PERSPEKTIF KRISTEN TENTANG AGAMA DAN SAINS DAN SIGNIFIKASINYA BAGI PEMIKIRAN MUSLIM MODERN

PERSPEKTIF KRISTEN TENTANG AGAMA DAN SAINS DAN SIGNIFIKASINYA BAGI PEMIKIRAN MUSLIM MODERN

Wacana: Mustansir Mir

Banyak Muslim percaya bahwa konflik historis antara agama dan sains adalah antara agama tertentu (Kristen) dan sains, dan bahwa sementara kristen pernah memiliki hubungan buruk dengan sains, Islam tidak memiliki kekhawatiran terhadap perbenturan semacam itu. Kesimpulan yang dapat ditarik tentang Islam membutuhkan komentar. Pandangan ilmiah modern, yang lahir dari pandangan dunia sekuler dan materialistik dan pada gilirannya memperkuat pandangan dunia tersebut, merupakan sebuah tantangan bagi semua filsafat kehidupan yang menjadikan wujud tertinggi, seperti Tuhan agama-agama teistik, sebagai acuan dasarnya dalam kehidupan, pemikiran dan perilaku. Islam merupakan salah satu agama semcam itu. Dengan demikian, ia menjadi target dari apa yang disebut sebagai kritik saintifik atau malah saintifik yang asumsi fundamentalnya adalahbahwa alam fisik, yang pada prinsipnya tunduk pada pengamatan dan kuantifikasi, merupakan ne plu ultra penyelidikan dan perhatian manusia. Islam berbeda dengan asumsi ini.

Islam memang mengakui bahwa alam fisik sebagaimana kita ketahui memiliki tatanan, stabilitas, dan intergritas, yang menunjukkan bahwa, sebagai akibatnya, ia dapat diamati dan dikuantifikasi. Karena itu, Al-Quran menyebut tatanan, stabilitas, dan intergritas dunia ketika mengatakan wa huwa al-ladzi fi al-sama’i ilahun wa fi al-ardhi ilahu (QS Al-Zukhruf [43]: 84) Dan Dialah Yang Esa, yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi. Namun, Al-Quran juga menyebut dunia sebagai ayat, “tanda” atau bahkan ayat, serangkaian atau keragaman “tanda”. Tentu, “tanda” menunjukkan sesuatu yang lain di luar dirinya yang memiliki hubungan dengannya seperti hubungan alat dengan tujuan. Karena itu, tanda itu sendiri tidak dapat menjadi tujuan dalam dirinya; ada kekurangpastian yang menuntut kesimpulan, ketidak sempurnaan yang menyerukan kesempurnaan. Kesimpulan atau kesempurnaan ini harus dicari di luar tanda itu sendiri.

Ayat-ayat Al-Quran seperti QS Al-Baqarah (2): 64 yang menyebut dunia mengandung begitu banyak tanda, menegaskan bahwa Tuhan yang dikenal dengan Yang Esa dan pemilik sifat-sifat tertentu, adalah realitas tertinggi yang ditunjukkan oleh tanda-tanda alam semesta. Jadi, Tuhan, dan bukan alam fisik, yang menjadi ne plus ultra tidak hanya menjadi penyelidikan dan perhatian manusia, tetapi juga tumpuan ketaatan dan pengabdian manusia: menurut Al-Quran, pengakuan Tuhan sebagai realitas tertinggi tidak hanya mengubah pemahaman teoretis kita tentang alam fisik, tetapi juga meminta dari diri kita jenis respons atau komitmen praktis tertentu. Seruan Al-Quran kepada manusia agar merenungkan alam semesta dan tanda-tanda yang dikandungnya menuntut, sebagai tujuan logisnya, sajdah dan ibadah fasjudu lillahi wa’budu (QS Al-Najm [53]: 62), Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.

Dalam hal ini, kristen memegang pandangan yang pada dasarnya sama dengan pandangan Islam. Kedua agama ini sama-sama memiliki keyakinan terhadap Tuhan personal; terhadap dunia yang eksistensi dan keberlangsungannya tidak hanya bergantung kepada Tuhan, tetapi juga menjadi bukti eksitensi dan pemeliharaannya; terhadap keterlibatan Tuhan dalam membentuk sejarah dan nasib manusia,; dan terhadap kebutuhan penting manusia untuk pasrah kepad kehendak Tuhan. Berdasarkan persamaan-persamaan inilah, kajian terhadap perspektif kristen tentang agama dan sains menjadi relevan bagi Muslim.

Di antara semua agama dunia, kristenlah yang harus berhadapan langsung dengan serangan saintisme. Di dunia kristen, sains modern lahir dan berkembang, dan menurut paradigma kehidupan dan pemikiran kristen Abad pertengahan pula bahwa sains modern harus ditolak dan dikeluarkan. Dalam pertemuan yang sudah lama terjadi antara agama dan sains, para penulis kristen telah melahirkan sejumlah literatur yang luas dan menarik. Islam modern tidak dapat membanggakan kumpulan literatur penting yang membahas masalah-masalah yang timbul dari pertemuan tersebut. Jika dua asumsi yang dikemukakan di atas yakni, bahwa tatangan ilmiah ditunjukkan tidak hanya kepada agama kristen, tetapi juga kepada Islam, dan bahwa ada persamaan esensial antara pandangan dunia kristen dan Islam benar, literatur kristen tentang agama dan sains dapat bernilai bagi para para pemikir Muslim.

Para pemikir Muslim harus meyadari bahwa meskipun sains dan pandagan dunia ilmiah belum melibatkan dan menantang Dunia Islam dengan tingkat frekuensi dan energi seperti keduanya melibatkan dan menantang agama kristen, itu tidak bearti bahwa sains dan pandangan dunia ilmiah tidak mengajukan tantangan kepada Islam. Pertemuan dengan intensitas penuh antara Islam dan sains modern belum terjadi, dan kaum Muslim harus bersiap-siap menghadapinya; dan salam persiapan itu, mereka dapat megambil sejumlah pelajaran penting dari pertemuan kristen  dengan sains. Mungkin ada perintah Al-Quran untuk mengkaji pertemuan ini.

