan abad, berlangsung bersamaan dengan penolakan kalangan terpelajar terhadap rasisme ilmiah. Menurut Elazar Barkan (1992), kekejaman luar biasa yang terjadi di Eropa di antara dua Perang Dunia turut memengaruhi pertambahan kehadiran kaum intelektual Yahudi juga kaum wanita dan sarjana kiri pada perguruan tinggi dan universitas di Inggris dan Amerika. Kehadiran para sarjana itu memberikan dorongan bagi perubahan konsepsi ras di dunia akademi, tempat perbedaan ras tidak lagi dihubungkan dengan perbedaan biologis tetapi perbedaan budaya. Selain dipengaruhi kejadian-kejadian politis di luar akademi, para ilmuwan mulai menancapkan pengaruh mereka pada isu sosial dan isu masyarakat umum di luar menara gading, terutama dalam hal hubungan ras. Barangkali pernyataan paling keras semacam itu lahir pada 1950 melalui “Pemyataan Ras (Statement on Race)” Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya PBB (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization-UNESCO). Melalui pernyataan itu, para ilmuwan mengakui “bahwa umat manusia adalah satu: bahwa semua manusia termasuk spesies yang sama, Homo sapiens”.

Sains juga memegang peranan utamadalam menyingkirkan penghalang-penghalang yang mencegah kelompok-kelompok budaya AS yang dibedakan menurut ras untuk memperoleh akses ke “pendidikan berkualitas. Hal itu terbukti melalui peranan ilmu-ilmu sosial dalam putusan Mahkamah Agung AS pada kasus Brown v. Board ofEducation (1954) yang bersejarah itu. Keputusan Mahkamah tersebut telah mendorong integrasi sekolah dasar dan sekolah menengah yang berlangsung lambat tetapi sangat penting, khususnya di Selatan, juga peningkatan mencolok jumlah siswa kulit berwarna pada universitas dan perguruan tinggi yang memiliki jumlah mahasiswa kulit putih terbanyak pada 1970-an dan 1980-an. Peningkatan jumlah siswa kulit berwarna pada. universitas dan perguruan tinggi di Amerika tersebut mengakibatkan meledaknya jumlah program studi etnik di perguruan tinggi dan universitas Amerika. Banyak program itu didirikan oleh para profesor ilmu behavioural dan ilmu sosial, khususnya psikologi. Selain itu, pertambahan jumlah mahasiswa minoritas pada kampus-kampus perguruan tinggi menjadi pendorong di balik berdirinya organisasi dan program dukungan bagi mahasiswa-mahasiswa tersebut juga perekrutan dan persiapan mereka di lingkungan praperguruan tinggi agar berhasil dalam menempuh pendidikan tinggi, terutama di lapangan sains dan teknik. Pada 1971, misalnya, dua mahasiswa undergraduate Universitas Purdue mendirikan Society of Black Engineers, perkumpulan bagi para insinyur kulit hitam, yang kini menjadi National Society for Black Engineers (NSBE), guna memperbaiki perekrutan dan mempertahankan mahasiswa kulit hitam di lapangan tersebut. NSBE kini memiliki keanggotaan 15. 000 orang, 17 program praperguruan tinggi, serta 268 mahasiswa dan 50 alumlnus/cabang profesi teknis.

Sekelompok profesor sains, ilmuwan profesional, pendidik K-12, dan mahasiswa pada 1973 mendirikan Society for the Advancement of Chicanos and Native Americans in Science (SACNAS). Misi SACNAS ialah meningkatkan jumlah dan kualitas pengalaman mahasiswa Chicano/Latino dan penduduk asli Amerika (Native American) yang mengejar studi graduate di bidang sains dan teknik. Organisasi itu memiliki tujuan tambahan, yaitu meningkatkan jumlah mahasiswa yang memperoleh gelar lanjutan (advanced degree) yang dibutuhkan untuk berkarier di bidang penelitian dan pengajaran sains pada semua tingkatan. Begitu pula, pada 1974 sekelompok insinyur profesional mendirikan Society of Hispanic Professional Engineers (SHPE) di Los dan tidak lama kemudian membangun cabang-cabang di seluruh negeri, yang akhirnya. mencapai lingkup internasional. Kemitraan sekolah-universitas diadakan untuk meningkatkan jumlah mahasiswa kuIit berwarna dalam ilmu-ilmu tersebut, termasuk program Southeast Consortium of Minorities in Engineering (SECME),Mathematics and Science Education Networks (MSEN) di North Carolina, dan Mathematics, Engineering, Science Achievement (MESA), yang sebagian besar berpusat di California. Selain itu, organisasi-organisasi hak-hak sipil seperti NAACP, melalui Academic, Cultural, Technological, and Scientific Olympics (ACT-SO)-nya, juga telah mempromosikan pendidikan sains di kalangan populasi-populasi pemuda yang dahulu kurang terlayani.

