PERILAKU AIR

PERILAKU AIR

Serial Quran dan Sains

Uraian umum tentang air, baik dalam proses penciptaan /pembentukan dan sifat-sifatnya sebagai benda alam maupun manfaatnya bagi manusia, tampaknya tidak ada pertentangan berarti antara apa yang teramati umat manusia melalui perkembangan sains dengan apa yang termaktub di dalam kitab suci Alquran. Beberapa peristiwa khusus yang dikisahkan di dalam Alquran berupa fenomena di zaman para nabi terdahulu, ketika air berperilaku di luar kebiasaannya, masih sulit diterangkan oleh sains. Meski upaya pencarian bukti-bukti untuk mengurai sebab-sebab dan proses kejadiannya secara saintifik masih belum tuntas dilakukan para ilmuwan, tetapi karena itu semua adalah kejadian yang menyangkut mukjizat maka pada umumnya umat beragama dapat menerima kejadian ini sebagai hal yang memang terjadi sebagai satu bukti kekuasaan Allah.

Di dalam Alquran, sifat-sifat air dilukiskan secara sederhana, berupa peringatan, perumpamaan, dan perintah berperilaku sehingga penafsirannya bisa diikuti oleh siapa pun dengan mudah. Ketika membahas hujan misalnya, proses daur air diuraikan dengan singkat, sederhana, gamblang, dan mudah dimengerti, tapi sekaligus lengkap dan rinci, meskipun terpisah-pisah dalam beberapa ayat di dalam surat yang berlainan. Hal ini tentu dapat dimengerti karena Alquran tidak dimaksudkan sebagai buku sains, melainkan sebagai peringatan, pencerahan, dan petunjuk yang membimbing manusia menuju peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Yang Mahakuasa.

Di dalam sains, penguraian tentang perilaku air didasarkan atas hasil pengamatan yang lama, yang kemudian dirumuskan secara berangsur-angsur oleh para ilmuwan sepanjang perkembangannya. Perumusan ini harus didukung pula oleh pemahaman-pemahaman yang  menyeluruh mengenai berbagai disiplin ilmu seperti fisika, kimia, dan matematika, serta harus pula melibatkan alat-alat pengamatan yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan sains itu sendiri. Namun dengan mengerti kerumitan itu, atas berkah Allah pula, kemanfaatan air untuk umat manusia terus dirasakan dan disyukuri. Peningkatan manfaat ini disebabkan antara lain oleh penemuan-penemuan dan penerapan teknologi baru. Akan tetapi, disadari atau tidak, sampai saat ini, walaupun manusia dapat memanfaatkan air, yang tersedia sebanyak yang dia mampu dan dengan cara yang amat canggih, ternyata kontrol manusia terhadap air dan perilakunya (dan juga alam ini pada umumnya) sangat terbatas. Bukti keterbatasan itu tampak pada masih banyaknya masalah yang berkaitan dengan air atau bahkan bencana yang terus-menerus terjadi hingga kini. Keterbatasan manusia memang sudah ketetapan Allah dan dalam masalah air ini, Allah tegaskan berupa pertanyan di dalam ayat-ayat berikut.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ۝ أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ۝ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ۝

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (Alquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 68-70)

 

Dengan keunikan sifat-sifatnya, perannya bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya, dan kemungkinan pemanfaatannya untuk kesejahteraan manusia, tampak jelas bahwa air merupakan suatu bentuk dari rahmat Allah untuk umat manusia. Meski demikian, suatu saat air bisa berubah menjadi sumber bencana. Pada zaman ini kita semakin mengerti bahwa timbulnya permasalahan air dan bencana akibat air umumnya disebabkan oleh kesalahan manusia dalam mengelola dan mengeksploitasi alam. Sementara itu, Alquran menceritakan kisah-kisah bencana yang disebabkan oleh air sebagai azab Allah terhadap kaum terdahulu yang berdosa atau melampaui batas dan tidak mampu mengelola alam karunia Allah. Bagaimanapun, umat Islam harus meyakini bahwa apabila manusia bersikap dan berperilaku sesuai dengan perintah atau kehendak Allah maka bencana pasti dapat dihindari atau diminimalisasi. Allah berfirman,

مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا۝

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muḥammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi (Alquran, Surah an-Nisa‘/4: 79)

 

Di ayat lain, kita memahami bahwa siapa yang berbuat baik atau berbuat buruk (kerusakan) maka akibatnya akan kembali kepadanya, karena Allah sama sekali tidak akan menzalimi hamba-Nya sedikit pun, sebagaimana dapat dicermati dalam ayat berikut.

مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ۝

Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya (Alquran, Surah Fushilat/41: 46)

 

Sejalan dengan perkembangan peradaban selama sejarah manusia, persepsi terhadap air mengalami pula perubahan. Pada awalnya air dianggap sebagai barang alami  yang tersedia secara cuma-cuma. Karena air merupakan barang vital maka untuk alasan kemudahan mengakses, manusia selalu mendekati sumber air. Sampai sejauh itu air tetap dianggap sebagai barang yang ketersediaannya tidak terbatas di alam, hanya masalah jauh dan dekatnya saja. Dengan demikian, walaupun tanah tempat sumber air dikuasai seseorang, tetapi limpahan air yang keluar darinya masih merupakan barang alami yang berhak dipakai siapa saja. Di daerah-daerah sulit air, seperti di Semenanjung Arab, air permukaan sulit diperoleh. Air bersih biasa didapat dengan menggali sumur sehingga seseorang yang berkemampuan menggali sumur dan memperbolehkan orang lain untuk mengambil air darinya akan dianggap sebagai orang yang sangat berjasa. Pada keadaan seperti ini air menjadi barang sosial. Di kawasan ini umum didapati suatu komunitas menggali sumur secara bersama dan mempergunakannya bersama pula.

Seiring makin langkanya air bersih, seperti di daerah perkotaan dewasa ini, penyediaan air bersih memerlukan upaya (dan biaya) yang besar. Oleh karena itu, untuk bisa memperoleh air seseorang harus membayar biaya penyediaannya. Karena prasarana penyediaan air juga memerlukan biaya pemeliharaan (maintenance) yang seringkali tidak lebih murah daripada biaya pembangunannya maka pada praktiknya seringkali ongkos penyediaan ini ditarifkan menurut jumlah volume air yang disediakan. Pada kondisi seperti inilah air berubah menjadi barang ekonomi. Pada perkembangan terakhir, timbulnya kesadaran bahwa bukan hanya manusia yang memerlukan air, tetapi juga Iingkungan di sekitar (hewan, tumbuhan, penyerap panas, dan sebagainya) maka timbul pula kesadaran bahwa eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya air akan merusak lingkungan hidup dan menghentikan keberlanjutan tersedianya sumber daya air. Status air kemudian berubah lagi menjadi barang ekologis yang juga harus dimanfaatkan dengan bijak agar kita dapat mewariskan bumi dalam keadaan baik kepada generasi mendatang.

Persepsi Islam terhadap air tidak berbeda dengan persepsi umat manusia pada umumnya. Meski air merupakan barang yang dipakai untuk bersuci, tetapi air di dalam Islam tidak dianggap sebagai barang suci secara sakral. Dari aspek praktis, air adalah untuk dimanfaatkan dengan cara yang bijak, tentunya dengan mengedepankan kemaslahatan secara umum. Ajaran Islam tentunya telah pula mengatur perilaku umatnya dalam menghadapi keterbatasan air karena Islam diturunkan di tanah Arab yang kering. Tetapi terbatasnya ketersediaan air tidak boleh menyebabkan orang Islam menjadi sangat ketakutan sehingga menyebabkan dia menjadi tamak dan rakus. Dalam keadaan berlebih ataupun kurang hendaknya air (dan apa pun) menjadi sarana untuk berbuat amal kebajikan. Islam juga memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan sumber daya dengan bijak seraya tetap menjaga keberlanjutannya, baik secara langsung maupun tidak, misalnya dengan melarang mengotori sumber air dan anjuran menanam pohon. Memang perintah khusus untuk menjaga sumber daya air (alam) dan Iingkungan tidak secara eksplisit ditegaskan, tetapi apabila umat Islam mengerjakan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya, akan terbentuk akhlak yang diharapkan Islam, seperti adil, jujur, qanā‘ah, zuhud, pemurah, dan sejenisnya. Ini tidak akan bertentangan dengan kepentingan kemanusiaan, Iingkungan, dan tatanan alam pada umumnya, bahkan ia menjadi hal yang sangat menguntungkan, baik bagi kehidupan sosial maupun bagi keberlanjutan sumber daya (air ataupun sumberdaya alam lainnya), baik untuk masa kini maupun masa mendatang.

وَأَن لَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا۝

Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup (Alquran, Surah al-Jinn/72: 16).

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu