POKEMON DAN FATWA EVOLUSI

POKEMON DAN FATWA EVOLUSI

Pada tahun 2000-an, demam Pokemon melanda dunia. Awalnya, ia muncul sebagai tokoh kartun khayal anak-anak dari Jepang, tetapi kemudian berubah menjadi bisnis komersial di banyak lini, termasuk mainan, boneka, dan permainan kartu. Dalam permainan semacam itu, anak-anak biasanya membeli kartu-kartu yang mewakili satu tokoh/makhluk, sedangkan Pokemon menjadi karakter utama yang menggemaskan dalam rangkaian permainan tersebut. Tiap-tiap karakter memiliki tingkat kekuatan dan kelemahan masing-masing, sehingga mereka bisa “bertanding” dengan karakter-karakter lain yang ada di seluruh dunia. Bagian penting dalam proses ini adalah kemampuan karakter-karakter dalam permainan tersebut untuk berevolusi ke berbagai bentuk dalam spesiesnya dengan menjadi karakterkarakter lain yang membuat mereka bisa bertarung lebih baik.

Pada musim semi tahun 2001, seorang rekan asal Amerika menemui saya dan bertanya mengapa ‘para pemegang otoritas’ Muslim melihat aspek evolusi Pokemon sebagai ancaman sampai-sampai mengharamkan penayangan seri kartun tersebut. Karena belum sekali pun pernah mendengar fatwa tentang permainan ini, saya jawab saja bahwa pasti ada alasan di balik pelarangan itu. Beberapa lama kemudian, saya mendengar khotbah dari seorang imam setempat yang menganggap topik ini penting bagi kaum mukmin. Ia menegaskan bahwa “Pokemon adalah virus budaya Jepang yang dipengaruhi Yahudi”, lalu menyatakan bahwa “Po-ke-mon adalah ungkapan bahasa Jepang yang artinya aku Tuhan’….”

Di tengah hiruk-pikuk perdebatan mengenai Pokemon, saya merasa perlu mencari sendiri tulisan-tulisan tentang topik tersebut dan pengaruh budaya yang diakibatkannya. Saat itulah saya kemudian menemukan potongan berita tentang fatwa yang mengharamkan Pokemon dengan beberapa alasan berikut: alasan pertama dan utama adalah karena Pokemon menyebarkan gagasan evolusi, pergulatan/kompetisi (struggle), dan survival of the fittest (kelangsungan hidup bagi pihak yang paling mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan) ke dalam pikiran anak-anak Muslim. Semua gagasan tersebut dianggap mengancam iman dan akidah mereka. Alasan lainnya adalah: (1) kartun dan permainan tersebut melibatkan khayalan tingkat tinggi yang terlalu menyimpang dari hukum (cara) Tuhan di alam semesta; (2) penekanan berlebihan atas gagasan kompetisi sehingga bisa memberikan pendidikan yang keliru kepada anak-anak; (e) permainan tersebut dengan sembunyi-sembunyi memasukkan simbol-simbol Zionisme, Masonri, dan Sintoisme; (d) terlalu banyak uang dihabiskan untuk kartu-kartu itu, sedangkan transaksi jual beli kartu kerap berubah menjadi judi’ (istilah Syaikh) karena karta-kartu ‘yang keliru’ itu dibeli dengan harga tinggi.

Tidak diragukan lagi bahwa gagasan evolusi biologis merupakan halangan kultural yang besar di Dunia Muslim saat ini. Urusan boleh tidaknya kartun atau permainan kartu diputuskan atas dasar pola pikir tersebut. Muslim yang sangat terdidik pun menyuarakan pandangan negatif terhadap evolusi, seperti yang akan kita lihat nanti. Persoalannya adalah ada jurang yang lebar antara pengertian evolusi yang benar dan kesalahan konsepsi yang telanjur diterima luas dan bersemayam di pikiran khalayak. Alasan ini dan beberapa alasan lain mendorong saya untuk membahas (berbagai) teori evolusi dan pembuktiannya secara panjang lebar dalam tuisan ini. Untuk itu, sebagai langkah awal, saya akan terlebih dahulu membeberkan informasi mengenai sikap-sikap Muslim terhadap evolusi, baik dari hasil survei di lapangan maupun dalam tinjauan-tinjauan literatur terkait.