 

PENDIDIKAN SAINS DI MASYARAKAT KONTEMPORER: RAPOR RASIAL

Kelahiran kembali sains pada 1970-an dan pertengahan 1980-an didorong oleh prakarsa Goals 2000 George H. W. Bush pada 1989. Melalui prakarsa itu Bush berjanji akan menjadikan anak-anak dan pemuda Amerika sebagai “nomor satu dalam matematika dan sains”. Memang, pada 1990-an akses yang diperoleh mahasiswa Amerika keturunan Afrika, Chicano/Latino, dan penduduk asli Amerika (Native American) ke sains di semua tingkatan sudah jauh meningkat. Persentase gelar yang mereka peroleh dalam ilmu-ilmu pengetahuan pun meningkat relatif terhadap populasi mereka di masyarakat umum. Namun, sejumlah kesenjangan yang masih ada di antara ‘kelompok-kelompok etnik dan ras dalam pendidikan praperguruan tinggi, undergraduate, dan graduate, mengakibatkan ketidaksetaraan di masyarakat luas padaumumnya terus berlanjut.

 

PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

Contoh, menurut National Center for Education Statistics (NCES), the 2000 National Assessment of Educational Progress (NAEP) atau “rapor negara” menunjukkan adanya kesenjangan di antara kelompok-kelompok ras dan etnik dalam pencapaian matematika di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menegah umum.  Kesenjangan pencapaian dalam matematika bahkan semakin mencolok ketika dilihat dalam hubungannya dengan persebran nilai-nilai matematika di dalam bidang masing-masing kelompok lintas tingkat-tingkat pencapaian. Dalam hal itu, prestasi dua pertiga siswa kulit hitam dan lebih dari setengah siswa Latino dan penduduk asli Amerika (Native American) di kelas delapan berada di bawah tingkat pencapian dasar di bandingkan dengan seperempat teman mereka yang kulit putih dan warga Amerika keturunan Asia. Kesenjangan-kesenjangan serupa tampak nyata di bidang sains. Contoh, menurut hasil sains NAEP thun 1996, prestasi ke tiga perempat siswa kulit hitam, dua pertiga siswa Latino, hampir setengah siswa penduduk asli Amerika keturunan Asia berada di bawah tingkat pencapaian dasar, sangat kontras dengan siswa kulit putih hanya seperempat dari mereka yang berprestasi di bawah tingkat pencapaian dasar. Bahkan, persentase yang masuk kategori di bawah pencapaian dasar itu meningkat untuk semua kelompok kelas 12, dengan kesenjangan yang semakin besar terlihat di antara siswa kulit putih dan teman-temannya yang merupakan siswa Amerika keturunan Asia dan siswa penduduk asli Amerika (Native American).

Kesenjangan-kesenjangan menurut ras itu mencerminkan perbedaan-perbedaan signifikan pada cara guru mengajar siswa, terutama bila sudah menyangkut penggunaan teknologi komputer. Contoh, pada 1998 lebih banyak Guru melaporkan menggunakan komputer hanya untuk kegiatan rutin (drill) dan latihan (practice) dengan siswa-siswa kelas delapan kulit hitam (42 persen) daripada dengan siswa-siswa kulit putih (35 persen), keturunan Asia (35 persen) atau Latino (35 persen). Kebalikannya, lebih sedikit guru melaporkan simulasi dan aplikasi atau belajar permainan sebagai penggunaan komputer yang utama dengan siswa kulit hitam (masing-masing 14 dan 48 persen) daripada bersama siswa kulit putih (31 dan 57 persen), keturunan Asia (43 dan 57 persen), dan Latino (25 dan 56 persen) (Wenglinsky, 1998). Temuan-temuan itu membayangkan pola usang ketika para guru secara rutin menggunakan strategi pengajaran dan kurikulum yang secara kualitatif berbeda-beda dengan siswa-siswa mereka dengan cara yang merugikan siswa-siswa kulit hitam kelak dalam pendidikan tinggi dan urutan sosioekonomi berteknologi tinggi yang mengharuskan inovasi, kreativitas, kesigapan kecerdasan, dan prakarsadari para pesertanya.

