PRINSIP-PRINSIP ANTROPIK

PRINSIP-PRINSIP ANTROPIK

Sudah lazim diketahui bahwa dalil formal pertama dalam prinsip antropik dikemukakan oleh seorang fisikawan Inggris Brandon Carter pada 1973 di tengah-tengah perayaan ulang tahun ke-500 Copernicus, sosok yang telah menggeser bumi -dan juga manusia- dari posisi sebagai titik pusat alam semesta. Dalil tersebut memang pantas dan benar disebut “formal”. Namun, sebelum Carter, gagasan bahwa keberadaan manusia dengan sendirinya memunculkan persyaratan-persyaratan tertentu bagi teori-teori fisika telah dikemukakan oleh beberapa ilmuwan. Misalnya saja, pada 1957, Robert H. Dicke menulis: “Usia alam semesta ‘saat ini’ bukanlah jumlah yang asal-asalan, tetapi sudah diisyaratkan dalam faktor-faktor biologis [berbagai perubahan dalam nilai-nilai konstanta paling dasar fisika] yang mengecualikan keberadaan manusia dalam pembahasannya”. Bahkan sebelumnya, pada 1903, Alfred Russel Wallace menulis (dalam bukunya, Man’s Place in the Universe) sebagai berikut: “Keberadaan alam semesta yang begitu besar dan kompleks di sekeliling kita barangkali memang sebuah keniscayaan agar tercipta dunia yang setiap detailnya sangat sesuai dengan perkembangan kehidupan yang beraturan dan dengan puncaknya dalam diri manusia.”

Meski sudah ada beberapa tokoh sebelum Carter, ia berjasa merumuskan gagasan-gagasan ini dalam prinsip-prinsip yang jelas. Terlebih lagi, ia menyadari bahwa gagasan penting ini bisa dirumuskan ke dalam dua pernyataan yang pada hakikatnya berbeda yang ia sebut dengan ‘antropik lemah’ dan ‘antropik kuat’. Seperti yang kita akan lihat nanti, versi lemahnya secara umum diterima oleh mayoritas ilmuwan dan filsuf karena dianggap cukup netral dan memiliki kegunaan ilmiah, sedangkan versi kuatnya memicu perdebatan sengit dan kerap dikecam sebagai pernyataan yang bersifat teleologis, teologis, tak berguna, dan bahkan berbahaya. Malangnya lagi, Carter keliru membahasakan prinsip ini dengan kata ‘antropik’, padahal yang ia maksud adalah keharusan adanya pertimbangan terhadap keberadaan makhluk hidup yang sadar dan cerdas, yakni manusia, yang juga merupakan satu-satunya makhluk yang diketahui memiliki dua sifat tersebut di antara seluruh isi alam semesta. Karena itulah, kata sifat dari manusia adalah antropos (anthropos). Banyak juga yang tak memercayai dan menganggap gagasan ini sebagai kebangkitan antroposentrisme pra-Copernicus dan bahkan antroposentrisme keagamaan karena melihat adanya motif keagamaan yang terselubung untuk mengembalikan posisi sentral manusia di alam semesta. Inilah alasan mengapa sejak saat itu, prinsip-prinsip antropik yang lemah dan yang kuat kemudian diikuti dengan rumusan-rumusan lain yang dalam banyak hal berbeda dari rumusan awalnya, mulai dari prinsip kompleksitas hingga prinsip-prinsip misantropik dan tanatotropik.

Prinsip antropik lemah versi Carter umumnya dinyatakan sebagai berikut, “Nilai-nilai yang teramati pada seluruh besaran fisika dan kosmologi tidaklah acak dan membolehkan segala nilai. Nilai-nilai tersebut dibatasi oleh persyaratan sedemikian sehingga beberapa lokasi memungkinkan kehidupan-berbasiskan-karbon berevolusi sehingga alam semesta berusia cukup tua untuk bisa melakukan proses yang demikian.”