QS Luqman (31), setelah memprediksi bahwa orang-orang Kristen Bizantium, meskipun dikalahkan oleh orang-orang persia dalam suatu perperangan yang kemudian terjadi, akhirnya akan mengalahkan msusuh-musuh mereka, menambahkan: wa yauma’idzin yafrah al-mu’minum (Dan pada hari itu kaum Muslim bergembira). Komentar Al-Quran dilakukan tidak dalam konteks perbedaan doktrinal Kristen-Muslim, tetapi dalam konteks hubungan atau perpaduan pandangan dan kepentingan kristen-Muslim. Kaum Muslim Arabia abad ke-7 merasa bahwa mereka penuh risiko dalam konflik Bizantium-persia dan kaum Muslim modern tidak boleh salah berpikir bahwa mereka juga penuh resiko dalam konflik antara sains dan iman Kristen. Sejumlah penulis modern, dan terutama kristen, telah menekankan pentingnya tiga agama monoteistik untuk menyusun inisatif bersama dalam membendung dan melawan kekuatan materialisme ateistik dan ketidak pastian moral. Seruan ini bukan tanpa manfaat dan, jika diperhatikan, mensyaratkan bahwa penyelidikan kritis yang serius harus dilakukan oleh kaum Muslim, juga yahudi dan kristen, terhadap apa yang disebut saintisme yang kini mewakili pandangan peradaban Barat sekuler yang dominan.

 

PERSPEKTIF KRISTEN: LATAR BELAKANG DAN HAKIKATNYA

Perspektif Kristen tentang agama dan sains muncul dari latar belakang intelektual yang kaya. Para pemikir kristen biasanya memanfaatkan Bibel, otoritas dan sumber kristen Abad pertengahan, untuk mencari gagasan dan pandangan, tetapi masalah substantif yang mereka atasi terjadi di Barat pasca-Renaisme. Latar belakang intelektual yang di dalamnya para pemikir ini menulis, dan yang terhadapnya mereka merespons, meliputi warisan gagasan filosofis, teologis, dan ilmiah. Diantara para pendahulu yang gagasan, sistem pemikiran, dan temuannya dimanfaatkan oleh para penulis ini adalah: astronom Polandia Nicolaus Copernicus (1473-1543), astronom dan fisikawan jerman Johanes Kepler (1571-1630), ilmuwan dan filosofi Italia Galilei (1564-1650), matematikawan dan filosof Prancis Rene Descartes (1596-1650), pemikir inggris John Locke (1632-1740), matematikawan dan ilmuwan serta filosof Inggris Isaac Newton (1642-1747), filosof skotlandia David Hume (1711-1776), naturalis Inggris Charles Darwin (1809-1882), filosof Jerman Immanuel Kant (1724-1804), teolog dan filosof Jerman Friendrich Schleiermacher (1768-1834), matematikawan dan filosof Inggris Alfred North Whitehead (1861-1947), teolog Swiss Karl Barth (1886-1968), dan teolog Jerman Rudolf Bultman (1884-1976).

Di antara gagasan, teori dan konsep yang dibahas adalah: kepelakuan (agency), kausalitas, otonomi, peluang, indeterminasi, kekacauan, empirisisme, rasionalisme, transendensi, penciptaan khusus dan terus menerus, pemeliharaan umum dan khusus, kenosis [doktrin bahwa kristus melepaskan sifat-sifat ketuhanannya agar mengalami penderitaan manusia-penerj. ], reduksionisme, termodinamika, teori kuantum, dan relativitas. Bahkan daftar parsial nama dan masalah ini menunjukkan bahwa literatur kristen tentang pertemuan agama-sains berhadapan dengan sejarah perkembangan intelektual yang beradab-abad lamanya dan, sebagaimana diduga atau malah diharapkan, sangatlah rumit dan penuh nuansa. Yang memberikan literatur ini kedalam lebih jauh adalah fakta bahwa banyak penulis kristen modern memiliki pendidikan yang saksama tidak hanya dalam bidang teologi, tetapi juga dalam sains alam: ini memungkinkan mereka memandang dan menyelidiki interaksi agama dan sains dari sudut yang sangat menguntungkan.

Sesuai dengan keluasaan dan kedalaman literatur ini, sulitah, sekali selama beberapa fase dan telah menyaksikan lahir dan tengelamnya sejumlah metodologi. Hampir tak perlu dikatakan lagi bahwa tidak ada pandangan tunggal dan seperangkat perspektif tunggal kristen tentang hubungan antara agama dan sains; tetapi ada, misalnya, pendekatan konservatif dan liberal. Dapat dimengerti, upaya pertama-tama penulis kristen adalah menolak sksitensi jurang yang tak dapat dijembatani antara sains dan agama kristen, baik dari segi pandangan umum kristen tentang alam maupun dari segi doktrin kristen tertentu, seperti penciptaan dan pemeliharaan. Akan tetapi, sejumlah penulis kristen (terutama pada masa modern), bukannya secara pasif mempertahankan kristen dari serangan sains sekuler, menunjukkan baik secara ilmiah maupun kegamaan bahwa “kemapanan” pandangan saintis tentang alam dan kehidupan sangat tidak akurat. Lebih jauh, mereka menegaskan bahwa ketidakakuratan ini hanya dapat diluruskan melaui pandangan dunia keagamaan. Para penulis ini, sebagaian di antaranya sangat di kenal otoritasnya dalam bidang sains, meletakan konstruksi pada data ilmiah yang secara generik berbeda dengan konstruksi para saintis sekuler; banyak diantara mereka yang didorong oleh riset profesionalnya berkesimpulan bahwa kesesuaian, bukannya konflik, menandai hubungan agama dan sains.

