PROSES TERJADINYA KIAMAT

PROSES TERJADINYA KIAMAT

Serial Quran dan Sains

WAKTU TERJADINYA KIAMAT

Hari kebangkitan atau hari kiamat masih bersifat misteri (gaib), namun pasti akan terjadi. Tentang waktu terjadinya tak seorang pun yang mengetahui, bahkan malaikat dan Nabi Muhammad sendiri. Hanya Allah yang mengetahui hal ini. Allah berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا۝ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكْرَاهَا۝ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَاهَا۝ إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخْشَاهَا۝

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya). Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat). (Alquran, Surah anNāzi‘āt/ 79: 42-45)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ۝

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku, tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huruharanya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (AIquran, Surah al-Arāf/7: 187)

 

Hanya Allah yang tahu kapan kiamat tiba. Yang pasti, sesuai gambaran Nabi Muhammad, kedatangannya sudah dekat. Diriwayatkan bahwa diutusnya Nabi Muhammad adalah pertanda kiamat telah dekat. Nabi bersabda,

Aku diutus berdekatan dengan hari kiamat seperti ini. Lalu Nabi menempelkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah. (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari Anas)

Kiamat akan datang tiba-tiba saat manusia sibuk dengan urusannya. Kedatangannya merupakan peristiwa mahadahsyat hingga ibu-ibu menyusui akan meninggalkan begitu saja bayi-bayi yang sedang disusui. Disaat yang sama, ibu-ibu hamil akan gugur kandungannya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ۝ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ۝

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu, sungguh guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras. (AIquran, Surah al-ajj/22: 12)

Digambarkan juga, para penggembala meninggalkan begitu saja unta-untanya, meski sedang hamil dan menjadi kebanggaan mereka. Allah berfirman,

وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ۝

Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus). (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 4)

Dalam sebuah hadis dijelaskan, kiamat akan jatuh pada hari Jumat. Rasul bersabda’

Sebaik-baik hari saat matahari terbit adalah Jumat, hari saat nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

 

AWAL KEDATANGAN HARI KIAMAT

Dijelaskan bahwa datangnya kiamat diawali oleh tiupan sangkakala Israfil. Dua kali Israfil meniupnya, tiupan pertama menghancurkan tatanan alam semesta, sedangkan yang kedua membangkitkan manusia dari kuburnya.

Tiupan pertama Israfil demikian dahsyat hingga seluruh jagat raya kalang kabut dan hancur. Tatanan alam semesta (planet, bintang, galaksi, dan semacamnya) yang bergerak teratur mengitari pusat massanya selama miliaran tahun menjadi kalang kabut tak menentu. Benturan antarbenda langit yang jumlahnya miliaran (bumi, matahari, bulan, dan lainnya) tak terelakkan. Semua itu mengakibatkan ledakan yang sangat dahsyat dan tak pernah terbayangkan. Dalam Alquran dijelaskan,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ۝ وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً۝ فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ۝ وَانشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ۝

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturano Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuho (Alquran, Surah al-Ḥāqqah/69: 13-16)

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ۝ فَذَٰلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ۝ عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ۝

Maka apabila sangkakala ditiup maka itulah hari yang serba sulit bagi orang-orang kafir tidak mudah. (Alquran, Surah aI-Muddaṡṡir/74: 8-10)

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ۝

Dan sangkakala pun ditiup maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (Alquran, Surah az-Zumar/ 39: 68)

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ۝ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ۝

Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 33-37)

Ar-Rāgib al-Asfahānī dalam AI-Mufradāt menjelaskan bahwa kata aṣ-ṣakhkhah berati suara yang sangat keras dan menggelegar.

وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ۝ وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ۝

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (ltulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Alquran, Surah anNaml/27: 87-88)

Sains tidak mungkin menggambarkan kondisi kehancuran yang luar biasa pada hari kiamat. Bumi bersama gunung-gunung di atasnya hancur. Langit menjadi lemah, hilang segala keteraturan yang semula menjaganya di orbitnya. Suara gelegarnya mengejutkan penghuni langit dan bumi. Ledakan kehancuran merata di seluruh jagat raya, bukan lagi lokal di suatu daerah, negara, atau benua saja, tetapi seluruh planet, bintang, dan galaksi hancur luluh dengan gelegar ledakan dahsyat tak terkirakan. Semua orang melupakan urusan masing-masing, lari tak tentu arah. Hanya sebagian, yakni orang-orang yang beriman yang dikehendaki Allah, yang tampak tetap tenang menghadapi kematian pada hari kiamat itu. Setelah itu, semua manusia dibangkitkan, semuanya tunduk menghadap Allah menanti hari perhitungan amal-amal mereka.

 

KEADAAN PADA HARI KIAMAT.

Dalam banyak ayat, diceritakan bagaimana keadaan alam semesta pada hari kiamat, baik yang terjadi di langit, seperti benda-benda langit, maupun yang terjadi di bumi. Semuanya hancur berantakan. Langit terpecah-pecah, tergulung. Matahari meredup sinarnya lalu bertumbuk dengan bulan. Bintang-bintang berjatuhan. Sementara itu, apa yang terjadi di bumi tidak kalah dahsyat. Bumi memuntahkan seluruh isinya. Laut kering terbakar. Gunung-gunung dihempaskan hingga menjadi pasir. Bumi akhirnya rata. lebih rinci berikut ini akan di jelaskan tentang ayat-ayat yang terkait dengan hal tersebut.

 

Keadaan Bumi

Alquran menjelaskan kondisi bumi saat hari kiamat terjadi pada ayat-ayat berikut.

