POHON TERLARANG UNTUK ADAM

POHON TERLARANG UNTUK ADAM

Ada tiga ayat dalam Alquran yang membicarakan larangan bagi Adam untuk mendekati pohon yang satu ini. Pohon macam apakah itu, sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan. Alquran tidak memberi penjelasan apa pun terhadapnya, tidak pula hadis Nabi. Ada yang menyebutnya pohon Khuldi seperti tersebut dalam Surah Ṭāhā/20: 120. Hanya saja Khuldi adalah nama pemberian setan. Pohon itu dinamakan Syajarah al-Khuld (pohon kekekalan), karena menurut setan, siapa saja yang memakan buahnya akan kekal di surga dan tidak akan mati.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ۝

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 35)

وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ۝ فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ۝ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ۝ فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Dan (Allah berfirman), “Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini bena-rbenar termasuk para penasihatmu,” dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7:19-22)

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ۝

Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Alquran, Surah Ṭāhā/20: 120)

 

Pohon yang Terbakar saat Pengukuhan Musa sebagai Nabi

Setelah Musa menyelesaikan perjanjian dengan Syu’aib, ia bersama keluarganya berangkat dengan membawa sejumlah kambing pemberian mertuanya itu menuju Gurun Sinai. Pada suatu malam yang gelap dan dingin, tibalah mereka di suatu tempat. Untuk mengusir dingin Musa berusaha menyalakan api. Berkalikali ia berusaha, berkali-kali itu pula ia gagal; membuatnya terheran-heran. Tiba-tiba di kejauhan ia melihat nyala api; ia mendekatinya dan mendengar suara Allah di sana. Di tempat dan saat itulah Musa dikukuhkan menjadi rasul Allah. Kisah ini dapat kita temukan dalam ayat-ayat berikut.

فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِن جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّي آتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ۝ فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِن شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ۝

Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan dia berangkat dengan keluarganya, dia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan. Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam! (Alquran, Surah al-Qaa/28: 29-30)

إِذْ رَأَىٰ نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّي آتِيكُم مِّنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى۝

Ketika dia (Musa) melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.” (Alquran, Surah āhā/20: 10)

إِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُم مِّنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُم بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَّعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ۝

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya, “Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (Obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang (menghangatkan badan dekat api).” (Alquran, Surah an-Naml/27: 7)

 

Pohon Bai‘at ur Ridwān

Pada Zulkaidah tahun 6 Hijriyah, Nabi Muḥammad‎ beserta para sahabatnya hendak mengunjungi Mekah untuk melakukan umrah dan menjumpai sanak saudara masing-masing yang telah lama mereka tinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah, beliau berhenti dan mengutus ‘Uṡmān bin ‘Affān ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum muslimin kepada tetua Mekah. Lama dinanti, ‎‘Uṡmān tidak kunjung muncul karena disandera kaum musyrik. Pada saat yang demikian tersiarlah kabar bahwa ‎‘Uṡmān telah dibunuh. Karena itu Nabi meminta kaum muslimin untuk melakukan bai‘at (janji setia) kepada beliau.

Mereka pun menyatakan janji setia kepada Nabi; janji untuk berperang bersama Rasulullah melawan kaum Quraisy sampai tetes darah terakhir. Bai‘at‎ ini mendapat rida dari Allah sebagaimana terabadikan dalam Surah al-Fatḥ/48: 18, dan karenanya baiat itu dinamakan Bai‘atur Ridwān. Bai‘at ‎ini membuat gentar kaum musyrik sehingga mereka pun melepaskan ‎‘Uṡmān dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslim. Perjanjian ini kemudian terkenal dengan nama ul al-Hudaibiyah.