Akan tetapi, para penulis ini tidak begitu saja mengambil pendangan mendukung kesesuaian sains dan agama. Mereka mengakui bahwa baik agama maupun sains membuat klaim kebenaran yang berlawanan dan bahwa konflik seperti itu tidak dapat diharapkan. Pada 1930, dua belas pemikir inggris terkemuka termasuk para saintis semisal Julia Huxley, John S. Haldane, Bronislaw Malinowski, Arthur Eddington, dan agamawan seperti Ernest W. Barnes, Buernett H. Streeter, dan William R. Inge mengikuti sebuah simposium. Laporan ddari simposium ini setahun kemudian diterbitkan dengan judul science and teligion. Kebanyakan pembicara mengekspresikan pendapat bahwa agama dna sains dapat berdampingan secara harmonis jika masing-masing membatasi diri dari pad bidang yang semestinya: sains membahas fakta dan agama berurusan dengan nilai. Namun, Dean Inge mengemukakan pandangan penolakan. Dengan menolak pandangan bahwa tidak ada pertentangan nyata antara sains dan agama, dia mengemukakan:

Jika dengan agama kita maksudkan teologi, dan jika dengan sains kita maksudkan natiralisme, [pandangan tentang tidak adanya konflik] ini tidak benar. Teologi dan naturalisme dua-duanya merupakan teori tentang realitas tertinggi. Keduanya berkompetisi; teolog tidak mungkin puas dengan agama, atau naturalisme dengan sains; dan jika masing-masing bertemu di wilayah terbuka, atau di wilayah lawan, keduanya cenderung saling berperang.

Para penulis kristen modern akan sepakat dengan Dean Inge bahwa klaim yang berlawan tentang realitas oleh sains dan agama memang ada, tetapi mereka akan mengatakan dan ini merupakan sofistikasi pemikiran kristen semenjak masanya klaim-klaim ini secara rasional dapat diatasi berdasarkan alasan yang pada gilirannya akan meragukan intergritas sains atau agama. Dalam bagian keempat dari tulisan ini, kita akan meliat satu atau dua contoh yang mengilustrasikan pendekatan ini.

 

ARAH KAJIAN MUSLIM ATAS KARYA-KARYA KRISTEN TENTANG AGAMA DAN SAINS

Suatu sikap Muslim yang terbuka dan reseptif harus mencirikan studi semcam itu. Karya-karya kristen tentang agama dan sains bertolak dari prinsip-prinsip teistik yang, sebagaimana telah kita lihat, secara garis besar sama-sama dimiliki oleh kristen dan Islam. Sasaran utama kajian Muslim atas karya-karya ini adalah menjadikan karya-karya itu sebagai petunjuk dan perangsang dalam upaya, pertama-tama, menanamkan pemahaman Islam yang autentik tentang hubungan agama-sains dan, kedua, mencanangkan bagaimana metode dan aktivitas ilmiah dapat dintergrasikan ke dalam proses kultural yang lebih besar dalam sebuah masyarakat Islam. Tentu, sikap Muslim terhadap literatur kristen tersebut tidak seperti sikap orang yang berbelanja di supermaket. Sebab, sikap tersebut tidak mempertanyakan mana di antara respons kristen tertentu terhadap tantangan ilmiah yang dapat diadopsi atau diambil alih oleh kaum Muslim. Tidak hanya perjalanan hubugan agama sains berbeda dalam Islam historis dan yang demikian itu karena struktural keyakinan dan perilaku Islam yang berbeda, tetapi ada setiap keserupaan bahwa, di masa depan juga, respons murni Muslim terhadap sains dan pandangan dunia ilmiah akan muncul dari dalam islam dan, dengan mengikuti dorongannya sendiri, akan menempuh jalannya sendiri. Karena itu, pentingn sekali bahwa keterlibatan Muslim terhadap tulisan-tulisan Kristen tentang agama dan sains bersifat simpatik dan kreatif.

Dorongan untuk mendasarkan studi Muslim atas tulisan-tulisan ini dalam sebuah kerangka pemikiran dan penelitian Islam yang semestinya mensyaratkan bahwa studi semacam itu berusaha mengikuit, mengklarifikasi, dan membangun berdasarkan petunjuk dan penekanan yang diambil dari sumber-sumber Islam. Sumber-sumber ini meliputi tidak hanya teks-teks Islam yang agaung dengan Al-Quran sebagai intinya, tetapi juga praktik historis sains oleh individu dan masyaratkat Muslim. Tak dapat disangkal , ini merupakan sebuah proyek raksasa dan berat yang, demi pelaksananya yang ideal, masyarakat kerja penuh dedikasi oleh tim dari sarjana dan pemikiran Muslim yang berkualifikasi selam periode waktu yang panjang. Akan tetapi, terlepas dari tingkat dan cara proyek tersebut dilaksanakan, sebuah komitmen terhadap prinsip-prinsip penafsiran Islam tentang kehidupan dan alam jelas-jelas merupakan suatu syarat mutlak.

Sejumlah penulis kristen tidak hanya berupaya memberikan ruang bagi agama di sebuah dunia yang, jika berdasarkan landasan ilmiah yang tegas, menolak eksistensi wujud ilhai, tetapi juga terus menegakkan validitas doktrin tertentu dan khas kristen semacam trinitas. Tak perlu dikatakan lagi, kaum Muslim tidak banyak tertarik dalam mengikuti alur argumen seperti itu; bukan hanya tertarik doktrin seperti itu tidak islami, melainkan juga karena upaya mengesahkan doktrin  semcam itu sesuai basis ilmiah membuat kita keluar dari lingkup persoalan yang semestinya. Semikian pula, kaum Muslim tidak perlu mencari landasan ilmiah bagi keyakinan tertentu dalam formulasi khusus Islam keyakinan kepada malaikat, misalnya. Ini menimbulkan masalah seberapa jauh wahyu dan akal dapat berperan sebagai sumber pengetahuan, dan masalah ini berada di luar ruang lingkup penelitian kita.

Banyak pemikiran kristen awal tentang agama dan sains dikembangkan yang berawal pada kira-kira pertengahan abad ke-19 ketika Gereja Roma, menggunakan ungkapan Ted Peters “merasa terkepung”. Pemikiran kristen telah berlangsung lama semenjak pertengahan abad ke-19, tetapi kaum Muslim harus berhati-hati untuk tidak menjadi korban bagi metalitas terkepung yang serupa. Dalam hal tertentu , metalitas ini merupakan produk dari kebutuhan akanpenyelesaian, jawaban-jawaban tegas yang dicapai secara terburu-buru. Solusi-solusi penting , yang pasti atau tentatif, dicapai setelah pertimbangan yang mungkin atau pasti memakan waktu. Dorongan untuk menghairi dengan solusi yang cepat dan benar-benar matang, dan kecenderungan untuk mengabaikan solusi-solusi seperti itu sebagai kebenaran yang pasti, harus ditolak. Masa persiapan harus dilakukan, dan masa ini harus digunakan untuk meneliti sumber-sumber Muslim dan kristen dan lainnya untuk mencari jawaban. “Upaya itu juga melayani siapa yang hanya berdiri dan menunggu, ” tulis John Milton. Kaum Muslim tidak perlu hanya menunggu-nunggu dengan tangan terbuka. Mereka harus mengerahkan diri terhadap tugas tersebut secara langsung, tetapi mereka harus bersiap-siap untuk menunggu jawaban yang matang agar muncul.

 

CONTOH-CONTOH PERSPEKTIF KRISTEN

Kritik terhadap Saintisme

Umum diakui bahwa pada masa sekarang ini sains menjadi paradigma yang berkuasa dalam bidang pengetahuan dan tindakan manusia. Karena sebagai alasan, paradigma itu, sekali berurat dan berakar, akan menjadi tiran, yang menghalangi muncul dan tumbuhnya paradigma alternatif atau saingannya. Jadi, selalu ada kebutuhan untuk meninjau dari tepi, yakni tinjaun kritis yang dapat membantu mengekang ekses yang dilakukan atas nama paradigma yang berkuasa. Para penulis kristen termasuk garis terdepan menaruh perhatian pada tirani yang dilakukan atas nama paradigma ilmiah. Mereka melakukan hal itu dengan membedakan fakta ilmiah dengan spekulasi ilmiah, dengan menyebut yang disebut terakhir sebagai saintisme. Ted Peters memberikan suatu penjelasan yang ringkas tentang saintisme:

Saintisme, seperti “isme-isme” lainnya, merupakan sebuah edeologi, yang didasarkan pada asumsi bahwa sains memberikan semua pengetahuan yang dapat kita kenali. Hanya ada satu realitas yang alamiah, dan sains memiliki monopoli atas pengetahuan yang kita miliki tentang alam. Agama, yang mengklaim menyediakan pengetahuan tentang hal-hal yang supranatural, hanya memberikan pengetahuan semu yaitu, impresi yang salah tentang fraksi yang tidak ada.

Dengan kata lain, saintisme merupakan absolutisme ilmiah. Absolutisme ini diakibatkan dari kegagalan untuk melihat bahwa sains adalah aktivitas sosial yang, sperti aktivitas sosial lainnya, tunduk  pada analisis dan krtitik. Wolfgang Smith menulis:

Kita harus ingat bahwa sains tidak beroperasi dalam suatu kekosongan, dan bahwa hanya bagian terkecil dari apa yang biasanya diduga dalam wacana tekini itu sendiri yang tunduk pada analisis ilmiah. Diakui atau tidak, selalu ada bidang gelap di seputar titik putih, wilayah abau-abu yang buram. [Dalam] bidang yang secara rasional gelap dan kabur [ini ditemukan] “sisi lain” dari koin intelektual: ketidaktepatan tersembunyi, misalnya, yang menurunkan repuasi sains, dan fantasi tak berdasar yang mengukuhkan kempananya. Dari sini pula, pandangan ini merembes ke dalam strata nonilmiah masyarakat teknologis, menjadi pandangan dunia yang secara resmi diakui.

Jadi, sains berisiko menjadi sebuah ideologi, menjadi sebuah sistem pemikiran danpraktik penindas, yang berupaya memaksakan dominasinya pada data yang kasar dan pikiran yang malas. Memang benar bahwa para penulis sekuler telah mengekspresikan pemahamannya tentang sains yang mengenakan jubah kerajaan yang kejam. Akan tetapi, mereka mengemukakan solusi dari dalam yaitu dengan memasukkan dosis yang lebih besar dari metode ilmiah “murni” menjadi  tata cara aktivitas ilmiah. Para penulis kristen, di sisi lain, menundukkan seluruh model ilmiah pada titik, dengan menunjukkan bahwa keterbatasan dan titik gelap tertentu. Dalam melakukan hal itu, mereka tidak mau menolak sains, tetapi hendak membongkar keangkuhan saintisme. Dari sudut pandang islam, kritik kristen terhadap saintisme tidak hanya relevan, tetapi juga bijaksana.

Meluruskan Catatan Sejarah

Sumbangan penting lainnya dari para penulis kristen pada aspek kritisnya terletak pada upaya mereka meluruskan catatan historis tentang hubungan agama dan sains. Sains dan agama sering dipahami sebagai dua musuh yang tidak bisa diselaraskan. Pernyataan Albert Eistein bahwa “gereja selalu memusuhi sains dan menyiksa para pengabdinya’ tidak hanya mencerminkan, tetapi juga mempertegas, pandangan semacam itu. Memang hubungan antara sains dan kristen tidak selalu mulus dan manis, tetapi sebaliknya, masalah permusuhan antara kristen dan sains tampaknya terlalu dibesar-besarkan. Dua sebab utama yang sering dikemukakan untuk membuktikan permusuhan Gereja terhadap sains adalah kasus Giordano Bruno (1548-1600), yang dibakar hingga mati, dan Galilei Galileo, yang dipaksa menarik kembali pandangan bid’ahnya tentang heliosentris.

Akan tetapi, tuduhan yang diarahkan terhadap kristen berdasarkan perlakuan Gereja terhadap Bruno dan Galileo tampaknya terlalu keras, dan kesimpulan yang ditarik tentang antipati kristen yang telah mendarah daging terhadap sains terlalu berlebihan. Seperti dikatakan Charles Raven, “Bukti [permusuhan kristen terhadap sains] sangat sedikit, dan telah dibesar-besarkan demi kepentingan kontroversi berikutnya. ”Kasus Bruno dan Galileo itu sendiri menjadi petunjuk akan sikap berlebihan tersebut. Bruno dihukum terutama karena alasan-alasan politis; dalam ungkapan Frederick Copleston, “akhiir kehidupannya yang menyedihkan bukan disebabkan oleh upayannya memperjuangkan hipotetis Copernicus, juga bukan karena serangannya terhadap skolastisime Aristotelian, tetapi karena penolakannya yang nyata terhadap beberapa dogma teologis utama. ”

