PERNIKAHAN

PERNIKAHAN

Serial Quran dan Sains

Pernikahan adalah sebuah perjanjian (akad) yang dilakukan oleh dua orang yang berjenis kelamin berbeda (laki-laki dan perempuan) untuk hidup bersama sebagai suami istri secara sah, halal, dan bermartabat. Pernikahan telah ada sejak manusia ada dan mengenal budaya (dalam bahasa agama, taklīf atau tanggung jawab kepada Tuhan). Dari pernikahan dua insan inilah manusia bereproduksi melanjutkan generasinya agar spesies manusia tidak punah. Keberlangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi memberi jaminan berlangsungnya fungsi-fungsi kehidupan di bumi ini.

Di bawah tajuk ini akan dibahas tentang naluri ketertarikan manusia terhadap lawan jenisnya, urgensi perkawinan (pernikahan), langkah-langkah pernikahan menurut syariat, hak dan kewajiban suami-istri, dan berbagai pernikahan yang bermasalah atau potensial bermasalah.

NALURI KETERTARIKAN TERHADAP LAWAN JENIS

Manusia diciptakan berpasangan, laki-laki dan perempuan, untuk dapat bereproduksi menyebar dan menjalani kehidupan di bumi. Secara naluri manusia dewasa yang normal memiliki ketertarikan terhadap lawan jenisnya. Dari ketertarikan antarmanusia itu, baik laki-laki maupun perempuan, mereka berupaya dengan cara masing-masing menarik perhatian Iawan jenisnya. Naluri ini telah dibawa sejak lahir berupa potensi dan juga dimiliki oleh makhluk-makhluk seperti hewan mamalia, burung, dan sebagainya. Hewan-hewan itu ada yang menggunakan kicauannya yang merdu, memamerkan bulunya yang menarik, menampilkan keperkasaan atau kelembutan, atau dengan cara-cara lain dalam rangka menarik perhatian Iawan jenisnya. Burung merak jantan akan memamerkan bulu-bulu ekornya yang indah untuk menarik perhatian betinanya, pada sebagian burung berkicau akan mendendangkan nada yang merdu untuk menarik pasangannya mendekat. Pada beberapa hewan mamalia mereka akan menunjukkan keperkasaannya dengan bertarung antarsesamanya untuk menunjukkan wibawanya pada calon pasangannya. Kalau mereka sama-sama cocok maka perkawinan akan dilakukan saat itu juga berdasarkan naluri yang mereka miliki.

Adanya dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, yang diciptakan Allah di alam ini agar masing-masing merasa saling membutuhkan untuk melestarikan keberlangsungan hidup spesies manusia. Surah an-Najm/53: 45 (dan yang senada dengan itu) menyebutkan:

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ

Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan. (Alquran, Surah an-Najm/53: 45)

 

Semua makhluk hidup, termasuk flora dan fauna sekalipun, telah dirancang oleh Penciptanya untuk bereproduksi melalui mekanisme masing-masing‎. Flora bereproduksi dengan penyerbukan melalui putik dan benangsari atas jasa, misalnya, serangga atau angin (al-Ḥijr/15: 22). Sedangkan fauna dengan mekanisme perkawinan jantan dengan betina. Manusia sebagai makhluk yang lebih mulia dari tumbuhan maupun hewan, tentu lebih beradab dalam bereproduksi sesuai dengan martabat kemuliannya, melalui mekanisme pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sebagaimana diatur oleh syariat. Dengan hidayah akal dan agama yang diberikan Allah, manusia mengelola keinginannya berumah tangga (kawin) dengan cara-cara yang bermartabat sebagai makhluk mulia.

Ketertarikan manusia terhadap lawan jenisnya sejatinya merupakan suatu anugerah Allah agar spesies manusia di bumi ini tidak punah dan oleh karenanya menjadi potensi bawaan sejak manusia lahir. Hal ini telah dijelaskan pula di dalam Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 14,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. ltulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 14)

 

Berbeda dengan hewan, manusia memiliki akal dan budaya sehingga pergaulan antara laki-laki dan perempuan diatur sedemikiran rupa melalui lembaga perkawinan sesuai dengan budaya dan keyakinan masing-masing ‎. Dalam bahasa agama-agama, perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama sebagai suami-istri yang bermartabat disebut dengan perkawinan (pernikahan). Ada tata cara yang disepakati atau yang mendasari perjanjian (akad) nikah itu sehingga menjadi sebuah perjanjian yang kokoh dan membolehkan terjadinya kehidupan bersama dalam sebuah rumah tangga yang bermartabat dan diakui oleh agama, norma masyarakat, dan hukum.

