RANCANGAN CERDAS DAN ISLAM

RANCANGAN CERDAS DAN ISLAM

Sekarang, perkenankan saya mengulas ‘teori’ (atau lebih tepatnya hipotesis) Rancangan Cerdas (Intelligent Design/ID) dan menelaah sejauh mana teori tersebut merasuk ke dalam pikiran Muslim.

Para pentolan gerakan ID -yang sebenarnya merupakan gerakan budaya dan politik dengan bungkus baju ‘ilmiah’- pada intinya ingin menunjukkan bahwa banyak kasus di alam semesta memperlihatkan aspek-aspek rancangan ilahiah. Mereka berupaya melawan pemisahan antara agama dan negara di Amerika, sehingga mereka pun menggunakan istilah ‘cerdas’ (intelligent) untuk mewakili kata ‘ilahi’ -selain karena mereka juga menginginkan agar teori tersebut diajarkan di sekolah-sekolah. Gerakan ini awalnya bertujuan menentang teori Darwin dan yang paling utama adalah meluluhlantakkan landasan materialisme sains modern yang sebagaimana kita tahu, bersandar pada naturalisme.

Hal pertama untuk menjelaskan ID adalah penyesatan publik yang dilakukan para pentolannya dengan berupaya mengangkat derajat gagasan mereka ke ranah teori. Padahal, tidak satu pun aspek ID yang memiliki pembenaran ilmiah. ID bahkan tidak memiliki prediksi atau penjelasan ilmiah apa pun terhadap berbagai macam fenomena, sehingga banyak orang menganggapnya tidak ilmiah karena mencederai kriteria pokok uji kesalahan ala Popper. Untuk pembahasan di sini, mari kita anggap teori tersebut sebagai hipotesis, meskipun penyebutan dengan istilah ini pun masih cukup membingungkan.

Hingga akhir-akhir ini, argumen ID didasarkan pada dua argumen utama:

  • Kompleksitas biokimia yang tidak bisa disederhanakan (Irreducible Biochemical Complexity (ICD) yang dikembangkan oleh Michel Behe); dan
  • Informasi biologis spesifik (Specified Biological Information (SBI) yang dikemukakan oleh William Dembski).

Baru-baru ini, Behe memperkenalkan satu argumen yang sedikit berbeda, yaitu kapasitas terbatas (limited capacity) tindakan evolusi, atau lebih tepatnya mutasi-mutasi acak. Argumen IBC (yang pertama kali dikemukakan Behe pada 1996 dalam bukunya, Darwin’s Black Box) mengatakan bahwa bagian-bagian biokimia khusus pada beberapa organisme tertentu memiliki sifat ‘kompleks yang tidak bisa disederhanakan’. Artinya, bagian-bagian tersebut hanya bisa berfungsi (atau memainkan satu peran) ketika digabung dengan bagian-bagian lain yang juga kompleks dan tidak bisa disederhanakan, sehingga bagian-bagian tersebut pada dirinya sendiri tidak berfungsi apa-apa, dan yang pasti, tidak ada yang bisa memastikan bahwa mereka itu akan berevolusi mengikuti proses evolusi Darwin. Karena itu, Behe dan para pengikutnya sampai pada kesimpulan mengenai kepastian adanya perancang cerdas yang secara langsung menciptakan sekaligus mengumpulkan bagian-bagian tersebut.

Saya rasa sudah sangat jelas bahwa penalaran ini sangat mirip dengan pendekatan klasik ‘tuhan pengisi celah’ (god of gaps), yang sekadar menghubungkan alam semesta dengan Tuhan (perancang), dibandingkan mencari penjelasan tentang sebuah misteri. Kaum yang memercayai Tuhan (theists) bahkan sudah lama meninggalkan pendekatan tak berguna ini. Seorang kartunis cerdik bernama Sydnes Harris dengan tepat melukiskan hal ini dengan gambar kartun seorang ilmuwan yang ketika merespons pertanyaan tentang perancang cerdas alam semesta hanya menjawab dengan ungkapan: “Lalu terjadilah mu‘jizat”. Kemudian, masih dalam gambar kartun tersebut, rekannya yang skeptis menimpali, “Menurutku, Anda harus lebih jelas soal ini”.

Serupa dengan hal di atas, Dembski mengembangkan sebuah pendekatan probabilistis dalam upayanya membuktikan bahwa hipotesis ID lebih bisa menjelaskan kandungan informasi dalam nuklida DNA dibandingkan pendekatan-pendekatan buta. Saya rasa penalaran ini jauh lebih ilmiah meskipun ia juga mengandung sisi negatif karena mengungkapkan kelemahan teori tertentu tanpa menawarkan solusinya. Namun, setidak-tidaknya pendekatan ini cukup ilmiah. Andai saja Dembski bisa membuktikan tesisnya ini dalam sejumlah contoh (dan saya menyangsikan hal tersebut), ia akan memberi pukulan telak, sekalipun tidak fatal, terhadap beberapa bagian penting teori Darwin.