Kisah penghukuman Galileo mendorong kita pada kesimpulan yang sama. Dalam sebuah tulisan yang menarik, “Galileo and the Church”, William R. Shea menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan kepada Galileo oleh gereja harus dilihat dalam konteks Reformasi tandingan dan “terkait dengan masa [setelah konsili Trent (1545-1564), di mana nilai-nilai liberal modern bukannya memberikan persetujuan terhadap apa yang kemudian kita terima begitu saja”. Dengan melihat korespodensi Galileo dan sejumlah sumber kontemporer lain, Shea menegaskan bahwa “hukuman terhadap Galileo merupakan akibat dari kondisi politik yang tak menguntungkan, ambisi personal, dan keangkuhan yang menyakitkan”. Dan kita tidak boleh melupakan bahwa Galileo sebelumnya juga memperoleh mendali serta penghargaan lain dari Paus Urban Vlll, dan bahwa karyanya, Two New Science, ketika muncul di belanda yang prostestan pada 1638, tak digangu oleh Gereja. Bagaimanapun, hampir tidak dapat dikatakan bahwa gereja selalu memusuhi sains. Yang benar adalah bahwa banyak saintis awal megakui kepercayaannya kepada agama kristen dan tidak melihat adanya konflik antara keimanan dan penelitian ilmiah mereka.

Pernyataan Edward Grant bahwa “Sains dan teologi tidak pernah begitu terkait erat selain selama Masa pertengahan Latin di Eropa Barat” mungkin mengejutkan, tetapi sangat masuk akal jika kita melihat orientasi keagaman yang mendalam dari banyak saintis, orang-orang yang dalam kerja profesionalnya dimotivasi oleh visi keagamaan tentang kehidupan dan alam.  Daftar saintis semacam itu mungkin meliputi banyak nama dari masa belakangan, juga termasuk masa kita.  Sekadar mengambil satu atau dua contoh dari kategori yang terakhir ini: Gregor Johann Mendel, yang menciptakan ilmu genetika pada abad ke-19, adalah seorang pendeta Austria, dan paleontologis Prancis terkemuka Teilhard de Chardin, yang meninggal pada 1955 adalah seorang pendeta Jesuit. Sejumlah saintis profesional dewasa ini juga merupakan teolog yang berkualifikasi dan, di Inggris, terdapat Society of Ordained Scientist.

Penafsiran para sarjana kristen tentang hubungan hsitoris antara sains dan agama memiliki signifikansi akademis yang sangat penting, tetapi signifikansi psikologisnya juga tak kalah penting: itu merupakan penggerak kepercayaan bagi mereka yang berada dalam golongan teistik fakta yang akan diapresiasi oleh kaum Muslim. Lembaran  beban ilmiah terhadap kristen, sebernarnya, juga menjadi lembaran beban bagi semua agama teisitk termasuk Islam. Menyatakan bahwa beban yang dipikul oleh kristen merupakan beban yang dipikul oleh semua agama, termasuk Islam, adalah pernyataan yang tak berlebihan, melalui analogi yang jelas dan sah.

 

SAINS DAN TEOLOGI: KEDEKATAN METODOLOGIS

Banyak penulis Kristen telah menunjukkan bahwa sains dan agama, alih-alih menyimpan dendam satu sama lain, memiliki sejumlah titik temu dan bahkan saling tumpang tindih. Karena itu teologi yang merupakan refleksi sistematis atas masalah-masalah keagamaan semisal wujud Tuhan dan sains memiliki kesamaan metodologis tertentu. Dalam pandangan umum, kata “sains” dan “agama” mengisyaratkan citra yang paling banyak berlawanan. Sebagaimana dikemukakan Ian Barbour, “banyak orang memandang sains itu objektif, universal, rasional, dan didasarkan pada bukti pengamatan yang solid. Agama, sebaliknya, terlihat subjektif, perolial, emosional, dan didasarkan pada tradisi-tradisi atau otoritas-otoritas yang saling berlawanan. ”25 Akan tetapi, pandangan dikotomis yang sistematis ini tidak menggambarkan secara akurat realitas yang sesungguhnya. Lebih jauh, , perkembangan mutakhir dalam sains dan teknologi cenderung menghapus, atau setidak-tidaknya mengaburkan secara signifikan, perbedaan subjektif/ objektif dan personal/impersonal yang sebelumnya dilakukan antara teologi dan sains. Arthur peacocke mencatat lima persamaan antara upaya ilmiah dan upaya teologis:

  1. Keduanya membutuhkan proses abstraksi dari pengalaman manusia, dan dalam keduanya, imajinasi dan intuisi personal memainkan peran penting;
  2. Keduanya melaksanakan, masing-masing dalam bidangnya sendiri, dialog yang terus-menerus antara yang lama dan yang baru. Adalah salah jika kita menduga bahwa teologi selalu berpegang pada yang lama, sementara sains selalu bergerak untuk yang baru;
  3. Keduanya mengacu pada pengalaman sebagai kriteria pengesahan;
  4. Keduanya membahas artinya, agama tidak kalah dengan sains dalam hal dapat membahas proses, perubahan, dan perkembangan sehingga keduanya dapat dideskripsikan dalam kaitannya dengan citra yang dinamis; dan
  5. Keduanya bersandar pada otoritas komunal, yang mensyaratkan intergritas intelektual pada pihak para pelakunya.

 

Tidaklah sulit dilihat bahwa kesamaan metodologis antara sains dan teologi memiliki implikasi, baik bagi filsafat alam fisik maupun filsafat alam manusia: kesamaan itu mengindikasikan kesatuan antara dunia fisik dan alam spritual sesuatu yang dipertegas oleh Al-Quran yang, sebagaimana kita lihat di awal tulisan ini, menyebut dunia sebagai gudang pandangan spritual; dan kesamaan itu mengintegrasikan diri manusia dengan mendasarkannya pada matriks loyalitas yang utuh lagi-lagi sesuatu yang akan menemukan dukungan kuat dalam Al-Quran, yang menuntut dari umat manusia komitmen total terhadap kebenaran udkhulu fi al-silmi kaffah (lihat QS Al-Baqqarah [2]: 208).