 

PENDIDIKAN SARJANA DAN PASCA-SARJANA

Kesenjangan-kesenjangan serupa terkait ras dan sains terdapat di tingkat sarjana dan pasca-sarjana dalam hal gelar yang diberikan kepada mahasiswa, relatif dengan baik proporsi gelar-gelar tersebut dalam populasi umum maupun dengan perbandingan di antara kelompok-kelompok ras dan etnik. Biro Sensus AS memperkirakan bahwa pada 2001, sekitar 62 persen mahasiswa usia perguruan tinggi tradisional (18-24 tahun) adalah kulit putih, 17 persen Latino, 14 persen kulit hitam, empat persen keturunan Asia, dan kurangdari satu persen (0,9 persen) adalah penduduk asli Amerika (Native American). Dari 27. 000 gelar doktor yang dianugerahkan kepada warga negara AS pada 2001, 15.000 (56 persen) diberikan dalam lapangan-Iapangan yang meliputi sains dan teknik (Division of Science Resources Statistics, 2001). Dari jumlah tersebut, 80 persen (12.211) diberikan kepada kandidat kulit putih. Tujuh persen (1.058) dari gelar doktor di bidang sains dan teknik dianugerahkan kepada kandidat Amerika keturunan Asia dengan sekitar empat persen diberikan kepada kandidat Amerika keturunan Afrika (625) dan Latino (581), dan 0,5 persen (72) diberikan kepada kandidat penduduk asli Amerika (Native American). Ada perbedaan-perbedaan mencolok berkait ras pada persebaran gelar-gelar doktor tersebut. Sepertiga dari gelar doktor dianugerahkan kepada penduduk asli Amerika atau Native American (37) dan seperlima dari gelar doktor yang dianugerahkan kepada Latino (253), keturunan Afrika (334), dan kulit putih (2449) adalah penerima gelar Ph.D dalam ilmu behavioural dan ilmu-ilmu sosial; kebalikannya, sekitar 11 persen (221) warga Amerika keturunan Asia yang menerima gelar doktor pada 2001 adalah penerima gelar PhD dalam ilmu berhavioral dan ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu biologi dan teknik merupakan bagian terbesar dari gelar doktor ilmu non-berhavioral/ilmu sosial yang dianugrahkan pada 2001 jumlah itu meliputi 23 persen penerima gelar doktor adalah kulit putih (3.1214 ilmu biologi dan 1.645 teknik) dibandingkan dengan 46 persen rekan mereka yang merupakan warga Amreika keturunan asia ( 365 dan 262), 24 persen Latino (149 dan 14 persen kulit hitam (121 dan 82), dan persen penduduk asli Amerika atau Native American (15 dan 17) yang  juga menerima gelar tinggi dalam ilmu-ilmu biologi dan teknik pada tahun itu.

Berkebalikan dengan gelar-gelar tinggi yang tersebar pada bidang-bidang yang tadi disebutkan, kurang dari setengah gelar doktor yang dianugerahkan kepada warga negara kelahiran AS dari semua latar belakang diberikan dalam ilmu-ilmu komputer (365 dari 826) atau matematika dan statistika (468 dari 1. 006). Dari gelar-gelar tersebut, 83 persen dianugerahkan kepada kandidat kulit putih (298 ilmu komputer, dan 395 matematika dan statistika). Sisanya, lebih dari setengah (sembilan persen, atau 34) gelar doktor dalam ilmu komputer diterima oleh kandidat Amerika keturunan Asia, disusul oleh para penerima Ph.D. dalam bidang-bidang tersebut yang kulit hitam (3,6 persen atau dan Latino (1, 6 persen atau 6); tidak ada penduduk asli Amerika (Native American) yang menerima gelar doktor dalam ilmu komputer pada 2001. Hampir setengah dari gelar doktor yang tersisa dalam matematika dan statistika pada 2001 diterima oleh kandidat Amerika keturunan Asia (enam persen atau 30), disusul oleh rekan mereka yang kulit hitam (3, 6 persen atau 17), Latino (3, 0 persen atau 14), dan penduduk asli Amerika atau Native American (0, 2 persen atau hanya seorang).