Saya rasa sikap dan posisi Behe begitu tampak ketika ia menerbitkan bukunya yang terbaru, The Edge of Evolution (2007). Dalam buku tersebut, ia berusaha menunjukkan bahwa kemungkinan adanya mutasi acak yang mendorong ke arah perkembangan organisme kompleks dan ciri-ciri khasnya yang baru sangatlah kecil. Para ahli biologi telah membuktikan bahwa perhitungan Behe ini tidaklah berdasar; tesis atau argumennya sedikit pun tidak menyentuh teori standar evolusi atau bagian apa pun dalam teori evolusi. Saya akan menyinggung sekilas bahwa Behe dalam bukunya tersebut juga mengeluarkan beberapa pernyataan mengejutkan mengenai Perancang Cerdas. Misalnya saja, ia menerima pandangan bahwa argumen ‘keturunan bersama’ (makhluk hidup seperti manusia dan simpanse berasal dari nenek moyang yang sama) adalah hal yang tidak fundamental (trivial). Ia juga tidak mempermasalahkan ‘konsep sederhana’ seleksi alam, seraya mengakui bahwa evolusi hanya berlaku di tingkatan-tingkatan ‘terbatas’ seperti perkembangan obat-obatan, menerima pandangan tentang usia tua bumi (4,5 miliaran tahun), dan menolak pandangan kreasionis yang menggelikan mengenai usia bumi yang masih muda.

Lalu, bagaimana pendapat Muslim tentang semua ini? Pertama, tidak seperti di Barat, perdebatan seputar ID tidak mendapat perhatian media dan komentator di berbagai Dunia Muslim. Di Turki misalnya, ID mendapat sokongan kuat dan aksi aktif di bawah pimpinan (awalnya) Mustafa Akyol (yang sejak saat itu tidak lagi mendukung ID) dan (secara pribadi) didukung Harūn Yaḥya. Namun, di negara-negara lain, sangat sedikit orang yang mengetahui pokok-pokok ID. Sebagian besar di antara mereka yang pernah mendengarnya beranggapan bahwa ID adalah kecaman ilmiah yang menohok Darwinisme, sehingga ID kemudian diterima dengan baik. Karena itulah, tidak heran jika kita menjumpai sebuah buku tulisan Harūn Yaḥya yang berjudul The Collapse of Darwnisim and the Triumph of Intelligent Design.  Akyol, seorang cendekiawan muda Turki, awalnya terpikat wacana ID sehingga menulis karya yang panjang lebar membahas ID, dengan lantang (serta ilmiah) berbicara mengenai wacana tersebut, menyelenggarakan konferensi-konferensi ID di Turki, dan menyatakan diri sebagai ahli perkembangan ID di USA. Ia menulis salah satu artikel pro-ID pertama yang membidik langsung pembaca Muslim berjudul “Why Muslims Should Support Intelligent Design”. Beberapa artikel lain tentang topik tersebut juga muncul di media yang kebanyakan memperlihatkan pengetahuan yang minim dan dangkal.

Sepengetahuan saya, satu-satunya Muslim yang menulis artikel panjang dan serius untuk menolak ID adalah Ahmed K. Sultan. Ketika menulis artikelnya yang berjudul “The Non-science of Intelligent Design” (2004), ia adalah seorang mahasiswa doktoral dalam ilmu ruang, ilmu radio, dan telekomunikasi di Stanford University. Dalam artikel tersebut, ia tampak paham betul gagasan ID, sehingga ia mengulas lalu menyerang kelemahan- kelemahan metodologisnya dan mewanti-wanti agar pembaca berhati-hati dengan segala khayalan “kemenangan atas Darwinisme” yang mungkin muncul lagi di kemudian hari. Muslim lainnya, Rizwana Rahim, seorang dokter di USA, menulis artikel menarik tentang topik ini dengan judul “Darwin vs. Intelligent Design”. Sayangnya, hanya bagian pertama saja yang bisa ditelusuri di website. Dalam artikel tersebut, Rahim mengemukakan pemahamannya yang mendalam tentang hal-ihwal teori evolusi dan juga kritik-kritik terhadap ID. Ia juga terkesan berpihak pada teori Darwin meskipun sangat disayangkan karena bagian akhir artikelnya terkesan asal-asalan. Bisa jadi, para editornya tidak menyukai logika pro-evolusi maupun kesimpulan anti-ID yang ia kemukakan dalam bagian kedua artikelnya.

Dari sini sangat jelas bahwa dibutuhkan upaya maksimal untuk menginformasikan dan mendidik khalayak Muslim. Berbagai kendala dalam pengembangan bidang ini sering bermunculan, misalnya yang terjadi pada Oktober 2006 ketika Menteri Pendidikan Turki sangat mendukung wacana ID dengan memasukkan kesimpulan teori ID dalam buku ajar biologi Sekolah Lanjutan di seluruh Turki.

Leave a Reply

Close Menu