 

TIPOLOGI PENDEKATAN DAN PERSOALANNYA

Arthur peacocke mengemukkan delapan cara sains dan teologi dapat berinteraksi:

  1. Sains dan teologi menaruh perhatian pada dua bidang yang berbeda.
  2. Sains dan teologi merupakan pendekatan yang saling berinteraksi terhadap realitas yang sama.
  3. Sains dan teologi merupakan dua pendekatan yang saling berinteraksi terhadap realitas yang sama.
  4. Sains dan teologi merupakan dua sistem bahasa yang berbeda.
  5. Sains dan teologi diciptakan oleh sikap yang sangat berbeda pada pelakunya.
  6. Sains dan teologi tunduk pada objeknya dan hanya dapat didefinisikan dalam hubungannya dengan objek tersebut.
  7. Sains dan teologi dapat diintegritasikan.
  8. Sains memunculkan metafisika yang didalamnya teologi dirumuskan.

 

Peacocke sendiri cenderung pada pandangan kedua. pendektan kedelapan lebih disukai oleh Ted Peters, yang tipologinya sendiri, meskipun agak berbeda dengan tipologi Peacocke, melipu dengan nama “ keselarasan hipotetis” suatu pendekatan yang sama dengan pendekatan kedelapan peacocke.

Pada tahap ini, dalam keilmuan islam, terlalu dini membicarakan pandangan islam yang pasti atau tentang satu lebih pemahaman islam tentang hubungan antara sains dan teologi. Pandangan semacam itu akan  muncul hanya setelah pembahasan yang cermat tentang masalah tersebut terjadi dikalangan para pemikir Muslim. Namun, tipologi peacocke sangatlah layak dipertimbangkan. Terlihat bahwa setiap pandangan di mana persimpangan radikal antara sains dan teologi dilakukan (seperti tipologi pertama, ketiga , keempat, kelima, dan keenam) tampaknya tidak bisa diterima sebagai islami; hal yang sama dapat dikatakan tentang pandangan (seperti kedelapan) di mana agama diberi posisi subordinat. Pendekatan kedua dan ketujuh tampaknya yang paling dapat bertahan dari sudut pandang Islam.

Sejumlah penulis kristen menyebutkan dan membahas masalah-masalah yang timbul dari pertemuan sains-agama. Judul-judul bab dari karya John Haugt, science and Religion, berikut ini memberikan gagasan tentang rentang masalah berikut:

Apakah Agama Berlawanan dengan sains?

Apakah Sains Mengesampingkan Tuhan yang personal?

Apakah Evolusi Mengesampingkan Eksistensi Tuhan?

Apakah kehidupan dapat direduksi menjadi proses kimia?

Apakah Alam Semesta Diciptakan?

Apakah kita Mesti Ada Disini?

Mengapa Ada Kompleksitasi di Alam?

Apakah Alam Semesta Mempunyai Tujuan?

Apakah Agama Bertanggung Jawab terhadap krisis Ekologis?

 

Sebagian besar dari masalah ini kini memiliki sejarah yang sangat panjang, dan keberlangsungan hingga kini menunjukkan relevansinya yang terus-menerus. Namun, harus dicatat bahwa masalah terakhir ini yaitu ekologi relatif muncul belakangan, yang menunjukkan bahwa para penulis kristen aktif terhadap perkembangan modern yang menuntut respons keagamaan. Begitu juga, masalah-masalah ini, seperti diajukan oleh Haugt, benar-benar menjadi sajian terakhir yang meliputi dan menunjukkan masalah lain, seperti transendensi, pemeliharaan, nilai, kebetulan, sebab, materi, jiwa atau spirit, akal, dan otonomi. Di samping masalah-masalah substantif ini, masalah-masalah metodologis dan prosedural juga terlibat misalnya, masalah asumsi a priori, absraksi, subjektivitas, dan verifikasi.

Tipologi pendekatan dan masalah ini sangat berguna bagi studi teistik mengenai hubungan antara sains dan agama tesitik. Para sarjana Muslim dapat menggunakan pendekatan tersebut sebagai petunjuk, pertama-tama dalam studi mereka tentang tradisi mereka sendiri dalam upaya menentukan apa dan seberapa jauh mereka dapat memanfaatkan tradisi itu guna mengatasi masalah-masalah modern dan kedua dalam mengembangkan pendekatan baru dan mendefinisikan masalah.

 

MASALAH TUHAN

Terkait erat dengan pertemuan sains-agama adalah masalah apakah Tuhan ada. Jika ada, bagaimana hubungan tuhan dengan alam. Sejumlah persoalan muncul di sini. Kita akan meninjau secara singkat beberapa pandangan yang ditawarkan oleh literatur kristen tentang dua di antaranya pemeliharaan dan doa.

Sebagai agama tesitik, baik Kristen maupun Islam menegaskan bahwa tuhan bertindak di dunia dan dalam sejarah. Dari sudut pandang ilmiah atau mungkin dari sudut seorang saintis doktrin ini, tak ragu lagi, membuka masalah intervensi Tuhan; dunia yang kita ketahui mengikuti hukum-hukum tertentu yang tak bercelah dan dengan demikian, tidak memungkinkan intervensi agar supranatural.

Dalam sebuah artikel yang berjudul “Does the God ‘Who Acts’ Really Act in Nature? ” [apakah Tuhan yang Maha Berbuat benar-benar berbuat di dunia]. Robert Rusell menegaskan bahwa, secara historis, hanya ada dua cara untuk mengoseptualisasikan pemeliharaan khusus: sebagai tindakan objektif atau sebagai respons subjektif Tuhan terhadap tindakan seragam Ilahi lainnya. Akan tetapi, menurut Russell, perekembangan modern sains dan filsafat memberi kita opsi ketiga. Dewasa ini alam tidak lagi dipandang sebagai sebuah sistem kausal yang tertutup. Pengantian fisika Newtonian dan reduksionisme filosofis, masing-masing, oleh fisika kuantum dan pemikiran holistik, kini memungkinkan kita memandang dunia sebagai “proses temporal yang terbuka dengan ontologi ‘keju swiss’ ontologi di mana dampak material murni manusia dan bahkan perbuatan Tuhan setidak-tidaknya dapat dipersepsi”. Perkembangan-perkembangan ini membuka kemungkinan akan “pemeliharaan khusus objektif yang nonintervensionis”.