Versi ini sering dianggap sebagai sebuah tautologi, yakni pernyataan yang sekadar menegaskan sesuatu yang sudah jelas-jelas benar. Tentu saja, alam semesta dari dulu pastilah sudah seperti itu sehingga menghasilkan kehidupan berbasis karbon yang bisa berevolusi; buktinya, kita sekarang di sini, bukan? Kesan tautologi tersebut sebenarnya disanggah oleh bagian awal pernyataan yang menekankan nilai-nilai yang teramati pada seluruh besaran fisika dan kosmologi, yang-karena persyaratan antropik -tidaklah acak dan sembarangan. Dengan kata lain, ketika seseorang menyusun sebuah teori fisika apa pun, parameter-parameter teori tersebut secara a priori tidaklah mencakup segala jenis nilai, sebab parameternya dibatasi oleh persyaratan di atas. Sebuah contoh sederhana namun bagus tentang hal ini adalah alam semesta yang tidak boleh berusia muda atau belia. Usia alam semesta setidak-tidaknya harus beberapa miliar tahun (karena kehidupan sudah memiliki waktu yang cukup untuk berevolusi, sehingga siapa pun bisa menyelidikinya), dan ukurannya juga tidak mungkin kecil, sebab perluasan alam semesta selama periode tersebut dengan sendirinya akan membuatnya semakin membesar.

Demikian pula, Demaret dan Lambert menduga bahwa karena di planet mana pun hampir mustahil ditemukan kehidupan (untuk mendukung pendapat ini, keduanya merujuk pada ahli biologi evolusi kenamaan, T. Dobzhansky, G. Simpson dan E. Mayr), maka fakta bahwa ada 1022 bintang di alam semesta adalah kenicsayaan statistik bagi mungkin-tidaknya kehidupan muncul di suatu tempat.

Dengan demikian, Prinsip Antropik (PA), bahkan dalam versi lemahnya, bisa menjelaskan mengapa usia alam semesta begitu tua (dibandingkan skala waktu kita) dan ukurannya begitu besar (dibandingkan ukuran kita). Prinsip inijuga menjelaskan mengapa ada begitu banyak bintang dan planet di galaksi dan alam semesta….

Contoh lain kegunaan ilmiah WAP adalah temuan Fred Hoyle pada 1953 bahwa inti atom karbon-12 pastilah memiliki level energi eksitasi yang khas sekitar 7,7 MeV. Tanpa level eksitasi energi khusus yang demikian, produksi karbon dari helium (reaksi tripel-alfa) akan berjalan terlalu lamban (tidak resonan), sehingga karbon yang dihasilkan pada bintang-bintang akan sangat sedikit. Namun, menurut Hoyle, karena kita tetap berada di sini (alam semesta), reaksi tripel-alfa tersebut pastilah resonan, sehingga level eksitasi energi khusus karbon berada di sekitar 7,7 MeV, dan itu dikonfirmasi oleh eksperimen mutakhir di angka 7,644 MeV. Begitu juga, produksi oksigen oleh helium dan karbon seharusnya tidak resonan karena jika tidak demikian, karbon yang tersisa di kosmos akan sangat sedikit sehingga tidak mungkin terjadi kompleksitas atau kehidupan. Selain itu, diketahui pula bahwa level energi oksigen adalah 7,126 MeV, yang berarti berada di bawah nilai standar yang dapat membuat reaksi resonan. Yang jelas dan pasti, penalaran PA memiliki kegunaan ilmiah.

Sementara itu, Prinsip Antropik Kuat (PAK) Carter umumnya dinyatakan sebagai berikut: ‘Alam semesta pastilah memiliki sifat-sifat yang memungkinkan berkembangnya kehidupan di berbagai tahap sejarahnya”. Barrow dan Tipler mengurai versi yang menjadi perdebatan ini dengan menyajikan tiga gagasan sesuai dengan latar belakang/agenda filosofis dan metafisika seseorang:

PAK-1: “Ada satu kemungkinan bahwa sebuah alam semesta ‘dirancang’ dengan tujuan menghasilkan ‘pengamat’”. Inilah tafsiran ‘teologis’ yang ditentang keras oleh para ilmuwan dan pemikir materialistis.