Selama musim dingin tahun 2007, saya melakukan survei seputar isu Sains dan Agama di kalangan dosen dan mahasiswa universitas tempat saya bekerja, the American University of Sharjah, di Uni Emirat Arab. Responden survei hanya terdiri dari 100 mahasiswa dan 100 dosen (sekitar sepertiga dari jumlah seluruh dosen), sehingga hasil-hasilnya mungkin saja memiliki nilai signifikansi yang tidak terlalu besar secara statistik. Meski demikian, hasil-hasil survei tersebut tetap saja bisa memberi indikasi yang tepat mengenai pandangan para Muslim terdidik seputar isu-isu tersebut saat ini. Responden survei juga melibatkan segelintir non-Muslim untuk menjadi pembanding menarik bagi rekan-rekan Muslim mereka. Hasil keseluruhan survei dan analisis disajikan dalam Lampiran C. Untuk saat ini, saya hanya akan membahas sekilas beberapa persoalan terkait evolusi.

  • Mengenai teori evolusi Darwin: 62 persen responden memilih “teori ini tak terbukti, dan saya tidak memercayainya”; 25 persen memilih “teori ini benar, tetapi tidak berlaku pada manusia”; dan hanya 13 persen yang memilih “kebenaran teori ini disokong kuat oleh bukti.”
  • Mengenai evolusi manusia: 56 persen memilih “manusia tidak berevolusi dari spesies-spesies terdahulu apa pun; 32 persen memilih “manusia hanya berevolusi sebagai manusia, bukan dari binatang”; dan hanya 12 persen yang memilih “faktanya sekarang, manusia benar-benar berevolusi dari spesies-spesies yang terdahulu.”
  • Mengenai pengajaran teori evolusi: 24 persen mengatakan “evolusi bertentangan dengan agama, sehingga seharusnya tidak diajarkan”; 58 persen menjawab “seharusnya evolusi diajarkan, tapi ‘sebagai teori saja”‘; dan hanya 18 persen saja yang memilih “seharusnya evolusi diajarkan sebagai sebuah teori yang kukuh.”

Bagi seorang pembaca Barat, pandangan dan sikap sangat negatif terhadap evolusi barangkali tidak akan terlalu mengherankan. Apalagi, survei-survei serupa (setidaknya di kalangan khalayak umum) di Amerika Serikat mengungkapkan tingkat ketakpercayaan atau penolakan yang sama terhadap teori evolusi. Bahkan, sudah banyak jajak pendapat seputar sikap khalayak terhadap evolusi di Amerika Serikat yang telah dilakukan selama 15 tahun terakhir. Hasil berbagai upaya tersebut terbilang konsisten, yakni sebagai berikut: 45-50 persen orang meyakini bahwa manusia dan semua spesies telah diciptakan dalam bentuknya yang sekarang ini; sekitar 30 persen meyakini bahwa evolusi pernah terjadi, tetapi Tuhan-Iah yang menjalankan proses itu (evolusi teistik); sekitar 15 persen meyakini evolusi pernah terjadi tanpa adanya peran dan campur tangan ilahi apa pun. Survei-survei tersebut juga kerap mengajukan pertanyaan lain kepada publik mengenai perlu tidaknya evolusi atau kreasionisme (atau keduanya) diajarkan di sekolah-sekolah negeri. Lagi-Iagi, hasil dari berbagai survei yang dilakukan terbilang konsisten dan menunjukkan besarnya keinginan khalayak agar keduanya diajarkan. Yang terakhir namun tak kalah penting, jajak pendapat Gallup pada 1991 menunjukkan hasil yang sesuai dengan tingkat pendidikan (dan pendapatan) para responden. Jajak pendapat tersebut mengungkapkan bahwa di kalangan lulusan sarjana, 2,5 persen menganut pandangan kreasionis, 54 persen menganut pandangan evolusi teistik, dan 16,5 persen mendukung evolusi materialistis. Selanjutnya, jajak pendapat serupa yang kembali dilakukan Gallup pada 1997 menunjukkan bahwa di kalangan para saintis, hanya 5 persen yang mendukung pandangan kreasionis, 40 persen menganut pandangan evolusi teistik, dan 55 persen meneguhkan evolusi naturalistis. Sementara itu di kalangan khalayak umum, 55 persen mendukung pandangan kreasionis, 27 persen evolusi teistik, dan 13 persen evolusi naturalistis. Selain itu, sebuah survei pada 2007 menunjukkan bahwa 74 persen penyandang gelar S2 meyakini kebenaran evolusi, sementara sebuah survei lain di kalangan dokter Amerika Serikat pada 2005 mengungkap bahwa 34 persen responden lebih mendukung Rancangan Cerdas (ID) dibandingkan evolusi standar, dan 73 persen dokter Muslim mendukung ID.