Ressel membedakan antara perantaraan epistemologi dan perantaraan ontologis, dengan mengatakan bahwa “sebagian proses alamiah sebernarnya secara ontologis tidak deterministik, ” sehingga “masa depan secara ontologis terbuka, dipengaruhi, tentu saja , tetapi tidak ditentukan [penekanan oleh Russell] oleh faktor-faktor alam yang bertindak sekarang….tidak ada sekelompok sebeb alamiah mendasar yang pasti. Di dalam, melalui dan di balik kondisi kausal, kita dapat mendeskripsikan secara ilmiah sesuatu yang baru saja terjadi. Dalam pandangan Russell “mekanika kuantum memungkinkan kita menduga tindakan ilahi tertentu tanpa harus Tuhan menolak atau mengintervensi struktur alam. Tindakan Tuhan akan tetap tersembunyi dalam struktur tersebut, dan akan berbentuk realisasi salah satu dari sejumlah potensi dalam sistem kuantum……..”

Argumen Russel bahwa perkembangan modern dalam sains dan filsafat membuat pandangan tesitik tentang pemeliharaan khusus tidak hanya masuk akal, tetapi sepenuhnya rasional dan dapat dipercaya, dan ini tentu sangat menarik bagi para pemikir Muslim. Sebgaimana dapat dilihat, Russel tidak menolak apa yang disebut pandangan ilmiah, tetapi mendasarkan pandangan teistik padanya, dengan mempertimbangkan temuan yang relatif mutakhir dalam bidang sains. Tentu, dia tidak dapat dikatakan telah membuktikan dan dia sendiri tidak mengklaim telah membuktikan pemeliharaan khusus Tuhan berdasarkan basis ilmiah. Namun, yang telah dilakukannya adalah menumpulkan secara efektif serangan ilmiah bahwa sains tidak mengakui pemeliharaan khusus.

Sekarang kita akan melihat masalah doa. Apakah gagasan tentang doa yang diulang-ulang memiliki makna? . Berdasarkan pemehaman ilmiah terlihat bahwa permohonan kepada Tuhan akan sesuatu tidaklah bermakna atau angkuh. Sebab, ketika memanjatkan doa, bisa jadi anda menginginkan tuhan agar memberi anda sesuatu yang memang akan diberikan Tuhan, baik anda memohon atau tidak. Atau, anda menginginkan tuhan agar melanggar prinsip-prinsip keteraturan dan stabilitas alami yang mendasari dan menyangga dunia ini. Dalam kasus pertama, doa tidaklah bermakna, sementara dalam kasus yang kedua, doa bersifat angkuh. Akan tetapi, menurut Donald Mackay, penilaian ini didasarkan pada dikotomi yang salah diantara kita dan lingkungan kita:

Masalahnya adalah kelaziman untuk selalu mengangap alam semesta kita sebagai sesuatu yang diciptakan, tetapi diri kita sendiri dipandang secara esensial sebagai penghuni yang bebas di dalamnya….kita dan saudara kita sesama manusia terus –menerus bergantung pada keputusan ilahi seperti halnya lingkungan kita. Drama tuhan itu satu dan tak dapatdibagi-bagi, baik dalam konsepsi maupun dalam ketergantungannya, dari waktu ke waktu , pada pembuatan pencipta. Konskuensinya, jika diulang-ulang, kondisi menggerakannya merupakan bagian intergal dari konsepsi sang pencipta sebagimana kondisi yang mendorong apa saja yang ditimbulkan Tuhan sebagai responsnya.

Masalah tersebut, bagi Mackay, bergantung pada perspektif: dua pemahaman yang berbeda tentang fenomena yang diperoleh dari sudut pandang yang berbeda mungkin sama-sama benar jika “di satu sisi, ada sudut pandang illahi yang kekal, atau ekstratemporal, dan di sisi lain, ada sudut pandang manusia tentang ruang-waktu yang makhluki. Ketika kita mengatakan ‘ini seharusnya terjadi meskipun itu tidak terjadi, ‘sesalu ada kualifikasi yang tak terkatakan’….. sesuatu yang lain menjadi sama. ” Dengan kata lain, jika saya memohon sesuatu kepada Tuhan, kita tidak dapat menanyakan apakah Tuhan akan mengabulkan permohonan saya meskipun saya tidak memohonnya. Karena drama yang di dalamnya saya memohon berbeda dengan drama yang di dalamnya saya tidak memohon, dan setiap drama muncul sebagai sesuatu paket yang sempurna dalam dirinya, “maka tidak ada jaminan bahwa sekiranya Tuhan menciptakan drama dimana anda tidak berdoa [katakanlah, memohon pertolongan atau keselamatan]. Dia tetap menciptakan drama yang di dalamnya pertolongan diturukan pada saat itu untuk menyelamatkan Anda. ” Mackay, yang mengutip surat Paulus kepada Jemaat di Roma 8: 28, 29, selanjutnya mengatakan:

Apa yang kita pegang adalah janji yang teguh bahwa Tuhan adalah “pendengar doa orang-orang yang miskin’ dan bahwa “dalam segala hal….dia bekerja sama demi kebaikan mereka yang mencintai Tuhan….tuhan mengetahui diri-Nya sebelum mereka. “karena itu, hal yang rasional untuk dilakukan oleh mereka yang mencintai Tuhan ketika dalam kesulitan adalah mengungkapkan kepercayaan mereka terhadap janji ini dengan memohon pertolongan, percaya bahwa jika pencipta mereka melihat kebaikan itu akan dilayani dengan respons yang positif, diaakhirnya akan menyusun peristiwa yang bisa jadi tidak memiliki “hubungan kausal” (dalam pengertian ilmiah) dengan tindakan mereka dalam doa.

Seorang kristen dengan tepat mengatakan bahwa menolak memohon pertolongan tuhan dalam kesulitan akan membuat tidak rasional jika dia masih berharap untuk menerima pertolongan-Nya.

Argumen Mackay dikemukakan dalam suatu pemahaman yang dinamis tentang hubungan pembuat-pemohonan (manusia) dan pengabul-pemohonan (Tuhan), dan yang demikian itu harus dipahami dari latar belakang perkembangan modern dalam sains. Dalam mengembangkan pandangan teologis, para penulis kristen seperti Robert Russel dan Donald Mackay memanfaatkan data ilmiah yang kompeten, dan karya-karya mereka menjadi basis yang solid bagi pembentukan alasan agama teistik.

