PERCAKAPAN DENGAN MAHASISWA

PERCAKAPAN DENGAN MAHASISWA

Menurut kantor penerimaan mahasiswa, mahasiswa di American University of Sharjah (ADS) berasal dari 60 negara. Tidak ada statistik mengenai afiliasi keagamaan mereka, karena berkas pendaftaran yang harus mereka isi tidak mencantumkan pertanyaan itu. Namun, dari pengamatan umum saya, saya berani mengatakan bahwa hampir 80 persen mereka adalah Muslim. Akan tetapi, sikap mereka umumnya mencerminkan spektrum luas terhadap dogma dan praktik keagamaan; misalnya, sekitar separo mahasiswi mengenakan jilbab dan pakaian tradisional, sementara separo lainnya mengikuti cara berpakaian ala Barat. Dalam lingkup regional, mahasiswa ADS cenderung lebih liberal dibandingkan anak muda Muslim kebanyakan; mereka juga punya potensi akademik dan tingkat pembelajaran yang lebih tinggi.

Survei tentang agama dan sains yang saya lakukan di ADS selama satu semester musim gugur tahun 2007 tidak menarik banyak perhatian. Beberapa dosen yang sebelumnya mengisi kuesioner bertanya kepada saya mengenai hasil umumnya. Banyak mahasiswa bertanya-tanya seputar proyek saya, berikut pandangan saya sendiri. Bahkan, sebagian dari mereka ingin membahas topik itu secara lebih luas dan mendalam, dan karenanya saya membuka sesi tanya jawab di kantor saya. Marzieh adalah seorang mahasiswi asal Iran jurusan Teknik; ia adalah mahasiswi pintar, rajin, dan sangat tertarik dengan isu-isu agama dan budaya, belum lagi isu-isu ilmiah. Dari sisi penampilan, ia kelihatan sebagai sosok yang agak konservatif, tapi dari sisi intelektual (barangkali karena latar belakang Syiahnya) ia berpikiran sangat terbuka.

Rami adalah seorang mahasiswi asal Palestina jurusan Jurnalisme; ia sangat terkesan dengan topik-topik astronomi yang sedang ia pelajari dan mungkin akan memilih karier di bidang pelaporan sains, sesuatu yang masih jarang di belahan dunia ini.

Aya adalah seorang mahasiswi asal Mesir jurusan Kajian Internasional; ia adalah mahasiswi cerdas yang ingin benar-benar menguasai setiap subjek yang dipelajarinya.

Mohammad adalah seorang mahasiswa asal Pakistan; ia pintar, jenaka, dan sangat tertarik dengan wacana filosofis serta topik-topik tentang sains dan kosmos. Tampaknya ia juga seorang yang sangat konservatif (ia pernah sekali memenangi penghargaan dalam sebuah kompetisi Islami). Namun, tentu saja penampilan kadang menipu, karena ia ternyata punya sikap dan sudut pandang yang progresif, dan ia sama-sama suka mengutip Einstein dan The X-Files, Al-Ghazzali, dan Pink Floyd.

Para mahasiswa itu, pertama dan paling utama, sangat ingin mengetahui hasil survei. Saya memberi sedikit bocoran kepada mereka dengan menunjukkan beberapa hasil penting dan mengejutkan. Mereka kemudian bertanya soal pendapat umum saya; saya bilang kepada mereka bahwa saya akan menjawab apa pun pertanyaan mereka asalkan mereka terlebih dahulu mau menjawab beberapa pertanyaan dari saya.

Mula-mula saya bertanya kepada mereka: Menurut Anda, secara umum apakah adalah masalah antara Islam dan sains modern?