Ketika Adam diciptakan masih sendiri, belum ada pasangan, ia pun merasa kesepian meskipun semua kebutuhan makan dan minum serta perlengkapan lain telah terpenuhi. Dalam perasaannya, ada sesuatu yang kurang dalam kehidupannya dan tak tergantikan oleh benda-benda pemuas kebutuhan yang ada di sekelilingnya. Kebutuhan itu adalah kebutuhan cinta terhadap dan dari lawan jenisnya, maka Allah menciptakan satu jenis kelamin lagi sebagai pasangan Adam yang masih bujang pada saat itu.

Dengan diciptakannya pasangannya dari jenis yang sama, kemudian dikenal dengan nama Hawa, maka pasangan itu dapat bereproduksi, saling menyayangi, dan kemudian berkembang biak menyebar ke seantero dunia. Dalam AIquran, kita dapat membaca tentang hal ini pada Surah an-Nisā’/4: 1,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya. Dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (Alquran, Surah anNisā’/4: 1)

 

Di masa pra-lslam, pernikahan dilakukan dengan berbagai bentuk yang disepakati oleh adat atau yang ditoleransi di masa itu. Dr. Jawad Ali, seorang ahli sejarah (1907-1987) mencatat beberapa model pernikahan Arab Jahiliah, dalam bukunya al-Mufaṣṣal fî Tārīkhil-‘Arab Qablal-lslām, menyebutkan antara lain:

  1. Perkawinan mut‘ah (bertempo), pernikahan yang dilakukan dengan jangka waktu tertentu. Apabila telah sampai waktunya maka langsung putus (cerai).
  2. Perkawinan badal (tukar menukar pasangan), yaitu dengan cara saling menukar istri tanpa mahar. Dalam praktik sekarang ,hal ini dikenal dengan istilah swing. Kini banyak swinger-swinger berpetualang mengenal seksual dengan cara bertukar pasangan sebagaimana dipraktikkan orang-orang Jahiliah di masa lampau.
  3. Perkawinan syigār (liar), yaitu dengan cara tukar menukar anak atau saudara perempuan untuk dinikahi, juga tanpa mahar.
  4. Perkawinan istibḍā’ (barang dagangan), yaitu biasanya setelah seorang istri bersih dari haidnya ia dikirim ke lelaki lain layaknya barang dagangan.
  5. Perkawinan maqṭa’ (kutukan), yaitu perkawinan antara seorang janda yang ditinggal mati suaminya oleh anak lelaki atau kerabat dekatnya karena merekalah yang lebih berhak jika hal itu dikehendaki.
  6. Perkawinan zā’inah atau saby (tawanan), yaitu apabila seorang tawanan perempuan dinikahi oleh lelaki yang menawannya tanpa khiṭbah dan mahar, diperlakukan sebagai budak.

 

Ketika Islam datang model perkawinan tersebut di atas ditata kembali sesuai dengan martabat kemanusiaan yang ditetapkan oleh syariat. Tidak ada Iagi pertukaran, bertempo tertentu, apalagi anggapan istri sebagai barang dagangan, karena semua hal tersebut tidak sejalan dengan nalar sehat dan martabat kemanusiaan.

 

Urgensi Pernikahan

Alquran dengan jelas menyebutkan bahwa penciptaan pasangan suami istri (laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri) merupakan salah satu tanda kebesaran dan kemahakuasaan Allah, sebagaimana dapat dibaca dalam Surah ar-Rūm/30: 21,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 21)

 

Pernikahan dengan menyatukan dua individu yang berbeda jenis kelamin dan berbagai perbedaan lainnya menjadi wadah memadu kasih membangun mahligai rumah tangga yang damai dalam cinta dan kasih sayang. Apabila kedua pihak melebur menjadi satu dalam tujuan dan fungsi-fungsi pernikahan berjalan dengan baik maka di situ akan terbina rumah tangga yang sakīnah, mawaddah, wa raḥmah.

