RANCANGAN/TELOS DALAM TRADISI-TRADISI ISLAM MODERN

RANCANGAN/TELOS DALAM TRADISI-TRADISI ISLAM MODERN

Para pemikir Muslim modern dewasa ini bisa dibagi secara sederhana ke dalam tiga kelompok:

  • kaum cendekiawan agama (ulama) dari segala bidang keahlian;
  • kaum filsuf, termasuk juga cendekiawan ilmu sosial dari segala bidang keahlian; dan
  • para komentator dari disiplin atau minat lain, termasuk para saintis.

 

Muḥammad Abduh, Rasyid Ridha, Muḥammad Tahar Bin Akhour, dan yang lain termasuk dalam kelompok pertama, sedangkan para pemikir semacam Muḥammad Iqbal, Muḥammad  TaIbi, Seyyed Hossein Nasr, dan lainnya masuk dalam kelompok kedua. Sementara itu, beberapa nama seperti Maurice Bucaille, Zaghlul An-Najjar, Harūn Yaḥya, dan lainnya masuk ke dalam kelompok ketiga. Upaya menelaah segala pandangan dan keyakinan para pemikir tersebut, sekalipun fokus pada satu konsep tunggal masing masing tokoh saja, seperti argumen rancangan/telelogis, akan menyita waktu yang demikian lama dan usaha yang tidak ringan. Karena itulah, di sini saya hanya akan memberi ulasan singkat mengenai spektrum pemikiran para cendekiawan tersebut.

Kaum ulama abad ke-20, khususnya para pemikir modernis dan rasionalis, seperti Abduh atau Ben Akhour, begitu kuat mendukung argumen rancangan karena kesesuaiannya dengan ayat Alquran dan pendekatan rasional modern terhadap teisme.

Dari sekian banyak filsuf, Muḥammad Iqbal adalah seorang juru bicara penting di era modern. Meski demikian, Iqbal terbilang jarang memberi perhatian pada semua argumen filosofis keberadaan Tuhan seperti yang disebutkan di atas. Pembahasannya mengenai tiga argumen tersebut bahkan tidak sampai dua halaman dalam peninggalan filosofisnya, The Reconstruction of Religious Thoughts in Islam, yang merupakan suntingan beberapa kuliahnya mengenai status pemikiran filosofis dan teologis di negara-negara Islam kontemporer.

Awalnya, Iqbal menentang keras argumen kosmologis karena menurutnya

“akibat yang terbatas (finite effect) hanya bisa menimbulkan sebab terbatas pula, atau paling banter menimbulkan rentetan sebab yang tak terbatas. Untuk menghentikan rentetan sebab tersebut di satu titik dan menaikkan satu bagian dalam rentetan pada tingkat sebab pertama yang tak bersebab, hukum sebab musabab yang melandasi keseluruhan sebuah argumen harus ditiadakan”.

 

Ia kemudian menyimpulkan,

“Logikanya, perubahan dari yang terbatas kepada yang tak terbatas dalam argumen kosmologis sama sekali tidak absah sehingga argumen yang terbangun sepenuhnya gugur”.

 

(Kant pernah menolak keabsahan argumen ini karena dianggap sebagai varian argumen ontologis belaka.)

Mengenai pandangan terhadap argumen ontologis, Iqbal tidak membutuhkan waktu lama untuk meruntuhkan dan menganggapnya

“memiliki sifat yang agak menyerupai argumen kosmologis yang telah saya kritik sebelumnya. Intinya, argumen tersebut ingin membuktikan bahwa gagasan tentang zat yang sempurna mencakup gagasan tentang keberadaannya. Hemat saya, ada jurang pemisah antara gagasan zat yang sempurna dan Realitas objektif dari zat tersebut yang tidak bisa dihubungkan dengan pikiran transedental”.

 

Bagi Iqbal,

Argumen teleologis tidaklah lebih baik. Paling banter, argumen tersebut hanya akan menghadirkan gagasan tentang adanya perencana eksternal yang andal dalam mengubah bahan-bahan mentah, tak teratur, dan tak mampu mengubah dirinya sendiri menjadi sesuatu yang serba teratur dan rapi. Argumen ini hanya menunjukkan adanya perencana, bukan pencipta. Kalaupun kita dapat menganggap si perencana juga merangkap sebagai pencipta bahan-bahan tersebut, tidaklah bijaksana jika ia mempersulit diri sendiri dengan menciptakan bahan-bahan yang tidak bisa diatur, baru kemudian mengatasi persoalan tersebut dengan cara-cara yang asing bagi kodrat dan sifat alami bahan-bahan itu sendiri.

Kenyataannya, analogi yang mendasari argumen tersebut sama sekali tak berguna. Tidak ada analogi apa pun antara kerja si pencipta manusia dan fenomena alam.

 

Untuk menegaskan pandangannya, Iqbal lalu menyimpulkan,

“Saya harap sudah jelas bagi Anda bahwa argumen ontologis dan teleologis, sebagaimana yang digembar-gemborkan, tidak membawa kita ke mana-mana”.