Rami adalah orang pertama yang menjawab. Ia berkata: “Saya rasa tidak ada masalah antara Islam dan sains modern. Masalahnya ada pada kita. Kebodohan kitalah yang membuat kita tidak bisa menjembatani jurang yang menganga antara keduanya, dan juga kita tidak sadar bahwa Alquran menyinggung banyak sekali mukjizat sains modern”. Saya segera menimpali: “Tahan dulu gagasan i’jaz itu, saya mau mengulasnya sebentar lagi”. Ia menambahkan: “Baiklah, tapi ada beberapa isu yang bisa menjadi masalah, misalnya kloning yang dengannya manusia ingin (tapi gagal) menjadi Tuhan, dan juga pengubahan bentuk alamiah seseorang (melalui bedah plastik), yang sudah diberikan Tuhan kepada Anda”. Saya menjawab: “Hmm… semua itu adalah isu-isu ‘praktis’ yang menarik, tapi saya lebih tertarik dengan isu-isu yang lebih konseptual.”

Marzieh berkata: “Saya rasa, ada konflik dalam beberapa hal. Beberapa doktrin Islam tidak cocok dengan sains modern, keseluruhan filsafat sains modern masih bermasalah, seperti pengingkaran terhadap Tuhan dan segala sesuatu yang suci”. Aya mengamini: ‘Ada beberapa persoalan antara Islam dan Sains Modern, karena sains secara umum muncul jauh belakangan dibandingkan agama, dan karena itu ia masih butuh lebih banyak waktu dan eksplorasi untuk bisa sampai kepada pemahaman yang lebih utuh mengenai dunia. Namun, sebenarnya jika segala sesuatu dilihat sebagaimana mestinya, akan tampak bahwa Islam dan sains modern itu ibarat dua sisi keping mata uang; keduanya saling melengkapi satu sama lain.”

Lalu saya menatap Mohammad yang gemar filsafat. Ia berkata: “Saya kira tidak ada persoalan antara Islam dan sains. Masalah biasanya muncul dari orang yang menyamakan watak sains dengan watak agama. Misalnya, mereka yang ingin membuktikan pandangan umum bahwa Alquran itu Ilahi karena berisi fakta-fakta ilmiah yang hanya baru-baru ini saja bisa diungkap”.

Kemudian, saya mengemukakan pandangan saya sendiri. Pertama-tama, saya menekankan perlunya menjelaskan makna Islam: Apakah kita bicara tentang Alquran? Jika ya, kita harus membedakan ayat-ayat, prinsip-prinsip, dan detail-detail yang terdapat di dalamnya; begitu pula semua penafsiran yang dalam praktiknya telah dilekatkan pada Teks itu dan telah menjadi bagian ‘integral’ pemahamannya; apakah Islam yang kita maksud adalah pokok-pokok agama (Alquran dan Hadis); ataukah kita sedang bicara soal keseluruhan Tradisi? Di sisi lain, istilah sains juga harus didefinisikan dengan jelas: Apakah kita mengartikannya sebagai pengetahuan umum tentang dunia yang kita tempati, ataukah metode yang digunakan untuk memahami alam? Apakah kita mengetahui landasan yang menopang keseluruhan upaya ilmiah itu? Tergantung pada definisi Islam dan sains mana yang dipilih. Jika keseluruhan pendekatan materialistis  sains modern diterima, maka yang terjadi bisa saja konflik atau malah kesesuaian.