Dapat dibayangkan seandainya tidak ada lembaga pernikahan maka manusia akan menjalani hidup laksana hewan yang berebut pasangan. Yang kuat dapat merebut pasangan lebih banyak dengan leluasa, sementara yang lemah akan menjadi penonton atau mungkin mencuri-curi kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan biologisnya itu. Sementara itu, manusia sebagai makhluk paling sempurna memiliki budaya yang dibangun atas dasar pengalaman dan nalar serta disempurnakan oleh ajaran agama menjadikan pernikahan bukan hanya sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan tetapi juga sebagai pemuliaan atas kemanusiaan. Dengan demikian adat istiadat yang terkait dengan pernikahan bagi masyarakat beradab kita temukan sangat beragam yang dibangun di atas kemuliaan itu.

Pernikahan memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan umat manusia, antara Iain sebagai berikut.

Pertama, fungsi biologis. Pernikahan memberi kesempatan kepada dua insan yang berbeda jenis kelamin untuk menyalurkan hasrat seksualnya secara aman, halal, dan bermartabat. Orang yang sudah melaksanakan akad nikah halal baginya saling menyalurkan hasrat biologis sesuka dan senyaman yang mereka kehendaki sesuai dengan batas-batas yang telah diperintahkan oleh Allah. Mari kita cermati Surah al-Baqarah/2: 222,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang  kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid, dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 222)

 

Kedua, fungsi reproduksi. Pernikahan berkaitan erat dengan fungsi biologis manusia. Pernikahan menjamin keberlangsungan generasi umat manusia dari waktu ke waktu. Yang tua akan semakin tua hingga suatu saat meninggal dunia, kemudian akan digantikan oleh generasi penerusnya sebagai hasil dari reproduksi melalui pernikahan.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah? (Alquran, Surah an-NahI/16: 72)

 

Ketiga, fungsi keagamaan. Pernikahan mengacu pada perintah agama untuk membina keluarga harmonis (sakīnah). Pernikahan merupakan sunah tasyri’ Nabi yang harus diikuti sesuai dengan syarat-rukun yang telah ditetapkan. Rasulullah bersabda dalam penggalan hadis berikut.

 

Menikah adalah sebagian dari sunahku. Siapa yang tidak mengamalkan sunahku, maka dia tidak termasuk dalam golonganku. (Riwayat Ibnu Mājah dari ‘A’isyah)

 

Fungsi keagamaan ini terutama untuk mencegah manusia berbuat haram (zina). Oleh sebab itu, setiap orang yang sudah dewasa lahir-batin dan telah pula memiliki kesanggupan untuk menikah (membina keluarga baru) maka dianjurkan untuk segera melakukannya.

 

Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan untuk menikah maka hendaklah ia menikah. Menikah itu dapat menjaga pandangan dan memelihara kehormatan. Akan tetapi, kalau belum mampu maka hendaklah berpuasa karena hal itu menjadi tameng.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Ibnu Masūd)

 

Keempat, fungsi ekonomi. Pernikahan juga berkaitan dengan fungsi biologis manusia. Dengan pernikahan, masing-masing anggota keluarga dapat mengatur dan menyesuaikan diri antara pemenuhan kebutuhan dengan ketersediaan sumber-sumber keluarga, secara efektif dan efisien. Orang yang menikah akan diberikan karunia oleh Allah, sebagaimana dipahami dari Surah an-Nūr/24: 32 berikut.

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 32)

 

Kelima, fungsi sosial, yaitu fungsi yang mempertemukan keluarga besar kedua pihak, keluarga istri dan keluarga suami. Keluarga harus berupaya menjamin komunikasi berjalan lancar, sehat, beradab antarsesama anggota keluarga. Fungsi sosial ini melahirkan komunikasi interpersonal dan mungkin juga melebar pada transaksi-transaksi dalam konteks saling menolong antarsesama. Tentu, saling menolong hanya dalam kebajikan, tidak dalam berbuat dosa dan permusuhan. Ujung dari Surah al-Mā’idāh/5: 2 menjelaskan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya. (Alquran, Surah al-Mâ’idah/5: 2)

 

Apabila fungsi-fungsi keluarga berjalan dengan baik dan harmonis maka masyarakat akan menjadi baik dan harmonis pula, karena suami istri yang membentuk keluarga baru merupakan unit terkecil dari komunitas masyarakat. Setiap anggota dari suatu komunitas masyarakat selain bertindak untuk dirinya sendiri sebagai individu juga harus bertindak secara sosial seperti berinteraksi baik dengan lingkungan sosialnya, saling menolong dalam kebaikan, saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang (marḥamah).