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا۝ وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا۝

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang di kantungnya (Alquran, Surah az-Zalzalah/99: 1-2)

Kata az-Zalzalah (guncangan yang dahsyat) adalah ism maṣdar(bentuk kata benda) dari zalzalayuzalzilu-zalzalatan, yang mengguncangkan. Dengan demikian, az-zalzalah berarti guncangan. Karena penyebutannya dalam surah az-Zalzalah diikuti oleh maf‘ūl mulaq maka kata ini dimaknai sebagai guncangan hebat yang terjadi di seluruh penjuru bumi. Dalam Alquran, kata ini dengan semua bentuk jadiannya disebut sebanyak 6 kali, dua kali di antaranya disebut dalam Surah az Zalzalah/ 99: 1.

Ayat ini menerangkan bahwa peristiwa kiamat diawali dengan guncangan yang dahsyat yang meliputi seluruh bumi. Fenomena gempa ini berbeda dengan yang selama ini terjadi, hanya bersifat lokal dan tidak menyeluruh ke seantero bumi. Peristiwa ini menjadi penanda yang mengingatkan manusia bahwa akhir kehidupan dunia telah datang, yang diikuti kemudian oleh kehidupan akhirat.

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا۝

(Sungguh kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam. (Alquran, Surah an-Nāzi‘āt/79: 6)

Kata ar-Rājifah (berguncang hebat) adalah ism fā‘il dari rajafayarjufu-rajfatan, yang berguncang hebat. Dengan demikian, rājifah berarti yang berguncang dengan hebat. Dalam Alquran, kata ini dengan semua bentuk jadiannya disebut sebanyak 7 kali. Salah satunya disebut dalam Surah an-Nāzi’āt/79: 6. Ayat ini menerangkan bahwa terjadinya kiamat diawali dengan tiupan sangkakala. Mengiringi tiupan itu bumi berguncang hebat sehingga semua yang ada di sana hancur. (baca juga Surah al-Muzzammil/73: 14)

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ۝

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Alquran, Surah lbrāhīm/14: 48)

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ۝

Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (Alquran, Surah az-Zumar/39: 67)

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا۝

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia) dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. (Alquran, Surah al-Kahfi/18: 47).

يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ۝

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi terbelah, mereka keluar dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. (Alquran, Surah Qāf/50: 44)

إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا۝

Apabila bumi diguncangkan sedahsyatdahsyatnya. (Alquran, Surah aI-Wāqiah/56: 4)

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً۝

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. (Alquran, Surah aI-Ḥāqqah/69: 14)

يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَّهِيلًا۝

(Ingatlah) pada hari (ketika) bumi dan gunung-gunung berguncang keras dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang dicurahkan. (Alquran, Surah aI-Muzzammil/73: 14)

وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ۝

Dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, (Alquran, Surah aI-lnsyiqāq/84: 4)

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا۝

Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan). (Alquran, Surah aI-Fajr/89: 21)

Dari ayat-ayat ini bisa disimpulkan bahwa ketika kiamat tiba, bumi akan digoncang dengan sangat dahsyat dan bertubi-tubi. Gunung-gunung diangkat dengan satu angkatan, lalu diempaskan hingga bumi terbelah. lsi gunung dimuntahkan hingga seakan perut bumi menjadi kosong karenanya. Selain gempa tektonik yang membelah bumi karena patahan-patahan lempeng, letusan gunung yang hebat memuntahkan lahar dan mengisi semua cekungan bumi. Laut dan sungai terisi material yang dikeluarkan letusan gunung. Akhirnya bumi menjadi rata, tidak ada lagi gunung-gunung dan tempat-tempat yang tinggi, semuanya sama.

Manusia tentu saja tak akan sempat melihat semuanya, sebab mereka sudah punah akibat kehancuran bumi yang sangat hebat. Informasi ini diberikan untuk memberikan gambaran betapa mudahnya Allah menghancurkan seisi bumi dan menampilkan wajah bumi yang lain dari sebelumnya. Tidak akan ada lagi kehijauan, tidak akan ada lagi air jernih yang mengalir, dan tidak ada lagi kehidupan. Berikut ayat-ayat yang menjelaskan keadaan gunung-gunung saat kiamat.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا۝ فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا۝ لَّا تَرَىٰ فِيهَا عِوَجًا وَلَا أَمْتًا۝

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.” (Alquran, Surah Tāhā/20: 105-107)

Akar kata yang terdiri dari nūn, sīn, dan fā’  mempunyai arti mencabut, membedol, dan menghilangkan sesuatu.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ۝

Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (ltulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Alquran, Surah an-Naml/27: 88)

Ayat ini ada yang mengaitkannya dengan kejadian hari kiamat, ada juga yang mengaitkannya dengan gunung-gunung yang ada di dunia saat ini. Perputaran bumi pada porosnya bersama gunung-gunung di permukaannya sebenarnya sangat kencang seperti pergerakan awan di langit. Namun karena kita berputar bersamanya, perputaran bumi dan gunung itu tidak terasa.

وَتَسِيرُ الْجِبَالُ سَيْرًا۝

Dan gunung berjalan (berpindah-pindah). (Alquran, Surah  aṬūr/ 52: 10)

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا۝ فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا۝

Dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya maka jadilah ia debu yang beterbangan. (Alquran, Surah aI-Wāqi‘ah/56: 5-6)

Kata yang terdiri dari bā’, sīn, dan sīn bisa berarti taftīt, penghancuran. Orang Arab berkata, Basastu al-inah aw as-sawīq bil-mā’, yang berarti, “aku menghancurkan gandum atau tepung dengan air”. Kata ini bisa juga diartikan “berjalan secara liar”, seperti ular yang berjalan liar kesana kemari.

