PRINSIP-PRINSIP UMUM KOSMOLOGI ISLAM

PRINSIP-PRINSIP UMUM KOSMOLOGI ISLAM

Ada kontroversi yang sangat kuat tentang kapan (kira-kira) akan muncul konsepsi Islam yang utuh mengenai alam semesta dan apa yang memicu rumusan konsepsi tersebut. Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa kosmologi Qurani telah dirumuskan sejak dahulu kala dan barangkali merupakan sains yang muncul paling awal dalam Islam. Sementara itu, beberapa cendekiawan lain bersikeras bahwa para filsuf Muslim (falasifah)lah yang -setelah menyerap warisan ilmu Yunani kuno- berupaya merumuskan sebuah konsepsi kosmos yang solid (atas landasan rasional dan astronomis) dan bisa kompatibel dengan Islam.

Baik Seyyed Hossein Nasr dan Muzaffar Iqbal berpendapat bahwa ilmu kosmologi pertama kali muncul dalam deskripsi wahyu Islam tentang kosmos. Iqbal menganggap ‘Kosmografi Radian’ (al-hay’ah as-saniyah) sebagai ilmu yang muncul sejak masa Nabi dan para sahabatnya. Ilmu tersebut berasal dari ayat-ayat Alquran dan dikonstruksi melalui penafsiran ayat-ayat tersebut. Ia berusaha keras untuk menunjukkan bahwa pendekatan yang ia gunakan dalam ilmu kosmologi tidak hanya berasal dari sumber-sumber Islam awal yang murni, tetapi juga tetap menjadi “teori penting dan penyeimbang ilmu kosmologi Aristotelian yang belakangan masuk ke dalam ranah pemikiran Islam melalui gerakan penerjemahan” (dari sinilah ia berpandangan bahwa ilmu kosmologi yang dirumuskan para filsuf bersifat eksternal dan Aristotelian, tetapi tidak Islami). Iqbal menguatkan pandangannya terhadap Kosmografi Radian dengan menunjuk beberapa ayat Alquran yang mengandung ‘data kosmologis’ dan beberapa hadis yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa penciptaan (seperti, uap air dan lain-lain). Alquran benar-benar memuat banyak informasi tentang benda-benda kosmik, bahkan kosmografi. Alquran bahkan mengandung informasi tentang tujuh langit dan tujuh bumi, menunjukkan Kursi (kursīy) dan Takhta (‘arsy) Ilahi, gunung kosmik (qāf), belum lagi planet-planet dan bintang-bintang. Dalam banyak ayat juga dapat ditemukan hubungan yang jelas antara kosmik dan simbol-simbol metafisik yang berkaitan dengan Tuhan (misalnya dalam ayat mengenai Kursi dan Cahaya). Kelompok Ikhwān As-Shafā -yang pandangan kosmologinya akan kita tinjau secara terperinci pada bagian selanjutnya- mengasosiasikan Kursi dengan cakrawala bintang dan Takhta sebagai langit kesembilan yang memisahkan kerajaan Ilahi dari kosmos materi.

Saya harus memberi penjelasan panjang lebar mengenai ilmu-ilmu kosmologi yang dibangun oleh para filsuf (dan pemikir lainnya dari luar kelompok ortodoks). Untuk itulah, berikut ini saya rangkum prinsip-prinsip kosmologis inti yang dapat disimpulkan dari Alquran:

  • Alam semesta diciptakan Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak dan eksklusif atas penciptaan. Tindakan penciptaan oleh-Nya adalah salah satu karunia dan rahmat.
  • Alam semesta diciptakan karena sebuah tujuan.
  • Keberlangsungan alam semesta dijaga oleh Tuhan.

 

Seperti yang saya tekankan sebelumnya, salah satu kejutan bagi pembaca yang pertama kali mendalami Alquran adalah banyaknya ayat yang memuat informasi seputar alam dan fenomena fisiko Para penafsir bahkan bergembira karena dibandingkan dengan 250 ayat yang berisi perintah agama, terdapat lebih dari 750 ayat (sekitar seperdelapan Kitab) yang mendorong pembaca merenungkan alam (ciptaan Tuhan) dan memanfaatkan pikiran sebaik mungkin untuk memahaminya. Beberapa penulis (seperti Iqbal) berpendapat bahwa penekanan yang demikian kuat inilah yang menjadi alasan utama di balik pengembangan sains dalam Islam.

Pernyataan penting lain yang harus saya sampaikan mengenai kosmologi dalam Alquran adalah bahwa kata khusus bahasa Arab yang berarti alam semesta (kawn) tidak pernah ditemui dalam Alquran. Sebaliknya, Alquran memuat kata-kata lain yang sepadan -meski sebenarnya agak berbeda- yakni: khalq (“penciptaan”), misalnya dalam ayat Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di alas ‘Arsy… (Alquran, Surah Saba’/32: 4), as-samā (wa al-ardh) (“langit dan bumi”), misalnya dalam ayat Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar melapangkannya (Alquran, Surah aż-Żāriyāt/51: 47), atau as-samāwāt (“langit-langit”), misalnya dalam ayat Tidakkah orang-orang yang kafir mengetahui bahwa langit dan bumi pada awalnya adalah dua hal yang menyatu, kemudian Kami pisahkan keduanya? (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 30). Perhatikan bahwa secara kebetulan, kata-kata samā dan samāwāt disebut sekitar 300 kali dalam Alquran. Konsep ‘alam semesta’ sebenarnya juga disimpulkan dari Alquran, khususnya dari ayat yang sering diulang-ulang berikut ini: Sesungguhnya, perintah-Nya ketika Ia menghendaki sesuatu hanyalah berkata; “Jadilah” maka teljadilah ia (Alquran, Surah Yā Sīn/36: 82). Bentuk kata perintah dalam bahasa Arab kun (“jadilah”)sangat berkait erat dengan konsep semesta, yakni kawn yang merupakan sinonim dari wujud.

Alquran, seperti halnya Injil ataupun kitab-kitab suci agama lain, juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan kosmis lain: Mengapa semua hal yang berada di sekitar kita ini diciptakan, dan bagaimana kesesudahan dari itu semua? Jawaban yang diberikan, bagaimanapun, seringkali bersifat religius atau metafisik.

 

Leave a Reply

Close Menu