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا۝

Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muḥammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat. (Alquran, Surah al-Fatḥ/48: 18)

 

“Kemenangan yang dekat” yang dimaksud dalam ayat di atas adalah kemenangan kaum muslim atas kaum musyrik pada Perang Khaibar. Muncul dugaan bahwa pohon tempat kaum muslimin melakukan bai‘at tersebut adalah jenis Acacia seyal yang banyak tumbuh di Jazirah Arab. Pohonnya berduri, menjulang antara 6-10 meter, dengan kulit kayu berwarna merah gelap atau hijau pupus. Pohon ini dapat ditemukan dengan mudah dari Mesir hingga Kenya dan bagian barat Senegal. Di gurun Sahara, pohon ini tumbuh di lembah-lembah yang agak lembap. Layaknya jenis Acacia lainnya, jenis ini menghasilkan Gum arabic, semacam polysacharida alami yang menetes dan membeku pada retakan batang. Bagian tertentu pohon ini, misalnya batang luar atau biji, memiliki kandungan tanin mencapai 20%. Menurut catatan Mesir Kuno, kayu pohon ini ternyata biasa masyarakat Mesir gunakan untuk peti mati. Di samping itu, kulit batangnya dapat juga dipakai untuk mengobati desentri dan infeksi kulit akibat bakteri, seperti lepra. Arabic Gum yang dihasilkannya digunakan untuk berbagai maksud, seperti obat perangsang, obat diare, obat infeksi saluran pernapasan, sampai obat untuk beberapa penyakit tulang. Untuk mengobati penyakit yang terakhir ini, termasuk di dalamnya rematik, air rebusan kayu pohon inilah yang dimanfaatkan. Air yang sama juga sering digunakan untuk mencegah demam pada ibu bersalin.

 

Pohon yang Tumbuh di Surga (Ṭūbā)

Menurut sebuah penafsiran, pohon Ṭūbā yang tinggi dan rindang, oleh ayat berikut, dinyatakan sebagai salah satu pohon yang tumbuh di surga.

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ۝

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 29)

 

Satu lagi pohon yang dinyatakan tumbuh di surga, yaitu sidr, sidrah, atau bidara dalam Bahasa Indonesia. Pohon sidr dideskripsikan sebagai pohon yang sangat besar; akarnya di langit ke-6 dan cabang-cabangnya berada di langit ke-7. Banyak ulama percaya pohon sidr adalah pohon yang berada di batas pengetahuan  manusia, yang memisahkan dunia ini dari dunia lain. Pohon sidr ini biasa diasosiasikan dengan pohon Cedar (Inggris), yang bernama latin Cedrus. Salah satu jenis Cedar yang sangat anggun adalah Cedrus libani yang tergolong langka dan dilindungi, dan tumbuh di hutan-hutan Libanon. Pohon sidr dalam kaitannya dengan surga disebutkan dalam ayat berikut.

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ ۝ وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ۝ فِي سِدْرٍ مَّخْضُودٍ۝ وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ۝ وَظِلٍّ مَّمْدُودٍ۝ وَمَاءٍ مَّسْكُوبٍ۝ وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ۝ لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ۝

Dan golongan kanan, siapakah golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir terusmenerus, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya. (Alquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 27-33)

 

Satu riwayat yang disinyalir sebagai hadis menyatakan bahwa Sidr al-Muntahā berbentuk pohon besar dengan ranting dan cabang yang banyak, daun yang berbentuk mirip telinga gajah, dan buah yang serupa guci air dari Hajr. Sedangkan ayat-ayat berikut menggambarkan Sidrah al-Muntahā  berada di tempat yang tertinggi, di atas langit ke-7, yang dikunjungi Nabi Muḥammad‎ ketika mikraj.

وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ۝ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ۝ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ۝ فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ۝ مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ۝ أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ۝ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ۝ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ۝ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ۝ إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ۝ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ۝ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ۝

Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat (pada Muḥammad), lalu bertambah dekat, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (Iagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muḥammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? Dan sungguh, dia (Muḥammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntahā, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muḥammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muḥammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. (Alquran, Surah an-Najm/53: 7-18)

Leave a Reply

Close Menu