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ۝

Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Alquran, Surah aI-Qāri‘ah /101: 5)

Kata al-‘Ihn biasa diartikan bulu yang dicelup ke dalam cairan berwarna apapun, ada pula yang mengartikan bulu yang dicelup ke dalam cairan berwarna merah. Bulu yang demikian inilah yang paling lemah, atau yang berwarna-warni. (asy-Syaukāni: Fatḥul-Qadīr/7: 302). Sementara itu kata an-nafsy berarti berhamburan.

يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَّهِيلًا۝

(lngatlah) pada hari (ketika) bumi dan gununggunung berguncang keras, dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang dicurahkan. (Alquran, Surah aI-Muzzammil/73: 14)

Akar kata yang terdiri dari ra, jim, dan fa mengandung arti “al-iḍṭirab asy-syadīd” atau guncangan yang sangat keras. Sedangkan akar kata ka, a, dan ba mempunyai arti kumpulan sesuatu. Pasir yang bertumpuk-tumpuk dinamakan “kaīb” jamaknya “kuub atau kuban” yang berarti bukit dari pasir yang bertumpuk-tumpuk. Sementara akar kata mim, ha, dan lam mempunyai arti berpencaran atau beterbangan.

وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ۝

Dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu. (Alquran, Surah aI-Mursalāt/77: 10)

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا۝

Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. (Alquran, Surah an-Nabā’/78: 20)

وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ۝

Dan apabila gunung-gunung dihancurkan. (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 3)

 

Benturan keras membuat gunung-gunung hancur lebur dan dengan mudah diterbangkan oleh empasan angin yang dahsyat.

AI-ĀIusī dalam tafsirnya Rūḥul-Ma‘ānī, menukil dari kitab al-Bar menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut menceritakan tentang fase-fase kehancuran gunung-gunung pada hari kiamat. Pada mulanya gunung-gunung terkena goncangan yang dahsyat, kemudian menjadi seperti kapas yang beterbangan (al-‘ihn al-manfūsy), lalu hancur terpecahpecah (al-habā’), lalu diempaskan (an-nasf) oleh angin yang sangat kencang sehingga menjadi debu, lalu menghilang seperti fatamorgana (sarāb). (Rūḥul-Ma‘ānī/15: 61)

Asy-Syaukāni dalam tafsirnya, Fatul-Qadīr, juga menyebutkan hal serupa. Menurutnya, kehancuran gunung berlangsung dalam lima tahap. Pertama, al-Indikāk atau bertubrukan. Gunung-gunung diangkat dari tempatnya lalu ditubrukkan ke bumi dengan satu tubrukan yang sangat dahsyat (AI-Ḥāqqah/69:14). Akibatnya, gunung berubah menjadi pasir lembut (kaṣīb mahīl) dan (habā’ munbaṡṡ). Kedua, seperti bulu yang beterbangan atau al-‘ihn al-manfūsy (AIquran, Surah al-Qāri‘ah /101: 5). Ketiga, seperti habā’, debu yang berpencar- pencar atau debu yang terIihat di sela-sela pintu yang terkena sinar matahari (AIquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 5-6). Keempat, diempaskan dengan kuat oleh angin (AIquran, Surah an-Naml/27: 88). Kelima, menjadi fatamorgana (AIquran, Surah an-Nabā’/ 78: 20). Seperti bagian bumi yang tampak mengandung uap air ketika terkena sinar matahari, padahal tidak ada, begitulah akhir fase hancurnya gunung-gunung, terlihat seperti ada benda padahal tidak ada.

Sementara itu Ibnul-‘Arabi, seperti dikutip asy-Syaukānī, menjelaskan bahwa kehancuran gunung bermula dari dicabutnya gunung dari akarnya. Gunung itu pun hancur hingga menjadi pasir yang bergerak cepat, lalu diterbangkan oleh angin kesana-kemari dan akhirnya menjadi debu yang beterbangan.

Sesudah kehancuran alam semesta, manusia akan dibangkitkan dari kematiannya untuk dimintai tanggung jawab atas semua perbuatannya. Pada kehidupan kedua ini, balasan bagi mereka yang mengingkari ajaran-ajaran Allah akan segera terwujud. Keingkaran mereka akan dibalas dengan azab yang sangat tidak menyenangkan dan membuat mereka menderita.

Dalam bahasa sains, bisa juga digambarkan situasi bumi dan gunung-gunung pada hari kiamat kira-kira sebagai berikut. Pergerakan lempeng bumi di luar kebiasaan menyebabkan gempa besar yang melanda seluruh dunia. Pergerakan ini memicu aktivitas vulkanik gunung-gunung berapi. Akibatnya, letusan gunung terjadi secara masal. Lava, debu, dan batuan panas disemburkan. Materialnya berhamburan memenuhi angkasa yang diumpamakan seperti bulu-bulu yang beterbangan tak tentu arah. Material panas terlontar dalam keadaan membara, memerahkan langit. Panasnya udara memunculkan fenomena fatamorgana, seolah di depan tampak air yang sebenarnya hanyalah efek pembiasan oleh udara panas. Inilah skenario suatu rangkaian peristiwa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

 

Keadaan di Langit

Dalam banyak ayatnya, Alquran menjelaskan keadaan langit pada hari kiamat. Berikut ini adalah beberapa istilah yang menjadi kata-kata kunci yang disebutkan dalam ayat-ayat itu.