Keenam, fungsi psikologis, yaitu fungsi yang membuat kedua belah pihak merasakan ketenangan dalam hidup bersama dengan keluarga. Suami, istri, dan juga anak-anak (jika ada) menjadi penyemangat, pengayom, pemotivasi untuk kebaikan, tempat masing-masing dapat berbagi dan mencurahkan segala hal yang dialami, baik kondisi suka maupun duka. Ketenangan dan kedamaian dalam rumah tangga ini yang diharapkan terwujud dalam sebuah pernikahan, sebagaimana telah dijelaskan di dalam Surah ar-Rūm‎/30: 21 berikut ini.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Alquran, Surah ar- Rūm/30: 21)

 

Ibnu ‘Asyur menjelaskan dalam at-Tarīr wa at-Tanwīr (1393 H, 21: 71) bahwa sebelum kedua pihak, suami  dan istri, mengikrarkan akad nikah mereka tidak saling mengenal, tidak saling mengasihi satu sama lain, tetapi begitu pernikahan itu dilaksanakan keduanya saling mencintai, memadu kasih, berbagi kelembutan, dan saling menyayangi. Pernikahan bertujuan memberi rasa damai bagi masing-masing anggota keluarga. Pada ayat lain, Alquran melukiskan suami terhadap istrinya dan begitu pula istri terhadap suaminya laksana pakaian yang berfungsi memberi perlindungan dari cuaca ekstrem dan dari terbukanya aurat (aib) -lihat lebih lanjut Surah al-Baqarah/2: 187.

 

Langkah-Langkah Jenjang Pernikahan

Ada beberapa langkah yang harus ditempuh oleh mereka yang akan memasuki jenjang pernikahan: naẓar, khiṭbah, akad, dan walimah. Khiṭbah dan akad mesti dilakukan, sementara naẓar dan walimah bersifat opsional, meskipun sangat dianjurkan (recommended).

 

  • Naẓar

Naẓar adalah melihat atau mengetahui secara pasti orang yang akan dinikahi. Hal ini penting untuk memastikan orang yang menjadi calon pendamping (istri) dan tidak terjadi seperti dalam ungkapan ‘membeli kucing dalam karung’. Nabi bersabda,

 

Jika salah satu dari kalian hendak meminang seorang wanita, maka kalau ia dapat melihat (atau mempertimbangkan) sesuatu yang dapat membuatnya ingin menikahinya, maka lakukan saja. (Riwayat Abū Dāwud dari Jābir)

 

Term naẓara haruslah dipahami sebagai mempertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk melamar. Kalaupun diartikan memandang secara fisik tentulah sangat terbatas, hanya untuk memastikan bahwa orang yang dimaksud sudah dikenali secara fisik terbatas. Yang membatasi adalah firman Allah yang lain yang terdapat dalam Surah an-Nūr/24: 30 sebagai berikut.

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 30)

 

Para ahli tafsir sepakat bahwa membatasi atau menjaga pandangan dalam ayat ini adalah memandang aurat wanita. Ibnu ‘Ajibah menulis bahwa kata ‘min’ dalam (yaguḍḍū min abṣārihim) adalah lit-tab‘i, menunjukkan makna ‘sebagian’. Maksudnya adalah mencegah pandangan terhadap wilayah yang diharamkan, yaitu auratnya, dan membatasi pada wilayah yang dihalalkan dengan pandangan ringan (singkat). Wajah dan kedua telapak tangan wanita bukanlah bagian aurat, sehingga lelaki boleh melihatnya kecuali ia khawatir munculnya fitnah atau syahwat.

