PERLINDUNGAN LINGKUNGAN

PERLINDUNGAN LINGKUNGAN

Masalah perlindungan lingkungan didekati dari sudut pandang keberlanjutan (sustainability). Kita mulai dengan diskusi tentang sejarah dan rumusan tentang keberlanjutan -apa arti dari keberlanjutan dalam konteks perlindungan lingkungan? Dan bagaimana ia semestinya membentuk cara yang kita pilih dalam menjalani hidup kita? Kami melanjutkan dengan diskusi tentang isu-isu kunci perlindungan lingkungan yang dikemas di seputar strategi hidup yang berkelanjutan, dan menutup dengan saran untuk menyertakan isu-isu ini ke dalam kegiatan belajar dan mengajar sains.

Pada akhir 1880-an, John Audubon memimpin gerakan pelestarian (konservasi) Amerika yang berpijak pada keyakinan bahwa lingkungan alam kita harus dibuat terpisah dan dilindungi dari manusia. Berakar pada nilai-nilai penghargaan Kristiani terhadap ciptaan, gerakan ini berharap untuk menginspirasi kesalehan melalui kekaguman terhadap keindahan dan keanekaragaman alam. Pada awal abad kedua puluh, alasan utama untuk menciptakan kawasan lindung adalah untuk meningkatkan akses publik ke area alam yang indah untuk rekreasi dan pariwisata, untuk melindungi habitat satwa liar untuk tujuan berburu, atau untuk melindungi hutan dari kepentingan penebangan, melindungi area dari spekulan tanah, dan memastikan bahwa area tertentu terjaga bagi kemanfaatan semua pihak adalah tujuan yang secara resmi dinyatakan dalam pembuatan taman. Baru-baru ini dalam sejarah kita, tujuan perlindungan tanah telah berubah.

Pada 1967 Komisi Dunia Untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development, WCED) mempublikasikan Masa Depan Kita Bersama (Our Common Future). Laporan ini berpengaruh dalam beberapa hal. Ia menyatakan bahwa masalah lingkungan global yang penting terutama diakibatkan oleh kemiskinan besar Global Selatan (yang disebut Dunia Ketiga, atau negara-negara berkembang} dan pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan di Utara. Laporan itu mengingatkan dunia akan mendesaknya upaya membuat kemajuan ke-arah pembangunan ekonomi yang bisa dipertahankan tanpa menggerus sumber daya alam atau merugikan lingkungan. Ia mengusulkan konsep pembangunan berkelanjutan, sebuah strategi yang memadukan pembangunan dan lingkungan.

Laporan itu menyoroti tiga komponen dasar pembangunan berkelanjutan: perlindungan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan kesetaraan sosial. Ia mendefinisikan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sebagai pembangunan yang “memenuhi kebutuhan saat ini tanpa menggerogoti kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri” (WCED 1987, 8). WCED menekankan bahwa lingkungan harus dilestarikan, dan basis sumber daya kita agar ditingkatkan, dengan berangsur-angsur mengubah cara-cara kita mengembangkan dan menggunakan teknologi.

Bagaimana cara kita merumuskan kawasan lindung telah berkembang seiring dengan perubahan pemikiran lingkungan. Seiring kebutuhan untuk melestarikan habitat spesies yang dalam keadaan bahaya atau terancam-memperoleh dukungan selama tahun 1970-an dan 1980-an, kami melihat perubahan signifikan dari pelestarian area untuk peluang rekreasi menuju ke pelestarian area dalam rangka melestarikan sifat alam dan keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang.

Masa Depan Kita Bersama merupakan titik balik dalam pemikiran seperti itu. Spesies dan ekosistem yang dimulai dengan pernyataan, “Pelestarian sumberdaya alam hidup -tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme- dan unsur-unsur tidak-hidup tempat mereka bergantung sangat penting untuk pembangunan” (WCED, 1987:147), membahas penurunan dan kepunahan spesies, perubahan habitat, penyebab kepunahan, nilai ekonomi yang dipertaruhkan, dan tindakan spesifik yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi spesies dan habitat. Namun, ia tidak merumuskan istilah dilindungi atau mengidentifikasi tujuan pengelolaan lahan secara spesifik untuk status dilindungi. Sebagai akibatnya, istilah kawasan lindung telah digunakan untuk menetapkan beragam area dengan beragam tujuan dan rezim pengelolaan. Misalnya, beberapa area lindung tertutup untuk sumber daya alam dan pengembangan industri, sedangkan yang lain memperbolehkan penggunaan demikian jika sejalan dengan tujuan dan praktek pengelolaan kawasan tertentu.

Perlindungan tanah dan sumber daya lain hanyalah satu unsur dari pelestarian (konservasi) yang harus dilihat dalam konteks yang lebih besar berupa pembangunan berkelanjutan. Penting untuk melihat lebih dari sekadar luas tanah yang dilindungi dan beralih ke kualitas keanekaragaman hayati, bagaimana tanah dikelola, apakah hak sumberd aya dan tanah masyarakat setempat” dan seberapakah biaya dan manfaat dan bagaimana. Mereka tersebar di masyarakat. Fokus pada spesies yang terancam punah atau keanekaragaman spesies harus diseimbangkan dengan memperhatikan komponen keanekaragaman hayati yang dijunjung oleh masyarakat setempat; apakah spesies dimaksud mereka jadikan makanan dan obat-obatan? Apakah ada alternatif untuk menjaga tetap terpisahnya manusia dan alam? Bagaimana tanah bisa dikelola dengan cara lain yang mengutamakan konservasi tanpa melalui pemagaran dan penjagaan tanah dari aktivitas manusia? Bagaimana cara kita untuk bisa mengaitkan konservasi dengan mata pencaharian? Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengelolaan tanah lindung?