  1. al-Infiṭār, sebagaimana firman Allah,

إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ۝

Apabila langit terbelah. (AIquran, Surah al-lnfiṭār /82: 1)

السَّمَاءُ مُنفَطِرٌ بِهِ ۚ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولًا۝

Langit terbelah pada hari itu. Janji Allah pasti terlaksana. (AIquran, Surah aI-Muzzammil/73: 18)

  1. al-Insyiqāq, sebagaimana firman Allah,

إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ۝

Apabila langit terbelah. (AIquran, Surah aI-Insyiqāq /84: 1)

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلَائِكَةُ تَنزِيلًا۝

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan (secara) bergelombang. (AIquran, Surah aI-Furqan/25: 25)

فَإِذَا انشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ۝

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak. (AIquran, Surah ar-Ramān/55: 37)

وَانشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ۝

Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. (AIquran, Surah aIḤāqqah/69: 16)

 

  1. al-Maur, sebagaimana firman Allah,

يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا۝

Pada hari (ketika) langit berguncang sekeraskerasnya. (AIquran, Surah aṭ-Ṭūr/52: 9)

  1. al-Farj, sebagaimana firman Allah,

وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْ۝

Dan apabila langit dibelah. (AIquran, Surah aI-Mursalāt/77: 9)

  1. al-Kasy, sebagaimana firman Allah,

وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ۝

Dan apabila langit dilenyapkan. (AIquran, Surah at-Takwīr/81: 11)

  1. al-Fat, sebagaimana firman Allah,

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا۝

Dan langit pun dibukalah maka terdapatlah beberapa pintu. (AIquran, Surah an-Nabā’/78: 19)

  1. aayy, sebagaimana firman Allah,

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ۝ وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ۝

(lngatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-Iembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati, sungguh Kami akan melaksanakannya. Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lau Mafūẓ), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (AIquran, Surah al-Anbiyā’/21: 104-105)

  1. Al-Muhl, sebagaimana firman Allah:

يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ۝

(lngatlah) pada hari ketika langit menjadi bagaikan cairan tembaga (AIquran, Surah aI-Ma‘ārij/70: 8)

 Ayat-ayat di atas memberi gambaran betapa langit akan berubah rupa saat kiamat. Langit yang tampak terbelah, mungkin disebabkan oleh gumpalan debu hitam yang menutupi langit biru. Debu ini bisa berasal dari letusan gunung atau dari tumbukan benda-benda langit yang luar biasa efeknya. Kemudian langit tampak memerah. Kondisi ini bisa jadi berasal dari lontaran batu panas atau cahaya lava letusan gunung berapi, atau hamburan debu yang menghilangkan warna birunya langit. Kilatan-kilatan petir yang bersahutan mungkin juga menampakkan cahaya mengkilat seperti perak meleleh di langit. Kilatan seperti perak meleleh mungkin juga disebabkan bombardemen batuan antariksa yang menyebabkan banyaknya meteor di langit, suatu gambaran yang tak terkirakan. Berikut beberapa gambaran Alquran tentang benda-benda langit saat terjadinya kiamat.

 

  1. Matahari

Ada dua ayat yang terkait dengan matahari, yaitu:

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ۝

Apabila matahari digulung (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 1)

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ۝

Lalu matahari dan bulan dikumpulkan. (Alquran, Surah aIQiyāmah/75: 9)

“Matahari digulung” bermakna makin meredup hingga kehilangan cahayanya. Hilangnya cahaya matahari bisa diakibatkan oleh debu yang menutupi angkasa, bisa juga akibat benturan benda jatuh antariksa. “Matahari dan bulan dikumpulkan” mengindikasikan adanya evolusi matahari yang dipercepat sehingga matahari menjadi bintang raksasa merah yang mungkin “mencaplok” planet-planet di dekatnya, termasuk bulan dan bumi.

 

  1. Bulan

Beberapa ayat yang menjelaskan keadaan bulan pada hari kiamat adalah:

وَخَسَفَ الْقَمَرُ۝

Dan bulan pun telah hilang cahayanya. (Alquran, Surah AI-Qiyāmah/75: 8)

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ۝

Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. (Alquran, Surah aI-Qamar/54: 1)

Ayat-ayat itu pun menggambarkan meredupnya cahaya bulan. Hal ini bisa jadi diakibatkan oleh adanya debu yang luar biasa tebal maupun akibat meredupnya cahaya matahari yang menjadi sumber cahaya bulan itu sendiri.

 

  1. Bintang-bintang

Ayat-ayat yang menjelaskan kondisi bintang-bintang pada hari kiamat di antaranya:

فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ۝

Maka apabila bintangbintang dihapuskan (Alquran, Surah aI-Mursalāt/77: 8)

وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ۝

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (Alquran, Surah atTakwīr/ 81: 2)

“Bintang-bintang dihapus (cahayanya)” mungkin menunjuk pada hilangnya cahaya bintang akibat debu yang semakin tebal menutupi langit. Sedangkan berjatuhannya bintang-bintang menunjuk kondisi ketika banyak meteorit menghujani bumi.

Lantas, bagaimana sains menjelaskan kondisi di langit pada saat kiamat? Pada dasarnya sangat mungkin fenomena sesungguhnya tidak tergambarkan oleh sains. Itu karena keadaan saat kiamat sangat mungkin di luar kelaziman hukum alam yang dikenal sains. Tetapi untuk sekadar memberi gambaran fenomena yang mungkin menjelaskan keadaan tersebut atau sekadar melihat miniatur fenomena yang pernah terjadi, dalam beberapa hal sains bisa digunakan. Detail tentang hari kehancuran hanya Allah yang tahu, sedangkan manusia hanya diberi ilmu yang sedikit. Alquran hanya memberi beberapa isyarat tentang hari kehancuran alam semesta ini, belum tentu sebagai suatu rangkaian mekanisme yang pernah terjadi atau dapat diprakirakan oleh sains saat ini. Namun, mengkaji kemungkinan secara ilmiah diharapkan dapat memperkuat keyakinan kita akan kepastian hari kehancuran.

