PERNYATAAN BERSAMA “MENUJU SAINS YANG TERBUKA” (LE MONDE, 23 FEBRUARI 2006)

PERNYATAAN BERSAMA “MENUJU SAINS YANG TERBUKA” (LE MONDE, 23 FEBRUARI 2006)

Kami adalah para saintis yang berasal dari latar belakang sains dan budaya yang sangat beragam. Kami sama-sama yakin bahwa pola pikir keagamaan atau metafisika tidak seharusnya secara a priori dicampur-adukkan dengan praktik sains sehari-hari. Akan tetapi, kami juga mengakui keabsahan bahkan keharusan rnelakukan refleksi a posteriori terhadap implikasi-implikasi filosofis, etis, dan metafisika dari semua penemuan dan teori ilmiah. Bahkan, jika hal itu tidak dilakukan, dikhawatirkan banyak saintis dan sains akan terasing dari masyarakat‎ luas.

Jika para saintis tidak lagi mengindahkan refleksi metafisika dan spiritual, berarti mereka telah sengaja memisahkan diri dari masyarakat.

Perdebatan ini telah melahirkan pendapat yang beragam. Jika Richard Dawkins masyhur karena pengakuannya bahwa ia bisa hidup sebagai seorang ateis sejati sejak terbitnya Origin of Species-nya Darwin, Arthur Eddington di sisi lain justru percaya bahwa sejak tahun 1926, tahun perpaduan Mekanika Kuantum, manusia yang cerdas bisa kembali mengimani keberadaan Tuhan. Kita juga tidak pernah kekurangan ahli biologi yang menegaskan kesesuaian Darwinisme dengan iman kepada Pencipta. Demikian juga, masih banyak fisikawan yang menganggap fisika kuantum tidak mungkin menghilangkan keyakinan pada materialisme.

Dewasa ini, perdebatan semacam itu di Prancis, di Amerika Serikat, dan di negara-negara lain sedang menghadapi dua jenis kekacauan. Keduanya terkait erat dengan luasnya perhatian media seputar apa yang disebut dengan gerakan Rancangan Cerdas (Intelligent Design). Gerakan ini melanggar batasan sains karena dukungannya kepada para kreasionis yang mengingkari kaidah-kaidah dasar sains modern. Di samping itu, gerakan ini punya agenda politik tersembunyi untuk mentransformasi pendidikan sains di sekolah-sekolah Amerika.

Kekacauan pertama terjadi antara para kreasionis dan mereka yang sepenuhnya menerima teori evolusi tapi sekaligus mengajukan hipotesis-hipotesis yang berbeda mengenai mekanismenya, termasuk kemungkinan adanya faktor-faktor internal. Istilah kreasionis (creationist) seharusnya hanya dipakai untuk menjelaskan orang yang menolak gagasan bahwa semua bentuk kehidupan di muka bumi berasal dari nenek moyang yang sama atau orang yang mengingkari bahwa evolusi telah membawa bentuk-bentuk awal kehidupan hingga menjadi makhluk seperti sekarang ini. Jika istilah ini tidak didefinisikan secara ketat, berarti semua saintis Yahudi, Muslim, Kristiani, atau Deis bisa digolongkan sebagai kreasionis karena mereka percaya pada prinsip penciptaan; demikian pula dengan mayoritas pendiri sains modern, termasuk Newton, Galileo, dan Descartes karena alasan yang sama. Kita bisa melihat kekacauan besar jika istilah tersebut digunakan secara longgar dan ceroboh.