Pembangunan berkelanjutan, suatu integrasi pelestarian dan pembangunan, adalah keseimbangan antara kebutuhan untuk melestarikan sumber daya lingkungan dan keperluan akan kemajuan ekonorni dan pembangunan. Ketegangan. antara perlindungan sumberdaya, konservasi, dan pembangunan sering disalahpahami sebagai persoalan “manusia lawan alam”. Gagasan tentang pembangunan berkelanjutan menentang pemikiran yang mengatakan bahwa melindungi keanekaragaman hayati berarti menjaga alam dan manusia terpisah. Untuk hidup secara lestari, kitaharusmengurangi tuntutan kita terhadap sumberdaya alam dan memahami ketegangan d. . i antara pemanfaatan berkelanjutan sumber-sumber daya yang terbarui (renewable), seperti kayu, dan pelestarian sumber daya yang tak terbarui (nonrenewable), seperti bahan bakar fosil.

Pada 1992, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan Konferensi Untuk Lingkungan Dan Pembangunan di Rio de Janeiro, Brasil. Pertemuan tersebut, yang sering disebut sebagai KTT Bumi Rio (Rio Earth Summit), menimbulkan kesadaran -yang lebih besar dan pemahaman atas ide pembangunan berkelanjutan. Salah satu fokus penting pertemuan itu adalah mencari cara untuk hidup, bekerja dan berada yang memungkinkan semua orang di dunia untuk menjalani kehidupan yang sehat, memuaskan, dan aman secara ekonomis tanpa memsak lingkungan dan tanpa membahayakan masa depan kesejahteraan manusia dan planet.

Keberlanjutan sekarang lebih dianggap sebagai lebih dari sebuah konsep ekologi; ia juga mempakan konsep ekonomi, politik, dan sosial. Pembangunan berkelanjutan menyangkut pembangunan masyarakat dan ekonomi dengan berfokus pada pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam kita -kemajuan dan ekuitas lingkungan, ekonomi dan sosial di dalam batas-batas alam. Meski konsep tersebut sudah sangat populer, definisinya masih sulit diupayakan. Salah satu definisi pembangunan berkelanjutan adalah menjaga kualitas hidup untuk semua di dalam batas-batas alam. Dengan demikian, masyarakat memenuhi kebutuhannya sembari melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem alam dengan cara yang memungkinkan generasi masa depan untuk mempertahankan kualitas kehidupan.

Mari kita lihat sistem pangan berkelanjutan sebagai contoh. Sistem pangan menjelaskan langkah-langkah yang terlibat dalam mendapatkan makanan “dari ladang ke piring”. Sebuah sistem pangan berkelanjutan memungkinkan, sebagaimana ditunjukkan oleh definisi di atas, semua anggota masyarakat dari petani, ke pekerja pertanian, ke pekerja rumah jagal, ke konsumen untuk mempertahankan kualitas hidup dalam batas-batas alam. Di antara aspek terpenting dari sistem pangan berkelanjutan adalah teknik bertani organik atau perlakuan-minimal, keanekaragaman spesies tanaman bukannya monokultur, upah hidup dan kondisi kerja yang manusiawi untuk buruh tani, dan struktur distribusi lokal yang mengedepankan komunitas, menyediakan akses ke makanan sehat bagi semua, dan menggugah ekonomi setempat (lokal). Sebagai konsumen kita mempunyai pilihan tentang apa jenis sistem pangan yang hendak kita dukung. Dengan membeli makanan di pasar petani, kita mendukung petani lokal dan mengurangi kebutuhan akan bahan bakar fosil; dan dengan memilih daging dan produk yang ditani secara organik, kita mendukung teknik yang mengurangi pencemaran tanah dan air dan memberikan kontribusi untuk kesehatan masyarakat kita. Dengan demikian, sistem pangan berkelanjutan mengintegrasikan konservasi sumberdaya dengan pembangunan ekonomi melalui cara yang mengedepankan keadilan sosial dan ekologikal.

Pendidikan untuk hidup berkelanjutan pada dasarnya adalah tentang membangun dan memelihara masyarakat berkelanjutan yang tidak mengganggu kemampuan alam untuk melangsungkan hidup. Sebagai pendidik sains, kita bisa mewujudkannya dengan mendidik kemelekan ekologi dan menanamkan pengertian tentang keterhubungan segala kehidupan ke dalam sains fisikal dan kehidupan. Melihat dunia sebagai sebuah keseluruhan yang saling terhubung dan memahami dasar-dasar ekologi -jaringan, sistem bersarang, daur, aliran, pembangunan, dan keseimbangan dinamis- berarti memahami pola dan proses pelangsung-kehidupan pada alam dan kedudukan kita di dalam alam. Masyarakat yang terdidik secara ilmiah selalu terdidik secara ekologis. Memahami masalah sosial dan lingkungan dewasa ini, termasuk pemanasan global; pencemaran udara, air dan tanah; penggundulan hutan (deforestasi); berkurangnya laban pertanian; berkurangnya keanekaragaman hayati; dan kesehatan; kelebihan penduduk, kemiskinan, konsumsi energi, produksi limbah, dan isu-isu transportasi tidaklah cukup. Kita juga harus mengerti bagaimana masalah terjalin secara rumit satu sama lain dan dengan kemajuan di bidang sains, teknologi, dan kemajuan ekonomi, dan implikasi keputusan individu dan masyarakat terhadap kesehatan lingkungan dan masyarakat lokal dan global. Yang paling penting, guru bisa membantu memberdayakan siswa untuk mengambil tindakanpada tingkat individu dan masyarakat tingkat yang mengarah pada kehidupan berkelanjutan.

-Loaiza Ortiz dan Miyoun Lim-

Leave a Reply

Close Menu