Lalu saya berkata: “Sekarang, saya sudah tak sabar untuk segera menyoal informasi ilmiah modern dalam Alquran, tapi sebelum itu, saya ingin bertanya kepada Marzieh bagaimana mendamaikan keduanya (karena tidak seperti yang lain, jawabannya mengatakan ada pertentangan antara Islam dan sains)”. Marzieh menjawab: “Menurutku, teori adalah produk pikiran manusia, dan karenanya ia tidak serta merta menjadi jawaban final dan mutlak”. Rami menambahkan: “Pendidikan adalah kuncinya. Kita harus mencerahkan pikiran kita menurut rambu-rambu yang Tuhan tetapkan dalam Kitab Suci. Kita harus mengenali batasan kita dan menghindari dampak yang bisa muncul dari tindakan kita yang terlalu bebas”. Aya menimpali: “Saya pribadi yakin dengan apa yang telah termaktub dalam Alquran dan ajaran Nabi Muḥammad. Saya meyakini kebenarannya, dan pengalaman saya di masa lalu membuktikan bahwa saya benar. Sekarang, saat saya berhadapan dengan sebuah teori baru, mula-mula saya berupaya melihatnya secara objektif (memahaminya tanpa menghakimi terlebih dahulu), kemudian menganalisisnya dan mencari tahu apakah ada kemiripan antara teori ini dan logika Islam. Jika buktinya sejalan dengan teori ini, dan selaras dengan Islam, maka saya menerimanya. Jika yang terjadi sebaliknya, saya berupaya mencari letak kesalahan teori itu dan solusinya. Tepat pada waktunya, sains (beserta teori-teorinya) akan berjumpa dengan pandangan Islam”. Tiba-tiba, Mohammad berujar: “Saya tidak berupaya mendamaikan keduanya, karena bagiku Alquran bukanlah buku teks tentang sains.” Saya berkomentar bahwa rekonsiliasi antara Islam dan sains modern akan sangat bergantung pada cara baca (literal vs. interpretatif) seseorang terhadap teks-teks keagamaan. Semakin harfiah cara baca seseorang, semakin banyak masalah yang akan ditemuinya ketika berusaha menyelaraskan sains dengan Islam.

Lalu saya kembali ke soal i’jaz: “Menurut Anda, ada berapa banyak sains dalam Alquran?” Rami menjawab: ”Apakah Anda kenaI Harun Yahya? Ia sudah menulis panjang lebar untuk menggali fakta-fakta ilmiah dari Alquran!” kata Mohammad yang mulai terpancing, lalu saya jawab: “Sebelum yang lain berkomentar, saya harus tegaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Harun Yahya masih kalah jauh dari pemikir lain, semisal Zaghloul An-Najjar. Pastikan Anda membaca buku saya bila sudah terbit nanti”. Aya juga meyakini i’jaz dalam Alquran dan berkata: “Sekumpulan fakta ilmiah sudah terungkap dalam sejumlah ayat. Saya bisa berikan banyak contohnya”

Mohammad lalu berkata: “Saya kira sains dalam Alquran hanya bersifat ilustratif saja. Ada contoh-contoh seperti tahapan embrio, siklus air, dan seterusnya. Saya pakai istilah ilustratif karena saya yakin ayat-ayat yang berkenaan dengan fakta-fakta ilmiah itu tidak secara khusus diwahyukan untuk itu sehingga hanya orang yang punya pengetahuan ilmiah saja yang bisa memahaminya; ayat-ayat itu bisa dipahami oleh para sahabat Nabi dan tabi’in. Banyak orang, termasuk mereka yang bersikukuh akan ‘kemukjizatan’ ayat-ayat itu, tidak tahu bahwa kebanyakan -jika tidak semua- fakta-fakta itu sebenarnya sudah dikenal, diverifikasi, dan dibuktikan oleh para saintis dan matematikawan Yunani jauh sebelum Alquran diwahyukan. Terlebih lagi, banyak dari mereka yang mencoba mencocokkan penafsiran dangkal terhadap Alquran dengan fakta-fakta ilmiah sering kali salah menafsirkan ayat-ayat itu”. Ia lalu menambahkan: ‘jika saya tahu sebuah fakta ilmiah yang ternyata sejalan dengan penafsiran eksoteris terhadap sebuah ayat Alquran, maka itu bagus. Namun bila terjadi sebaliknya, saya berkeyakinan (a) fakta ini pastilah sebuah temuan ilmiah yang sifatnya sementara dan bisa jadi akan terbukti sebaliknya di masa depan; (b) kemungkinan ada sebuah penafsiran esoteris yang berguna; [dan] (c) pemahaman saya terhadap keseluruhan persoalan itu mungkin keliru, dan saya perlu mengubah pendekatan saya seutuhnya.”