Dengan demikian tidak ada alasan untuk mengetahui keseluruhan tubuh orang yang ditaksir, karena hal itu dengan tegas diharamkan oleh Allah. Naẓar harus lebih dimaknai mengetahui sikap dan perilakunya, kepribadiannya, harapan-harapannya dalam kehidupan, dan tentu saja yang terpenting adalah mengetahui pengamalan agamanya. Hal ini menjadi peringatan bagi laki-laki yang akan menikahi wanita untuk memprioritaskan pada aspek keimanan dan pengamalan agamanya. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kepada semua orang yang akan menikah dalam sabdanya sebagai berikut,

 

Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. (Siapa pun di antara kalian yang hendak menikah,) pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

 

Setelah dipastikan memiliki pengamalan agama yang baik dan berakhlak mulia maka langkah berikutnya adalah meminang (khiṭbah).

 

  • Khiṭbah (Lamaran)

Khiṭbah atau lamaran (pinangan) adalah sebuah mekanisme dalam prapernikahan dengan cara melamar atau meminang seseorang untuk dipersunting sebagai istri. Ada dua cara yang dilakukan, yaitu dengan kalimat lugas atau dengan isyarat yang dipahami sebagai pinangan. Kedua cara ini, terang-terangan atau dengan bahasa isyarat (metafor, majas) dapat dilakukan, berdasarkan firman Allah dalam Surah al-Baqarah/2: 235,

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَن تَقُولُوا قَوْلًا مَّعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut kepada mereka. Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian (untuk menikah) dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 235)

 

Melakukan lamaran harus sudah dipastikan orang yang dilamar tidak dalam status istri orang lain, atau masih dalam masa idah karena ditinggal mati atau diceraikan suaminya, bahkan tidak dalam status pinangan orang lain yang belum ada kata putus. Mengenai hal ini Rasulullah berpesan,

 

Seorang pria tidak diperkenankan melamar wanita yang masih terikat lamaran dengan pria lain. Seseorang tidak pula diperkenankan menawar lebih tinggi atas tawaran orang lain, yakni: bila sebelumnya sudah terjadi kesepakatan harga antara penjual dan penawar pertama. Seorang wanita tidak boleh dinikahi bersama-sama dengan bibi dari jalur ayah maupun ibunya. Seorang wanita tidak pula diperkenankan meminta seorang suami untuk menceraikan istrinya dengan tujuan ingin menguasai nampan wanita itu, yakni: ingin menguasai apa yang menjadi haknya. Wanita yang demikian itu hendaknya menikah dengan pria yang melamarnya karena kelak ia pasti akan mendapatkan apa yang telah Allah gariskan untuknya. (Riwayat Muslim dari Abū Hurairah)

 

  • Akad

Perbedaan signifikan antara kehidupan hewan dan manusia yang beradab antara lain tergambar dari cara mereka melakukan perkawinan. Prosesi perkawinan dilakukan dengan cara yang bermartabat, melalui perangkat sistem yang diakui bersama, disaksikan banyak orang, serta dengan akad yang jelas dan tak bertempo. Pernikahan yang didasarkan pada adat istiadat tradisional di berbagai wilayah mencerminkan sebuah kesakralan yang disimbolkan dalam berbagai bentuk dan ragam upacara adat dengan perangkat-perangkat yang rumit. Sementara pernikahan dalam Islam didasarkan pada Alquran dan Sunah.

Pernikahan adalah awal sebuah bangunan rumah tangga baru yang dibina bersama-sama oleh suami dan istri menyongsong kehadiran anak sebagai anggota baru dalam keluarga. Pernikahan ditandai dengan akad (perjanjian) dalam bentuk ijab-qabul yang jelas dan disaksikan oleh para saksi tentang keabsahannya, bahkan dicatatkan dalam catatan resmi pemerintah.

Akad ini dikategorikan sebagai perjanjian sakral karena sesungguhnya ucapan ijab-qabul itu dipersaksikan di hadapan Allah. Perjanjian untuk menjadi suami dan istri yang berimplikasi pada halalnya sebuah hubungan yang tadinya haram adalah tuntunan Allah. Di dalam Alquran akad ini dianggap sebagai perjanjian kuat dan mendalam (mīṡāqan galīẓan).