Perbedaan utama antara hasil-hasil survei yang dilakukan di Amerika Serikat dan survei di Dunia Muslim adalah kecenderungan sebagian besar kaum elite terdidik di Amerika Serikat terhadap pro-evolusi. Dalam survei yang saya lakukan, baik dosen maupun mahasiswa Muslim sama-sama memiliki respons negatif terhadap evolusi–sikap yang tak jauh berbeda dari respons masyarakat kebanyakan (sebagaimana tampak dari survei-survei terbaru).

Begitu sensitifnya isu evolusi dalam budaya Muslim, sehingga sejumlah fatwa secara khusus dikeluarkan untuk isu ini. Siapa pun tentu saja boleh menerima kritik-kritik filosofis dan teologis tentang teori ini (atau paling kurang penafsirannya). Akan tetapi, sayangnya, sedikit sekali digelar diskusi ilmiah seputar kekuatan atau kelemahan teori ini. Diskusi-diskusi yang ada hanya dipenuhi oleh kecaman keagamaan (yang membabi-buta).

Ketika mengetik kata kunci Islam and Evolution dalam pencarian internet, yang banyak bermunculan justru adalah berbagai fatwa dengan judul yang sama, tidak terkecuali laman-laman serius seperti IslamOnline. Misalnya saja, pada bagian “Ask about Islam” di laman penting tersebut, kita akan menjumpai pertanyaan, “Bolehkah aku meyakini evolusi?” dan di bagian “Kumpulan Fatwa” terdapat beberapa pertanyaan berikut, “Bagaimana sikap Islam atas teori evolusi?” dan ‘aku mengimani Adam dan Hawa sebagai sumber kehidupan manusia. Namun, bagaimana dengan teori para ilmuwan  bahwa kita semua berasal dari kera. Sudahkah mereka membuktikan teori ini?” Semua pertanyaan tersebut biasanya dijawab oleh para ulama (seperti mantan presiden the Islamic Society of North America) seperti berikut:

  • “Kita tidak boleh menerima teori -ingat bahwa ini hanyalah sebuah teori, bukan sebuah fakta- yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup berasal dari materi, dan manusia merupakan hasil evolusi dari makhluk hidup yang lebih rendah”;
  • “Darwinisme terbukti hanyalah sebuah dogma belaka, jauh dari kemungkinan (akan kebenaran) dan merupakari sebuah fakta yang sama sekali tidak ilmiah”;
  • “Apa yang ingin dibuktikan teori Darwin sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran suci Islam”;
  • “Klaim bahwa manusia berevolusi dari spesies di luar manusia adalah kafir, sekalipun kita menisbatkan prosesnya kepada Allah atau kepada ‘alam’, karena klaim ini meniadakan kebenaran penciptaan Adam yang begitu istimewa sebagaimana firman Allah dalam Alquran.”

Dari kutipan-kutipan di atas, bisa ditarik tiga gagasan penting sebagai berikut: (1) Dalam pandangan yang paling baik, evolusi adalah sebuah ‘teori’, sedangkan dalam pandangan yang paling buruk, ia adalah sebuah dogma. Ia tidak seharusnya dianggap sebagai fakta yang kuat tentang alam; (2) manusia itu istimewa, dan mustahil Muslim menerima gagasan bahwa manusia berevolusi dari nenek-moyang yang bukan manusia; (3) fenomena apa pun yang terjadi di alam (misalnya, transformasi atau mutasi) harus dilihat sebagai tindakan yang disebabkan dan dipengaruhi oleh Tuhan, bukan sebagai kejadian naturalistis dan acak.