Pertama, bintang-bintang berjatuhan, langit seperti lelehan perak, langit bergoncang, langit menjadi merah mawar seperti kilatan minyak, langit terbelah, keluar kabut putih, bulan terbelah, matahari digulung, langit menjadi lemah, langit dilenyapkan, bulan hilang cahayanya, semua ini mungkin menggambarkan ketika bumi mendapat tumbukan hebat dari benda-benda langit. Bisa jadi jumlah benda langit yang menjatuhi bumi sangat banyak sehingga tampak menyerupai bintang-bintang yang berjatuhan. Mula-mula ada kilatan yang menyilaukan ketika benda langit menyala masuk atmosfer. Ada kilatan putih seperti lelehan perak. Bumi dan langit tanpa bergoncang dengan suara dahsyat. Langit biru mendadak diwarnai warna putih seperti kabut yang makin lama makin gelap sebagian sehingga tampak seolah langi terbelah. Mungkin saja tumbukan terjadi susul-menyusul di seluruh dunia. Di wilayah malam, bulan tampak terbelah oleh jalur-jalur debu tebal. Tumbukan yang terjadi pada siang hari di daerah lainnya menampakkan matahari perlahan tertutup kegelapan sehingga tampak seolah digulung. Debu yang tersebar oleh tumbukan besar kemudian menyebar luas. Di wilayah yang mataharinya menjelang terbit atau terbenam, langit tampak merah mawar. Makin lama langit makin gelap. Bulan dan bintang-bintang seolah dihapuskan cahayanya. Langit yang megah tampak menjadi lemah.

Kedua, gambaran yang lebih hebat lagi. Langit menjadi merah mawar, bulan dan matahari dikumpulkan, bintang-bintang berjatuhan, dan langit digulung, semua ini mungkin menggambarkan ketika proses kematian matahari dan kehancuran alam semesta dipercepat, sesuatu yang tak tergambarkan dalam sains. Tetapi proses kematian matahari itu sendiri dan akhir alam semesta bisa sedikit tergambarkan oleh sains. Matahari akan mengakhiri hidupnya dengan menjadi bintang raksasa merah sehingga planet-planet di dekatnya masuk ke dalam bola gasnya. Merkurius, disusul Venus, dan mungkin akhirnya bumi akhirnya tertelan bola gas matahari. Sebelum bumi tertelan, bulan yang terlebih dulu masuk ke bola matahari sehingga bulan dan matahari menyatu. Alam semesta mungkin juga kembali mengerut kembali ke kondisi pada awal penciptaan. Pada saat itulah bintang-bintang tampak berjatuhan karena alam memampat kembali. Langit digulung menjadi kembali mengecil.

Dalam skala kecil siksaan dalam bentuk lontaran batu dari langit digambarkan dalam kisah tentara gajah yang dihancurkan Allah. Dalam surah al-Fīl, digambarkan bagaimana Tentara Gajah yang dipimpin gubernur Yaman, Abrahah, yang bermaksud meruntuhkan Kakbah akhirnya terbunuh oleh burung Ababil yang membawa kerikil panas dan menghujani mereka dengannya tepat sebelum mereka mencapai Mekah. Tahun tersebut juga bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad dan oleh karena itu tahun kelahiran Nabi Muhammad (571 M) disebut Tahun Gajah.

Kisah ini akan membuka pemahaman rasionalitas manusia bahwa mungkin saja Tentara Gajah musnah oleh hujan meteorit yang keras dan panas. Bukan tidak mungkin meteorit yang masih panas dan berkecepatan sangat tinggi datang dari langit pada siang hari ke daerah Tentara Gajah berada. Walaupun skenario yang demikian ini terbilang langka, tetapi hal itu bukan tidak mungkin terjadi. Burung Ababil adalah simbol dari kumpulan meteorit yang tampak sebagai gerombolan atau kawanan burung hitam di langit siang. Kisah itu melukiskan kebesaran Allah dan sekaligus menjadi peringatan bagi manusia di bumi atas ancaman jatuhnya batu ruang angkasa yang mematikan. Menurut pengalaman, sebuah meteorit yang jatuh bisa membuat lubang. Meteorit Kiel (0.7 kg), misalnya, yang menimpa atap seng sebuah rumah membuat lubang sebesar 10 cm di Kiel, Jerman pada 26 April 1962. Kalau atap seng saja bisa berlubang akibat tertimpa meteorit, tentu sudah terbayang bagaimana bila ia menimpa kepala manusia atau mahluk lain, seperti gajah. Pada hari kiamat, jumlah dan ukuran batu yang menghujani bumi tentu lebih banyak dan mengakibatkan efek yang jauh lebih dahsyat.