Saya menantang Mohammad: “Bila semua itu gagal?” Ia menjawab: ‘jika semuanya gagal, maka saya harus menyoal keyakinan saya dan mencari tahu apakah saya mesti mengandalkan Alquran hingga sejauh itu”. Saya terkesan dengan kejujuran dan integritas intelektual Mohammad.

Lalu saya beralih ke Marzieh, berharap ia akan mengemukakan pendapatnya. Ia berkata: “Bila yang kita maksud dengan sains adalah sains modern dan teknis seperti teknik mesin, saya kira kita tidak akan menjumpainya dalam Alquran; semua sains ini pastilah ada landasannya dalam Alquran. Saya juga yakin tujuan Tuhan memasukkannya ke dalam Alquran pada hakikatnya bukan karena Dia ingin mengajari kita, tapi karena Dia ingin menunjukkan kepada kita (dan setiap orang) kekuasaan-Nya. Alasannya, di masa pewahyuan belum ada seorang manusia pun yang tahu mengenai fakta-fakta ilmiah itu. Karena itulah Kitab ini datang dengan pengetahuan mutlak. Namun, saya harus tambahkan di sini bahwa keberadaan sains dalam Alquran tidaklah menambah atau mengurangi nilainya.”

Saya lalu putuskan untuk mengulas salah satu topik yang barangkali paling panas antara Islam dan sains. Saya bertanya: ‘Apakah Anda yakin bahwa Islam menentang teori Darwin?”

Rami menjawab: “Ya, Alquran jelas-jelas menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama yang menghuni bumi. Mungkin saja kera di masa lalu punya stroktur tubuh yang lebih besar, tapi kita tidak tahu pasti. Baik Adam maupun kera mungkin telah mengalami perubahan ukuran sepanjang lintasan waktu tapi bukan berarti bahwa salah satu berevolusi dari yang satu lagi”. Aya merasakan hal yang sama: “Menurut teori Darwin, manusia berasal dari proses evolusi, sebuah klaim yang bertentangan dengan persepsi Islam mengenai penciptaan. Manusia lebih unggul daripada binatang sehingga tidak seharusnya digolongkan ke dalam satu spesies. Manusia unggul dari segi fisik, psikologis, dan intelektual. Maka dari itu, karena penciptaan dan evolusi adalah dua hal yang sama sekali bertolak belakang, saya kira kedua pandangan itu mustahil bisa didamaikan. Penciptaan sederhananya berarti adanya sesuatu dari ketiadaan, sementara evolusi berarti adanya sesuatu dari sesuatu lain yang sudah ada sebelumnya. Pada hakikatnya, keduanya berbeda”. Saya beralih ke Marzieh dan bertanya, “Bagaimana menurut Anda? Bisakah keduanya dipertemukan?” Ia menjawab: “Saya tidak tahu banyak soal teori itu, tapi sejauh yang saya tahu dan pahami, saya kira mustahil Islam bisa didamaikan dengan Darwinisme”. Mohammad tampak bersemangat untuk memberikan satu pandangan yang lebih positif: “Sebenarnya yang bertentangan dengan teori evolusi Darwin itu adalah penafsiran sejumlah individu terhadap Alquran. Alquran sejatinya tidak menafikan proses evolusi di mana pun, sekalipun ia mengedepankan konsep Adam dan Hawa. Sudah ada banyak penelitian yang membahas isu ini (misalnya, apa yang dikenal dengan “Hawa-nya Mitokondria”- Mithochondrial Eve), dan saya tidak akan kaget bila nanti di masa depan kita mungkin menetapkan bahwa Adam dan Hawa pernah berada di sana! Hingga masa itu, kita harus mengakui evolusi sebagai sebuah proses yang sedang berlangsung dan niscaya. Satu gagasan menarik yang melintas di pikiran saya adalah pernyataan seorang cendekiawan bahwa Tuhan memilih pasangan tertentu di antara Homo sapiens pria dan wanita lalu meniupkan ruh (rūh) kepada mereka sehingga mereka berbeda dari rekan-rekan mereka (ia juga mengartikan makan buah terlarang sebagai kesadaran mereka akan bentuk peralihan mereka dari sekadar ‘binatang’ menjadi benar-benar manusia yang punya tingkat pemahaman yang tinggi). Tapi, tidak seorang pun tahu pasti apa atau bagaimana segala sesuatunya pernah terjadi”.