Sayangnya, kesenjangan-kesenjangan yang dideskripsikan tadi mungkin tidak akan berkurang di masa datang. Menurut sebuah survei yang diselenggarakan oleh Higher Education Research Institute (HERI) dari Universitas California, Los Angeles, hampir sepertiga dari mahasiswa tahun pertama hitam, Latino, dan kulit putih serta 40 persen mahasiswa tahun pertama Amerika keturunan Asia pada angkatan 2002 mendatang sudah menunjukkan rencana untuk mengambil jurusan di bidang sains atau teknik. Tiga belas persen dari semua mahasiswa Latino berencana mengambil jurusan dalam ilmu-ilmu sosial dan behavioural, pilihan terbanyak kelompok itu selain jurusan sains dan teknik. Dua belas persen dari semua mahasiswa kulit hitam dan penduduk asli Amerika (Native American) juga memilih jurusan-jurusan tersebut sebagai jurusan yang paling disukai di antara ilmu-ilmu lain, begitu pun rekan mereka yang kulit putih (9,4 persen dari seluruh anggota kelompok ras itu yaitu kuliah di perguruan tinggi). Kebalikannya, pada umumnya, mahasiswa tahun pertama menunjukkan preferensi jauh lebih rendah terhadap jurusan utama ilmu komputer dan ilmu fisika, bahkan lebih sedikit lagi mahasiswa yang memilih mengejar gelar matematika. Mengingat implikasi-implikasi bahwa preferensi tersebut bertahan karena syarat-syarat sosioekonomi abad keduapuluh satu, sains dan matematika jelas merupakan batu landasan keadilan sosial bagi budaya-budaya AS yang dirasakan dalam milenium baru.

 

PENUTUP: RAS DAN SAINS-HUBUNGAN DAHULU DAN MASA DATANG?

Teoretikus sosial ternama, Anthony Giddens (2002), menjelaskan bahwa dunia tempat tinggal kita kini jauh lebih rumit daripada dunia yang menjadi tempat tinggal orang-orang dahulu karena maraknya media dan bentuk teknologi lainnya yang membuka peluang bagi persebaran informasi, citra, dan lambang tanpa batas. Inilah “dunia yang berada di luar kendali”, tulisnya -dunia yang diasosiasikan dengan perubahan sosial dan perubahan ekonomi drastis baik di masyarakat Amerika Serikat maupun di masyarakat internasional yang lebih luas. Perubahan-perubahan yang mengikuti posindustrialisme dan globalisasi itu menyediakan banyak ragam peluang sosial, budaya, dan ekonomi bagi individu. Akan tetapi, peluang-peluang itu tidak tersaji untuk semua. Sejauh itu, posindustrialisme dan globalisasi hanya menguatkan pola-pola dominansi ras, baik di Amerika Serikat maupun dunia luar. Contoh, pekerjaan di Amerika Serikat untuk masa datang sudah bisa diramalkan akan terbagi di antara jumlah kesempatan yang luar biasa tingginya untuk posisi-posisi yang tidak tetap, berstatus rendah, dan bergaji rendah, dengan sejumlah kecil posisi yang tetap, berstatus tinggi, dan bergaji tinggi. Budaya-budaya AS yang dibeda-bedakan menurut ras pada umumnya dibatasi pada kategori yang pertama saja dan semakin sering tidak masuk kedua kategori. Selain itu, kesenjangan sosial dan kesenjangan ekonomi di masyarakat kontemporer cenderung semakin menguatkan stereotip-stereotip ras lama. Kesenjangan sosial dan ekonomi itu juga telah menciptakan kondisi-kondisi mendukung maraknya studi ilmiah, yang anehnya, mengingatkan kepada kalian akademis ras Dunia Lama untuk menyediakan penjelasan-penjelasan dangkal tentang stratifikasi ras.

Jadi, perubahan-perubahan yang mengikuti pos industrialisme dan globalisasi telah menciptakan sejumlah dorongan yang berbeda-beda bagi pendidikan, di semua tingkat, bagi semua siswa di bidang ilmu pengetahuan dan terutama bagi siswa dari budaya-budaya yang dibeda-bedakan menurut ras di AS. Pendidikan sains tidak hanya akan membuat kelompok-kelompok tersebut mampu mengakses sumber-sumber daya yang memberdayakan mereka untuk menghapuskankondisi-kondisi materi ketidaksetaraan. Pendidikan sains juga menyediakan akses ke sarapa produksi untuk menantang media cetak dan media visual -produk-produk dari sains abad baru- yang sangat besar peranannya dalam membangun citra yang memberikan pemahaman-pemahaman yang masuk akal tentang-bahkan justifikasi yang mendukung-kondisi mereka.

Leave a Reply

Close Menu