Dalam tata surya, lebih dari 99 % massa terpusat pada matahari. Karenanya, planet dan benda-benda kecil tata surya praktis mengorbit matahari. Bentuk orbit planet beredar mengelilingi matahari, berbentuk elips, sebagian hampir mendekati Iingkaran. Peredaran benda-benda kecil seperti komet atau asteroid mengelilingi matahari bisa berbentuk elips, Iingkaran, atau parabola. Astronom mengelompokkan objek dalam tata surya (asteroid dan komet) yang dapat mendekat pada jarak kurang dan 7,5 juta km dari bumi ke dalam NEO (Near Earth Object). Diperkirakan, sekitar 4000 objek masih bertabur dekat dengan planet bumi. Belum semuanya diketahui dengan baik keberadaannya. Oleh karena itu, berbagai proyek dilakukan untuk mencari objek NEO. NASA, misalnya, berharap dalam 10 tahun ke depan bisa mendeteksi sekitar 90 % NEO yang berukuran 1 km dan yang lebih besar. NEO berukuran lebih besar dari 1 km diperkirakan berjumlah 1000 objek. NEO kebanyakan merupakan objek dengan caha lemah. Perlu teleskop dan detektor yang sensitif untuk menangkapnya. Di antara program-program itu adalah LINEAR (Lincoln Near Earth Astreoid Research) di Socorro, New Mexico: Space Watch, Deep Space, NEAT (Near Earth Asteroid Tracking), LONEOS (Lowell Near Earth Object Search), Catalina Sky Survey, dan Japanese Spaceguard Association. Namun, dalam konteks hari kiamat ketika batuan antariksa di tata surya menghujani planet-planet, termasuk bumi, sistem pemantau benda antariksa ini tak akan banyak membantu manusia mengantisipasinya.

Kita belajar banyak dari kisah masa silam yang disampaikan dalam ayat Alquran dan rekaman fakta. Sebuah asteroid berdiameter 10-15 km telah menabrak bumi dan memusnahkan kehidupan dinosaurus. Bopeng permukaan bulan dan kawah Arizona juga merupakan pelajaran berharga bagi manusia di bumi, betapa kekuasaan Allah sangat besar, meliputi langit dan bumi. Kepunahan dinosaurus secara mendadak menunjukkan bahwa bencana di bumi bisa diakibatkan oleh batu yang belum banyak diketahui, yang melayang dan menabrak bumi. Badai Leonid juga menggambarkan betapa dekatnya anggota tata surya seperti komet, asteroid, dan objek langit yang mengorbit matahari. Teknologi teleskop dan detektor telah membuka horizon pengetahuan manusia tentang ancaman kepunahan sebelum kehancuran bumi, seperti yang pernah diungkap ayat AIquran.

Pecahnya komet S-L 9 yang menghantam Jupiter berturut-turut pada Juli 1994 direkam dan disaksikan secara luas oleh penduduk bumi. Fenomena itu memperkuat kemungkinan komet, asteroid, atau batuan asteroid menumbuk bumi. Bila hal itu terjadi maka akan terjadi fenomena langit yang spektakuler, bola api raksasa akan melintas langit mengawali bencana besar di planet bumi.

Melalui pengetahuan diameter kawah bekas tumbukan, dapat diketahui secara kasar energi kinetik yang berubah menjadi bencana biosfer planet bumi yang sangat luar biasa. Tabrakan semacam itu beberapa miliar tahun silam lebih sering terjadi. Sekarang ini tabrakan itu telah langka, tetapi tidak berarti angkasa bumi aman dari ancaman jatuhnya batuan kosmik yang lebih besar. Bopeng wajah bulan merupakan bukti tabrakan tata surya di masa silam, di mana ribuan asteroid terkubur di bulan. Tabrakan semacam itu juga pernah terjadi di bumi. Kepunahan (kematian secara serempak, hampir dalam kurun waktu bersamaan) dinosaurus sekitar 65 juta tahun silam, diduga disebabkan oleh sebuah tabrakan besar di Yukatan. Kawah Barringer di Flagstaff, Winslaw, Arizona, AS yang berdiameter 1200 m dengan kedalaman 183 m terbentuk sekitar 40.000 atau 50.000 tahun sHam. Kawah Barringer itu ditemukan tahun 1891 dan diduga terbentuk akibat sebuah tumbukan asteroid yang kaya akan unsur besi. Diduga sebuah asteroid besi berdiameter 60 meter seberat 10.000 ton menabrak bumi kala itu. Bisa dibayangkan kedahsyatan energi kinetik dari tabrakan itu. Bayangkan, sebuah peragaan ujicoba ledakan nuklir berkekuatan 30 kiloton hanya bisa membentuk kawah dengan diameter 250 m. Dengan demikian, kekuatan tumbukan yang menyisakan kawah berdiameter 5 kali lebih besar tersebut setara dengan kekuatan ledakan nuklir sekitar 150 kiloton.

Gambaran miniatur kiamat pernah terjadi saat pecahan komet menghantam Tunguska di Siberia, 30 Juni 1908. Kejadian yang lebih hebat lagi terjadi ketika asteroid besar menghantam Semenanjung Yukatan di Meksiko, 65 juta tahun lalu. Bencana besar yang Iingkupnya meluas bisa menjadi kehancuran kecil bagi wilayah tersebut. Semakin besar skala kerusakannya, semakin hebat dampaknya terhadap kehidupan. Sejarah kehancuran hebat di bumi hendaknya menjadi pelajaran.