Para mahasiswa ingin sekali mendengar pandangan saya tentang subjek ini. Saya berkata: “Mustahil saya menjelaskan secara lengkap pendapat saya tentang persoalan ini karena butuh berpuluh-puluh halaman untuk membahas topik ini dalam buku saya; tapi saya akan menyampaikan kepada Anda pokok pikiran saya. Pertama, kita tidak punya pilihan selain menerima fakta yang telah terbukti kuat, dan evolusi adalah sebuah fakta alam yang telah dibuktikan melalui banyak metode yang berbeda-beda. Teori Darwin tentu saja bukan teori final tentang subjek ini, seperti halnya teori gravitasi Newton kemudian diikuti teori Einstein, tapi tetap saja teori Darwin adalah teori yang sangat kuat, kecuali dalam beberapa aspek kecil. Sekarang, masalah bisa datang dari dua arah: (1) Pemahaman materialistis terhadap teori evolusi, yang meniadakan segala bentuk rencana atau tujuan Ilahi di balik proses itu, dan (2) Pemahaman harfiah terhadap sejumlah ayat, khususnya yang berkenaan dengan penciptaan manusia. Kebanyakan, bila tidak semua, konflik nyata itu bisa diredam melalui bacaan dan pemahaman yang tidak terlalu kaku baik terhadap Alquran maupun terhadap teori ilmiah itu.”

Tinggal satu atau dua pertanyaan untuk para mahasiswa saya -sebelum saya mulai memaparkan filosofi pribadi saya tentang keseluruhan subjek itu. Saya bertanya kepada mereka: “Menurut Anda, apakah sains secara umum bisa menguatkan keimanan ataukah malah menguatkan ateisme?”

Marzieh menjawab: “Saya rasa awalnya sains memang mendorong ke arah ateisme, tapi bila disertai dengan pengetahuan dan pemikiran yang jujur, saya yakin ia menguatkan keimanan. Saya tahu ini dari perkembangan umum sains modern dan juga kisah-kisah para saintis kontemporer”. Rami menimpali: “Sains bisa menambah keimanan, karena mahasiswa sains mulai bisa mengungkap keajaiban yang hanya bisa dilakukan oleh Sang Mahakuasa. Lagi pula, bagaimana mungkin alam semesta yang rumit ini tercipta tanpa peran Wujud Tertinggi di baliknya?” Aya mengamini: “Saya yakin sains umumnya bisa menambah keimanan orang dan mencerahkan bangsa. Ada banyak contoh orang di Barat dan Timur yang mulanya ragu-ragu atau tidak yakin kemudian beralih ke iman dan agama karena perjalanan intelektual mereka.” Mohammad tampak mencari-cari kutipan yang sesuai: ‘Apa ungkapan masyhur Einstein mengenai sains tanpa agama, dan agama tanpa sains?” Saya coba membantunya, “Sains tanpa agama pincang, agama tanpa sains buta.” Mohammad tersenyum dan lalu berkata: “Semua ini bermuara pada apakah sebuah teori ilmiah sejalan dengan iman seseorang ataukah sebaliknya. Bila sejalan, iman seseorang akan bertambah kukuh; tapi bila tidak, maka orang itu terpaksa akan mempertanyakan atau menafsirkan ulang imannya. Tapi, perselisihan di panggung sejarah antara Gereja dan saintis telah menimbulkan kesan keliru berupa antagonisme, sehingga dalam beberapa hal tertentu sains membuat orang berpikir bahwa bila mereka meyakini sains, maka mereka tidak bisa menerima agama”.