PAK-2: “Keberadaan pengamat adalah niscaya bagi terwujudnya alam semesta”. Inilah tafsiran mekanika kuantum (‘pengamat berperan penting dalam mewujudkan realitas.’)

PAK-3 : “Keberadaan sekumpulan alam-alam semesta lain adalah niscaya bagi keberadaan alam semesta kita”. Inilah tafsiran alam semesta jamak (multiverse)

Selain itu, masih ada beberapa rumusan lain dalam prinsip antropik. Ketika Barrow dan Tipler menerbitkan buku luar biasa tentang topik ini, keduanya menyajikan satu versi menarik dari prinsip antropik yang disebut dengan prinsip antropik “final” berikut: “Harus ada inteligensi pengolah informasi yang cerdas di alam semesta; dan begitu inteligensi itu ada, ia tidak akan pernah mati.” Versi ini mengarahkan prinsip antropik kuat kepada kesimpulan (teleo)logisnya: Jika Manusia (atau spesies lebih maju di suatu tempat di alam semesta) adalah “tujuan” alam semesta, sangat tidak masuk akal jika tujuan tersebut bakal lenyap di kemudian hari. Sebaliknya, tujuan tersebut harus tetap tumbuh, berkembang dan menjadi semakin kuat sehingga bisa mengendalikan segala hal-di titik Omega, sebuah gagasan yang dapat diserupakan dengan gagasan Teilhard de Chardin.

Ada juga prinsip antropik dengan versi-versi lain yang juga menarik. Dalam buku terbarunya, Jean Staune mengidentifikasi sembilan dalil. Beberapa di antaranya yang paling menonjol adalah sebagai berikut:

  • “Prinsip antropik sejati” (sebutan Staune untuk karya Gonzales dan Richards): Bumi adalah tempat terbaik bagi kemunculan akal yang mampu memahami alam semesta.
  • “Prinsip antropik super kuat” (sebutan Staune untuk dirinya sendiri): Alam semesta sudah disesuaikan sebelumnya bukan hanya bagi keberadaan makhluk cerdas seperti kita, tetapi juga bagi makhluk yang lebih unggul dari kita.
  • “Prinsip antropik tanatotropik” (sebutan Staune untuk Jean-Pierre Petit): Kompleksitas bukanlah sebuah solusi yang dapat dilakukan; kehancuran peradaban merupakan mekanisme intrinsik di alam semesta.

Versi yang tidak dikutip oleh Staune adalah ‘Prinsip Antropik Moderat’ Polkinghorne. Versi ini “memandang keberadaan bersyarat alam semesta sebagai fakta menarik yang perlu dijelaskan.” Terakhir, perlu saya tambahkan di sini bahwa prinsip antropik berhasil memikat banyak pemikir non-sains, penulis, dan filsuf. Vac1av Havel, misalnya, mengungkapkan ketertarikannya sebagai berikut:

Alam semesta merupakan sebuah peristiwa dan sekaligus sebuah kisah yang unik, dan sejauh ini kita adalah sisi unik dari kisah itu. Akan tetapi, peristiwa unik dan kisah unik adalah ranah puisi, bukan ranah sains. Dengan rumusan Prinsip Kosmologi, Antropik, sains berada di perbatasan antara kaidah dan kisah, serta antara sains dan mitos. Di perbatasan tersebut, sains justru berpaling kembali kepada manusia dan menawarkan sejenis integritas yang lama hilang dalam bentuk yang baru. Sains melakukan itu dengan kembali melabuhkan manusia ke dalam kosmos.

 

Leave a Reply

Close Menu