POHON SEBAGAI PENA

POHON SEBAGAI PENA

Dalam ayat di bawah ini, Allah membicarakan keagungan, kebesaran, dan kemuliaan, serta nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, dalam bentuk kalimat-kalimat-Nya (kalimat dalam hal ini berarti ilmu dan hikmah-Nya) yang sempurna, yang tidak dapat diketahui dan dihitung secara penuh oleh siapa pun. Menurut riwayat Ibnu ‘Abbās, ayat ini diturunkan terkait peristiwa berikut.

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۝

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Luqmān/31: 27)

Kaum Quraisy berkata kepada kaum yahudi, “Berilah kami satu pertanyaan agar kami bisa menanyakannya kepada lelaki ini (Muḥammad)!” Kaum yahudi menjawab, “Tanyailah dia tentang roh!” Kaum Quraisy lantas menanyakan hal itu, hingga turunlah ayat (yang artinya), “Katakanlah (Muḥammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing. ” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” Kaum yahudi pun bertanya kepada Rasulullah, “Kami telah diberi ilmu yang banyak; kami diberi Taurat, dan barang siapa diberi Taurat maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak!” Lalu Allah menurunkan ayat (yang artinya), “Katakanlah (Muḥammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu…. al-āyah. (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżi , dan al-Hākim dari Ibnu ‘Abbās)

Apa yang ayat di atas bicarakan sangatlah aktual; tentang kebesaran Allah. Walaupun kebesaran Allah tidak kasat mata, namun alam ciptaan Allah yang itu menunjukkan kebesaran-Nya tentu dapat sama-sama kita lihat. Melalui ayat ini Allah menghendaki manusia untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah, tidak saja dari sisi yang bersifat kualitatif, tetapi juga dari sisi yang bersifat kuantitatif.

Ada hal yang bersifat kuantitatif dalam firman Allah di atas, tepatnya dalam penyebutan pohon dan laut. Bila kita mengumpulkan semua pohon yang ada di bumi maka kita akan mendapatkan kayu dalam jumlah miliaran meter kubik. Begitupun air laut; bila dijumlah maka kita akan mendapatkan angka miliaran bahkan triliunan liter, belum Iagi ditambah dengan volume air dari tujuh laut yang lainnya. Andaikata miliaran meter kubik kayu itu dijadikan pena, dan triliunan liter air laut tadi dijadikan tintanya, kemudian kombinasi keduanya digunakan untuk menulis kalimat Allah -ilmu dan hikmah-Nya, yang salah satunya berupa alam semesta— pastilah kalimat Allah itu tidak akan habis ditulis. Betapa tidak, alam semesta ini nyatanya jauh lebih luas daripada apa yang kita ketahui.

Cara yang dipakai untuk menghitung luas alam semesta adalah dengan mengukur jarak antarbenda langit. Ukuran yang dipakai bukan Iagi kilometer ataupun mil, melainkan satuan cahaya; detik cahaya, menit cahaya, jam cahaya, dan tahun cahaya, yang berarti jarak yang dapat ditempuh cahaya dalam 1 detik, 1 menit, 1 jam, dan 1 tahun. Dalam 1 detiknya cahaya dapat berjalan sejauh 300.000 kilometer, yang kemudian dikenal dengan kecepatan cahaya. Dengan demikian, jarak 1 tahun cahaya berarti 1 x 60 x 60 x 24 x 365 x 300.000 kilometer.

Benda langit terdekat dari bumi adalah Hermes, sebuah bongkah batu berjarak 1,25 detik cahaya, diikuti kemudian oleh bulan yang berjarak 1,3 detik cahaya. Inilah jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia, yaitu Neil Armstrong dan astronaut lainnya dengan pesawat Columbia, hingga kini. Jarak antara matahari dan bumi mencapai 8 menit cahaya. Cahaya matahari akan mencapai Merkurius dalam 3,5 menit cahaya, Venus dalam 6 menit, bumi dalam 8 menit, dan Mars dalam 12 menit cahaya. Selanjutnya, dalam 40 menit cahaya matahari tiba di Jupiter, 76 menit di Saturnus, 2,6 jam di Uranus, dan 4 jam di Neptunus. Dengan gambaran sederhana ini terbayang betapa luas tata surya kita yang itu hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Mahabesar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

Matahari tergolong dalam bintang yang disebut bintang tetap. Predikat tetap ini diberikan kepada bintang-bintang yang jika dilihat dari bumi memiliki jarak yang tetap antara satu dengan lainnya pada bola langit. Matahari bukanlah bintang terbesar yang diciptakan Allah. Sebagai bintang, matahari tergolong normal, baik ukuran maupun panas yang dihasilkannya. Ada beberapa bintang lain yang tergolong raksasa. Di antaranya bintang raksasa Betelgeuse yang berdiameter sekitar 2 kali lingkaran yang dibentuk lintasan bumi (16 menit cahaya). Artinya bintang raksasa Betelgeuse berdiameter sekitar 32 menit cahaya. Bintang raksasa lain yang lebih besar adalah Razalgheti yang berdiameter  sekitar 2 jam cahaya, dan Epsilon Aurigae yang berdiameter sekitar 4 jam cahaya.

Bintang terdekat dari tata surya adalah Alpha Centaury yang berjarak 4,3 tahun cahaya. Matahari, Alpha Centaury, dan bintang-bintang raksasa tadi hanya beberapa gelintir bintang dari jutaan bintang yang membentuk gugus yang disebut sistem galaksi Milky Way—Bimasakti. Ada beberapa galaksi lain yang diketahui, seperti Andromeda, galaksi awanama yang juga berbentuk spiral terbuka, 6 galaksi lain yang berbentuk elipsoida, dan 4 galaksi yang tidak begitu teratur bentuknya. Ketiga belas galaksi tersebut membentuk gugus yang disebut supergalaksi atau cluster. Supergalaksi yang beranggotakan 13 galaksi ini diberi bernama Local Group. Local Group itu sendiri masih tergolong supergalaksi kecil. Ada supergalaksi lain yang beranggotakan hingga ribuan galaksi. Jarak antarsupergalaksi sekitar 2 juta tahun cahaya. Jumlah supergalaksi yang dapat ditangkap teropong saat ini sekitar seratus juta buah, belum lagi supergalaksi yang tidak terteropong. Hanya Allah yang tahu jumlah persisnya, karena daya tangkap terjauh teropong tercanggih saat ini hanya sebatas satu miliar tahun cahaya.

Dengan melihat realitas ini terbayang betapa sedikit jumlah pohon yang akan dijadikan pena dan air laut yang dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah, sedangkan alam semesta ini hanyalah secuil dari kalimat Allah itu. Lebih dari itu, baru sebagian kecil saja dari alam semesta ini yang dapat diungkap oleh manusia; banyak sisi lainnya yang hingga kini belum terungkap. Keabsolutan kalimat dan ilmu Allah inilah yang hendak ditegaskan-Nya dalam ayat di atas.

Leave a Reply

Close Menu