Saya kira, saya perlu mengarahkan para mahasiswa itu ke pembahasan lengkap mengenai argumen rancangan, penalaan halus alam semesta, prinsip antropik, dan program teologi alam yang selalu menjadi bahan perbincangan dalam diskusi-diskusi agama-sains belakangan ini. Mereka belum mengenal semua gagasan itu, dan mereka senang jika bisa mendengar penjelasannya nanti.

Terakhir, saya bertanya: “Menurut Anda, perlukah kurikulum pendidikan di dunia Arab/Islam diubah agar sains modern dan Islam bisa lebih akur? Apa yang harus diubah?”

Mohammad menjawab: “Kurikulum seharusnya mendorong orang untuk mempertanyakan segala hal. Orang mungkin khawatir hal ini bisa menjauhkan pikiran anak muda dari Islam, tapi saya pribadi yakin, sikap ini malah akan membawa mereka lebih dekat kepada kebenaran dan bahkan mungkin mengungkap fakta-fakta dalam Alquran yang belum diketahui oleh orang hingga hari ini. Sebagaimana bunyi slogan terkenal serial The X-Files, “kebenaran ada di luar sana. Kita hanya perlu kemauan untuk bisa menggapainya”. Aya sependapat dengan Mohammad tapi menambahkan aspek keagamaan pada kurikulum impian itu: “Kurikulum yang baru dan sudah direvisi haruslah memadukan kajian sains dengan Islam. Mahasiswa seharusnya diajari seluruh teori sains dan dibantu untuk menilai apakah semua teori itu menentang atau mendukung Islam. Mereka harus mendapatkan semua informasi yang mereka perlukan agar bisa sampai pada kesimpulan mereka sendiri. Terakhir, kurikulum itu hendaklah ditujukan untuk mempersiapkan mahasiswa agar bisa menelorkan teori-teori yang lebih baik di masa depan, dan mengoreksi teori-teori yang mereka anggap keliru”. Rami menekankan pentingnya pendidikan: “Pertama dan paling utama, kita harus belajar; hanya dengan jalan ini Islam dan sains akan akur”. Marzieh kemudian menambahkan satu gagasan penting: “Kita harus memasukkan atau sekurang-kurangnya memperkuat pengajaran sejarah dan filsafat sains bagi siswa SMA. Pengajaran seperti ini akan melatih mereka berpikir secara luas dan kritis sejak usia remaja. Proses pengajarannya bisa kemudian disempurnakan di jenjang universitas, dalam matakuliah sains dan teknik”. Saya tersenyum dan berkata: ‘Anda tahu, Marzieh, inilah salah satu rekomendasi yang saya sampaikan di akhir buku saya; sepertinya Anda 25 tahun di depan saya”

Diskusi ini sungguh menyenangkan, menampilkan para mahasiswa yang berjuang untuk menyelaraskan semua apa yang telah mereka pelajari, yakini, dan terima. Tentu saja, mereka tidak mendapat banyak bantuan yang memadai dalam upaya itu. Para saintis, filsuf, pemikir, dan pendidik Muslim punya tanggung jawab besar di sini. Semua upaya ini (perbincangan ringan, survei, buku) perlu diperluas lingkupnya dan diperkuat daya dan frekuensinya.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan beberapa pemikiran penutup, yang mewakili pandangan saya sebagaimana penjelasan saya kepada para mahasiswa di atas. Beberapa buah pemikiran ini juga menjadi ringkasan dari beberapa gagasan utama yang telah saya kemukakan.