Kejadian besar terjadi pada 30 Juni 1908 di Tunguska, Siberia Utara. Pagi pukul tujuh lebih, terdengar suara desingan keras. Terlihat di langit sebuah bola api meluncur cepat, tampak jauh lebih besar daripada matahari tetapi lebih redup. Jejak di belakangnya tampak seperti debu berwarna biru. Segera setelah bola api lenyap, terdengar ledakan keras, sangat keras. Bumi terasa bergetar. Saksi mata pada jarak 80 km dari pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari kursinya. Saksi mata lainnya menyatakan orang-orang ketakutan, berkumpul di jalanan, tidak mengerti apa yang terjadi. Sebagian ada yang pingsan. Kuda-kuda berlarian tak tentu arah. Hutan di sekitar pusat ledakan terbakar. Embusan anginnya teramat kuat seperti topan hebat. Akibatnya, pepohonan pada radius sekitar 25 km dari lokasi kejadian pun tumbang. Suara ledakannya bahkan terdengar dari jarak 800 km, kira-kira jarak lurus antara Serang sampai Surabaya. Kendatipun, manusia masih beruntung karena lokasi kejadian berada di daerah tak berpenduduk. Bukti-bukti yang ada menunjukkan telah terjadi ledakan hebat. Gelombang kejutnya mampu merobohkan pepohonan pada areal yang luas. Hutan di daerah pusat ledakan terbakar, tetapi tidak ada kawah yang terbentuk di pusat ledakan itu. Bukti-bukti terbaru menunjukkan adanya butiran-butiran intan halus tersebar di sekitar pusat ledakan. Bukti-bukti itu menunjukkan bahwa penyebab ledakan yang sangat mungkin adalah pecahan komet yang menabrak bumi. Komet sebagian besar terdiri dari es (campuran air, metan, dan amoniak) dan sedikit butiran batuan halus. Karena itu komet sering disebut tersusun dari es berdebu. Butiran batuan itu mungkin juga mengandung intan seperti yang dijumpai pada meteorit. Ketika komet menembus atmosfer bumi, gesekan dengan udara menimbulkan panas sehingga komet tampak seperti bola api raksasa. Es akan menguap, sedangkan uap dan debu membentuk ekor pada bola api itu. Pengereman oleh atmosfer bumi dan pelepasan energi oleh komet menyebabkan timbulnya ledakan hebat di atmosfer. Sisa-sisa butiran intan pada inti komet tidak terbakar dan jatuh ke bumi. Energi dari bola api itu mampu membakar hutan di bawahnya dan gelombang kejut ledakannya mampu menumbangkan pepohonan pada area yang sangat luas.

Ditaksir, komet itu berukuran 100 meter dengan berat 1 juta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik (108.000 km/jam). Diduga pecahan itu berasal dari komet Encke. Menurut perhitungan orbitnya, bumi setiap tahun melintasi orbit komet Encke dua kali: sekitar 2 Juli dan sekitar 1 November. Pada saat perjumpaan sekitar 2 Juli, Iintasan komet Encke berada di selatan bumi dan komet datang dari arah matahari. Itulah yang menyebabkan pecahan komet yang jatuh di Tunguska tampak berasal dari arah tenggara karena pengaruh rotasi bumi dan tumbukan terjadi bukan pada malam hari.

Bila yang menabrak bumi pada 1908 itu tidak sekadar pecahan komet, melainkan asteroid (planet kecil) atau komet yang ukurannya lebih besar, dampak tumbukannya akan lebih fatal. Mungkin sebagian makhluk hidup akan punah, termasuk sebagian besar manusia akan tewas. Kepunahan makhluk hidup akibat komet atau asteroid menabrak bumi pernah terjadi. Sebuah asteoroid atau komet yang jatuh di Semenanjung Yukatan, Meksiko, sekitar 65 juta tahun lalu diduga menyebabkan punahnya dinosaurus.

Sebuah asteroid yang ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer dengan berat mencapai 1 triliun ton menabrak bumi, tepatnya di Semenanjung Yukatan, tepi Teluk Meksiko. Hal ini menyebabkan terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km (hampir seluas Jawa Barat), menyebabkan gelombang raksasa di Laut Karibia, dan menghamburkan debu ke atmosfer seluruh dunia. Asteroid itu langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya tidak tampak lagi. Energi ledakannya setara dengan ledakan 5 miliar bom atom. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir sekitar 100 triliun ton, berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di seluruh dunia. Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di bumi, tetapi melimpah pada asteroid, menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit yang jatuh adalah asteorid.

Debu-debu yang dihamburkan ke atmosfer sedemikian tebalnya sehingga menghambat masuknya cahaya matahari. Hilangnya pemanasan oleh matahari menyebabkan bumi dilanda musim dingin yang sangat panjang, yang dikenal sebagai musim dingin tumbukan (impact winter). Kejadian inilah yang menyebabkan musnahnya hampir setengah makhluk hidup di bumi, termasuk dinosaurus. Mungkin fenomena seperti ini adalah gambaran dari apa yang dinyatakan oleh Alquran sebagai “cahaya bintang dihapuskan” dan “gunung dihancurkan menjadi debu”. Sementara itu, “langit dibelah” mungkin menggambarkan kondisi ketika benda langit besar masuk atmosfer bumi dengan cahaya yang sangat terang dan mengakibatkan efek ledakan hebat. Allah berfirman,

فَإِذَا النُّجُومُ طُمِسَتْ۝ وَإِذَا السَّمَاءُ فُرِجَتْ۝ وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ۝

Maka apabila bintang-bintang dihapuskan dan apabila langit terbelah dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu. (AIquran, Surah al-Mursalāt/77: 8-10)

Menurut teori evolusi bintang, matahari kita akan membesar menjadi bintang raksasa merah menjelang kematiannya. Saat itu matahari bersinar sedemikian terang, membuat laut mendidih dan kering, batuan meleleh, dan kehidupan akan punah. Matahari akan terus membesar hingga planet-planet di sekitarnya: merkurius, venus, bumi dan bulan, serta mars, masuk ke dalam bola gas matahari. Barangkali kejadian inilah yang diisyaratkan di dalam Alquran (Surah al-Qiyāmah/75: 7 -9) sebagai bersatunya matahari dan bulan. Kita tidak bisa bicara tentang rentang waktu tibanya peristiwa ini sampai kehancuran total alam semesta. Walaupun secara teoretik dapat diperkirakan kapan matahari akan menjadi bintang raksasa merah, sekitar 5 miliar tahun lagi, tetapi kepastian tentang saat kehancuran hanya Allah yang tahu.