Dalam akad yang diikrarkan melalui ijab-qabul disebutkan pula mahar yang diberikan suami kepada istrinya. Mahar merupakan pemberian khusus suami kepada istrinya, antara lain sebagai simbol tanggung jawab nafkah untuk pertama kali suami kepada istrinya. Di dalam Alquran perintah memberi mahar kepada istri dengan penuh kerelaan dapat dibaca dalam Surah an-Nisā’/4: 4,

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati. (Alquran, Surah an- Nisā’/4: 4)

 

Begitu pentingnya mahar sebagai simbol tanggung jawab suami terhadap istri dan anaknya kelak maka diawal akad telah diwajibkan pemberian mahar itu secara sukarela (ikhlas). Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan pemberian mahar kepada wanita yang dinikahi apa pun bentuknya, tentu sebaiknya benda yang memiliki nilai ekonomis, kecuali bila tak memiliki benda yang bernilai ekonomis. Hadis berikut menerangkan betapa pentingnya mahar itu diberikan kepada istri yang dinikahi menurut kemampuan.

Seorang wanita datang menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku untuk Anda.” Rasulullah lantas memandangi wanita itu, beliau arahkan pandangannya ke atas dan ke bawah, lalu beliau menundukkan kepalanya. Ketika wanita itu melihat Rasulullah tidak memberi putusan apa-apa terkait dirinya, ia pun duduk. Tiba-tiba seorang sahabat berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Anda tidak berhasrat kepada wanita itu maka nikahkanlah aku dengannya!” Mendengar ucapan itu, beliau pun bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk kau jadikan mahar)?” Sahabat itu menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pulanglah kepada keluargamu, lihatlah apakah ada sesuatu (untuk kau jadikan mahar).” Laki-laki itu pun pergi. Beberapa saat kemudian ia kembali seraya berkata, “Tidak ada, demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak mendapati apa pun.” Beliau bersabda Iagi,”Lihatlah Iagi, meskipun yang ada hanyalah cincin dari besi.” Laki-laki itu pulang kembali. Beberapa saat kemudian ia datang dan berkata, “Tidak ada, demiAllah, wahai Rasulullah. (Aku tidak menemukan apa pun), meskipun hanya sebuah cincin besi. Namun demikian, aku punya kain ini, dan wanita itu berhak mendapat setengahnya.” Sahl-perawi hadis ini-berkata, “Kain itulah satu-satunya kepunyaan lelaki itu, bahkan rida’ sekalipun ia tak punya.” Rasulullah pun bersabda, “Apa yang akan kau lakukan dengan kainmu itu, jika kamu memakainya maka wanita ini tidak akan kebagian, dan jika ia memakainya maka kamu tidak akan kebagian. ” Laki-laki itu duduk termangu cukup lama, kemudian ia beranjak. Melihat hal itu, Rasulullah meminta seorang sahabat untuk memanggil lelaki itu. Ketika laki-laki itu datang, beliau bertanya, “Apakah kau hafal sesuatu dari Alquran. ” “Ya, aku hafal beberapa surah, ” jawabnya. Beliau bertanya, “Apakah kau hafal dengan baik?” “Ya,” jawabnya. Beliau bersabda, “Kalau begitu, baiklah! Aku menikahkanmu dengan wanita itu dengan mahar hafalan Alquranmu.” (Riwayat al-Bukhāri dari Sahl bin Sa‘d as-Sā’idi)

Apa yang telah diberikan secara khusus kepada istri tidak sepatutnya diminta kembali, kecuali jika istri memberikannya kepada suami secara suka rela. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 19)

 

  • Walimah (Resepsi)

Setelah akad, terutama setelah bercampur, disunahkan untuk melakukan walimah (resepsi) sederhana sebagai tanda syukur dengan mengundang keluarga, sahabat, tetangga, dan para kerabat untuk makan.

 

Aku menghadiri resepsi pernikahan (Nabi dengan) Zainab. Rasulullah menjamu para tamu dengan roti dan daging hingga kenyang. Ketika itu, beliau sendiri yang mengutusku untuk mengundang para sahabatnya. (Riwayat Muslim dari Anas)

 

Sementara itu, melakukan resepsi sederhana dengan mengundang orang-orang sekitar domisili (tetangga), keluarga, sahabat, bagi kedua mempelai adalah untuk mengenalkan bahwa status bujang telah dilepaskan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan atau fitnah ketika berjalan berdua atau setelah memiliki keturunan kelak. Status baru sebagai suami istri yang dikenalkan itu memberi informasi jelas agar siapa pun tidak lagi diperkenankan untuk mendekati dalam arti berniat mempersunting orang yang telah menikah tersebut.