Gagasan pertama jelas-jelas keliru, seperti yang akan saya tunjukkan nanti dalam bab ini. Pandangan tersebut tampaknya berpangkal dari pengabaian ganda terhadap: (1) fakta-fakta yang sudah diketahui tentang spesies-spesies di masa lalu dan di masa depan dan (2) makna istilah ‘teori’-yang merupakan lawan dari pengetahuan umum (popular understanding) -menandakan deskripsi umum yang diterima secara luas seputar beberapa bagian alam (seperti, orbit planet atau lempeng tektonik bumi, dan seterusnya). Gagasan kedua juga berseberangan dengan pengetahuan saat ini. Pada bagian selanjutnya, saya akan menunjukkan alasan mengapa kita harus menerima fakta bahwa manusia berevolusi dari spesies-spesies yang lebih rendah, dan semua spesies berangkat dari satu titik tolak yang sama. Selain itu, saya juga akan menunjukkan bagaimana pemahaman nonliteral terhadap Wahyu dalam agama Islam ternyata bersikap akomodatif terhadap fakta-fakta ilmiah. Adapun gagasan ketiga bahwa evolusi dan transformasil mutasi spesies tidak boleh dilihat sebagai hal yang asal-asalan dan tanpa tujuan, terbilang jauh lebih baik dibandingkan dua sebelumnya. Gagasan inilah yang saat ini disebut dengan ‘evolusi teistik’, dan selayaknya mendapat dukungan Muslim seperti para ilmuwan dan pemikir non-Muslim yang lebih dahulu memercayainya. Sejatinya, meskipun pendekatan ini tidak menolak hasil penelitian ilmiah apa pun mengenai evolusi (seperti rekam fosil, bentuk-bentuk perantara, mutasi yang berujung pada munculnya ciri-ciri khas baru, dan karenanya muncul spesies-spesies baru, begitu seterusnya), ia masih menganut gagasan tentang penciptaan ilahi, meski samar-samar.

Isu-isu seputar evolusi di atas juga dijumpai dalam pembahasan-pembahasan yang lebih formal di kalangan kaum intelektual Muslim. Dalam sebuah kuliah tentang evolusi satu dekade silam Zaghloul An-Najjar berupaya keras mengambil sikap moderat dalam diskursus seputar teori tersebut. Menurutnya, kemunculan gagasan tersebut dengan bentuk yang berbeda-beda dalam peradaban Mesir kuno, Yunani, dan Hindu merupakan petanda bahwa. iblis sedang “membisiki telinga orang-orang agar mengingkari kehadiran pencipta”. An-Najjar menegaskan bahwa meskipun “kita harus bersikap kritis terhadap terhadap teori tersebut, berbagai aspek di dalamya yang sudah terbukti benar melalui pengamatan tetap harus diterima”. Karena itu ia menerima ‘gradualisme penciptaan’ dengan menegaskan bahwa “segala sesuatu tidaklah diciptakan sekaligus, [sekalipun] AIlah memiliki kuasa untuk mengatakan Jadilah, maka jadilah“. Untuk mendukung pendapatnya ini, ia memberi bukti dari rekam geologis. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya melihat ‘tindakan’ sang pencipta dalam hal ini melalui kalimatnya berikut: “Menganggap tiadanya arahan ilahi dalam evolusi dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih tinggi jelas-jelas adalah sebuah kekeliruan”. Ia juga menambahkan, “pendapat ini tidak ilmiah”, meskipun komentar An-Najjar ini sudah tentu tanpa landasan apa pun.

Meski demikian, dapat dipahami dengan mudah bahwa An-Najjar tidak benar-benar menerima evolusi, termasuk juga versi teistiknya. Ia sebenarnya hanya menerima mikroevolusi, yaitu evolusi setiap spesies yang terjadi secara terpisah dan sendiri-sendiri. Misalnya, anjing atau kuda mungkin mengalami perubahan dari waktu ke waktu, tetapi tak ada transformasi dari satu spesies ke spesies baru (melalui mutasi yang berulang-ulang). Terkait dengan hal ini, ia mengatakan, “Bukankah ini menyiratkan bahwa bentuk-bentuk kehidupan telah berkembang dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari yang lebih sederhana ke yang lebih rumit? Tidak”. Mengapa? Karena menurutnya, tidak ada rekam fosilnya. Pada bagian selanjutnya, saya akan membuktikan kekeliruan pendapatnya ini.