Sudah menjadi isyarat Alquran bahwa matahari dan kiamat merupakan sesuatu yang penting dalam perjalanan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Pada akhir abad 20, kemajuan pemahaman manusia tentang fenomena kelahiran dan kematian bintang telah berkembang dengan pesat. Jejak perubahan fisik bintang dalam evolusi bintang, dari kelahirannya hingga kematiannya, dapat dipahami melalui teori evolusi bintang. Implikasi pengetahuan itu juga dapat mengajak manusia untuk menerawang masa depan matahari, menerawang saat-saat akhir hayatnya. Saat ini diketahui bahwa matahari tidak berhenti memancarkan energi radiasi. Energi ini diperlukan untuk menopang kehidupan dalam biosfer planet bumi. Apakah kondisi yang relatif nyaman saat ini akan berlangsung abadi ataukah akan berakhir pada suatu waktu? Berapa lama lagi kondisi nyaman dapat bertahan? Bisakah manusia memahami fenomena ini dengan baik melalui ilmu pengetahuan astronomi?

Pada saat matahari menjadi bintang raksasa merah, kemungkinan besar koloni kehidupan di bumi tidak lagi sanggup menerima panas matahari dan bumi tidak lagi nyaman seperti sekarang. Fenomena mendidihnya air laut sebagai indikator kiamat dapat dimengerti bahwa suatu saat ketika matahari berubah bentuk menjadi bintang raksasa merah, permukaan matahari yang panas bisa mencapai bumi. Api kiamat dikirim dari permukaan matahari yang kini masih berada pada jarak yang jauh, lebih dari seratus dua puluh lima juta kilometer, saat itu mungkin akan ditempuh dengan waktu yang singkat. Matahari bisa berjumpa dengan bulan dan menelannya. Mungkin matahari sempat padam sejenak saat bagian luarnya mengelupas, lalu energinya diubah menjadi radiasi inframerah, seperti halnya banyaknya bintang yang sekarat hanya tampak atau terdeteksi dalam panjang gelombang inframerah. Saat itu angkasa bumi akan mengelupas, atau pemandangan ke arah langit terbelah. Tak ada lagi pemandangan langit biru, yang ada hanya pemandangan api plasma matahari. Oleh karenanya, tak ada lagi meteor yang hancur. Meteoroid yang tertumbuk bumi bisa jadi masih utuh dan banyak. Bumi akhirnya juga hancur bersama gunung-gunung menjadi atomatom karena panasnya. Seperti halnya matahari, bintang-bintang lain dalam galaksi pun akan terus berevolusi mencapai titik akhir dan akhirnya padam.

Surah al-A‘rāf/7: 187 menegaskan bahwa pengetahuan detail tentang kiamat hanya Allah yang memiliki, tidak seorang pun dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat dahsyat, menimbulkan kebingungan mahluk yang di langit dan di bumi. Kiamat akan datang dengan tiba-tiba. Pembahasan akhir hayat matahari dan kiamat ini tidak bertujuan mencari suatu hari jadi kiamat. Pengetahuan manusia tidak cukup untuk meramalkannya dengan presisi, bulan, tanggal, apalagi jamnya. Kedatangan kiamat mirip dengan takdir kematian seseorang. Kita hanya tahu seseorang yang sakit akan meninggal, tetapi kita tidak pernah tahu kapan detik-detik kematian itu menjemput.

Keberadaan kiamat dan pengetahuan akal manusia tentangnya bertujuan untuk meneguhkan keyakinan bahwa janji Allah dalam Alquran itu benar dan manusia diberi kemampuan untuk melihat lewat rasionalitasnya. Kajian awal dan akhir benda langit, termasuk bintang dan matahari, merupakan bagian dari disiplin ilmu astronomi yang sebagian besar dikaji secara intensif, baik oleh astronom Eropa maupun Amerika. Hal ini juga menunjukkan kebenaran ayat-ayat Alquran. Kebenaran itu tidak hanya dilihat oleh seorang muslim, tapi secara terpisah dapat ditemukan oleh orang-orang nonmuslim. Kebenaran Alquran dan kebenaran rasionalitas yang dicapai oleh ilmuwan Barat itu terpisah oleh waktu selama 14 abad. Kehancuran total tampaknya bermula dari mulai berkontraksinya alam semesta. Kontraksi atau pengerutan alam semesta yang digambarkan dalam model alam semesta “tertutup” mirip dengan gambaran Alquran tentang hari kehancuran semesta:

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ۝ وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ۝

Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 1-2).

Ayat ini mungkin menggambarkan kejadian ketika alam semesta mulai mengerut. Ketika itulah galaksi-galaksi mulai saling mendekat dan bintang-bintang, termasuk tata surya, saling bertabrakan atau menimpa satu sama lain. Alam semesta makin mengecil dan akhirnya semua materi di dalamnya akan runtuh kembali menjadi satu kesatuan seperti pada awal penciptaannya. Inilah yang disebut Big Crunch (keruntuhan besar) sebagai kebalikan dari Big Bang, ledakan besar saat penciptaan alam semesta. Kejadian inilah yang digambarkan Allah dalam surah AI-Anbiyā’/21: 104 dengan mengumpamakan pengerutan alam semesta seperti makin mampatnya lembaran kertas yang digulung.

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ۝

 (lngatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-Iembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh Kami akan melaksanakannya. (AIquran, Surah al-Anbiyā’/21: 104)

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu