POLA HIDUP PRA-PERTANIAN

POLA HIDUP PRA-PERTANIAN

Sekitar 12.000 tahun lalu populasi manusia sudah menyebar dan menempati bagian bumi yang dapat ditinggali, termasuk Benua Australia dan Amerika. Dengan perkembangan kebudayaan dan teknologi manusia terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan mata pencaharian sebagai pemburu binatang besar dan pengumpul berbagai bagian tumbuhan, jasad renik, dan binatang kecil, terutama serangga. Dengan cara ini mereka dapat bertahan hidup, baik mereka yang tinggal di kawasan dingin di Arktik, kawasan subtropis, maupun kawasan tropis.

Inti dari kehidupan ekonomi pemburu-pengumpul adalah eksploitasi banyak sumber secara merata. Mereka tidak bergantung hanya pada satu atau beberapa sumber daya. Kelompok kecil masyarakat dapat bergerak cepat dan mengkonsumsi apa pun yang ada di sekitarnya. Mereka berusaha beradaptasi dengan apa pun yang ditawarkan lingkungannya; menggunakan apa pun yang tersedia di sana. Mereka memburu binatang atau mengumpulkan tumbuhan apa pun yang tersedia di lingkungannya; menyesuaikan diri terhadap kondisi yang dihadapi. Pada kawasan tropis dan sedang, mereka memanfaatkan keanekaragaman jenis tumbuhan dan binatang yang tinggi sebagai  sumber makanan, keperluan akan serat, obat, dan keperluan hidup lainnya. Tidak mengagetkan bila ditemukan bahwa kelompok yang demikian memanfaatkan ratusan jenis tumbuhan dan binatang untuk keperluan hidupnya. Di kawasan dingin bersalju, masyarakat lebih didorong oleh iklim untuk menjadi pemburu daripada pengumpul.

Dengan pola hidup yang demikian, para pemburu-pengumpul akan berpindah tempat secara periodik untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada. Umumnya kepindahan disesuaikan dengan musim yang mengatur keberadaan jenis-jenis tumbuhan dan binatang di lokasi tertentu. Kawasan yang luas mutlak dibutuhkan oleh masyarakat dengan pola hidup seperti ini. Pola hidup macam ini tidak menjadi persoalan kala itu, karena Iahan masih sangat luas, sedangkan jumlah populasi yang memanfaatkannya masih sangat sedikit. Lebih-lebih, tidak ada kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pola hidup macam ini.

Para arkeolog memperkirakan aktivitas masyarakat pemburu-pengumpul di kawasan beriklim subtropis dan tropis saat itu memperoleh sekitar 75—80% dari total kalori yang diperlukannya dari berburu. Kaum wanita pada masa itu bertugas sebagai pengumpul, sedangkan kaum lelaki mengambil spesialisasi berburu. Mereka pada umumnya memahami dan mengenal betul kawasannya, mulai dari sumber makanan, bahaya, hingga kemungkinan-kemungkinan yang dapat timbul dari kawasan hidupnya. Pengenalan ini bersifat komunal; diketahui dan dibagi di antara semua anggota kelompok tanpa membedakan jenis kelamin.

Masyarakat pemburu-pengumpul pada umumnya mengonsumsi jenis diet yang luas. Mereka hidup berkelompok hingga 250-an jiwa per kelompok. Perkawinan antarkelompok biasa terjadi, namun persinggungan antarkelompok dilakukan dengan pertemanan yang hati-hati. Pada kelompok nomaden ini kemungkinan pengembangan keahlian selain berburu sangat kecil. Apa yang dipercaya dan diketahui satu orang akan diketahui juga oleh semua anggota kelompoknya. Tidak ada perbedaan status sosial yang jelas dalam masyarakat ini. Aturan yang harus diikuti anggota kelompok umumnya sederhana dan dimengerti bersama. Sangat sulit untuk melakukan kehidupan pribadi seperti dikenal saat ini. Mungkin, masyarakat pemburu-pengumpul saat itu tidak mengenal konsep kehidupan pribadi.

Sekitar 10.000 tahun lalu ketika hidup bercocok tanam mulai dikenal di beberapa bagian dunia, di bagian Iain secara paralel timbul spesialisasi untuk hidup menggembala ternak yang telah didomestikasi atau semi domestikasi.

Pola hidup pastoral lebih dekat kepada pola hidup pemburu-pengumpul ketimbang kepada pola hidup bercocok tanam yang menetap. Keperluan untuk berpindah dan mencari padang rumput yang baik untuk ternak membuat masyarakat ini menjadi pengembara. Pada pola kehidupan macam ini, baik ternak maupun manusia sama-sama sangat terikat dengan musim dalam pergerakan mereka. Hujan dan ketersediaan rumput mengatur kehidupan mereka. Kehidupan pastoral ini cukup mapan sebagaimana kehidupan pemburu-pengumpul.

Kehidupan pastoral berkembang di kawasan yang kurang subur untuk bercocok tanam, dan kadangkala berkembang di kawasan kering. Seringkali kehidupan pastoral dan pertanian saling mengisi di beberapa tempat. Pada kawasan di mana dua pola hidup ini bersinggungan timbullah aktivitas perdagangan di antara mereka. Para petani menjual gandum, perkakas dari besi, dan hasil tenunan, ditukar dengan kulit sapi, bahan wol, daging, atau produk susu dari para penggembala.

Interaksi negatif juga berkembang, yaitu permusuhan antar kedua kelompok: pastoral dan bertani. Kadangkala, dengan pola hidupnya yang nomaden, para penggembala tergoda untuk menguasai kawasan pertanian yang dianggap potensial untuk padang penggembalaan. Demikian pula sebaliknya; para petani bisa jadi tergoda untuk menguasai kawasan penggembalaan yang berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian. Persinggungan dua pola hidup yang berbeda ini akhirnya memunculkan kebiasaan baru di antara mereka: berperang.

Dikutip Dari Tafsir ‘Ilmi

 

Leave a Reply

Close Menu