 

Terlepas dari semua kritik yang pedas, terburu-buru dan tak terhindari, pandangan-pandangan Iqbal sebenarnya tidaklah mengherankan. Setidak-tidaknya, kita tentu masih mengingat prinsip-prinsip kunci dalam filsafat Iqbal berikut:

  • Iqbal sangat skeptis dan curiga terhadap pendekatan rasionalis dan segala upaya filosofis karena ia menyamakan keduanya dengan filsafat materialistik-ateistik yang sepenuhnya ia tentang dalam semua tingkatan;
  • Ia tumbuh dalam dan terpengaruh oleh tradisi-tradisi Eropa yang menyempal dari pendekatan ‘akal murni’;
  • Ia sangat tergoda dengan pengalaman religius mistis yang baginya tidak hanya merupakan sebuah proses pemikiran dan pengalaman yang absah, tetapi juga sarana pembebas dari baju-baju pengekang pemikiran rasional; dan
  • Dalam upayanya untuk merekonstruksi pemikiran keagamaan dalam Islam, ia mencerna sebanyak mungkin perkembangan intelektual dan ilmiah di Barat sekaligus meleburkannya ke dalam sebuah pendekatan mental holistik yang baru.

 

Sayangnya, Iqbal tampaknya tidak memiliki bekal pendidikan yang cukup untuk setidak-tidaknya mencerna sisi-sisi ilmiah di balik sumbangan Barat. Akibatnya, ia malah terlena dengan kecurigaannya sendiri terhadap pendekatan rasional dan hanya berfokus pada upayanya untuk menggunakan dan mengabsahkan pengalaman-pengalaman mistis.

Di antara sekian banyak ilmuwan dan komentator yang mewakili kelompok ketiga dalam kategori para pemikir modern di atas, nama Harūn Yaḥya dan Zaghloul An-Najjar tidak bisa diabaikan. Harūn Yaḥya adalah seorang penulis berkebangsaan Turki yang selama satu dekade terakhir begitu gencar dan giat mengampanyekan perlawanan terhadap teori-teori ‘ateistik’ semisal evolusi, Marxisme, dan materialisme, serta organisasi-organisasi seperti free masonry dan lainnya. Sementara itu, Zaghloul An-Najjar adalah pensiunan guru besar geologi yang mencurahkan segenap waktunya untuk teori i’jāz. Patut diketahui bahwa Yaḥya menjadikan argumen rancangan sebagai intisari filsafat dan kampanyenya. Bahkan, beberapa judul bukunya terang-terangan menggunakan kata ‘rancangan (design)’ atau ‘penciptaan (creation)’, seperti The Design in Nature; The Perfeet Design in the Universe is Not by Chance; Signs of God Design in Nature; Tell Me about the Creation; The Miracle of Creation in DNA; The Miracle of Human Creation; Wonders of Allah’s Creation, dan lain sebagainya.

Kembali ke konsep rancangan menurut pandangan Harūn Yaḥya tentang alam, berikut saya cantumkan beberapa kutipan dari bukunya yang berjudul Allah is Known through Reason:

  • Perhatikan sekelilingmu dari tempat dudukmu. Akan jelas bagimu bahwa segala sesuatu di ruangan itu adalah ‘barang buatan’. Orang yang hendak membaca sebuah buku mengetahui kalau buku tersebut ditulis untuk alasan tertentu oleh pengarangnya, bukan sekadar hasil pengetahuan atau karya seni. Bahkan, tumpukan batu bata pun bisa membuat orang berpikir bahwa susunan tersebut memang telah direncanakan secara khusus oleh seseorang tertentu.
  • Bila kita mempelajari struktur atom-atom, kita akan melihat rancangan dan tatanannya yang luar biasa.
  • Sejatinya, setiap keberadaan diawali sebuah tatanan yang tak bercacat. Pertama, elektron yang menemukan dirinya berada dalam sebuah inti atom kemudian mulai berkeliling mengitari inti tersebut. Lalu, atom-atom bertemu dan membentuk materi, dan dari semua proses inilah lahir benda-benda yang bermakna, bertujuan, dan beralasan.

 

Dari tiga kutipan tersebut, sangat jelas bahwa Harūn Yaḥya mengemukakan argumen rancangan yang paling sederhana.

Zaghloul An-Najjar lebih tertarik untuk membuktikan kemukjizatan ilmiah dalam Alquran dibandingkan tunduk pada argumen rasional atau naturalistis mengenai keberadaan Tuhan.  Dengan kerangka dan program penelitian seperti itu, An-Najjar tampak mendukung argumen rancangan, sekalipun ia sendiri tidak pernah merujuk pada argumen itu per se atau bahkan pada konsep rancangan. Paling banter, dalam berbagai tulisannya kita hanya bisa menemukan ungkapan-ungkapan berikut: “Seorang rasional mana pun tidak pernah membayangkan bahwa alam semesta diciptakan secara menakjubkan hanya dengan sebuah perintah dari Sang Pencipta (Yang Maha Agung), sebagaimana dalam ayat, Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia (Alquran, Surah Yā Sīn, 36: 82).

Leave a Reply

Close Menu