Tak ada kesangsian bahwa Alquran menganjurkan manusia agar berpikir dan mencari kebenaran, apa pun bentuknya. Orang harus selalu berpikiran terbuka dan punya sudut pandang yang luas. Semakin sempit pendekatan seseorang terhadap Islam (atau agama mana pun), semakin rentan ia terjebak dalam kesulitan. Sains juga mesti dipandang dari sudut yang luas, yaitu sebagai pencarian atas kebenaran dan pemahaman umum, bukan sekadar fakta atau penjelasan, yang bisa senantiasa diperbaiki, kadang dengan teori-teori sangat baru.

Dengan cara pandang seperti itu terhadap sains dan agama, maka landasan bersama antara keduanya bisa lebih mudah ditemukan; baik sains dan agama merupakan kekuatan yang memacu manusia untuk menemukan kebenaran, melalui institusi keagamaan di satu sisi, dan melalui metode saintifik di sisi lain. Kedua kekuatan ini harus berjalan bergandengan, bukan malah saling berlawanan arah. Akan tetapi, jangan sampai dukungan yang saling melengkapi ini didorong hingga ke batasnya yang ekstrem. Maksudnya, keduanya harus dikenali, misalnya, melalui pencarian fakta-fakta ilmiah dalam teks-teks keagamaan.

Saya perlu juga menggarisbawahi salah satu rekomendasi saya, bahwa agama (yang diwakili oleh para teolog dan cendekiawan) harus berupaya sungguh-sungguh untuk memahami temuan-temuan dan metode-metode ilmiah. Demikian pula, sains harus berupaya memanfaatkan filsafat dan agama dalam upaya pencarian makna dan pengukuhan fondasinya (sebagaimana yang telah saya tunjukkan, misalnya, terkait dengan kosmologi).

Dewasa ini, pemikiran keagamaan dalam Islam menghadapi dua masalah utama: (1) keberatan para ulama untuk memberikan kepada para pakar (non-agama) hak menyuarakan gagasan tentang isu apa pun yang, diklaim milik ranah keagamaan; (2) kedangkala budaya ilmiah di kalangan Muslim pada umumnya, dan absennya kultur tersebut dalam pengajaran para ulama, khususnya di dunia Arab. Ini adalah masalah kependidikan dan kemasyarakatan yang serius.

Peran apa yang bisa kita lakukan untuk memajukan wacana seputar Islam dan sains? Jawabannya bergantung pada tujuan setiap orang: Apakah ia sedang mencari obat bagi penyakit yang menimpa masyarakat Muslim saat ini, ataukah ia lebih tertarik melahirkan sebuah wacana yang bisa memberikan sumbangsih bagi upaya duniawi dan multikultural guna mendamaikan sains dan agama di tingkat yang lebih umum dan mendunia? Untuk menggapai tujuan kedua di atas, kita harus berkolaborasi dengan rekan-rekan Barat (non-Muslim. Untuk mencapai tujuan pertama di atas, jelas harus ada upaya besar-besaran dalam bidang pendidikan. Cara sains diperlakukan dan disajikan di dunia Arab/Muslim perlu dirombak total di semua tempat (sekolah, universitas, dan media). Seminar harus lebih sering diadakan dan buku sains harus lebih sering diterbitkan. Semua upaya ini harus dipimpin oleh para intelektual dengan dukungan moral, finansial, kultural, dan ilmiah dari rekan-rekan mereka di mana pun berada (Timur dan Barat). Terutama lagi, perlu sesering mungkin diselenggarakan seminar-seminar bersama yang melibatkan para ulama dan pendidik. Ada kebutuhan mendesak untuk membuka mata para ulama dan guru di segala tingkatan mengenai berbagai diskusi tentang persinggungan antara sains, filsafat, dan agama. Tentu saja, masih banyak yang harus dilakukan, dan terlalu sedikit orang yang benar-benar mau terlibat dalam upaya ini. Saya sungguh yakin bahwa inilah salah satu cara terbaik untuk mewujudkan lahirnya Renaisans Muslim.

Leave a Reply

Close Menu