Pentingnya walimah atau resepsi dalam kehidupan bermasyarakat juga menjadi perhatian Nabi. Karena itulah beliau berpesan kepada ‘Abdurraḥmān bin ‘Auf ketika mempersunting salah satu wanita Ansar, untuk mengadakan walimah, meskipun secara sederhana.

 

Suatu hari Rasulullah melihat bercak kuning-yakni bekas wewangian-pada baju ‘Abdurraḥmān bin ‘Auf. Beliau lantas bertanya, “Bekas apakah itu? Ada peristiwa apa?” la menjawab, “Aku baru saja menikah dengan seorang wanita-dari kalangan Ansar. Aku memberinya mahar berupa emas sebesar biji kurma.” Beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu. Kalau begitu, adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Anas bin Mālik)

 

Orang yang Baik Dinikahi

Islam mengatur umatnya supaya hidup bermasyarakat dengan baik, tiap-tiap muslim memiliki keluarga dan rumah tangga yang tenteram dan damai, dan menciptakan generasi penerus yang lebih baik. Ayat-ayat Alquran telah memberi isyarat dengan jelas, antara Iain seperti tersebut dalam Surah ar-Rum/30: 21 dan an-Nisā’‎/4: 34.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 21)

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 34)

 

Dalam Surah ar-Rūm‎/30: 21 Allah menerangkan bahwa kehidupan yang baik ialah pasangan suami istri dalam sebuah rumah tangga. Allah telah menetapkan pasangan masing-masing ‎ yang keduanya berasal dari jenis yang sama yaitu manusia, sehingga terjalin antara keduanya rasa cinta dan kasih sayang, masing-masing bersedia berkorban untuk yang lain. Keduanya bertekad untuk membangun kehidupan yang bahagia lahir dan batin, dalam rumah tangga yang tenang, tenteram, dan damai, keduanya bersedia untuk bekerja sama saling mengisi kekurangan masing-masing.

Pada akhir ayat ini disebutkan bahwa hal-hal ini menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang mau berpikir, artinya berbagai persoalan yang dihadapi pasangan suami istri harus dapat diselesaikan secara dewasa, musyawarah, dan saling memberi dan menerima. Masing-masing harus yakin bahwa tidak ada manusia yang sempurna, maka dengan kerjasama yang baik keduanya dapat mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi.

Kemudian, pada surah an-Nisā’‎/4: 34 secara garis besar Allah menerangkan tugas masing-masing dari suami isteri, bahwa Allah memberikan beberapa kelebihan pada suami baik fisik maupun mental, dan kemampuan untuk memperoleh rezeki yang menjadi kebutuhan bersama dalam rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan pada saat-saat tertentu peran istri lebih diharapkan, berhubung kondisi atau situasi tertentu. Yang penting harus ada saling pengertian supaya pasangan suami isteri dapat membangun keharmonisan dalam rumah tangga.

Dalam rangka menyelenggarakan pendidikan yang sehat juga perlu dibangun sistem kerja sama yang baik, pelaksanaan reward and punishment system yang adil, yang bertujuan untuk terbinanya keluarga yang harmonis, sehingga dapat menciptakan regenerasi yang sesuai dengan tuntunan ajaran İslam.

Dalam hadis juga diterangkan empat kriteria perempuan yang baik untuk dijadikan istri dalam pandangan kaum pria, seperti diriwayatkan oleh al-Bukhāri dan Muslim,

 

Perempuan dinikahi karena empat hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya yang akan menyelamatkan keluarga kamu. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah) 

 

Hadis ini menyebutkan empat syarat yang sempurna yaitu, yaitu kaya, cantik, bernasab baik, dan beragama. Jika keempatnya tidak terpenuhi maka setidaknya ada satu syarat yang mesti ada, yaitu beragama İslam, karena hal ini akan sangat membantu dalam pendidikan keluarga.