Terakhir, An-Najjar menentang keras gagasan evolusi manusia yang berasal dari bentuk-bentuk atau spesies-spesies yang lebih primitif. Ia menyitir buku Björg Kurten, Not From the Apes (transkrip kuliah menuliskan namanya Curtin, sedangkan An-Najjar menyebutnya sebagai “antropolog dan geolog termasyhur yang benar-benar mendalami bekas-bekas organik Manusia”) yang mengemukakan bahwa “selama penelitiannya, ia telah mengamati dan menemukan bahwa rekam-rekam tertua manusia di muka bumi usianya jauh lebih tua dibandingkan rekam-rekam tertua kera di muka bumi. Meskipun ada hubungan antara keduanya, keralah sebenarnya yang berasal dari manusia, bukan sebaliknya”.

An-Najjar menjelaskan bahwa menurut paleontologi Swedia itu, “Manusia muncul tiba-tiba di planet ini dalam rentang waktu yang sangat singkat”. Jadi, dosen tersebut berkesimpulan, “Manusia tidak termasuk dalam skema umum ini; ia tercipta secara terpisah dan tidak bersangkut paut dengan proses [evolusi]”. Saya tidak sempat mengecek buku yang dimaksud, tetapi saya berhasil mendapat keterangan dari biografi Kurten. Dalam biografi tersebut dikatakan bahwa ia merupakan “seorang pelopor gerakan ilmiah penting yang memadukan teori Darwin dengan kajian-kajian empiris tentang fosil-fosil vertebrata”. Penelusuran terhadap daftar buku-bukunya (yang membuatnya dianugerahi Kalinga Award oleh UNESCO) juga cukup membuat saya yakin bahwa Kurten pastilah seorang kreasionis. Mengenai judul buku Kurten yang disebut di atas, sebuah tinjauan menganggapnya sebagai ‘Judul yang menipu”.

Seorang penulis Muslim Amerika, Nuh H. M. Keller, juga berupaya bersikap kritis namun moderat, terhadap evolusi. Upayanya ini tidak mudah, apalagi bagi orang yang tidak tahu banyak soal teori evolusi, prinsipnya, mekanismenya, dan hasilnya -sebagaimana yang baru saja kita lihat. Mula-mula, Keller menyerang dasar evolusi dengan menganggapnya tak bisa difalsifikasi, sehingga tidak bernilai ilmiah: ‘jika teori evolusi tidaklah ilmiah, lalu apa sebenarnya evolusi itu? Menurut saya, evolusi hanyalah penafsiran manusia, sebuah upaya, sebuah ketekunan, dan sebuah bacaan”. (Tanpa perlu dikatakan, serangan ini jelas-jelas keliru). Kemudian, seperti hanya An-Najjar, ia lantas menerima makroevolusi (yang diperkuat dengan kuda biakan, merpati, tanaman hibrida yang berguna, dan sebagainya) dan mengkajinya-minimal-dari sudut pandang teologis: “Mengenai evolusi, klaim pengetahuan bahwa Allah menciptakan jenis wujud dari jenis lain pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang mustahil karena tidak ada pertentangan di dalamnya. Saya rasa, kita memiliki dua perkara yang berbeda di sini, yakni tentang manusia dan tentang semua makhluk lainnya”.

Lagi-Iagi, kita mendapati pembedaan yang tegas ini ketika dalam penciptaan manusia yang berbeda dengan penciptaan makhluk lain, dan inilah alasan mengapa evolusi teistik diterima: “Saya rasa, memercayai alih-bentuk makroevolusi dan variasi spesies-spesies di luar manusia bukanlah kekufuran (kufr) atau syirik, kecuali apabila disertai keyakinan bahwa transformasi tersebut terjadi melalui mutasi acak dan seleksi alam serta tak memiliki hubungan sebab-akibat dengan kehendak Allah. Dari sudut pandang tauhid, tak ada sesuatu yang terjadi ‘secara acak’, dan tak ada yang namanya ‘alam otonom'”

Dari semua contoh di atas, jelas ada variasi pemahaman dan sikap terkait dengan evolusi dalam lanskap kultur dan teologi Islam. Posisi Muslim terkait wacana ini benar-benar beragam.

Leave a Reply

Close Menu