Akan tetapi, secara khusus, para penulis Kristen modern tentang agama dan sains, meskipun mereka membangun benteng yang kuat bagi teisme, umumnya tidaklah defensif, yaitu mengambil pandangan teologis yang ekslusfif. Alih-alih dengan cemas mencoba membereskan argumen untuk mendukung agama dan menjiplak pandangan sains begitu saja , mereka menyarankan dialog yang serius dan bertanggung jawab antara teologi dan sains. Di sini mungkin sangat berguna jika kita merujuk pada gagasan Ted Peters tentang “keselarasan hipotetis “ antara sains dan teologi. Keselarasan hipotetis ini mensyaratkan bahwa baik teologi maupun sains, masing-masing dalam pencarian akan pencerahan, harus terbuka terhadap komentar dan koreksi satu sama lain. Peters mengilustrasikan konsep keselarasan hipotetis ini dengan mengacu pada masalah tuhan, yang baru saja kita bahas. “metode ini, tulisnya, “bukan merupakan bukti bagi eksistensi Tuhan. Sebaliknya, dengan menerima gagasan tentang Tuhan, kita bertanya apakah teologi dan sains sama-sama memberikan pencerahan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas tempat kita hidup dari pada jika kita menerima satu disiplin atau lainnya, atau keduanya secara terpisah. Dalam bentuknya yang esensial, metode ini tampaknya benar, meskipun hal itu tetap menjadi keputusan para sarjana Muslim untuk menentukan detailnya dengan pertimbangan yang bertangung jawab akan prospek yang terbuka dan batasan-batasan yang ditetapkan oleh pandangan dunia Islam normatif dan tradisi Muslim historis.

 

TUGAS KEDEPAN

Pertama-tama, izinkanlah saya mengemukakan komentar tentang tugas yang tidak atau tidak harus mengarah ke depan. Salah satu gerakan pemikiran belakangan ini di dunia muncul dengan nama islamisasi penegtahuan. Gerakan ini berupaya mengislamisasikan berbagai disiplin pengetahuan, yang sebagian besar berkembang di Barat, dengan memasukkan ke dalam disiplin itu bentuk-bentuk pemikiran dan analisis Islam. Saya tidak yakin ini merupakan suatu gagasan yang bagus. Dengan membatasi diri pada masalah pokok tulisan saya, saya mengakui bahwa, meskipun dapat dimengerti menggunakan ungkapan “Islam dan sains” yang menunjukkan bahwa Islam memiliki pandangan tertentu terhadap sains atau aktivitas ilmiah, atau bahwa hubungan antara Islam dan sains merupakan persoalan yang patut untuk dikaji, ungkapan ‘Sains Islam “ diragukan validitasnya semata-mata karena alasan bahwa menyebut sains Islam sama dengan membatasi sains; yang bearti mengakui adanya jenis sains Kristen, Hindu, Tao, dan lainnya.

Lebih dari itu, upaya tersebut menunjukkan bahwa ada, misalnya, sains Katolik, sains Methodis, dan sains Baptis selatan dan kita dapat melanjutkan dengan sub pembagian lainnya. Akan tetapi, mungkin kita dapat bertanya, bukankah kita menyebut arsitektur Islam, arsitektur Kristen, dan arsitektur Hindu? Memang kita menyebut demikian tetapi dalam pengertian yang sangat berbeda. Istilah seperti “arsitektur Islam” berarti “gaya assitektur Islam”; istilah itu tidak menunjukkan bahwa, ketika bekerja, para arsitek Muslim sama sekali mengabaikan prinsip-prinsip mapan bangunan meskipun berhasil membangun monumen-monumen yang bagus. Istilah itu mengisyaratkan bahwa mereka meniupkan motif keagamaan Islam ke dalam produknya, yang kemudian menjadi representasi pandangan dunia Islam dan gaya hidup Islam. Lalu, dapatkan kita menyebut gaya fisika Islam? Berdasarkan komentar di atas, lebih tepat jika kita menyebut penafsiran Islam atas data fisika atau, dalam masalah tersebut, data sains lain, atau sains secara umum.

Dengan kata lain, alih-alih menanyakan apakah ada sains Islam, Kristen atau sains lainnya semacam itu, kita harus bertanya: Bagaimana para penganut agama tertentu menafsirkan data sains? Pada titik inilah kita dapat bertanya: Bagaimana para sarjana Kristen menafsirkan data ilmiah dan, mengingat ada kesamaan antara pandangan dunia teistik kristen dan Islam, pelajaran apa yang dapat dipetik para sarjana Muslim dari penafsiran Kristen atas data tersebut?

Ada sebuah kebutuhan nyata bagi kaum Muslim untuk terlibat dalam sains baik dalam metode ilmiah maupun dalam pandangan dunia ilmiah dengan tujuan: pertama, menetukan peran sains dalam masyarakat Islam modern; kedua, menetukan prinsip-prinsip bagi tata cara aktivitas ilmiah dalam masyarakat; dan ketiga, mengaitkan sains dengan aktivitas nonilmiah lainnya. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Bagaimana pandangan Islam tentang sains? Bagaimana kaum Muslim terlibat aktif dalam aktivitas ilmiah, tetapi tetap setia terhadap imannya? Bagaimana sains dapat memeberikan sumbangan kepada tujuan-tujuan keberadaan masyarakat Islam? Apakah sains temen atau musuh Islam? Tidak dapat dijawab memaluli latihan otak yang dijalankan dengan gelisah dalam kondisi yang bermusuhan oleh segelintir individu yang terpencil. Pertanyaan-pertanyaan ini dan lainnya tidak dapat diatasi dengan tepat hingga muncul, di dunia Muslim, suatu budaya akademik yang mengakui arti penting masalah-masalah tersebut dan menyelesaikannya dengan melakukan apa yang harus dilakukannya.

Budaya semacam itu tidak akan muncul hingga kita melatih banyak pikiran muda dalam agama dan teologi di satu sisi, dan dalam sains dan metode ilmiah di sisi lain, kemudian memberi mereka kebebasan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk memetakan langkah yang berani dalam suatu wilayah baru yang menantang.

Leave a Reply

Close Menu