Kekacauan kedua lebih mudah dikenali karena berkenaan dengan penggunaan istilah yang sama: ‘Rancangan’ (Design). Misalnya, perlu dibedakan antara gerakan Rancangan Cerdas dan mereka yang mengatakan bahwa kemajuan astrofisika tidak mengabaikan gagasan filosofis mengenai keterancangan alam semesta. Karena itu, pada tahun 1999, the American Association for the Advancement of Science (AAAS), salah satu lembaga ilmiah terbesar di dunia dan dewan editor jurnal Science, menyelenggarakan konferensi tiga hari tentang Cosmic Questions dengan satu hari acara yang dikhususkan untuk memperdebatkan pertanyaan Is the Universe Designed? Tentu saja, pertemuan ini tidak dihadiri oleh satu pun perwakilan dari pendukung gerakan Rancangan Cerdas. Bidang ini bermula dari sebuah temuan penelitian tahun 1980-an bahwa alam semesta tampaknya tertala halus (fine-tuning) bagi kehidupan. Apalagi, muncul pemikiran bahwa jika konstanta alam semesta tergangggu, maka kompleksitas apa pun tidak akan pernah bisa berkembang. Bidang penelitian ini, yang berkenaan dengan Prinsip Antropik, telah memicu munculnya banyak sekali publikasi dijurnal-jurnal peer review. Bagi sebagian saintis, penalaan halus (fine-tuning) alam semesta memberi peluang bagi berkembangnya hipotesis mengenai keberadaan Pencipta (tanpa disertai bukti apa pun). Sebagian lain dengan berapi-api menolak hipotesis semacam itu. Inilah contoh debat yang bagus terkait dengan perang antara filsafat dan metafisika dalam temuan-temuan ilmiah. Jenis debat seperti ini terjadi di tengah-tengah komunitas akademik arus utama, dan siapa pun yang terlibat di dalamnya tidak seharusnya disamakan dengan mereka yang menolak landasan utama sains seperti para kreasionis. Di sini, penting untuk dijelaskan bahwa penerimaan terhadap materialisme metodologis-yang menjadi dasar metode dalam banyak disiplin ilmiah (yang menurut mayoritas pakarnya, fisika kuantum merupakan sebuah perkecualian) -tidak bisa langsung dikatakan sudah pasti akan mengarah kepada, atau membenarkan, materialisme filosofis. Oleh karena itu, kami ingin menegaskan hal-hal berikut:

  • Mendirikan sebuah gerakan, seperti gerakan Rancangan Cerdas, hanya demi mendiskreditkan para saintis tertentu (sekalipun tanpa disertasi bukti) untuk mempercayai filsafat nonmaterialistis, hanya akan menimbulkan kekacauan yang harus kita hindari.
  • Tuduhan kepada para saintis, sebagaimana yang terjadi baru-baru ini di Prancis, sebagai pihak yang juga terlibat dalam kampanye ‘pengacauan spiritual’ ke dalam sains tidaklah sesuai etika dan telah mencederai kebebasan berpendapat yang seharusnya menjadi implikasi filosofis dan metafisis dari temuan-temuan sains terkini. Tuduhan ini juga memperlihatkan sikap muka-dua (double standard) karena orang-orang ini tidak menuduh Richard Dawkins terlibat dalam ‘pengacauan materialis’ ke dalam sains.
  • Sikap seperti di atas tentu saja merugikan sains. Pada saat anak muda kehilangan motivasi untuk menempuh karier ilmiah, dan ketika sains banyak menerima kritik yang kerap kasar dan keliru, sains perlu bersikap seterbuka mungkin (salah satunya pada persoalan ‘makna’) dan tidak seharusnya mengunci diri sebagaimana yang telah menjadi ciri khas saintisme.
  • Di Prancis, the Interdisciplinary University of Paris (UIP) , yang aktivitas-aktivitasnya telah kami ikuti semua, telah membawa perdebatan ini ke ranah publik selama 10 tahun keberadaannya. UIP melakukannya dengan sikap terbuka dan gigih, dan kami kira pendekatan ini patut didukung.

Harapan kami, dengan pernyataan bersama ini, kita bisa membantu masyarakat dan media Prancis khususnya agar terhindar dari semua kebingungan di atas, punya minat untuk melestarikan kekayaan dalam debat-debat kekinian seputar implikasi filosofis dan metafisis dari temuan-temuan ilmiah abad ke-20, menaruh hormat kepada semua pihak yang terlibat dalam perdebatan ini, selama semua argumen mereka didasarkan pada fakta-fakta yang berterima di kalangan semua komunitas ilmiah.

Leave a Reply

Close Menu