 

Kafā’ah (Kesetaraan)

Kafā’ah artinya kesetaraan. Pasangan suami istri yang baik ialah yang setara atau dalam istilah fikih disebut kufu. Setara di sini tentu sangat relatif, tetapi minimal tidak terjadi perbedaan yang terlampau mencolok, seperti seorang wanita yang cengeng berpasangan dengan laki-laki yang kasar dan kejam.

Kesetaraan lebih penting dalam segi psikis dan potansi seks. Bila seseorang yang sangat pemalu berpasangan dengan orang yang suka berbicara vulgar, tentu hal itu akan mengganggu kehidupan rumah tangga dan hubungan dengan orang lain. Begitupun, bila seseorang yang potensi seksnya rendah berpasangan dengan orang yang hasrat seksualnya tinggi, tentu hal itu akan menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan dari satu pihak. Kekecewaan dan ketidakpuasan yang berkumulasi akan membuat hubungan mereka tidak lagi harmonis dan pada titik tertentu memicu kejenuhan yang berpotensi mendorong seseorang untuk berselingkuh, terutama jika keduanya tidak memiliki dasar agama yang kuat.

Mendeteksi kejiwaan seseorang, apalagi potensi seks yang dimilikinya, tentu bukan perkara mudah. Namun demikian, beberapa indikator dalam kehidupan sehari-hari dapat dipelajari, begitupun dari segi keturunan dapat diketahui. Hal mudah bagi orang yang sifatnya adaptif (mudah menyesuaikan diri) untuk mengatasi perbedaan itu, tetapi tidak demikian halnya bagi orang yang tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri. Karena itu, disarankan bagi mereka untuk mencari pasangan yang berbeda sifat dan karakternya tidak terlampau jauh.

 

Larangan Menikahi Orang Musyrik dan Pezina

Selain mengharamkan menikahi kerabat dekat, saudara sepersusuan, dan kerabat dari hubungan pernikahan (muṣāharah), Islam juga melarang pemeluknya menikah dengan orang musyrik dan pezina. Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat berikut.

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 221)

الزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik, dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 3)

 

Dalam Surah al-Baqarah/2: 221 Allah menjelaskan bahwa seorang pria muslim tidak boleh menikahi wanita musyrik, dan pria musyrik juga tidak boleh menikahi wanita muslimah, kecuali jika mereka sudah menyatakan beriman dan meninggalkan kemusyrikan. Larangan ini tetap berlaku meski wanita atau pria musyrik itu rupawan, menarik hati, kaya, dan berpangkat tinggi. Budak wanita atau pria yang beriman ditegaskan jauh lebih baik dinikahi untuk membina keluarga yang sakīnah, damai, dan bahagia, daripada keluarga yang dibangun bersama orang musyrik.

Kedamaian dan keharmonisan keluarga serta kelancaran pendidikan anak dan istri jauh lebih penting daripada melanggar ketentuan Allah dan memperturutkan emosi sesaat serta mengikuti hawa nafsu. Mengikuti petunjuk Allah jelas membawa ketenteraman batin dan kebahagiaan dunia dan akhirat, sedangkan mengikuti nafsu pribadi apalagi melanggar ketentuan Allah pasti menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan dalam kehidupan di dunia maupun akhirat. Demikian pelajaran yang diberikan kepada kita semua.

Kemudian pada Surah an-Nūr/24: 3 Allah menerangkan bahwa pria mukmin tidak menikah dengan wanita pezina, dan pria pezina juga tidak menikahi wanita muslimah. Pria atau wanita pezina, selain kotor dan mungkin membawa penyakit kelamin seperti HIV/AIDS, juga memiliki kebiasaan yang tidak baik, karena menganggap perbuatan zina itu sebagai hal yang wajar dan biasa saja. Allah berfirman,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (Alquran, Surah anNūr/24: 26)

 

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa wanita yang tidak baik biasanya menjadi istri pria yang tidak baik pula. Begitupun, pria yang tidak baik adalah untuk wanita-wanita yang tidak baik. Persamaan dalam sifat, karakter dan akhlak biasanya menimbulkan keakraban dalam persahabatan dan pergaulan yang lebih erat.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu